Anda di halaman 1dari 32

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA TERPADU TIPE CONNECTED

BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH


DASAR KABUPATEN PURWOREJO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan


Pembelajaran Tematik
Dosen Pengampu : Drs. Sukarno, MPd

Oleh:

Dewi Astuti

NIM. S031808012

PROGRAM S2 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayahNya, peneliti dapat menyelesaikan tugas proposal penelitian eksperimen
dengan judul “PENGEMBANGAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA
TERPADU TIPE CONNECTED BERBASIS INKUIRI TERBIMBING
PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR KABUPATEN
PURWOREJO.”
Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya proposal ini tidak lepas dari
bantuan bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti
menyampaikan terimakasih kepada:
1. Drs. Sukarno, M.Pd, selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan
Pembelajaran Tematik.
2. Teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan
proposal ini.
3. Semua pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan
penulisan proposal makalah ini.
Peneliti menyadari bahwa proposal ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun sangat peneliti harapkan. Akhirnya peneliti
berharap semoga proposal ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi
pembaca.

Surakarta, 26 November 2018

Peneliti

ii
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belalakang Masalah .................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 5
C. Tujuan Pengembangan ..................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 5
E. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan ......................................... 6
F. Pentingnya Pengembangan .............................................................. 7
G. Asumsi dan Keterbatasan Produk Pengembangan ........................... 7
H. Definisi Istilah .................................................................................. 8
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ................................................................................. 10
B. Prosedur Penelitian ........................................................................... 12
Tahap I: Studi Pendahuluan/Eksplorasi ........................................... 12
1. Waktu dan Tempat Penelitian ......................................... ........ 12
2. Pendekatan /Metode Penelitian .................................................. 13
3. Sumber Data .................................................................... ........ 13
4. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 14
5. Validitas Data ............................................................................. 14
6. Teknik Analisis Data .................................................................. 15
7. Penilaian Pakar ........................................................................... 16
8. Luaran Penelitian ....................................................................... 16
Tahap II: Pengembangan ................................................................ 17
1. Waktu dan Tempat Penelitian ......................................... ........ 17
2. Prosedur Penetapan Bahan Ajar ...................................... ........ 17
3. Peran Pakar ................................................................................ 18
4. Subjek Penelitian dan Peran Peneliti ........................................ 19
iii
5. Uji Terbatas ............................................................................... 19
6. Uji Coba Luas ............................................................................ 19
Tahap III: Studi Pendahuluan/Eksplorasi ......................................... 20
1. Waktu dan Tempat Penelitian ......................................... ........ 20
2. Metode dan Desain Penelitian ........................................ ........ 20
3. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 21
4. Uji Instrumen ............................................................................. 21
5. Sampel Penelitian ..................................................................... 25
6. Teknik Analisis Data ................................................................. 25
7. Luaran Penelitian ....................................................................... 26
8. Diseminasi dan Implementasi .................................................... 26

iv
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi yang termuat dalam kurikulum untuk jenis pendidikan
umum, kejuruan, khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk
mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih
lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, IPA
memiliki hubungan yang sangat luas dengan kehidupan manusia.
Depdiknas (2007: 27) menyebutkan bahwa tujuan utama pembelajaran IPA
disekolah dasar adalah agar siswa dapat memahami konsep-konsep IPA secara
sederhana dan mampu menggunakan metode ilmiah, bersikap ilmiah, guna
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan menyadari kebesaran dan
kekuasaan pencipta alam. Sulistyorini dan Supartono (2007: 8) berpendapat
bahwa pembelajaran IPA adalah suatu pembelajaran yang tidak hanya dilihat dari
hasil belajarnya saja, tetapi juga dilihat pada proses pembelajarannya yang
memberi kesempatan agar siswa dapat menunjukkan keaktifan penuh dalam
pembelajaran (active learning), serta dapat menciptakan suasana menyenangkan
bagi siswa sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan nyaman dan
menyenangkan (joyfull learning). Suatu tujuan pembelajaran akan tercapai apabila
menggunakan pendekatan yang aktif, kreatif, dan inovatif.
Proses belajar mengajar memerlukan sebuah sumber belajar, metode, dan
model yang baik agar sebuah pembelajaran itu dapat dikatakan berhasil dan
mampu membuat peserta didik paham dan tercipta interaksi yang aktif pada kelas
tersebut. Guru memiliki kewajiban untuk mampu mengembangkan secara kreatif
dan inovatif materi pembelajaran yang diampu. Pengembangan materi
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dapat berupa pengembangan bahan ajar
yang inovatif. National Centre for Competency Based Training (Andi Prastowo,
2015: 16) menyatakan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang

1
2

digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses


pembelajaran. Bahan ajar inovatif adalah bahan ajar yang dirancang semenarik
mungkin oleh guru dengan memperhatikan karakteristik siswa dan kurikulum
yang berlaku sehingga dapat tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan
dan bermakna.
Melalui model pembelajaran terpadu, siswa dapat memperoleh pengalaman
langsung sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan
menarapkan konsep yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih
untuk dapat menemukan sendiri berbagai yang dipelajari secara menyeluruh,
bermakna, autentik, dan aktif. Cara pengemasan pengalaman belajar yang
dirancang guru sangat berpengruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar
bagi siswa. Pengalaman belajar yang lebih mneunjukkan kaitan unsur-unsur
konseptual akan menjadikan proses belajar lebih efektif. Kaitan konseptual yang
dipelajari dengan sisi bidang kajian ilmu-ilmu yang relevan akan membentuk
skema positif sehingga anak memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan.
Perolehan keutuhan belajar, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan, dunia
nyata dan fenomena kehidupan nyata dapat direfleksikan melalui pembelajaran
terpadu (Trianto, 2014: 7).
Model pembelajaran terpadu tipe connected merupakan model yang
menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain,
satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas yang dilakukan pada hari
berikutnya, serta ide-ide yang dipelajari. Pengintegrasian ide-ide yang dipelajari
tersebut dengan satu semester dengan semester berikutnya menjadi suatu kesatuan
yang utuh. Dengan keterpaduan ini siswa akan mengaitkan konsep yang dipelajari
dengan sisi bidang kajian Ilmu Pengetahuan Alam yang relevan akan membentuk
skema kognitif, sehingga anak memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan.
Perolehan keutuhan belajar IPA, serta kebulatan pandangan tentang kehidupan,
dunia nyata dan fenomena alam hanya dapat direfleksikan melalui pembelajaran
terpadu.
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat
disajikan secara terpadu dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis,

2
3

sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta,
konsep, atau prinsip tetapi lebih dari itu merupakan suatu proses inquiry. Abdul
Majid (2013: 222) menjelaskan bahwa pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan strategi proses berpikir kritis dan analitis
untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan. Ciri-ciri dalam pembelajaran inkuiri yaitu: 1) menekankan kepada
aktivitas siswa secara maksimal, aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk
mencari dan menemukan jawaban sendiri dari permasalahan yang dipertanyakan;
2) pembelajaran inkuiri dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa; 3) tujuan
pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis, logis
dan sistematis sebagai bagian dari proses mental (Abdul Majid, 2013: 222).
Pada konteks pembelajaran IPA terpadu, seorang guru dituntut untuk dapat
menyusun dan mengembangkan perangkat pembelajaran IPA secara terpadu yang
memadukan tiga bidang studi yaitu fisika, kimia, dan biologi. Melalui model
pembelajaran IPA terpadu memungkinkan proses kegiatan belajar mengajar
berlangsung secara efektif dan efisien.
Berdasarkan hasil dokumentasi di lapangan, ditemukan fakta bahwa bahan
ajar IPA untuk siswa Kelas IV yang tersedia di SD belum mendukung terciptanya
pembelajaran yang melatih siswa untuk mengembangkan kompetensinya dalam
memahami alam sekitar secara ilmiah. Bahan ajar masih banyak memuat tulisan-
tulisan berisikan materi dan soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa. Hasil
wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan siswa menunjukkan bahwa materi
yang disajikan masih terlalu banyak dengan penjelasan yang kurang terarah pada
topik bahasan. Bahan ajar belum memuat gambar-gambar yang menarik dan
relevan, pemilihan kata yang tidak mudah dipahami oleh siswa, dan jenis huruf
yang tidak menarik. Informasi tersebut sesuai dengan hasil wawancara yang
dilakukan oleh peneliti dengan guru yang menjelaskan bahwa bahan ajar juga
belum terintegrasi dengan pembelajaran aktif yang memberikan pengalaman
langsung kepada siswa. Selain itu, kata-kata yang digunakan di dalam bahan ajar
masih belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak sehingga tidak mudah
dimengerti oleh siswa.

3
4

Bidang studi IPA yang diajarkan di SD secara terpadu seharusnya mampu


memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuan dalam
mengidentifikasi masalah di kehidupan sehari-hari yang mempunyai dasar IPA.
Pada pembelajaran IPA maka alamlah yang seharusnya menjadi sumber utama
pembelajaran. Kebutuhan siswa dan guru mengenai bahan ajar yang tepat dan
efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, maka perlu
dikembangkan bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing.
Bahan ajar ini berisikan sajian masalah konseptual dan kontekstual, materi lembar
kerja yang berhubungan dengan materi energi dan perubahannya. Bahan ajar
dapat digunakan untuk belajar mandiri jika siswa ingin belajar sendiri, tetapi juga
untuk melatih kemampuan sosial siswa dalam belajar.
Meski demikian jarang terdapat guru yang secara inisiatif mengembangkan
bahan ajar. Hal serupa juga ditemukan berdasarkan observasi di SD N
Pangengudang dan SD N 1 Pengenjurutengah bahwa masih jarang guru yang
secara inisiatif mengembangkan bahan ajar yang kreatif dan menyenangkan.
Selain itu bahan ajar yang tersedia juga relatif terbatas, tidak jarang pembelajaran
yang berlangsung di kelas hanya mengandalkan penyampaian informasi dari guru.
Padahal peran bahan ajar seharusnya sudah mampu menempatkan guru sebagai
fasilitator dan siswa sebagai pelaku utama dalam pembelajaran. Bahan ajar harus
menjadikan siswa aktif, bukan sekedar menempatkan siswa sebagai pendengar
informasi yang disampaikan guru.
Berdasarkan fakta empiris, penelitian yang dilakukan oleh Ambarsari
Indraningrum (2017: 1) yang berjudul Pengembangan Modul IPA Terpadu Tipe
Connected Berbasis Iqra Tema Lingkungan Pantai untuk Memberdayakan
Karakter Religius Siswa SMP/Mts Kelas VII, didapatkan hasil penelitian bahwa
modul pembelajaran sangat baik, sehingga karakter religius dapat terberdayakan.
Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa kelas IV
diantaranya terdapat pada materi energi dan perubahannya. Oleh karena itu
dilakukan penelitian dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar IPA Terpadu tipe
Connected berbasis Inkuiri Terbimbing Pada Materi Energi dan Perubahannya
untuk Kelas IV Sekolah Dasar.”

4
5

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kondisi bahan ajar IPA yang dipakai untuk siswa Kelas IV SD
di Kabupaten Purworejo tipe connected bebasis inkuiri terbimbing?
2. Bagaimanakah kebutuhan bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis
inkuiri terbimbing untuk Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo?
3. Bagaimanakah pengembangan bahan ajar IPA terpadu tipe connected
berbasis inkuiri terbimbing untuk Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo?
4. Bagaimanakah uji keefektifan bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis
inkuiri terbimbing untuk Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo?

C. Tujuan Pengembangan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah:
1. Untuk menjelaskan kondisi bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis
inkuiri terbimbing untuk siswa Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo.
2. Untuk menjelaskan kebutuhan bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis
inkuiri terbimbing untuk Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo.
3. Untuk menjelaskan pengembangan bahan ajar IPA terpadu tipe connected
berbasis inkuiri terbimbing untuk Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo?
4. Membuktikan uji keefektifan bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis
inkuiri terbimbing untuk Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian pengembangan diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
semua pihak yang terlibat dan hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat baik
secara teoritis dan praktis.
1. Manfaat Teoretis
a) Dapat dijadikan bahan informasi atau sebagai referensi dan bermanfaat
sebagai pengetahuan bagi para pengajar IPA dalam memahami proses

5
6

balajar yang ada pada diri siswa khususnya dalam penggunaan bahan ajar
IPA.
b) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan, khususnya bidang ilmu IPA dan kemajuan ilmu
pengetahuan pada umumnya.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi Guru
1) Sebagai acuan untuk meningkatkan kreatifitas dalam mengembangkan
bahan ajar sesuai kebutuhan peserta didik.
2) Meningkatkan keikutsertaan guru dalam memilih masalah-masalah
nyata/faktual yang dijumpai/berkembang dilingkungan dan kehidupan
masyarakat sehari-hari.
3) Guru lebih termotivasi untuk meningkatkan kemauan untuk selalu
mengikuti perkembangan sains dan teknologi, sehingga dapat
diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar.
b) Bagi Sekolah/Lembaga
1) Sebagai acuan kebijakan dalam penyediaan bahan ajar yang sesuai
dengan kurikulum, sehingga tujuan pendidikan nasional dapat
tercapai.
c) Bagi Siswa
1) Memberikan kemudahan dalam belajar secara aktif dan mandiri.
2) Meningkatnya aktivitas siswa untuk mengontruksi pengetahuannya
dalam pembelajaran IPA.
3) Mengembangkan kreativitas siswa dalam menuangkan ide atau
gagasan materi pembelajaran sains dengan bentuk aplikasi.

E. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan


Spesifikasi produk yang dikembangkan adalah:
1. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa Bahan Ajar IPA SD
berbasis cerita anak dengan pendekatan saintifik yang digunakan guru sebagai
pedoman dalam melaksanakan pembelajaran IPA.

6
7

2. Bahan Ajar yang dikembangkan dalam bentuk buku yang dicetak dan
materinya tersusun secara ilmiah dengan bentuk cerita dan gambar-gambar
yang menarik dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami oleh siswa.
3. Standar kompetensi yang mencakup penerapan konsep energi dan
perubahannya dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai produk
teknologi.
4. Bahan Ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar yang mengintegrasi
pembelajaran terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing sehingga
bahan ajar disusun berdasarkan komponen pada pembelajaran terpadu tipe
connected berbasis inkuiri terbimbing.

F. Pentingnya Pengembangan
Pentingnya pengembangan bahan ajar berbasis cerita anak dengan pendekatan
saintifik dapat memberikan:
1. informasi atau referensi bagi guru untuk memanfaatkan cerita anak sebagai
bahan ajar yang menarik bagi siswa, sehingga mempermudah pemahaman
siswa terhadap materi energi dan perubahannya.
2. motivasi siswa untuk belajar.
3. stimulus bagi guru untuk mempermudah dalam penyampaian materi.

G. Asumsi dan Keterbatasan Produk Pengembangan


1. Asumsi
a. Pemilihan pengembangan bahan ajar terpadu tipe connected berbasis
inkuiri terbimbing untuk mewujudkan penguasaan kompetensi-
kompetensi dengan baik pada pembelajaran IPA di kelas IV Sekolah
Dasar.
b. Pembelajaran menggunakan bahan ajar IPA terpadu tipe connected
berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas IV sekolah dasar dapat
membiasakan siswa untuk berpikir secara metodologis, sehingga siswa
dapat berpikir secara ilmiah.

7
8

2. Keterbatasan
a. Pelaksanaan uji coba operasional yang hanya bisa dilakukan pada lingkup
kecil karena terkendala keterbatasan ijin sekolah, waktu, dan biaya serta
produk tidak untuk produksi masal.
b. Pengembangan bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri
terbimbing masih terbatas pada pembelajaran IPA untuk kelas IV Sekolah
Dasar.
c. Pengembangan bahan ajar IPA untuk kelas IV sekolah dasar berbasis
inkuiri terbimbing memuat enam tahapan yaitu orientasi (pendahuluan),
merumuskan masalah/identifikasi masalah, merumuskan hipotesis,
mengumpulkan hipotesis (menguji hipotesis), mengolah data, dan
menarik kesimpulan (penutup).

H. Definisi Istilah
Terdapat beberapa istilah yang menjadi fokus dalam penelitian pengembangan
ini yaitu sebagai berikut:
1. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan ajar
inovatif adalah bahan ajar yang dirancang semenarik mungkin oleh guru
dengan memperhatikan karakteristik siswa dan kurikulum yang berlaku
sehingga dapat tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan
bermakna.
2. IPA adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun
secara sistematis berdasarkan hasil percobaan ataupun pengamatan, yang
tersusun dari berbagai macam komponen hasil percobaan dan pengamatan
yang berkaitan satu sama lain membentuk satu kesatuan yang utuh
3. Tipe Connected adalah model yang menghubungkan satu konsep dengan
konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan
keterampilan lain, tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, serta ide-ide
yang dipelajari.

8
9

4. Inkuiri terbimbing adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang


menekankan strategi proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
5. Sekolah Dasar merupakan jenjang satuan pendidikan tingkat dasar yang
menyelenggarakan pendidikan dasar untuk siswa usia anak-anak dari kelas
I sampai VI, sehingga sekolah sebagai tempat berlangsungnya proses
pembelajaran antara guru dengan siswa dan komponen-komponen lainnya.

9
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
dan pengembangan atau Research and development (R&D). Menurut Sugiyono
(2016: 297) penelitian pengembangan adalah sebuah penelitian yang
menghasilkan produk dan menguji keefektifan produk tersebut. Menurut Gall and
Borg (dalam Sukmadinata, 2012: 189) terdapat sepuluh langkah dalam sebuah
penelitian pengembangan, yaitu: (1) penelitian dan pengumpulan data, yang
meliputi pengukuran kebutuhan, studi literatur, dan penelitian dalam skala kecil,
(2) perencanaan pengembangan produk, (3) pengembangan produk awal, (4) uji
coba produk awal, (5) penyempurnaan produk yang telah disempurnakan , (8)
pengujian produk yang telah disempurrnakan, (9) uji lapangan produk yang telah
disempurnakan, (10) implementasi dan institusionalisasi produk.
Secara garis besar Sukmadinata (2012: 184) menjelaskan ada tiga langkah
penelitian pengembangan, yaitu (1) studi pendahuluan atau eksplorasi; (2)
pengembangan model; dan (3) menguji model. Dari ketiga langkah tersebut
selanjutnya dapat diperkenalkan secara lebih luas. Kegiatan dalam langkah-
langkah pengembangan dilaksanakan melalui uji coba terbatas dan uji coba luas.
Pengujian produk dilakukan dengan cara eksperimen. Dalam penelitian ini,
peneliti menerapkan langkah-langkah menurut Sukmadinata. Untuk lebih
jelasnya, berikut akan disajikan bagan prosedur dalam penelitian ini.

10
11

1. Tahap Studi Pendahuluan

Studi Studi lapangan tentang Deskripsi dan analisis


bahan ajar IPA terpadu tipe temuan (bahan ajar
literatur IPA terpadu tipe
connected berbasis inkuiri connected berbasis
terbimbing di Kelas IV SD inkuiri terbimbing
Kabupaten Purworejo secara factual)

2. Tahap Pengembangan
Deskripsi dan analisis
temuan (produk factual)

Evaluasi dan Uji coba Penyusunan bahan ajar IPA


perbaikan terbatas terpadu tipe connected
berbasis inkuiri terbimbing

Uji coba luas Evaluasi dan Model


penyempurnaan hipotetik

3. Tahap Pengujian

Produk metode final (bahan ajar IPA terpadu Tes awal


tipe connected berbasis inkuiri terbimbing) implementasi
tes akhir

Desiminasi produk bahan ajar IPA terpadu tipe connected


berbasis inkuiri terbimbing melalui proses pembelajaran,
KKG, submit ke Jurnal, dan seminar.

Gambar 3.1. Prosedur penelitian pengembangan bahan ajar IPA terpadu tipe
connected berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas IV SD di
Kabupaten Purworejo
12

B. Prosedur Penelitian
Tahap I: Studi Pendahuluan

Metode penelitian yang dilakukan pada tahap studi pendahuluan adalah


metode deskriptif. Tujuan tahap ini adalah menghimpun data tentang (1) evaluasi
pendekatan yang sudah ada sebagai bahan perbandingan dasar untuk produk yang
akan dikembangkan; (2) tanggapan serta informasi yang bersumber dari guru dan
siswa terhadap pendekatan pembelajaran yang selama ini digunakan; (3)
menganalisis kebutuhan terhadap bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis
inkuiri terbimbing yang akan dikembangkan secara tepat; (4) deskripsi temuan
kebutuhan bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing.
Berikut merupakan tahapan secara rinci dalam pelaksanaan penelitian ini.:

1. Waktu dan Tempat Penelitian


Waktu penelitian dilaksanakan pada saat semester genap (dua) di bulan
April. Lokasi pada penelitian pengembangan bahan ajar IPA berbasis cerita
anak dengan pendekatan saintifik, bertempat di Sekolah Dasar Negeri se-
Kabupaten Purworejo. Sekolah yang dipilih dalam tahap pendahuluan adalah
(1) SD N Pangengudang yang beralamat di Jalan Mayjen Sutoyo No 3,
Pangenjurutengah, Kec Purworejo; (2) SD N 1 Baledono yang beralat di Jalan
Singodranan, Baledono, Kec. Purworejo; (3) SD N 1 Brengkelen yang
beralamat di Jalan Kyai Brengkel no 9, Kec. Purworejo; (4) SD N 1
Pangenjurutengah yang beralamat di Kemuning, Pangenjurutengah, Kec.
Purworejo; (5) SD N 1 Pangenrejo yang beralamat di Jalan Brigjen Katamso
No 74, Pangenrejo, Kec. Purworejo; (6) SD N 2 Baledono yang beralamat di
Jl Jend Achamd Yabi No. 364, Kec. Purworejo; dan (7) SD N 2
Pangenjurutengah yang beralamat di Gang Sitanjung, Pangenjurutengah, Kec.
Purworejo.
Pertimbangan dasar peneliti untuk melaksanakan penelitian di SD tersebut
adalah berdasarkan satuan kurikulum yang sama, terletak dalam satu
Kabupaten yaitu Kabupaten Purworejo, serta SD tersebut merupakan SD
13

Negeri di Kabupaten Purworejo, sehingga harapannya peneliti akan mudah


dalam melaksanakan penelitian.
2. Pendekatan/Metode Penelitian
Tahap pertama penelitian ini berbentuk studi pendahuluan, yang secara
umum bertujuan untuk menganalisis kualitas produk (bahan ajar IPA terpadu
tipe connected berbasis inkuiri terbimbing) terkait materi energi dan
perubahannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif
dengan metode deskriptif. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk
menggambarkan tentang suatu gejala atau fenomena (Arikunto, 2013: 10).
Pendekatan penelitian dalam tahap studi pendahuluan ini melalui survey
lapangan yang dilakukan untuk memperoleh infromasi berupa tanggapan atau
pendapat dari calon pengguna dan kajian terhadap bahan jar yang digunakan
di lapangan. Secara khusus, pendekatan penelitian ini berfokus pada: (1)
memperoleh tanggapan langsung dari guru dan pesera didik mengenai bahan
ajar yang sedang digunakan; (2) studi pustaka untuk menganalisis
keselarasan materi dengan bahan ajar yang sedang digunakan saat ini; (3)
mengetahui model bahan ajar yang perlu dikembangkan berdasarkan
kebutuhan serta asumsi guru dan pessrta didik; (4) mengetahui kondisi
lapangan terhadap keberadaan dan kelayakan bahan ajar yang sedang
digunakan; (5) mengetahui kondisi nyata tentang kebutuhan guru dan peserta
didik terhadap bahan ajar IPA dalam pembelajaran materi energi dan
perubahannya.
3. Sumber Data
Sumber data pada studi pendahuluan pada penelitian ini sebagai berikut.
a. Subjek penelitian meliputi guru dan siswa yang terlibat dalam
pembelajaran. Selain itu penelitian ini melibatkan seorang pakar dalam
menilai kelayakan metode yang digunakan baik sebelum atau sesudah
dikembangkan.
b. Peristiwa, segala kegiatan di lapangan yang diamati terkait dengan proses
kegiatan pembelajaran serta kondisi lain yang mendukung keterangan
dalam penelitian ini.
14

c. Dokumen, meliputi: (1) bahan ajar yang selama ini digunakan di sekolah
dasar; (2) silabus; (3) rencana pelaksanaan pembelajaran; (4) dokumen-
dokumen lain yang relevan dengan penyelenggaraan pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam di sekolah dasar.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini mengacu pada
Sukmadinata (2012: 216) tentang langkah-langkah pengumpulan data yaitu:
a. Wawancara, bertujuan untuk mengetahui kondisi bahan ajar yang selama
ini digunakan oleh guru dan siswa, dan mengetahui harapan-harapan
terhadapa bahan ajar IPA di SD.
b. Angket, bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai kondisi
bahan ajar yang tersedia di lapangan.
c. Observasi, bertujuan untuk mengetahui gambaran kegiatan pembelajaran
di kelas.
d. Analisis dokumen, dilakukan dengan menganalisis, mengkaji, dan
mempelajari dokumen-dokumen berupa bahan ajar yang selama ini
digunakan dalam bembelajaran IPA.
5. Validitas Data
Sugiyono (2016: 363) menyatakan “Validitas merupakan derajad
ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang
dapat dilaporkan oleh peneliti”. Data dapat dikatakan valid apabila tidak ada
perbedaan antara data di lapangan dan data yang dilaporkan. Untuk
memperoleh data yang valid, peneliti menggunakan teknik triangulasi dan
pemeriksaan teman sejawat.
Triangulasi adalah suatu cara guna mendapatkan informasi yang akurat
dan dapat dipercaya kebenarannya dengan menggunakan berbagai metode
sehingga peneliti tidak salah dalam mengambil keputusan (Sanjaya, 2009:
112). Selain itu, Sugiyono (2016: 330) menyatakan “Triangulasi diartikan
sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan berbagai
teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada”. Dari pendapat
tersebut dapat disimpulkan bahwa triangulasi adalah teknik pengumpulan
15

data dengan cara menggabungkan beberapa teknik pengumpulan data maupun


sumber data yang telah ada.
Pemeriksaan teman sejawat artinya dilaksanakan dengan mengekspose
hasil temuan sementara yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan teman
yang dirasa mampu dan menguasai terkait penelitia ini. Tujuannya adalah
agar peneliti mampu mengembangkan sikap terbuka dan jujur, memberikan
kesempatan untuk mulai menjajaki dan menguji pemikiran peneliti.
6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data pada tahap penelitian ini menggunakan model
analisis interaktif. dengan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh
Miles dan Huberman (Sugiyono, 2016:338), yaitu sebagai berikut:
a. Pengumpulan Data (Data Collection)
Pengumpulan data merupakan bagian integral dari kegiatan analisis
data. Kegiatan pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan
menggunakan wawancara dan studi dokumentasi.
b. Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data, diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul
dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi dilakukan sejak
pengumpulan data dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode,
menelusur tema, membuat gugus-gugus, menulis memo dan sebagainya
dengan maksud menyisihkan data / informasi yang tidak relevan.
c. Penyajian Data (data display)
Penyajian data adalah pendeskripsian sekumpulan informasi
tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan
dan pengambilan tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam
bentuk teks naratif. Penyajiannya juga dapat berbentuk matrik, diagram,
tabel dan bagan.
16

d. Verifikasi dan Penegasan Kesimpulan (Conclution Drawing and


Verification)
Verifikasi dan penegasan kesimpulan merupakan kegiatan akhir
dari analisis data. Penarikan kesimpulan berupa kegiatan interpretasi,
yaitu menemukan makna data yang telah disajikan. Antara display data
dan penarikan kesimpulan terdapat aktivitas analisis data yang ada.
Dalam pengertian ini analisis data kualitatif merupakan upaya berlanjut,
berulang dan terus-menerus. Masalah reduksi data, penyajian data dan
penarikan kesimpulan/ verifikasi menjadi gambaran keberhasilan secara
berurutan sebagai rangkaian kegiatan analisis yang terkait.
7. Penilaian Pakar (Expert Judgment)
Penelitian ini menggunakan teknik peer-debriefing dengan melakukan
wawancara yang lebih mendalam dengan para kolaborator dan pakar yang
terkait dalam menilai layak atau tidaknya bahan ajar IPA terpadu tipe
connected berbasis inkuiri terbimbing. Berdasarkan penilaian pakar melalui
focus grup discussion diharapkan diperoleh kelemahan dan kelebihan sebuah
bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing yang
dipergunakan dalam proses pembelajaran IPA materi energi dan
perubahannya pada siswa kelas IV SD. Pakar yang dilibatkan adalah pakar
terkait draft bahan ajar yang dilaksanakan melalui FGD (Focus Group
Discussion). Penilaian pakar sebagai acuan dalam menyusun bahan ajar.
8. Luaran Penelitian
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan deskripsi temuan kebutuhan
media pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri se-Kabupaten Purworejo yang
menunjukkan kondisi belum optimal dengan keberadaan bahan ajar IPA
terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing yang belum tersedia di
satuan pendidikan dasar negeri se-Kabupaten Purworejo selama ini, maka
pada tahap studi pendahuluan ini nantinya disusun prototype draft awal bahan
ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing untuk kelas IV
sekolah dasar.
17

Tahap II: Pengembangan


1. Tempat dan Waktu Penelitian
a. Uji Coba Terbatas
Uji coba terbatas dilaksanakan di kelas IV SD Negeri Pangengudang,
pada semester genap tahun ajaran 2018/2019.
b. Uji Coba Luas
Uji coba terbatas dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Baledono, SD 1
Brengkelean, SD N 1 Pangenjurutengah, SD N 1 Pangenrejo, SD N 2
Baledono, dan SD N 2 Pangenjurutengah pada semester genap tahun
ajaran 2018/2019.
Pada tahapan uji coba terbatas dan uji coba luas proses pemilihan
tempat dan waktu penelitian berdasarkan tingkat kesamaan kurikulum dan
memiliki bobot keseimbangan yang sama sebagai Sekolah Dasar Negeri yang
berkualitas yang berada di Kabupaten Purworejo.
2. Prosedur Penetapan Bahan Ajar
Langkah-langkah konkret yang dilaksanakan dalam penelitian tahap ini
meliputi:
a. Mengujicobakan prototipe bahan ajar IPA terpadu tipe connected
berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas IV SD Negeri di
Kabupaten Purworejo.
b. Mengkaji kelayakan bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis
inkuiri terbimbing untuk siswa kelas IV SD Negeri di Kabupaten
Purworejo.
c. Mengidentifikasi kekurangan yang ditemui pada saat praktik penerapan
prototipe bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri
terbimbing untuk siswa kelas IV SD Negeri di Kabupaten Purworejo.
d. Melaksanakan revisi terhadap komponen-komponen yang masih kurang
sempurna dalam prototipe bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan.
e. Mengkaji kelayakan bahan ajar yang telah terbentuk.
18

f. Melaksanakan focus group discussion yang melibatkan beberapa pihak


seperti: peneliti, pakar, dan guru.
g. Mekanisme penelitian pada tahap pengembangan model dilakukan secara
berulang-ulang hingga mencapai taraf kepuasan pengambil kebijakan,
guru, dan siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan.
3. Peran Pakar
Peran pakar pada tahap pengembangan ini adalah sebagai penilai yaitu
pakar penilaian bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri
terbimbing materi energi dan perubahannya untuk siswa kelas IV SD Negeri
di Kabupaten Purworejo. Pakar tidak dilibatkan dalam pengamatan secara
keseluruhan tetapi hanya dilibatkan pada tahap akhir siklus penelitian.
Terdapat tiga pakar yang dilibatkan pada penelitian ini yaitu pakar bahan ajar,
pakar pendekatan, dan pakar pendidikan ilmu pengetahuan alam.
Pakar bahan ajar berperan dalam dalam menilai layak atau tidaknya bahan
ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing materi energi dan
perubahannya untuk siswa kelas IV SD Negeri di Kabupaten Purworejo.
Pakar memberi nilai dan masukan maupun saran terkait dengan kelemahan
dan kelibahan draft bahan ajar, sehingga menjadi bahan ajar yang menarik
dan berkualitas.
Pakar pendekatan pembelajaran dalam melakukan penilaian kelayakan
pendekatan pembelajaran yang berkaitan dengan tingkat literasi bahan ajar
terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing materi energi dan
perubahannya untuk siswa kelas IV SD Negeri di Kabupaten Purworejo yang
nantinya akan digunakan dalam pembelajaran IPA.
Pakar Ilmu Pengetahuan Alam berperan dalam menilai kelayakan behan
ajar IPA berdasarkan materi dan tahap perkembangan siswa, memberi
masukan maupun saran serta kritik untuk pembenahan atau penyempurnaan
demi terwujudnya bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri
terbimbing yang layak untuk dipergunakan di Sekolah Dasar Negeri se-
Kabupaten Purworejo.
19

4. Subjek Penelitian dan Peran Peneliti


Subjek penelitian pada tahap pengembangan bahan ajar ini adalah guru
dan siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Purworejo sebagai
pengguna prototype bahan ajar yang sudah ditentukan pada tahap
sebelumnya.
Peran peneliti pada tahap pengembangan ini sebagai pengamat yang
mengamati jalannya kegiatan pembelajaran.
5. Uji Terbatas
Pada uji coba terbatas, siswa satu kelas mendapatkan perlakuan yaitu
pembelajaran menggunakan prototipe bahan ajar materi energi dan
perubahannya tipe connected berbasis inkuiri terbimbing sebanyak delapan
kali pertemuan. Selanjutnya diadakan pembandingan rata-rata antara nilai
pretest dan postest. Jika nilai postest sudah melebihi nilai pretest, maka
prototipe bahan ajar sudah memenuhi syarat. Namun, guru dan siswa tentu
akan memberikan kritik dan saran perbaikan yang akan digunakan untuk
memperbaiki draft bahan ajar.
6. Uji Coba Luas
Uji coba luas menggunakan enam kelas untuk dilaksanakan pembelajaran
menggunakan prototipe bahan ajar materi energi dan perubahannya tipe
connected berbasis inkuiri terbimbing sebanyak delapan kali pertemuan.
Selanjutnya diadakan hasil nilai pretest dan postest dianalisis dengan uji t non
independen. Saran-saran perbaikan dari guru dan siswa menjadi bahan untuk
evaluasi dan perbaikan draft bahan ajar. Oleh karena itu, semua langkah
dalam pengembangan ini selalu diikuti dengan langkah perbaikan sehingga
pengembangan bahan ajar dapat sesuai dengan pandangan para pakar dan
sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
7. Luaran Penelitian
Luaran penelitian pada tahap pengembangan bahan ajar ini adalah
diterapkannya prototipe bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri
terbimbing untuk kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Purworejo yang layak
diterima secara umum. Kelayakan tersebut ditinjau atas berbagai dasar
20

pertimbangan layak menurut pemegang kebijakan dan pengguna kebijakan,


layak menurut pakar, dan layak menurut guru kelas V SD di Kabupaten
Purworejo.

Tahap III Pengujian


1. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian pada tahap pengujian media ini ditentukan peneliti di
Sekolah Dasar Negeri Pangengudang Purworejo sebagai kelompok
eksperimen, sedangkan SD Negeri 1 Baledono, SD 1 Brengkelean, SD N 1
Pangenjurutengah, SD N 1 Pangenrejo, SD N 2 Baledono, dan SD N 2
Pangenjurutengah sebagai kelas kontrol. Waktu penelitian pada tahap ketiga
ini berlangsung pada semester genap karena muatan standar isi pembelajaran
IPS materi energi dan perubahannya terdapat di semester genap.
2. Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian pada tahap pengujian ini menggunakan metode
eksperimen semu (quasy experiment). Eksperimen semu menurut
Burhanuddin, (2012:15) yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang
merupakan perkiraan yang dapat diperoleh dari keadaan sebenarnya dalam
kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan atau memanipulasi
semua variable yang relevan. Dalam pelaksanaannya SD N Pangengudang
yang dikenakan perlakuan (treatment) dengan menggunakan bahan ajar IPA
terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing sebagai kelompok
eksperimen, sedangkan SD Negeri 1 Baledono, SD 1 Brengkelean, SD N 1
Pangenjurutengah, SD N 1 Pangenrejo, SD N 2 Baledono, dan SD N 2
Pangenjurutengah sebagai kelompok control menggunakan bahan ajar biasa.
Pada tahap pengujian ini akan membandingkan kedua kelompok, yaitu
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Masing-masing kelompok di
berikan pretest yaitu tes awal sebelum penggunaan bahan ajar, dan post test
(tes akhir) setelah penggunaan bahan ajar. Hasil dari pretest dan post test
pada masing-masing kelompok kemudian dibandingkan untuk mengukur
tingkat pencapaian pemahaman peserta didik mengenai materi energi dan
21

perubahannya. Kemudian, melalui membandingkan hasil dari kelompok


kontrol dan kelompok eksperimen akan menunjukan keefektifan dari bahan
ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pretest
Postest control group design yang dimana menurut Sugiyono (2016:116)
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dipilih secara random.
Gambaran penelitian desain penelitian disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.1 Desain Penelitian Pretest Postest Control Group Design


Kelompok Pretest Perlakuan Postest
Eksperimen Q1 X Q2
Kontrol Q3 Q4
Keterangan:
Q1 : Pretest pada kelompok eksperimen
Q2 : Postest pada kelompok eksperimen
Q3 : Pretst pada kelompok kontrol
Q4 : Postest pada kelompok kontrol
X : Pembelajaran menggunakan bahan ajar IPA terpadu tipe
connected berbasis inkuiri terbimbing
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada tahap ini menggunakan tes. Tes untuk
mengukur kemampuan siswa terhadap materi energi dan perubahannya
dengan pretest dan postest. Pretest diberikan kepada siswa pada pertemuan
pertama sebelum materi energi dan perubahannya diberikan dalam proses
pembelajaran. Postest diberikan setelah siswa menerima materi energi dan
perubahannya pada kegiatan pembelajaran IPA.
4. Uji Instrumen
Instrumen pada penelitian ini berupa tes melalui pengujian validitas dan
reliabilitas tes. Uji validitas dilaksanakan melalui validitas isi (content
validity). Validitas isi akan mengukur tingkat pemahaman terhadap materi
tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Realibel adalah dapat
22

dipercaya. Jadi reabilitas intrumen adalah tingkat kepercayaan suatu


instrumen. Kapan pun alat ukur tersebut digunakan akan memberikan hasil
ukur yang sama. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan
menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.
a. Uji Validitas
Validitas tes adalah kecermatan suatu alat ukur melakukan fungsi
ukurnya, sehingga memberikan hasil ukur sesuai yang hendak diukur.
Untuk mengetahui validitas item soal digunakan rumus korelasi point
biserial. Dengan taraf signifikan 5%, soal dikatakan valid apabila r hitung
> r tabel. Rumus yang digunakan yaitu: Validitas butir soal ditentukan
menggunakan rumus:

𝑀𝑝 − 𝑀𝑡 𝑝
𝑟𝑝𝑏𝑖𝑠 = √
𝑆𝑡 𝑞

Keterangan :
rpbis = Koefisien korelasi tiap item.
Mp = Rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal
Mt = Rata-rata skor total
St = Standar deviasi skor total
P = Proporsi peserta didik yang menjawab benar pada setiap butir
soal yang diuji validtsanya
Q = Proporsi peserta didik yang menjawab salah pada setiap butir
soal yang diuji validtsanya
b. Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas menggunakan rumus Kuder-Richardson (KR-20). Uji
reliabilitas digunakan untuk mengetahui akan keajegan/konsistensi sebuah
alat ukur, apakah alat ukur yang digunakan tetap konsisten dan dapat
diandalkan jika pengukuran tersebut diulang. Pengukuran yang memiliki
reabilitas tinggi dapat dikatakan sebagai pengukuran yang reliabel yang
berarti mengukur sejauh mana alat ukur yaitu tes tetap konsisten setelah
dilakukan berulang-ulang terhadap subjek dalam kondisi yang sama. Nilai
23

diperoleh dengan harga dengan taraf signifikansi 5%.Soal dikatakan valid


apabila r hitung > r tabel, maka item yang diujicobakan reliabel.

𝒏 𝒔𝟐 − ∑ 𝒑𝒒
𝒓𝟏𝟏 = ( )( )
𝒏−𝟏 𝒔𝟐

Keterangan :

r11 = Reliabilitas instrumen

n = Jumlah soal

p = proporsi peserta tes menjawab benar

q = proporsi peserta tes menjawab salah

S2 = Varians

c. Tingkat Kesukaran Soal


Baik tidaknya sebuah soal dapat diketahui dengan tingkat kesukaran
item soal yang dimiliki tiap butir soal. Penghitungan tingkat kesukaran tes
digunakan rumus:
𝐽𝐵𝐴 + 𝐽𝐵𝐵
𝑃=
𝐽𝑆𝐴 + 𝐽𝑆𝐵
Keterangan:
P = Indeks kesukaran
JBA = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas
JBB = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah
JSA = Banyaknya peserta didik pada kelompok atas
JSB = Banyaknya peserta didik pada kelompok bawah
24

Kriteria tingkat kesukaran soal :


Interval P Kriteria
P = 0.00 Terlalu sukar
0.00 < P < 0.30 Sukar
0.30 < P < 0.70 Sedang
0.70 < P < 1.00 Mudah
P = 1.00 Terlalu mudah

d. Daya Pembeda
Daya pembeda dari butir soal adalah gambaran kemampuan suatu
butir soal yang dapat membedakan antara peserta didik yang telah
menguasai materi dan peserta didik yang tidak, kurang, atau belum
menguasai. Rumus untuk menentukan daya pembeda soal yaitu:
𝐽𝐵𝐴 𝐽𝐵𝐵
𝐷𝑃 = −
𝐽𝑆𝐴 𝐽𝑆𝐵
Keterangan:
DP = Daya Pembeda
JBA = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas
JBB = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah
JSA = Banyaknya peserta didik pada kelompok atas
JSB = Banyaknya peserta didik pada kelompok bawah

Kriteria daya pembeda soal menurut Arifin (2012: 274) dijelaskan


pada tabel berikut:

Interval Daya Pembeda Interpretasi


0.00 < DP < 0.20 Jelek
0.20 < DP < 0.40 Cukup
0.40 < DP < 0.70 Baik
0.70 < DP < 1.00 Sangat baik
25

5. Sampel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari tujuh sampel (SD Pangengudang, SD Negeri 1
Baledono, SD 1 Brengkelean, SD N 1 Pangenjurutengah, SD N 1 Pangenrejo,
SD N 2 Baledono, dan SD N 2 Pangenjurutengah). Pengambilan sampel
dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling. Teknik
ini digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau
sumber data sangat luas, misalnya dalam pengambilan sampelnya ditentukan
berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2016: 83).
Dengan menggunakan teknik cluster random slampling, diharapkan kriteria
sampel yang diperoleh benar-benar sesuai dengan penelitian yang akan
dikembangkan.
6. Teknik Analisis Data
a) Uji Prasyarat
Uji prasyarat analisis terdiri atas uji normalitas, uji homogenitas, dan
uji keseimbangan sebagai berikut.
1) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah variabel yang
akan dianalisis mempunyai distribusi normal. Uji normalitas dalam
penelitian ini menggunakan teknik uji Kolmogorov-Smirnov, yaitu
data dianggap normal apabila harga hitung lebih besar dari 0,05.
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah sampel
penelitian berasal dari populasi yang homogen. Uji homogenitas
menggunakan uji bartlet.
3) Uji Keseimbangan
Uji keseimbangan ini dilakukan pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemampuan dari
kelas eksperimen dan kelas kontrol seimbang. Data yang digunakan
adalah nilai ulangan harian siswa.
26

b) Uji Hipotesis
Apabila data yang akan dianalisis sudah dinyatakan normal,
homogen, dan seimbang maka dapat dilakukan uji hipotesis (uji beda).
Uji beda yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t (T-test) dengan
tingkat signifikansi 5%.
7. Luaran Penelitian
Luaran penelitian pada tahap pengujian bahan ajar ini adalah didapatkan
keefektifan media bahan ajar IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri
terbimbing untuk siswa kelas IV SD Negeri di Kabupaten Purworejo. Hal
demikian ditandai nantinya dengan hasil perbedaan pretest dan postest antara
SD Negeri Pangengudang sebagai kelas eksperimen dan SD Negeri 1
Baledono, SD 1 Brengkelean, SD N 1 Pangenjurutengah, SD N 1 Pangenrejo,
SD N 2 Baledono, dan SD N 2 Pangenjurutengah sebagai kelas kontrol.
Melalui kegiatan tersebut diberi perlakuan penggunaan produk bahan ajar
IPA terpadu tipe connected berbasis inkuiri terbimbing dibandingkan dengan
sekolah yang tidak diberikan perlakuan, nantinya ditemukan tingkat
keefektifan atau hasil penggunaan bahan ajar IPA terpadu tipe connected
berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan bahan ajar yang sudah ada
dan yang sering dipakai di Sekolah Dasar tersebut.
8. Diseminasi dan Implementasi
Tahap diseminasi dan implementasi penelitian ini merupakan langkah
mensosialisasikan media pembelajaran yang telah dikembangkan agar dapat
diimplementasikan di Sekolah Dasar di Kabupaten Purworejo atau ditempat
lainnya. Dasar diseminasi dan implementasi pada penelitian ini mengacu pada
hasil produk yang akan telah dikembangkan yaitu bahan ajar IPA terpadu tipe
connected berbasis inkuiri terbimbing.
Upaya selanjutnya yaitu mensosialisasi bahan ajar IPA terpadu tipe
connected berbasis inkuiri terbimbing dalam kegiatan KKG guru SD Negeri
se-Kabupaten Purworejo, selain itu diikutsertakan dalam seminar nasional
dan internasional terkait hasil dan implementasi bahan ajar IPA terpadu tipe
connected berbasis inkuiri terbimbing kelas IV SD . Selain itu juga diajukan
27

(Submit) jurnal Nasional atau Internasional sebagai bentuk usaha


mensosialisasikan secara luas kepada khalayak umum khususnya dalam ranah
pendidikan.
28

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan


Nasional Nomor 41 tahun 2007. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.

Indraningrum, A. (2017). Pengembangan Modul IPA Terpadu Tipe Connected


Berbasis Iqra Tema Lingkungan Pantai untuk Memberdayakan Karakter
Religius Siswa SMP/Mts Kelas VII. 6 (3).

Majid, A. (2013). Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitaif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Sukmadinata, Nana Syaodih, (2012). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Sulistyorini, S. & Supartono. (2007). Model Pembelajaran IPA Sekolah Dasar


dan Penerapannya dalam KTSP. Yogyakarta: Tiara Wacana.

TR, Burhanuddin. (2012). Pendekatan, Metode, dan Teknik Penelitian


Pendidikan. Purwakarta: Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta.

Trianto. (2014). Model Pembelelajaran Terpadu, Konsep, Strategi, dan


Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Jakarta: Sinar Grafika Offset.

Wina, Sanjaya. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


Pendidikan. Jakarta: Kencana.