Anda di halaman 1dari 5

Bonus issues

Contoh Pegumuman Saham Bonus dan Cara Membacanya

PT Mayora Indah Tbk (MYOR) akan membagikan saham bonus, berikut pengumumannya:

Rasio saham bonus: 6:1

Tanggal cum date: 21 Oktober 2013

Tanggal ex date: 22 Oktober 2013

Tanggal pembayaran: 31 Oktober 2013

Arti pengumuman diatas adalah, setiap 6 pemegang saham lama MYOR akan mendapatkan
tambahan 1 saham bonus sampai pada tanggal 21 Oktober 2013 (cum date). Jadi, investor akan
mendapatkan saham bonus apabila investor tidak menjual sahamnya sampai pada tanggal cum date.
Jadi, yang berhak mendapatkan saham bonus bukan pemegang saham lama, bukan pemegang
saham mayoritas. Tetapi, yang mendapatkan saham bonus adalah investor yang memegang saham
sampai tanggal ex date.

Jika investor membeli saham pada tanggal 22 Oktober 2013 (ex date), maka investor tidak akan
mendapatkan saham bonus, karena ex date adalah tanggal dimana investor sudah tidak berhak
mendapatkan saham bonus.

"Bung Heze, bagaimana jika saya menjual saham pada tanggal ex date, apakah saya mashi berhak
dapat saham bonus?" Tanya Anda

Ya, Anda masih berhak dapat saham bonus. Yang penting, Anda tidak menjual saham Anda sampai
batas tanggal cum date (meskipun Anda menjual saham MYOR tanggal ex date), Anda masih tetap
berhak mendapatkan saham bonus. Sekarang Anda sudah paham cara membaca pengumuman dan
arti ilustrasi saham bonus. Lalu, apa tujuannya perusahaan menerbitkan saham bonus?

Tujuan Perusahaan Menerbitkan Saham Bonus

Tujuan perusahaan mengeluarkan kebijakan saham bonus adalah untuk memberikan insentif pada
para pemegang saham, yaitu berupa tambahan saham yang dibagikan secara cuma-cuma. Kebijakan
ini juga ditujukan untuk memuaskan kepentingan para pemegang saham, dengan memberikan
saham tambahan. Saham bonus juga dibagikan sebagai pemanis (sweetener) agar investor menjadi
lebih tertarik membeli saham perusahaan.

Perbedaan Saham Bonus dan Dividen Saham

Saham bonus dengan dividen saham hampir sama. Saham bonus bisa dibagikan berupa dividen
saham. Tetapi perbedaannya, saham bonus tidak harus dibagikan dalam bentuk dividen saham,
tetapi bisa dibagikan dalam bentuk ekuitas (bukan dividen saham). misalnya:

1. Agio saham

2. Unsur ekuitas lainnya.

Jadi, saham bonus bisa diambil dari saldo laba ditahan atau diambil (dikonversikan) dari saldo agio
(ekuitas). Sedangkan dividen saham diambil dari saldo laba ditahan dan tidak dapat diambil dari agio
saham.
Dari sisi perpajakan, saham bonus bukanlah objek pajak. Sedangkan pembagikan dividen saham
termasuk dalam objek pajak.

Tujuan Stock Split

Ada beberapa tujuan suatu perusahaan melakukan stock split, yaitu:

 Menambah jumlah saham yang beredar agar ada lebih banyak investor yang dapat memiliki
saham tersebut.
 Mempertahankan tingkat likuiditas saham dengan banyaknya lembar saham yang beredar.
 Menghindari harga saham yang terlalu tinggi sehingga memberatkan publik untuk
membeli/memiliki saham tersebut.
 Agar investor kecil dapat membelinya setelah harganya dipecah menjadi lebih kecil. Jika
harga saham terlalu mahal maka dana dari investor kecil tidak akan mampu menjangkaunya.
 Mengubah jumlah saham odd lot menjadi round lot. Odd lot adalah kondisi di mana investor
mempunyai saham dibawah 100 lembar (1 lot), sedangkan round lot adalah investor yang
membeli saham sejumlah kelipatan 100 lembar.
 Memperkecil risiko yang akan terjadi, terutama bagi investor yang ingin memiliki saham
tersebut dengan kondisi harga saham yang rendah maka karena sudah dipecah tersebut
artinya telah terjadi diversifikasi investasi.

Dari alasan yang sudah disebutkan di atas, secara garis besarnya, perusahaannya karena alasan
likuiditas. Hal ini dilakukan juga karena perusahaan tidak menghendaki harga pasar yang terlalu
tinggi.

Pengaruh Stock Split pada Pergerakan Harga Saham

Secara umum, harga saham yang terlalu tinggi mengurangi kemampuan investor dalam membeli
saham tersebut. Dengan adanya stock split, diharapkan akan meningkatkan daya beli investor
terhadap saham tersebut. Bila daya beli investor meningkat, maka harga saham pun bisa makin
terkerek naik.

Namun perusahaan yang melakukan stock split saham tidak selalu sahamnya mengalami dampak
positif. Beberapa saham setelah stock split mengalami penguatan, namun beberapa lainnya
mengalami pelemahan secara signifikan.

Murahnya saham yang dapat dinikmati oleh investor retail memang menambah likuiditas, namun
aktivitas pemodal kecil yang sangat aktif bertransaksi justru malah menahan lajunya kenaikan harga.

Selain itu, naik turunnya harga saham setelah stock split tentunya juga dipengaruhi faktor lain di luar
stock split itu sendiri, baik fundamental perusahaan, maupun trend sektor dan industrinya.

Apa tujuan menerbitkan right issue?


Pada umumnya ada 2 tujuan utama perusahaan menerbitkan right issue. Tujuan pertama, adalah
untuk ekspansi usaha (membangun pabrik baru, dan lain-lain). Tujuan kedua, adalah untuk
membayar utang.

Jenis-jenis right issue

Right issue dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

1. Right issue dengan HMETD

Right issue jenis ini yang umumnya sering diterbitkan oleh perusahaan. Right issue dengan HMETD
memungkinkan masyarakat (investor ritel) untuk ikut berpartisipasi dalam proses right issue.

2. Right issue tanpa HMETD

Di berita2 online, terkadang ada informasi seperti ini: PT A akan right issue tanpa hak memesan efek
terlebih dahulu. Dengan pembeli right isuue adalah PT B. Maksud dari right issue tanpa HMETD
adalah right issue yang diterbitkan perusahaan dan pembelinya sudah ditentukan (pembeli siaga /
standby buyer). Biasanya, pembelinya adalah institusi besar lainnya. Jadi, pada right issue tanpa
HMETD, anda tidak bisa ikut berpartisipasi.

Contohnya begini. sebuah perusahaan startup AIUEO di bidang travel terdiri dari 5 pemegang saham
dengan total modal disetor Rp. 1.000.000.000,- dengan komposisi berikut:

Anto: 10 lembar saham = 10% = Rp. 100.000.000,-

Inneke: 15 lembar saham = 15% = Rp. 150.000.000,-

Ubadila: 25 lembar saham = 25% = Rp. 250.000.000,-

Emon: 25 lembar saham = 25% = Rp. 250.000.000,-

Oban: 25 lembar saham = 25% = Rp. 250.000.000,-

Total ada 100 lembar saham beredar.

Karena bisnis yang berkembang, mereka harus menambah peralatan IT dan server baru untuk
ekspansi. Ekspansi membutuhan modal bukan? Opsinya ada dua: pinjaman atau nambah modal.
Keputusan RUPS adalah menambah modal karena tidak ada biaya karena tidak butuh bayar bunga
pinjaman bukan. Mereka butuh tambahan Rp. 400.000.000,- untuk ekspansi tersebut. Dengan
demikian, setelah penambahan modal, modal perusahaan ini menjadi Rp. 1.000.000.000,- + Rp
400.000.000,- = Rp. 1.400.000.000,-. Artinya, rasio Right Issue adalah 10 : 4, atau 5 : 2

Masing – masing pemegang saham AIUEO harus menyetor modal baru sesuai dengan proporsi
kepemilikan saham mereka bukan? Jadinya hak penambahan masing – masing pemegang saham
adalah:

Anto: Rp. 400.000.000,- x 10% = Rp. 40.000.000,-

Inneke: Rp. 400.000.000,- x 15% = Rp. 60.000.000,-

Ubadila: Rp. 400.000.000,- x 25% = Rp. 100.000.000,-

Emon: Rp. 400.000.000,- x 25% = Rp. 100.000.000,-

Oban: Rp. 400.000.000,- x 25% = Rp. 100.000.000,-


Bagaimana jika ada investor yang tidak mengambil hal-nya?

Contoh: karena tidak punya dana tunai karena kesulitan keuangan, Oban tidak bisa menambah
modal sebesar haknya yaitu Rp. 100.000.000,-. Dan kebetulan Emon berminat mengambil jatah
Oban. (jika di bursa efek, HMETD milik Oban bisa dijual ke pasar dimana kodenya ada tambahan -R)
Dengan demikian, modal baru yang disetor Oban adalah 0, yang disetor Emon adalah Rp.
100.000.000,- (hak nya) + Rp. 100.000.000,- (pengalihan hak dari Oban) = Rp. 200.000.000,-

Jika hal ini terjadi, maka struktur pemegang saham akan berubah. Jadinya sebagai berikut:

Nama | Modal Awal | Modal Tambahan | Modal Akhir | Persentase kepemilikan

Anto | Rp. 100.000.000,- | Rp. 40.000.000,- | Rp. 140.000.000,- | 10%

Inneke | Rp. 150.000.000,- | Rp. 60.000.000,- | Rp. 210.000.000,- | 15%

Ubadila | Rp. 250.000.000,- | Rp. 100.000.000,- | Rp. 350.000.000,- | 25%

Emon | Rp. 250.000.000,- | Rp. 200.000.000,- | Rp. 450.000.000,- | 32% (naik dari 25%)

Oban | Rp. 250.000.000,- | Rp. 0,- | Rp. 250.000.000,- | 18% (turun dari 25%)

Apa efeknya?

Salah satunya adalah hak suara dalam pengambilan keputusan Oban berkurang, Emon meningkat.

Pembagian keuntungan atau deviden pun berubah. Emon akan mendapat porsi deviden terbesar
dibandingkan yang lainnya.

Jika Emon bersekutu dengan Ubadila, maka mereka akan mengontrol keputusan perusahaan
kedepaan karena total kepemilikan mereka menjadi 57%.

Buyback, atau dengan kata lain “dibeli kembali” adalah proses pembelian kembali saham yang
beredar di publik (outstanding share) yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Dalam proses
buyback perusahaan menginvestasikan dana yang dimiliki untuk membeli saham perusahaannya
sendiri dari publik.

Dengan melakukan pembelian kembali saham yang beredar di publik, secara otomatis jumlah
keuntungan yang harus disetor perusahaan melalui pembagian deviden akan berkurang, karena
jumlah saham yang beredar menyusut. Bukan hanya itu perusahaan juga dapat memperoleh
keuntungan di masa yang akan datang jika jika perusahaan memutuskan untuk menjual kembali
saham yang dibuyback ketika harganya sudah naik.

Ada dua cara perusahaan melakukan buyback:

1. Tender Offer

Perusahaan memberikan penawaran kepada pemegang sahamnya bahwa perusahaan akan membeli
sejumlah saham dengan kisaran harga tertentu (kisaran harganya ditentukan oleh perusahaan dan
hampir selalu harga yang ditawarkan di atas harga di pasar), bagi pemegang saham yang ingin
mengikuti proses ini, dapat mendaftarkan dirinya beserta dengan jumlah saham yang ingin dijual di
harga yang diharapkan. Pada waktu pelaksanaan tender offer perusahaan akan membeli dalam
jumlah yang mereka rencanakan, jika jumlah saham yang ditawarkan publik lebih banyak dari
kebutuhan, perusahaan akan mengutamakan pembelian pada saham yang ditawarkan di harga yang
lebih murah.

2. Pembelian di Pasar Terbuka

Alternatif berikutnya adalah dengan membeli saham di pasar reguler sesuai dengan harga yang
berlaku di pasar. Pengumuman atau rumor adanya proses buyback di pasar reguler, sering kali
membuat harga melonjak karena ada sentimen peningkatan permintaan di saham ini.

Mengapa perusahaan melakukan buyback?

Bila kita bertanya kepada management perusahaan mengapa mereka melakukan buyback, biasanya
mereka akan menjawab bahwa perusahaan bermaksud untuk mengurangi jumlah deviden yang
dibagikan pada pemegang saham. Atau perusahaan akan menyatakan bahwa tidak ada investasi
yang lebih baik dari perusahaan mereka sendiri, sehingga perusahaan memutuskan untuk membeli
saham mereka sendiri.

Masih ada motif lain yang mendorong perusahaan untuk melakukan buyback. Misalnya ketika harga
saham sudah terlalu murah, entah karena turunnya keuntungan perusahaan, kondisi ekonomi yang
buruk, atau skandal lain yang terjadi.