Anda di halaman 1dari 11

EVALUASI RASIO PANJANG USUS DENGAN PANJANG TUBUH

IKAN

Oleh:
Nama : Yosi Herliani
NIM : B1A016023
Rombongan : III
Kelompok : 3
Asisten : Persona Gemilang

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI NUTRISI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
201818
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melaului cara fisik dan kimia,
menjadi sari-sari makanan yang mudah diserap di dalam usus, diedarkan ke seluruh organ
tubuh melalui sistem peredaran darah. Sistem atau alat pencernaan pada ikan terdiri dari dua
bagian, yaitu saluran pencernaan (Tractus digestivus) dan kelenjar pencernaan (Glandula
digestoria). Saluran pencernaan terdiri dari mulut, rongga mulut, farings, esofagus, lambung,
pilorus, usus, rektum dan anus. Kelenjar pencernaan terdiri dari hati dan pankreas yang
berguna untuk menghasilkan enzim pencernaan yang nantinya akan bertugas membantu
proses penghancuran makanan (Zaldi,2010).
Ikan memiliki habitat yang sangat beraneka ragam mulai dari laut, air sungai hingga
air payau. Jenis makanan ikan sangat bervariasi mulai dari pemakan hewani (karnivora),
pemakan nabati (herbivora) ataupun keduanya (omnivora). Setiap ikan memiliki organ dan
sistem organ yang spesifik. Sistem tersebut antara lain sistem pencernaan, reproduksi,
urogenital dan sistem respirasi. Sistem-sistem tersebut terdiri atas organ-organ spesifik.
Setiap jenis ikan memiliki ukuran serta bentuk yang berbeda. Perbedaan ini dapat menjadi
salah satu alat untuk membedakan spesies tertentu dari spesies lainnya (Susanto, 2005).
Sistem pencernaan pada ikan tentu saja berbeda dengan hewan darat lainnya,
mengingat habitatnya berbeda. Ikan merupakan hewan vertebrata yang hidup di air, baik air
laut maupun air tawar. Secara umum alat-alat pencernaan ikan meliputi, rongga mulut,
pangkal tenggorokan (faring), kerongkongan (esofagus), lambung, usus, anus. Ikan juga
mempunyai kelenjar pencernaan yaitu hati (Affandi et al., 2005). Kebiasaan makanan ikan
dipelajari untuk menentukan gizi alamiah ikan tersebut. Pengetahuan tentang kebiasaan
makanan ikan dapat digunakan untuk melihat hubungan ekologi di antara organisme di
perairan tempat mereka berada, misalnya bentuk pemangsaan, persaingan, dan rantai
makanan. Jadi, makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi keberadaan populasi
(Kottelate & Nauen, 1983).

B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengevaluasi rasio panjang usus dengan
panjang tubuh untuk dapat memprediksi katagori makan ikan.
II. MATERI DAN CARA KERJA

A. Materi

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan Lele (Clarias
gariepinus), Belut (Monopterus albus), Tawes (Barbonymus gonionotus), Bawal (Colossoma
macropomum), dan Nila (Oreochromis niloticus).
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat bedah, milimeter blok,
baki preparat, dan tissue.

B. Cara Kerja

1. Panjang total ikan diukur menggunakan milimeter blok yang telah disediakan.
2. Pembedahan pada ikan dilakukan menggunakan gunting bedah yang dimulai dari
bagian ventral depan dengan hati-hati agar tidak merusak saluran pencernan.
3. Sistem pencernaan ikan dikeluarkan dan dengan hati-hati saluran pencernaan diurai.
4. Panjang usus diukur menggunakan milimeter blok, dimulai dari pangkal depan
lambung hingga ujung anus.
5. Rasio panjang usus total dengan panjang total tubuh dan rasio panjang usus setelah
lambung dengan panjang total tubuh dihitung.
6. Preparat dan usus yang telah diurai di dokumentasikan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3.1 Rasio Panjang Usus dengan Panjang Tubuh Ikan


Kelompok Ikan Rasio Total (cm) Kategori
Belut 1 0,75
Karnivora
Belut 2 0,63
1
Tawes 1 2,13
Herbivora
Tawes 2 2,67
Lele 1 0,40 Karnivora
Lele 2 1,69 Omnivora
2
Belut 1 0,56
Karnivora
Belut 2 0,66
Lele 1 0,54
Omnivora
Lele 2 1,11
3
Bawal 1 1,31
Omnivora
Bawal 2 1,66
Bawal 1 1,47
Omnivora
Bawal 2 1,44
4
Nila 1 5,88
Herbivora
Nila 2 4,48

Perhitungan Kelompok 3

𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑙𝑎𝑚𝑏𝑢𝑛𝑔−𝑎𝑛𝑢𝑠


Rasio Total = ( )
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑏𝑢ℎ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙

25,2
Lele 1 = (46,7) = 0,54 mm

54
Lele 2 = (48,8) = 1,11 mm

51,2
Bawal 1 = ( 39 ) = 1,31 mm

66,2
Bawal 2 = (39,9) = 1,66 mm
Gambar 1. Panjang Total Tubuh Ikan Gambar 2. Panjang Total Tubuh Ikan
Lele (Clarias gariepinus) 1 dan 2 Bawal (Colossoma macropomum)

Gambar 3. Panjang Usus Ikan Gambar 4. Panjang Usus Ikan Lele


Lele (Clarias gariepinus) Ke -1 (Clarias gariepinus) ke- 2

Gambar 5. Panjang Usus Ikan Bawal Gambar 6. Panjang Usus Ikan Bawal
(Colossoma macropomum) ke-1 (Colossoma macropomum) ke-2
B. Pembahasan

Berdasarkan hasil yang didapatkan, rasio total belut 1 dan 2 pada kelompok 1 dan 2,
yaitu 0,75, 0,63, 0,56, dan 0,66 masuk dalam kelompok ikan karnivora. Rasio total ikan tawes
1 dan 2 pada kelompok 1, yaitu 2,13, dan 2, 67 masuk dalam kelompok ikan herbivora. Rasio
total ikan lele 1 dan 2 pada kelompok 2 dan 3, yaitu 0,40, 1,69, 0,54, 1,11 masuk dalam
kelompok ikan omnivora, sedangkan pada lele 1 kelompok 2 masuk dalam kelompok ikan
karnivora. Rasio total ikan bawal 1 dan 2 pada kelompok 3 dan 4, yaitu 1,31, 1,66, 1,47, dan
1,44 masuk dalam kelompok ikan omnivora. Rasio total ikan nila 1 dan 2 pada kelompok 4,
yaitu 5,88 dan 4,48 masuk dalam kelompok ikan herbivora. Menurut Zonneveld et al. (1991),
dalam Zuliani et al. (2016), menyatakan bahwa indek panjang relative usus ikan karnivora
memiliki panjang usus 0.2 - 2.5, ikan omnivora 0.6 - 8.0, ikan hebivora 0.8 - 15.0.
berdasarkan pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa hasil yang didapatkan sesuai dengan
pustaka, yaitu belut (Monopterus albus) merupakan kelompok ikan karnivora. Ikan tawes
(Barbonymus gonionotus) merupakan kelompok ikan herbivora, Dani et al. (2005),
menyatakan bahwa ikan Tawes (Barbonymus gonionotus) merupakan ikan herbivora, daun-
daunan merupakan pakan yang penting bagi tawes. Pakan ikan tawes pada waktu masih benih
adalah plankton dan setelah dewasa pakan ikan tawes adalah lumut dan pucuk-pucuk
ganggang muda. Selain itu, ikan tawes juga makan daun-daun tanaman lain, misalnya daun
keladi, daun singkong, dan daun pepaya. Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan
herbivora, Mulyani et al. (2014), menyatakan bahwa nila merupakan ikan herbivora (ikan
pemakan tumbuhan), memiliki efisiensi pencernaan makanan lebih baik yaitu > 80%
dibandingkan dengan ikan karnivora. Ikan lele (Clarias gariepinus) merupakan kelompok
ikan omnivora, hal ini sesuai dengan pernyataan Habibi (2016) bahwa ikan lele (Clarias
gariepinus) digolongkan pemakan segala (omnivora) disebabkan karena pada kolam budidaya
ikan lele mau menerima segala jenis makanan yang diberikan dan lele (Clarias gariepinus)
juga dikenal sebagai pemakan bangkai atau scavenger. Tetapi ikan lele 1 pada kelompok 2
masuk dalam kelompok ikan karnivora, hal ini terjadi karena pakan yang berada di habitat
nya banyak pakan yang mengandung pakan hewani. Ikan bawal (Colossoma macropomum)
merupakan kelompok ikan omnivora, hal ini sesuai dengan pernyataan Taufiq et al. (2016),
menyatakan bahwa ikan bawal tergolong kedalam kelompok omnivora, ikan ini menyukai
plankton dan tumbuhan air.
Digesti merupakan proses pemecahan zat makanan yang kompleks menjadi sederhana.
Proses digesti memerlukan waktu yang lama dalam memecah makanan. Pakan yang
dikonsumsi oleh ikan akan mengalami proses digesti di dalam sistem pencernaan sebelum
pakan nutrisi diabsorpsi, yang akan digunakan untuk sistem biologis pada tubuh ikan. Proses
digesti pada ikan dibantu oleh enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh tubuh. Hasil
proses digesti dapat berupa asam amino, asam lemak, dan monosakarida yang akan diabsorpsi
oleh sel epitel intestine kemudian diedarkan keseluruh tubuh oleh sistem sirkulasi. Sistem
pencernaan pada ikan terdiri atas saluran pencernaan (tractus digestivus) dan kelenjar
pencernaan (glandula digestoria). Saluran pencernaan terdiri dari mulut, rongga mulut,
faring, esofagus, lambung, pilorus, usus, rektum dan anus. Kelenjar pencernaan pada ikan
salah satunya terdiri atas hepatopankreas, yang berguna untuk menghasilkan enzim
pencernaan yang membantu proses digesti (Kay, 1998).
Menurut Susanto (1995) ikan dibagi menjadi tiga macam berdasarkan jenis pakannya,
yaitu omnivora, karnivora, herbivora. Omnivora merupakan ikan pemakan tumbuhan dan
daging, biasanya memiliki usus yang tidak terlalu panjang dan dinding usus tidak terlalu
tebal. Karnivora merupakan ikan ikan pemakan daging, biasanya memiliki usus lebih pendek,
lebih tebal, dan lebih lurus dengan tingkat pelipatan mukosa yang lebih besar. Herbivora
merupakan ikan pemakan tumbuhan. biasanya memiliki usus yang panjangnya melebihi
panjang tubuhnya serta dinding ususnya sangat halus dan basah. Ikan herbivora cenderung
memiliki usus sempit dan relatif panjang, memungkinkan memiliki pencernaan yang lebih
efektif dalam jumlah besar makanan (Day et al., 2014).
Panjang usus ikan sangat berkaitan erat dengan jenis makanannya. Usus yang sangat
panjang pada ikan herbivora merupakan kompensasi terhadap kondisi makanan yang
memiliki kadar serat yang tinggi dan keadaan villinya yang relatif rendah. Makanan ikan
herbivora mangandung banyak serat sehingga rnemerlukan pencernaan yang lebih lama dan
kompleks. Oleh sebab itu, pencernaan pada ikan herbivora membutuhkan saluran pencernaan
yang panjang. Ikan karnivora memiliki usus yang pendek. Panjang usus merupakan suatu
bukti bahwa dalam usus terjadi proses pencernaan makanan, jika tidak terjadi proses
pencernaan makanan maka panjang usus ikan herbovora, ikan omnivora maupun karnivora
seharusnya tetap sama (Effendie, 1979). Semakin bertambah panjang total tubuh maka
semakin rendah nilai rasio berat lambung/berat tubuhnya. Ikan akan sejalan dengan
bertambahnya panjang usus, peningkatan panjang usus akan sejalan dengan meningkatnya
panjang tubuh, usus akan bertambah panjang apabila makanan yang masuk lebih banyak,
sehingga usus akan beradaptasi untuk menambah luas area pencernaannya dengan menambah
panjang tubuhnya. Adanya perbedaan perbandingan panjang usus dengan panjang total tubuh
pada ikan (herbivor, omnivor dan karnivor) mencerminkan penyesuaian dari usus terhadap
tingkat kompleksitas pakan yang dimakan (Jarmanto et al., 2014).
Berdasarkan jenis pakannya, ikan dibagi menjadi ikan herbivora, ikan karnivora, dan
ikan omnivora. Ikan herbivora merupakan ikan yang memakan bahan tumbuhan yang hidup
di air atau di lumpur, seperti alga, hifa jamur, atau alga biru. Ikan herbivora umumnya
memiliki usus yang lebih panjang dari ikan karnivora dan omnivora. Panjang usus ikan
hebivora beberapa kali lipat dari panjang tubuhnya, sehingga posisi usus dalam rongga perut
menjadi melingkar-lingkar. Pakan ikan herbivora mengandung banyak serat kasar, sehingga
memerlukan pencernaan yang lebih lama. Panjang usus relatif untuk ikan herbivora adalah >
3, sedangkan indeks panjang relative usus ikan herbivora adalah 0.8–15.0 (Nasir, 2002).
Ikan karnivora merupakan ikan-ikan yang sebagian besar makannya terdiri dari
hewani. Ikan golongan karnivora memiliki panjang usus lebih pendek dari pada panjang
tubuhnya karena daging yang dimakan merupakan asupan protein tinggi sehingga mudah
diserap oleh tubuh. Panjang usus relatif untuk ikan karnivora adalah 1, sedangkan indeks
panjang relative usus ikan karnivora adalah 0.2-2.5. Ikan omnivora merupakan ikan pemakan
nabati dan hewani. Ikan omnivora memiliki panjang usus yang hanya sedikit lebih panjang
dari panjang total badannya karena makanan yang dimakan ikan golongan ini bergantung
pada ketersedian makanan yang tersedia. Panjang usus relatif ikan omnivora adalah 1-3,
sedangkan indeks panjang relative usus ikan omnivora adalah 0.6-8.0 (Emha et al., 2018).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa rasio total
dari belut (Monopterus albus) 1 dan 2, yaitu 0,75, 0,63, 0,56, dan 0,66 masuk dalam
kelompok ikan karnivora. Rasio total ikan tawes (Barbonymus gonionotus) 1 dan 2, yaitu
2,13, dan 2, 67 masuk dalam kelompok ikan herbivora. Rasio total ikan lele (Clarias
gariepinus) 1 dan 2, yaitu 0,40, 1,69, 0,54, 1,11 masuk dalam kelompok ikan omnivora. Rasio
total ikan bawal (Colossoma macropomum) 1 dan 2, yaitu 1,31, 1,66, 1,47, dan 1,44 masuk
dalam kelompok ikan omnivora. Rasio total ikan nila (Oreochromis niloticus) 1 dan 2, yaitu
5,88 dan 4,48 masuk dalam kelompok ikan herbivora.
DAFTAR REFERENSI

Affandi, R., Djaja, S. S., Rahardjo, S., 2005. Fisiologi Ikan. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Dani, N. P., Budiharjo, A., & Listyawati, S., 2005. Komposisi Pakan Buatan Untuk
Meningkatkan Pertumbuhan dan Kandungan Protein Ikan Tawes (Puntius javanicus
Blkr). 7(2), pp. 83-90.
Day, R. D., Tibbetts, I. R., & Secor, S. M., 2014. Physiological responses to short-term
fasting among herbivorous, omnivorous, and carnivorous fishes. Journal of
Comparative Physiology B, 184(4), pp. 497-512.

Effendie, M. I. 1975. Metode Biologi Perikanan Edisi 1. Bogor : Yayasan Dewi Sri.

Emha, R. F. T. U., Cut, D. I., Erdiansyah R., 2018. Histologi Intestinum Ikan Gurami
(Osphronemus gouramy Lac.) Pada Fase Benih Dan Dewasa (The Histological of
Intestine of Carp (Osphronemus gouramy Lac.) at Seed and Adult Phase). Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Veteriner, 2(2), pp. 56-63.
Habibi, M. B. Y. 2016. Potensi Penambahan Azolla sp. dalam Formulasi Pakan Ikan Lele
(Clarias sp.) Terhadap Nilai Kecernaan Serat Kasar dan Bahan Ekstrak Tanpa
Nitrogen Menggunakan Teknik Pembedahan. Skripsi. Surabaya: Fakultas Perikanan
dan Kelautan Universitas Airlangga.
Jarmanto., Yusfiati., Roza, E., 2014. Morfometrik Saluran Pencernaan Ikan Parang-Parang
(Chirocentrus Dorabforsskal 1775) dari Perairan Laut Bengkalis Provinsi Riau. JOM
FMIPA. 1(2), pp. 464-471.
Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. New York: Bioscientific Publisher Springer
Verley.

Kottelate & Nauen. 1983. Kebiasaan makan ikan berdasarkan jenis. Jakarta: Ditjen
Perikanan.
Mulyani, Y. S., Yulisman., Fitrani, M., 2014. Pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan nila
(Oreochromis niloticus) yang dipuasakan secara periodik. Jurnal Akuakultur Rawa
Indonesia, 2(1), pp. 1-12.
Nasir, M., 2002. Pengaruh Kadar Selulosa Yang Befbeda Dalam Pakan Terhadap Panjang
Usus Dan Aktivitas Enzim Pencernaan Benih lkan Gurami (Osphronemus gouramy
Lac).

Susanto H. 1995. Budidaya ikan di Pekarangan. Jakarta : Penebar Swadaya.

Susanto H. 2005. Budidaya ikan di Pekarangan. Jakarta : Penebar Swadaya.

Taufiq, T., Firdus, F. & Arisa, I. I., 2016. Pertumbuhan Benih Ikan Bawal Air Tawar
(Colossoma macropomum) pada Pemberian Pakan Alami yang Berbeda. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Kelautan Perikanan Unsyiah, 1(3). pp. 355-365.

Zaldi. 2010. Pencernaan Ikan. Bandung: Universitas Padjajaran.


Zonneveld, N. E. A., Huisman, J. H., Boon., 1991. Prinsip-prinsip budidaya ikan. Jakarta: PT.
Gramedia.