Anda di halaman 1dari 28

PEDOMAN PELAYANAN

RUANG RAWAT INTENSIF

Disusun Oleh :

TIM PERAWATAN INTENSIF

RUMAH SAKIT SANTA ANNA

KENDARI

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas bimbingan
dan penyertaan-NYA saja sehingga Buku Pedoman PenyelengaraanRuang Rawat Intensif
Rumah Sakit ini dapat diselesaikan dengan baik. Buku pedoman ini disusun sebagai dasar
penyelenggaraan organisasi dalam ruang lingkup aktivitas Ruang Rawat Intensif Rumah
Sakit.
Dalam menjalankan fungsi dan perannya di RS Santa Anna, Ruang Rawat Intensif perlu
saling berkoordinasi dengan suatu unit/bagian maupun yang lainnya untuk menunjang
pelayanan di Rumah Sakit. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu kebijakan dan sistem
koordinasi yang jelas di Ruang Rawat Intensif sebagaimana termuat dalam Buku Pedoman
Penyelengaraan Ruang Rawat Intensif ini.
Dalam proses penyusunannya, Buku Pedoman ini tentunya masih memiliki berbagai
kekurangan yang membutuhkan banyak masukan dari berbagai pihak terkait untuk perbaikan
kedepannya. Akhirnya, penyusun berharap agar Buku Pedoman ini dapat dimanfaatkan
dengan baik sebagai dasar penyelenggaraan pelayanan oleh seluruh pihak yang terkait dengan
Ruang Rawat Intensif RS. Santa Anna.

Kendari, 1 Februari 2018


Hormat Kami,

Penyusun

i
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .......................................................................................


KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang. ........................................................................ 2
B. Tujuan Pedoman....................................................................... 2
C. Ruang lingkup pelayanan ......................................................... 2
D. Batasan operasional ………………………………………..... 2
E. Landasan Hukum ..................................................................... 3
BAB II : STANDAR KETENAGAAN ...................................................... 4
A. Kualifikasi Sumber daya manusia……………………………. 4
B. Distribusi Ketenagaan………………………………………... 6
C. Pengaturan Jaga……………………………………………… 6
BAB III : STANDAR FASILITAS .............................................................. 7
A. Denah Ruang…………………………………………………. 7
B. Standar Fasilitas ....................................................................... 8
BAB IV : STANDAR PELAYANAN……………………………………… 10
BAB V : LOGISTIK .................................................................................... 15
BAB VI : KESELAMATAN PASIEN ......................................................... 16
BAB VII : KESELAMATAN KERJA .......................................................... 21
BAB VIII : PENGENDALIAN MUTU 23
BAB IX : PENUTUP..................................................................................... 25

ii
LAMPIRAN PERATURAN DIREKTUR RS. SANTA ANNA
NOMOR : 110.PERDIR.SA.TKRS.II.2018
TENTANG : TATA KELOLA RUMAH SAKIT

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang sangat perlu untuk


dikembangkan di Indonesia saat ini. Berbagai pemberian pelayanan keperawatan intensif
bertujuan untuk memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial
reversible, memberikan asuhan bagi pasien yang perlu observasi ketat dengan atau tanpa
pengobatan yang tidak dapat diberikan di ruang perawatan umum, memberikan pelayanan
kesehatan bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya guna
mengurangi kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan
penyakit kritis (Adam & Osbome, 1997).
Uraian di atas menunjukkan bahwa pelayanan keperawatan intensif berbeda
dengan pelayanan keperawatan di ruang rawat biasa, karena tingkat ketergantungan pasien
terhadap perawat intensif sangat tinggi. Untuk itu, perawat intensif dituntut memiliki
pengetahuan keterampilan, daya analisa dan tanggung jawab yang tinggi, mampu bekerja
mandiri, membuat keputusan yang cepat dan tepat, serta kolaborasi dengan tim kesehatan
lainnya.
Kapan sebenarnya istilah ICU mulai dikembangkan masih controversial, akan
tetapi cikal bakal ICU dimulai ketika pada tahun 1863, Florence Nightingale menulis: di
beberapa rumah sakit terdapat ruang yang letaknya berdekatan dengan kamar operasi yang
berfungsi sebagai ruang pulih sadar (Recovery Room). Di Jerman pada tahun 1920
pertama kali berdiri ICU yang sudah terorganisasi dengan baik, untuk menangani klien
pasca bedah.
Tonggak ICU dimulai pada tahun 1952 ketika terjadi wadah Poliomyelitis di
Denmark, angka kematian yang semula mencapai 90 % dengan perawatan intensif, dapat
diturunkan hingga 40 % yaitu dengan melakukan bantuan nafas secara manual, melalui
tracheotomy.

1
Saat ini tampaknya kebaradaan suatu ICU di rumah sakit sangat penting. Kendala-
kendala yang dihadapi suatu ICU adalah diperlukannya biaya operasional yang tinggi,
disamping adanya personal baik dokter atau paramedik yang professional.
Untuk itulah diperlukan suatu organisasi yang baik di dalam menjalankan ICU,
baik dari segi ketenagaan , tata ruang, kriteria masuk dan keluar pasien, kebutuhan alat
atau obat, protokol perawatan pasien, unit penunjang dan lembar observasi serta adanya
pendidikan dan pelatihan bagi para personelnya.

B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di ruang perawatan intensif
2. Tujuan khusus
a. Tersusunnya standar pelayanan keperawatan di ruang Perawatan Intensif
b. Tersusunnya standar asuhan keperawatan di ruang Perawatan Intensif
c. Tersusunnya prosedur/protap kerja di ruang Perwatan Intensif

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN


Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di ICU adalah sebagai berikut:
1. Asuhan Keperawatan Intensif
2. Pelayanan Intensif
3. Pelayanan Resusitasi

D. BATASAN OPERASIONAL
1. Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan adalah merupakan suatu tindakan kegiatan atau proses
dalam praktik keperawatan yang diberikan secara langsung kepada pasien untuk
memenuhi kebutuhan objektif pasien , sehingga dapat mengatasi masalah yang sedang
dihadapinya, dan asuhan keperawatan dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah ilmu
keperawatan.
2. Pelayanan Intensif
Pelayanan intensif adalah pelayanan keperawatan bertujuan untuk memberikan
asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial reversible, memberikan
asuhan bagi pasien yang perlu observasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang
tidak dapat diberikan di ruang perawatan umum memberikan pelayanan kesehatan

2
bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya guna
mengurangi kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan
penyakit kritis (Adam & Osbome, 1997).
3. Pelayanan Resusitasi
Resusitasi adalah usaha mengembalikan fungsi pernafasan dan/atau sirkulasi
dan penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan/atau henti jantung (cardiac
arrest) pada orang, di mana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang
memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja
kembali.

E. LANDASAN HUKUM
a) Kepmenkes RI No. 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah
Sakit
b) Permenkes RI No. 512/Menkes/Per/IV/2007 tentang Izin Praktik dan pelaksanaan
praktik Kedokteran.
c) Permenkes RI No. 1144/Menkes/Per/IV/2010Organisasi dan Tata kerja
Kementerian Kesehatan.
d) Kepmenkes RI No. 1778/Menkes/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelengaraan
Pelayanan Intensive care Unit (ICU).

3
BAB II

STANDAR PELAYANAN DAN KETENAGAAN

A. KLASIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIAN


Dalam menyelengarakan pelayanan di rumah sakit,mengacu pada (Kepmenkes RI No.
1778/Menkes/SK/XII/2010) pelayanan ICU dibagi dalam beberapa klasifikasi
pelayanan, tenaga dan kelengkapan pelayanan yang menentukan klasifikasi pelayanan
dirumah sakit tersebut yang dibagi kemampuan pelayanan primer,sekunder dan
tersier. Dan dimana berdasarkan klasifikasi tersebut Rumah Sakit Santa Anna tipe C
mampu untuk melakukan Pelayanan Intensive Care unit (ICU) primer dengan
klasifikasi:

1. Kemampuan Pelayanan ICU Primer


a. Resusitasi jantung paru
b. Pengelolaan jalan nafas termaksud intubasi trakeal dan ventilasi mekanik
sederhana
c. Terapi oksigen
d. Pemantauan EKG dan tekanan darah non invasive
e. Pelaksanaan terapi secara tittrasi
f. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral
g. Pemeriksaan laboratorium dengan cepat
h. Pemantauan fungsi vital dengan alat-alat pada kondisi kegawat daruratan
i. Kemampuan melakukan fisioterapi dada

4
Perbandingan Sumber Daya Manusia Unit ICU RS.Santa Anna tipe C dengan
Standar Kalsifikasi ketenagaan ICU primer

(Kepmenkes RI No. 1778/MENKES/SK/XII/2010)

No. Jenis Tenaga Standar Kepmenkes 2010 RS.Santa Anna

1 Kepala ICU 1. Dokter spesialis anastesiologi


S1 keperawatan dan
2. Dokter spesialis lain yang telah
dibantu penanggung
mengikuti pelatihan ICU (jika
jawab ICU dokter
belum ada dokter spesialis
spesialis anastesiologi
anastesiologi)

2 Tim Medis 1. Dokter Spesialis (yang dapat


memberikan pelayanan setiap 1. Dokter spesialis
diperlukan) dengan status on call
2. Dokter Jaga 24 jam dengan ( tidak 24 jam)
kemampuan resusitasi jantung 2. Dokter jaga UGD 24
paru yang bersertifikat bantuan jam
hidup dasar dan bantuan hidup
lanjutan
3 Perawat Minimal 50% dari jumlah seluruh Hanya 1 perawat yang
perawat merupakan terlatih dan telah mengikuti
bersertifikat ICU pelatihan basic ICU dan
2 pelatihan ICU di RS
Stella maris makassar

5
B. DISTRIBUSI KETENAGAAN

Jabatan Jumlah
Kepala. Ruangan 1
Ketua Tim 2
Perawat Pelaksana/Assosiate 7
Jumlah 10

C. PENGATURAN JAGA / SHIFT


Waktu pelayanan di Unit ICU/ RS.Santa Anna, berlangsung selama 1x24jam. Dimana
pelayanan kepada pasien oleh petugas dibagi menjadi 3 shift, yaitu:

1) Shift pagi 07.00 – 14.00, dengan tenaga :


Perawat 4 orang
2) Shift sore 14.00 – 21.00, dengan tenaga :
Perawat 2 orang
3) Shift malam 21.00 – 07.00, dengan tenaga :
Perawat 2 orang

6
BAB III
SARANA,PRASARAN DAN PERALATAN

A. DENAH RUANG ICU RS SANTA ANNA

isolasi
Ruang ruang
Nurse station perawat ganti
perawat

area bed pasien

Toilet
pasien

B. DESAIN RUANG

Perbandingan Disain Ruang Unit ICU Rumah Sakit Santa Annatipe D dengan
Standar Disain Ruang Pelayanan ICU Primer
(Kepmenkes RI No. 1778/MENKES/SK/XII/2010)

No Desain Ruang Standar Kepmenkes RS.Santa Anna


2010

1 Area pasien 1 tempat cuci tangan 1 tempat cuci tangan


tiap 2 tempat tidur (handscrub) tiap 1
Unit terbuka 12-16 m2
tempat tidur
Unit tertutup 16-20 m2

Outlet oksigen vakum:stop 1:2 /tempat tidur 1:2/tempat tidur


kontak

Area kerja + +

7
Lingkungan Air conditioner Air conditioner

Suhu 23-25°C 23-25°C

Ruang isolasi - +

Ruang penyimpanan peralatan + +


dan barang bersih

Ruang tempat buang kotoran + +

Ruang perawat + +

Ruang staf dokter _ _

Ruang tunggu keluarga pasien _ _

Laboratorium Terpusat 24 jam

C. STANDAR FASILITAS

Perbandingan Fasilitas peralatan ICU Rumah Sakit Santa Anna tipe C dengan
Standar Fasilitas Peralatan Pelayanan ICU Primer

Standar
peralatan
Kepmenkes 2010 RS.Santa Anna

1. Electrocardiograph 1. Ada 1. Tidak ada


2. Bed Side Monitor 2. Ada 2. Ada
3. Defibrillator 3. Ada 3. Ada(terpusat)
4. Suction Pump 4. Ada 4. Ada
5. Sterisillisator 5. Ada 5. Tidak ada
6. Infusion Pump 6. Ada 6. Ada
7. Resuscitator 7. Ada 7. Ada
8. Ventilator 8. Ada 8. Ada
9. Oxygen tent 9. Ada 9. Tidak ada

8
10. Central Gas 10. Ada 10. Tidak ada
11. Central Suction 11. Ada 11. Tidak ada
12. Heart Rate Monitor 12. Ada 12. Ada
13. Respiration Monitor 13. Ada 13. Ada
14. Blood Presure Monitor 14. Ada 14. Ada
15. Temperature Monitor 15. Ada 15. Ada
16. Haemodyalisis unit 16. Tidak Ada 16. Ada (ruang terpisah)
17. Blood Gas Anatyzer 17. Ada 17. Tidak ada
18. Elektryt Anatyzer 18. Ada 18. Tidak ada
19. Central Monitor 19. Ada 19. Tidak ada
20. Bed Slide Monitor 20. Ada 20. Ada
21. Cardiac Resuscitation 21. Ada 21. Ada

(Kepmenkes RI No. 1778/MENKES/SK/XII/2010)

9
BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN


A. Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien/ pasien di berbagai tatanan
pelayanan kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah Keperawatan sebagai
suatu profesi yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistic,dan
berdasarkan pada kebutuhan objektif pasien untuk mengatasi masalah yang dihadapi
klien. Tahap-Tahap Proses Keperawatan
1. Pengkajian

Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis


untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di
hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.tahap
ini mencakup tiga kegiatan,yaitu :

a. Pengumpulan data
b. Analisa data
c. Perumusan masalah
2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon


manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau
kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan,
membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito,2000).

3. Rencana keperawatan

Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu pasien


beralih dari status kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam
hasil yang di harapkan (Gordon,1994). Merupakan pedoman tertulis untuk
perawatan pasien. Rencana perawatan terorganisasi sehingga setiap perawat dapat
dengan cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan. Rencana
asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi konyinuitas

10
asuhan perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua
perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas
tinggi dan konsisten. Rencana asuhan keperawatan tertulis mengatur pertukaran
informasi oleh perawat dalam laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan
tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka panjang(potter,1997)

4. Implementasi keperawatan
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang
spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan
ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang
diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk
memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan pasien.

Adapun tahap-tahap dalam tindakan keperawatan adalah sebagai berikut :

1. Tahap 1 : Persiapan

Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk


mengevaluasi yang diindentifikasi pada tahap perencanaan.

2. Tahap 2 : Intervensi

Focus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan


pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik
dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan :
independen,dependen,dan interdependen.

3. Tahap 3 : Dokumentasi

Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang


lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.

5. Evaluasi
Perencanaan evaluasi memuat criteria keberhasilan proses dan keberhasilan
tindakan keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan
membandingkan antara proses dengan pedoman/rencana proses tersebut.
Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan membandingkan antara

11
tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan
kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya Jenis-jenis
asuhan keperawatan yang dilakukan di bagian Intensive Care Unit (ICU) yaitu:
a. Asuhan keperawatan intensif dewasa dan anak
b. Isolasi

B. Pelayanan Intensif

Hal-hal yang harus dipenuhi dalam memberikan di pelayanan intensif adalah


sebagai berikut:
1. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang mengancam
nyawa dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa
hari
2. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan
pelaksanaan spesifik problema dasar
3. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang
ditimbulkan oleh penyakit atau iatrogenic
4. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang kehidupannya sangat
tergantung pada alat/mesin dan orang lain

Ruang lingkup pelayanan intensif yaitu :

1. Spooling Chateter Urine


Irigasi kantung kemih kontinyu umumnya digunakan pada pasien setelah
pembedahan genitourina. Pasien ini beresiko mengalami bekuan darah kecil
dafragmen mucus yang dapat menghambat chateter.
2. Aff Hecting
Mengangkat atau membuka jahitan pada luka yang dijahit
3. Pemasangan Cvp
Memasang chateter intravena yang ujung chateternya berada dalam vena
cava superior.
4. Broncho Toilet
Mengeluarkan cairan atau lendir dari mulut, hidung atau trachea pasien yang
tidak dapat mengeluarkan secara spontan

12
5. Kumbah Lambung
Mencuci lambung dengan cara memasukkan air atau cairan tertentu dan
kemudian mengeluarkan melalui slang penduga lambung (maag slang)
6. Pengukuran CVP
Tindakan yang dilakukan untuk mengetahui volume cairan yang ada di
atrium kanan.
7. Penggunaan Masker
Penggunaan masker harus menutupi hidung, mulut sampai ke dagu dengan
tali terikat rapi di belakang kepala.
8. Pemberian Nutrisi Parenteral
Nutrisi perenteral adalah nutrisi yang dimasukkan melalui vena sentral atau
perifer.
9. Pemberian Obat Melalui (NGT)
Memasukkan obat ke dalam lambung dengan menggunakan sonde pipa
penduga lambung melalui hidung
10. Operasional Bed Side Monitor
Tindakan yang dilakukan untuk mempersiapkan dan memprogram Bed Side
Monitor sebelum dihubungkan dengan pasien.
11. Nebulasi
Pelembab yang membentuk aerosol, kabut butir-butir kecil air (garis
tengahnya 5-10 mikron)
12. Pemasangan Syringe Pump
Penggunaan suatu alat yang dikalibrasi khusus untuk memberikan obat-obat
dan cairan yang konstan dan dapat diatur pemberiannya.
13. Pengoperasian Syringe Pump
Tindakan yang dilakukan untuk mempersiapkan dan memprogramkan
sekaligus memastikan alat syringe pump dalam kondisi baik dan layak pakai.
14. Follow Sheet
Suatu lembar observasi pasien yang memuat data tentang identitas pasien,
diagnose medis, instruksi dokter, hasil observasi, tindakan dan hasil-hasil
penunjang medis serta balance cairan 24 jam.
15. Post Laparatomi
Insisi pembedahan melalui dinding perut atau abdomen

13
C. Pelayanan Resusitasi
Resusitasi ialah usaha mengembalikan fungsi pernafasan dan/atau sirkulasi dan
penanganan akibat henti nafas (respiratory arrest) dan/atau henti jantung (cardiac
arrest) pada orang, di mana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang
memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja
kembali
1. Defibrilator
Suatu tindakan yang dilakukan dengan menggunakan syok terapi yang
dihubungkan dengan suatu wire yang beraliran listrik
2. Intubasi Endotracheal
Suatu tindakan untuk memasukkan pipa endotracheal ke dalam trachea.
3. Fisiotherapi Nafas
Suatu usaha untuk mengeluarkan secret dari dalam paru-paru atau untuk
mempertahankan fungsi otot-otot pernafasan
4. Bed Side Monitor
Suatu alat yang terdiri dari beberapa modul dimana pada modul itu dapat
melihat gambar ECG, HR, RR, dan suhu pasien

14
BAB V
LOGISTIK

Logistik di perawatan ICU RS.Santa Anna berupa barang dan bahan yang harus
disediakan dapat dikelompokkan menjadi :

1. Bahan dan barang Rumah Tangga seperti sabun, sapu dan lain-lain.
2. Alat Tulis Kantor (ATK) seperti persediaan buku dan alat tulis.
3. Bahan Medis seperti obat-obatan, cairan infus dll

Khusus untuk bagian Intensif Care Unit (ICU) logistic yang dibutuhkan adalah sebagai
berikut :

BHP MEDIS ATK BHP RUMAH TANGGA


1. Obat-obatan 1. Resep dokter 1. Bayfresh stella
2. Pipet 2. Catatan perkembangan 2. Baygon semprot
3. Handscoon 3. Isolasi bening 3. Handuk kecil
4. Masker 4. Lem 4. Pengharum AC
5. Skort 5. Tempat pulpen 5. Politex kain spon
6. Alas kaki 6. Bantal stempel 6. Sabun handsoap
7. 7. Tinta stempel 7. Detergen
8. Mistar 8. Keranjang
9. Spidol 9. Pel sumbu
10. Buku tulis 10. Bayclean
11. Buku folio 11. Sabun cream
12. Amplop 12. Kantong plastic
13. Gunting sedang 13. Tissue
14. Pensil 14. Spon piring
15. Hekter 15. Lilin
16. Silet
17. Gunting kuku
18. Sikat botol

15
BAB VI

KESELAMATAN PASIEN

Keselamtan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu system di mana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman. System tersebut meliputi: assesmen risiko, identifikasi
dan pengeloilaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisa insedien,
kemampuan belajar dan insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya risiko. System tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya
cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan
yang seharusnya dilakukan.
Pelaksanaan “Patient safety” meliputi :
1. Sembilan solusi keselamatan Pasien di RS (WHO Collaborating Centre for Patient
Safety, 2 May 2007), yaitu:
a. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike medication
names)
b. Pastikan identifikasi pasien
c. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien
d. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
e. Kendalikan cairan elektrolit pekat
f. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan
g. Hindari salah kateter dan salah sambung slang
h. Gunakan alat injeksi sekali pakai
i. Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi nosokomial.

2. Tujuh Standar Keselamatan Pasien (mengacu pada “Hospital Patient Safety Standards”
yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Accreditation of Health Organizations,
Illinois, USA, tahun 2002),yaitu:

16
STANDAR KRITERIA

A. Hak pasien
Pasien & keluarganya mempunyai hak untuk 1) Harus ada dokter penanggung jawab
mendapatkan informasi tentang rencana & pelayanan
hasil pelayanan termasuk kemungkinan 2) Dokter penanggung jawab pelayanan
terjadinya KTD (Kejadian Tidak wajib membuat rencana pelayanan
Diharapkan). 3) Dokter penanggung jawab pelayanan
wajib memberikan penjelasan yang
jelas dan benar kepada pasien dan
keluarga tentang rencana dan hasil
pelayanan, pengobatan atau prosedur
untuk pasien termasuk kemungkinan
terjadinya KTD.
A. Mendidik pasien dan keluarga
RS harus mendidik pasien & keluarganya Keselamatan dalam pemberian pelayanan
tentang kewajiban & tanggung jawab pasien dapat ditingkatkan dgn keterlibatan pasien
dalam asuhan pasien. adalah partner dalam proses pelayanan.
Karena itu, di RS harus ada system dan
mekanisme mendidik pasien & keluarganya
tentang kewajiban & tanggung jawab pasien
dalam asuhan pasien.Dengan pendidikan
tersebut diharapkan pasien & keluarga dapat:
1. Memberikan info yg benar, jelas,
lengkap dan jujur
2. Mengetahui kewajiban dan tanggung
jawab
3. Mengajukan pertanyaan untuk hal yg
tdk dimengerti
4. Memahami dan menerima konsekuensi
pelayanan
5. Mematuhi instruksi dan menghormati
peraturan RS
6. Memperlihatkan sikap menghormati
dan tenggang rasa

17
7. Memenuhi kewajiban finansial yang
disepakati
B. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
RS menjamin kesinambungan pelayanan dan 1. Koordinasi pelayanan secara
menjamin koordinasi antar tenaga dan antar menyeluruh
unit pelayanan. 2. Koordinasi pelayanan disesuaikan
kebutuhan pasien dan kelayakan
sumber daya
3. Koordinasi pelayanan mencakup
peningkatan komunikasi
4. Komunikasi dan transfer informasi
antar profesi kesehatan.
C. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan
program peningkatan keselamatan pasien
RS harus mendesign proses baru atau 1. Setiap rumah sakit harus melakukan
memperbaiki proses yg ada, memonitor & proses perancangan (design) yang baik,
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan sesuai dengan ”Tujuh Langkah Menuju
data, menganalisis secara intensif KTD, & Keselamatan Pasien Rumah Sakit”.
melakukan perubahan untuk meningkatkan 2. Setiap rumah sakit harus melakukan
kinerja serta KP. pengumpulan data kinerja
3. Setiap rumah sakit harus melakukan
evaluasi intensif
4. Setiap rumah sakit harus menggunakan
semua data dan informasi hasil analisis
D. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
1. Pimpinan dorong & jamin 1. Terdapat tim antar disiplin untuk
implementasi progr KP melalui mengelola program keselamatan
penerapan “7 Langkah Menuju KP RS pasien.
”. 2. Tersedia program proaktif untuk
2. Pimpinan menjamin berlangsungnya identifikasi risiko keselamatan dan
program proaktif identifikasi risiko KP program meminimalkan insiden,
& program mengurangi KTD. 3. Tersedia mekanisme kerja untuk
3. Pimpinan dorong & tumbuhkan menjamin bahwa semua komponen dari
komunikasi & koordinasi antar unit & rumah sakit terintegrasi dan

18
individu berkaitan dengan pengambilan berpartisipasi
keputusan tentang KP 4. Tersedia prosedur “cepat-tanggap”
4. Pimpinan mengalokasikan sumber daya terhadap insiden, termasuk asuhan
yg adekuat utk mengukur, mengkaji, & kepada pasien yang terkena musibah,
meningkatkan kinerja RS serta membatasi risiko pada orang lain dan
tingkatkan KP. penyampaian informasi yang benar dan
5. Pimpinan mengukur & mengkaji jelas untuk keperluan analisis.
efektifitas kontribusinyadalam 5. Tersedia mekanisme pelaporan internal
meningkatkan kinerja RS & KP. dan eksternal berkaitan dengan insiden,
6. Tersedia mekanisme untuk menangani
berbagai jenis insiden
7. Terdapat kolaborasi dan komunikasi
terbuka secara sukarela antar unit dan
antar pengelola pelayanan
8. Tersedia sumber daya dan sistem
informasi yang dibutuhkan
9. Tersedia sasaran terukur, dan
pengumpulan informasi menggunakan
kriteria objektif untuk mengevaluasi
efektivitas perbaikan kinerja rumah
sakit dan keselamatan pasien.
E. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
1. RS memiliki proses pendidikan, 1. Memiliki program diklat dan orientasi
pelatihan & orientasi untuk setiap bagi staf baru yang memuat topik
jabatan mencakup keterkaitan jabatan keselamatan pasien
dengan KP secara jelas. 2. Mengintegrasikan topik keselamatan
2. RS menyelenggarakan pendidikan & pasien dalam setiap kegiatan inservice
pelatihan yang berkelanjutan untuk training dan memberi pedoman yang
meningkatkan & memelihara jelas tentang pelaporan insiden.
kompetensi staf serta mendukung 3. Menyelenggarakan pelatihan tentang
pendekatan interdisiplin dalam kerjasama kelompok (teamwork) guna
pelayanan pasien. mendukung pendekatan interdisiplin
dan kolaboratif dalam rangka melayani
pasien.

19
F. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.
1. RS merencanakan & mendesain proses 1. Disediakan anggaran untuk
manajemen informasi KP untuk merencanakan dan mendesain proses
memenuhi kebutuhan informasi manajemen untuk memperoleh data dan
internal & eksternal. informasi tentang hal-hal terkait dengan
2. Transmisi data & informasi harus tepat keselamatan pasien.
waktu & akurat. 2. Tersedia mekanisme identifikasi
masalah dan kendala komunikasi untuk
merevisi manajemen informasi yang
ada.

Langkah Langkah Kegiatan Pelaksanaan Patient Safety Di Rumah Sakit


1. Rumah sakit agar membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit, dengan susunan
organisasi sebagai berikut: Ketua: dokter, Anggota: dokter, dokter gigi, perawat,
tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya.
2. Rumah sakit agar mengembangkan sistem informasi pencatatan dan pelaporan internal
tentang insiden
3. Rumah sakit agar melakukan pelaporan insiden ke Panitia Keselamatan Pasien Rumah
Sakit (PKPRS) secara rahasia
4. Rumah Sakit agar memenuhi standar keselamatan pasien rumah sakit dan menerapkan
tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.
5. Rumah sakit pendidikan mengembangkan standar pelayanan medis berdasarkan hasil
dari analisis akar masalah dan sebagai tempat pelatihan standar-standar yang baru
dikembangkan.

20
BAB VII

KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja adalah aman atau selamat dari penderitaan , kerusakan atau
kerugian ditempat kerja ( Mangkunegara ; 2000 : 161). Perlindungan tenaga kerja meliputi
beberapa aspek dan salah satunya adalah perlindungan keselamatan kerja. Perusahaan perlu
untuk melindungi tenaga kerja agar tenaga kerja tersebut dapat bekerja secara aman sehingga
pada akhirnya dapat meningkatkan produktifitas dalam bekerja karena jarang absen.
Dalam pelayanan keselamatan kerja dirumah sakit program keselamatan petugas
merupakan program dari penyelenggaraan panitia K3 Rumah sakit serta merupakan tanggung
jawab bersama dari setiap unit terkait yang ada dirumah sakit.
Untuk keselamatan kerja dalam ruang lingkup ICU dibutuhkan beberapa persyaratan
sebagai berikut :
a. Lingkungan ICU yaitu :
1. Pintu ruang ICU (luar dan dalam) harus selalu dalam keadaan tertutup
2. Pemasangan alas lantai didepan pintu dalam ICU harus tetap terpasang dan dalam
kondisi basah dengan larutan desinfektan.
3. Pengaturan batas tegas antara daerah semi steril dan non steril sesuai prosedur.
4. Melakukan pembersihan rutin ruang ICU dan peralatan ICU sesuai jadwal yang telah
ditentukan.
5. Melakukan sterilisasi ruangan setelah pembersihan ruangan sesuai prosedur.
6. Penanganan sampah pembuangan BAB dan BAK pasien sesuai dengan prosedur.

b. Petugas ICU (dokter dan perawat) yaitu :


1. Petugas ICU harus memakai skort dan alas kaki khusus ruang ICU.
2. Petugas harus mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
3. Pemakaian handscoen dalam melakukan tindakan perawatan terhadap pasien.
4. Penggunaan softa-man bagi petugas setiap selesai kontak dengan pasien.

c. Pasien ICU yaitu :


1. Pasien harus ganti baju, celana khusus ruang ICU.
2. Penggantian alat tenun pasien dilakukan setiap hari atau bila kotor.
3. Pembersihan tempat tidur dan alat-alat yang dipakai pasien setelah pasien keluar,
dengan menggunakan cairan desinfektan.

21
d. pengunjung pasien ICU / keluarga pasien
1. Pengunjung bila masuk ruang ICU harus memakai baju pembesuk (pasien isolasi)
pengunjung dan alas kaki khusus ruang ICU.
2. Sebelum dan sesudah berkunjung ke pasien, pengunjung cuci tangan terlebih
dahulu atau membasahi tangan dengan menggunakan softa-man.
3. Pengunjung hanya bisa masuk pada saat jam berkunjung (max 2 orang)

e. Mengenai Peralatan Ruang ICU


1. Peralatan yang berupa set instrumen, alat kesehatan disposible harus dalam
keadaan steril.
2. Resterilisasi alat ICU dilakukan setiap 1 x 24 jam sekali.
3. Instrumen, alat – alat suction, sirkuit ventilator bila selesai dipakai pada pasien
direndam dengan cairan desinfektan baru kemudian disterilkan di ruang sterilisasi.
4. Setiap pasien yang memerlukan suction harus mempunyai slang suction sendiri-
sendiri.
5. Penggunaan kom untuk suction diganti dalam waktu 1 x 24 jam dan tiap-tiap
pasien sendiri-sendiri

22
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Dimensi Mutu adalah suatu pandangan dalam menentukan penilaian terhadap jenis
dan mutu pelayanan dilihat dari akses, efektivitas, efisiensi, keselamatan dan keamanan
kenyamanan, kesinambungan pelayanan kompetensi teknis dan hubungan antar manusia
berdasarkan standar WHO.
Pelayanan Intensif Berdasarkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
129/MENKES/SK/II/2008
Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
1. Rata-rata pasien yang kembali ke Rata-rata pasien yang kembali ke perawatan
perawatan intensif dengan kasus intensif dengan kasus yang sama < 72 jam
yang sama < 72 jam
Dimensi mutu Efektifitas
Tujuan Tergambarnya keberhasilan perawatan intensif
Definisi operasional Pasien kembali keperawatan intensif dari ruang
rawat inap dengan kasus yang sama dalam waktu <
72 jam
Frekuensi pengumpulan data 1 bulan
Periode analisis 3 bulan
Numerator Jumlah pasien yang kembali ke perawatan intensif
dengan kasus yang sama < 72 jam dalam 1 bulan.
Denominator Jumlah seluruh pasien yang dirawat di ruang intensif
dalam 1 bulan.
Sumber data Rekam medis
Standar < 3%
Penanggung jawab Komite medik/mutu

2. Pemberi pelayanan unit intensif Pemberi pelayanan unit intensif


Dimensi mutu Kompetensi teknis
Tujuan Tersedianya pelayanan intensif tenaga yang
kompeten
Definisi operasional Pemberi pelayanan intensif adalah dokter Sp.An dan

23
dokter spesialis sesuai dengan kasus yang ditangani,
perawat D3 dengan sertifikat perawat mahir
ICU/setara
Frekuensi pengumpulan data 1 bulan
Periode analisis 3 bulan
Numerator Jumlah tenaga dokter Sp.An dan spesialis yang
sesuai dengan kasus yang ditangani, perawat D3
dengan sertifikat perawat mahir ICU/setara yang
melayani pelayanan perawatan intensif
Denominator Jumlah seluruh tenaga dokter dan perawat yang
melayani perawatan intensif
Sumber data Kepegawaian
Standar 100%
Penanggung jawab Komite medik/mutu

24
BAB IX

PENUTUP

Upaya peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan merupakan tugas yang perlu
dituangkan dalam bentuk buku pedoman setiap unit.
Untuk itu penyempurnaan buku pedoman ini di lakukan sehinga dapat menjadi panduan
bagi RS. Santa Anna pada umumnya dan unit keperawatan pada khususnya.
Kritik,saran ataupun masukan sebagai penyempurnaan dari pedoman ini sangatlah di
harapkan dan hendaknya disampaikan kepada pelayanan keperawatan di bagian bidang
Keperawataan rawat jalan maupun rawat inap RS.Santa Anna sehingga hasil yang maksimal
dalam pelayanan terhadap sesama dapat semakin di tingkatkan.

25