Anda di halaman 1dari 70

LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

UPAYA MEMOTIVASI GURU SMA NEGERI 1 BANDUNG


DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALITAS MELALUI
PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH DENGAN
MELAKSANAKAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Disusun oleh :
Dra. Hj. Emi Yuliaty, M ,Pd
NIP : 195511071979012001
(Kepala Sekolah SMAN 1 Bandung)

DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDUNG

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 BANDUNG

Jl : Ir.H. JUANDA No 93
BANDUNG
2011
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Alhamdulillah serta memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT

penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian tindakan sekolah dengan judul “Upaya

Memotivasi Guru SMA Negeri 1 Bandung dalam Meningkatkan Profesionalitas melalui

Penulisan Karya Tulis dengan Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas”

Penulisan PTS ini dilatar belakangi adanya a)Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur

Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka

Kreditnya dalam Bab I, Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 5 berisi : Pengembangan keprofesian

berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi Guru yang dilaksanakan sesuai dengan

kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya.b) untuk memotivasi

pada guru-guru SMA Negeri 1 Bandung untuk dapat melaksanakan penulisan karya tulis ilmiah

dengan penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai syarat bahkan wajib melaksanakan kegiatan

pengembangan diri melalui karya tulis ilmiah.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan laporan PTS ini tidak menutup kemungkinan

masih terdapat kekurangan dari berbagai segi, mungkin sistematikanya, mungkin isinya, maupun

segi kebahasaannya. Oleh karena itu, kritik konstrutif dan saran dari pembaca umumnya sangat

penulis harapkan.

Penulis menghaturkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu

menyelesaikan PTS ini, semoga laporan PTS ini dapat memberikan kontribusi kepada dunia

pendidikan umumnya dan kepada Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugasnya. Terimakasih.

Bandung Maret 2011

Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan mengucapkan Alhamdulillah serta memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT

penulis dapat merampungkan laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dengan judul : “Upaya

Memotivasi Guru SMA Negeri 1 Bandung dalam Meningkatkan Profesionalitas melalui

Penulisan Karya Tulis dengan Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas”

Kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan, baik berupa bantuan materil,

dorongan moral dan spiritual, tenaga, doa yang tulus baik langsung maupun tidak langsung

sehingga laporan ini dapat penulis selesaikan.

Atas semua kontribusi tersebut, dengan penuh rasa takzim, penulis ucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya, terutama kepada:

1. Kepala Dinas Pendididkan Kota Bandung Bapak Drs. Oji Mahroji yang banyak

memberikan sumbangsih pikiran kepada penulis.

2. Bapak Kabid SMAK – Disdik Kota Bandung yang selalu memberikan semangat pada

penulis.

3. Bapak Drs. Amin Yusuf Pengawas Pembina Disdik Kota Bandung yang banyak

memberikan masukan yentang penulisan karya tulis ilmiah pada penulis.

4. Guru-guru SMA Negeri 1 Bandung yang banyak membantu dalam pengisian kuesioner

wawancara pada penulis,

Semoga semua yang telah dikontribusikan pada penulisan karya tulis ilmiah ini mendapat

balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin.

Penulis
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

UPAYA MEMOTIVASI GURU SMA


1. Judul Penelitian NEGERI 1 BANDUNG DALAM
MENINGKATKAN PROFESIONALITAS
MELALUI PENULISAN KARYA TULIS
ILMIAH DENGAN MELAKSANAKAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

2. Identitas Peneliti
a. Nama Lengkap dan Gelar Dra. Hj. Emi Yuliaty, M.Pd
b. Jenis Kelamin Perempuan
c. Pangkat, Golongan, Pembina Tk I/ IV B
d. NIP 195511071979012001
e. Asal Sekolah SMA Negeri 1 Bandung
f. Alamat Kantor Jl. Ir H. Juanda 93 Bandung
g. Alamat Rumah Jl. Platina No. 2 Bandung

3. Lama Penelitian Juli 2010 sampai maret2011

Bandung Maret 2011


Peneliti

Dra. Hj Emi Yuliaty, M.Pd


DISETUJUI DAN DISYAHKAN OLEH:
PENGAWAS PEMBINA DISDIK KOTA BANDUNG

Drs. Amin Yusuf Panirwan Hastya


NIP 195208041981121001
(Pembina TK 1/IVb)

DISETUJUI DAN DISYAHKAN OLEH :

KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDUNG

Drs. H. Oji Mahroji

NIP : 195506021984031005
Pembina Utama Muda IV C
ABSTRAK

Upaya memotivasi Guru SMA Negeri 1 Bandung dalam meningkatkan profesionalitas melalui
penulisan karya tulis dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK). Merupakan judul
penelitian tindakan sekolah (PTS), Mencermati data PNS per Mei 2010 adalah sebanyak
4.732.472 orang. Berdasarkan dokumen Badan Kepegawaian Negara (BKN), jumlah ini terbanyak
pada golongan III yang mencapai 2.244.785. Bila dilihat berdasar golongan ruang, PNS yang
mampu mencapai pangkat puncak (IV/e) berjumah 1.412 orang dengan rincian, pria 1.216 dan
wanita 196.

Berdasarkan jenis kelamin, PNS pria sebanyak 2.560.083 dan PNS wanita jumlahnya lebih rendah
yaitu 2.172.389. Sedangkan berdasarkan usia, jumlah terbanyak dalam rentangan usia 46 – 50
tahun yaitu 962.254, usia 41-45 tahun sebanyak 866.600, dan usia 51-55 tahun mencapai 739.420
orang.

Jumlah Gol
1.190.645 100,00 1.054.140 100,00 2.244.785
III.
IV/a 391.596 84,76 412.459 93,27 804.055
IV/b 53.035 11,48 25.903 5,86 78.938
IV/c 12.564 2,72 2.911 0,66 15.475
IV/d 3.577 0,77 730 0,17 4.307
IV/e 1.216 0,26 196 0,04 1.412
Jumlah Gol
461.988 100,00 442.199 100,00 904.187
IV.
Jumlah 2.560.083 2.172.389 4.732.472

Sebagai pembanding di SMA Negeri 1 Bandung per Maret 2011 terdapat 68 guru
dengan rincian gol IV/c 1 guru, IV/b 13 guru, IV/a 49 guru, III/d 1 guru, III/c I
guru, III /b 2 guru, III/a 1 guru.Jika ditinjau dari rincian tertsebut maka jelas ada
penumpukan di golongan IV/a dan usia diantara 40 -59 tahun.
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB)
No. 16 Tahun 2009 tanggal 10 November 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya.2) Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor
14 Tahun 2010 tanggal 6 Mei 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan
Angka Kreditnya.
Hal ini menambah penulis terpicu untuk memotivasi pada guru-guru SMA Negeri 1 Bandung
untuk dapat melaksanakan penulisan karya tulis ilmiah dengan penelitian tindakan kelas (PTK)
sebagai syarat bahkan wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri melalui karya tulis ilmiah.
Melalui penelitiaan yang penulis lakukan dapat dikatakan banyak guru yang kesulitan dalam
membuat sebuah karya tulis ilmiah, Hal ini dikarenakan belum banyak guru yang memahami dan
mengenal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sehingga wajar saja apabila banyak guru yang
mengalami kesulitan dalam pembuatan karya tulis ilmiah. Oleh karena itu penulis berupaya
memotivasi lebih jauh dengan mnghadirkan pakar dari LPMP Jawa Barat untuk menjadi nara
sumber dalam work shop khusus PTK.
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Mencermati data PNS per Mei 2010 adalah sebanyak 4.732.472 orang. Berdasarkan

dokumen Badan Kepegawaian Negara (BKN), jumlah ini terbanyak pada golongan III yang

mencapai 2.244.785. Bila dilihat berdasar golongan ruang, PNS yang mampu mencapai pangkat

puncak (IV/e) berjumah 1.412 orang dengan rincian, pria 1.216 dan wanita 196.

Berdasarkan jenis kelamin, PNS pria sebanyak 2.560.083 dan PNS wanita jumlahnya lebih rendah

yaitu 2.172.389. Sedangkan berdasarkan usia, jumlah terbanyak dalam rentangan usia 46 – 50

tahun yaitu 962.254, usia 41-45 tahun sebanyak 866.600, dan usia 51-55 tahun mencapai 739.420

orang.

Jumlah Gol
1.190.645 100,00 1.054.140 100,00 2.244.785
III.
IV/a 391.596 84,76 412.459 93,27 804.055
IV/b 53.035 11,48 25.903 5,86 78.938
IV/c 12.564 2,72 2.911 0,66 15.475
IV/d 3.577 0,77 730 0,17 4.307
IV/e 1.216 0,26 196 0,04 1.412
Jumlah Gol
461.988 100,00 442.199 100,00 904.187
IV.
Jumlah 2.560.083 2.172.389 4.732.472

Demikian berdasarkan data di SMA Negeri 1 Bandung terdapat penumpukan pada

golongan IV a, apalagi adanya 1)Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) No. 16 Tahun 2009 tanggal 10 November 2009 tentang

Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.2) Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BKN
Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 6 Mei 2010 tentang Petunjuk

Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

Hal ini menambah penulis terpicu untuk memotivasi pada guru-guru SMA Negeri 1 Bandung

untuk dapat melaksanakan penulisan karya tulis ilmiah dengan penelitian tindakan kelas (PTK)

sebagai syarat bahkan wajib melaksanakan kegiatan pengembangan diri melalui karya tulis ilmiah.

Maraknya PAK palsu dan enggannya guru menulis karya ilmiah mengisyaratkan adanya

kendala yang mengangkangi sebagian besar jumlah guru. Kendala itu pun sebenarnya dominan

ada dalam pikiran dan hati penyandang PAK palsu itu sendiri. Kecil sekali proporsi kendala yang

datang dari luar. Ada beberapa kendala yang akrab dengan kita sehingga sebagai penghambat

terwujudnya karya tulis . Kendala tersebut di antaranya sikap malas membaca, termakan isu

penilaian karya ilmiah sulit, salah persepsi tentang bentuk karya tulis yang selalu dianggap sulit,

motivasi yang sangat rendah dan kebanyakan malas mencoba.

Tak perlu dipungkiri budaya gemar membaca yang sebenarnya menjadi kunci keberhasilan

pembangunan pendidikan nasional di masa depan, dirasakan masih sangat memprihatinkan. Dalam

masyarakat maju kegiatan membaca menjadi kebutuhan prima. Kemalasan membaca inilah sebenarnya

merupakan pilar besar kegelapan. Konsep yang perlu dibangun pada masyarakat umum dan guru

khususnya adalah bahwa berawal dari gemar membaca akan membuka mata terhadap wawasan,

pengertian, pemahaman, semangat dan motivasi dalam memandang suatu permasalahan crusial yang

dapat diangkat sebagai bahan tulisan ilmiah populer Anda.

Isu yang datang di telinga tentang penilaian karya tulis ilmiah di tingkat pusat ( dahulu di

Jakarta untuk golongan IV b dan seterusnya sekarang di LPMP masing-masing daerah) sering

tidak menyejukkan untuk didengar. Beberapa karya tulis ilmiah yang dikirimkan sering tidak

mendapat nilai setimpal dengan yang diusulkan bahkan tidak mendapat nilai. Isu inilah besar sekali
kontribusinya dalam melemahkan semangat menulis para guru. Alasan ini tentunya tak dapat

dibenarkan walaupun kenyataannya mungkin mendekati kebenaran. Malas membaca adalah pintu

menuju kegelapan. Karena malas membaca , pemahaman karya tulis ilmiah sering tidak sesuai

dengan yang seharusnya dipahami.

Sering kita dengar dari guru atau Kepala Sekolah yang mengeluh bahwa : “ Karya tulis

ilmiah itu sulit sekali . Nggak sempat kami harus menulis karya ilmiah. Karya tulis ilmiah

itu butuh biaya yang tidak sedikit. Karya tulis ilmiah itu menguras tenaga.” Faktor motivasi yang

rendah ini sering ditutupi oleh pelakunya dengan dalih tidak ada waktu, biaya tinggi, tidak ada

yang membimbing dan lain sebagainya. Kenyataannya, orang yang mengatakan seperti itu justru

mempunyai banyak waktu dibandingkan dengan orang yang benar-benar sibuk. Ironisnya, orang

yang sibuk bisa menulis dengan lancar dan makin bersemangat.

Adanya minat dan motivasi menulis dapat dilihat dari mau dan tidaknya mencoba menulis.

Mau tidaknya mencoba menulis sangat ditentukan oleh keberanian jiwa seseorang Dalam

analisisnya, wajar saja jika guru yang kini berada di golongan IV/a menjadi sulit naik ke golongan

IV/b disinyalir penyebabnya keengganan guru membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK), lebih

extrim lagi guru gol IV a banyak yang tidak mampu membuat PTK. Setelah sekian lama menjadi

guru, kemudian ditambah usia yang menua, mereka baru dituntut untuk menulis karya tulis ilmiah

. Demikian pula kondisi guru-guru SMAN 1 Bandung banyaknya guru yang bertumpuk pada

golongan IV a.
B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dapat dirumuskan bahwa yang menjadi

masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Mengapa banyak guru SMA Negeri 1 Bandung yang kesulitan dalam membuat sebuah

karya tulis ilmiah?

2. Mengapa membuat karya tulis ilmiah itu dianggap sulit oleh para guru SMA Negeri 1

Bandung ?

3. Apa yang menyebabkan guru SMA Negeri 1 Bandung tidak mampu untuk membuat

karya tulis ilmiah?

C. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Sebelum menentukan tindakan apa yang dianggap dapat memotivasi guru SMA Negeri 1

Bandung dalam pembuatan karya tulis ilmiah dengan PTK, terlebih dahulu penulis melakukan

pengkajian berbagai aktivitas guru, diskusi dengan pakar dan teman sejawat dan guru-guru.

Hasilnya diperoleh beberapa alternatif tindakan yang dihipotesiskan dapat meningkatkan

profesionalitas dan memotivasi guru untuk membuat karya tulis ilmiah dalam bentuk Penelitian

Tindakan Kelas.

D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :

1. Memotivasi guru SMA Negeri 1 Bandung yang kesulitan dalam membuat sebuah karya

tulis ilmiah.
2. Mengajak guru untuk membuat karya tulis ilmiah yang dianggap sulit oleh para guru

SMA Negeri 1 Bandung .

3. Mengetahui penyebab guru SMA Negeri 1 Bandung tidak mampu untuk membuat karya

tulis ilmiah.

E. MANFAAT HASIL PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis:

Hasil dari penelitian ini bermanfaat untuk menigkatkan pengembangan keprofesian

berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi Guru yang dilaksanakan sesuai dengan

kebutuhan, bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya.

2. Manfaat Praktis :

Manfaat praktis dari hasil penelitian ini adalah untuk

a) memecahkan permasalahan yang dikatakan bahwa membuat karya tulis itu sulit,

b) membantu guru untuk mau mencoba membuat karya tulis ilmiah dengan PTK

c) memotivasi guru agar mampu membuat karya tulis ilmiah

d) mengetahui dan menyadari akan masalah yang dihadapi anak didiknya dan mencari

solusinya

e) mengetahui langkah-langkah yang dibutuhkan guru agar sukses melaksanakan PTK.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN MOTIVASI

Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Orang yang tidak

mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang

dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam

diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah motivasi

yang pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara meotivasi dari dalam ialah motivasinya

muncul dari inisiatif diri kita.

Pengaruh motivasi terhadap kinerja sangatlah besar. Motivasi adalah penggerak dan kinerja

tinggi hanya bisa dicapai dengan tindakan. Motivasi akan berbading lurus dengan kualitas dan kuantitas

tindakan. Sementara, kualitas dan kuantitas tindakan berbanding lurus dengan kinerja. Kinerja tinggi bisa

dicapai dengan 3 aspek penting: sistem, kompetensi, dan motivasi. Ketiga aspek ini harus ada dan sama-

sama kuat jika ingin menghasilkan kinerja tinggi baik secara individu maupun organisasi.

Leader sangat berperan dalam membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara motivasi

dalam kinerja, tetapi tidak cukup motivasi datang dari leader. Semua orang, mulai dari pucuk

pimpinan sampai karyawan paling rendah harus berperan.

Seorang pimpinan tidak cukup mengatakan, “Kamu harus memiliki motivasi kalau bekerja.”

Seorang pimpinan harus mampu membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara motivasi anak

buahnya. Dengan cara yang benar. Oleh karena itu, seorang pimpinan selain dia sendiri

memiliki motivasi yang tinggi, dia pun harus mampu memotivasi anak buahnya. Begitu juga:
seorang anak buah tidak boleh hanya mengandalkan motivasi atau dorongan dari atasannya.

Seorang karyawan yang baik, harus mampu bekerja dengan motivasi tinggi. Anak buah juga harus

mampu membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara motivasi dirinya sendiri. Tidak untuk

siapa-siapa, untuk dirinya sendiri. Jadi, terlepas peran apa yang Anda miliki, pemilik bisnis,

pimpinan, atau karyawan: kemampuan membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara motivasi

diri harus dimiliki jika ingin menghasilkan kinerja yang tinggi. Sebab, pengaruh motivasi terhadap

kinerja sangat penting. Macam-macam motivasi menurut . (Taidin Suhaimin: 2009)

1. Motivasi adalah sesuatu yang menggerak dan mengarahtuju seseorang dalam tindakan-

tindakannya sama ada secara negatif atau positif.

2. Motivasi adalah suatu bentuk dorongan minda dan hati yang menjadi penggerak utama

seseorang, sesebuah keluarga atau organisasi untuk mencapai apa juga yang diinginkan.

3. Motivasi adalah darjah atau tahap kesungguhan dan tempo keterusan seseorang, berusaha

untuk mencapai tujuan atau matlamat.

4. Motivasi adalah stimulasi atau semangat akibat rangsangan atau keghairahan terhadap

sesuatu yang benar-benar diinginkan.

5. Motivasi adalah suatu mangkin yang menimbul dan menyeramakkan keinginan,

keberanian dan kesungguhan untuk mencapai sesuatu matlamat mencabar yang benar-

benar diingini serta diyakini boleh dicapai / diperoleh.

B. PROFESIONALITAS GURU

Menurut Sastrapradja (1978: 392) , profesional berarti pemain bergaji atau pemain

bayaran. Sejalan dengan itu, menurut Kamus Oxford (1994: 994), professional adalah person
qualified or employed in one of the professions. Jadi, profesional adalah orang yang berkualitas

yang bekerja dalam profesi tertentu. Dari dua batasan di atas kiranya cukup jelas bahwa makna

profesional adalah sebutan tingkat kualitas tinggi pada orang yang menekuni pekerjaan tertentu

sebagai sumber penghidupan. Kata kunci pada definsi tersebut ialah kompetensi dan

pengakuan.

Orang disebut profesional didasarkan pada kompetensi tertentu. Kompetensi adalah the

ability do do something, kemampuan untuk melakukan sesuatu. Lawannya ialah inkompetensi,

yang berarti tidak berkompetensi, tidak memiliki kemampuan. Dalam konsep Peningkatan

Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan dijelaskan bahwa profesionalitas guru terkait

dengan kualifikasi, kompetensi, dan remunerasi (penggajian). Apa yang dimaksud kualifikasi

ini tersurat dengan jelas dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,

yakni bahwa untuk menjadi guru, yang bersangkutan minimal berlatar belakang pendidikan

Sarjana.

Diasumsikan, bahwa dengan latar kesarjanaan yang bersangkutan telah memiliki dasar

kuat menjadi guru yang berkompetensi. Dengan kompetensi tersebut, guru diharap dapat

memiliki kontribusi lebih besar dalam peningkatan mutu pendidikan. Oleh karenanya, yang

bersangkutan dipandang berhak memperoleh remunerasi (gaji) yang lebih besar. Berdasar

uraian di atas, jelas bahwa profesionalitas harus dimiliki guru. Berbekal profesionalitas guru

dapat melakukan tugas pokok dan fungsinya secara semestinya. Dari profesionalitas yang

dimiliki guru, maka kualitas pendidikan secara bertahap menuju ke kualitas yang makin baik.

1. Ciri Profesionalitas Guru


Seseorang disebut profesional, minimal memiliki dua ciri, yakni kompeten dan

sertifikat. Berkompeten, artinya memiliki kecakapan sesuai standar kerja profesinya.

Menguasai Standar Operasional Prosedur. Hal ini harus dibuktikan dalam perbuatan, dalam

performansi. Jika ia seorang guru, maka kompetensi minimal harus menguasai substansi,

metode dan evaluasi. Seorang profesional juga perlu dukungan legalitas, yakni sertifikat.

Sertifikat merupakan bukti yang syah yang dikeluarkan lembaga berwenang bahwa yang

bersangkutan memiliki kompetensi seperti yang tertulis di sertifikat tersebut. Berkompeten dan

menunjukkan performansi sesuai predikatnya merupakan ciri utama guru profesional. Ini

adalah ciri empirik yang terlihat sehari-hari. Tentu saja masih banyak ciri profesionalitas di

luar yang dijelaskan di atas.

Surachmad (2004: 5) mengidentifikasi sejumlah ciri yang mendasar yang diperlukan

bagi guru profesional, yang dapat diakronimkan dengan lima huruf berbunyi HADITS.

Guru disebut profesional jika memiliki hasrat, amanah, dewasa, interpersonal, teladan, dan

setia.

a. Hasrat : Guru profesional jika memiliki hasrat terus berkembang. Manusia ini adalah

pembelajar. Ia gemar ilmu pengetahuan dan mampu menerima perubahan sebagai syarat

kemajuan. Dengan jiwa terbuka dan obyektif, guru lebih mudah melibatkan diri dalam

proses inovatif dan pembaharuan pada umumnya.

b. Amanah. Guru profesional amanah pada tugas. Ia menerima tanggung jawab mengajar

sebagai pengabdian. Berbeda dari sekeda pencari kerja, guru lebih dari sekedar pegawai

atau pencari nafkah. Mengajar bukan sekedar pekerjaan, tetapi lebih bernilai ibadah.
c. Dewasa. Guru profesional berpandangan hidup dewasa. Ia memiliki prinsip dan pola hidup

yang jelas serta konsisten. Dalam sikap dan pembawaan serta dalam pergaulan dan

pekerjaan guru menjadikan prinsip dan nilai hidup sebagai rujukan.

d. Interpersonal. Guru profesional memiliki sifat interpersonal yang kuat. Ia memiliki empati,

hangat, dan mudah bergaul dengan sesama manusia. Khususnya dengan anak didiknya.

Dalam sikap dan tingkah lakunya ia senantiasa melahirkan suasana ramah dan bersahabat.

e. Teladan. Guru profesional berperangai teladan. Ia hidup dengan moral yang bersih, jujur,

teratur dan efisien. Ia menunjukkan kebiasaan hidup terencana.

f. Setia. Guru profesional setia pada tugas. Bangga dengan profesinya. Membela kepentingan

anak didiknya demi masa depan yang lebih baik. Tidak menyesal menjalani profesi guru,

apa pun resikonya. Fide la morte! Setia sampai mati!

Untuk memiliki cirri HADITS tersebut bukan hal yang mudah, tetapi juga bukan hal

yang tidak mungkin. Semua tergantung kepada kemauan. Searah dengan ciri yang harus

dimiliki guru seperti tersebut di atas, Soetjipto dan Raflis Kosasi (1999) menetapkan perlunya

7 (tujuh) sikap guru yang mengarah kepada sikap profesional.

2. Tujuh Sikap Guru yang Mengarah kepada Sikap Profesional ialah:

(1) sikap terhadap peraturan perundang-undangan;

(2) sikap terhadap organisasi profesi;

(3) sikap terhadap teman sejawat;

(4) sikap terhadap anak didik;

(5) sikap terhadap tempat kerja

(6) sikap terhadap pemimpin;


(7) sikap terhadap pekerjaan.

Pembahasan di atas tersebut pada dasarnya jiwa dari kompetensi kepribadian dan

kompetensi social sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerimtah Nomor 19 Tahun 2005

tentang Standar Nasional Pendidikan.

3. Syarat Guru Profesional

Menurut Hidayanto (1988; 2006) jika seseorang menerima pekerjaan guru sebagai

profesi berarti ia secara langsung dan tegas menerima kepercayaan itu dari pemerintah dan

masyarakat. Oleh karena itu, di samping ia harus memiliki syarat sebagai manusia dewasa, ia

juga harus memenuhi persyaratan lain yang dapat dikelompokkan sebagai persyaratan pribadi

dan persyaratan jabatan.

Persyaratan pribadi mencakup: (1) berbudi luhur dan berbadan sehat; (2) berkecerdasan

cukup; (3) bertemperamen tenang; (4) beremosi stabil; (5) manusia masyarakat. Persyaratan

pribadi ini sejalan dengan upaya menghasilkan guru berkarakter HADITS. Untuk

menghasilkan guru profesional berkarakter HADITS atau bercirikan sesuai konsep para ahli

yang lain, diperlukan syarat, yakni ia harus cerdas akal, cerdas hati, dan cerdas rokhani. Cerdas

akal identik dengan KI (Kecerdasan Intelektual), cerdas hati identik dengan KE (Kecerdasan

Emosional) dan cerdas rokhani identik dengan KS (Kecerdasan Spiritual).

Persyaratan Jabatan mencakup: (1) memiliki pengetahuan tentang manusia dan

masyarakat; (2) memiliki pengetahuan dasar fundamental; (3) memiliki pengetahuan keahlian

bidang studi; (4) memiliki pengetahuan kepempimpinan pendidikan; (5) memiliki filsafat

pendidikan yang konsisten.


Apa pun jenis persyaratan yang harus dimiliki guru untuk menjadi guru profesional,

maka semuanya terpulang kepada guru. Sikap profesional guru tergantung pada pilihan

jawaban atas dua pertanyaan. Ia hidup untuk mendidik atau mendidik untuk hidup. Jika

jawabannya adalah hidup untuk mendidik, maka profesi guru merupakan pilihan yang tepat.

Sebaliknya, jika jawabannya adalah mendidik untuk hidup, maka niat menjadi guru perlu dikaji

ulang.

C. KARYA TULIS ILMIAH

Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu

pembahasan secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk

memberitahukan sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah

biasanya ditulis untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan

kebenaran tentang sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika

tulisan ilmiah sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah

ditulis orang lain. Jikapun, tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama,

tujuannya adalah sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Disebut juga dengan

penelitian lanjutan.

Tradisi keilmuan menuntut para calon ilmuan (mahasiswa) bukan sekadar menjadi

penerima ilmu. Akan tetapi sekaligus sebagai pemberi (penyumbang) ilmu. Dengan demikian,

tugas kaum intelektual dan cendikiawan tidak hanya dapat membaca, tetapi juga harus dapat

menulis tentang tulisan-tulisan ilmiah. Apalagi bagi seorang mahasiswa sebagai calon ilmuan
wajib menguasai tata cara menyusun karya ilmiah. Ini tidak terbatas pada teknik, tetapi juga

praktik penulisannya.

Kaum intelektual jangan hanya pintar bicara dan “menyanyi” saja, tetapi juga harus

gemar dan pintar menulis. Istilah karya ilmiah disini adalah mengacu kepada karya tulis yang

menyusun dan penyajiannya didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Di lihat dari

panjang pendeknya atau kedalaman uraiaan, karya tulis ilmiah dibedakan atas makalah (paper)

dan laporan penelitian. Dalam penulisan, baik makalah maupun laporan penelitian, didasarkan

pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah. Penyusunan dan penyajian karya semacam itu

didahului oleh studi pustaka dan studi lapangan ( Azwardi, 2008 : 111).

Finoza dalam Alamsyah (2008 : 98) mengklasifikasikan karangan menurut bobot isinya atas 3

jenis, yaitu (1) karangan Ilmiah, (2) karangan semi ilmiah atau ilmiah populer, dan (3)

karangan non ilmiah.

Yang tergolong ke dalam karangan ilmiah antara lain makalah, laporan, skripsi, tesis,

disertasi; yang tergolong karangan semi ilmiah antara lain adalah artikel, editorial, opini,

feuture, reportase; yang tergolong dalam karangan non ilmiah antara lain anekdot, opini,

dongeng, hikayat, cerpen, novel, roman, dan naskah drama. Ketiga jenis karangan tersebut

memiliki karektiristik yang berbeda. Karangan ilmiah memiliki aturan baku dan sejumlah

persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa. Sedangkan karangan

non ilmiah adalah karangan yang tidak terikat pada karangan baku; sedangkan karangan semi

ilmiah berada diantara keduanya. Sementara itu, Yamilah dan Samsoerizal (1994: 90)

memaparkan bahwa ragam karya ilmiah terdiri atas beberapa jenis berdasarkan fungsinya.
Menurut pengelompokan itu , dikenal ragam karya ilmiah seperti ; makalah, skripsi, tesis,

dandisertasi. (Dikutip dari Blog Hamdani Mulya)

D. PENGERTIAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)

PTK atau action research mulai berkembang sejak perang dunia ke dua, saat ini PTK

sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika,

Australia, dan Canada. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang

cukup besar terhadap PTK. Menurut Stephen Kemmis seperti dikutip D. Hopkins dalam

bukunya yang berjudul A Teacher’s Guide to Classroom Research, menyatakan bahwa action

research adalah: a from of self-reflektif inquiry undertaken by participants in a social

(including education) situation in order to improve the rationality and of (a) their own social

or educational practices justice (b) their understanding of these practices, and (c) the

situastions in which practices are carried out.

Secara singkat PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku

tindakan, untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam

melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan,

serta memperbaiki dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan.

Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut PTK melaksanakan proses pengkajian berdaur

(cyclical) yang terdiri 4 tahapan sebagai berikut:


Keempat fase dari suatu siklus dalam sebuah PTK bisa digambarkan dengan sebuah alur PTK

seperti sebagai berikut:

Alur PTK

Alternatif Pemecahan Pelaksanaan


Permasalahan
(Rencana Tindakan) Tindakan 1

Tersele- Refleksi Analisis Data 1 Observasi 1


saikan (Monitoring)

Alternatif
Belum Pelaksanaan
Pemecahan
Terselesaikan Tindakan II
(Rencana
Tindakan II II

Tersele-
Refleksi I Analisa Data II Observasi
saikan

Belum SIKLUS SELANJUTNYA


Terselesaikan

Penelitian Tindakan Kelas dimulai dari keempat fase yaitu: perencanaan (planning), tindakan

(action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection).

Dalam pelaksanaannya, PTK diawali dengan kesadaran akan adanya permasalahan

yang dirasakan mengganggu, yang dianggap menghalangi pencapaian tujuan pendidikan

sehingga dirasakan telah berdampak kurang baik terhadap proses dan atau hasil belajar pserta

didik, dan atau implementasi sesuatu program sekolah. Bertolak dari kesadaran mengenai

adanya permasalahan tersebut, yang besar kemungkian masih tergambarkan secara kabur, guru
– baik sendiri maupun dalam kolaborasi dengan dosen LPTK yang menjadi mitranya kemudian

menetapkan fokus permasalahan secara lebih tajam kalau perlu dengan mengumpulkan

tambahan data lapangan secara lebih sistematis dan atau melakukan kajian pustaka yang

relevan.

Pada gilirannya, dengan perumusan permasalahan yang lebih tajam itu dapat dilakukan

diagnosis kemungkinan-kemungkinan penyebab permasalahan secara lebih cermat, sehingga

terbuka peluang untuk menjajagi alternatif-alternatif tindakan perbaikan yang diperlukan.

Alternatif mengatasi permasalahan yang dinilai terbaik, kemudian diterjemahkan menjadi

program tindakan perbaikan yang akan dicobakan. Hasil percobaan tindakan perbaikan yang

dinilai dan direfleksikan dengan mengacu kepada kreteria-kreteria perbaikan yang

dikehendaki, yang telah ditetapkan sebelumnya.

1. Penetapan Fokus/Masalah Penelitian, yang meliputi:

a. Masalah adanya masalah

b. Identifikasi masalah PTK

c. Analisis Masalah

d. . Perumusan masalah

2. Perencanaan Tindakan, yang meliputi:

a. Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan

b. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan

c. Persiapan Tindakan

3. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi

a. Pelaksanaan Tindakan
b. Observasi dan Interpretasi

c. Diskusi balikan (review discussion)

4. Analisis dan Refleksi

a. Analisis Data

b. Refleksi

5. Perencanaan Tindak Lanjut

a. Prosedur Observasi

b. Beberapa Tindakan

Para guru makin memahami bahwa salah satu tujuan kegiatan pengembangan profesi,

adalah dilakukannya kegiatan nyata di kelasnya yang ditujukan untuk meningkatkan mutu

proses dan hasil pembelajarannya. Bagi sebagian besar guru, melakukan kegiatan seperti itu,

sudah sering / biasa dilakukan. Kegiatan tersebut, harus dilaksanakan dengan menggunakan

kaidah-kaidah ilmiah, karena hanya dengan cara itulah, mereka akan mendapat jawaban yang

benar secara keilmuan terhadap apa yang ingin dikajinya. Apabila kegiatan tersebut dilakukan

di kelasnya, maka kegiatan tersebut dapat berupa penelitian eksperimen, atau penelitian

tindakan yang semakin layak untuk menjadi prioritas kegiatan. Kegiatan nyata dalam proses

pembelajaran, dapat berupa tindakan untuk menguji atau menerapkan hal-hal baru dalam

praktik pembelajarannya. Saat ini, berbagai inovasi baru dalam pembelajaran, memerlukan

verifikasi maupun penerapan dalam proses pembelajaran. Penelitian pembelajaran yang

dilakukan di kelas penelitian tindakan dapat dipandang sebagai tindak lanjut dari penelitian

deskriptif maupun eksperimen.


PTK adalah penelitian tindakan yang dilakukan diperbaiki, memperbaiki,

meningkatkan mutu praktik pembelajaran. Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan

permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan

untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut

dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. PTK juga bertujuan untuk meningkatkan

kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalnya. Pada intinya PTK bertujuan untuk

memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu pembelajaran di

kelas, yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. METODE PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Sekolah

(PTS). PTS merupakan suatu prosedur penelitian yang diadaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas

(PTK) (Panitia Pelaksana Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Rayon 10 Jawa Barat, 2009 : 73).

Penelitian tindakan sekolah merupakan “(1) penelitian partisipatoris yang menekankan pada

tindakan dan refleksi berdasarkan pertimbangan rasional dan logis untuk melakukan perbaikan

terhadap suatu kondisi nyata; (2) memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang dilakukan;

dan (3) memperbaiki situasi dan kondisi sekolah / pembelajaran secara praktis” (Depdiknas, 2008

: 11-12). Secara singkat, PTS bertujuan untuk mencari pemecahan permasalahan nyata yang terjadi
di sekolah-sekolah, sekaligus mencari jawaban ilmiah bagaimana masalah-masalah tersebut bisa

dipecahkan melalui suatu tindakan perbaikan.

Masalah nyata yang ditemukan di sekolah, khususnya adalah adanya penumpukan guru-guru

pada golongan IV/a yang sudah mencapay 4 tahun keatas. Prosedur penelitiannya dilakukan secara

siklikal. Satu siklus dimulai dari (1) perencanaan awal, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4)

refleksi.

1. Perencanaan

Yaitu membuat rencana perbaikan berdasarkan adanya masalah atau kondisi yang menuntut

diperbaiki. Hal ini meliputi persiapan bahan-bahan yang diperlukan dalam tahap pelaksanaan,

menentukan siapa (subyek penelitian dan teman berkolaborasi), kapan (jadwal pelaksanan),

dan tempat pelaksanaan.

2. Pelaksanaan (Action)

Yaitu melakukan tindakan substantif penelitian melalui intervensi skala kecil guna

memperbaiki kondisi yang diteliti.

3. Observasi (Observation)

Yaitu kegiatan mengamati, mengenali sambil mendokumentasikan (mencatat dan merekam)

terhadap proses, hasil, pengaruh dan masalah baru yang mungkin saja muncul selama proses

pelaksanaan tindakan.

4. Refleksi (Reflection)

Yaitu melakukan renungan, kajian reflektif diri secara inquiri, partisipasi diri (partisipatoris),

kolaborasi terhadap latar alamiah dan impiikasi dari suatu tindakan, dengan melakukan analisis

terhadap rencana dan tindakan yang sudah dilaksanakan dan hasil yang dicapai, dan apa yang

belum dapat atau sempat dilakukan.


Hasil dari siklus pertama ini menjadi masukan bagi pelaksanaan siklus kedua yang terdiri dari

perulangan keempat langkah yang ada pada siklus pertama. Hal ini terjadi karena dimungkinkan

setelah melalui siklus pertama, peneliti menemukan masalah baru atau masalah lama yang belum

tuntas, sehingga perlu dipecahkan melalui siklus selanjutnya. Dengan demikian, berdasarkan hasil

tindakan atau pengalaman pada siklus pertama peneliti akan kembali melakukan langkah

perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi pada siklus kedua, dan seterusnya, dan “ . . .

berhenti apabila telah berdampak positif terhadap proses dan hasil yang diperoleh dari tindakan

tersebut berhasil” (Sudjana, 2009 : 8).

Jika digambarkan , siklus kerja PTS adalah sebagai berikut :

PERENCANAAN

REFLEKSI PELAKSANAAN
SIKLUS I

PENGAMATAN

………………………………………………………………………………………….

PERENCANAAN

REFLEKSI SIKLUS II PELAKSANAAN


PENGAMATAN
……………………………………………………………………………………………

?
Gambar 1. Langkah-langkah PTS (Direktorat Tendik, 2008)

B. SUBJEK PENELITIAN

Subjek penelitian ini adalah guru SMA Negeri 1 Bandung yang jumlahnya 20 guru

C. DEFINISI OPERASIONAL

1. Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk bertindak. Orang yang tidak

mau bertindak sering kali disebut tidak memiliki motivasi. Alasan atau dorongan itu bisa datang

dari luar maupun dari dalam diri. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari

dalam diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut. Motivasi dari luar adalah

motivasi yang pemicunya datang dari luar diri kita. Sementara meotivasi dari dalam ialah

motivasinya muncul dari inisiatif diri kita.

2. Profesional adalah orang yang berkualitas yang bekerja dalam profesi tertentu. Dari dua

batasan di atas kiranya cukup jelas bahwa makna profesional adalah sebutan tingkat kualitas
tinggi pada orang yang menekuni pekerjaan tertentu sebagai sumber penghidupan. Kata kunci

pada definsi tersebut ialah kompetensi dan pengakuan. Orang disebut profesional didasarkan

pada kompetensi tertentu. Kompetensi adalah the ability do do something, kemampuan untuk

melakukan sesuatu.

3. Karya ilmiah merupakan karya tulis yang isinya berusaha memaparkan suatu pembahasan

secara ilmiah yang dilakukan oleh seorang penulis atau peneliti. Untuk memberitahukan

sesuatu hal secara logis dan sistematis kepada para pembaca. Karya ilmiah biasanya ditulis

untuk mencari jawaban mengenai sesuatu hal dan untuk membuktikan kebenaran tentang

sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Maka sudah selayaknyalah, jika tulisan ilmiah

sering mengangkat tema seputar hal-hal yang baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang

lain. Jikapun, tulisan tersebut sudah pernah ditulis dengan tema yang sama, tujuannya adalah

sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Disebut juga dengan penelitian lanjutan.

4. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan yang dilakukan, diperbaiki,

memperbaiki, meningkatkan mutu praktik pembelajaran. Tujuan utama PTK adalah untuk

memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan penelitian ini tidak saja

bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal

tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. PTK juga bertujuan untuk

meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalnya. Pada intinya PTK

bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis dalam peningkatan mutu

pembelajaran di kelas, yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang

sedang belajar.

D. INSTRUMEN (ALAT) PENGUMPULAN DATA


Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah :

1. Lembar Observasi awal secara umum.

2. Lembar Observasi oleh dua orang guru sebagai observer.

3. Kuesioner untuk guru sebanyak 20.

4. Wawancara (Diskusi) untuk mengetahui kesulitan apa yang dihadapi oleh guru-guru

SMA Negeri 1 Bandung dalam usaha pengembangan profesinya untuk naik pangkat.

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

1. Observasi

Observasi adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk mengamati, merekam, dan

mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil yang dicapai. Dalam observasi ini

peneliti menggunakan lembar observasi yang sudah diformat untuk diisi dengan membubuhkan

tanda centang (v) pada kolom 1 – 5 pada aspek yang dinilai . Tujuan utama dari observasi ini

adalah untuk memantau persiapan, proses, hasil, dan dampak perbaikan dari tindakan setiap siklus.

2. Kuesioner

Alat untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan, Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat

dalam kuesioner, atau daftar pertanyaan tersebut terperinci dan lengkap. Pertanyaan-pertanyaan

yang dibuat sesuai dengan keperluan data yang diperoleh untuk penelitian.

3. Wawancara (Diskusi)

Yang dimaksud wawancara di sini meliputi diskusi formal dan dialog informal selama

berlangsungnya PTS antara peneliti dengan guru. Hal ini untuk mengetahui pikiran yang tidak

dapat digali melalui observasi.

5. Studi Dokumenter
Studi dokumenter diartikan sebagai usaha untuk memperoleh data dengan jalan menelaah catatan-

catatan yang disimpan sebagai dokumen atau files. Teknik ini ditempuh untuk memperoleh data-

data mengenai sejauh mana usaha guru dalam meningkatkan tigkat profesionalnya sebagai tenaga

pendidik.

6. Studi Pustaka

Studi pustaka diartikan sebagai teknik untuk memperoleh data atau informasi dari berbagai

tulisan ilmiah baik cetak maupun elektronik yang menunjang penelitian. Teknik ini ditempuh

untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang diteliti, terutama dalam

menentukan arah, metoda dan landasan teoritis penelitian.

F. LOKASI PENELITIAN (KONDISI SOSIAL)

Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah SMA Negeri 1 Bandung


Waktu pelaksanaan adalah sebagai berikut : Awal Pengamatan dimulai bulan Desember 2010 dan
berakhir Maret 2011. Dimulai pelaksanaan Siklus I pada minggu pertama bulan Desember 2010 ,
Siklus II dilaksanakan minggu kedua bulan Februari 2011 dan berakhir Maret 2011.

Dibantu oleh dua guru sebagai observer yaitu guru Bimbingan Konseling dan Ketua tim IT SMA
Negeri 1 Bandung .

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. ORIENTASI

Sebelum melakukan tindakan perbaikan, peneliti terlebih dahulu melakukan kegiatan

orientasi sebagai studi pendahuluan. Dalam kegiatan ini peneliti mendiagnosis guru-guru SMA

Negeri 1 Bandung sehingga teridentifikasi yang pertama adanya penumpukan pada golongan
IV /a, sementara syarat untuk naik pangkat adalah diwajibkan membuat karya tulis ilmiah dalam

bentuk penelitian tindakan kelas (PTK). Kedua teridentifikasi adanya kesulitan bagi guru untuk

membuat karya tulis ilmiah, dan yang ketiga belum lancarnya menggunakan IT.

Peneliti mengamati aktivitas guru pada setiap kegiatan yang berhubungan dengan

pengembangan profesi , untuk mengetahui sejauh mana kesulitan yang dialami oleh setiap guru

dalam mewujudkan tuntutan pengembangan profesi untuk meningkatkan profesionalitas dan

bagaimana sebagai solusi akhir yang harus dilakukan. Kemudian mengevaluasi hasil

pengamatan tersebut, hasil pengamatan dan evalusi dijadikan bahan untuk mencari upaya

perbaikan (terhadap tindakan) pada siklus penelitian.

Dengan hasil pengamatan yang telah tercatat ditemukan kondisi awal yaitu usaha untuk

mengembangkan profesi sebagai tenaga pendidik, usaha memperbaiki kesalahan yang dihadapi

pada proses pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru-guru

SMA Negeri 1 Bandung belum baik, seperti yang terdapat pada gambar di bawah ini jka di

masukkan dalam kategori nilai baru mendapat nilai 4 artinya cukup .

OBSERVASI AWAL (Usaha Mengembangkan profesi dan usaha memperbaiki kesalahan yang

dihadapi dalam prose pembelajaran melalui PTK)

NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI NILAI

1 2 3 4
1 Usaha untuk mengembangkan profesi sebagai tenaga V
pendidik

2 Usaha memperbaiki kesalahan yang dihadapi pada V


proses pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas

Jumlah centang 0 2 0 0

Nilai 1 2 3 4

Jumlah centang X Nilai 0 4 0 0

Nilai Total 4

Keterangan : Kategori nilai total

Nilai total minimum : 2 x 1 = 2 Kurang Cukup baik Sangat


Baik
Nilai total maksimum : 2 x 4 = 8
1-2 3-4 5-6 7-8

Gambar 2: Observasi Awal

B. PELAKSANAAN TINDAKAN PERBAIKAN

Pelaksanaan Tindakan Perbaikan Siklus I

Dalam siklus kesatu ini dilakukan rangkaian kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi,

dan refleksi.

1. . Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan meliputi :

Mempersiapkan bahan-bahan dasar rujukan yang perlu dikaji sebelum penelitian dilakukan

secara sistematis yang berhubungan dengan motivasi , kenaikan pangkat dan pembuatan

karya tulis ilmiah dengan dasar :

a) Perundang-undangan

• Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


• Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

• Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional PNS

• Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru

• Keppres No.87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional PNS

• Peraturan Menegpan dan Reformasi Birokrasi No.16 Tahun 2009 Tentang Jabatan

Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

• Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BKN No.03/V/PB/2010 dan No.14 Tahun

2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

b) Memotivasi :

Menurut Sastrapradja (1978: 392) , profesional berarti pemain bergaji atau pemain

bayaran. Sejalan dengan itu, menurut Kamus Oxford (1994: 994), professional adalah

person qualified or employed in one of the professions. Jadi, profesional adalah orang

yang berkualitas yang bekerja dalam profesi tertentu. Makna profesional adalah sebutan

tingkat kualitas tinggi pada orang yang menekuni pekerjaan tertentu sebagai sumber

penghidupan. Kata kunci pada definsi tersebut ialah kompetensi dan pengakuan.

Orang disebut profesional didasarkan pada kompetensi tertentu. Kompetensi adalah the

ability do do something, kemampuan untuk melakukan sesuatu. Lawannya ialah

inkompetensi, yang berarti tidak berkompetensi, tidak memiliki kemampuan. Dalam konsep

Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan dijelaskan bahwa profesionalitas

guru terkait dengan kualifikasi,

Kompetensi, dan remunerasi (penggajian). Apa yang dimaksud kualifikasi ini tersurat

dengan jelas dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yakni
bahwa untuk menjadi guru, yang bersangkutan minimal berlatar belakang pendidikan

Sarjana. Diasumsikan, bahwa dengan latar kesarjanaan yang bersangkutan telah memiliki

dasar kuat menjadi guru yang berkompetensi. Dengan kompetensi tersebut, guru diharap

dapat memiliki kontribusi lebih besar dalam peningkatan mutu pendidikan. Oleh karenanya,

yang bersangkutan dipandang berhak memperoleh remunerasi (gaji) yang lebih besar.

Berdasar uraian di atas, jelas bahwa profesionalitas harus dimiliki guru. Berbekal

profesionalitas guru dapat melakukan tugas pokok dan fungsinya secara semestinya. Dari

profesionalitas yang dimiliki guru, maka kualitas pendidikan secara bertahap menuju ke

kualitas yang makin baik.

c) Penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk Guru

KTI yang berupa laporan hasil penelitian, menunjukan jumlah yang semakin meningkat,

hal ini karena:

1. Para guru makin memahami bahwa salah satu tujuan kegiatan pengembangan profesi,

adalah dilakukannya kegiatan nyata di kelasnya yang ditujukan untuk meningkatkan

mutu proses dan hasil pembelajarannya. Bagi sebagian besar guru, melakukan kegiatan

seperti itu, sudah sering / biasa dilakukan.

2. Kegiatan tersebut, harus dilaksanakan dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah,

karena hanya dengan cara itulah, mereka akan mendapat jawaban yang benar secara

keilmuan terhadap apa yang ingin dikajinya.

3. Apabila kegiatan tersebut dilakukan di kelasnya, maka kegiatan tersebut dapat berupa

penelitian eksperimen, atau penelitian tindakan yang semakin layak untuk menjadi

prioritas kegiatan. Kegiatan nyata dalam proses pembelajaran, dapat berupa tindakan
untuk menguji atau menerapkan hal-hal baru dalam praktik pembelajarannya. Saat ini,

berbagai inovasi baru dalam pembelajaran, memerlukan verifikasi maupun penerapan

dalam proses pembelajaran.

d) Penelitian Tindakan Kelas

Berbagai kegiatan pengembangan profesi yang dapat dilakukan guru dengan

melibatkan para siswanya, antara lain adalah dengan melakukan penelitian di kelasnya.

Ada dua macam penelitian yang dapat dilakukan di dalam kelas, yaitu: (a) penelitian

eksperimen, dan (b) penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian eksperimen atau PTK,

lebih diharapkan dilakukan guru dalam upayanya menulis KTI karena : Berbagai kegiatan

pengembangan profesi yang dapat dilakukan guru dengan melibatkan para siswanya,

antara lain adalah dengan melakukan penelitian di kelasnya.

Ada dua macam penelitian yang dapat dilakukan di dalam kelas, yaitu: (a) penelitian

eksperimen, dan (b) penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian eksperimen atau PTK,

lebih diharapkan dilakukan guru dalam upayanya menulis KTI karena:

KTI merupakan laporan dari kegiatan nyata yang dilakukan para guru di kelasnya dalam

upaya meningkatkan mutu pembelajarannya dengan melakukan kegiatan penelitian

tersebut, maka para guru telah melakukan salah satu tugasnya dalam kegiatan

pengembangan profesionalnya.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah penelitian tindakan (action research) yang

dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya. PTK

berfokus pada kelas atau pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas. PTK harus

tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas. Tujuan utama PTK adalah untuk

memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan penelitian ini tidak
saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah

mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan. PTK juga

bertujuan untuk meningkatkan kegiatan nyata guru dalam pengembangan profesionalnya.

Pada intinya PTK bertujuan untuk memperbaiki berbagai persoalan nyata dan praktis

dalam peningkatan mutu pembelajaran di kelas, yang dialami langsung dalam interaksi

antara guru dengan siswa yang sedang belajar.

2 . Pelaksanaan

Sebagaimana yang telah dijadwalkan, pada hari Jumat, 10 Desemberi 2010 pukul 08.00 :

1) Peneliti dan guru berdialog kurang lebih 30 menit mengenai kenaikan pangkat, kesulitan

yang dihadapi dalam menyusun karya tulis ilmiah, mengenai penguasaan IT, usaha

selanjutnya yang akan dilakukan dalam mewujudkan guru yang berprofesional.

2) Peneliti dan dua observer mengamati dan mencatat tentang kewajiban guru dalam PBM,

kelengkapan admistrasi , kesiapan mengajar dan pengelolaan kelas serta serta usaha

menumbuhkan semangat siswa, usaha guru dalam memperbaiki kekurangan atau ketidak

berhasilan dalam mengajar, tentang IT, internet, tentang penulisan PTK.

3) Peneliti memberikan kuesioner sebanyak 20 untuk diisi oleh 20 Guru secara jujur tentang

motivasi meningkatkan profesi melalui penulisan KTI.

3. Observasi

Pada pelaksanaan mengamati aktifitas guru sehubungan motivasi peningkatan

profesionalitas dengan membuat karya tulis ilmiah dengan melaksanakan penelitian

pendidikam, peneliti melakukan observasi dengan menggunakan a) observasi awal dan

umum melalui rubrik Usaha mengembangkan profesi dan usaha memperbaiki kesalahan

yang dihadapi dalam prose pembelajaran melalui PTK. b) observasi terhadap guru
mengenai upaya meningkatkan profesionalitas melalui karya tulis ulmiah (KTI), c)

kuesioner pada guru yang dibagi dalam tiga bagian yaitu 1) kepuasan kerja Guru, 2)

tanggapan Guru tentang supervisi Kepala Sekolah, 3) kuesioner motivasi meningkatkan

profesi melalui penulisan KTI. Pada siklus I.

1) Rubrik usaha mengembangkan profesi dan usaha memperbaiki kesalahan yang

dihadapi dalam proses pembelajaran melalui PTK.

NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI NILAI

1 2 3 4

1 Usaha untuk mengembangkan profesi sebagai tenaga V


pendidik

2 Usaha memperbaiki kesalahan yang dihadapi pada proses V


pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas

Jumlah centang 0 0 2 0

Nilai 1 2 3 4

Jumlah centang x Nilai 0 0 6 0

Nilai Total 6

Keterangan : Kategori nilai total

Nilai total minimum : 2 x 1 = 2 Kurang Cukup Baik Sangat Baik

Nilai total maksimum : 2 x 4 = 8 1-2 3-4 5-6 7-8

Secara umum dalam observasi umum yang merupakan kelanjutan dari awal Nampak ada

peningkatan pada awal memperoleh nilai 4 artinya ada pada kategori cukup lalu pada
observasi kelanjutan secara umum sudah meningkat dengan memperoleh nilai 6 artinya

ada pada kategori baik.

2) Rubrik observasi terhadap guru mengenai upaya meningkatkan profesionalitas melalui

karya tulis ulmiah (KTI) pada Siklus 1

Observer 1 Petunjuk:
Amati Guru dalam upaya meningkatkan profesionalitas melalui Karya Tulis Ilmiah
dengan PTK! Berilah tanda v pada kolom yang tersedia!

No Hal yang diamati Skor


1 2 3 4 5
1 Guru semangat dalam melakukan PBM ….. ….. ….. ….. …V..

2 Guru melengkapi administrasi sesuai dengan ….. ….. …V.. ….. …..
bidangnya
….. ….. ….V. ….. …..
Guru menyiapkan persiapan untuk mengajar
3 ….. ….. ….V. ….. …..
Guru mampu mengelola kelas
4 ….. ….V. ….. ….. …..
Guru mampu menumbuhkan semangat siswa
5
….. ….V. ….. ….. …..
6 Guru mampu merasakan adanya
kekurangan/ketidakberhasilan ketika mengajar ….. ….. ….. …V.. …..

Guru ada upaya ingin memperbaiki jika ada …..V ….. ….. ….. …..
7 permasalahan dalam pembelajaran
….. ….. …V.. ….. …..
8 Guru menguasai computer dan internet
….. ….. ….. …..V …..
9 Guru berusaha untuk memahami , membuat PTK

10 Guru perlu diadakan work shop PTK

Jumlah centang 1 2 4 2 1

Nilai 1 2 3 4 5

Jumlah Centang X Nilai 1 4 12 8 5

Nilai Total 30
Keterangan
Skor 1 : Sangat rendah
Skor 2 : Rendah
Skor 3 : Sedang
Skor 4 : Tinggi
Skor 5 : Sangat tinggi

Keterangan : Kategori Nilai Total

Nilai Total minimum 1 X 10 = 10 Kurang Rendah Sedang Tinggi Sangat


Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 = 50
0 – 10 11 – 20 21 – 30 31 - 40 41 – 50

Observer 2 Petunjuk:
Amati Guru dalam upaya meningkatkan profesionalitas melalui Karya Tulis Ilmiah
dengan PTK! Berilah tanda v pada kolom yang tersedia!

No Hal yang diamati Skor


1 2 3 4 5
1 Guru semangat dalam melakukan PBM V

2 Guru melengkapi administrasi sesuai dengan V


bidangnya
V
Guru menyiapkan persiapan untuk mengajar
3 V
Guru mampu mengelola kelas
4 V
Guru mampu menumbuhkan semangat siswa
5

6 Guru mampu merasakan adanya


kekurangan/ketidakberhasilan ketika mengajar V

Guru ada upaya ingin memperbaiki jika ada V


7 permasalahan dalam pembelajaran
V
8 Guru menguasai computer dan internet
V
9 Guru berusaha untuk memahami , membuat PTK
V
10 Guru perlu diadakan work shop PTK

Jumlah centang 0 0 8 2 0
Nilai 1 2 3 4 5

Jumlah Centang X Nilai 0 0 24 8 0

Nilai Total 32

Keterangan
Skor 1 : Sangat rendah
Skor 2 : Rendah
Skor 3 : Sedang
Skor 4 : Tinggi
Skor 5 : Sangat tinggi

Keterangan : Kategori Nilai Total

Nilai Total minimum 10 X 1 = 10 Kurang Rendah Sedang Tinggi Sangat


Tinggi
Nilai Total maksimum 10 X 5 = 50
0 -10 11 - 20 21 - 30 31 - 40 41 - 50

Evaluasi dari Observer pada Siklus 2 memperoleh nilai :

NO OBSERVER SKOR

1 Dra. Hj. Siti Muallifah 30

2 Rikki Mohammad Ramdhani , S.Pd 32

3) Kuesioner motivasi meningkatkan profesi melalui penulisan KTI. Pada siklus I.

KUESIONER PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

UPAYA MEMOTIVASI GURU SMA NEGERI 1 BANDUNG DALAM MENINGKATKAN


PROFESIONALITAS MELALUI PENULISAN KARYA TULIS ILMIAH DENGAN
MELAKSANAKAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Petunjuk :
Kuesioner ini bertujuan untuk keperluan ilmiah semata. Jadi tidak akan mempengaruhi
reputasi bapak /ibu sebagai guru dalam bekerja di sekolah ini. Pilihlah item jawaban yang telah
tersedia dengan menjawab sebenar-benarnya dan sejujurnya sesuai apa yang bapak/ibu alami dan
rasakan selama ini. Jawaban bapak/ibu berdasarkan pendapat sendiri akan menentukan
obyektifitas hasil penelitian ini. Jawablah pertanyaan dengan cara menyatakan tingkatan yang
benar menurut bapak/ibu. Lingkarilah huruf yang paling bisa menunjukkan kebenaran dan
ketepatan pernyataan tersebut. Kerahasiaan dijamin.

Identitas Responden
(responden tidak perlu menulis nama)
1. No. Responden : ________ (diisi oleh peneliti)
2. Jenis Kelamin : Pria/Wanita *) 3. Usia : _____ tahun
4. Nama Sekolah : _______________________________________
5. Alamat sekolah : ________________________________________________
__________________________ telp. __________________
6. Jabatan : _________________________
7. Pangkat/Golongan : _________________________
8. Pendidikan terakhir: _________________________
9. Mengajar mata pelajaran: _________________________________

Kepuasan Kerja Guru


Lingkari pernyataan dibawah ini sesuai dengan tingkat kepuasan Saudara dalam bekerja,
pilihlah skala jawaban :
1 = Tidak puas 2 = Agak Puas 3 = Puas 4 = Sangat puas 5 = Lebih sangat puas

SKOR
NO PERNYATAAN
1 2 3 4 5

1 Menurut saya tentang kedudukan yang saya


peroleh saat ini
SKOR
NO PERNYATAAN
1 2 3 4 5

2 Menurut saya tentang jaminan dalam


pengembangan profesi

3 Menurut saya tentang catatan prestasi yang


terdapat dalam
DP3 yang saya peroleh

4 Menurut saya tentang catatan kualitas pekerjaan


(pengajar
an) saya dari hasil supervisi pimpinan

5 Menurut saya tentang diperbolehkannya


menggunakan fasi-
Litas sekolah seperti kertas, komputer, dll
6 Menurut saya tentang keadaan fisik di sekolah
dikaitkan
dengan hasil pekerjaan saya

7 Menurut saya tentang kesibukan yang terdapat


di sekolah ini kaitannya dengan rasa
kekeluargaan di sekolah ini

8 Menurut saya tentang komunikasi antar


pegawai dan guru
9 Menurut saya tentang tugas saya dalam
mengajar di sekolah dengan dukungan dari
rekan sekerja

10 Menurut saya tentang kerjasama antar guru

11 Menurut saya tentang pekerjaan menjadi guru


berdasarkan
panggilan hati
12 Perasaan saya mengenai mata pelajaran yang
saya ajar dengan bakat dan minat saya
13 Menurut saya tentang tugas mengajar
disesuaikan dengan
cita-cita hidup
14 Menurut saya tentang karir sebagai guru
SKOR
NO PERNYATAAN
1 2 3 4 5

15 Menurut saya waktu yang tersedia untuk


menyusun Karya tulis Ilmiah

SUBYEK ITEM KUESIONER JUMLAH


SKOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 4 4 3 3 5 4 4 5 5 4 5 5 5 5 3 64
2 3 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 54
3 4 4 5 4 5 5 4 4 4 4 5 5 3 3 2 61
4 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 4 3 4 2 45
5 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 2 48
6 4 3 4 4 3 4 3 3 4 4 4 5 5 4 3 57
7 2 2 3 3 3 3 4 3 3 3 4 4 3 3 2 45
8 4 3 4 4 5 2 4 5 5 4 5 5 3 5 4 62
9 3 4 2 2 4 3 3 3 3 3 4 4 3 4 2 47
10 4 3 4 3 5 4 5 4 5 4 4 4 3 4 4 64
11 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 3 4 3 4 3 44
12 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 50
13 4 4 4 4 5 5 5 4 4 3 4 4 4 4 4 62
14 2 3 3 4 3 4 3 4 3 3 4 4 4 3 2 49
15 3 2 3 3 2 3 4 3 3 3 4 4 3 4 2 46
16 3 3 4 4 4 4 3 4 4 3 4 5 5 5 3 58
17 4 3 4 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 4 3 49
18 3 2 2 3 2 2 3 2 2 2 3 3 3 3 2 37
19 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 47
20 3 3 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 1 38
= 20 JUMLAH SKOR =1027

Setelah jumlah skor dibagi jumlah responden (1027 : 20), maka hasil yang diperoleh

adalah 51.4. Dengan demikian jumlah skor rata-rata kepuasan kerja guru adalah puas.

Diketahui dari table dobawah ini bahwa jumlah skor jawaban guru dapat diklasifikasikan

sebagai berikut :
Klasifikasi Jumlah Skor Jawaban Guru dari Kuesioner Kepuasan Kerja Guru

Klasifikasi Jumlah Guru Keterangan Jumlah Skor

Jawaban

30 – 40 2 guru Tidak Puas

41 - 50 10 guru Agak Puas

51 – 60 3 guru Puas

61 – 70 5 guru Sangat Puas

71 - 80 Lebih Sangat Puas

Tanggapan Guru Tentang Supervisi Kepala Sekolah


Lingkarilah huruf yang paling bisa menunjukkan kebenaran dan ketepatan pernyataan di
bawah ini dengan apa yang anda rasakan :
1 = Benar sekali 2 = Pada umumnya benar 3 = Sebagian benar 4 = Sedikit benar
5 = Tidak benar dan tidak tepat

NO PERNYATAAN SKOR

1 2 3 4 5
1 Hubungan organisatoris anda dengan kepala sekolah
terjalin baik
2 Kepala sekolah tidak menjaga jarak dengan guru-guru
3 Kepala sekolah sering datang dan ngobrol dengan guru
4 Keberhasilan anda dalam mengajar salah satunya
karena hasil dari supervisi kepala sekolah
5 Kepala sekolah membimbing dalam pembuatan
rencana mengajar seperti SP (Satuan pelajaran)
6 Kepala sekolah membimbing anda dalam pelaksanaan
strategi belajar mengajar
7 Kepala sekolah membantu anda dalam merumuskan
tujuan pengajaran (ranah kognitif, psikomotorik,
afektif)
8 Kepala sekolah membantu anda dalam cara
merumuskan pengalaman belajar (learning experience)
NO PERNYATAAN SKOR

1 2 3 4 5
9 Kepala sekolah membantu anda dalam pengelolaan
kelas
10 Kunjungan kelas oleh kepala sekolah dapat membantu
mem perbaiki cara mengajar anda
11 Dalam memberikan supervisi kepala sekolah tidak
mencari kesalahan anda tapi justru membicarakan
solusi secara bersama
12 Kepala sekolah telah bertindak demokratis dalam
membe rikan supervisi pengajaran kepada anda

13 Kepala sekolah mempunyai catatan tentang hasil


supervisi yang selalu dikomunikasikan dengan anda
14 Keberhasilan tugas anda yang lain selain mengajar
salah satunya karena peran supervisi kepala sekolah
15 Waktu pelaksanaan supervisi sudah tepat
16 Kepala sekolah tidak menggurui anda dalam
melakukan supervisi
17 Kepala sekolah membantu anda dalam masalah keluh
kesah guru seperti ketidak puasan, memperoleh
pelayanan yang kurang adil dan lain-lain
18 Kepala sekolah membantu anda dalam memecahkan
masalah kesejahteraan guru, seperti masalah keuangan,
kedudukan
19 Kepala sekolah membantu anda dalam memecahkan
masalah pribadi
20 Teguran yang diberikan kepala sekolah bukan ancaman

S ITEM KUESIONER JUMLAH


U SKOR
B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2
Y 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
E
K
1 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 58
2 2 2 1 2 3 3 2 2 2 2 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 37
3 1 1 1 3 4 4 4 4 4 2 2 1 1 1 2 2 1 2 2 2 44
4 1 1 1 2 3 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 36
5 2 1 1 3 4 3 4 4 3 2 2 2 2 3 2 2 1 3 3 1 48
6 2 2 2 3 3 3 3 2 2 2 2 3 1 4 3 2 4 3 4 1 51
7 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 23
8 1 2 1 1 2 3 2 3 2 1 2 1 1 2 2 1 2 2 3 1 35
9 1 1 1 5 4 3 3 2 3 2 1 2 1 4 1 1 2 3 4 1 45
10 1 1 1 2 2 3 3 3 3 1 1 2 2 1 2 1 1 2 3 1 36
11 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 24
12 2 1 1 4 3 3 3 4 4 1 2 1 1 3 2 1 4 4 5 2 51
13 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 22
14 2 2 2 1 4 4 4 3 2 2 2 2 2 2 3 2 3 3 4 3 52
15 2 1 1 2 3 3 4 3 2 2 2 2 3 3 3 2 2 2 3 2 47
16 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 2 1 26
17 1 2 1 1 2 2 3 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 29
18 1 1 2 3 3 2 3 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 2 1 31
19 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 3 2 34
20 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 23
= JUMLAH SKOR 752
20

Setelah jumlah skor dibagi jumlah responden (752 : 20), maka hasil yang diperoleh adalah 37,6.
Dengan demikian jumlah skor rata-rata Tanggapan Guru Tentang Supervisi Kepala Sekolah pada
umumnya adalah benar sekali.
Diketahui dari table dibawah ini bahwa jumlah skor jawaban guru dapat diklasifikasikan

sebagai berikut

Klasifikasi Jumlah Skor Jawaban Guru dari Kuesioner Kepuasan Kerja Guru

Klasifikasi Jumlah Guru Keterangan Jumlah Skor

Jawaban

20 - 30 6 guru Benar Sekali


31 - 40 8 guru Pada Umumnya Benar

41 - 50 2 guru Sebagian Benar

51 - 60 4 guru Sedikit Benar

61 - 70 Tidak Benar dan tidak tepat

Motivasi Meningkatkan Profesi Melalui Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Lingkarilah huruf yang paling bisa menunjukkan kebenaran dan ketepatan pernyataan

dibawah ini berdasarkan apa yang sedang anda alami :

1 = Benar sekali 2 = Pada umumnya benar 3 = Sebagian benar 4= Sedikit benar

5 = Tidak benar dan tidak tepat

NO PERNYATAAN SKOR

1 2 3 4 5
1 Apakah fasilitas sekolah membuat bapak/ibu guru termotivasi
bekerja ?
2 Apakah profesi guru telah membuat hidup bapak /ibu menjadi
senang/bahagia?
3 Apakah bapak/ibu guru menguasai computer ?

4 Apakah jaringan internet yang ada di SMA Negeri 1 Bandung


membantu bapak/ ibu dalam mengajar?
5 Apakah kondisi kerja di SMA Negeri 1 Bandung dapat membuat
anda merasa tenang dalam bekerja ?
6 Apakah bapak / ibu memahami akan Peraturan Pemerintah tentang
Kenaikan Pangkat PNS
7 Apakah bapak /ibu paham akan Karya Tulis Ilmiah dalam PTK

8 Apakah bapak/ ibu mengalami kesulitan dalam PBM

9 Apakah hubungan teman kerja disekolah mampu membuat


bapak/ibu termotivasi untuk bekerja ?
10 Apakah teman kerja di sekolah ini simpatik dan bersahabat kepada
Anda?
NO PERNYATAAN SKOR

1 2 3 4 5
11 Apakah kerjasama dalam kelompok dengan menyusun pekerjaan
bersama kelompok di sekolah ini dapat membuat bapak/ibu
termotivasi untuk bekerja ?
12 Apakah bapak/ibu dapat melakukan komunikasi dengan teman
sekerja dengan baik ?
13 Apakah sikap pimpinan (kepala sekolah) bapak/ibu yang berkaitan
dengan karir sebagai guru dapat membuat anda termotivasi untuk
bekerja ?
14 Apakah tugas bapak/ibu mendapat penghargaan dari pimpinan
(kepala sekolah) ?
15 Apakah kemampuan/kecakapan bapak/ibu juga mendapat
pengakuan dari teman-teman sekerja bapak /ibu ?
16 Apakah ide dan saran yang bapak/ibu berikan untuk kemajuan
sekolah dapat membuat bapak ibu bersemangat untuk bekerja ?
17 Apakah perlu diadakan work shop sepesial PTK
18 Apakah Penelitian Tindakan Kelas hanya buang-buang waktu saja

19 Apakah bapak/ibu bersemangat jika pekerjaan guru semakin


menantang, merangsang untuk berpikir dan berbuat, serta
memungkinkan terjadinya aktivitas penuh makna?
20 Apakah bapak/ibu siap untuk berupaya melakukan PTK, ?

Bandung Maret 2011

S ITEM KUESIONER JUMLAH


U SKOR
B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2
Y 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
E
K
1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 5 2 1 30
2 1 2 3 2 1 1 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 5 5 1 41
3 2 1 4 3 2 1 3 5 2 2 3 2 1 1 1 3 2 5 3 3 49
4 1 1 1 2 1 3 2 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5 1 1 30
5 1 2 4 2 1 2 2 2 1 1 1 1 1 3 2 1 2 3 2 2 36
6 3 2 3 3 2 3 3 4 3 2 3 2 3 3 3 4 1 3 3 2 55
7 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 5 2 2 49
8 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 4 1 2 27
9 1 3 2 2 2 1 1 5 2 1 1 1 2 3 3 1 3 4 1 1 40
10 2 1 1 1 1 3 3 3 1 1 1 1 1 1 1 2 3 4 1 3 35
11 1 1 2 3 1 3 1 4 1 1 1 1 2 2 4 2 1 5 1 2 39
12 1 2 4 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 4 2 2 1 5 2 1 36
13 1 3 3 2 3 2 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 2 5 2 2 48
14 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 1 3 2 2 30
15 1 1 2 3 1 3 3 5 2 2 1 2 3 2 2 3 1 5 2 1 45
16 1 3 4 2 1 2 3 5 2 2 2 2 1 2 2 3 1 3 1 2 44
17 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 5 3 3 40
18 1 1 1 1 1 1 1 5 2 2 2 2 1 2 1 1 1 5 1 1 33
19 2 3 3 3 3 3 2 4 3 4 3 2 2 3 3 3 3 3 4 4 72
20 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 58
.
= JUMLAH SKOR 837
20

Setelah jumlah skor dibagi jumlah responden (837 : 20), maka hasil yang diperoleh adalah 41.9.
Dengan demikian jumlah skor rata-rata Tanggapan Guru Tentang Supervisi Kepala Sekolah pada
umumnya adalah sebagian benar.
Diketahui dari table dibawah ini bahwa jumlah skor jawaban guru dapat diklasifikasikan

sebagai berikut :

Klasifikasi Jumlah Skor Jawaban Guru dari Kuesioner Kepuasan Kerja Guru

Klasifikasi Jumlah Guru Keterangan Jumlah Skor

Jawaban

20 - 30 4 Guru Benar Sekali


31 - 40 7 Guru Pada Umumnya Benar

41 - 50 6 Guru Sebagian Benar

51 - 60 2 Guru Sedikit Benar

61 - 70 1 Guru Tidak Benar dan tidak tepat

KETERANGAN RESPODEN

NO GURU MATA USIA PANGKAT/GOL NO GURU MATA USIA PANGKAT/GOL


PELAJARAN PELAJARAN
1 MATEMATIKA 52 IV/b 11 SOSIOLOGI 53 IV/a
2 BAHASA INGGRIS 38 III/b 12 KIMIA 51 IV/a
3 MATEMATIKA 40 IV/a 13 BAHASA 53 IV/a
JEPANG
4 SENI RUPA 57 IV/a 14 SEJARAH 56 IV/c
5 PENJAS KES 49 IV/a 15 BAHASA 50 IV/a
INGGRIS
6 BAHASA 55 IV/a 16 BAHASA 43 IV a
INDONESIA SUNDA
7 SENI MUSIK 40 - 17 EKONOMI 57 IV/a
8 FISIKA 55 IV/b 18 SEJARAH 55 IV/b
9 SENI BUDAYA 52 IV/a 19 BAHASA 58 IV/b
JEPANG
10 KIMIA 59 IV/a 20 KIMIA 55 IV/b
4. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tindakan pada siklus kesatu, masih ada

beberapa hal yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki seperti misalnya pada kuesioner tanggapan

guru tentang supervisi kepala sekolah item nomor 4, 5, 6, 7, 8, 9, 14, 17, 18, 19, kemudian

pada kuesioner motivasi meningkatkan profesi melalui penulisan karyan tulis ilmiah (KTI) pada

item 3. 4, 8, 15, 18, 19 Berdasarkan hasil dari observasi tersebut maka perlu diadakan langkah

perbaikan tindakan selanjutnya . Dengan kata lain perlu siklus kedua sehingga mendapatkan

hasil yang optimal dalam memotivasi guru-guru SMA negeri 1 Bandung.

C. PELAKSANAAN TINDAKAN PERBAIKAN


Pelaksanaan Tindakan Perbaikan Siklus II

Dalam siklus kedua ini dilakukan rangkaian kegiatan perencanaan, pelaksanaan,

observasi, dan refleksi.

1. Perencanaa.

Perencanaan yang dilakukan meliputi : a) Mengobservasi kembali guru dalam upaya

meningkatkan profesionalitas melalui karya tulis ilmiah dengan PTK dengan melihat dari item-

item kuesioner yang perlu di perbaiki atau ditingkatkan. b) Untuk dapat lebih termotivasi lebih

baik maka akan diadakan In House Training dengan mengundang nara sumber yang

merupakan pakar KTI PTK dari LPMP Jawa Barat. c) mengadakan pelatihan penggunaan

komputer dan internet agar mempermudah dan sekaligus menambah semangat dalam

menyusun karya tulis ilmiah melalui penelitian tindakan kelas (PTK). c) Menambah frekuensi

pendekatan pada guru-guru baik secara formal maupun non formal agar lebih dapat menambah

motivasi bagi guru secara maksimal.

2. Pelaksanaan

Penulis terlebih dahulu melakukan IHT tentang PTK pada bulan Januari..Untuk siklus

kedua sesuai dengan kesepakatan yang telah dirundingkan oleh peneliti dan observer maka

pada tanggal 10 Februari 2011 hari kamis a) Peneliti mengadakan observasi secara umum

tentang usaha mengembangkan profesi dan usaha memperbaiki kekurangan yang dihadapi

dalam proses pembelajaran melalui PTK. b) Mengadakan observasi yang dilakukan oleh dua

observer c) mengadakan In Hose Traning tentang penulisan Karya Tulis Imiah mengenai

Penelitian Tindakan Kelas pada tanggal 8 Januari 2011 dengan nara sumber dari LPMP Jawa

Barat. d) mengadakan pendekatan pada guru-guru dan menganjurkan untuk rajin

menggunakan computer dan membuka internet sebagai sarana untuk membuat semangat dalam
pembuatan karya tulis (pihak sekolah menambah sarana computer yang aktif ditempat yang

betul-betul efektif).

3. Observasi

Bersamaan berlangsungnya pelaksanaan mengamati guru dalam menangani siswa , peneliti

melakukan beberapa observasi dengan dibantu oleh Observ

a) Rubrik usaha mengembangkan profesi dan usaha memperbaiki kesalahan yang

dihadapi dalam proses pembelajaran melalui PTK.

NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI NILAI

1 2 3 4

1 Usaha untuk mengembangkan profesi sebagai tenaga 4


pendidik

2 Usaha memperbaiki kesalahan yang dihadapi pada proses 4


pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas

Jumlah centang 0 0 0 2

Nilai 1 2 3 4

Jumlah centang x Nilai 0 0 0 8

Nilai Total 8

Keterangan : Kategori nilai total

Nilai total minimum : 2 x 1 = 2 Kurang Cukup Baik Sangat Baik

Nilai total maksimum : 2 x 4 = 8 1-2 3-4 5-6 7-8

Secara umum dalam observasi umum yang merupakan kelanjutan dari awal nampak ada

peningkatan pada awal memperoleh nilai 4 artinya ada pada kategori cukup lalu pada
observasi kelanjutan secara umum sudah meningkat dengan memperoleh nilai 6 artinya

ada pada kategori baik dan pada siklus kedua secara umum sudah sangat baik..

b) Rubrik observasi terhadap guru mengenai upaya meningkatkan profesionalitas melalui

karya tulis ulmiah (KTI) pada Siklus 2.

Observer 1 Petunjuk:
Amati Guru dalam upaya meningkatkan profesionalitas melalui Karya Tulis Ilmiah
dengan PTK! Berilah tanda v pada kolom yang tersedia!

No Hal yang diamati Skor


1 2 3 4 5
1 Guru semangat dalam melakukan PBM V

2 Guru melengkapi administrasi sesuai dengan V


bidangnya

Guru menyiapkan persiapan untuk mengajar


3 V
Guru mampu mengelola kelas
4 V
Guru mampu menumbuhkan semangat siswa
5
V
6 Guru mampu merasakan adanya
kekurangan/ketidakberhasilan ketika mengajar V

Guru ada upaya ingin memperbaiki jika ada


7 permasalahan dalam pembelajaran
V
8 Guru menguasai computer dan internet
V
9 Guru berusaha untuk memahami , membuat PTK
V
1 Guru perlu diadakan work shop PTK
V

Jumlah centang 0 1 1 4 4

Nilai 1 2 3 4 5

Jumlah Centang X Nilai 0 2 3 16 20


Nilai Total 41

Keterangan
Skor 1 : Sangat rendah
Skor 2 : Rendah
Skor 3 : Sedang
Skor 4 : Tinggi
Skor 5 : Sangat tinggi

Keterangan : Kategori Nilai Total

Nilai Total minimum 1 X 10 = 10 Kurang Rendah Sedang Tinggi Sangat


Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 = 50
0 – 10 11 – 20 21 – 30 31 - 40 41 – 50

Hasil dari observer pertama dapat disimpulkan bahwa Guru dalam upaya

meningkatkan profesionalitas melalui Karya Tulis Ilmiah dengan PTK memperoleh

skor 41 artinya sudah sangat baik

Observer 2 Petunjuk:
Amati Guru dalam upaya meningkatkan profesionalitas melalui Karya Tulis Ilmiah
dengan PTK! Berilah tanda v pada kolom yang tersedia!

No Hal yang diamati Skor


1 2 3 4 5
1 Guru semangat dalam melakukan PBM V

2 Guru melengkapi administrasi sesuai dengan V


bidangnya
V
Guru menyiapkan persiapan untuk mengajar
3 V
Guru mampu mengelola kelas
4 V
Guru mampu menumbuhkan semangat siswa
5

6
Guru mampu merasakan adanya V
kekurangan/ketidakberhasilan ketika mengajar
7 V
Guru ada upaya ingin memperbaiki jika ada
8 permasalahan dalam pembelajaran V
9 Guru menguasai computer dan internet V
10
Guru berusaha untuk memahami , membuat PTK V

Guru perlu diadakan work shop PTK

Jumlah centang 0 0 0 8 2

Nilai 1 2 3 4 5

Jumlah Centang X Nilai 0 0 0 32 10

Nilai Total 42

Keterangan
Skor 1 : Sangat rendah
Skor 2 : Rendah
Skor 3 : Sedang
Skor 4 : Tinggi
Skor 5 : Sangat tinggi

Keterangan : Kategori Nilai Total

Nilai Total minimum 10 X 1 = 10 Kurang Rendah Sedang Tinggi Sangat


Tinggi
Nilai Total maksimum 10 X 5 = 50
0 -10 11 - 20 21 - 30 31 - 40 41 - 50

Hasil dari observer pertama dapat disimpulkan bahwa Guru dalam upaya meningkatkan

profesionalitas melalui Karya Tulis Ilmiah dengan PTK memperoleh skor 42 artinya sudah

sangat baik

Evaluasi dari Observer pada Siklus 2 memperoleh nilai :


NO OBSERVER SKOR

1 Dra. Hj. Siti Muallifah 41

2 Rikki Mohammad Ramdhani , S.Pd 42

c) Penelitian Tindakan Kelas

Selanjutnya mengadakan In Hose Traning tentang penulisan Karya Tulis Imiah mengenai

Penelitian Tindakan Kelas pada tanggal 8 Januari 2011 dengan nara sumber dari LPMP

Jawa Barat. d) mengadakan pendekatan pada guru-guru dan menganjurkan untuk rajin

menggunakan computer dan membuka internet sebagai sarana untuk membuat semangat

dalam pembuatan karya tulis (pihak sekolah menambah sarana computer yang aktif

ditempat yang betul-betul efektif).

a) WAWANCARA

b)

Wawancara pada beberapa siswa dengan pertanyaan yang sudah dipersiapkan.


NO PERTANYAAN JAWABAN
1 Bagaimana menurut kalian tentang Bagus sudah cukup ketat, cuma
tata tertib sekolah ? masih ada guru yang belum
menerapkan disiplin

2 Senangkah kalian mengikuti Iya senang sekali


kegiatan-kegiatan di Sekolah ?
3 Apakah kalian sering terlambat dan Tidak tapi sekali-sekali pernah,
mengerjakan tugas-tugas pelajaran belum bisa tepat waktu
tepat waktu ?

4 Jika kalian menghadapi masalah , Biasanya curhat sama teman


apakah kalian selesaikan dengan baik karena sulit untuk curhat dengan
atau kalian tinggalkan begitu saja guru
tanpa ada penyelesaian ?

5 Jika pendapat kalian tidak sesuai Berani


dengan yang lain apakah kalian
berani mengemukakan pendapat
kalian sendiri ?

6 Bagaimana sikap kalian jika Berusaha untuk sopan


menghadap/ bicara dengan guru ?

7 Apa yang kalian lakukan jika kalian Minta bantuan teman


menghadapi pekerjaan yang lumayan
berat menurut kalian ?

8 Jika kalian pengurus OSIS agar Membuat program dan kerjasam


semua dapat dilaksanaakan dengan dengan teman
baik apa yang harus kamu lakukan ?

9 Bagaimana menurut kalian situasi Lumayan nyaman, asik banyak


dan kondisi SMA Negeri 1 Bandung temen, ekskulnya rame
apakah kalian merasa nyaman ?

10 Apakah kalian merasa “ at home “ di Iya karena ada masjid yang


SMA Negeri 1 Bandung ini ? membuat lebih tenang jkadi bias
ngumpul bareng temen di masjid
Gambar 17. Tanya Jawab lisan pada Siswa

Dari hasil wawancara secara langsung menghasilkan jawaban yang cukup positif. Namun

penulis masih terus ingin memperbaiki dengan menggunakan hypnotherapy .

4. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tindakan kedua , dapat terindetifikasi bahwa guru-guru

sudah mulai peduli pada siswa, dan tanggap terhadap masalah pelanggaran yang dilakukan oleh

siswa misalnya merokok di lingkungan sekolah ,banyaknya ketidak hadiran (Absensi),

perkelahian, penyimpangan penggunaan HP, pelanggaran tata tertib, kasus Video porno dsb.

Bagi Siswa pada siklus kedua ini sudah menunjukkan kemajuan melalui beberapa instrument yang

digunakan.

D. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

1. Orientasi

Dalam kegiatan orientasi, peneliti menemukan adanya pelanggaran tata tertib yang terjadi

pada siswa-siswi SMA Negeri 1 Bandung yang dapat digolongkan pada daftar kenakalan remaja .

Demikian pula pada gurupun penulis mendiagnosis sehingga menghasilkan bahwa masih banyak

guru yang belum bahkan tidak peduli pada apa yang terjadi pada seputar siswa.

Peneliti mengamati aktivitas Guru terhadap Siswa dalam setiap pelanggaran yang terjadi pada

siswa bagaimana respon guru terhadap masalah pelanggaran tersebut khususnya dalam proses

penanganan dan solusi akhir. Kemudian mengevaluasi hal tersebut. Hasil pengamatan dan evaluasi

kemudian dijadikan bahan untuk mencari upaya perbaikan (terhadap tindakan) pada silkus

penelitian.
Dengan hasil pengamatan yang telah tercatat baik Guru maupun Siswa maka ditemukan kondisi

awal yaitu tentang kepedulian guru terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh siswa

belum baik dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang ada pada siswa .

2. Tindakan Perbaikan Siklus Kesatu

Pada tindakan perbaikan kesatu penulis melakukan Siklus 1 kegiatan perencanaan, pelaksanaan,

observasi, dan refleksi. mempersiapkan bahan-bahan dasar rujukan yang perlu dikaji sebelum

penelitian dilakukan secara sistematis yang berhubungan dengan ahlak mulia dan tujuan akhir dari

keberhasilan sekolah dalam kelulusan, VISI dan MISI SMA Negeri 1 Bandung, Buku-buku yang

menunjang, Tata Tertib Siswa Tahun Pelajaran 2009 – 2010, Program Kerja Kesiswaan Tahun

Pelajaran 2009– 2010, Kegiatan Ikatan Remaja Islam SMA Negeri 1 Bandung . Mempersiapkan

instrument penelitian berupa Obervasi a) Perhatian dan kepedulian guru - guru dalam menangani

masalah siswa b) Aktivitas siswa dalam kesehariannya sehubungan VISI dan MISI sekolah c)

Dokumen-dokumen yang menunjang.

Peneliti dan guru berdialog kurang mengenai prilaku siswa akhir-akhir ini banyak sekali

penyimpangan dan cenderung kearah pada kenakalan remaja , Peneliti dan guru bersama-sama

mengamati dan mencatat pelanggaran-pelanggaran apa saja yang terjadi pada siswa dan tindakan

apa yang sudah di upayakan oleh guru dan pihak sekolah.

Pada siklus kesatu menunjukkan hasil evaluasi dari penilaian guru - guru terhadap siswa sesuai

dengan aspek-aspek yang diajukan ternyata memperoleh nilai 74.2, artinya hanya ada pada

kategori sedang jadi belum mencapai hasil nilai tinggi atau sangat tinggi sehingga masih perlu

diadakan obervasi khusus guru dan siswa dengan minta bantuan pada dua guru sebagai observer

yaitu penulis mununjuk dari 1) guru Bimbingan dan Konseling 2) Koordinator TATIBSI.
Hasil evaluasi observasi observer pertama dari aspek yang di observasi pada guru

memperoleh nilai rendah pada aspek nomor 1 dan 8 sedangkan aspek yang lainnya memperoleh

nilai sedang . Idealnya nilai total antara 31 – 40 atau 41 – 50, sementara nilai total yang diperoleh

baru mencapai 28 jadi belum mencapai nilai yang diharapkan.

Hasil evaluasi dari aspek-aspek yang di observasi pada siswa terdapat nilai yang sangat rendah

yaitu pada aspek nomor 6. Sedangkan aspek nomor 10 mendapat nilai tinggi dan nomor 5

mendapat nilai sangat tinggi . Rata-rata nilai dalam rinciannya setiap aspek memperoleh sedang

belum mencapai nilai tinggi atau sangat tinggi. Sementara nilai total yang diperoleh mencapai 29

jadi belum mencapai nilai yang ideal .

Hasil evaluasi observasi dari observer kedua dari aspek yang di observasi pada guru

mendapat nilai rendah pada nomor 1, 3, 5, 6, 8. Sedangkan nomor 2, 4, 7, 9, 10 memperoleh nilai

sedang dari keseluruhan aspek yang dinilai belum mencapai nilai tinggi atau sangat tinggi.

Idealnya nilai total antara 31 – 40 atau 41 – 50, sementara nilai total yang diperoleh baru mencapai

25 jadi belum mencapai nilai yang diharapkan.

Hasil evaluasi dari aspek-aspek yang di observasi pada siswa terdapat nilai yang rendah yaitu pada

aspek nomor 9 dan 10 . Sedangkan nomor 1, 2, 3, 4, 8 memperoleh nilai sedang dan nomor 5, 6,

7 memperoleh nilai tinggi. Sehingga penilaian oleh observer 2 mendapat nilai 31.

Evaluasi dari Observer pada Siklus 1 memperoleh nilai :

NO OBSERVER GURU SISWA

1 Dra. Hj. Siti Muallifah ( BK) 28 29

2 Dra. Rukmini Susanti ( TATIBSI) 25 31

Gambar, 18 . Evaluasi observasi pada siklus 1 dalam pembahasan


Jika di buat grafik menunjukkan hasil sebagai berikut :

40

38

36 GURU

34 SISWA

32
OBSERVER 1 OBSERVER 2

Gambar 19. Grafik Evaluasi siklus 1

Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tindakan pada siklus kesatu, masih banyak hal

yang perlu diperbaiki yaitu:

Pada Guru yang masih dinilai rendah adalah 1) aktif sebagai pertemanan dengan siswa 2) selalu

memonitor kegiatan siswa di lingkungan sekolah 3) peduli terhadap siswa dalam penggunaan HP

4) perhatian pada siswa yang merokok, mencontek dsb 5) encatat jika ada pelanggaran siswa 6)

menegur siswa dengan senyum.

Pada Siswa yang masih dinilai sangat rendah adalah 1) terbuka pada guru 2) suka merokok,

mencontek jika ulangan 3) keterlambatan masuk sekolah 4) keaktifan mengikuti kegiatan

kerohanian atau keagamaan di sekolah.

3. Tindakan Perbaikan Siklus Kedua

Dalam siklus kedua ini dilakukan rangkaian kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi,

dan refleksi.

Perencanaan yang dilakukan meliputi : a) mengobservasi kembali guru dan siswa dengan

bantuan du Observer b) membuat instrument berupat angket sebanyak 32 lembar untuk siswa

kelas X - 10 lembar , kelas XI -10 lembar, kelas XII- 12 c) membuat instrument pertanyaan-
pertanyan untuk wawancara d) mewajibkan siswa untuk mengikuti kegiatan kerohanian/

keagamaan yang diadakan di sekolah. e) untuk guru memberikan pembinaan pada setiap hari Senin

dan setiap hari Jumat bersamaam dengan waktu Shalat Jumat bagi Ibu-Ibu guru mengikuti

Pengajian Majelis Taklim di SMANegeri 1 Bandung.

Sesuai dengan kesepakatan yang telah dirundingkan oleh peneliti dan observer maka pada

tanggal 2 Agustus 2010 hari senin a) Peneliti mengadakan observasi guru dan siswa dengan

aspek sama seperti terdahulu b) menyebarkan angket sebanyak 32 kepada kelas X, XI, XII.c)

mewawancara pada beberapa siswa, lembar pertanyaan terlampir pada halaman lampiran d)

mengadakan kegiatan keagamaan misalnya tabligh akbar, dzikir akbar, muhasabah dengan

mengundang penceramah dari luar agar lebih tertarik.( terlampir acara kegiatan pada lampiran

kegiatan Ikatan Remaja Islam SMA Negeri 1 Bandung).

Bersamaan berlangsungnya pelaksanaan mengamati guru dalam menangani siswa , peneliti

melakukan observasi secara umum seperti operasi awal dengan hasil Pada silkus kedua ini

pengamatan yang tercatat baik Guru maupun Siswa sudah mengalami perbaikan dari kondisi awal

tentang kepedulian guru terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh siswa dalam

mengidentifikasi masalah-masalah yang ada pada siswa , jka di masukkan dalam kategori nilai

sudah mendapat nilai 8 artinya sangat baik.

Evaluasi pada siklus kedua peneliti mengobservasi dengan formasi seperti kondisi awal pada

Hasil observasi pada siklus kedua ini secara umum menunjukkan perbaikan yang cukup tinggi

yaitu 81.1. Jika dibuat grafik maka akan terlihat sebagai berikut :

UMUM 85

80 OBSERVASI
10 AWAL
Gambar 19. Observassi Umum Gambar 20. Observasi Guru terhadap Siswa

Bersamaan berlangsungnya pelaksanaan mengamati guru dalam menangani siswa , peneliti

melakukan beberapa observasi dengan dibantu oleh observer

Hasil evaluasi observasi dari penilaian observer pertama guru pada nomor 3 dan 8 mendapat nilai

sedang. Dan rata-rata sudah mencapai rata-rata tinggi Idealnya nilai total antara 31 – 40 atau 41 –

50, sementara nilai total yang diperoleh sudah mencapai 38 .

Evaluasi dari obeservasi pada siswa nampak adanya perkembangan mendapat nilai total 35

. Namun masih ada yang harus diperbaiki yaitu pada aspek nomor 6 dan 9 karena masih sangat

rendah dan nomor satupun masih sedang.

Hasil evaluasi observasi dari observer kedua guru pada nomor 3 mendapat nilai sedang. Dan rata-

rata sudah mencapai rata-rata tinggi . Aspek nomor 10 sudah sdangat tinggi. Ideal nilai total antara

31 – 40 atau 41 – 50, sementara nilai total yang diperoleh sudah mencapai 40.

Evaluasi dari obeservasi pada siswa nampak adanya perkembangan mendapat nilai total 37

. Namun masih ada yang harus diperbaiki yaitu pada aspek nomor 6 masih rendah, nomor 5 dan

6 masih mendapat nilai sedang dan nomor yang lainnya sudah tinggi bahkan nomor 3 sudah sangat

tinggi.

Evaluasi dari Observer pada Siklus 2 memperoleh nilai :


NO OBSERVER GURU SISWA

1 Dra. Hj. Siti Muallifah ( BK) 38 35

2 Dra. Rukmini Susanti ( TATIBSI) 40 37

Gambar 21, Evaluasi Observasi Siklus 2

Jika dibuat grafik maka terlihat sebagai berikut :

40
39
38
37
Gambar 22. Grafik
36 GURU Penilaian Observer
35 SISWA 1 dan2 terhadap
34 Guru dan Siswa
33
32
OBSERVER 1 OBSERVER 2

Gambar 22. Grafik Penilaian Observer 1 dan2 terhadap Guru dan Siswa

Evaluasi dari observasi penulis masih ingin mengetahui bagaimana sebenarnya menurut

siswa dalam pengetahuannya tentang kenakalan remaja pada zaman sekarang dan bagaimana

dengan keterlibatan siswa dalam mewujudkan VISI dan MISI SMA Negeri 1 Bandung sehubungan

banyaknya tantangan dan hambatan secara ekternal dan internal dalam dirinya, maka penulis

membagikan angket untuk dijawab secara jujur. Angket dibagikan pada siswa sebanyak 32 agar

dijawab sejujurnya .

Hasil jawaban dari siswa melalui angket dapat dikatakan positf 79% positif jadi dapat

dikatakan cukup berhasil dan masih ada beberapa yang harus di perbaiki dan ditingkatkan.
Sebagai pelengkap Penulis mewawancarai secara langsung pada siswa seputar kegiatan mereka

di sekolah.

Wawancara pada beberapa siswa dengan pertanyaan yang sudah dipersiapkan.

Dari hasil wawancara secara langsung menghasilkan jawaban yang cukup positif. Namun penulis

masih terus ingin memperbaiki yang masih belum maksimal dengan menggunakan hypnotherapy

Untuk mengetahui lebih akurat lagi masalah-masalah apa yang ada pada siswa sebenarnya maka

penulis berkolaborasi dengan guru IPS yang mampu melakukan hypnotherapy, pertanyaan dapat

dilihat pada lampiran. Hasil dari hypnotherapi dari sepuluh siswa hampir semua mengatakan

ayahnya galak , egois dan keras. Dan semua menyatakan sangat sayang pada ibunya Waktu

senggang yang ada semua digunakan untuk main dengan teman, nonton TV, hanya seorang yang

membuka situs porno, rata-rata mereka baru bias tidur jam 12 malam. Semua rata-rata sudah

mempunyai .pacar . Peristiwa ini didokumentasikan oeh siswa dalam bentuk foto dan rekaman

video melalui HP.

Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tindakan kedua , dapat terindetifikasi bahwa

guru-guru sudah mulai peduli pada siswa, dan tanggap terhadap masalah pelanggaran yang

dilakukan oleh siswa misalnya merokok di lingkungan sekolah ,banyaknya ketidak hadiran

(Absensi), perkelahian, penyimpangan penggunaan HP, pelanggaran tata tertib, kasus Video porno

dsb. Bagi Siswa pada siklus kedua ini sudah menunjukkan kemajuan melalui beberapa instrument

yang digunakan. Hasil dari observasi antara Observer satu dan dua pada siklus satu1 dan dua

jika di buat grafik akan Nampak sebagai berikut :

40
35
30
25
GURU
20
SISWA
15
10
5
Gambar 23. Grafik Observasi Guru dan Siswa pada Siklus 1 dan 2

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan masalah nyata yang ditemukan di sekolah,

khususnya siswa SMA Negeri 1 Bandung adalah adanya siswa yang masih melakukan

pelanggaran-pelanggaran yang dapat dikatakan dengan kenakalan remaja . Prosedur penelitiannya

dilakukan secara siklikal. Satu siklus dimulai dari (1) perencanaan awal, (2) pelaksanaan, (3)

observasi dan (4) refleksi.

Dengan melalui Orientasi , Obsevasi secara umum dan Observasi pada Guru dan Siswa yang di

antu oleh dua guru sebagai Observer dan satu guru IPS sebagai kolaborasi penggunaan

hypnotherapy, pengisisan Angket, wawancara dapat disimpulkan hasil pada siklus 1 masih

terdapat penilaian yang belum baik, kenudian dilakukan penetian perbaikan pada siklus 2 ternyata

dapat menghasilkan evaluasi yang boleh dikatakan tinggi.

Sesuai dengan rumusan masalah maka dapat dikatakan bahwa berbagai kegiatan

kerohanian (Keagamaan) yang diadakan di SMA Negeri 1 Bandung dapat memperkecil kenakalan

remaja. Jika kenakalan remaja tidak ada atau sangat kecil dapat dipastikan VISI dan MISI SMA

Negeri 1 Bandung akan terwujud dengan baik . Dari hasil penelitian Kepedulian Sekolah, Guru

pada siswa akan membuat Siswa nyaman dan “at home” di sekolah. Kegiatan Ekstra Kurikuler
sangat menunjang untuk memperkecil bahkan menghilangkan kenakan remaja yang semakin

memprihatinkan. Sarana beribadah merupakan hal yang sangat penting untuk membina secara

moral dan spriritual.

B. SARAN.

- Sebaiknya semua individu yang terkait dengan masalah kenakalan remaja yang ada di

lingkungan sekolah hendaknya turut memantau secara hirarkhi mulai dari atas sampai

bawah. Karena pada dasarnya semua siswa yang ada di SMA Negeri 1 Bandung

memang perlu perhatian sehubungan dengan maraknya kenakalan remaja yang

memprihatinkan.

- Hendaknya efektifkan seefisien mungkin sarana yang ada di SMA Negeri 1 Bandung

ini untuk mendidik, membina, melatih, memotivasi, membimbing dan mendewasakan

siswa kearah yang positif agar SKL yang berhubungan dengan akhlak mulia dapat

berhasil maksimal

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Samsudin, (2009) Jurdik Fisika FPMIPA UPI Bandung

Arikunto, (1997). Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Yogyakarta

BSNP. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun
2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta

Depdiknas. (2008). Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen Dikti, Proyek Pengembangan Guru Sekolah

Menengah. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action research). IBRD OAN No

3979 – IND

Ichsan, (2010), Data Pegawai Negeri Sipil 2010 :Umur dan Pangkat/Golongan.

Mario Teguh, (2010), Langkah Sukses Membuat Karya Tulis Ilmiah, Bangka Belitung Pangkal

Pinang.

Nasution, (1996). Metode research, Bumi Aksara, Jakarta.

Nazir, Moh, 1985, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No 16

Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnaya

Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMA / SMK. Jakarta : Dirjen PMPTK.

Panitia Pelaksana Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Rayon 10 Jawa Barat. (2009).

Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Pengawas. Bandung :

Universitas Pendidikan Indonesia.

Peraturan Pemerintah No.99 Tahun 2000, Tentang Kenaikan Pangkat Pegawai negeri Sipil
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Sagala, H. Syaiful. (2006). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung : Alfabeta.

Sudjana, H. Nana. (2009). Penelitian Tindakan Kepengawasan, Konsep dan Aplikasinya bagi
Pengawas

Suharti, Hj (2008), Uji Sertifikasi Merupakan Motivasi dalam Penulisan Karya Ilmiah Guru

Urip Santoso.(2009) Kiat-Kiat Penulisan Karya Tulis Ilmiah Bagi Guru

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan

Nasional.

Wardani, IGAK, dkk. ((2007). Penelitian Tindakan Kelas. Buku Materi Pokok