Anda di halaman 1dari 26
SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS

1. URAIAN UMUM

1.1.

Keterangan Umum

 

a. Pekerjaan yang dilaksanakan adalah Penataan Kawasan Kumuh Kabupaten Sleman

b. Pekerjaan ini terletak di Dusun Mejing Wetan Desa

Ambarketawang Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman

 

1.2.

Pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan

 

dalam uraian dan syarat-syarat tertulis ini, gambar-gambar kerja serta revisi, ataupun tambahan-tambahan yang telah mendapat pengesahan dari pemberi tugas, risalah penjelasan pekerjaan dan keputusan tertulis pemberi tugas.

 

1.3.

Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor diwajibkan mencocokan dahulu ukuran satu sama lain, bila ketidaksesuaian harus segera memberi tahu pengawas

 

lapangan.

 

1.4.

Pada akhir kerja, Penyedia Jasa Pemborongan diharuskan membersihkan sisa bahan dari segala kotoran akibat kegiatan pembangunan, termasuk sisa-sisa material bangunan serta gundukan tanah, bekas tanah dan lain

 

sebagainya.

 

1.5.

Menyediakan ruang kerja Penyedia Jasa Konsultan Pengawas

 

dan Direksi Teknis dan Los Kerja untuk menyimpan bahan- bahan bangunan yang akan digunakan.

 

1.6.

Dalam melaksanakan pekerjaan tersebut di atas termasuk juga mendatangkan bahan-bahan bangunan dan peralatan dalam jumlah yang cukup untuk pelaksanaan pekerjaan.

1.7.

Untuk bahan-bahan yang tidak dan/belum ada peraturannya di Indonesia dipakai syarat-syarat yang ditentukan oleh pabrik bahan tersebut.

2. PEKERJAAN

2.1.

Menurut Dokumen Pengadaan Barang Jasa, antara lain:

TERSEBUT HARUS

a. Dokumen Lelang

DILAKSANAKAN

b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat

c. Gambar Kerja (Bestek)

d. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanvoelling)

e. Perubahan-perubahan dalam pelaksanaan (bila ada) yang telah disyahkan oleh Pemberi Tugas dan instansi yang berwenang / unsur terkait.

 

2.2.

Menurut syarat dan ketentuan sebagai berikut :

a. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :

441/KPTS/1998 tanggal 10 Nopember 1998 tentang Persyaratan Teknis dan Bangunan.

b. Standar Konstruksi dan Bangunan :

(1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. (2) PUPI (Peraturan Umum Pembebanan Indonesia) tahun 1987. (3) PPBBG (Pedoman Perencanaan Bangunan Baja dan Gedung) tahun 1987. (4) SNI Nomor : 03-0106-1987 tentang : Penggunaan ubin lantai keramik manner dan cara uji. (5) SNI Nomor : 03-0675-1989 tentang : Penggunaan kosen, pintu dan jendela dari kayu.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

(6) SNI Nomor : 03-3527-1994 tentang : Mutu Kayu bangunan. (7) SNI Nomor : 03-1726-1984 tentang Pedoman Perencanaan Tahan Gempa untuk Rumah dan Gedung. (8) SNI Nomor : 03-17341989 tentang : Pedoman Perencanaan beton Bertulang dan Struktur Dinding Bertulang untuk Rumah dan Gedung. (9) SNI Nomor : 03-1736-1989 tentang : Tata Cara Perencanaan Struktur bangunan untuk penanggulangan bahaya kebakaran. (10) SNI Nomor : 03-2996-1991 tentang : Tara cara dan Perancangan penerangan alami siang hari untuk Rumah dan Gedung. (11) SNI Nomor : 03-2407-1991 tentang : Tata cara pengecatan kayu untuk Rumah dan Gedung. (12) SNI Nomor : 03-2,410-1991 tentanl; : Tata cara pengecatan dinding tembok dengan cat Emulsion. (13) SNI Nomor : 03-2834-1992 tentang : Tata cara pembuatan rencana Campuran Beton Normal. (14) SNI Nomor : 0255-1987.D. tentang Persyaratan Instalasi Listrik. (15) SNI Nomor : 03-1727-1989 tentang Perencanaan Pembebanan untuk rumah dan Gedung. (16) SNI Nomor : 03-2847-1992 tentang : Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. (17) Keputusan Menteri PU Nomor : 468/KPTSJ1998 tanggal 1 Maret 1998 tentang : Persyaratan Teknis Aksesbilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. (18) Keputusan Menteri PU Nomor : 10/KPTSj2000 tentang : Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungannya. (19) Keputusan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Nomor : 332/KPTS/M/2002 tanggal 21 Agustus 2002 Tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara.

 

c.

Menurut peraturan setempat yang berhubungan dengan penyelenggaraan pembangunan dari instansi yang berwenang.

d.

Pekerjaan tersebut harus diserahkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen dalam keadaan selesai 100 % (seratus Persen), sesuai dengan Dokumen Pengadaan Barang/Jasa, Surat Perjanjian Pemborongan (Kontrak) dan Berita Acara Perubahan Pekerjaan (bila ada) yang telah disahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen.

3.

KUASA PENYEDIA

3.1.

Di

lokasi

pekerjaan,

Penyedia

Jasa

Pemborongan

wajib

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

JASA PEMBORONGAN DAN KEAMANAN DILAPANGAN

4. JAMINAN

KUALITAS

menunjuk seorang kuasa Penyedia Jasa Pemborongan atau biasa disebut Site Manager yang cakap untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan mendapat kuasa penuh dari Penyedia Jasa Pemborongan dengan kualifikasi seperti tercantum dalam LDP.

3.2. Meskipun demikian tanggung jawab sepenuhnya tetap pada Penyedia Jasa Pemborongan

3.3. Apabila pelaksana yang ada kurang mampu atau tidak cukup cakap dalam memimpin jalannya pelaksanaan pekerjaan, maka Penyedia Jasa Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis berhak mengusulkan untuk disediakan penggantinya.

3.4. Penyedia jasa Pemborongan bertanggung jawab penuh atas keamanan di lokasi pekerjaan yang antara lain kehilangan, kebakaran, kecelakaan (baik barang maupun jiwa).

4.1. Pekerjaan yang disubkontraktorkan harus mendapat

persetujuan dari Direksi dan Pemborong mengajukan Subkontraktor untuk mendapatkan persetujuan Direksi / Pengawas Lapangan.

 

4.2.

Kehadiran subkontraktor harus dilaporkan kepada Direksi / Pengawas Lapangan.

4.3.

Gambar serta Rencana Kerja ini harus tersedia di Ruang Kontraktor dan mudah diperiksa sewaktu-waktu oleh Direksi / Pengawas Lapangan.

4.4.

Setiap kemajuan pekerjaan harus dicatat Direksi / Pengawas Lapangan pada Gambar dan Rencana Kerja tersebut.

4.5.

Penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan harus selalu berada ditempat pekerjaan dan dapat mengambil keputusan penuh, demi kelancaran pekerjaan.

4.6.

Hal-hal yang tidak tercantum dalam Gambar Rancangan,

 

Gambar Rencana kerja, maupun Spesifikasi, tetapi hal itu diperlukan untuk kelengkapan dan kesempurnaan sistem pemasangan atau sistem kerja suatu peralatan atau instalasi, maka hal itu menjadi tanggung jawab Kontraktor untuk

melengkapinya.

5. JAMINAN KESELAMATAN KERJA DAN KERJA LEMBUR

5.1.

Penyedia Jasa Pemborongan wajib menyediakan obat-obatan sesuai dengan ketentuan dan syarat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang selalu dalam keadaan siap digunakan di lapangan, untuk musibah yang terjadi.

5.2.

Pemborongan wajib menyediakan air minum yang bersih dan memenuhi syarat kesehatan bagi semua petugas dan pekerja yang ada dibawah tanggung jawabnya.

5.3.

Penyedia Jasa Pomborongan wajib mengasuransikan semua petugas yang terkait dan pekerja pada Asuransi Tenaga

 

Kerja.

 

5.4.

Jika terpaksa pekerjaan harus dilaksanakan diluar jam kerja (lembur), maka pelaksana/ pemborong harus mengajukan permohonan tertulis kepada pemberi tugas dan Konsultan Pengawas, dengan disebutkan :

a. Alasan penambahan jam kerja (lembur),

b. Jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan (lembur),

c. Jumlah Pekerjaannya,

d. Waktu/ jam lembur.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

menjadi tanggung jawab pelaksana/ pemborong.

6. CUACA Pekerjaan harus dihentikan sementara apabila cuaca tidak mengijinkan atau sangat mengganggu yang akan dapat mengakibatkan penurunan mutu suatu pekerjaan, kecuali pelaksana/ pemborong sudah mempersiapkan sarana untuk menanggulanginya.

7. TIMBANGAN

7.1.

Timbangan Duga (Peilhootge) ditentukan sesuai gambar

DUGA

rencana atau pada saat peninjauan ke lokasi pekerjaan

(PEILHOOTGE )

(dalam rangka uitzet).

 

7.2.

Penyedia Jasa Pemborongan harus membuat patok duga dari pasangan batu merah ukuran 15 x 15 cm minimal di 2 (dua) tempat, letak patok ditentukan kemudian.

7.3.

Penentuan titik ketinggian dan sudut-sudut hanya dilakukan dengan alat waterpass/theodolith yang ketepatannya dapat dipertanggungjawabkan.

7.4.

Penyedia Jasa Pemborongan harus menyediakan alat theodolith/waterpass beserta petugas yang melayaninya untuk kepentingan pemeriksaan Pengawas dan Direksi teknis selama pelaksanaan pekerjaan.

8. UKURAN POKOK DAN BATAS DAERAH KERJA

8.1.

Ukuran pokok dicantumkan dalam gambar bestek, ukuran yang belum tercantum dalam gambar bestek dapat ditanyakan pada Penyedia Jasa Konsultan Perencana dan atau Penyedia Jasa Konsultan Pengawas.

8.2.

Penyedia Jasa Pemborongan harus memeriksa kecocokan semua ukuran di dalam gambar, apabila terjadi ketidakcocokan wajib segera memberitahukan kepada Penyedia Jasa Konsultan Pengawas atau Penyedia Jasa Konsultan Perencana untuk minta pertimbangan. Apabila terjadi kesalahan pelaksanaan di luar ijin atau pertimbangan Penyedia Jasa Konsultan Pengawas atau Penyedia Jasa Konsultan Perencana, maka menjadi tanggungjawab Penyedia Jasa Pemborongan.

8.3.

Apabila dalam gambar Bestek terlukis, sedang pada Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) tidak tertulis, maka gambar yang mengikat.

8.4.

Apabila dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) tertulis sedangkan didalam gambar tidak tertulis, maka Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) yang mengikat.

8.5.

Jika terdapat perbedaan gambar bestek dan gambar detailnya maka kontraktor wajib minta dipertimbangkan kepada Direksi teknis, konsultan pengawas atau perencana.

8.6.

Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan di suatu tempat bila ada kelainan atau perbedaan seperti tersebut diatas di tempat itu, sebelum kelainan tersebut diselesaikan.

8.7.

Batas daerah, kerja adalah batas lahan yang ada.

9. PEKERJAAN

9.1.

Pembersihan Lokasi

PERSIAPAN

Kontraktor harus membersihkan sekitar lokasi pekerjaan dan

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

segala sesuatu yang mungkin akan mengganggu pelaksanaan

pekerjaan dan membuang bongkaran yang tidak terpakai sesuai petunjuk Konsultan Pengawas.

 

9.2.

Uitzet / Bouplank Sebelum memulai pekerjaan, Penyedia Jasa Pemborongan harus mengadakan pengukuran-pengukuran lapangan untuk dapat menentukan patok utama bagi pelaksanaan pekerjaan. Biaya pengukuran sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penyedia Jasa Pemborongan.

9.3.

Kantor Kerja Direksi Pelaksana di Lokasi Proyek Penyedia Jasa Pemborongan harus menyediakan sebuah kantor untuk Direksi dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan dan peralatan yang cukup seperti meja, kursi, white board, file direksi dan air minum untuk digunakan sebagai tempat kerja konsultan. Dalam kantor lapangan harus disediakan:

 

a. Buku DIREKSI

b. Buku Ijin pasang

c. Buku Tamu

d. Buku Konsultasi

e. Buku catatan penerimaan bahan.

f. Buku catatan peralatan dan jumlah tenaga kerja tiap hari

g. Buku catatan keadaan cuaca

h. Lembar backup volume pekerjaan

i. Komputer dan printer

j. Rak contoh material yang digunakan

 

9.4.

Dokumentasi.

 

Dokumentasi dilakukan terhadap kondisi lokasi sebelum dibangunan (0%), selama masa pelaksanaan pekerjaan (50%) dan selesai pembangunan (100%). Pendokumentasian ini

merupakan perekaman bangunan tersebut secara piktoral (gambar dan foto) dan verbal (uraian tertulis). Tujuannya untuk mengetahui kondisi lokasi sebelum dibangun, masa pelaksanaan dan hasil akhir pembangunan.

 

9.5.

Membuat / Mendirikan Papan Nama Proyek

 

a. Pemborong diwajibkan memasang papan nama proyek di tempat lokasi pekerjaan dan dipancangkan di tempat yang mudah terlihat oleh umum pada saat dimulainya pelaksanaan pekerjaan.

b. Papan nama proyek berukuran 75 x 150 cm, bahan menggunakan seng rangka kayu kruing 4/6 atau bahan flexi, dipasang setinggi 2 m dari muka tanah menggunakan tiang dan rangka kayu kruing 5/7.

c. Permukaan papan nama dicetak atau dicat warna putih, tulisan menggunakan warna hitam. Materi tulisan akan ditentukan kemudian oleh pemberi tugas kemudian.

10. PEKERJAAN

10.1.

Lingkup Pekerjaan

TANAH

Pekerjaan

yang

tercakup

dalam

sub

bab

ini

meliputi

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat, bahan material, perlengkapan dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan galian pada permukaan sesuai dengan gambar rencana.

10.2. Galian Tanah Pondasi

a. Semua kedalaman tanah galian harus sesuai gambar rencana.

b. Galian tanah untuk pondasi, pemasangan paving, kansteen, saluran drainase, sumur resapan, septictank dan bak kontrol harus cukup lebar untuk bekerja dan sisinya dijaga dari longsoran.

c. Semua pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan baik serta tidak mengganggu lingkungan sekitar.

d. Semua galian saluran harus selalu dalam keadaan kering, tidak boleh tergenang air.

e. Galian tanah setelah mencapai kedalaman yang ditentukan, kemudian dipadatkan dan disiram dengan air.

f. Tanah hasil galian yang harus disingkirkan dengan lokasi penempatan sesuai petunjuk dari konsultan pengawas / direksi teknis.

g. Sisa tanah hasil galian yang tidak digunakan harus sudah diangkut/dibuang dari lokasi pekerjaan selambat-

lambatnya 1 x 12 jam sejak dilakukan penggalian.

10.3. Urugan tanah kembali Urugan tanah dilaksanakan pada lubang bekas galian dengan dipadatkan secara manual maupun mekanis dengan alat stamper. Semua urugan harus mencapai kerataan atas dengan disisakan ketinggian yang cukup untuk mengembalikan kondisi permukaan semula.

10.4. Urugan peninggian peil

a. Pekerjaan urugan dan pemadatan untuk peninggian peil bangunan harus disesuaikan dengan peil-peil (level) dan lokasi yang telah ditentukan didalam gambar dan mendapat persetujuan pengawas.

b. Bahan galian dari daerah pembangunan dapat dipergunakan, bila memadai untuk urugan dan penanggulan. Bahan urugan harus bersih dari unsur- unsur perusak dan harus disetujui konsultan pengawas. Bila perlu dapat dilakukan penyelidikan laboratorium, mekanika tanah yang disetujui oleh pengawas dimana segala biaya penyelidikan tersebut menjadi tanggung jawab kontraktor. Penggalian melebihi batas yang ditentukan harus diurug kembali sehingga mencapai kerataan yang diterapkan dengan bahan urugan yang dipadatkan Toleransi pelaksanaan yang dapat diterima untuk penggalian dan pengurugan adalah ± 100 mm, terhadap kerataan yang ditentukan. Pengurugan dilakukan lapis demi lapis (tiap 20 cm padat) yang selalu diikuti pekerjaan pemadatan.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

yang tidak melebihi 300 mm pada kedalaman gembur.

d. Gumpalan-gumpalan tanah yang harus digemburkan dan bahan tersebut harus dicampur dengan cara menggaru atau cara sejenisnya sehingga diperoleh lapisan yang homogen dan kemudian baru dilaksanakan pemadatannya. Setiap bahan haruslah sama dalam hal bahannya, kepadatannya dan kelembabannya sebelum pengerasan dilaksanakan.

e. Urugan tanah dipadatkan secara manual maupun mekanis dengan alat stamper.

f. Ketinggian (peil) disesuaikan dengan gambar.

10.5. Urugan Pasir Pekerjaan urugan pasir meliputi urugan pasir dibawah pondasi , urugan pasir dibawah saluran, serta urugan pasir dibawah paving .Semua urugan pasir dilaksanakan setelah pekerjaan sebelumnya telah mendapatkan persetujuan dari direksi/pengawas lapangan dan dilaksanakan dengan ketebalan/ketinggian sesuai dengan gambar rencana.

10.6. Urugan Sirtu Semua urugan Sirtu dilaksanakan setelah pekerjaan sebelumnya telah mendapatkan persetujuan dari direksi/pengawas lapangan dan dilaksanakan dengan ketebalan/ketinggian sesuai dengan gambar rencana.

11. PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN

11.1. Lingkup Pekerjaan Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat, bahan material, perlengkapan dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan pasangan dan plesteran.

11.2. Pasangan Pondasi Batu kali 1pc : 4 ps

a. Bahan batu adalah sejenis batu yang keras, liat dan mempunyai muka lebih dari 3 muka.

b. Memenuhi Peraturan Umum Pemeriksaan Bahan Bangunan (NI-3 1970).

c. Pasangan pondasi Batu kali dengan perekat 1pc : 4 ps dilaksanakan sesuai gambar rencana.

d. Celah - celah yang besar diantara batu - batu diisi dengan batu belah yang sesuai, batu-batu tidak boleh saling menyinggung dan selalu ada perekat diantaranya dan batu tidak boleh gundul (mempunyai minimal 3 sisi).

e. Batu yang digunakan adalah batu belah, tidak boleh berupa batu gundul, dan tidak boleh dipukul / dipecah dengan bodem didekat alur pondasi.

f. Sebelum dipasang batu - batu harus dibersihkan dari kotoran / tanah.

g. Finishing pekerjaan pasangan batu kali memakai siar

h. Pemasangan batu tidak boleh dijatuhkan langsung dari atas, dan harus diatur dengan baik agar tidak berongga.

a. Pasangan Batu bata 1pc : 4 ps Bermutu, matang, keras, ukuran-ukuran sama rata dan saling tegak lurus, tidak

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

retak-retak, tidak mengandung batu, dan tidak

berlubang-lubang.

b. Ukuran : 22 x 11 x 5 cm atau sesuai ukuran yang ada di pasaran dengan catatan sejenis ukurannya/sama.

c. Memenuhi syarat-syarat PUBB (NI.3-1956) Kontraktor harus menyerahkan sample bata yang akan dipakai untuk mendapatkan persetujuan dari pengawas. Batu bata yang ternyata tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari site.

d. Proporsi adukan

1 pc : 4 ps

(2) Pasangan waterproof (kedap air) 1 pc : 3 ps

(1) Pasangan biasa

e. Bata merah sebelum dipasang harus direndam atau disiram air sampai buihnya habis.

f. Setelah permukaan pondasi dan sloof disiapkan dengan baik, batu bata dipasang dengan adukan setebal antara 1,5 2,5 cm.

g. Bata tidak boleh dipasang pada waktu hujan lama atau hujan besar. Adukan yang hanyut karena hujan harus segera disingkirkan.

h. Bata harus dipasang dengan baik, rata, horizontal, dikerjakan dengan alat-alat pengukur datar ataupun tegak (“lot”, dsb), sambungan sama rata, sudut persegi pada tegak tidak segaris (silang), permukaan baik dan rata, “bergigi” (tiap sambungan saling menutup).

i. Setiap hari hanya diperkenankan memasang setinggi 1 m kecuali dengan seijin pengawas.

j. Jika setelah pekerjaan pemasangan ternyata ada bata yang menonjol atau tidak rata, maka bagian-bagian ini harus dibongkar, dan diperbaiki kembali atas biaya kontraktor, kecuali bila pengawas mengijinkan penambalan-penambalan.

k. Bata yang pecah dengan ukuran kurang dari setengah tidak dibenarkan untuk dipakai. Untuk yang patah dua tidak boleh melebihi dari 5% (lima persen).

l. Pasangan dinding harus secara kontinyu dibasahi dengan air.

m. Penguatan untuk pasangan bata dilakukan menurut kebutuhannya atau atas petunjuk-petunjuk konsultan pengawas. Kolom-sloof-balok praktis untuk penguat pasangan bata harus dibuat sedemikian rupa sehingga maximum setiap luas 12 m2 pasangan bata harus

dikelilingi oleh penguat-penguat (kolom-sloof-balok praktis) tersebut.

n. Pada sisi lain tegak yang berhubungan dengan beton/kolom harus dipasang angkur diameter 6 mm, panjang 30 cm dari muka beton dengan jarak tiap 40 cm sepanjang sisi tegak.

o. Bila ada pembuatan steiger werk / perancah tidak boleh menembus tembok / dinding.

11.3. Plesteran 1pc : 4 ps tebal 15 mm finishing acian

a. Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat,

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

bahan material, perlengkapan dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan plesteran dan acian camp.

1pc : 3 ps dan 1pc : 5ps.

b.

Bahan plesteran harus bersih, tidak boleh tercampur dengan kotoran-kotoran atau bahan lain yang dapat mengurangi kerekatan.

c.

Semua bidang yang akan diplester harus dibersihkan dari

kotoran yang melekat dan disiram dengan air. Sebelumnya dibuat kepala plesteran (klabangan) dengan tebal yang sama dengan ketebalan plesteran yang

direncanakan. Plesteran yang baru saja selesai tidak boleh langsung difinishing/ diselesaikan. Penyelesaian plesteran menggunakan pasta semen yang sejenis.

d.

Plesteran harus menggunakan jalur-jalur kepala vertikal selebar ± 15 cm dengan jarak antara paling besar 100

cm

satu sama lain, jalur kepala ini harus benar-benar

vertikal dan datar. Jalur kepala ini merupakan patokan/pedoman untuk plesteran selanjutnya.

e.

Bidang-bidang yang telah selesai diplester harus segera dikontrol dengan mistar yang panjangnya tidak boleh kurang dari 200 cm.

f.

Selama proses plesteran harus disiram dengan air agar tidak terjadi retak-retak rambut akibat penyusutan yang diakibatkan oleh pengeringan yang terlalu cepat dan tidak merata. Pengadukan harus diatas alas atau papan atau bahan kedap air yang lain.

g.

Apabila terdapat cekungan, cembungan, ataupun plesteran tidak vertikal (tegak) dan tidak siku, maka harus diperbaiki selambat lambatnya dalam waktu kurang dari 2 x 24 jam.

h.

Sebelum beton diplester harus dibersihkan terlebih dahulu permukaannya kemudian dikasarkan dengan kaprotan 1PC:2Psr.

i.

Pengacian dilakukan dengan PC setipis mungkin, rata dan rapi, pengacian dilakukan dengan raskam kayu sehingga seluruh permukaan rata dan halus.

j.

Acian yarg sudah jadi harus dirawat atau dijaga proses pengeringannya agar tidak mendadak pengeringannya, dengan cara rnenyiram air sedikit demi sedikit.

k.

Kepada Penyedia Jasa Pemborongan, jika terdapat macam plesteran yang belum tercantum dalam RKS dan gambar yang dianggap meragukan untuk dimintakan petunjuk

dan penjelasannya kepada Penyedia Jasa Konsultan Pengawas atau Penyedia jasa Konsultan Perencana atau

tim

teknis.

.

11.4. Pasangan Conblock ( Paving block)

a. Pasir yang digunakan sebagai urug di bawah pasangan conblock adalah pasir urug, dipakai tebal 10 cm.

b. Conblock yang digunakan adalah conblock K.200 t. 6 cm sekualitas Mutiara/Diamond.

c. Bidang conblock yang terpasang harus benar-benar rata dengan memperhatikan muka tanah sesuai gambar.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

detail, atau petunjuk direksi teknis / konsultan pengawas. e. Lebar siar-siar harus sama, membentuk garis lurus, sesuai dengan gambar dan siar-siar harus diisi dengan pasir.

12. PEKERJAAN BETON DAN BETON BERTULANG

12.1. Lingkup Pekerjaan

a. Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat, bahan material, perlengkapan dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan beton.

b. Beton terdiri dari campuran semen, air, dan Agregat ( Pasir dan split). Tidak boleh ada material lain yang diijinkan kecuali dengan persetujuan Penyedia Jasa Konsultan Perencana, Pengawas atau Direksi pekerjaan. Setelah beton mengeras, maka harus diperoleh suatu material yang rapat, padat dan awet yang akan mempunyai beton karakteristik sesuai spesifikasi.

12.2. Kode dan Standar

a. PUBI 1970/NI-3 & ASTM untuk air beton

b. PBI 71 NI-2; PUBI 1970/NI-3 & ASTM untuk agregat beton

c. SII 1984 & ASTM C150 untuk bahan semen

d. SII 1984; BS 4449 atau BS 4461 untuk baja tulangan

e. PBI 71; BS 8100 & ASTM untuk Campuran Beton

f. SK SNI T-15-1991-03

12.3. Bahan Beton

a. Semen Portland (PC) (1) Semen yang dipakai harus memenuhi SII 0013-77 yang tahan terhadap sulfat dan harus ditegaskan dengan ASTM C-150 tipe IV untuk bangunan disekitar laut, dan ASTM C 150 tipe I untuk struktur dan bangunan di darat. Semen harus sampai di tempat kerja dalam kondisi baik serta dalam kantong-kantong semen asli dari pabrik. (2) Semen harus disimpan dalam gudang yang kedap air, berventilasi baik, di atas lantai setinggi 30 cm. Kantong-kantong semen tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 lapis. (3) Semen yang menggumpal tidak boleh dipakai.

b. Agregat (pasir, split atau batu pecah) (1) Agregat kasar untuk beton dipakai batu pecah split dengan ukuran max. 25 mm dari jenis batu keras dan tahan aus. Butiran yang lapuk, lonjong dan pipih tidak diperkenankan melebihi prosentase yang disyaratkan dalam standar PBI 1971; PUBI 1982 dan ASTM.

(2) Agregat halus adalah pasir sungai atau dari sumber lainnya yang memenuhi syarat kebersihan, kekerasan dan gradasi butir yang sesuai dengan standar PBI 1971 dan ASTM. Quarry material harus

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

mendapatkan persetujuan direksi. (3) Agregat yang tidak memenuhi spesifikasi teknik, namun bisa dibuktikan dengan uji khusus bahwa agregat tersebut menghasilkan kekuatan beton yang dikehendaki, bisa digunakan asal diperoleh ijin dari direksi. Agregat tidak mengandung alkali reaktif. Agregat harus diuji dengan standar B 55835/SII

0455-81

c. Besi Tulangan. (1) Tulangan harus memenuhi standard dan dimensi yang tertera dalam gambar. Tulangan adalah BJTD (ulir) harus memenuhi tegangan leleh minimum fy = 320 Mpa dan BJTP (polos) yang mutunya harus memenuhi tegangan leleh minimum 240 MPa (di periksa dengan standar SII, BS 4449 atau BS 4461). (2) BJTP digunakan lebih kecil/sama dengan 12 mm dan

BJTD digunakan lebih besar 12 mm. (3) Tulangan hendaknya disimpan di rak di atas tanah dan didukung sepanjang tulangan hingga tidak bengkok. (4) Kualitas dan diameter nominal dari baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian laboratorium, yang pada prinsipnya menyatakan nilai kuat - leleh dan berat per meter panjang dari baja tulangan dimaksud. (5) Tulangan harus terlindungi dari hujan kelembaban udara dan sebagainya, dan karat-karat harus dibersihkan dan memenuhi kriteria SII 0136-84. (6) Tidak diperkenankan tulangan diikat dengan las, kecuali terdapat petunjuk pada gambar rencana atau atas ijin direksi. Deformasi las harus memenuhi BS

4483.

d. Bendrat Bendrat atau kawat pengikat harus berukuran minimal 1 mm, kualitas baik dan tidak berkarat.

e. Air Air untuk campuran dan untuk pemeliharaan beton harus dari air bersih dan tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak mutu beton.

f. Semua bahan yang dipergunakan harus mendapat persetujuan Penyedia Jasa Konsultan Pengawas dan

Direksi Teknis. Dalam keadaan diragukan, maka Penyedia Jasa Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis berhak minta Pemeriksaan Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik yang sudah terakreditasi atas biaya Penyedia Jasa Pemborongan.

12.4. Cetakan Beton a. Begesting harus cukup kuat, menggunakan kayu kalimantan klas III atau kayu tahun lokal yang baik dan tidak bocor (kedap air).

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

b. Acuan untuk cor beton disyaratkan menggunakan

multiplek tebal minimum 9 mm dengan rangka pangaku dari rusuk-rusuk kayu, sedemikian rupa sehingga dapat dipakai berkali-kali untuk masing-masing lantai. c. Ukuran tebal multiplek dan rusuk pengaku tersebut harus mendapat persetujuan pengawas dan harus cukup kuat menahan gaya tekan beton cor dan tidak boleh berubah letaknya selama proses pengecoran berlangsung. d. Kayu steger dengan diameter minimal 7,5 cm, jarak pemasangan maximal 50 cm, konstruksi cetakan beton tidak boleh menggunakan bambu. e. Pemasangan begesting dan steger harus benar dan kokoh, sehingga dimensi dan peil sesuai dengan dimaksud.

12.5. Pekerjaan Besi Beton

a. Pekerjaan besi beton harus dilaksanakan sesuai ketentuan gambar bestek dan peraturan yang berlaku.

b. Pembengkokan tulangan harus dilaksanakan pada kondisi dingin, dengan panjang kait dan panjang penyaluran tegangan sesuai ketentuan.

c. Hubungan antara besi beton satu dengan harus dipergunakan kawat beton, diikat dengan teguh, tidak menggeser selama pengecoran beton dan besi beton bebas dari tanah (werkvloer) atau tidak melekat dengan papan acuan.

d. Pengetesan mutu besi beton juga akan dilakukan setiap saat bilamana dipandang perlu oleh pengawas. Semua biaya percobaan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab kontraktor.

12.6. Beton Deking

a. Beton deking dari campuran 1pc:3ps

b. Ukuran tebal beton deking, menyesuaikan dengan tebal selimut beton sedang panjang/lebarnya kurang lebih 5 x 5 cm.

c. Tiap beton deking supaya diberi kawat beton untuk dapat diikatkan dengan besi tulangan, sehingga posisi beton deking terjamin ketepatannya.

d. Beton, deking supaya dipasang secukupnya, sehingga

menjamin ketebalan selimut beton.

12.7. Mutu Beton Mutu beton untuk Pembuatan beton struktur dan pengunci paving adalah menggunakan beton mutu f'c = 18,68 Mpa (K 225), Slump (12 ± 2) cm, w/c = 0,58.

12.8. Pembuatan Komposisi Beton

a. Penentuan komposisi campuran beton harus melalui prosedur mix design dan trial mix terhadap beberapa alternatif perbandingan campuran yang dianggap terbaik untuk menghasilkan beton K-225 sebagaimana diminta.

b. Pemborong harus membuat benda uji dengan ketentuan dan jumlah benda uji sekurang-kurangnya mengikuti ketentuan dalam PBI 71 sub bab 4.6.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

design) tersebut kepada direksi selambat-lambatnya 4 minggu sebelum pekerjaan beton dilakukan untuk selanjutnya disetujui dibuat percobaan campuran, pengujian nilai slump, pembuatan benda uji (silinder diameter 15 cm dengan tinggi 30 cm) hingga diperoleh hasil uji kuat tekan umur 7, 14 dan 28 hari.

d. Proposal mix design yang diajukan harus memuat secara lengkap macam dan sumber bahan-bahan beton yang akan digunakan disertai hasil pengujian karakteristik masing-masing bahan.

e. Kekentalan Banyaknya air untuk campuran beton harus ditentukan sedemikian rupa sehingga tercapai sifat mudah dikerjakan sesuai dengan penggunaannya. Untuk mencegah terjadinya air pada campuran beton berlebihan atau kurang, nilai slump harus berada dalam batasan yang disyaratkan PBI1971 seperti tabel di berikut

ini : Slump = 12 ± 2 cm

Campuran Beton yang tidak memenuhi persyaratan slump tidak boleh digunakan dalam pekerjaan. 12.9. Perancah dan Begesting

a. Perancah harus memakai bahan kayu yang bermutu baik, kayu harus memenuhi peraturan konstruksi Kayu Indonesia ( PKKI - 1961 ) dan disetujui Penyedia Jasa Konsultan Pengawas / Direksi.

b. Jarak Steger / Perancah maximum 40 cm serta diberi kayu pengaku antar perancah.

c. Ketinggian perancah / steger sesuai dengan konstruksi gambar rencana.

d. Pekerjaan begesting memakai kayu yang kuat, rapi dan kaku, sehingga setelah dibongkar memberikan bidang yang rata dan hanya memerlukan sedikit penghalus.

e. Untuk pekerjaan kolom, balok, plat papan begesting dilapisi dengan multiplek agar produk beton menjadi beton expose.

f. Sebelum pengecoran, sisi dalam dari begesting harus disiram dengan air dan bebas dari kotoran atau benda - benda yang tidak diperlukan.

g. Pengawas dan Direksi Teknis harus mengecek perancah dan begesting sebelum dilaksanakan pengecoran.

12.10. Selimut beton

a. Yang dimaksud dengan selimut beton adalah jarak terkecil dari permukaan luar beton jadi dengan ujung atau permukaan logam (besi tulangan, kawat beton atau logam lainnya yang terdapat dalam struktur beton tersebut) terdekat.

b. Selimut beton dibuat sesuai kebutuhan yang termuat pada PBI 71 N.I-2 kecuali ada ditunjukkan dalam gambar.

c. Penggunaan pemisah antara baja beton dengan bekisting dibuat dengan tahu beton untuk menjamin tebal selimut tidak berobah saat pengecoran, dan tidak boleh dibuat dari kayu atau logam lainnya.

12.11. Penyetelan dan Penempatan Tulangan Beton

a. Pemasangan tulangan beton khususnya jarak-jarak antar

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

tulangan, kelurusan, bengkokan dan panjang overlap sambungan harus mengikuti ketentuan PBI 71 Bab.8.

b.

Pembengkokan tulangan harus tenaga ahli dengan menggunanakan alat tidak boleh menimbulkan cacat, retak, patah dan sebagainya.

c.

Sebelum meletakkan tulangan pada bekisting, hendaknya bekisting dalam kondisi bersih dari karat, campuran yang menyebabkan kerusakan pada tulangan. Diletakkan di atas tahu beton yang menjamin ketepatan posisi dan tebal selimut.

d.

Tebal selimut beton dan pabrikasi tulangan beton hendaknya mengikuti saran yang termuat di dalam PBI- 71 dan hal-hal lain yang termuat di dalam gambar.

12.12.

Pembuatan /Pengecoran Beton

a.

Sebelum dilaksanakan pengecoran beton, Pengawas dan direksi teknis harus mengecek / mengontrol:

(1) Penulangan beton (2) Begesting dan Steger (3) Kesiapan pelaksanaan meliputi : Alat pengaduk beton (molen), Alat pemadat beton (vibrator), Alat Pengangkut, Tenaga kerja dan kesiapan bahan bahan yang digunakan.

b.

Sebelum pengecoran kebersihan cetakan beton dan kebenaran serta ketepatan pemasangan besi beton harus diperhatikan sebaik-baiknya.

c.

Celah-celah antara papan harus cukup rapat sehingga pada waktu pengecoran tidak ada air adukan yang keluar.

d.

Tinggi jatuh penuangan harus kurang dari 1,5 m. Penggumpalan yang tebal dihindari agar tidak terjadi hidrasi pada cuaca panas.

e.

Semua beton harus memenuhi CP 110 BS 1881 atau PBI 71. Ketika beton dicor pada kondisi cuaca panas, maka perlu dilakukan tindakan preventif agar tidak terjadi retak. Pengecoran pada cuaca panas harus memenuhi CP 110 atau PBI 71.

f.

Semua bahan beton hendaknya dicampur secara mekanis dengan takaran komposisi menggunakan ukuran berat.

g.

Kontraktor harus membuat benda uji (silinder diameter 15 cm dengan tinggi 30 cm) pengambilan benda uji didasarkan pada ASTM C.94 Semua benda uji ditest di lab.yang telah terakreditasi pemerintah dan disetujui oleh direksi, hasil pengujian diserahkan ke direksi.

h.

Pengambilan benda uji tiap 6 m3 atau setiap kali pengecoran.

i.

Kekentalan campuran beton harus diuji dengan slump test sebagaimana diatur dalam PBI; SII dan ASTM. Untuk beton dilaut ditetapkan nilai slump test tidak boleh melebihi 7 cm.

j.

Frekuensi pelaksanaan slump test, pembuatan dan pengujian serta jumlah benda uji selama pelaksanaan pengecoran harus mengikuti ketentuan yang tertuang dalam PBI 71 dan/atau SII 84.

k.

Pada pengecoran pada daerah sempit dilakukan dengan mempertimbangkan kedalaman, jika diarahkan oleh

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

direksi, bisa dilakukan dengan membuka sisi bekisting sementara dengan lebih dulu memberikan kesempatan beton untuk mengering dan konsolidasi.

l. Pengecoran beton pada bekisting dengan ujung siku-siku, tekukan, baut, angkur baja, baut konektor, pipa, celah lobang, sasis atau segala sesuatu yang akan terpasang pada saat pengecoran, pengecoran harus sampai selesai dan tidak boleh ada penghentian pengecoran jika tidak ada ijin dari direksi secara tertulis. m.Pada pengecoran baru (sambungan antara beton lama dan

beton baru), maka permukaan beton lama terlebih dahulu harus dibersihkan dan dikasarkan dengan menyikat menggunakan sikat kawat baja sampai agregat kasar tampak, kemudian disiram dengan calbon dan selanjutnya seperti yang telah dijalankan sebelumnya.

n. Tempat dimana pengecoran akan dihentikan harus mendapat persetujuan dari pengawas.

o. Pengecoran harus betul-betul padat dengan menggunakan pemadat mekanis (vibrator) yang disetujui Penyedia Jasa Konsultan Pengawas/ Direksi pekerjaan.

p. Penyedia Barang/Jasa dalam pelaksanaan pengecoran senantiasa menginformasikan jadwal pelaksanaan pekerjaan.

12.13. Pemadatan Beton

a. Setelah campuran beton dituangkan dalam acuan ( begesting ), harus diikuti dengan pemadatan dengan memakai alat getar (Vibrator)

b. Vibrator dicelupkan dalam campuran beton yang dituangkan pada acuan. Vibrator dilarang mengenai secara langsung penulangan dan pada tenpat - tempat beton yang telah mengeras. Pada setiap titik (bagian pemadatan beton), kerja vibrator tidak diperkenankan lebih dari 20 detik.

c. Vibrator yang digunakan adalah vibrator elektrik atau tipe hidrolik untuk memadatkan beton dengan frekuensi minimum 7000 impul per menit untuk menghasilkan harga slump 25 mm berjarak 50 mm dari vibrator.

12.14. Pembongkaran Acuan dan Perancah

a. Pembongkaran acuan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan PBI 1971 pasal 5 dan SK-SNI 1991.

b. Pembongkaran acuan dan perancah minimal beton tersebut dapat memikul beban sendiri (selama 28 hari)

c. Pembongkaran begesting harus hati - hati supaya sisi sudut tajam tidak rusak.

12.15. Standar Mutu (Standard of Acceptance)

a. Kuat tekan benda uji dalam rencana adalah kuat tekan karakteristik adalah kuat tekan rata-rata yang akan di dapat dari percobaan tekan benda uji berturut-turut dikurangi dengan 1,64 Sr.

b. Sr adalah standart deviasi yang diperhitungkan menurut rumus dalam SKSNI T-15-1991-03. Apabila dalam melaksanakan nanti kedapatan bahwa mutu beton yang dibuat seperti yang ditunjuk oleh benda ujianya gagal

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

memenuhi syarat spesifikasi, maka pengawas berhak meminta kontraktor supaya mengadakan percobaan

coring.

c. Percobaan-percobaan ini harus memenuhi syarat dalam SKSNI T15-1991-03.

d. Apabila masih gagal, maka bagian pekerjaan tersebut harus dibongkar dan dibangun baru sesuai dengan petunjuk pengawas. Semua biaya untuk percobaan dan akibat-akibat gagalnya pekerjaan tersebut menjadi beban biaya dari pihak kontraktor.

e. Kontraktor juga diharuskan mengadakan slump test menurut Syarat-syarat dalam SKSNI T 15-1991-03

12.16. Perawatan / pemeliharaan Beton

a. Penyedia Jasa Pemborongan harus memahami bahwa tahapan curing merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan ketahanan/keawetan beton di lingkungan agresif.

b. Pemeliharaan beton dilakukan setelah dilakukan pengecoran dalam pengeringannya harus dibasahi air atau goni yang basah.

c. Mempersiapkan perlindungan dari pengaruh sinar matahari sehingga tidak terjadi penguapan / pengeringan yang terlalu cepat.

d. Mempersiapkan perlindungan beton yang baru dicor dari kemungkinan datangnya hujan.

e. Sekurang-kurangnya metode pemeliharaan yang harus dilaksanakan adalah dibasahi secara terus menerus selama 2 minggu antara lain dengan menutupi dengan karung-karung basah sebagaimana diatur dalam PBI 71 sub bab 6.6. atau direndam dalam air.

13. PEKERJAAN

PENUTUP LANTAI

13.1. Lingkup Pekerjaan Bagian ini meliputi pengadaan bahan bahan, peralatan, tenaga untuk penutup lantai seperti yang ditunjukan dalam gambar pelaksanaan. Meliputi pekerjaan :

a. Pasir urug tebal 5 cm dibawah lantai

b.

13.2. Kode dan Standar

Seluruh pekerjaan harus sesuai dengan standar-standar yang diterapkan dalam :

a. NI-2-1971NI-2-1970

b. NI-8-1972SII-0241-1970

c. PUBI : Persyaratan umum bahan bangunan Indonesia

1982(NI-3)

13.3. Persyaratan Umum :

a. Pekerjaan finishing lantai baru boleh dilaksanakan setelah seluruh penutu atap selesai dan seluruh pemasangan lapisan lapisan pada dinding selesai dikerjakan.

b. Sebelum pekerjaan dilakukan. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengecekan terhadap peil lantai dan kemiringannya.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

berpengalaman dan mempunyai reputasi hasil pekerjaan yang baik.

d. Kontraktor harus mengusulkan shopdrawing pemasangan lantai secara detil , sebelum pemasangan.

13.4. Bahan bahan

a.

.

b.

Contoh bahan : Pelaksana harus mengadakan dan harus

menyerahkan contoh contoh ubin keramik yang dipakainya kepada Pengawas untuk mendapat persetujuannya.

c.

14. PEKERJAAN KERANGKA ATAP

13.5. Contoh Bahan

a.

b.

Persetujuan, sebelum mulai pemasangan, kontraktor harus membuat contoh pemasangan ( mock up ) yang memperlihatkan dengan jelas dengan lantai

14.1. Lingkup Pekerjaan Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat,

bahan material, perlengkapan dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan baja meliputi pemasangan rangka baja ringan dan rafter baja ringan pengganti usuk dan reng, Ikatan angin dan aksesori pelengkap lainnya untuk melengkapi pemasangan.

14.2. Standar/rujukan

a. Australian Standard

1)

AS 1163 Struktural Steel Hollows Sections

2)

AS 1170 Loading code

- Part

1

combination,

:

Dead

and

alive

- Part 2 : Wind loads

loads

dan

loads

3) AS 1538 Cold Formed Struntures Code 4) AS 1554 Structural Steel Welding Code 5) AS 4100 Steel Structures Code 6) AS 1397 Steel Sheet and Strip Hot Dipped Zinc Coated and Alumunium / Zinc coated 7) AS 3566 Self Drilling Screws for the Buiding and Constructions industries 8) AS 1650 Hot Dipped Galvanized Coating on Ferrous Articles 9) AS 4600 Cold Formed Code for Structural Steel

b. Japanese Industial Standart (JIS) :

JIS G 3302 Hot Dipped Zinc Coated Steel Sheets and Coils

c. American Welding Society AWS D 1.1. Structtural Welding Code Steel

14.3. Prosedur Umum

a. Desain 1) Desain sistem rangka atap terdiri dari pasangan usuk dan reng baja ringan, harus dilaksanakan oleh perusahaan terdaftar yang berpengalaman dalam

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

pemasangan sistem rangka baja ringan. 2) Desain, fabrikasi dan pemasangan rangka harus dilaksanakan sedemikian rupa agar rangka baja ringan mampu menerima beban rencana yang telah ditentukan. 3) Desain rangka atap harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi gerakan bagian rangka tanpa kerusakan atau tekanan berlebih, kegagalan pelapis, kegagalan sambungan, ketegangan yang tak semestinya pada alat pengencang dan angkur, atau akibat lainnya yang merusak ketika mengalami perubahan temperatur sekitar yang maksimal sekitar 20°.

b. Penyerahan Kontraktor harus menyerahkan data data berikut :

1) Data produk untuk setiap rangka baja ringan dan aksesori. 2) Data analisa struktur yang tertutup dan ditandatangani engineer profesional yang dipilih dan bertanggung jawab untuk mempersiapkannya. 3) Sertifikat pabrik yang ditanda tangani oleh pabrik pembuat rangka baja ringan yang menyatakan bahwa produk mereka memenuhi persyaratan, termasuk ketebalan baja tanpa lapisan, tegangan leleh, tegangan tarik, elongasi total dan ketebalan lapisan pelapis metal. 4) Sebagai pengganti sertifikat pabrik, kontraktor menyerahkan laporan pengujian dari agensi pengujian yang terdaftar yang membuktikan kesesuaiannya dengan persyaratan-persyaratan.

c. Jaminan Mutu 1) Kontraktor harus memperkerjakan fabrikator dan pemasang yang telah berpengalaman dengan bahan, desain rangka baja ringan yang sejenis dan dengan catatan pengalaman proyek yang berhasil. 2) Standar pengelasan harus memenuhi ketentuan AWS D1.1 atau AS 1554 edisi terakhir.

d. Pengiriman, penyimpanan dan Penanganan 1) Rangka baja ringan harus dilindungi terhadap karat, deformasi dan kerusakan lainnya selama pengiriman, penyimpanan dan penanganan. 2) Rangka baja ringan harus disimpan di ruang yang memiliki ventilasi cukup untuk mencegah kondensasi dan dilindungi dengan penutup tahan air.

14.4. Bahan-bahan

a. Lembaran Metal 1) Lembaran metal lapis seng / galvanized harus memenuhi ketentuan SNI 07-0132-1987 dengan tebal lapisan seng minimal 220 g/m² sesuai JIS G

3302-1994.

2) Lembaran metal lapis campuran seng dan alumunium harus memenuhi ketentuan AS 1397, dengan mutu baja 5500 kg/cm², sekualitas Zincalume buatan Blue Scope Steel Indonesia.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

b. Profil Rangka

Profil rangka yang akan digunakan harus sesuai dengan standar profil rangka yang dibuat oleh pabrikan pembuat sistem rangka baja ringan.

c. Manufacture / Pabrikan Penyedia jasa pemborongan harus menyampaikan kepada tim direksi tenis, konsultan pengawas dan konsultan perencana tentang pabrikan rangka atap baja ringan yang akan digunakan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, untuk mendapatakan persetujuan.

d. Aksesori rangka Aksesori rangka baja ringan harus dibuat dari bahan dan penyelesaian yang sama dengan yang digunakan untuk bagian-bagian rangka baja ringan, termasuk :

1)

Angkur, Klip dan Alat pengencang

Baja profil dan klip harus dilapisi seng dengan proses celup panas

Baut angkur pasang di tempat dan tiang harus dari baut kepala segi enam dan tiang berbahan baja karbon, mur berbahan baja karbon, dan cincin pelat. Semua harus berlapis seng dengan proses celup panas.

Angkur ekspansi harus dipabrikasi dari bahan tahan karat, yang memiliki kemampuan menumpu, tanpa kegagalan, sebuah beban yang besarnya 5 (lima) kali lipat beban rencana.

Angkur type powder actuated harus merupakan sistem alat pengencang yang sesuai untuk aplikasi yang ditunjukkan dalam gambar kerja, difabrikasi dari bahan anti karat, dengan kemampuan menumpu, tanpa kegagalan, sebuah beban yang besarnya 10 (sepuluh) kali lipat beban rencana.

Alat pengencang mekanikal harus mempunyai

2)

sekrup type self drilling, selft threading steel drill yang memiliki lapisan anti karat. Bahan bahan lainnya

Cat untuk perbaikan lapisan seng harus memenuhi ketentuan SSPC-paint 20 atau DOD-

P-21035

Adukan encer harus memenuhi ketentuan

spesifikasi teknis 03600. 14.5. Pelaksanaan pekerjaan

a. Fabrikasi 1) Maksimalkan fabrikasi di pabrik pembuat dan penyusunan / perakitan bagian sistem rangka baja ringan.

Fabrikasi rangka rakitan dalam cetakan / pola

Potong bagian rangka dengan gergaji atau gunting besar, bukan dengan api

Kencangkan bagian rangka baja ringan dengan baut, rivet atau skrup sesuai rekomendasi engineer dari pabrik pembuat. Tidak diijinkan

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

melakukan pengencangan dengan kawat. 2) Fabrikasi setiap rakitan rangka metal dengan toleransi kesikuan maksimal 3 mm.

b. Pemasangan 1) Harus memenuhi persyaratan fabrikasi seperti disebutkan diatas. 2) Memasang usuk menggunakan profil baja ringan C pada gording baja profil. Pemasangan usuk harus rata permukaannya, lurus dengan jarak yang sama. Sambungan antara usuk baja ringan dengan gording menggunakan baut dan tidak diperkenankan disambung dengan menggunakan las. 3) Pasang rangka usuk baja ringan dan aksesori agar vertikal, tegak lurus empat sisi, sesuai dengan garis yang telah ditentukan, dan dengan sambungan yang kencang. 4) Pasang bagian rangka dalam satu bagian panjang utuh bila memungkinkan. 5) Sambungan muai harus dibuat terpisah dari baja ringan dengan cara sesuai persyaratan. 6) Pasang rangka baja ringan dalam batas variasi toleransi maksimal yang diijinkan dari vertikal, elevasi dan garis yang telah ditentukan, 3 mm dalam 3000 mm (1 : 1000) 7) Memasang reng baja ringan diatas profil C Baja ringan. Jarak reng disesuaikan dengan panjang gentengnya dengan ketentuan jarak penutup memanjang tiap genteng tidak kurang dari 70 mm. 8) Pemasangan reng harus lurus, jaraknya sama, rata permukaan atasnya, supaya genteng yang dipasang bisa rapat tidak bergelombang yang akan mengakibatkan tampias/ kebocoran. Pemasangan genteng harus rapi, lurus dan rapat. Pada kemiringan atap yang lebih dari 45 0 pada genteng harus dipaku pada reng supaya tidak jatuh.

c. Perbaikan dan Perlindungan Persiapkan dan perbaiki lapisan seng yang rusak pada rangka baja ringan yang telah difabrikasi dan dipasang dengan cat perbaikan lapisan seng yang sesuai dengan rekomendasi dari pabrik.

15. PEKERJAAN

PENUTUP ATAP

15.1. Lingkup Kegiatan :

Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat, bahan material, perlengkapan dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan pasang atap galvalum

15.2. Syarat Teknis

a. Penutup atap menggunakan atap galvalum, sebelum pemasangan kontraktor harus meyampaikan contoh material yang akan digunakan untuk dimintakan persetujuan dari direksi.

15.3. Pelaksanaan

a. Atap galvalum dipasang lurus dan rapi.

b. Sebelum dipasang Atap galvalum, pekerjaan konstruksi

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

atap harus lengkap dan kuat benar terlebih dahulu.

c. Pemasangan bubungan dilaksanakan setelah Pengerjaan pemasangan bubungan harus rapi, lurus, rata/ horizontal dan tidak terjadi retak-retak dan kebocoran.

16. PEKERJAAN ELEKTRIKAL

16.1.

Lingkup pekerjaan :

a. Pekerjaan listrik ini meliputi pengadaan, pemasangan instalasi dan daya, pengujian, pengesahan dari semua peralatan/material yang disebutkan dalam spesifikasi ini atau pengadaan dan pemasangan peralatan/material yang menunjang/mendukung sehingga sistem instalasi ini akan bekerja dengan baik.

b. Lingkup pekerjaan untuk proyek ini adalah sebagai berikut

:

(1) Pengadaan dan pemasangan panel listrik dan

junction box.

(2) Pengadaan dan pemasangan kabel didalam maupun diluar bangunan. (3) Pengadaan dan pemasangan instalasi penerangan dan stop kontak (4) Pemasangan lampu penerangan.

(5) Instalasi pentanahan. 16.2. Persyaratan umum

a. Pekerjaan instalasi listrik ini harus dilaksanakan oleh instalatir yang telah mempunyai surat pengakuan SPI dan SIKA golongan B dari PLN dan masih berlaku.

b. Gambar spesifikasi dan risalah aanwijzing merupakan suatu kesatuan yang saling mengikat dan melengkapi. Kontraktor harus menjalin hubungan yang baik dengan kontraktor lain dalam pekerjaan lain, sehingga didapat hubungan yang baik untuk secara bersama-sama menyelesaikan pekerjaan ini sesuai dengan jadual dan spesifikasi yang ditentukan.

c. Pada dasarnya untuk pelaksanaan pekerjaan instalasi listrik ini disamping Rencana Kerja dan Syarat-syarat ini berlaku :

(1) AVE,VDE dan PUIL 1987 (2) Peraturan/persyaratan yang dikeluarkan oleh Dinas Keselamatan Kerja setempat (3) Ketentuan yang dikeluarkan pabrik yang membuat mesin peralatan dan material yang digunakan pada proyek ini. (4) Peraturan/persyaratan lainnya yang berlaku syah di Indonesia. (5) Peraturan PLN setempat

d. Semua gambar-gambar kerja (Shop drawing) yang dibuat oleh kontraktor/instalatir listrik sebelum dilaksanakan terlebih dahulu harus mendapatkan persetujuan dari pengawas dilapangan paling lambat satu minggu sebelum pekerjaan dilaksanakan.

e. Setelah pekerjaan diselesaikan, kontraktor/instalatir listrik diharuskan menyerahkan gambar instalasi yang terpasang dan disahkan oleh PLN setelah diadakan

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

rangkaian tes uji sesuai dengan peraturan yang berlaku (misal : tes tahanan isolasi kabel/megger test, tes polaritas phase, test commissioning, dll).

f. Dalam hal pelaksanaan pemasangan instalatir ini akan dilaksanakan oleh instalatir listrik yang pertanggungjawabannya tetap menjadi beban kontraktor utama. Penunjukan instalatir listrik sebelumnya harus mendapat persetujuan dari pemberi tugas.

g. Dalam perhitungan biaya harus sudah termasuk :

(1) Biaya perijinan pengujian untuk instalasi dan bahan- bahan serta peralatan yang dipasang. (2) Biaya pengesahan instalasi ke PLN (3) Biaya (1) dan (2) dibebankan pada kontraktor

h. Inspeksi Kontraktor wajib membuat gambar-gambar rencana kerja untuk semua pekerjaan yang akan dilaksanakan, serta harus mendapat persetujuan dari pengawas. Gambar rencana kerja ini harus tersedia diruang kontraktor dan mudah diperiksa oleh pengawas. Setiap kemajuan pekerjaan harus di cantumkan pada gambar dan rencana kerja tersebut.

i. Ijin dan pemeriksaan Kontraktor bertanggung jawab penuh atas mutu instalasi dan peralatan yang digunakan. Semua ijin-ijin dan pemeriksaan dari badan pemerintah yang berwenang adalah merupakan tanggung jawab kontraktor sepenuhnya.

j. Koordinasi dengan pekerjaan lain Sebelum memulai pekerjaan, kontraktor wajib Cross Cheking antara gambar instalasi listrik dengan gambar/spesifikasi dari pekerjaan yang lain yang berhubungan satu dengan yang lainnya agar didapat mutu pekerjaan yang baik.

Bila terdapat kelainan dari gambar-gambar maupun spesifikasi dari pekerjaan lain kontraktor wajib melaporkan kepada pengawas atau pemberi tugas.

k. Pengawasan

Kontraktor wajib dan bertanggungjawab atas semua pekerjaannya. Kontraktor wajib menempatkan tenaga pengawas dan tenaga ahli untuk mengawasi pekerjaannya sendiri. Penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan harus selalu berada ditempat pekerjaan dan dapat mengambil keputusan penuh, demi kelancaran pekerjaan. 16.3. Bahan dan material

a. Semua material/bahan yang digunakan/dipasang harus dari jenis material berkualitas terbaik dalam keadaan baru (tidak dalam keadaan rusak atau afkir), sesuai dengan mutu dan standart yang berlaku, baik standar nasional maupun internasional. Instalatir dalam hal ini kontraktor, bertanggung jawab penuh atas mutu dan kualitas material yang akan dipakai, setelah mendapat persetujuan dari pengawas atau direksi teknis.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

b. Sebelum dilakukan pemasangan-pemasangan instalatir harus menyerahkan contoh-contoh (sample) dari bahan- bahan yang akan di pasang/digunakan kepada pengawas.

c. Daftar merk peralatan/material yang akan digunakan, katalog dan brosur harus dilampirkan dalam dokumen tender, bila kemudian hari ada kelainan antara daftar dengan pengadaannya maka kontraktor wajib mengganti semua peralatan yang telah dipasang. Bila ternyata peralatan tidak sesuai dengan daftar yang

diajukan/disetujui pengawas atau yang memberi tugas, semua penggantian merk/jenis dari peralatan yang telah disetujui dalam daftar akan diadakan perhitungan pekerjaan tambah kurang dari biaya kontrak. 16.4. Pelaksanaan

a. Pengadaan dan pemasangan kabel didalam maupun diluar bangunan:

(1) Semua hantaran, baik yang ditarik dalam pipa, kabel,

harus diusahakan tidak tampak dari luar.

(2) Semua tarikan kabel harus tidak ada sambungan (3) Ukuran dari penghantar disesuaikan dengan gambar (4) Kabel atau hantaran dengan bahan sekualitas Supreme, kabel metal atau Kabelindo. (5) Pengadaan dan pemasangan instalasi penerangan

dan stop kontak baik 3 phase maupun satu phase.

(6) Hantaran ke titik penerangan dan stop kontak dalam

bangunan, menggunakan kabel jenis NYM yang dilindungi dengan pipa PVC disesuaikan dengan

kebutuhannya. sedangkan ukuran pipa minimal 20

mm dari klas AW merk Wavin.

b. Pemasangan dibagian bawah langit-langit (1) pemasangan pelindung kabel (conduit) yang berada dalam kolom, lantai beton dan dinding beton, harus dilaksanakan sebelum pengecoran. (2) Pemahatan atau pembobokan harus dilakukan sebelum dinding yang bersangkutan diplester/ditalud.

c. Kotak-kotak sambung (1) Tempat-tempat sambungan/kotak-kotak sambung dari hantaran sedapat mungkin ditempatkan pada yang mudah dicapai oleh operator. (2) Kotak-kotak sambung harus digunakan dari jenis

Doos-doos yang berkwalitas baik cocok untuk keperluan tersebut (sekualitas EGA, MK, Clipsal). (3) Pada ujung-ujung hantaran yang akan disambungkan pada titik penerangan atau yang akan disambungkan kepada peralatan atau titik penerangan harus dilengkapi dengan kotak sambungan dengan ujung yang mempunyai sambungan klem baut. (4) Semua sambungan hantaran dengan hantaran harus dilaksanakan dengan menggunakan klem baut dan harus terlindung dengan bahan isolasi dari sentuhan yang mungkin timbul. (5) Sambungan antar hantaran dengan menggunakan

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

rel-rel dari panel selama tidak menggunakan klem baut, pada ujung hantaran harus dipasang sepatu- sepatu hantaran yang berkapasitas sama dengan hantarannya dan disolder penuh pada hantarannya. 16.5. Saklar dan Stop Kontak

a. Lampu SL 18 W dan SL 8 W (1) Fitting dari jenis porselin dan menggunakan armature jenis down light sekualitas Artolite. (2) Konstruksi : outbow (3) Warna disesuaikan dengan arsitektur (4) SL : jenis day light sekualitas Philips

b. Kabel listrik (1) Kabel NYA 2,5sqmm sekw Supreme

c. Saklar dan stop kontak (1) Saklar warna putih dari merk “BROCO” standart, sambungan dalam (inbow) (2) Tinggi saklar dipasang 1,5 m dari permukaan lantai (3) Saklar dengan kapasitas 6A/250 Volt. (4) Stop kontak satu phase maupun tiga phase dengan jenis putar, sehingga pada keadaan tidak terpakai bagian yang bertegangan bebas dari sentuhan- sentuhan yang mungkin timbul, menggunakan merk Berker standard. (5) Stop kontak dengan sistem tertanam dalam tembok (inbow) dan harus diketanahkan. (6) Tinggi stop kontak minimal 30 cm dari lantai (7) Letak pasti dari saklar dan stop kontak harus dikonsultasikan dengan konsultan pengawas/direksi teknis.

a. Pengujian tahanan sebaran tanah (1) Pengujian dilakukan oleh kontraktor dengan disaksikan oleh pengawas (2) Pengujian untuk tahanan sebaran tanah dapat digunakan dengan alat uji tahanan sebaran tanah elektronik. (3) Tahanan maximum sebaran tanah untuk arde panel

maximum 2 ohm ()

b. Pengujian dimasuki Tegangan Setelah pengujian pada 5.1 dan 5.2 dinyatakan baik instalasi baru dapat diuji dimasuki tegangan. Dalam pengujian dimasuki tegangan yang perlu diuji ialah :

(1) Keadaan instalasi lampu-lampu dan peralatan pengaman selama 3 x 24 jam (uji Nyala 3 x 24 jam). Penggunaan daya listrik ditanggung oleh kontraktor. (2) Saklar-saklar dapat berfungsi untuk mematikan dan menghidupkan serta tidak terjadi panas yang berlebihan. (3) MCB dapat bekerja dengan baik dan tidak terjadi panas yang berlebihan. (4) Lampu-lampu dapat menyala, stop kontak ada tegangan listriknya dan grounding berfungsi dengan baik. (5) Kotak-kotak sambung melekat dengan erat tidak terjadi las kontak. Pengujian tersebut harus didata

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

(disusun) dengan baik minimum 24 jam dan dibuatkan berita acaranya. Bila pengujian tersebut dimasuki tegangan dan menggunakan listrik dari PLN/pemilik kegiatan/user, kontraktor wajib dibebani biaya pengganti pemakaian listrik setelah ada ijin dari pemilik kegiatan/user. c. Hasil yang tidak baik (1) Bila didapat hasil pengujian yang tidak memenuhi persyaratan, kontraktor harus segera memperbaiki. (2) Pengawas berhak memerintahkan kepada kontraktor untuk membongkar pekerjaannya bila hasil uji tidak memenuhi persyaratan karena kecerobohan pekerja kontraktor. (3) Setelah diadakan perbaikan dan dianggap sudah memenuhi persyaratan oleh pengawas, pengujian dapat diulangi atas tanggungan biaya kontraktor. (4) Pengujian harus dilakukan sampai mendapat hasil sesuai dengan pasal-pasal diatas.

17. PEKERJAAN

17.1.

Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan Pasang Paving Block

PAVING

BLOCK

Pekerjaan yang tercakup dalam sub bab ini meliputi

 

17.2.

kelengkapan peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat, bahan material, perlengkapan dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan Pekerjaan pemasangan Paving Block sesuai dengan gambar rencana.

 

a. Paving Block harus buatan pabrik dengan mutu beton K-300, tebal 8 cm sekualitas Mutiara.

b. Ukuran, bentuk dan warna conblok yang digunakan harus sesuai dengan gambar detail rencana atau sesuai dengan petunjuk Pengawas Jasa Konstruksi/Konsultan Pengawas.

c. Bidang Paving Block yang terpasang harus benar-benar rata dengan memperhatikan muka tanah sesuai gambar.

d. Pola pemasangan Paving Block harus sesuai dengan gambar detail, atau petunjuk Pengawas Jasa Konstruksi/Konsultan Pengawas.

e. Lebar siar-siar harus sama, membentuk garis lurus, sesuai dengan gambar atau sesuai petunjuk Konsultan Pengawas, dan siar-siar harus diisi dengan pasir.

f. Lubang Peresapan harus sesuai dengan gambar detail, atau petunjuk Pengawas Jasa Konstruksi/Konsultan Pengawas.

 

17.3.

Pekerjaan Pasang Kanstin

a. Pasangan kanstin menggunakan beton setara K 225 dilaksanakan sesuai gambar rencana.

b. Sebelum dipasang kanstin harus dimintakan persetujuan dari Konsultan Pengawas / Direksi Teknis mengenai dimensi.

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

SPESIFIKASI TEKNIS DUSUN MEJING WETAN DESA AMBARKETAWANG

d. Pemasangan kanstin harus benar-benar lurus dan elevasi harus sesuai dengan gambar rencana atau sesuai persetujuan dari Konsultan Pengawas / Direksi Teknis.

18. PEKERJAAN

PENERANGAN

JALAN UMUM

24.1 Lingkup Pekerjaan penerangan jalan umum meliputi:

a. pekerjaan galian tanah untuk pondasi tiang lampu

b. pekerjaan beton kualitas setara K 225 untuk pondasi tiang lampu

c. pekerjaan pemasangan tiang lampu menggunakan pipa GIP lengkap dengan ornamen

d. pemasangan lampu dan instalasi

e. Pemasangan penerangan jalan umum harus sesuai dengan gambar rencana atau sesuai persetujuan dari Konsultan Pengawas / Direksi Teknis.

19. PENUTUP Segala sesuatu yang belum tercantum dalam Rencana Kerja dan Syarat Syarat (RKS) ini akan dibahas kemudian dalam pemberian penjelasan pekerjaan (aanwijzing).

Menyetujui, Pejabat Pembuat Komitmen

Dibuat Oleh :

Konsultan Perencana CV. Citra Matra Ardhitama

Akhid Ruswanto, SPd Direktur