Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN STUDI KASUS

PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Sindrom Koroner Akut (SKA)


1.1.1 Definisi

Sindrom Koroner Akut (SKA) yang biasa dikenal dengan penyakit jantung
koroner adalah suatu kegawat daruratan pembuluh darah koroner yang terdiri dari
infark miokard akut dengan gambaran elektrokardiografi (EKG) elevasi segmen ST
(STEMI), infark miokard akut tanpa elevasi segmen ST (Non STEMI) dan angina
pektoris tidak stabil (APTS).
Infark miokard akut adalah sebuah kondisi kematian pada miokard (otot
jantung) akibat dari aliran darah ke bagian otot jantung terhambat atau terganggu.
Infark miokard akut ini disebabkan adanya penyempitan atau penyumbatan
pembuluh darah koroner. Dan pembuluh darah koroner ini adalah pembuluh darah
yang memberikan makan serta nutrisi ke otot jantung untuk menjalankan fungsinya
(PERKI, 2015).

1.1.2 Etiologi
Suplai oksigen ke miokard berkurang disebabkan oleh 3 faktor :
-Faktor pembuluh darah : Aterosklerosis, Spasme, Arteritis
-Faktor sirkulasi : Hipotensi, Stenosos aurta, insufisiensi
-Faktor darah : Anemia, Hipoksemia, polisitemia
(Kasuari, 2002)

1.1.3 Patofisiologi

Secara umum regional IMA disebabkan oleh karena terjadinya trombosis


pada lesi plak aterosklerotik culprit, penyebab lain yang termasuk sangat jarang
terjadi diantaranya adalah diseksi arteri koroner spontan, arteritis koroner, emboli
koroner, spasme koroner dan penekanan myocardial bridges. Plak aterosklerotik
yang terganggu pada ateri koroner akan menstimulasi agregasi platelet dan formasi
trombus. Trombus ini akan menyebabkan terjadinya oklusi pada pembuluh darah
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

sehingga mengurangi perfusi ke miokard (Simon, 2001). Pembuluh darah koroner


adalah akibat dari penebalan plak yang merupakan penyebab primer berkurangnya
aliran darah sehingga terjadi iskemia, namun data terbaru saat ini mendukung
bahwa ruptur dari plak yang tidak stabil dan rapuh yang berkaitan dengan
perubahan proses inflamasi merupakan penyebab dari keadaan ini. Berbagai studi
dengan teknik pengambilan gambar in Vivo pada manusia serta keberhasilan terapi
antitrombotik dan fibrinolitik pada SKA menguatkan peranan trombosis terhadap
patomekanisme SKA (Pearce et al., 2007).
1.1.4 Klasifikasi
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
elektrokardiogram (EKG), dan pemeriksaan marka jantung, Sindrom Koroner Akut
dibagi menjadi:
1. Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI: ST segment
elevation myocardial infarction)
2. Infark miokard dengan non elevasi segmen ST (NSTEMI: non ST
segment elevation myocardial infarction)
3. Angina Pektoris tidak stabil (UAP: Unstable Angina Pectoris)
Infark miokard dengan elevasi segmen ST akut (STEMI) merupakan
indikator kejadian oklusi total pembuluh darah arteri koroner. Keadaan ini
memerlukan tindakan revaskularisasi untuk mengembalikan aliran darah dan
reperfusi miokard secepatnya, secara medikamentosa menggunakan agen
fibrinolitik atau secara mekanis, intervensi koroner perkutan primer. Diagnosis
STEMI ditegakkan jika terdapat keluhan angina pektoris akut disertai elevasi
segmen ST yang persisten di dua sadapan yang bersebelahan. Inisiasi tatalaksana
revaskularisasi tidak memerlukan menunggu hasil peningkatan marka jantung
(PERKI, 2015).

1.1.5 Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan penunjang diperlukan dalam rangka membantu
mengklasifikasikan jenis infark miokard yang sedang diderita oleh pasien,
pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan elektrokardiogram dan pemeriksaan marka
jantung.
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

a) Elektrokardiogram
EKG memberi bantuan untuk diagnosis dan prognosis. Semua pasien
dengan keluhan nyeri dada atau keluhan lain yang mengarah kepada iskemia harus
menjalani pemeriksaan EKG 12 sadapan sesegera mungkin sesampainya di ruang
gawat darurat. Sebagai tambahan, sadapan V3R dan V4R, serta V7-V9 sebaiknya
direkam pada semua pasien dengan perubahan EKG yang mengarah kepada iskemia
dinding inferior. Sementara itu, sadapan V7-V9 juga harus direkam pada semua
pasien angina yang mempunyai EKG awal nondiagnostik. Sedapat mungkin,
rekaman EKG dibuat dalam 10 menit sejak kedatangan pasien di ruang gawat
darurat. Pemeriksaan EKG sebaiknya diulang setiap keluhan angina timbul kembali
(PERKI, 2015). Elevasi segmen ST menunjukkan karakteristik EKG IMA STEMI
sedangkan Depresi gelombang ST menunjukkan karakteristik EKG IMA NSTEMI.
b) Pemeriksaan biomarka jantung
Kreatinin kinase-MB (CK-MB) atau troponin I/T merupakan marka
nekrosis miosit jantung dan menjadi marka untuk diagnosis infark miokard.
Troponin I/T sebagai marka nekrosis jantung mempunyai sensitivitas dan
spesifisitas lebih tinggi dari CK-MB. Peningkatan marka jantung hanya
menunjukkan adanya nekrosis miosit, namun tidak dapat dipakai untuk menentukan
penyebab nekrosis miosit tersebut (penyebab koroner/nonkoroner). Troponin I/T
juga dapat meningkat oleh sebab kelainan kardiak nonkoroner seperti takiaritmia,
trauma kardiak, gagal jantung, hipertrofi ventrikel kiri, miokarditis/perikarditis.
Keadaan nonkardiak yang dapat meningkatkan kadar troponin I/T adalah sepsis,
luka bakar, gagal napas, penyakit neurologik akut, emboli paru, hipertensi
pulmoner, kemoterapi, dan insufisiensi ginjal. Pada dasarnya troponin T dan
troponin I memberikan informasi yang seimbang terhadap terjadinya nekrosis
miosit, kecuali pada keadaan disfungsi ginjal. Pada keadaan ini, troponin I
mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi dari troponin T.
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

1.1.6 Penatalaksanaan Terapi


Penatalaksanaan terapi berdasarkan pada guideline yang sudah ada seperti
yang ada dalam dipiro edisi ke 9

Sedangkan Penatalaksanaan ST elevasi IMA menurut ACC/AHA 2013:


a. Pemberian oksigen
Suplementasi oksigen harus diberikan pada pasien dengan
saturasi oksigen arteri <90%. Pada semua pasien STEMI tanpa
komplikasi dapat diberikan oksigen selama 6 jam pertama.
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

b. Nitrogliserin
Pasien dengan nyeri iskemik di dada harus diberikan nitrogliserin
sublingual 0,4 mg setiap 5 menit dengan dosis maksimal 3 dosis. Setelah
melakukan penialaian seharusnya dievaluasi akan kebutuhan nitrogliserin
intravena. Intravena nitrogliserin ini diindikasikan untuk bila nyeri iskemik
masih berlangsung, untuk mengontrol hipertensi, dan edema paru.
Nitrogliserin tidak diberikan pada pasien dengan tekanan darah sistolik <
90 mmHg, bradikardi, (kurang dari 50 kali per menit), takikardi (lebih dari
100 kali per menit, atau dicurigai adannya RV infark. nitrogliserin juga
harus dihindari pada pasien yang mendapat inhibitor fosfodiesterase dalam
24 jam terakhir.
c. Analgesik Morfin sulfat
Analgesik Morfin sulfat (2-4 mg intravena dan dapat diulang
dengan kenaikan dosis 2 – 8 mg IV dengan interval waktu 5 sampai 15
menit)merupakan pilihan utama untuk manajemen nyeri yang disebabkan
STEMI. Efek samping yang perlu diwaspadai pada pemberian morfin
adalah konstriksi vena dan arteriolar melalui penurunan simpatis sehingga
terjadi pooling vena yang akan mengurangi curah jantung dan tekanan
arteri. Efek hemodinamik ini dapat diatasi dengan elevasi tungkai dan
pada kondisi tertentu diperlukan penambahan cairan IV dan NaCl 0,9%.
Morfin juga dapat menyebabkan efek vagotonik yang menyebabkan
bradikardia atau blok jantung derajat tinggi, terutama pasien dengan infark
posterior. Efek samping ini biasanya dapat diatasi dengan pemberian
atropine 0,5 mg.
d. Aspirin
Aspirin oral harus diberikan pada pasien yang belum pernah
mendapatkan aspirin pada kasus STEMI. Dosis awal yang diberikan 162
mg sampai 325 mg. Selanjutnya aspirin diberikan oral dengan dosis 75-162
mg.
e. Beta Bloker
Terapi beta bloker oral dianjurkan pada pasien yang tidak memiliki
kontraindikasi terutama bila ditemukan adanya hipertensi dan takiaritmia.
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Jika morfin tidak berhasil mengurangi nyeri dada, pemberian penyekat beta
IV, selain nitrat mungkin efektif. Regimen yang biasa digunakan addalah
metoprolol 5 mg setiap 2-5 menit sampai total3 dosis, dengan syarat
frekuensi jantung > 60 menit, tekanan darah sistolik > 100 mmHg, interval
PR < 0,24 detik dan ronki tidak lebih dari 10 cm dari diafragma. Lima belas
menit setelah dosis IV terakhir dilanjutkan dengan metoprolol oral dengan
dosis 50 mg tiap 6 jam selama 48 jam dan dilanjutkan 100mg tiap 12 jam.
f. Clopidogrel
Pemberian clopidogrel 600 mg sedini mungkin. Dan dilanjutkan
dengan dosis rumatan sebesar 75 mg per hari. Clopidogrel dapat
mengurangi progresivitas terjadinya aterosklerosis dan infark pada
pembuluh darah koroner.
g. Reperfusi
Semua pasien STEMI seharusnya menjalani evaluasi untuk terapi
reperfusi. Reperfusi dini akan memperpendek lama oklusi koroner,
meminimalkan derajat disfungsi dan dilatasi ventrikel dan mengurangi
kemungkinan pasien STEMI berkembang menjadi pump failure atau
takiaritmia ventricular yang maligna. Sasaran terapi reperfusi pada pasien
STEMI adalah door to needle atau medical contact to balloon time untuk
Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dapat dicapai dalam 90 menit
(Patrick, 2013). Reperfusi, dengan trombolisis atau PCI primer,
diindikasikan dalam waktu kurang dari 12 jam sejak onset nyeri dada untuk
semua pasien Infark Miokard yang juga memenuhi salah satu kriteria
berikut : ST elevasi > 0,1mV pada >2 ujung sensor ECG di dada
yang berturutan, ST elevasi >0,2mV pada >2 ujung sensor di tungkai
berturutan, Left bundle branch block baru.
Terdapat beberapa metode reperfusi dengan keuntungan dan
kerugian masingmasing. PCI primer merupakan terapi pilihan jika
pasien dapat segera dibawa ke pusat kesehatan yang menyediakan
prosedur PCI (Zafari, 2013). Pasien dengan STEMI harus menemui
pelayanan kesehatan dalam 1,5 – 2 jam setelah terjadinya gejala untuk
mendapatkan medikamentosa sedini mungkin. Pasien dengan STEMI
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

harus dilakukan terapi reperfusi dalam 12 jam awal. Terapi fibrinolitik


diindikasikan sebagai terapi reperfusi awal yang dilakukan pada 30 menit
awal dari kedatangan di Rumah Sakit (Patrick, 2013).
h. ASA
Apabila embolus yang beredar di sirkulasi sistemik mencapai otak,
dikhawatirkan dapat terjadinya iskemik pada otak yang selanjutnya dapat
meyebabkan stoke. Hal ini semakin memperberat keadaan pasien,
sehingga dengan pemberian ASA difungsikan untuk menurunkan agregasi
trombosit sehingga pembentukan trombis berkurang dan efek
antikoagulasi.
i. Isosorbid Dinitrat
Isosorbid Dinitrat menyebabkan relaksasi otot polos dan
vasodilatasi vaskular sehingga mengurangi tekanan pengisian dan
meningkatkan curah jantung pada arteriol kecil serta menurunkan
bendungan paru-paru
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

BAB II

LAPORAN KASUS

Inisial Pasien : Tn. IW Berat Badan : -kg Status : JKN

Umur : 62 tahun Tinggi Badan : -cm

Keluhan Utama :

Nyeri dada

Diagnosis :

STEMI inferior onset 2 jam killip II + TIMI 2/14 Grace 145 + HF stg CFC III st
CAD-HHD

Riwayat Penyakit : Hipertensi

Riwayat Pengobatan :

 Clopidogrel 75mg
 Simvastatin 20mg
 Furosemide 20mg
 Spironolakton 25mg
 Candesartan 80mg

Alergi : Tidak diketahui


Kepatuhan: - Obat-obat tradisional -
Merokok: Iya OTC -
Alkohol: - Lain-lain -
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Catatan Perkembangan Pasien

Tanggal Problem/Kejadian/Tindakan Klinisi

12/3 Pasien dilarikan ke IGD RSSA dengan keluhan nyeri dada kiri seperti
tertekan benda berat tembus punggung menjalar ke lengan kiri dan leher.
2 jam setelah MR, pasien sedang tiduran vas score 10/10 durasi >30 menit,
disertai keringat dingin. Pasien diberikan terapi ASA 4 tablet, clopidogrel
4 tablet, dan injeksi morfin 3mg secara IV vas score 3/10. Pasien
dipindahkan dari IGD ke ruang CVCU RSSA. Kondisi pasien lemah dan
mengalami nyeri dada.
13/3 Kondisi pasien masih lemah dan mengalami nyeri dada.

14/3 Kondisi pasien masih lemah, mengalami nyeri dada dan batuk.
15/3 Kondisi pasien lebih membaik, nyeri dada berkurang, dan sudah tidak
batuk
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Dokumen Farmasi Pasien

No. RM : 1072xxxx Diagnosis : STEMI inferior onset 2 jam killip II + TIMI 2/14 Grace 145 +
Nama : Tn. IW HF stg CFC III dt CAD-HHD
Umur/BB/TB : 62th/ 40kg/-cm Alasan MRS : Nyeri dada
Alamat : Malang Riwayat penyakit : Hipertensi
Status pasien : JKN

Tanggal Pemberian Obat


No. Nama obat dan dosis Rute
12/3 13/3 14/3 15/3
1 O2 10 lpm √
Nasal
2 O2 4 lpm √ √ √
3 Enoxaparin 2x0,6cc IV SC √ √ √ √
4 NaCl 0,9% 500ml/hari IVFD √ √ √ √
5 ISDN 2mg/jam IV drip √
6 Furosemid 20mg IV √ √
7 Asetosal 0-0-80mg PO √ √ √ √
8 Clopidogrel 75mg-0-0 PO √ √ √ √
9 Atorvastatin 0-0-40mg PO √ √ √ √
10 Furosemid 20mg-0-0 PO √ √
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

11 Spironolakton 0-25mg-0 PO √ √ √ √
12 Candesartan 0-0-8mg PO √ √ √ √
13 Laxadin 0-0-CI PO √ √ √ √
14 Diazepam 0-0-2mg PO √ √ √ √
15 ISDN 3x5mg PO √ √ √
16 N-asetilsistein 3x200mg PO √

Data Klinik

No. Data Klinik 12/3 13/3 14/3 15/3


1 Suhu (36-37°C) 36 36 36,2 36
2 Nadi (80-85x/menit) 80 80 87 92
3 RR (20x/menit) 20 20 22 20
4 Tekanan Darah (120/80mmHg) 118/82 110/60 107/79 115/85
5 KU (L=lemah, S=sedang, B=Baik) L L L S

6 GCS 456 456 456 456


7 Nyeri + + + +
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Data Laboratorium

Tanggal Komentar
No. Data Laboratorium
12/3 13/3  Peningkatan leukosit total (leukositosis)
1 Darah Lengkap : mengindikasikan adanya infeksi, inflamasi, nekrosis
Leukosit (3,5 – 10 x103/µL) 11,79 14,29 jaringan, atau neoplasia leukemik. (atmadja, 2016).
Hb (11 - 16,5 g/dl) 11,50 12,20  Hasil pemeriksaan BGA, nilai kadar HCO3 menunjukkan
Hematokrit / PVC (35.0 – 33,80 35,90 pasien cenderung mengalami asidosis metabolik. Hal ini
50.0 %) disebabkan karena hilangnya kapasitas ginjal untuk
Trombosit / PLT (150 – 390 x 233 258 mengeksresi asam dan menghasilkan buffer
103/µL)  Troponin T adalah suatu protein jantung yang terdapat
Eritrosit (4,0-5,5 x 106/µL) 4,21 4,41 pada otot lurik yang berfungsi sebagai regulator kontraksi
2 FH otot yang spesifik terhadap otot jantung. Kadar troponin
PTT (9,4-11,3 detik) 9,80 T darah meningkat dalam 4 jam setelah kerusakan
APTT (24,6-30,6 detik) 28,10 miokardium dan menetap selama 10-14 hari. Peningkatan
3 Kimia darah troponin T menunjukkan adanya kerusakan pada
Glukosa puasa (60-110 mg/dl) 87 miokarard (prasetyo, 2014).

Glukosa acak (<200 mg/dl) 101  kadar asam urat menunjukkan adanya peningkatan. Asam
Glukosa darah sewaktu 114 urat dalam tubuh di ekskresi melalui ginjal, ketika terjadi
Ureum / BUN (10 - 50mg/dl) 25,50 20,80 kerusakan ginjal, maka proses ekskresi asam urat
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Kreatinin (0,7 – 1,5 mg/dl) 1,39 1,49 terganggu sehingga menyebabkan kadar asam urat
SGOT / AST (11-41 24 meningkat
SGPT / ALT (10-41 38  Enzim CKMB adalah isoenzim Creatine Kinase (CK)
Albumin (3,5 – 5.0 g/dl) 4,14 yang terdapat pada berbagai jaringan terutama
4 Serum elektrolit miokardium dan ±20% pada skeletal. Kenaikan aktivitas
Na (135-145 mmol/L) 137 137 CKMB dapat mencerminkan kerusakan miokardium
K (3,5-5,0 mmol/L) 4,35 4,39 (prasetyo, 2014).
Cl (98-106 mmol/L) 109 109
5 BGA
Suhu 37,0 37,0
Hb 10,3 11,9
pH (7.35-7.45) 7,41 7,38
pCO2 (35-45) 32,6 34,5
pO2 (80-100) 165,8 162,1
HCO3 (21-23) 20,7 20,6
Saturasi O2 (>95%) 99,5 99,4
ekskresi basa (-)3 – (+)3 -4,2 -4,7
6 Jantung
Troponin I 1,90 0,50
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

(negatif bila <1,0 dan positif


bila ≥ 1,0)
7 Lemak darah
Kolesterol total (<200) 138
trigliserida (<150) 165
kolesterol HDL (>50) 37
kolesterol LDL (<100) 77
8 Faal ginjal
Asam urat (3,4-7,0) 8,1
9 Enzim jantung
CK-NAC (39-308) 508 133
CK-MB (7-25) 73 18
10 Faal Hemostasis
D-dimer (<0,5) 0,22
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Analisa Terapi

Tanggal Obat Rute Regimen Indikasi pada Pemantauan Komentar dan Alasan
Pemberian Dosis Pasien Kefarmasian
Obat
12/3-15/3 O2 Nasal 10 lpm Suplai O2 Saturasi O2 Pasien mengalami nyeri
4 lpm dada, karena kurang
mendapatkan suplai O2
sehingga perlu diberikan
suplai O2 secara NRBM.
Ketika kondisi pasien mulai
membaik pemberian NRBM
diganti dengan NC.
12/3-15/3 Enoxaparin IV SC 1x0,6cc Antitrombotik Tanda – tanda Lovenox berisi enoxaparin
penggumpalan termasuk golongan heparin.
darah Penggunaan lovenox sudah
tepat karena berfungsi
sebagai antitrombotik.
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

12/3-15/3 NaCl 0,9% IVFD 500ml/hari Resusitasi cairan Monitoring Pasien mengalami stemi
kadar elektrolit yang potensial terjadi
hiponatremi maka perlunya
pemberian cairan elektrolit.

12/3 ISDN IVFD 2mg/jam vasodilator Monitoring Awal pemberian ISDN secara
13/3-15/3 PO 3x5mg TTV dan nyeri drip diharapkan onsetnya
dada yang lebih cepat dan efek didalam
dialami pasien tubuh lebih lama
dibandingkan pemberian
secara peroral. Ketika kondisi
pasien ada peningkatan
membaik pemberian secara
drip diganti secara peroral.
14/3-15/3 Furosemid IV 20mg-0-0 Diuretik Monitoring Pemberian oral pada awal
12/3-13/3 PO 20mg-0-0 mengurangi udem balance cairan terapi berfungsi untuk
kondisi udem mengurangi edema perifer
dan edema paru, kemudian
dilanjutkan secara IV untuk
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

mendapatkan onset yang


cepat.
12/3-15/3 ASA PO 0-0-80mg Antiplatelet Monitoring Pemberian ASA bertujuan
tanda klinis mencegah terjadinya
terjadinya penggumpalan darah pada
bleeding, pasien stemi

APTT, PTT.
12/3-15/3 Clopidogrel PO 75mg-0-0 Antiplatelet Monitoring : Pemberian ASA bertujuan
tanda klinis mencegah terjadinya
terjadinya penggumpalan darah.
bleeding, Pemberian ASA dan
APTT, PTT. clopidogrel mempunyai efek
yang sinergis sebagai
antiplatelet.
12/3-15/3 Atorvastatin PO 0-0-40mg Antidislipidemia Monitoring pemberian atorvastratin
kadar LDL untuk menurunkan kadar
asam lemak yang tinggi
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

12/3-15/3 Spironolakton PO 0-25mg-0 Diuretik Monitoring Merupakan diuretik lemah


balance cairan yang berfungsi mengurangi
eksresi kalium
12/3-15/3 Candesartan PO 0-0-8mg Antihipertensi Monitoring Pemberian candesartan
tekanan darah bertujuan mengurangi
terjadinya penyempitan
pembuluh darah.
12/3-15/3 Laxadin PO 0-0-CI Laksatif Monitoring Bekerja dengan cara
frekuensi BAB merangsang peristaltik usus
besar, menghambat
reabsorpsi air dan melicinkan
jalannya fases. Pemberian
laxadin untuk mengatasi
konstipasi pada pasien
kardiovaskukar sebab pada
pasien ini tidak boleh
mengejan sehingga diberi
laksatif.
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

12/3-15/3 Diazepam PO 0-0-2mg Sedatif Monitoring Pemberian diazepam


kecemasan berfungsi sebagai sedatif,
pasien dimana pasien kardiovaskular
sering mengalami nyeri dada
yang dapat berefek susah
tidur sehingga perlu diberi
sedatif.
14/3 N-asetilsistein PO 3x200mg Mukolitik Monitoring Untuk mengencerkan dahak
frekuensi batuk yang menghalangi saluran
pernafasan.
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

ASUHAN KEFARMASIAN

Termasuk:
1. Masalah aktual & potensial terkait obat 3. Pemantauan efek obat 5. Pemilihan obat 7. Efek samping obat
2. Masalah obat jangka panjang 4. Kepatuhan penderita 6. Penghentian obat 8. Interaksi obat

TINDAKAN (USULAN PADA KLINISI,


OBAT PROBLEM
PERAWAT, PASIEN)

Enoxaparin Penggunaan enoxaparin berpotensi Monitoring APTT, PTT, dan serum kreatinin,
terjadi pendarahan tanda tanda perdarahan
Aspirin+clopidogrel meningkatkan efek pendarahan Monitoring PTT, APTT
Clopidogrel+enoxaparin meningkatkan efek farmakodinamik Monitoring PTT, APTT
sinergis
Aspirin+enoxaparin meningkatkan resiko pendarahan Monitoring PTT, APTT, hb
Candesartan+Spironolakton meningkatkan resiko hiperkalemi Monitoring kadar kalium
Candesartan+furosemide meningkatkan terjadinya hipotensi Monitoring tekanan darah
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Monitoring

Parameter Tujuan
APTT dan PTT Mengetahui efektifitas ASA dan clopidogrel yang berfungsi mengurangi kekentalan darah dan
mencegah terjadinya pembekuan darah.
LDL Mengetahui efektifitas atorvastatin untuk mengurangi kolestrol dan lemak jahat
Balance cairan Mengetahui efektifitas furosemide dan spironolakton untuk mengetahui produksi urin yang
dikeluarkan perharinya
TD Mengetahui efektifitas candesartan untuk mengatasi tekanan darah tinggi
Frekuensi BAB Mengetahui efektifitas laxadin sebagai laksatif
Kecemasan pasien Mengetahui efektifitas diazepam sebagai penenang/ mengurangi kecemasan pasien, pada pasien
kardiovaskular pada umumnya mengalami kesulitan tidur
Frekuensi sesak Mengetahui efektifitas isosorbid dinitrat dalam melebarkan pembuluh darah
Frekuensi batuk Mengetahui efektifitas N-acetylcystein untuk mengurangi batuk
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Konseling

No. Uraian Konseling


1. ASA Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk mengurangi kekentalan
darah dan mencegah terjadinya pembekuan darah. Obat diminum pagi hari satu
tablet sesudah makan.
2. Clopidogrel Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk mengurangi kekentalan
darah dan mencegah terjadinya pembekuan darah. Obat diminum pagi hari satu
tablet sesudah makan.
3. Atorvastatin Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk menurunkan kolestrol dan
lemak jahat. Obat diminum malam hari satu tablet sesudah makan.
4. Furosemid Injeksi Furosemid
Furosemid kompatibel dengan NaCl 0,9%. Di injeksikan selama 3-5 menit.
Apabila di injeksikan secara cepat akan menyebabkan telinga berdenging dan
tuli mendadak. Penyimpanan injeksi furosemide stabil selama 24 jam
Tablet Furosemid
Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk meningkatkan produksi
urin. Obat diminum pada pagi hari satu tablet sesudah makan. Obat ini memiliki
efek samping sering kencing.
LAPORAN STUDI KASUS
PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER PERIODE 104 BIDANG RUMAH SAKIT
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

5. Spironolakton Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk meningkatkan produksi
urin. Obat diminum pada siang hari satu tablet sesudah makan. Obat ini
memiliki efek samping sering kencing
6. Candesartan Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk mengobati tekanan darah
tinggi. Obat diminum pada malam hari satu tablet sesudah makan

7. Laxadin Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk memperlancar BAB.
Obat diminum pada malam hari satu sendok takar.
8. Diazepam Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk mengobati kecemasan/
sebagai penenang. Obat diminum pada malam hari satu tablet sesudah makan
9. ISDN Injeksi ISDN
ISDN kompatibel dengan NaCl 0,9% dan dextrose 5%. Penyimpanan stabil
selama 24 jam.
Tablet ISDN
Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk melebarkan pembuluh
darah. Obat diminum sehari tiga kali satu tablet sesudah makan.
10. N-acetylcystein Memberitahu kepada pasien pemberian obat ini untuk mengatasi batuk. Obat
diminum sehari tiga kali satu tablet sesudah makan.