Anda di halaman 1dari 11

Rindu Tak Berujung

Karya : Muhammad Faiz Syukron

Suara kentongan tua dari bambu yang sudah mulai rapuh bersautan dengan
derasnya air hujan yang berjatuhan dari langit pagi yang gelap. Saat itu merupakan bulan
Januari, di mana banyak orang menyangkut-nyangkutkan nama bulan itu menjadi sebuah
akronim yang memiliki kepanjangan “Hujan sehari-hari”, entah darimana asal akronim itu,
namun orang yang membuatnya pastilah pintar karena memang seperti inilah keadaannya.
Hujan sepanjang hari, tak ada aktivitas berat, tubuh tertarik oleh magnet kasur dengan erat,
seluruh badan terbungkus dalam hangatnya selimut besar nan berat dan bahkan ayam pun
berpikir dua kali untuk membangunkan orang-orang, takut jika kena lemparan batu
nantinya.

Merdunya suara adzan shubuh terdengar dari dalam masjid sebuah pondok
pesantren bernama pondok pesantren As-Salafi tempat aku menimba ilmu sekarang tepat
setelah berakhirnya pukulan ke sekian kali dari kentongan bambu yang membangunkan
tidurku. Tubuhku masih lemas terkapar di atas ranjang, namun sebagai seorang santri yang
sudah lama di pondok ini aku juga harus memberikan contoh baik bagi anak-anak pondok
baru. Kuberanjak keluar dari kamar dengan disambut angin dingin yang menggetarkan raga.
Udara pagi tak berwarna yang kuhirup namun asap putih yang kukeluarkan, menegaskan
bahwa hari ini memang benar-benar dingin. Aku mengganti pakaianku dengan baju koko
terbaik karena setelah ini aku akan mengunjungi rumah bosku, rumah bos dari segala bos
yang aku yakini, yaitu rumah Allah Swt atau masjid lebih tepatnya.

Adzan masih berkumandang, hujan di luar masjid masih saja tak hentinya menjatuhi
barang-barang tanpa pandang bulu, semuanya dikenai. Pepohonan, rerumputan, benda
mati semuanya basah seperti halnya beberapa bagian tubuhku ini, namun bukan karena
hujan, melainkan air wudhu yang baru saja aku ambil dari bagian samping masjid. Setelah
mengenakan peci hitam di kepala, kulangkahkan kaki kananku untuk memasuki masjid.
Kujumpai dua orang yang sudah tak asing lagi bagiku.

“Assalamu’alaikum, Kyai”

“Wa’alaikumsalam, Achnaf. Mari kesini dengarkan adzan sampai selasai dahulu baru
nanti kita bersama-sama sholat Qobliyah shubuh”

Kuhampiri Kyai Ahmad Jaelani dan kucium tangannya. Kyai Ahmad Jaelani
merupakan pendiri pondok pesantren ini, guru yang pertama kali aku rasakan bahwa dia lah
guru yang sebenarnya. Suara yang lembut tapi berwibawa, perawakan yang gagah
walaupun sedikit membungkuk, dan pastinya ilmu yang sudah meluap-luap di kepalanya lah
yang membuat diriku semakin kagum dan hormat. Umurnya sudah 79 tahun, namun belum
terlihat bahwa keadaannya sama tua dengan usianya. Selama usia hidupnya, dia banyak
berguru semasa kecil, pergi ke Mesir untuk menuntut ilmu pada masa mudanya, dan setelah
lulus hingga sekarang dia aktif dalam penafsiran kitab serta pembuatan buku-buku islam.
Hampir setiap orang yang berjumpa dengannya merasakan ketenangan hati karena seakan-
akan dia memiliki aura yang kuat pada wajahnya.
Satu orang lagi, yaitu si muadzin pemilik suara yang sangat indah, suara yang selalu
terngiang di telingaku setiap dia selesai adzan, yaitu Muhammad Syaif. Dia merupakan
seorang santri yang sejak kecil dititipkan oleh orang tuanya di pondok ini dan Kyai Ahmad
Jaelani pun sudah menganggap Syaif sebagai anaknya sendiri. Didikan pondok sejak kecil
dan perjalanan hidup panjang telah membuatnya menjadi seorang yang sholeh dengan
wajah yang alhamdulillah juga tampan. Banyak santriwati yang mengaguminya, namun di
pondok ini berlaku aturan bahwa antara lelaki dan perempuan tidak boleh terikat dalam
suatu hubungan yang dibalut akan rasa cinta antar keduanya.

Suara adzan berganti dengan suara iqamah, pertanda bahwa sholat shubuh
berjamaah akan segera dimulai. Masjid sudah ramai dengan jamaah dan seperti biasa Kyai
Ahmad Jaelani yang memimpin sholat berjamaah itu. Setelah selesai, seluruh jamaah
kembali ke kamar karena kegiatan mengaji sudah dilaksanakan malam hari tadi. Aku
langsung berganti kaos dan bersembunyi dalam pelukan selimut dari ganasnya dingin pagi
yang memangsa seluruh tubuhku.

Semburat cahaya matahari menyinari tetes demi tetes embun yang mulai berjatuhan
setelah pepohonan menerima derasnya hujan malam tadi. Kubuka mata dan kupandang
jendela kaca dari dalam kamarku, masih belum ada orang yang mulai beraktivitas, hanya
dua tiga ayam sedang melompat-lompat berebut laron-laron yang beterbangan
memamerkan sayapnya di antara tipisnya kabut putih. Aku melamun menikmati suasana
awal tahun yang sepi ini, hingga lamunanku pecah akan suara pukulan kaleng kosong bekas
roti yang dipukuli oleh Syaif.

“TOK... TOK... TOK... TOK...” Suara tak berirama dari kaleng yang nyaring di
telingaku. Sudah biasa hal ini dia lakukan untuk memanggil merpati-merpati peliharaannya
ketika waktu makan telah tiba. Tak usah menunggu lama, hewan peliharaan yang sudah
sangat akrab dengan Syaif itu pun langsung berbalap satu sama lain berebut yang tercepat
untuk menghampiri Syaif yang sudah siap dengan makanan favorit mereka, beras merah.

Aku tak peduli dengan kerumunan merpati itu, justru pikiranku masih terpana pada
seorang Muhammad Syaif. Aku bingung kenapa memorinya kembali teringat olehku pagi itu.
Kenangan masa lalunya menyeruak seketika di otakku. Memang orangnya biasa saja, tapi
jalan hidupnya lah yang sungguh luar biasa. Muhammad Syaif, seorang santri yang ditinggal
oleh orang tua dengan lika-liku kehidupan yang amat hebat.

***

“Bu, perutku lapar. Aku harus menunggu berapa lama lagi?”


“Bersabarlah, sebentar lagi ayahmu juga akan membawakanmu ikan hasil
tangkapannya.”
Sudah menjadi kebiasaan setiap pagi bagi seorang anak kecil bernama Muhammad
Syaif untuk tidak sarapan. Seakan-akan sarapan bukan merupakan kebutuhan primer
baginya. Pagi setelah bangun tidur dia sholat dan pergi ke sebuah kali untuk mandi pagi.
Setelah itu dia langsung berangkat sekolah tanpa memikirkan bagaimana kekosongan
perutnya yang meronta-ronta meminta suatu hal untuk mengisinya, makanan. Bapaknya
yang merupakan seorang nelayan tidak bisa diharapkan akan hasil tangkapannya. Kadang
membawa, kadang juga tidak karena ikan yang dia dapat langsung dijual agar mendapat
uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di rumah yang terbuat dari kayu
mahoni tua berukuran kecil itu Syaif tumbuh sebagai seorang anak yang berjuang dalam
kesederhanaan hidup yang tak dapat dielak.

Sejak kecil Syaif memang suka memelihara merpati dan ayam. Rutinitas tiap pagi
dan sore selain mandi adalah memberi makan pada hewan peliharaannya itu. Dia tidak bisa
berangkat sekolah jika belum memberi makan pada hewan-hewan kesayangannya.
Harapannya pada hewan itu adalah telur yang dapat dijual tiap pagi untuk mendapat uang
saku. Ketika berangkat sekolah dengan sepeda tuanya yang penuh karat, Syaif
mengayuhnya melewati hamparan sawah nan hijau, sungai dengan air yang berderu di
telinga, dan pemandangan gunung yang menjulang tinggi dengan membawa telur-telur
ayam untuk dijual agar dia mendapat uang saku. Dia tidak malu untuk menjajakan terlebih
dahulu telur itu di pasar yang terletak di antara rumah dan sekolahnya. Kadang kala jika
sedang beruntung ada ibu-ibu yang membeli telurnya dengan harga yang tinggi, mungkin
karena merasa iba pada Syaif. Dari sinilah karakter dalam dirinya terbentuk, tidak ada rasa
gengsi dalam dirinya. “Aku gengsi, maka aku akan mati” begitu kira-kira yang selalu dia
pikirkan.

Jarak antara rumah dan sekolah Syaif tidak bisa dikatakan dekat. Kira-kira berjarak 5
km jauhnya. Peluh yang berjatuhan dan membasahi seragam bukan merupakan
pemandangan yang asing bagi Syaif. Kadang juga dia harus telat jika sepeda tuanya
mengalami masalah saat sedang perjalanan. Bapak Ibu guru juga sudah memaklumi
mengingat keadaan Syaif yang memang seperti itu. Walaupun demikian, semangat Syaif
dalam menuntut ilmu tidak pernah pudar, dapat dilihat dari rangkingnya di kelas yang selalu
masuk 3 besar.

“Ringg...Ring...Ring...”

Bel tanda masuk berbunyi dengan kerasnya. Para siswa masuk kelas dengan rapi
diikuti bapak/ibu guru yang mengajar. Syaif baru saja melewati sebuah plang bertuliskan
“SMP Bina Insan” yang merupakan sekolah di mana dirinya menuntut ilmu. Hanya ada 97
siswa di sekolah ini dan di kelas 8 hanya berjumlah 26 siswa yang dijadikan satu kelas.
Orang tua Syaif menyekolahkan anaknya di sini karena sekolah ini merupakan sekolah
paling murah di daerah tempat tinggal Syaif. Lagi-lagi masalah biaya yang dialami oleh
keluarga Syaif.

Syaif berlari memasuki kelas dengan nafas tersengal-sengal. Sepeda tuanya dia
banting begitu saja karena takut kena marah Pak Seto guru sosiologi yang saat itu mengajar
di kelasnya. Dia langkahkan kaki memasuki kelas dan segera mencari tempat duduk yang
kosong. Hanya ada satu bangku yang masih kosong, tepat di sebelah perempuan yang
selalu dipandangnya setiap hari, perempuan yang selalu ada dalam pikirannya tiap malam,
perempuan yang menjadi saingannya dalam mendapat rangking terbaik di kelas, yaitu
Maritza. Sudah lama Syaif mengagumi seorang Maritza karena raut wajahnya yang cantik
dan kepintaran yang Maritza miliki, rasa cinta pun juga tumbuh dalam diri Syaif, walaupun
itu hanya sekedar cinta monyet. Pagi itu, penat dan lapar yang melandanya seakan-akan
langsung hilang diterpa sinar dari wajah manis Maritza si pujaan hati. “Beruntung sekali aku
hari ini”, begitu celetuk Syaif sambil meringis kegirangan. Dia langsung menghampiri bangku
kosong dan duduk di sana.

Bel istirahat pertama berbunyi dengan keras. Syaif hanya memandangi teman
kelasnya yang tertawa riang bermain bola basket di lapangan. Lamunannya kosong
meratapi nasib perut yang bergoyang-goyang di balik seragam kusam. Matanya sayu dan
hanya buku komik kecil yang dipegangnya, bukan dibaca tapi hanya dibawa saja sebagai
formalitas belaka. Hingga setelah beberapa menit ada hembusan angin dari samping badan
yang merangsangnya untuk menoleh, dilihatnya senyum indah dari sang gadis idaman,
Maritza.

“Makanlah, aku dapat mendengar suara perutmu yang meronta-ronta itu!”

Maritza memberikan Syaif berupa roti selai yang dibawanya dari rumah. Dengan
mata berbinar-binar Syaif juga mengulurkan tangannya mengambil roti itu. Tak banyak kata
yang diucapkan keduanya. Maritza balik badan lalu pergi sedangkan Syaif melahap roti itu
dengan beribu pertanyaan di pikiran mengapa Maritza sangat baik padanya. Dia heran,
namun hanya sebatas rasa heran saja yang dia dapat rasakan dan lakukan, dia tak berani
menanyakannya pada teman sebangkunya itu.

Penatnya pelajaran matematika siang itu membuat cuaca yang sudah panas menjadi
lebih panas lagi dirasakan di hati dan pikiran. Kelopak mata memaksa untuk menyelimuti
kedua bola mata. Begitupun dengan Syaif yang saat itu bahkan sudah tertidur sejak 5 menit
pelajaran baru dimulai. Hingga beberapa menit kemudian Maritza, teman bangkunya
menjatuhkan bolpoin dan kaget.

“Aduh”

Syaif terbangun dari tidurnya dan reflek langsung mengambil bolpoin Maritza yang
jatuh. Tak disangka ternyata Maritza juga mengambilnya. Kedua kepala mereka berbenturan
hingga menimbulkan suara yang lumayan keras. Semua mata di ruang kelas itu
memandangi mereka berdua dan bersorak ramai. Kelas yang tadi sepi sekarang menjadi
gaduh tak terkontrol. Syaif dan Maritza yang mengalami hal tak diduga itu pun langsung
berusaha saling membuang muka dengan pipi mereka yang merah merona. Salah tingkah
juga tidak dapat dihindarkan. Syaif pura-pura mengambil buku matematika di tasnya,
padahal buku yang dia cari sudah berada di atas meja. Seisi kelas semakin menjadi
tertawanya.

Sepulang sekolah terdapat pemandangan yang aneh, tidak seperti biasanya Syaif
berdiri dengan sok gagah di depan garbang. Tak disangka ternyata dia menunggu Maritza.
Bukannya apa-apa, dia hanya ingin berbalas budi pada Maritza yang telah memberinya
makanan dengan akan mengantarkan si gadis itu pulang ke rumahnya. Maritza mulai terlihat
mendekat ke pagar sekolahan, dengan senyum lebar Syaif menuntun sepeda tuanya
mendekati Maritza.

“Kamu aku antar pulang ke rumah ya? Hitung-hitung balasan yang tadi siang.”
“Tidak usah, aku ikhlas kok, lagian aku juga akan pulang dengan teman-teman
cewek yang lain.” Jawab Maritza.

“Iya, aku tahu. Tapi hanya kali ini saja. Aku merasa tidak enak pada dirimu.”

“Baiklah, tapi jangan apa-apakan aku ya” canda Maritza yan kemudian tertawa.

Putaran demi putaran roda sepeda tua Syaif telah membekas sejauh hampir 2 km
dari sekolah. Sampailah mereka di sebuah jembatan dengan sungai yang airnya tenang
seperti udara kala siang itu, tenang tidak ada angin, namun panas matahari tetap saja
menyengat di kulit. Di samping sungai terdapat pohon belimbing dengan buah yang sudah
mulai masak berwarna kuning tua. Syaif menyandarkan sepedanya pada tiang jembatan dan
mengambil dua buah belimbing masak yang dapat diraihnya hanya dengan melompat. Satu
untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk Maritza. Mereka menikmati buah itu di samping
sungai sembari melihat tenangnya arus sungai, mendengar gemericik air karena ikan yang
menari-nari, dan merasakan keteduhan dalam panas yang luar biasa di bawah rindangnya
pohon belimbing. Mereka bercengkerama dan bersenda gurau dalam sebuah memori kecil
saat itu.

Waktu ke waktu tak terasa cepat berlalu. Sepeda tua yang tadi seperti kelebihan
muatan sekarang telah kembali menjadi normal karena Maritza sudah sampai di rumahnya.
Syaif dengan cepat mengayuh sepedanya karena belum sholat Ashar dan matahari kala itu
sudah mulai bergerak menjauhi garis tegak lurus dengan bumi. Sampai di rumah dia
bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat. Dengan khusyuk dia
beribadah dan memohon pada Allah Swt agar dirinya senantiasa diberi rezeki. Selesai sholat
Syaif menghampiri kedua orang tuanya yang saat itu berada di dapur. Mimik wajah orang
tuanya tak seperti biasa sehingga Syaif tak berani untuk memulai pembicaraan. Keheningan
terjadi sesaat, kemudian pecah karena suara ayahnya.

“Syaif, anakku, makanlah dulu sini. Ibumu sudah memasakkan makanan yang paling
sedap untukmu.”

Syaif hanya diam saja dan menuruti perintah ayahnya. Namun dalam hati dia merasa
ada sesuatu yang tidak beres. Setelah selesai makan ayahnya kemudian melanjutkan
perkataan.

“Gimana sekolahmu, If? Baik kan? Maaf bapak belum bisa menjadi ayah yang baik,
yang selalu memperhatikanmu. Bapak pun juga merasa gagal sebagai kepala keluarga
karena sebenarnya Bapak ingin mengatakan bahwa kamu tidak bisa melanjutkan sekolahmu
saat ini. Biaya hidup sekarang semakin berat, kapal yang Bapak gunakan untuk berlayar
masa kontraknya sudah habis, kita juga sudah tidak memiliki tabungan lagi, namun kamu
jangan bersedih. Jika kamu mau, Bapak dan Ibu akan menitipkanmu di sebuah pondok
pesantren agar kamu menjadi anak yang sholeh dan berhasil kelak. Sekali lagi maafkan
bapak dan ibu.” Ayah Syaif mengeluarkan keputusan yang tentunya sangat berat diterima
anaknya. Sengaja dia mengatakan ini setelah Syaif selesai makan agar anaknya tidak
tersendak. Sudah pasti Syaif kaget, wajahnya memerah dan dia langsung masuk ke kamar.
Ibu Syaif yang dari tadi hanya diam menahan air mata kini sudah tidak dapat lagi
membendungnya dan berlinanglah air mata di kedua pipi keriputnya. Suasana kembali sepi.
Keesokan hari setelah melewati dinginnya malam yang menyelimuti kesedihan Syaif,
dia tidak lagi mengenakan seragam sekolah yang biasa dia lakukan. Dengan langkah pasti
dia temui Bapaknya dan berkata, “Pak, jika yang kemarin adalah yang terbaik untuk kita,
maka aku ikhlas menerimanya.” Ayah Syaif tersenyum walaupun tetap saja merasa iba pada
anaknya yang justru terkena imbas karena dirinya yang belum dapat menjadi kepala
keluarga yang baik.

Seminggu sudah Syaif tidak berangkat sekolah. Teman-teman kelasnya bingung


mengapa dia tidak berangkat. Begitu juga Maritza yang merupakan teman sebangkunya.
Hingga akhirnya wali kelas datang memberikan kabar bahwa Syaif tidak dapat melanjutkan
sekolah dan sekarang dia dititipkan di sebuah pondok pesantren bernama As-Salafi. Maritza
lah yang paling tertekan menerima kabar ini. Sebenarnya dia memendam perasaan berbeda
pada Syaif. Tidaklah tanpa sebab memberikan roti pada seorang teman padahal dia sendiri
belum makan, tidaklah wajar mau meninggalkan teman-teman karena ingin diantar oleh
seorang lelaki, tidaklah biasa saja merasakan sakit sesakit ini setelah mendengar bahwa
seseorang pindah sekolah, kalau bukan semua itu didasari oleh perasaan cinta.

***

Ayam jago masih berkokok ketika waktu menunjukkan pukul 7 pagi, mungkin karena
si jago telat bangun. Kala itu pondok As-Salafi tak seperti biasanya karena bertambah satu
lagi penghuni, yaitu Syaif. Dia disambut dengan baik oleh Kyai Ahmad Jaelani dan murid-
murid lainnya. Orang tua Syaif nampak berbicara dengan Kyai dan menghampiri Syaif untuk
memberi ucapan selamat tinggal dan sebuah cincin akik untuknya. Air mata Syaif mengalir,
nafasnya terisak, dia mendapat rumah baru namun harus berpisah dengan orang yang
melahirkannya ke dunia.

Hari demi hari Syaif menjalani kehidupan pondok dengan senang hati. Ilmu akhlak,
aqidah, tajwid dengan mudah diterimanya. Dia pun sudah merasa tidak asing lagi dengan
tempat itu. Potensinya juga dia temukan di sini, yaitu suara yang merdu. Suara itu menjadi
modal yang baik bagi dirinya untuk menjadi muadzin dan qori’ah handal. Seminggu berlalu
belum ada hal janggal yang dia temukan. Dia justru menemukan keluarga baru yang sholeh
dan baik hati.

Minggu demi minggu berjalan tak terasa meghampiri. Syaif sudah hafal 2 juz al-
Qur’an. Tepat sebulan lewat 5 hari semenjak dia masuk ke ponpes ini ada murid baru yang
masuk. Semua orang menghampiri untuk melihat murid itu, begitupun Syaif. Alangkah
terkejutnya dia ketika melihat murid baru itu adalah teman yang dulu dia cintai, yaitu
Maritza. Mulutnya tidak dapat berkata-kata. Perasaan antara senang dan bingung
bercampur menjadi satu.

Sore hari ketika suasana mulai sepi dan orang-orang sudah mulai masuk kamar
menyiapkan datangnya malam hari Syaif menemui Maritza di halaman pondok pesantren.

“Kenapa kamu juga pindah ke sini?” Syaif memulai percakapan

“Apakah salah jika seseorang ingin memperdalam ilmu agama di pondok ini?” Jawab
Maritza dengan nada sinis.
“Bukannya begitu, jika itu keinginanmu kan kamu bisa saja mencari pondok
pesantren lain selain sini”

“Iya, aku tahu. Aku juga bisa menanyakan hal sedemikian padamu. Kenapa kamu
juga di sini?” Maritza menjawab dengan nada yang lebih tinggi.

“Sudahlah tidak akan ada habisnya kita membahas hal ini. Lebih menjurus saja.
Apakah kau mengikutiku? Apakah kau juga suka kepadaku seperti apa yang aku rasakan
padamu? Aku mencoba melalaikanmu namun sekarang gagal karena keberadaanmu di sini”
Syaif menghela nafas.

“Ya, aku suka kamu. Aku tidak bisa berbohong lagi dengan perasaan ini. Aku cinta
kamu. Memang kata orang cinta ini cinta monyet, namun aku tak peduli. Aku memaksa
orang tuaku untuk mengerus prosesku keluar sekolah dan melanjutkan belajar di pondok
pesantren ini. Selain itu aku juga ingin tetap bisa melihatmu setiap hari.” Maritza
meneteskan air mata.

“Hey, kendalikanlah dirimu! Ini lingkungan pondok. Tahan dulu rasa cintamu itu.
Perlu kau ingat satu hal bahwa aku juga mencintaimu tapi simpanlah rasa kita ini sampai
kita dewasa, fokuslah untuk menuntut ilmu di sini! Sudahlah jaga baik-baik dirimu.” Tanpa
kata lagi Syaif meninggalkan Maritza sendiri, air mata semakin deras membasahi pipi
Maritza. Cuaca mendung menjadi saksi kebiruan suasana hati Maritza kala itu.

Perkataan Syaif tempo itu tidak dapat sepenuhnya menahan rasa cinta Maritza.
Ketika mengaji atau mendengarkan bersama tausyiah dari Kyai Ahmad Jaelani, Maritza
tetap mencuri-curi pandang ke Syaif. Sebenarnya Syaif juga merasakan apa yang dirasakan
Maritza, namun dia tetap konsisten untuk membendung luapan gejolak cinta dan api asmara
dirinya walaupun selalu perih yang dirasakan.

Lambat laun, setelah jarum jam bermilyar kali berputar pada porosnya, Syaif dan
Maritza tumbuh menjadi besar. Sudah empat tahun terhitung sejak Syaif awal masuk ke
pondok As-Salafi. Kini Syaif telah berpangkat al-Hafidz karena sudah hafal 30 juz al-Qur’an
dan Maritza sudah benar-benar menjadi wanita sholehah, dapat dilihat dengan wajahnya
yang sudah tertutup oleh cadar. Di antara keduanya rasa cinta semakin lama tetap terjaga
keutuhannya, namun sekarang mereka merasa bahwa antara satu dengan yang lain sudah
tidak saling cinta karena telah lama tidak menjalin hubungan apapun. Pandang memandang
kadang kala masih terjadi baik Syaif maupun Maritza. Menahan rasa membuat diri justru
mati rasa, tak dapat diungkapkan dengan bicara dan hanya hati yang menahan lara
membuat diri masing masing juga ikut lara. Jika dipikir sudah tak sanggup lagi mereka
melanjutkan rasa cinta ini, namun yang namanya cinta tidak dapat dielak. Cinta itu datang
tiba-tiba, menetap mengambil separuh rasa, dan akhirnya ada yang berbuah bahagia atau
berakhir lara.

***

2 tahun berlalu Kyai Ahmad Jaelani yang sudah menganggap Syaif sebagai anaknya
sendiri (karena Syaif tidak pernah dijenguk oleh orang tuanya) menyuruh anak didik
sekaligus anak angkatnya itu untuk melanjutkan pelajaran agama ke luar daerah kepada
sahabat dari Kyai Ahmad Jaelani. Perasaan bimbang menyeruak di pikiran dan hati Syaif. Di
satu sisi dia harus menuruti Kyai karena sejak pertama masuk pondok ini dia lah yang
membiayai hidup dan mengajari Syaif mengenai berjuta ilmu agama dan ilmu kehidupan. Di
sisi lain, dia juga tidak rela harus meninggalkan si pujaan hati, Maritza yang telah susah
payah memperjuangkan dirinya hanya agar dapat melihat Syaif setiap hari.

“Saya tidak dapat memutuskan sekarang Kyai. Banyak pertimbangan yang perlu
Syaif pikirkan lagi. Maafkanlah saya.”

“Tidak apa-apa, Nak. Aku tahu perasaanmu. Ini merupakan keputusan dan jalan
yang besar. Harus berhati-hati dalam mengambilnya. Satu hal yang perlu kau ketahui lagi
engkau juga tetap akan kembali lagi ke pondok ini setelah ilmu yang diberikan oleh
sahabatku terserap semua olehmu. Aku tidak akan memaksakan ini padamu. Semua
keputusan tetap di tanganmu.”

Semalaman Syaif merenungi hal itu. Hampir tidak tidur dia dibuatnya. Hingga pagi
pun datang, dengan sopan santun dia menghampiri Kyai Ahmad Jaelani.

“Kyai, saya setuju” singkat dia katakan.

Kyai Ahmad tersenyum, dia menyuruh Syaif untuk segera berkemas. Syaif tetap
saja tertunduk, pikirannya penuh akan sosok Maritza yang sebentar lagi dia tinggalkan.
Maritza tidak bisa berlama-lama menunggu keputusan darinya. Dia harus segera menemui
sang pujaan hati untuk memberikan penjelasan apa yang dia alami dan bagaimana
kedepannya untuk hubungan mereka berdua.

Pondok pesantren ramai mengadakan tumpengan melepas kepergian Syaif. Semua


menjabat tangani Syaif dan mengucapkan berbagai doa-doa baik untuknya. Syaif membalas
doa itu dengan doa yang baik pula. Secara diam-diam dia mendatangi Maritza walaupun itu
melanggar peraturan bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh bertemu dan tatap mata
dalam waktu yang lama. Syaif mulai membuka pembicaraan.

“Maafkan aku yang terlalu egois. Maafkan aku tidak dapat selalu berada di
dekatmu. Kau tahu bahwa setelah ini aku akan meninggalkan pondok ini dan tentunya
dirimu yang aku kasihi. Tetap jagalah dirimu baik-baik. Kelak jika aku masih dapat kembali,
aku akan mempersuntingmu, tapi tetap saja jangan terlalu berharap akan hal ini. Hidupmu
tetaplah milikmu. Carilah tambatan hati lain jika kau ingin, bisa saja aku juga menemukan
sosok wanita yang itu adalah jodohku. Simpan rasa cinta selama kita tidak bertemu nanti
sebagai sebuah rindu, rindu yang sangat indah.”

Maritza hanya menganggukkan kepala. Dia tertegun tak menyangka ternyata Syaif
masih ada rasa untuk dirinya. Syaif tidak dapat berlama-lama dan langsung meninggalkan
Maritza menuju kereta kuda yang siap mengantar pergi. Cadar Maritza yang tadi kering
sekarang basah oleh linangan air mata. Burung-burung mengiringi kepergian Syaif menuju
ke tempat yang jauh, jauh dari Maritza.

***
Kehidupan baru di pondok pesantren baru bagi Syaif tidak bisa dikatakan nyaman
karena harus membiasakan diri hidup jauh dari Maritza. Hari demi hari, waktu demi waktu
telah sedikit demi sedikit menghapus bayangan Maritza dari angan. Syaif lebih fokus pada
pelajaran-pelajaran yang diberikan Syech Habib, teman Kyai Ahmad Jaelani. Di sini, Syaif
difokuskan agar dapat menjadi penerus Kyai Ahmad Jaelani selain putra kandungnya sendiri.
Betapa beruntungnya Syaif, walaupun kedua orang tuanya meninggalkannya, ternyata
masih ada orang sangat baik yang menyayanginya.

Di perguruan ini, Syaif yang memiliki paras tampan banyak dikagumi oleh wanita-
wanita. Banyak wanita yang ingin mendekatinya, seperti anak Syech Habib bernama
Zumaroh dan Cik Nitia gadis keturunan China yang menjadi mualaf dan berguru pada Syech
habib, namun semuanya tidak diterima oleh Syaif, alasannya bahwa dia ingin fokus pada
menuntut ilmu dulu, tidak ingin cepat-cepat nikah. Padahal sebenarnya dia ingin menjaga
hatinya pada Maritza yang telah lama dia tinggal tanpa memberi kabar.

Enam tahun sudah Syaif menuntut ilmu di tempat yang jauh dari pujaan hati.
Tambahan ilmu yang dia dapat selama itu telah membuatnya benar-benar disegani banyak
orang. Kini tiba saatnya untuk dia kembali ke tempat asal, yaitu pondok pesantren As-Salafi.
Hatinya berdebar-debar ingin segera melihat Maritza karena rasa rindu yang telah meluap-
luap. Dia tiba di pondok dengan sambutan yang amat meriah dari Kyai Ahmad Jaelani
sendiri. Semua orang menyambutnya dan mengadakan sarasehan bersama. Banyak cerita
saling dilontarkan, entah dari Syaif atau dari murid-murid pondok pesantren. Semuanya
tertawa riang, pandangan mata Syaif bergerak ke mana-mana, dia menemukan suatu
kejanggalan, dia tidak menemukan sosok Maritza. Hal ini hanya dia pikirkan sendiri dalam
hati. “Mungkin Maritza masih sibuk.” begitu pikirnya.

***

Sebulan sejak kedatangan Syaif, rumah Maritza ramai. Banyak karangan bunga
bertuliskan “turut bersuka cita” di sana. Janur kuning telah melengkung dengan mantap,
Syaif tersenyum lebar. Hidangan lezat, gaun-gaun indah, dekorasi yang megah, semuanya
ada di sana. Syaif duduk dengan gagah menggunakan jas paling mahal yang dia miliki.
Rambut klimisnya membuat lalat yang menempel pun bisa saja tergelincir. Maritza sudah
berada di ujung sana dengan gaun pengantin serba islami yang sangat anggun. Wajahnya
nampak cantik di balik cadar yang menutupinya, matanya berbinar, gambaran hena di
tangannya nampak indah seperti kenangan masa lalu mereka berdua. Langkah kaki Maritza
mantap menapaki tanah menuju ke tempat di mana ijab qabul akan dilaksanakan.
Pandangan mata Syaif tak bisa lepas dari seorang Maritza.

Maritza duduk di kursi pengantin untuk melaksanakan ijab qabul. Ayah Maritza
yang berperan sebagai penghulu kala itu memulai ijab qabul.

“Saudara Sulaiman bin Tabahri saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan
anak saya...”

Ya, benar, Syaif hanya menjadi penonton saja. Dia hanya menjadi saksi dengan
berkeping-keping remukan hati. Di balik rambut klimisnya, di balik jas mahalnya yang ia
kenakan terdapat rasa yang teramat perih di dalam hati. Gadis pujaan hati yang selama ini
dia idam-idamkan, yang selama ini dia impikan, yang selalu mengganggu angan ketika pergi
jauh dari sisinya kini sudah pergi lepas dari gapaian. Maritza telah resmi menikah dengan
orang lain. Syaif tidak bisa menyalahkan Maritza, bagaimanapun ini juga karenanya yang
telah meninggalkan seorang gadis yang amat dia kasihi. Resepsi pernikahan dengan meriah
diadakan, iringan musik rebana indah didengarkan, Syaif tak sanggup melihat Maritza yang
telah menjadi istri orang. Syaif naik ke tempat duduk pengantin memberi ucapan selamat,
mata Maritza tak sanggup melihat paras tampan kenangan indah masa lalunya, Syaif. Syaif
tidak dapat berlama-lama lagi di sana, dia memutuskan kembali ke pondok. Roti selai,
sepeda karat, belimbing kuning, jedukan kepala, semua itu merupakan kenangan yang
awalnya memberikan manis namun sangat pahit pada akhirnya untuk disimpan.

Sesampainya di pondok dia langsung memeluk Kyai Ahmad tanpa memberikan


sepatah kata pun. Sebenarnya Kyai Ahmad Jaelani sejak dulu sudah mengetahui hubungan
antara Syaif dan Maritza, namun dia memilih untuk diam saja. Dia menenangkan Syaif yang
mendekapnya dengan erat. Di balik perasaan kacau balau Syaif, Kyai berusaha
menyampaikan suatu berita penting yang dia harapkan dapat menenangkan muridnya itu.

“Sebenarnya selama kamu meninggalkan pondok ini yaitu tepatnya 2 tahun lalu,
ibumu untuk pertama kalinya datang kesini mencarimu. Namun sayangnya kamu tidak ada.
Dia sekarang sudah menikah lagi dengan seorang duda anak satu. Ayahmu dipanggil oleh
Allah Swt karena penyakit tumor yang dideritanya. Maafkan juga jika baru kali ini aku
memberitahumu, ini alamat rumah ibumu saat ini.” Kyai Ahmad memberikan selembar
kertas berisi nama jalan dan nomor rumah.

“Ya Allah, kenapa cobaan datang bertubi-tubi padaku. Aku belum sempat
membahagiakan ayahku. Ampunilah dosaku, Ya Allah.” Syaif merengek. Kyai Ahmad merasa
menyesal telah memberitahu Syaif di situasi yang sedemikian, namun sekarang apa boleh
buat, Kyai hanya dapat menenangkannya dan memberikan air putih.

Hari-hari berlalu, Syaif sibuk mencari rumah Ibunya. Alamat yang diberikan oleh
ibunya tidak terlalu jelas. Susah payah dia kesana kemari mengitari puluhan tempat dengan
ribuan orang yang dipapasinya. Suatu ketika dia melihat sosok perempuan di seberang jalan
yang mukanya tak asing bagi Syaif. Dia adalah ibu Syaif.

“Ibu” Syaif memanggil Ibunya dengan melambaikan tangan.

Ibu Syaif memang penglihatannya sudah kabur, sehingga tidak bisa melihat dengan
jelas dari mana asal suara yang memanggilnya. Dia terpaku pada cincin akik yang dipakai
anaknya saat itu. Dengan cepat dia menyadari bahwa itu adalah anak yang sangat
disayanginya, anak yang dulu dilahirkan dan dikasihinya, anak yang dia titipkan di pondok
pesantren dan tak pernah dia tanyai kabar, Syaif. Tanpa pikir panjang dia lari menghampiri
anaknya. Dari jarak 20 meter ternyata ada mobil bergerak dengan kecepatan tinggi dan
otomatis menabrak Ibu Syaif dengan kerasnya. Syaif berteriak menyebut Ibunya dengan
linangan air mata langsung mengalir dan berlari menghampiri ibunya yang berlumuran
darah. Jantungnya berdetak kencang, otaknya kembali mengingat memori masa lalu. Jalan
hidup panjang dan berliku tajam saat ini tak lepas dari sosok kedua orang tua. Dia berpikir
dia bisa hidup sampai saat ini juga karena orang tua. Tawa, tangis, kasih orang tua saat dia
kecil begitu hangat dirasakannya saat itu.

“Bahagianya aku dapat melihat ketampanan dan kegagahanmu, Syaif. Sekarang


kau sudah besar. Rindu Ibu sudah terobati sekarang. Guncanglah dunia dan pertahankan
sholat lima waktu. Ibu sayang kamu, anakku.” Mata Ibu Syaif tertutup dan hujan mulai
turun. Hujan, air mata, darah bercampur menjadi satu mengiringi betapa malangnya nasib
Syaif yang kehilangan tiga sosok yang dia cintai. Rasa rindu belum dapat terobati, kini kian
menyeruak memenuhi pikiran dan hati, harus sampai kapan rindu ini ditahan, tak
tersampaikan, dan tak bertujuan. Hujan kala itu akan selalu Syaif kenang.

***

Sejak saat itu Syaif berusaha mencoba melupakan setiap kejadian pahit dalam
dirinya. Aku yang memandangi sosoknya dari sini mulai merintih menahan sakit hati
walaupun bukan aku sendiri yang membuat memori sepilu ini. Aku sadar satu hal yang lebih
berbahaya dari rasa cinta, yaitu rasa rindu. Cinta dan rindu berjalan seiring waktu berputar
secara bersamaan. Ada cinta yang besar, ada rindu yang besar pula. Namun apa yang
dirasakan Syaif saat ini adalah ketika cinta yang besar sudah ada, namun rindu yang besar
tak dapat tersampaikan, rindu ini menggantung, rindu ini tak berujung.