Anda di halaman 1dari 14

A. IDENTIFIKASI

BAB I LAPORAN KASUS

 

Nama

: Anak R

Umur

: 4 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Berat Badan

: 12 kg

Tinggi Badan

: 96 cm

Agama

: Islam

Alamat

: Kemas riodo ir.karya bakti Palembang

Kebangsaan

: Indonesia

MRS

: 11 Oktober 2010

B.

ANAMNESA

( Alloanamnesis dengan ibu penderita, 11oktober 2010) Keluhan Utama : Rencana operasi PDA Riwayat Perjalanan Penyakit ± 1 bulan sebelum MRS, penderita demam tinggi, keluar ruam merah dan disertai batuk pilek, kemudian penderita berobat ke RS Bari di katakan terkena campak. Selama pemeriksaan ditemukan terdapat kelainan jantung, yaitu bunyi jantung yang tidak normal. Kemudian penderita dirujuk ke RSMH untuk penyakit jantungnya ± 1 minggu SMRS penderita berobat ke poli anak umum RSMH, telah foto thoraks, EKG, dan Ekhokardiografi, di diagnosis menderita PDA besar, penderita disarankan untuk operasi ligasi PDA Hari ini 11 oktober 2010 penderita di bawa ke bangsal anak RSMH untuk rencana operasi. Penderita dikonsulkan ke bagian bedah thoraks

Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat sering biru sejak lahir disangkal. Riwayat sering berhenti saat menyusui disangkal. Riwayat mudah lelah atau sesak bila bermain/beraktivitas disangkal

1

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Riwayat penyakit yang sama disangkal.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

Masa kehamilan Partus Ditolong oleh Berat badan lahir Panjang badan lahir Keadaan saat lahir

: Cukup bulan : Spontan : Bidan : 3400 gram : 48 cm : Langsung menangis

Riwayat Makan ASI

Nasi biasa

: lahir – 1 tahun

Susu formula

: 0 -

sekarang

Bubur bayi Nasi tim Nasi lembek

Riwayat Perkembangan

: 6 - 10 bulan : 10 – 12 bulan : 1 tahun – 1 ½ tahun : 1 ½ tahun - sekarang

Tengkurap

: 4 bulan

Duduk

: 8 bulan

Berdiri

: 10 bulan

Berjalan

: 1 tahun

Kesan

: Perkembangan motorik dalam batas normal

Riwayat Imunisasi BCG DPT Polio Hepatitis B Kesan

: scar + (pada lengan kanan) : 3 kali : 3 kali : 3 kali : Imunisasi dasar lengkap

2

  • C. PEMERIKSAAN FISIK

Tanggal pemeriksaan: 11 oktober 2010 Pemeriksaan Umum

Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: Kompos mentis, GCS 15 (E4M6V5)

Nadi

: 104 x/menit, isi dan tegangan cukup, ireguler, pulsus celer

Pernapasan Suhu Berat Badan Tinggi Badan Status Gizi: BB/U TB/U BB/TB Kesan

(+) : 19 x/menit : 36,8°C : 12 kg : 96 cm : 12/16 x 100% = 75% : 96/100 x 100% = 96% : 12/14 x 100% = 85,7% : gizi baik

Keadaan Spesifik

Kepala

Bentuk

: Brakhiosefali, simetris, UUB membonjol (-)

Rambut

: Hitam, lurus, tidak mudah dicabut.

Mata

: Cekung (-), Pupil bulat isokor ø 3mm, reflek cahaya +/+,

Hidung

konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-). : Sekret (-), napas cuping hidung (-).

Telinga

: Sekret (-).

Mulut

: Mukosa mulut, bibir, lidah dan gingiva kering (-), sianosis (-).

Tenggorokan

: Faring hiperemis (-), T1 – T1

Leher

: Pembesaran KGB (-), JVP tidak meningkat.

Thorak

Paru-paru

Inspeksi

: Statis, dinamis simetris, retraksi -/-

Perkusi

: Sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi

: Vesikuler (+) normal, ronki (-), wheezing (-).

3

Jantung

 

Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

:

Iktus cordi di ICS IV-V LMC sinistra

Thrill +

Aktivitas RV=LV

Aktivitas LV=RV

Auskultasi

:

S1

: tunggal

S2

: tunggal

 

Bising sistolik : kontinyu + grade IV/6 di ICS II-III LPS sinistra menjalar ke punggung. Thrill +, gallop -

Abdomen

Inspeksi

: Datar

Palpasi

: Lemas, hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: Timpani

Auskultasi: Bising usus normal

 

Lipat paha dan genitalia

: Pembesaran KGB (-)

Ekstremitas

: Akral dingin (-), sianosis (-), edema (-),

capillary refill < 2 detik. Pulsasi lengan =

tungkai

Pemeriksaan Neurologis Fungsi motorik

Pemeriksaan

Tungkai

Tungkai

Lengan

Lengan

Kanan

Kiri

Kanan

Kiri

Gerakan

Luas

Luas

Luas

Luas

Kekuatan

5

5

5

5

Tonus

Eutoni

Eutoni

Eutoni

Eutoni

Klonus

-

-

   

Reflek fisiologis

+ normal

+ normal

+ normal

+ normal

Reflek patologis

-

-

-

-

Fungsi sensorik

: Dalam batas normal

4

Fungsi nervi craniales : Dalam batas normal

GRM

: Kaku kuduk tidak ada

  • D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Hematologi ( 11 Oktober 20 10 )

Hb

:

11,4 g/dl

Ht

:

35 vol%

Leukosit

: 13.500/mm 3

LED

: 57 mm/jam

Trombosit

: 505.000/mm 3

Hitung jenis

: 0/0/0/55/43/2

Asam urat

: 4,6 mg/dL

Ureum

: 30 mg/dL

Kreatinin

: 0,6 mg/dL

Natrium

: 137 mmol/L

Kalium

: 4,1 mmol/L

Kalsium

: 2,31 mmol/L

Klorida

: 104 mmol/L

DIAGNOSA BANDING

PDA (Persistent Ductus Arterious) VSD (Ventricle Septum Defect) ASD (Atrium Septum Defect)

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Foto thoraks (22 September 2010) Kesimpulan : cor membesar dan vascular paru melebar Mohon konfirmasi ekhocardiografi Doppler ekhokardiografi (4 Oktober 2010) Kesimpulan : PDA besar Saran : ligasi PDA

DIAGNOSA KERJA

5

PDA

PENATALAKSANAAN

Konsul bedah thoraks pro op ligasi PDA

PROGNOSA

Quo ad vitam Quo ad functionam

: dubia ad bonam : dubia ad bonam

  • J. FOLLOW UP

Tanggal

 

Keterangan

12-10-2010

M2 : PDA besar pro operasi

 

S: Keluhan : rencana operasi PDA, demam (-), sesak (-) O: Keadaan Umum Sens: cm

TD : 100/60 mmHg

RR : 24 x/menit

N

: 98x/menit, ()

T

: 36,8 o c

Keadaan spesifik

Kepala

Leher

Thorak

: NCH (-), sianosis (-)

: t.a.k

: simetris, retraksi (-), BJI;IIN bising kontinyu (+) grade IV/6

di ICS 11-III LPS sinitra, thrill (+) menjalar ke punggung, gallop (-).

Vesikuler (+) normal, rhonki (-), whezing (-).

Abdomen

: datar, lemas, H/L tidak teraba, BU (+) normal

Ekstremitas : sianosis (-), CRT < 2” Status neurologikus

Fungsi motorik

: dbn

Fungsi sensorik

: dbn

Fungsi nervi craniales : dbn

 

GRM

: (-)

A: PDA besar P: rencana operasi ligasi hari jumat Rencana konsul anastesi

 

BAB II

6

TINJAUAN PUSTAKA

Duktus arteriosus persisten ( Patent Ductus Arteriosus, PDA ) adalah terdapatnya pembuluh darah fetal yang menghubungkan percabangan arteri pulmonalis sebelah kiri ( left pulmonary artery ) ke aorta desenden tepat di sebelah distal arteri subklavia kiri. 1 Selama kehidupan janin, kebanyakan dari darah arterial pulmonal dialihkan melalui duktus arteriosus ke dalam aorta. Penutupan fungsional duktus normalnya terjadi segera sesudah lahir, tetapi jika duktus tetap terbuka ketika tahanan vaskuler pulmonal turun, darah aorta dialihkan ke dalam arteri pulmonalis. Ujung aorta duktus tepat sebelah distal keluarnya arteri subklavia, dan duktus masuk arteri pulmonalis pada percabangannya. 2 PDA sering ditemukan tanpa disertai dengan kelainan jantung bawaan lain tetapi dapat juga ditemukan dengan kelainan jantung bawaan lain dseperti penyakit jantung bawaan jenis duct dependent ( atresia pulmonal, atresia trikuspid, dll ). Pada kelainan ini kehidupan tergantung ada tidaknya diktus yang membawa aliran darah ke paru. 2

  • a. Epidemiologi PDA sering ditemukan pada bayi prematur dengan berat badan lahir rendah. PDA terdapat pada kira-kira 5-10% dari seluruh penyakit jantung bawaan. 1 Penderita wanita lebih banyak dari laki-laki yakni 2:1. 2 PDA merupakan salah satu anomaly kardiovaskuler congenital yang paling sering akibat infeksi rubella ibu selama awal kehamilan. Bila bayi cukup bulan ditemukan menderita PDA, ada defisiensi lapisan endotelial mukoid maupun media muskuler duktus. Namun, pada bayi prematur, duktus paten biasanya mempunyai susunan anatomi normal; pada bayi ini, keterbukaan adalah akibat hipoksia dan imaturitas. Dengan demikian, PDAyang menetap sesudah umur beberapa minggu pertama pada bayi cukup bulan jarang menutup secara spontan, sedang pada bayi prematur, jika intervensni farmakologis atau bedah awal tidak diperlukan, penutupan spontan akan terjadi pada 10% penderita dengan lesi jantung congenital lain. PDA murni juga lebih sering pada penderita yang dilahirkan di daerah yang tinggi ( pegunungan ).

  • b. Patofisiologi Sebagai akibat tekanan aorta yang lebih tinggi, aliran darah melalui duktus berjalan dari aorta menuju arteri pulmonalis. Luasnya shunt tergantung dari duktus dan pada

7

rasio tahanan vaskuler pulmonal dan sistemik. Pada kasus yang ekstrim, 70% dari curah ventrikel kiri dapat dialirkan melalui duktus ke sirkulasi pulmonal. Jika PDA kecil, tekanan dalam arteri pulmonalis, ventrikel kanan, dan atrium kanan normal. Namun, jika PDA besar, tekanan arteri pulmonalis dapat naik ke tingkat sistemik selama sistol dan diastol. Penderita ini beresiko terjadi penyakit vaskuler pulmonal jika dibiarkan tidak dioperasi. Ada tekanan nadi yang lebar akibat kebocoran darah kedalam arteri pulmonalis selama diastol.

  • c. Penutupan duktus arteriosus Duktus arteriosus menutup secara fungsional pada 10-15 jam setelah lahir, jadi pirau ini berlangsung relative singkat. Penutup permanen terjadi pada usia 2-3 bulan minggu. Faktor yang diduga berperan dalam penutupan duktus:

    • - Peningkatan tekanan oksigen arteri ( PaO2 ) menyebabkan konstriksi duktus sebaliknya hipoksemia akan membuat duktus melebar. Karena itulah, PDA lebih banyak ditemukan pada keadaan dengan PaO2 yang rendah termasuk bayi dengan sindrom gangguan pernafasan, prematuritas, dan bayi yang lahir di dataran tinggi.

  • d. Manifestasi klinis Biasanya tidak ada gejala akibat duktus arteriosus paten. Defek besar akan menimbulkan gagal jantung kongestif yang serupa dengan gagal jantung kongestif yang ditemukan pada bayi dengan VSD besar. Kemunduran pertumbuhan fisik mungkin merupakan manifestasi utama dengan shunt besar. PDA besar akanj menimbulkan tanda-tanda fisik yang mencolok yang dapat dihubungkan pada tekanan nadi yang lebar, kebanyakan nadi arterial sangat melambung. Jantung berukuran normal jika duktus kecil, tetapi membesar sedang atau sangat membesar pada kasus dengan shunt yang besar. Impuls apeks tampak jelas pada pembesaran jantung. Getaran maksimal terdapat disela iga kiri, sering ada dan dapat menjalar kearah klavikula kiri, kebawah linea parasternalis kiri atau kearah apeks. Biasanya getarannya sistolik tetapi dapat juga diraba diseluruh siklus jantung. Bising kontinyu klasik telah beraneka ragam digambarkan berkualitas seperti bising

8

mesin, denggung gasing, atau gelegar guntur. Bising ini mulai segera sesudah mulainya bunyi pertama, mencapai intensitas maksimal pada akhir sistol, dan menyusut pada akhir diastol. Bising ini mungkin terlokalisasi di sela iga dua kiri atau menjalar ke bawah linea parasternalis kiri atau ke klavikula kiri. Bila ada kenaikan tahanan vaskuler pulmonal, komponen bising diastolik mungkin kurang jelas atau tidak ada. Pada penderita dengan shunt dari kiri ke kanan yang besar, bising mid diastolik mitral, nada rendah mungkin dapat terdengar, karena penambahan volume aliran darah yang melewati katup mitral.

Jika shunt dari kiri ke kanan kecil, elektrokardiogramnya normal; jika duktus besar ada hipertrofi ventrikel kiri atau biventrikuler pada EKG. Diagnosis PDA murni tidak terkomplikasi, tidak dapat dipertahankan bila ditemukan hipertrofi ventrikel kanan.

Pemeriksaan rontgenografi biasanya menunjukkan arteri pulmonalis yang menonjol dengan corak vaskuler intrapulmonal bertambah. Besar jantung tergantung pada derajat shunt dari kiri ke kanan; mungkin normal atau membesar sedang atau sangat besar. Ruangan-ruangan yang terlibat adalah atrium dan ventrikel kiri. Tonjolan aorta (aortic knop ) normal atau menonjol.

Pandangan echocardiography, ruang-ruang jantung normal jika duktus kecil. Pada shunt besar, dimensi atrium kiri dan ventrikel kiri bertambah. Ukuran atrium kiri biasanya dihirung dengan membandingkan dengan ukuran akar aorta, dikenal dengan rasio AKi:Ao. Scanning fosa suprasternal memungkinkan visualisasi duktus langsung. Pemeriksaan Doppler akan menampakkan aliran turbulen retrograd ( membalik ) sistol dan/atau diastolik dalam arteri pulmonalis dan aliran retrograd aorta pada diastol.

Gambaran klinis cukup khas untuk memberikan diagnosis yang tepat dengan metode non invasif pada kebanyakan penderita.

Pada penderita dengan tanda-tanda atipik atau bila dicurigai disertai lesi jantung, kateterisasi jantung mungkin terindikasi. Kateterisasi jantung mungkin menampakkan tekanan normal atau naik pada ventrikel kanan dan arteri pulmonalis, tergantung pada ukuran duktus. Adanya darah teroksigenasi yang masuk ke arteri pulmonalis memperkuat adanya shunt dari kiri ke kanan. Sampelk darah dari vena

9

kava, atrium kanan, dan ventrikel kanan seharusnya mempunyai kadar oksigen normal. Kateter dapat lewat dari arteri pulmonalis melalui duktus ke dalam aorta desenden. Injeksi bahan kontras ke dalam aorta asenden menunjukkan pengkeruhan arteri pulmonalis dari aorta dan mengidentifikasi duktus.

e.

Diagnosis

Diagnosis PDA tidak terkomplikasi biasanya tidak sukar. Namun, ada kelainan lain yang bila tidak ada sianosis, menimbulkan bising sistolik dan diastolik pada daerah pulmonal dan harus dibedakan. Defek jendela aortiko pulmonal jarang tidak dapat dibedakan secara klinis dari duktus paten, walaupun pada kebanyakan kasus bisingnya hanya sistolik dan terkeras pada linea parasternalis kanan atas, bukannya dikiri. Serupa halnya dengan aneurisma sinus valsava yang robek kedalam sisi kanan jantung atau arteri pulmonalis, fistula arteriovenosa koroner, dan arteri koronaria kiri yang menyimpang dengan kolateral yang massif dari koronaria kanan yang memperlihatkan dinamika yang sama dengan bising PDA yaitu bising kontinyu dengan tekanan nadi yang lebar. Kadang-kadang bising tidak maksimal didaerah pulmonal tetapi terdengar sepanjang linea parasternalis kiri bawah.

Trunkus arteriosus dengan aliran pulmonal yang keras juga mempunyai fisiologi “kebocoran aorta”. Stenosis cabang pulmonalis dapat dihubungkan dengan bising sistolik dan diastolic, tetapi tekanan nadi akan normal. Fistula arteriovenosus perifer juga menghasilkan tekanan nadi yang lebar, tetapi bising yang khas PDA tidak ada. VSD dengan insufusiensi aorta serta kombinasi insufisuensi mitral fdasn aorta reumatik dapat terancukan dengan PDA, tetapi bising harus dibedakan dengan sifat to-and-fronya bukannya kontinyu. Kombinasi VSD besar dan PDA menghasilkan tanda-tanda yang lebih seperti tanda-tanda pada VSD saja. Ekokardiografi harus dapat menghapus kemungkinan diagnostic lain. Jika secara klinis dicurigai ada duktus tetapi tidak tertampakkan pada eko,biasanya terindikasi katerisasi jantung

Dasar diagnosis

DAP kecil : asimptomatik, perkembangan dan pertumbuhan normal. Jantung : BJ I dan BJ II normal , bising kontinu derajat III-V pada ICS II kiri linea sternalis, foto toraks normal, EKG normal

10

DAP sedang : kemampuan minum terus menerus berkurang, toleransi latihan menurun, tumbuh dan kembang terlambat, takipne. Pemeriksaan jantung BJ I dan II normal, bising kontinu derajat III-V pada ICS II kiri linea sternalis, foto toraks kardiomegali dengan corakan vaskular paru meningkat, EKG hipertropi ventrikel kiri.

DAP besar : toleransi latihan buruk, sering infeksi saluran nafas berulang, pertuimbuhan dan perkembangan terganggu. Sering mengalami gagal jantung. Jantung hiperaktivitas ventrikel kiri dan kanan, murmur kontinu kasar derajat III-IV pada ICS II kiri linea sternalis, murmur diastolik di apeks. Fototoraks kardiomegali dengan corakan vaskular paru meningkat. EKG hipertropi ventrikel kiri dan kanan serta atrium kiri dan mungkin juga atrium kanan.

DAP dengan hipertensi pulmonal: P2 mengeras dan bising sistolik . Peninggian tekanan vascular paru: berdasarkan kateterisasi jantung.

DAP dengan sindrom Eisenmenger : muncul sianosis, mula-mula pada latihan, lama kelamaan juga pada waktu istirahat. Foto toraks : gambaran pruning . EKG hipertropi ventrikel kanan

Langkah diagnosis

Perhatikan adanya gangguan pertumbuhan, gangguan kesulitan minum, gangguan toleransi latihan, riwayat infeksi saluran nafas berulang. Pada pemeriksaan fisik jantung tetapkan perkiraan besar DAP. Tetapkan apakah terjadi gagal jantung, tanda- tanda hipertensi pulmonal serta adanya sindroma eisenmenger. EKG untuk menentukan adanya beban volume Foto toraks untuk menilai corakan vaskular paru. Lakukan pemeriksaan ekokardiografi untuk menentukan besarnya DAP. Kateterisasi hanya dilakukan bila dicurigai ada hipertensi pulmonal.

f.

Penatalaksanaan

Tutup DAP

  • 1. Medikamentosa : Indometasin Hanya efektif pada bayi prematur usia <1 minggu Dosis:

Umur

 

Inisial

12-18 jam (interval dosis) Dosis kedua dan ketiga

>48 jam

0,2 mg/kgBB

0,1 mg/kgBB

0,2 mg/kgBB

0,2 mg/kgBB

11

2-7 hari

0,2 mg/kgBB

0,25 mg/kgBB

>7 hari

Kontraindikasi bila ada sepsis, trombosit < 100.000, ureum>40 mg/dl

  • 2. Transkateter dengan menggunakan :

    • a. Coil : untuk DAP dengan diameter <3mm (DAP kecil)

    • b. ADO (Amplatzer Ductal Occluder) : Untuk DAP sedang

  • 3. Operasi : ligasi atau pemotongan duktus ( rujuk ke RSCM/RSJ Harapan Kita) Indikasi pada :

  • DAP besar

    DAP besar dengan gejala dekompensatio kordis yang terjadi pada bayi baru lahir atau anak dengan BB<6 kg

    2-7 hari 0,2 mg/kgBB 0,25 mg/kgBB >7 hari Kontraindikasi bila ada sepsis, trombosit < 100.000, ureum>40

    Algoritma tatalaksana PDA 2

    • g. Prognosis dan komplikasi Penderita dengan PDA kecil dapat hidup dengan normal dengan tidak atau sedikit bergejala jantung; namun, manifestasi lambat dapat terjadi. Penutupan spontan duktus

    12

    sesudah masa bayi jarang. Gagal jantung kongestif paling sering terjadi pada awal masa bayi jika ada duktus besar. Tetapi dapat terjadi pada kehidupan akhir walaupun dengan komunikasi ukuranb sedang. Beban volume ventrikel kiri yang lama semakin tua kurang ditoleransi dengan baik. Endokarditis infeksius dapat ditemukan pada setiap usia. Emboli pulmonal atau sistemik dapat terjadi komplikasi yang jaranng meliputi dilatasi aneurisma arteri pulmonalis atau duktus, kalsifikasi duktus, thrombosis non infeksius duktus dengan embolisasi dan emboli paradox. Hipertensi pulmonal ( sindrom Eisenmeinger ) biasanbya terjadi pada penderita dengan PDA besar yang tidak mengalami penanganan pembedahan.

    BAB III ANALISA KASUS

    Seorang anak perempuan berusia 4 tahun datang dengan keluhan utama rencana operasi PDA. Dari anamnesa didapatkan ± 1 bulan sebelum MRS, penderita demam tinggi, keluar ruam merah dan disertai batuk pilek, kemudian penderita berobat ke RS Bari di katakan terkena campak. Selama pemeriksaan ditemukan terdapat kelainan jantung, yaitu bunyi jantung yang tidak normal. Kemudian penderita dirujuk ke RSMH untuk penyakit jantungnya. ± 1 minggu SMRS penderita berobat ke poli anak umum RSMH, telah foto thoraks, EKG, dan Ekhocardiografi, di diagnosis menderita PDA besar, penderita disarankan untuk operasi ligasi PDA. Hari ini penderita di bawa ke bangsal anak RSMH untuk rencana operasi. Penderita dikonsulkan ke bagian bedah thoraks. Riwayat Penyakit Dahulu, Riwayat sering biru sejak lahir disangkal, Riwayat sering berhenti saat menyusui disangkal, Riwayat mudah lelah atau sesak bila bermain/beraktivitas disangkal. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, kesadaran kompos mentis, nadi 104 x/menit, ireguler, isi dan tegangan cukup, pulsus celer, pernapasan 19 x/menit, dan suhu 36,8 °c. Status gizi pasien berdasarkan pemeriksaan antropometri tergolong dalam gizi baik (BB/TB 85,7%). Dari hasil pemeriksaan laboratoris didapatkan Hb 11,4 g/dL, Ht 35 vol%, leukosit 13.500/mm3, trombosit 505.000/mm3, LED 57 mm/jam, hitung

    13

    jenis 0/0/0/55/43/2, asam urat 4,6 mg/dL, ureum 30 mg/dL, kreatinin 0,6 mg/dL, natrium 137 mmol/L, kalium 4,1 mmol/L, kalsium 2,31 mmol/L, klorida 104 mmol/L. Dari pemeriksaan khusus didapatkan kelainan pada jantung yaitu pada Palpasi jantung ditemukan; Iktus cordis di ICS IV-V LMC sinistra, Thrill +, Aktivitas RV=LV, Aktivitas LV=RV. Pada Auskultasi jantung ditemukan : S1 tunggal, S2 tunggal. Bising sistolik : kontinyu + grade IV/6 di ICS II-III LPS sinistra menjalar ke punggung. Thrill +, gallop – Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan laboratoris maka pasien ini di diagnosa sebagai persisten duktus arteriosus dan ditatalaksana dengan ligasi PDA. Prognosa pasien ini quo ad vitam bonam dan quo ad fungsionam bonam.

    DAFTAR PUSTAKA

    • 1. Madiyono, Bambang, Sri Endah Rahayuningsih, Rubiana Sukardi. 2005. Penanganan Penyakit Jantung Pada Bayi dan Anak. Jakarta:UKK Kardiologi IDAI

    • 2. Bernstein, Daniel. Paten Duktus Arteriosus. Dalam: Nelson’s Ilmu Kesehatan Anak. Waldo E (ed). Ilmu Kesehatan Anak. Vol 2. Jakarta: EGC.2000

    14