Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK”


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah KMB II
Dosen Pengampu : Eli Nurfadillah, S.ST

Disusun Oleh :

1. EMIL DWI RAHAYU P07220116092


2. FITRIYANA P07220116096
3. HELDA WURI CHANDRA.N P07220116098
4. NENENG SEPTIANI P07220116107
5. VERA DWI TAMARA P07220116119

KEPERAWATAN TK. III

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI DIII KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN
TAHUN AJARAN
2018/2019

0
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang membahas tentang “Asuhan
Keperawatan Gagal Ginjal Kronik” dapat selesai tepat pada waktunya sebagai salah
satu tugas mata kuliah KMB II. Terima kasih kami sampaikan kepada pihak-pihak
yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini, baik yang terlibat
secara langsung maupun yang tidak.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena
keterbatasan yang kami miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari para pembaca sangat kami harapkan agar terciptanya makalah
yang lebih baik lagi.

Balikpapan, 10 September 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1

DAFTAR ISI 2

BAB I PENDAHULUAN 4

A. Latar Belakang 4

B. Rumusan Masalah 5

C. Tujuan 5

BAB II 6

TINJAUAN TEORI 6

A. Pengertian GGK 6

B. Etiologi GGK 6

C. Manifestasi Klinis 7

D. Patofisiologi 8

E. Pathflowdiagram 10

F. Pemeriksaan Penunjang12

G. Penatalaksanaan13

H. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gagal Ginjal 13

BAB III 20

PENUTUP 20

A. Kesimpulan 20

B. Saran 20

DAFTAR PUSTAKA 22

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh
dunia dan sekarang dikenal sebagai kondisi umum yang dikaitkan dengan
peningkatan risiko penyakit jantung dan gagal ginjal kronis. Gagal ginjal biasanya
dibagi menjadi dua kategori yang luas yakni kronik dan akut. Gagal ginjal kronik
merupakan perkembangan gagl ginjal yang progresif dan lambat (biasanya
berlangsung beberapa tahun), sebaliknya gagal ginjal akut terjadi dalam beberapa
hari atau beberapa minggu.

Pada kedua kasus tersebut, ginjal kehilangan kemampuannya untuk


mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan
makanan normal. Meskipun ketidakmampuan fungsional terminal sama pada kedua
jenis gagal ginjal ini, tetapi gagal ginjal akut mempunyai gambaran khas dan akan
dibahas secara terpisah. Gagal ginjal kronik terjadi setelah berbagai macam penyakit
yang merusak massa nefron ginjal. Sebagian besar penyakit ini merupakan penyakit
parenkim ginjal difus dan bilateral, meskipun lesi obstruktif pada traktus urinarius
juga dapat menyebabkan gagal ginjal kronik.

Pada awalnya, beberapa penyakit ginjal terutama menyerang glomerulus


(glomerulonefritis), sedangkan jenis yang lain terutama menyerang tubuls ginjal
(pielonefritis atau penyakit polikistik ginajl) atau dapat juga mengganggu perfusi
darah pada parenkim ginjal (nefrosklerosis). Namun, bila proses penyakit tidak
dihambat, maka pada semua kasus seluruh nefron akhirnya hancur dan diganti
dengan jaringan parut. Meskipun penyebabnya banyak, manifestasi klinis gagal
ginjal kronik sangat mirip satu sama lain karena gagal ginjal progresif dapat
didefinisikan secara sederhana sebagai defisiensi jumlah total nefron yang berfungsi
dan kombinasi gangguan yang tidak pasti tidak adapat dielakkan lagi.

3
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Gagal Ginjal Kronik?
2. Apa etiologi dari Gagal Ginjal Kronik?
3. Apa patofisiologi dari Gagal Ginjal Kronik?
4. Bagaimana manifetasi klinis dari Gagal Ginjal Kronik?
5. Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada pasien Gagal Ginjal Kronik?
6. Bagaimana konsep asuhan keperawatan (Pengkajian, Diagnosa,
Perencanaan, dan Evaluasi) pada pasien Gagal Ginjal Kronik?

C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui dan memahami pengertian Gagal Ginjal Kronik.


2. MengetahuI etiologi dari Gagal Ginjal Kronik .
3. Mengetahui patofisiologi Gagal Ginjal Kronik.
4. Mengetahui manifetasi klinis dari Gagal Ginjal Kronik.
5. Mengetahui pemeriksaan diagnostic dari Gagal Ginjal Kronik.
6. Mengetahui konsep asuhan keperawatan (Pengkajian, Diagnosa, Perencanaan,
dan Evaluasi) pada pasien Gagal Ginjal Kronik.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian GGK
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh
gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
(Brunner & Suddarth, 2001).

CKD atau gagal ginjal kronis (GGK) didefinisikan sebagai kondisi dimana ginjal
mengalami penurunan fungsi secara lambat, progresif, irreversibel, dan samar
(insidius) dimana kemampuan tubuh gagal dalam mempertahankan metabolisme,
cairan, dan keseimbangan elektrolit, sehingga terjadi uremia atau azotemia (Smeltzer,
2009).

Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai
kerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan atau tanpa penurunan glomerulus
filtration rate (GFR) (Nahas & Levin,2010).

B. Etiologi GGK
Penyebab dari gagal ginjal kronis antara lain :
1. Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis),
2. Penyakit peradangan (glomerulonefritis),
3. Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis, stenosis arteri renalis),
4. Gangguan jaringan penyambung (SLE, poliarteritis nodusa, sklerosis
sitemik),
5. Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus
ginjal),
6. Penyakit metabolik (DM, gout, hiperparatiroidisme),
7. Nefropati toksik,
8. Nefropati obstruktif (batu saluran kemih).

Penyebab gagal ginjal kronik cukup banyak tetapi untuk keperluan klinis dapat
dibagi dalam 2 kelompok :
1. Penyakit parenkim ginjal.
5
a. Penyakit ginjal primer : Glomerulonefritis, Mielonefritis, Ginjal polikistik.
b. Penyakit ginjal sekunder : Nefritis lupus, Nefropati, Amilordosis ginjal,
Poliarteritis nodasa, Sclerosis sistemik progresif, Gout, DM 2.
2. Penyakit ginjal obstruktif : Pembesaran prostat, batu saluran kemih, refluks
ureter. Secara garis besar penyebab gagal ginjal dapat dikategorikan infeksi
yang berulang dan nefron yang memburuk, obstruksi saluran kemih, destruksi
pembuluh darah akibat diabetes dan hipertensi yang lama, scar pada jaringan
dan trauma langsung pada ginjal.

C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001) antara lain : Hipertensi, (akibat
retensi cairan dan natrium dari aktivitas sistem renin - angiotensin – aldosteron),
gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan
perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia,
mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak
mampu berkonsentrasi).
Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
1. Kardiovaskuler : Hipertensi, gagal jantung kongestif, edema pulmoner,
perikarditis pitting edema (kaki, tangan, sacrum), pembesaran vena leher.
2. Integumen : Warna kulit abu-abu mengkilat, kulit kering bersisik, pruritus,
ekimosis, kuku tipis dan rapuh, rambut tipis dan kasar.
3. Pulmoner : Krekels, sputum kental dan liat, nafas dangkal, pernafasan kussmaul
4. Gastrointestinal : Nafas berbau ammonia, ulserasi dan perdarahan mulut,
anoreksia, mual, muntah, konstipasi dan diare, perdarahan saluran cerna
5. Neurologi : Kelemahan dan keletihan, konfusi/ perubahan tingkat kesadaran,
disorientasi, kejang, kelemahan pada tungkai, rasa panas pada telapak kaki,
perubahan perilaku.
6. Muskuloskeletal : Kram otot, kekuatan otot hilang,kelemahan pada tungkai
Fraktur tulang, Foot drop.
7. Reproduktif : Amenore, Atrofi testekuler.

D. Patofisiologi
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus
dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-
nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat
disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode
6
adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak.
Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi
berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus.
Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri
timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien
menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira
fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian
nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C
Long, 1996, 368) Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang
normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka
gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner
& Suddarth, 2001).
Klasifikasi gagal ginjal kronik dibagi menjadi 5 stadium :
1. Stadium 1, bila kadar gula tidak terkontrol, maka glukosa akan dikeluarkan
lewat ginjal secara berlebihan. Keadaan ini membuat ginjal hipertrofi dan
hiperfiltrasi. Pasien akan mengalami poliuria. Perubahan ini diyakini dapat
menyebabkan glomerulusklerosis fokal, terdiri dari penebalan difus matriks
mesangeal dengan bahan eosinofilik disertai penebalan membran basalin kapiler.
2. Stadium 2, insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak,
Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat.
3. Stadium 3, glomerulus dan tubulus sudah mengalami beberapa kerusakan. Tanda
khas stadium ini adalah mikroalbuminuria yang menetap, dan terjadi hipertensi.
4. Stadium 4, ditandai dengan proteinuria dan penurunan GFR. Retinopati dan
hipertensi hampir selalu ditemui.
5. Stadium 5, adalah stadium akhir, ditandai dengan peningkatan BUN dan
kreatinin plasma disebabkan oleh penurunan GFR yang cepat.

7
E. Pathflowdiagram

8
9
F. Pemeriksaan Penunjang
Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu
pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi
antara lain :

1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Laboratorium darah : BUN, Kreatinin, elektrolit (Na, K, Ca, Phospat),
Hematologi (Hb, trombosit, Ht, Leukosit), protein, antibody (kehilangan
protein dan immunoglobulin).
b. Pemeriksaan UrinWarna, PH, BJ, kekeruhan, volume, glukosa, protein,
sedimen, SDM, keton, SDP, TKK/CCT2.
2. Pemeriksaan EKG Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda
perikarditis, aritmia, dan gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia).
3. Pemeriksaan USG Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal,
kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal,
kandung kemih serta prostate.
4. Pemeriksaan Radiologi Renogram, Intravenous Pyelography, Retrograde
Pyelography, Renal Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal Biopsi,
pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang, foto polos abdomen

Pencegahan

Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat lumrah
dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan kegagalan
ginjal. Penurunan kejadian yang sangat mencolok adalah berkat peningkatan
perhatian terhadap peningkatan kesehatan. Pemeriksaan tahunan termasuk tekanan
darah dan pemeriksaan urinalisis. Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan
jumlah individu yang menjadi insufisiensi sampai menjadi kegagalan ginjal.
Perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan
mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi,
kehamilan). (Barbara C Long, 2001).

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu :
1. Konservatif
10
a. Dilakukan pemeriksaan laboratorium darah dan urin
b. Observasi balance cairan
c. Observasi adanya odema
d. Batasi cairan yang masuk
2. Dialysis
a. peritoneal diálisis biasanya dilakukan pada kasus – kasus emergency.
b. Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut
adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis)
c. Hemodialisis, Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena
dengan menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui
daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan : AV fistule
adalah menggabungkan vena dan arteri. Double lumen : langsung pada
daerah jantung (vaskularisasi ke jantung)
d. Operasi Pengambilan batu dan transplantasi ginjal.

H. Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gagal Ginjal


Menurut Marillyn E. Doenges ( 2000 ) pengkajian meliputi:
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama proses perawatan yang akan membantu
dalam penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi
kekuatan dan kebutuhan klien serta merumuskan diagnosa keperawatan.
a. Identitas klien
Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, umur, tempat lahir, asal suku bangsa,
nama orang tua, pekerjaan orang tua.
b. Keluhan utama
Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur,
tachicard/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.

c. Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya


Berapa lama klien sakit, bagaimana penanganannya, mendapat terapi apa,
bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan
klien untuk menanggulangi penyakitnya.
d. Aktifitas / istirahat :
11
1) Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise
2) Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen)
3) Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
e. Sirkulasi
1) Adanya riwayat hipertensi lama atau berat, palpatasi, nyeri dada (angina)
2) Hipertensi, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak
tangan.
3) Nadi lemah, hipotensi ortostatikmenunjukkan hipovolemia, yang jarang pada
penyakit tahap akhir.
4) Pucat, kulit coklat kehijauan, kuning.
5) Kecenderungan perdarahan
f. Integritas Ego
1) Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.
2) Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.
g. Eliminasi
1) Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (pada gagal ginjal tahap lanjut
2) Abdomen kembung, diare, atau konstipasi
3) Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat, oliguria.
h. Makanan / cairan
1) Peningkatan berat badan cepat (oedema), penurunan berat badan
(malnutrisi).
2) Anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut
(pernapasan amonia)
3) Penggunaan diuretic
4) Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir)
5) Perubahan turgor kulit/kelembaban.
6) Ulserasi gusi, pendarahan gusi/lidah.

i. Neurosensori
1) Sakit kepala, penglihatan kabur.
2) Kram otot / kejang, syndrome “kaki gelisah”, rasa terbakar pada telapak
kaki, kesemutan dan kelemahan, khususnya ekstremiras bawah.
3) Gangguan status mental, contah penurunan lapang perhatian,
ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan
tingkat kesadaran, stupor.
4) Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.
5) Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
j. Nyeri / kenyamanan
1) Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/ nyeri kaki.
2) Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah.
k. Pernapasan
1) Napas pendek, dispnea, batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak.
2) Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman.
3) Batuk dengan sputum encer (edema paru).
12
l. Keamanan
1) Kulit gatal
2) Ada / berulangnya infeksi
3) Pruritus
4) Demam (sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara aktual terjadi
peningkatan pada pasien yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari
normal.
5) Ptekie, area ekimosis pada kulit
6) Fraktur tulang, keterbatasan gerak sendi
m. Seksualitas
Penurunan libido, amenorea, infertilitas
n. Interaksi social
Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan
fungsi peran biasanya dalam keluarga.
o. Penyuluhan / Pembelajaran
1) Riwayat DM (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis
heredeter, kalkulus urenaria, maliganansi.
2) Riwayat terpejan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.
3) Penggunaan antibiotic nefrotoksik saat ini / berulang.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan ditegakkan atas dasar data dari pasien. Kemungkinan
diagnosa keperawatan dari orang dengan kegagalan ginjal kronis adalah
sebagai berikut :
a. Hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi.
b. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan kelebihan volume
cairan.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
d. Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi.

3. Intervensi
Dx
NO Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
kep
1. 1 Tujuan: - Kaji status cairan: -
Mempertahankan berat tubuh 1.1. Timbang berat badan 1.1. Pengkajian merupakan
ideal tanpa kelebihan cairan. harian dasar dan data dasar
• berkelanjutan untuk
Kriteria hasil : memantau perubahan dan
• 1. Menunjukkan pemasukan dan mengevaluasi intervensi.
pengeluaran mendekati seimbang
• 2. Turgor kulit baik 1.2. Keseimbangan - 1.2 Pembatasan cairan akan

13
• 3. Membran mukosa lembab masukan dan haluaran menentukan berat badan ideal,
• 4. Berat badan dan tanda vital stabil• haluaran urine dan respons
• 5. Elektrolit dalam batas normal terhadap terapi.

1.3. Turgor kulit dan 1.3. Sumber kelebihan cairan


adanya edema yang tidak diketahui dapat
diidentifikasi.

1.4. Batasi masukan cairan- 1.4. Pemahaman


meningkatkan kerjasama
pasien dan keluarga dalam
1.5. Pantau kreatinin dan pembatasan cairan
BUN serum
1.5. Perubahan ini
menunjukkan kebutuhan
dialisa segera.
2 2 Tujuan Mempertahankan masukan 2.1. Kaji / catat - 2.1. Membantu dalam
nutrisi yang adekuat pemasukan diet mengidentifikasi defisiensi
dan kebutuhan diet. Kondisi
Kriteria hasil : fisik umum gejala uremik dan
1. Mempertahankan/meningkatkan pembatasan diet multiple
berat badan seperti yang mempengaruhi pemasukan
diindikasikan oleh situasi individu. makanan.
2. Bebas oedema
- 2.2. Kaji pola diet nutrisi - 2.2. Pola diet dahulu dan
pasien sekarang dapat
• Riwayat diet dipertimbangkan dalam
• Makanan kesukaan menyusun menu.
• Hitung kalori
3 3 Tujuan : Berpartisipasi dalam 3.1. Kaji faktor yang - 3.1. Menyediakan informasi
aktifitas yang dapat ditoleransi menimbulkan keletihan tentang indikasi tingkat
· keletihan
Kriteria hasil :
· 1. Berkurangnya keluhan lelah - 3.2. Tingkatkan
3.2. Meningkatkan aktivitas
· 2. Peningkatan keterlibatan pada kemandirian dalam
14
aktifitas social aktivitas perawatan diri ringan/sedang dan
· 3. Laporan perasaan lebih berenergi yang dapat ditoleransi, memperbaiki harga diri.
· 4. Frekuensi pernapasan dan bantu jika keletihan terjadi.
- 3.3. Mendorong latihan dan
frekuensi jantung kembali dalam
3.3. Anjurkan aktivitas aktivitas dalam batas-batas
rentang normal setelah penghentian
alternatif sambil istirahat. yang dapat ditoleransi dan
aktifitas.
istirahat yang adekuat.

3.4. Anjurkan untuk 3.4. Istirahat yang adekuat


beristirahat setelah dialisis dianjurkan setelah dialisis,
yang bagi banyak pasien
sangat melelahkan.

4 4 Tujuan: 4.1. Bila mungkin atur - 4.1. Individu yang berhasil


Ansietas berkurang dengan adanya untuk kunjungan dari dalam koping dapat pengaruh
peningkatan pengetahuan tentang individu yang mendapat positif untuk membantu
penykit dan pengobatan. terapi. pasien yang baru didiagnosa
mempertahankan harapan dan
Kriteria hasil : mulai menilai perubahan gaya
hidup yang akan diterima
· 1. Mengungkapkan pemahaman
tentangkondisi, pemeriksaan
diagnostic dan rencana tindakan.
· 2. Sedikit melaporkan perasaan
gugup atau takut.

4. Implementasi
a. Membantu Meraih Tujuan Terapi
1) Mengusahakan agar orang tetap menekuni pantangan air yang sudah
dipesankan.
2) Mengusahakan agar orang menekuni diet tinggi karbohidrat disertai
pantangan sodium, potassium, phosphorus dan protein.
3) Tenekuni makanan bahan yang mengikat fosfat.
4) Memberikan pelunak tinja bila klien mendapat aluminium antacid.
5) Memberikan suplemen vitamin dan mineral menurut yang dipesankan.
6) Melindungi pasien dari infeksi.

15
7) Mengkaji lingkungan klien dan melindungi dari cedera dengan cara yang
seksama.
8) Mencegah perdarahan saluran cerna yang lebih hebat dengan
menggunakan sikat gigi yang berbulu halus dan pemberian antacid.
b. Mengusahakan Kenyamanan
1) Mengusahakan mengurangi gatal, memberi obat anti pruritis menurut
kebutuhan.
2) Mengusahakan hangat dan message otot yang kejang dari tangan dan kaki
bawah.
3) Menyiapkan air matol buatan untuk iritasi okuler.
4) Mengusahakan istirahat bila kecapaian.
5) Mengusahakan agar klien dapat tidur dengan cara yang bijaksana.
c. Konsultasi dan Penyuluhan
1) Menyiapkan orang yang bisa memberi kesempatan untuk membahas
berbagai perasaan tentang kronisitas dari penyakit.
2) Mengusahakan konsultasi bila terjadi penolakan yang mengganggu terapi.
3) Membesarkan harapan orang dengan memberikan bantuan bagaimana
caranya mengelola cara hidup baru.
4) Memberi penyuluhan tentang sifat dari CRF, rasional terapi, aturan obat-
obatan dan keperluan melanjutkan pengobatan. (Keperawatan Medikal
Bedah, Barbara C. Long).

5. Evaluasi
Pertanyaan-pertanyaan yang umum yang harus diajukan pada evaluasi orang
dengan kegagalan ginjal terdiri dari yang berikut.
a. Apakah terdapat gejala-gejala bertambahnya retensi cairan?
b. Apakah orang menekuni pesan diet dan cairan yang diperlukan?
c. Apakah terdapat gejala-gejala terlalu kecapaian?
d. Apakah orang tidur nyenyak pada malam hari?
e. Apakah orang dapat menguraikan tentang sifat CRF, rasional dan terapi,
peraturan obat-obatan dan gejala-gejalayang harus dilaporkan?

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Gagal ginjal adalah suatu kondisi di mana ginjal tidak dapat menjalankan
fungsinya secara normal. Pada kondisi normal, pertama-tama darah akan masuk ke
glomerulus dan mengalami penyaringan melalui pembuluh darah halus yang disebut
kapiler. Di glomerulus, zat-zat sisa metabolisme yang sudah tidak terpakai dan
beberapa yang masih terpakai serta cairan akan melewati membran kapiler
sedangkan sel darah merah, protein dan zat-zat yang berukuran besar akan tetap
tertahan di dalam darah. Filtrat (hasil penyaringan) akan terkumpul di bagian ginjal
yang disebut kapsula Bowman. Selanjutnya, filtrat akan diproses di dalam tubulus
ginjal. Di sini air dan zat-zat yang masih berguna yang terkandung dalam filtrat akan
diserap lagi dan akan terjadi penambahan zat-zat sampah metabolisme lain ke dalam
filtrat. Hasil akhir dari proses ini adalah urin (air seni). Secara umum, gagal ginjal
adalah penyakit akhir dari serangkaian penyakit yang menyerang traktus urinarius.
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh
gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).
(Brunner & Suddarth, 2001)

Sedangkan penyebab gagal ginjal kronik antara lain : Diabetes Melitus,


Glumeruloneritis kronis, Pielonefritis, Hipertensi tak terkontrol, Obstruksi saluran
kemih, Penyakit ginjal polikistik, Gangguan vaskuler, Lesi herediter, Agen toksik
(timah,kadmium dan merkuri).

B. Saran
1. Untuk klien dan keluarga baiknya memeriksakan kesehatan secara rutin, agar
kesehatannya dapat terkontrol dan dapat terdeteksi sejak dini jika ada tanda atau
gejala yang menunjukkan resiko terjadinya gagal ginjal.

17
2. Untuk institusi pendidikan dapat menyediakan buku-buku sumber yang lebih
lengkap lagi sebagai pedoman untuk melakukan asuhan keperawatan yang lebih
baik.

18
DAFTAR PUSTAKA

Bararah, Taqiyyah dan Jauhar Mohammad. 2013. Asuhan Keperawatan Edisi Ke-
1. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Bararah, Taqiyyah dan Jauhar Mohammad. 2013. Asuhan Keperawatan Edisi Ke-2.
Jakarta: Prestasi Pustaka.
Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta : EGC
Brunner & Suddarth. 2000. Keperawatan Medikal Medah Edisi Ke-8. Jakarta:
EGC
Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC

http://askep-ebook.blogspot.com/2009/04/ckd-chronic-kidney-disease.html
http://www.scribd.com/doc/14558331/Laporan-Pendahuluan-Chronic-Kidney-
Disease-CKD-
http://satyaexcel.blogspot.com/2012/10/makalah-penyakit-gagal-ginjal-
kronik.html#!/tcmbck (Diakses pada tanggal 10 September Pukul 16.34 WITA)

19