Anda di halaman 1dari 4

Komnas HAM temukan sejumlah pelanggaran HAM

dalam kasus Salim Kancil


Komnas HAM Nur Kholis temukan pelanggaran hak untuk hidup, hak tidak
mendapat perlakuan kejam, hak tidak ditangkap sewenang-wenang, hak atas rasa
aman, dan hak anak

LUMAJANG, Indonesia — Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)


menemukan sejumlah pelanggaran HAM berat terhadap korban penganiayaan
Salim alias Kancil dan Tosan di Desa Selok Awar-Awar, Kabupaten Lumajang, Jawa
Timur, Senin, 5 Oktober.

Saat melakukan investigasi dalam kasus pembunuhan petani dan aktivis tolak
tambang Salim Kancil oleh kelompok pro tambang di pantai selatan Desa Selok
Awar-Awar, Ketua Komnas HAM Nur Kholis mengatakan pihaknya menemukan
adanya pelanggaran hak untuk hidup, hak tidak mendapat perlakuan kejam, hak
tidak ditangkap sewenang-wenang, hak atas rasa aman, dan hak anak.

"Jadi Salim Kancil dan Tosan ingin hidup menjadi petani, tapi adanya tambang pasir
illegal menganggu mata pencaharianya," kata Nur Kholis.

Sebelumnya, Salim tewas setelah dianiaya dan dibunuh oleh puluhan orang yang
diduga sebagai mantan tim pendukung Kepala Desa Haryono pada Sabtu, 26
September 2015. Salim ditangkap di rumahnya sebelum disiksa di halaman Balai
Desa, yang bersebelahan dengan gedung sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
dan Taman Kanak-Kanak.

Komplotan itu disebut sebagai Tim 12. Haryono sendiri dan 38 orang lainnya telah
ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus penganiayaan dan kasus tambang ilegal.

Menurut Nur Kholis, Salim dan Tosan mendapat ancaman setelah melakukan aksi
damai tolak dari kelompok pro tambang. Kemudian, ada janji dari aparat kepolisian
untuk melindungi.

"Tapi ancaman makin santer ke dua korban bersama rekan-rekanya, berbuntut


pada peristiwa tanggal 26 September 2015, ketika sebelum mengelar aksi demo,"
katanya.

Terjadi pelanggaran hak tidak mendapat perlakuan kejam terhadap Salim dan Tosan
karena keduanya menjadi sasaran aksi kekerasan Tim 12.

Hak tidak ditangkap sewenang-wenang juga tidak dilanggar lantaran mereka


ditangkap oleh sekelompok orang yang bukan kewenangannya.

"Jadi dia ditangkap bukan oleh aparat penegak hukum, melainkan kelompok
masyarakat atas suruhan pimpinan pemerintahan desa. Ya, Pak Kades yang
seharusnya melindungi," ujar Nur Kholis.
Sedangkan hak atas rasa aman, ungkap Nur Kholis, tidak didapatkan Salim dan
Tosan beserta petani lainnya karena mereka sering mendapat intimidasi atau
ancaman, baik fisik maupun non-fisik.

"Bahkan hingga kini, kelompok warga tolak tambang masih was-was rasa amannya.
Demikian juga masyarakat sekitarnya," kata Nur Kholis.

Yang paling disesalkan, ujarnya, adalah pelanggaran terhadap hak anak. Anak Salim,
Dio Eka Saputra (13 tahun), menyaksikan aksi penculikan dan kekerasan terhadap
ayahnya oleh Tim 12. Ditakutkan, hal tersebut dapat mengganggu kesehatan psikis
dan mentalnya.

"Saya kasihan, anak sekecil dia harus mengalami hal yang tidak pantas dilihat dan
disaksikan, apalagi menimpa almarhum bapaknya," kata Nur Kholis.

Komnas HAM pun meminta kepada Bupati Lumajang agar segera melakukan
rekonsiliasi antara warga pro tambang illegal dan yang menolaknya.

Selain itu, pemerintah kabupaten Lumajang juga merekomendasikan untuk


melakukan sosialisasi dampak negatif tambang illegal, karena lokasi penambangan
tidak jelas kepemilikannya.

"Pokoknya, rekomendasi ini harus ditindak lanjuti, agar masalah di Selok Awar-awar
kondusif dan tenang," katanya. —Rappler.com

Kesaksian Tosan dalam sidang pembunuhan Salim


Kancil
Tosan meyakini Kepala Desa Selok Awar-Awar sebagai aktor intelektual kasus
pembunuhan Salim Kancil

Amir Tedjo
Published 9:35 AM, February 26, 2016
Updated 9:35 AM, February 26, 2016

Pendukung aktivis tolak tambang berdemonstrasi di depan Pengadilan Negeri Surabaya, pada 25
Februari 2016. Foto oleh Amir Tedjo/Rappler

SURABAYA, Indonesia — Puluhan terdakwa kasus pembunuhan aktivis lingkungan


asal Lumajang, Salim Kancil, menjalani sidang kedua di Pengadilan Negeri Surabaya,
pada Kamis, 25 Februari.

Pada sidang kedua ini, Jaksa Penuntut Umum Dodi Ghazali menghadirkan delapan
orang saksi untuk dua berkas yang berbeda, yaitu pembunuhan berencana dan
tambang ilegal.
Salah satu saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum dalam berkas
pembunuhan berencana adalah Tosan, rekan Salim yang ikut dianiaya dalam tragedi
26 September 2015 lalu.

Dalam kesaksiannya, Tosan menyatakan jika ia bergabung dalam kelompok yang


menolak keberadaan pasir ilegal di Lumajang, Jawa Timur, itu sejak Juli 2015. Dalam
kelompoknya, ada Tosan dan lima orang lainnya, termasuk Salim yang lantang
menolak tambang pasir ilegal.

Menurut Tosan, ia bersama kelompoknya sudah melakukan berbagai upaya untuk


menutup tambang ilegal itu. Mulai dari melaporkan aktivitas ilegal tersebut kepada
Bupati Lumajang, Polres Lumajang, Ketua DPRD Lumajang, hingga melaporkan ke
Camat Pasirian, Lumajang.

Namun dari semua usaha itu tidak membuahkan hasil.

Puncaknya, kata Tosan, adalah pertemuan di Balai Desa Selok Awar-Awar pada 8
September 2015. Ketika itu dirinya menghadiri pertemuan dengan Camat Pasirian,
yang juga dihadiri Kepala Desa Selok Awar-Awar Hariyono.

"Dalam pertemuan itu tak ada kesepakatan apa pun," kata Tosan kepada majelis
hakim.

Lalu pada 9 September 2015, enam orang aktivis penolak tambang itu melakukan
penghadangan kepada truk-truk pengangkut pasir.

Akibat tindakannya itu, Camat Pasirian yang didampingi anggota masyarakat


lainnya, memberi Tosan surat pernyataan dari Kepala Desa Selok Awar-Awar.

Dalam surat itu, Kepala Desa Selok Awar-awar Hariyono menyatakan akan
menghentikan aktivitas tambang pasir ilegal itu.

"Tapi akibatnya pada 10 September, anak buah Hariyono mengeroyok saya," aku
Tosan.

Namun dalam persidangan, aktor intelektual dari pengeroyokan terhadap Tosan


dan Salim tak jelas disebutkan. Pasalnya, saat pengeroyokan, Tosan mengatakan jika
para anak buah Hariyono itu, tak pernah mengatakan jika pengeroyokan itu atas
perintah Hariyono.

"Saat mengeroyok memang tak menyebutkan disuruh Kades Hariyono. Tapi semua
orang tahu, mereka anak buah Hariyono," ujar Tosan.

Selain menghadirkan saksi Tosan, jaksa penuntut umum juga menghadirkan istri
Salim Kancil, Tijah binti Salam.

Dalam kesaksiannya Tijah mengatakan, saat kejadian dirinya sedang mencari pakan
untuk kambing.
"Saya datang, suami saya sudah tergeletak di makam. Sudah banyak polisi. Saya
tidak bisa mendekat," kata Tijah.

Untuk berkas tambang ilegal, jaksa penuntut umum menghadirkan empat orang
saksi, yaitu Paimin yang saat kejadian menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan
Izin Terpadu Kabupaten Lumajang.

Kemudian ada pula Sudomo yang bertindak sebagai operator alat berat; Rulianto,
sopir truk pembeli pasir ilegal; dan Hasan Basri penyidik dari pidana khusus Polres
Lumajang.

Dalam pemeriksaan saksi salah satu saksi, hakim dibuat sangat geram dengan
kinerja Polres Lumajang. Pihak penyidik Polres Lumajang mengakui jika baru tahu
ada tambang pasir ilegal pada 22 September 2015.

"Kalian polisi kemana saja? Masa harus ada jatuh korban jiwa, polisi baru tahu ada
tambang pasir ilegal? Kejadian ini bisa dicegah kalau sejak awal polisi tahu,” kata
Efran Basuning, salah satu hakim anggota.

Sebelumnya, Salim Kancil tewas pada 26 September 2015 setelah dikeroyok


puluhan orang di depan Balai Desa Selok Awar-Awar. Ia kemudian dianiaya hingga
tewas. Rekan Salim, Tosan, juga dianiaya hingga harus menjalani perawatan intensif
di rumah sakit.

35 orang terdakwa pembunuhan Salim dan pelaku aktivitas tambang ilegal di


Lumajang mulai menjalani persidangan sejak pekan lalu. Salah satunya adalah
mantan Kepala Desa Selok Awar-Awar Hariyono. —Rappler.com