Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN ASISTENSI

PRAKTIKUM MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENGADAAN


MODUL 2
PENGENDALIAN PERSEDIAAN DETERMINISTIK

Nama Instruktur : Muchammad Fauzi, S.T., M.Log.


Nama Asisten : Riski Septian Rachman
Gilang Maulana

Oleh:
Neisya Rahmah Hasanah 0516104031
Hery Abdurouf 0516104041
Nur’arifah Mutiakandi 0516104047

LABORATORIUM PERANCANGAN DAN OPTIMASI SISTEM INDUSTRI


PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


1.1.1 Pengendalian Persediaan Deterministik
Setiap perusahaan baik jasa maupun perusahaan produksi selalu memerlukan
persediaan. Tanpa adanya persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada risiko
bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan para
konsumen. Kemajuan atau keberhasilan suatu industri salah satunya dipengaruhi
oleh pengendalian persediaan (inventory), karena hal tersebut diharapkan dapat
meningkatkan keuntungan sehingga meminimumkan biaya-biaya yang
dikeluarkan.

Terdapat beberapa model yang bisa digunakan untuk menentukan total biaya
persediaan seperti model deterministik. Model deterministik yaitu model yang
menganggap kebutuhan bahan di masa yang akan datang diketahui dengan pasti
dan model deterministik merupakan model yang menganggap kebutuhan di masa
yang akan datang hanya diketahui berdasarkan distribusi kemungkinan data
kebutuhan masa lalu. Namun, pada kenyataannya sangat jarang kita temukan model
deterministik pada perusahaan karena pada umumnya parameter-parameter yang
digunakan perusahaan untuk menentukan total biaya perusahaan bersifat tidak
pasti.

Modul Pengendalian Inventori Deterministik ini akan membahas mengenai


pengendalian inventori deterministik statis dan dinamis. Pengendalian inventori
deterministik statis selama 12 periode menggunakan data demand yang sama
berdasarkan persentasi penyerapan dana tertinggi pada Modul klasifikasi inventori.
Sedangkan pengendalian inventori deterministik dinamis selama 6 periode
menggunakan data demand yang berbeda pada setiap periodenya berdasarkan
angka random. Pengendalian inventori deterministik ini memperhitungkan ongkos
total inventori. Adanya pengendalian inventori deterministik diharapkan dapat
membantu dalam pengambilan keputusan untuk sistem inventori.
1.2 TUJUAN
1.2.1 Pengendalian Persediaan Deterministik
Tujuan dari Modul Pengendalian Persediaan Deterministik praktikum Manajemen
Persediaan dan Pengadaan adalah:
1. Mampu memahami karakteristik pokok pengendalian persediaan
deterministik.
2. Mampu memahami variabel keputusan pengendalian persediaan
deterministik statis dan dinamis.
3. Mampu memahami fungsi tujuan pengendalian persediaan deterministik
statis dan dinamis.
4. Mampu melakukan perhitungan total ongkos pengendalian persediaan
deterministik statis dan dinamis.
5. Mampu mengambil keputusan dalam sistem inventori.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 PENGENDALIAN PERSEDIAAN DETERMINISTIK


2.1.1 Persediaan
Persediaan (inventory) adalah stok atau simpanan barang-barang (Stevenson dan
Chuong, 2014). Sementara, menurut Rangkuti (2002: 1), persediaan merupakan
suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk
dijual dalam satu periode usaha tertentu, atau persediaan barang-barang yang masih
dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku yang
menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Intinya, persediaan adalah
sumber daya menganggur (idle resources) yang keberadaanya menunggu proses
lebih lanjut (Bahagia, 2006).

Persediaan muncul akibat adanya kebutuhan akan komponen bernilai yang


mengharuskan untuk disimpan sebagai aset dari perusahaan. Perusahaan biasanya
menyimpan ratusan, ribuan bahkan jutaan satuan atau unit barang dalam gudang
sebagai media penyimpanan yang umum digunakan perusahaan pada umumnya.
Adapun persediaan atau barang yang disimpan, biasanya berkaitan dengan proses
bisnis yang dijalankan perusahaan atau unit usaha. Misalnya, suatu rumah sakit
menyimpan obat-obatan, peralatan medis, peralatan untuk perawatan, dan
sebagainya di tempat penyimpanan untuk mendukung kinerja yang dijalankan suatu
rumah sakit agar berjalan dengan lancar. Demikian juga dengan perusahaan
manufaktur yang menyimpan bahan-bahan baku dalam gudang untuk mendukung
kelancaran proses produksi. Jadi, pada prinsipnya persediaan dapat mempermudah
perusahaan, khususnya perusahaan manufaktur dalam menjalankan fungsinya
sebagai penyedia barang bagi konsumen yang membutuhkannya. Adanya
persediaan juga memungkinkan perusahaan untuk menyuplai barang dengan cepat
kepada konsumen, dikarenakan persediaan berguna untuk menghilangkan resiko
keterlambatan datangnya barang.

Secara umum model-model pengendalian persediaan dibagi dalam tiga kategori


yaitu model pengendalian deterministik, model pengendalian probabilistik, dan
model pengendalian tak tentu. Model pengendalian persediaan deterministik
merupakan model persediaan yang semua parameternya diketahui dengan pasti.
Model pengendalian persediaan tak tentu merupakan model pengendalian
persediaan yang pola distribusi kemungkinannya tidak diketahui.

2.1.2 Persoalan Persediaan Deterministik


Persoalan Persediaan Deterministik adalah persoalan persediaan dimana
permintaan selama horison perencanaan diketahui secara pasti dan tidak memiliki
variansi. Dikarenakan tidak memiliki variansi maka tidak memiliki pola distribusi.
Persoalan persediaan deterministik dapat dibagi menjadi dua, yaitu deterministik
statis dan deterministik dinamis. Hal yang membedakan keduanya adalah pada
persediaan deterministik statis setiap periode perencanaan memiliki permintaan
yang sama, sedangkan pada persediaan deterministik dinamis setiap periode
perencanaan memiliki permintaan yang berbeda. Persoalan utama dalam persediaan
deterministik adalah menentukan besarnya stok operasi yang dijabarkan dalam dua
pertanyaan dasar, yaitu:
a. Berapa jumlah barang yang harus dipesan untuk setiap kali melakukan
pemesanan?
b. Kapan pemesanan dilakukan?

Cara menjawab kedua pertanyaan dasar dalam persediaan deterministik statis


tersebut, Wilson telah mengembangkan modelnya pada tahun 1929 beserta
pemecah masalahnya dengan metode yang sering disebut EOQ (Economic Order
quantity). Sementara untuk persoalan persediaan deterministik dinamis selain
dikembangkan model analitik dengan menggunakan program dinamis oleh Wagner
Within melalui teori optimasinya yakni Algoritma Wagner Within, juga
dikembangkan berbagai metode heuristik.

2.1.3 Model Persediaan Deterministik Statis


Persediaan deterministik statis adalah fenomena yang hanya memiliki nilai sentral
dan tidak memiliki nilai sebaran atau nilai variansinya dianggap tidak signifikatif
sehingga dapat diabaikan (S = 0).
2.1.3.1 Komponen Model
Menurut Bahagia (2006: 72-73), untuk mempermudah formulasi model perlu
diidentifikasikan terlebih dahulu komponen-komponen modelnya. Komponen-
komponen model persediaan deterministik statis secara implisit meliputi:

1. Kriteria Perfomansi
Berangkat dari asumsi-asumsi pada bagian sebelumnya, maka ongkos
persediaan total yang dimaksud di sini seperti dinyatakan dalam persamaan
yang terdiri dari tiga elemen ongkos, yaitu ongkos beli (Ob), ongkos
pemesanan (Op), dan ongkos simpan (Os). Ongkos kekurangan tidak
diperhitungkan sebab dengan ketersediaan 100% kekurangan barang tidak
akan terjadi. Dikarenakan ongkos pembelian (Ob) konstan, untuk menentukan
ukuran lot pemesanan q0 optimal, wilson hanya mencoba mencari
keseimbangan antara ongkos pemesanan (Op) dan ongkos simpan (Os) yang
dapat memberikan ongkos persediaan total (OT) yang minimum.
2. Variabel Keputusan
Ada dua variabel keputusan yang terkait dalam penentuan kebijakan persediaan
deterministik statis, yaitu:
a. Ukuran lot pemesanan ekonomis (economic order quantity) untuk setiap
kali melakukan pembelian (q0).
b. Saat pemesanan dilakukan (r) atau sering dikenal dengan titik pemesanan
kembali (reorder point).
3. Parameter
Sesuai dengan kriteria kinerja dan variabel keputusan yang telah ditentukan
maka parameter yang digunakan dalam model ini adalah:
a. Harga barang per unit (p);
b. Ongkos tiap kali pesan (A);
c. Ongkos simpan per unit per periode (h).

2.1.3.2 Formulasi Model


Bahagia (2006: 73) melanjutkan, ongkos inventori total (OT) dapat dinyatakan
dalam persamaan berikut:
OT = Ob + Op + Os
atau
𝑂𝑇 = 𝐷𝑝 + √2𝐴𝐷ℎ
Dimana:
Ob (Ongkos Pembelian) = Harga barang per unit (p) x Total permintaan (D)
Op (Ongkos Pemesanan) = Frekuensi pemesanan (f) x ongkos pesan (A)
Os (Ongkos Simpan) = jumlah barang yang disimpan (q) x ongkos simpan (h)

2.1.3.3 Model Economic Order Quantity (EOQ) Dasar


Menurut Hillier dan Lieberman (2004: 260), EOQ dasar menggunakan asumsi
sebagai berikut:
1. Laju permintaan konstan D unit per satuan waktu diketahui.
2. Kuantitas pesanan (q) untuk mengisi kembali persediaan datang secara
bersamaan pada saat diinginkan, yaitu ketika level persediaan mencapai 0.
3. Kekurangan persediaan tidak boleh terjadi.
Sehubungan dengan asumsi 2, biasanya terdapat waktu antara saat dilakukan
pesanan datang sebagai persediaan. Waktu diantara suatu pesanan dilakukan dan
penerimaan ini dikenal sebagai lead time. Level persediaan dimana pesanan
dilakukan disebut titik pemesanan ulang (reorder point).

Titik pemesanan ulang = laju permintaan x lead time

Bahagia (2006: 76) mengatakan, Rumusan ukuran lot pemesanan EOQ yang
digagas oleh Wilson adalah sebagai berikut:

2𝐴𝐷
𝑞𝑜 = √

dimana:
q0 : Ukuran lot pemesanan
A : Biaya pesan (Rp. per pesan)
D : Total permintaan (per tahun)
h : Biaya simpan (Rp. per unit per tahun)

Adapun waktu pemesanan yang optimal dapat dicari dengan:


𝑞𝑜 2𝐴
𝑇= atau 𝑇 = √𝐷ℎ
𝐷

dimana:
T : Waktu Pemesanan (Tahun)
q0 : Ukuran lot pemesanan
D : Total permintaan (per tahun)
A : Biaya pesan (Rp. per pesan)
h : Biaya simpan (Rp. per unit per tahun

Hubungan antara OT dan q0 yaitu seperti pada gambar diatas, dimana ongkos simpan
berbanding lurus dengan jumlah barang yang disimpan dan ongkos pesan
merupakan fungsi hiperbolik terhadap ukuran lot pemesanan, sedangkan ongkos
inventori total merupakan penjumlahan dari kedua ongkos ini. Terlihat bahwa
merupakan fungsi OT konveks dari q0 , sifat konveksitas inilah yang akan digunakan
untuk mencari solusi optimal dari model.

2.1.4 Model Persediaan Deterministik Dinamis


Inventori deterministik dinamis yaitu permintaan barang terjadi pada suatu titik
waktu yang diskrit dengan jumlah yang diketahui secara pasti (deterministik),
walaupun besarnya tidak sama antara satu periode dengan periode lainnya
(dinamis). Dalam hal ini permintaan hanyaterjadi di setiap awal periode dan akan
dipenuhi pada periode tersebut tanpa ditunda. Di antara kedua titik waktu yang
berurutan tersebut,sama sekali tidak terjadi permintaan. Dengan demikian jika
dalam satu horison perencanaan terdiri atas 12 periode perencanaan maka ada 12
permintaan barang yang akan datang pada setiap awal periodeperencanaannya. Hal
ini berbeda dengan permintaan yang bersifat kontinu di mana permintaan terjadi
sepanjang horison perencanaan dengan tingkat permintaan tertentu. Selain itu pada
permintaan dinamis tidak lagi berlaku asumsi permintaan datang dengan kecepatan
konstan, melainkan permintaan akan datang dengan kecepatan dan jumlah yang
berbeda antara satu periode ke periode berikutnya selama horison perencanaannya.
Permasalahan yang dijumpai dalam fenomena permintaan dinamis tidak berbeda
dengan fenomena statis, yaitu terkait dengan penentuan operating stock, yang
berbeda adalah cara untuk mendapatkan solusinya.

Untuk menentukan ukuran lot pemesanan yang ekonomis pada permintaan


deterministik dinamis yang bersifat diskrit pada dasarnya dapat digunakan metode
optimasi maupun metode heuristik. Metode optimasi akan menghasilkan solusi
optimal sedangkan metode heuristic akan menghasilkan solusi terbaik yang tidak
selalu dapat dijamin keoptimalannya. Metode optimasi yang populer dalam hal ini
adalah metode Wagner-Within (1958), yaitu dengan menggunakan prinsip
programa dinamis, sedangkan metode heuristik di antaranya adalah metode Silver-
Meal (1969).

2.1.4.1 Komponen Model


Menurut Bahagia (2006: 98-99), komponen-komponen model persediaan dinamis
secara implisit meliputi:
1. Kriteria Kinerja
Kasus yang terjadi pada deterministik dinamis tidak akan ada biaya
kekurangan persediaan karena ketersediaan barang dapat diatur sedemikian
rupa yang tidak memungkinkan terjadinya kekurangan barang pada saat
dibutuhkan. Adapun biaya persediaan total pada kasus ini terdiri atas biaya
beli, biaya pesan (A), serta biaya simpan (h).
2. Variabel Keputusan
Variabel waktu kedatangan dan waktu ancang-ancang (L) yang diketahui
secara pasti membuat pemesanan barang dapat ditentukan secara pasti, yaitu L
satuan waktu sebelum barang yang dipesan datang. Berbeda dengan variabel-
variabel tersebut, pada variabel yang melibatkan ukuran lot pemesanan (q0)
perlu ditentukan ukuran lotnya pada tiap periode dikarenakan besarnya belum
tentu sama.
3. Parameter
Parameter yang digunakan pada model ini meliputi harga satuan barang P
(Rp./unit), harga pesan A (Rp./pesan), dan harga satuan biaya simpan h
(Rp/unit/horison perencanaan), serta waktu ancang-ancang konstan sebesar L
periode.

2.1.4.2 Formulasi Model


Cara untuk memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan deterministik
dinamis dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan karakteristik
penyelesaiannya, yaitu metode optimasi dan metode heuristik.

2.1.4.3 Metode Metode Wagner-Within


Menggunakan prinsip programa dinamis, Wagner dan Within (1958)
mengembangkan algoritma untuk penyelesaian permasalahan persediaan
deterministik dinamis dengan cara yang optimal. (Tersine dalam Bahagia, 2006)
menjabarkan langkah-langkah Algoritma Wagner-Within ini sebagai berikut:
1. Menghitung matriks total ongkos untuk semua pemesanan selama horison
perencanaanya.
𝑂𝑒𝑛 = 𝐴 + ℎ ∑𝑛𝑖=𝑒(𝑞𝑒𝑛 – 𝑞𝑒𝑡 ) untuk 1 ≤ e ≤ n ≤ N
Dimana:
A : Biaya pesan (Rp./pesan)
h : Biaya simpan per unit
e : Batas awal periode yang dicakup pada pemesanan qet
n : Batas maksimum periode yang dicakup pada pemesanan qet
𝑞𝑒𝑡 : ∑𝑛𝑖=𝑒 𝐷𝑡
𝐷𝑡 : Permintaan pada periode t

2. Menghitung biaya minimum yang mungkin dari periode e sampai dengan


periode n
𝑓𝑛 = 𝑀𝑖𝑛 [𝑂𝑒𝑛 + 𝑓𝑒−1 ] untuk e = 1,2,…,N dan n = 1,2,…,N
Mulai dengan 𝑓0 = 0 selanjutnya dihitung secara berurutan hingga 𝑓𝑁 .

3. Menjabarkan hasil optimal pada langkah 2 ke dalam ukuran lot pemesanannya

Tabel 2. 1 Penjabaran fn ke dalam Ukuran Lot Pemesanan


Pemesanan terakhir dilakukan pada periode e untuk
fN = Oen + fe-1 memenuhi permintaan dari periode e sampai dengan
periode n
Pemesanan sebelum pemesanan terakhir harus
f e-1 = Ove-1 + f v-1 dilakukan pada periode v untuk memenuhi permintaan
dari periode v sampai periode e - 1

Pemesanan yang pertama harus dilakukan pada periode


fu-1 = O1u-1 + f0 1 untuk memenuhi permintaan dari periode 1 sampai
periode u - 1
(Sumber: Bahagia Tahun 2008)

2.1.4.4 Metode Lot for Lot (LFL)


Menurut Bahagia (2006: 110), metode LFL merupakan metode heuristik penentuan
ukuran lot pemesanan yang paling sederhana. Asumsi yang ada di balik metode ini
adalah bahwa pemasok (dari luar atau lantai pabrik) tidak mensyaratkan adanya
ukuran lot pemesanan tertentu, artinya berapapun ukuran lot yang dipilih akan
dapat dipenuhi. Metode ini mencoba untuk meniadakan biaya simpan barang,
dengan memesan sejumlah barang yang dibutuhkan dan barang yang dipesan
tersebut diatur sedemikian rupa sehingga akan datang tepat pada saat dibutuhkan.
Metode LFL pada prinsipnya adalah menentukan ukuran lot pemesanan yang
besarnya sama dengan besarnya permintaan pada periode perencanaan yang
bersangkutan, sedangkan pemesanan dilakukan L periode sebelum barang
diperlukan.

Kebijakan pengadaan dengan menggunakan metode LFL adalah sebagai berikut.


a. Ukuran lot pemesanan (qt) besarnya sama dengan bayaknya permintaan pada
periode perencanaan (Dt) yang bersangkutan (qt = Dt).
b. Pemesanan (Plan Order Release/POR) dilakukan L periode sebelum barang
diperlukan.
Metode ini biasa digunakan apabila biaya pesan cukup kecil, dan biaya simpan
cukup besar. Oleh karena itu, metode ini biasanya digunakan untuk barang yang
mahal atau tingkat diskontinuitasnya tinggi.
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 PENGUMPULAN DATA


4.1.1 Pengendalian Persediaan Deterministik
4.1.1.1 Pengendalian Persediaan Deterministik Statis
Pengumpulan data pada modul Pengendalian Persediaan Deterministik Statis ini
terdiri dari data demand dan parameter selama satu tahun. Data Parameter terdiri
dari harga barang, ongkos pesan, ongkos simpan, kecepatan uniform dan juga lead
time. Data demand terdiri dari 12 periode dengan demand merupakan hasil
pengolahan data pada modul pengambilan keputusan dan klasifikasi inventori
dengan persentase penyerapan dana terbesar pada klasifikasi inventori metode
ABC. Data demand dan data parameter selama satu tahun dapat dilihat pada Tabel
4.1 dan 4.2 di bawah ini:
Tabel 4. 1 Data Demand selama Satu Tahun

Periode
Demand (Unit)
(Bulan)

1 12256
2 12256
3 12256
4 12256
5 12256
6 12256
7 12256
8 12256
9 12256
10 12256
11 12256
12 12256
Total 147072
(Sumber: Pengumpulan Data)
Tabel 4. 2 Data Parameter selama Satu Tahun
Parameter Nilai
Harga Barang (p) Rp 170.000,00 /unit
Ongkos Pesan (A) Rp 750.067.200,00 /pesanan
Ongkos Simpan (h) Rp 34.000,00 /unit /tahun
Kecepatan Uniform (R) 500000 /unit /periode
Lead Time (L) 2 Bulan
(Sumber: Pengumpulan Data)

4.1.1.2 Pengendalian Persediaan Deterministik Dinamis


Pengumpulan data pada modul Pengendalian Persediaan Deterministik Dinamis ini
terdiri dari data demand dan parameter selama enam bulan. Data Parameter terdiri
dari harga barang, ongkos pesan, ongkos simpan dan juga lead time. Data demand
terdiri dari 6 periode dengan demand merupakan angka random dari 10 hingga 100.
Data demand dan data parameter selama enam bulan dapat dilihat pada Tabel 4.3
dan 4.4 di bawah ini:
Tabel 4. 3 Data Demand selama Enam Bulan
Periode (t) 1 2 3 4 5 6
Demand (Dt) 17 96 97 23 51 49
(Sumber: Pengumpulan Data)

Tabel 4. 4 Data Parameter selama Satu Tahun


Parameter Nilai
Harga Barang (p) Rp 20.000,00 /unit
Ongkos Pesan (A) Rp 500.000,00 /pesanan
Ongkos Simpan (h) Rp 4.000,00 /unit /tahun
Lead Time (L) 2 bulan
(Sumber: Pengumpulan Data)

4.2 PENGOLAHAN DATA


4.2.1 Pengendalian Persediaan Deterministik
4.2.1.1 Pengendalian Persediaan Deterministik Statis
Berdasarkan data demand dan parameter yang ada, dapat dihitung ongkos total
inventori menggunakan metode-metode sebagai berikut:
A. Inventori Deterministik Statis dengan Metode Transaksional
Tabel 4. 5 Perhitungan Ongkos Total Metode Transaksional

(Sumber : Pengolahan Data)

Contoh Perhitungan untuk f =1:


𝐷 147072
𝑞0 = = = 147072
𝑓 1

𝑂𝑏 = 𝑝 𝑥 𝐷
𝑂𝑏 = Rp170.000 x 147072
𝑂𝑏 = Rp25.002.240.000
𝑂𝑝 = 𝑓 𝑥 𝐴
𝑂𝑝 = 1 x Rp750.062.200
𝑂𝑝 = Rp750.062.200
1
𝑂𝑠 = 2 𝑞0 𝑥 ℎ
1
𝑂𝑠 = 2 147072 x Rp34.000

𝑂𝑠 = 73536 x Rp34.000
𝑂𝑠 = Rp2.500.224.000
𝑂𝑇 = 𝑂𝑏 + 𝑂𝑝 + 𝑂𝑠
𝑂𝑇 = Rp25.002.240.000 + Rp750.062.200 + Rp2.500.224.000
𝑂𝑇 = Rp28.252.531.200

B. Inventori Deterministik Statis dengan Metode Wilson


1) Ukuran Lot Pemesanan Ekonomis (q0)

2𝐴𝐷
q0 = √

2 𝑥 750.067.200 x 147072
q0 = √ 34.000

220.627.766.476.800
q0 = √ 34.000

q0 = 80555

2) Waktu Antar Pemesanan (T)


2𝐴
T = √𝐷ℎ

2𝑥 750.067.200
T =√147072 𝑥 34000

1.500.134.400
T =√5.000.448.000

T = √0,3
T = 0,5477/ bulan
T = 0,5477 x 12
T= 6,572 / tahun

3) Ongkos Total Inventory Optimal (OT)


OT = √2ADh + Dp
OT = √2 𝑥 750.067.200 𝑥 147072 𝑥 34.000 + 147072

OT = √7,5013𝑥 108 + 147072


OT = 2.739.005.240

C. Inventori Deterministik Statis dengan adanya perubahan waktu ancang-


ancang (Leadtime)
1) Ukuran Lot Pemesanan Ekonomis q0*

2𝐴𝐷
q0* = √

2 𝑥 750.067.200 x 147072
q0* = √ 34.000

220.627.766.476.800
q0* = √ 34.000

q0* = 80555

2) Waktu Antar Pemesanan (T)


2𝐴
T = √𝐷ℎ

2𝑥 750.067.200
T =√147072 𝑥 34000

1.500.134.400
T =√5.000.448.000

T = √0,3
T = 0,5477/ bulan
T = 0,5477 x 12
T= 6,572 / tahun

3) Titik Pemesanan Ulang atau Reorder Point (r)


L < T, maka r = D x L
r = 147072 x 2
r = 294,144 tahun
r = 24,512 bulan
4) Ongkos Total Inventory Optimal (OT)
OT = √2ADh + Dp
OT = √2 𝑥 750.067.200 𝑥 147072 𝑥 34.000 + 147072
OT = √7,5013𝑥 108 + 147072
OT = 2.739.005.240

D. Inventori Deterministik Statis dengan adanya kondisi barang datang serentak


(uniform)
1) Ukuran Lot Pemesanan ekonomis (q0)
2𝐴𝐷
q0 = √ 𝐷
ℎ (1−
𝑅

2 𝑥 750.067.200 x 147072
q0 = √ 147072
34.000 (1−
50000

220.627.766.476.800
q0 = √ 34.000 𝑥 0,705856

q0 = √9.193.166.814,76
q0 = 95882

2) Waktu Antar Pemesanan (T)


2𝐴
T=√ 𝐷
𝐷ℎ (1− )
𝑅

2𝑥 750.067.200
T =√ 147072
147072𝑥 34.000 (1− )
50000

1.500.134.400
T = √147072𝑥 34.000 (1−0,294144)

1.500.134.400
T =√5.000.448.000 𝑥 0,70586

1.500.134.400
T = √3.529.596.223,49

T = √0,43
T = 0,65193 bulan
T = 0,65193 x 12
T = 7,82321 tahun

3) Reorder Point (r)


L < T, maka r = D x L
r = 147072 x 2
r = 294,144 tahun
r = 24,512 bulan
4) Ongkos Total Inventory Optimal
𝐷
OT = √2ADh ( 1 − 𝑅 ) + Dp

147072
OT = √ 2 𝑥 750.067.200 𝑥 147072 𝑥 34.000( 1 − ) + 147072
50000

147072
OT =√ 7,5013𝑥 108 ( 1 − ) + 147072
50000

OT = √ 7,5013𝑥 108 ( 1 − 0,29414 ) + 147072

OT = √ 7,5013𝑥 108 𝑥 0,705856 + 147072


OT = Rp2.301.205.244,44

E. Inventori Deterministik Statis dengan Metode Diskon


Jika 𝑞0 ≤ 80000 maka harga produk sebesar Rp. 170.000
Jika 80000 < 𝑞0 ≤ 120000 maka harga produk sebesar Rp. 136.000
Jika 𝑞0 > 200000 maka harga produk sebesar Rp. 119.000

 Kondisi 1 jika 𝑞0 ≤ 80000, maka harga produk diskon sebesar Rp. 170.000
a) Ukuran Lot Pemesanan Ekonomis (𝑞0 )

2𝐴𝐷
𝑞0 1 = √

2 𝑥 𝑅𝑝.750.067.200 𝑥 147072
𝑞0 1 = √
Rp. 34.000

Rp. 220.627.766.467.800
𝑞0 1 = √
Rp. 34.000

= 80555 unit

b) Ongkos Total Inventori Optimal (𝑂𝑇 )


𝐷 1
𝑂𝑇 1 = 𝐷𝑝 + 𝐴 + ℎ 𝑞0 1
𝑞0 1 2
147072 1
𝑂𝑇 1 = 147072 + (Rp. 750.067.200 x ) + (Rp. 34000 x 2 x 80555)
80555

𝑂𝑇 1 = 147072 + Rp. 1.369.423.167,26 + Rp. 1.369.435.000,00


𝑂𝑇 1 = Rp. 2.739.005.239,26
 Kondisi 2 jika 80000 < 𝑞0 ≤ 120.000, maka harga produk diskon Rp.
136.000
a) Ukuran Lot Pemesanan Ekonomis (𝑞0 )

2𝐴𝐷
𝑞0 2 = √

2 𝑥 Rp. 600.053.760 𝑥 147072


𝑞0 2 = √
Rp. 34.000

Rp. 176.502.213.181.440
𝑞0 2 = √
Rp. 34.000

𝑞0 2 = 72051 unit

b) Ongkos Total Inventori Ekonomis (𝑂𝑇 )


𝐷 1
𝑂𝑇 2 = 𝐷𝑝 + 𝐴 + ℎ 𝑞0 2
𝑞0 2 2
147072 1
𝑂𝑇 2 = 147072 + (Rp. 600.053.760 x ) + (Rp. 34.000 x 2 x 72051)
72051

𝑂𝑇 2 = Rp. 147072 + Rp. 1.224.842.217,19 + Rp. 1.224.867.000,00


𝑂𝑇 2 = Rp. 2.449.856.289,19

 Kondisi 3 jika 𝑞0 > 120000, maka harga produk diskon Rp. 119.000
a) Ukuran Lot Pemesanan Ekonomis (𝑞0 )

2𝐴𝐷
𝑞0 3 = √

2 𝑥 Rp. 525.047.400 𝑥 147072


𝑞0 3 = √
Rp. 34.000
Rp. 154.439.436.533.760
𝑞0 3 = √
Rp. 34.000

𝑞0 3 = 67397 unit

b) Ongkos Total Inventori Optimal (𝑂𝑇 )


𝐷 1
𝑂𝑇 3 = 𝐷𝑝 + 𝐴 + ℎ 𝑞0 2
𝑞0 2 2
147072 1
𝑂𝑇 3 = 147072 + (Rp. 525.047.400 x ) + (Rp. 34.000 x 2 x 67397)
67397

𝑂𝑇 3 = Rp. 147072 + Rp. 1.145.744.146,87 + Rp. 1.145.749.000,00


𝑂𝑇 3 = Rp. 2.291.640.218,87

F. Inventori Deterministik Statis dengan Model Multi Item

Tabel 4.6 Data Barang


Demand Harga Barang Ongkos Simpan
Jenis Barang
(unit per tahun) (per unit) (per unit per tahun)
1 147072 Rp 170.000,00 Rp 34.000,00
2 152880 Rp 25.000,00 Rp 5.000,00
3 67356 Rp 45.000,00 Rp 9.000,00
4 176424 Rp 16.000,00 Rp 3.200,00
5 178860 Rp 15.000,00 Rp 3.000,00
Total 722592 Rp 271.000,00 Rp 54.200,00
(Sumber: Pengolahan Data)

a) Waktu Antar Pemesanan (T)


2𝐴
𝑇1 = √
𝑁
∑ 𝐷ℎ
𝑖=1 𝑖 𝑖

2 x 750.067.200
𝑇1 = √
(147072 x 34.000) + (152880 x 5.000) + ⋯ + (178860 x 3.000)

1.500.134.400
𝑇1 = √
(5.000.448.000) + (764.400.000) + ⋯ + (536.580.000)
1.500.134.400
𝑇1 = √ = √0,2007 = 0,45 tahun = 5,4 bulan
7.472.188.800

2𝐴
𝑇2 = √
𝑁
∑ 𝐷ℎ
𝑖=1 𝑖 𝑖

2 x 144.600.000
𝑇2 = √
(147072 x 34.000) + (152880 x 5.000) + ⋯ + (178860 x 3.000)

229.320.000
𝑇2 = √
(5.000.448.000) + (764.400.000) + ⋯ + (536.580.000)

229.320.000
𝑇2 = √ = √0,0306 = 0,18 tahun = 2,16 bulan
7.472.188.800

2𝐴
𝑇3 = √
𝑁
∑ 𝐷ℎ
𝑖=1 𝑖 𝑖

2 x 90.930.600
𝑇3 = √
(147072 x 34.000) + (152880 x 5.000) + ⋯ + (178860 x 3.000)

181.861.200
𝑇3 = √
(5.000.448.000) + (764.400.000) + ⋯ + (536.580.000)

181.861.200
𝑇3 = √ = √0,0243 = 0,16 tahun = 1,92 bulan
7.472.188.800

2𝐴
𝑇4 = √
𝑁
∑ 𝐷ℎ
𝑖=1 𝑖 𝑖
2 x 84.863.520
𝑇4 = √
(147072 x 34.000) + (152880 x 5.000) + ⋯ + (178860 x 3.000)

169.367.040
𝑇4 = √
(5.000.448.000) + (764.400.000) + ⋯ + (536.580.000)

169.367.040
𝑇4 = √ = √0,0227 = 0,15 𝑡ahun = 1,8 bulan
7.472.188.800

2𝐴
𝑇5 = √
𝑁
∑ 𝐷ℎ
𝑖=1 𝑖 𝑖

2 x 80.487.000
𝑇5 = √
(147072 x 34.000) + (152880 x 5.000) + ⋯ + (178860 x 3.000)

160.974.000
𝑇5 = √
(5.000.448.000) + (764.400.000) + ⋯ + (536.580.000)

160.974.000
𝑇5 = √ = √0,0216 = 0,15 𝑡ahun = 1,8 bulan
7.472.188.800

b) Ukuran Lot Pemesanan Ekonomis (𝑞0 )


𝑞0 1 = 𝑇𝐷1
𝑞0 1 = 0,45 x 147072 = 65898
𝑞0 2 = 𝑇𝐷2
𝑞0 2 = 0,18 x 152880 = 26783
𝑞0 3 = 𝑇𝐷3
𝑞0 3 = 0,16 x 67356 = 10509
𝑞0 4 = 𝑇𝐷4
𝑞0 4 = 0,15 x 176424 = 26562
𝑞0 5 = 𝑇𝐷5
𝑞0 5 = 0,15 x 178860 = 26253
4.2.1.2 Pengendalian Persediaan Deterministik Dinamis
Berdasarkan data demand dan parameter yang ada, dapat dihitung ongkos total
inventori menggunakan metode-metode sebagai berikut:
A. Inventori Deterministik Dinamis dengan Metode Algoritma Wagner-Within
1) Ongkos Total dari periode e sampai n
Oen = A + h ∑𝑛𝑡=𝑒(𝑞𝑒𝑛 − 𝑞𝑒𝑡 ) dimana 𝑞𝑒𝑡 = ∑𝑛𝑡=𝑒 𝐷𝑡

O11 = 500.000 + 4.000 [(17-17)]

= 500.000 + 4.000 (0)

= Rp. 500.000

O12 = 500.000 + 4.000 [(113-17) + (113-113)]

= 500.000 + 4.000 (96 + 0)

= 500.000 + 4.000 (96)

= 500.000 + 384.000

= Rp. 884.000

O13 = 500.000 + 4.000 [(210 – 17) + ( 210 – 113) + (210-210)]

= 500.000 + 4.000 (193 + 97 + 0)

= 500.000 + 4.000 (290)

= 500.000 + 1.160.000

= Rp. 1.660.000

O14 = 500.000 + 4.000 [(233 – 17) + (233-113) + (233-210) + (233-233)]

= 500.000 + 4.000 ( 216 + 120 + 23 + 0)

= 500.000 + 4.000 (359)

= 500.000 + 1.436.000

= 1.936.000
O15 = 500.000 + 4.000 [(284-17) + (284-113) + (284-210) + (284-233) + (284- 284)

= 500.000 + 4.000 (267 + 171 + 74 + 51 + 0)

= 500.000 + 4.000 (563)

= 500.000 + 2.252.000

= Rp. 2.752.000

O16 = 500.000 + 4.000 [(333-17) + (333-113) + (333-210) + (333-233) + (333-


284) + (333-333)]

= 500.000 + 4.000 (316 + 220 + 123 + 100 + 49 + 0)]

= 500.000 + 4.000 (808)

= 500.000 + 3.232.000

= Rp. 3.732.000

O22 = 500.000 + 4.000 [(96-96)]

= 500.000 + 4.000 (0)

= 500.000 + 0

= Rp.500.000

O23 = 500.000 + 4.000 [(193-96) + (193-193)]

= 500.000 + 4.000 (97 + 0)

= 500.000 + 4.000 (97)

= 500.000 + 388.000

= Rp. 888.000

O24 = 500.000 + 4.000 [(216-96) + (216-193) + (216-216)]

= 500.000 + 4.000 (120 + 23 + 0)


= 500.000 + 4.000 (143)

= 500.000 (572.000)

= Rp. 1.072.000

O25 = 500.000 + 4.000 [(267-96) + (267-193) + (267-216) + (267-267)]

= 500.000 + 4.000 (171 + 74 + 51 + 0)

= 500.000 + 4.000 (296)

= 500.000 + 1.184.000

= 1.684.000

O26 = 500.000 + 4.000 [(316-96) + (316-193) + (316-216) + (316-267) + (316-316)

= 500.000 + 4.000 (220+ 123 + 100 + 49 + 0)

= 500.000 + 4.000 (492)

= 500.000 + 1.968.000

= Rp. 2.468.000

O33 = 500.000 + 4.000 [(97-97)]

= 500.000 + 4.000 (0)

= 500.000 (0)

= Rp. 500.000

O34 = 500.000 + 4.000 [(120-97) + (120-120)]

= 500.000 + 4.000 (23 + 0)

= 500.000 + 4.000 (23)

= 500.000 + 92.000

= Rp. 592.000
O35 = 500.000 + 4.000 [(171-97) + (171-120) –(171-171)]

= 500.000 + 4.000 (74 + 51 + 0)

= 500.000 + 4.000 (125)

= 500.000 + 500.000

= Rp. 1.000.000

O36 = 500.000 + 4.000 [(220-97)+ (220-120) + (220-171) + (220-220)]

= 500.000 + 4.000 ( 123 + 100 + 49 + 0)

= 500.000 + 4.000 (272)

= 500.000 + 1.088.000

= Rp. 1.588.000

O44 = 500.000 + 4.000 [(23-23)]

= 500.000 + 4.000 (0)

= 500.000 (0)

= Rp.500.000

O45 = 500.000 + 4.000 [(74-23) + (74-74)]

= 500.000 + 4.000 (51 + 0)

= 500.000 + 4.000 (51)

= 500.000 + 204.000

= Rp. 704.000

O46 = 500.000 + 4.000 [(123-23) + (123-74) + (123-123)]

= 500.000 + 4.000 (100+49+0)

= 500.000 + 4.000 (149)


= 500.000 +596.000

= Rp. 1.096.000

O55 = 500.000 + 4.000 [(51-51)]

= 500.000 + 4.000 (0)

= 500.000 + 0

= Rp. 500.0000

O56 = 500.000 + 4.000 [(100-51) + (100-100)]

= 500.000 + 4.000 (49 +0)

= 500.000 + 196.000

= Rp. 696.000

O66 = 500.000 + 4.000 [(49-49)]

= 500.000 + 4.000 (0)

= 500.000 + 0

= Rp. 500.000

Tabel 4. 7 Tabel Ongkos Total dari periode e sampai n


e|n 1 2 3 4 5 6
1 500000 884000 1660000 1936000 2752000 3732000
2 500000 888000 1072000 1684000 2468000
3 500000 592000 1000000 1588000
4 500000 704000 1096000
5 500000 696000
6 500000
(Sumber : Pengolahan Data)

2) Ongkos Minimum periode e sampai n


𝑓𝑛=[𝑂𝑒𝑛+𝑓𝑒−1] dimana e = 1, 2, …, n dan n = 1, 2, …, N
f0 = 0
f1 = Min [O11 + f0]
= 500.000 untuk O11 + f0
f2 = Min [O12 + f0, O22 + f1]
= [884.000 + 0], [500.000 + 500.000]
= 884.000 untuk O12 + f0
f3 = Min [O13 + f0, O23 + f1, O33 + f2]
= [1.660.000 + 0], [888.000 + 500.000], [500.000+ 884.000]
= 1.384.000 untuk O33 + f2
f4 = Min [O14 + f0, O24 + f1, O34 + f2, O44 + f3]
= [1.936.000 + 0], [1.072.000 + 500.000], [592.000 + 884.000],
[500.000 + 1.384.000]
= 1.476.000 untuk O34 + f2
f5 = Min [O15 + f0, O25 + f1, O35 + f2, O45 + f3, O55 + f4]
= [2.752.000 + 0], [1.684.000 + 500.000], [1.000.000 + 884.000],
[704.000 + 1.384.000], [500.000 + 1.476.000]
= 1.884.000 untuk O35 + f2
F6 = Min [O16 + f0, O26 + f1, O36 + f2, O46 + f3, O56 + f4, O66 + f5]
= [3.732.000 + 0], [2.468.000 + 500.000], [1.588.000 + 884.000],
[1.096.000 + 1.384.000], [696.000 + 1.476.000], [500.000+ 1.884.000]
= 2.172.000 untuk O56 + f4

Tabel 4. 8 Tabel Ongkos Minimum dari periode e sampai n


e|n 1 2 3 4 5 6
1 500000 884000 1660000 1936000 2752000 3732000
2 1000000 1388000 1572000 2184000 2968000
3 1384000 1476000 1884000 2472000
4 1884000 2088000 2480000
5 1976000 2172000
6 2384000
Fn 500000 884000 1384000 1476000 1884000 2172000
(Sumber : Pengolahan Data)

Tabel 4. 9 Tabel Inventori Algoritma Wagner-Within dengan LT 2 Bulan


Periode (t) 1 2 3 4 5 6
Demand (Dt) 17 96 97 23 51 49
Ukuran Lot Pemesanan (q0) 120 100
Saat Pemesanan (POR) 120 100
(Sumber : Pengolahan Data)

q0 periode 3 = D3 + D4
= 97 + 23 = 120
q0 periode 5 = D5 + D6
= 51 + 49 = 100

B. Inventori Deterministik Dinamis dengan Metode Lot For Lot (LFL)


1) Metode Back Order
Tabel 4. 10 Tabel Lot For Lot Back Order dengan LT 2 Bulan
Periode (t) 0 1 2 3 4 5 6 Total
Demand (Dt) 17 96 97 23 51 49 333
Ukuran Lot Pemesanan (q0) 17 96 97 23 51 49
Saat Pemesanan (POR) 113 97 23 51 49
(Sumber : Pengolahan Data)

𝑂𝑏 = 𝑝 𝑥 𝐷
𝑂𝑏 = Rp20.000 x 333
𝑂𝑏 = Rp6.660.000
𝑂𝑝 = 𝑓 𝑥 𝐴
𝑂𝑝 = 5 x Rp500.000
𝑂𝑝 = Rp2.500.000
𝑂𝑠 = 0, karena diasumsikan barang langsung digunakan dan tidak disimpan
𝑂𝑇 = 𝑂𝑏 + 𝑂𝑝 + 𝑂𝑠
𝑂𝑇 = Rp6.660.000 + Rp2.500.000 + Rp0
𝑂𝑇 = Rp9.160.000

2) Metode Lost Sales


Tabel 4. 11 Tabel Lot For Lot Lost Sales dengan LT 2 Bulan
Periode (t) 0 1 2 3 4 5 6 Total
Demand (Dt) 17 96 97 23 51 49 333
Ukuran Lot Pemesanan (q0) 17 96 97 23 51 49
Saat Pemesanan (POR) 96 97 23 51 49
(Sumber : Pengolahan Data)

𝑂𝑏 = 𝑝 𝑥 𝐷
𝑂𝑏 = Rp20.000 x (333-17)
𝑂𝑏 = Rp6.320.000
𝑂𝑝 = 𝑓 𝑥 𝐴
𝑂𝑝 = 5 x Rp500.000
𝑂𝑝 = Rp2.500.000
𝑂𝑠 = 0, karena diasumsikan barang langsung digunakan dan tidak disimpan
𝑂𝑇 = 𝑂𝑏 + 𝑂𝑝 + 𝑂𝑠
𝑂𝑇 = Rp6.320.000 + Rp2.500.000 + Rp0
𝑂𝑇 = Rp8.820.000
BAB V
ANALISA

5.1 Deterministik Statis


Analisis dari pengolahan data pada deterministik statis pada metode transaksional
terdapat hasil alternatif terbaik adalah dengan cara memesan dua kali karena
dengan ongkos beli yang sama yaitu Rp 25.002.240.000 akan menghasilkan ongkos
total inventori terendah yaitu Rp 27.252.531.200

Waktu Antar Pesan


Metode Ukuran Lot ekonomis Reorder Point Ongkos Total
(per tahun)
Metode Wilson 80555 6.572 - Rp2,739,005,240
Leadtime 80555 6.572 24.512 Rp2,739,005,240
Uniform 95882 7.82321 24.512 Rp2,301,205,244.44

Pada metode determinstik Wilson didapat ukuran Lot Pemesanan Ekonomis yakni
sebesar 8055 unit, dengan ongkos total Rp 2.739.005.240 lebih murah dari pada
metode transaksional.
Ongkos Total Inventori
Harga Setelah Didiskon Ukuran Lot ekonomis
Optimal
q0 <8000, (p) = 170.000 80555 Rp2,739,005,239
80000<q0≤120.000 (p) = 136.000 72051 Rp2,449,856,289
q0 > 120.000, (p) = 119.000 67397 Rp2,291,640,219
Sedangkan untuk harga yang telah didiskon lebih murah dengan membeli q0
> 120.000 dengan harga ongkos total didapat Rp2,291,640,219.

Ukuran Lot Pemesanan


Demand Waktu Antar Pemesanan
Jenis Barang Ekonomis
( Unit Per Tahun ) (T)
(q0*)
1 147072 0.44806515 65898
2 152880 0.175185053 26783
3 67356 0.156007726 10509
4 176424 0.150553387 26562
5 178860 0.146775629 26253

Hasil perhitungan untuk model multi item dapat dituliskan seperti tabel diatas,
untuk setiap produk mempunyai waktu antar pemesanan yang berbeda dengan
nilai ukuran Lot pemesanan ekonomis yang berbeda pula.
5.2 Deterministik Dinamis
Tabel 5. Tabel Ongkos Minimum dari periode e sampai n
e|n 1 2 3 4 5 6
1 500000 884000 1660000 1936000 2752000 3732000
2 1000000 1388000 1572000 2184000 2968000
3 1384000 1476000 1884000 2472000
4 1884000 2088000 2480000
5 1976000 2172000
6 2384000
fn 500000 884000 1384000 1476000 1884000 2172000
(Sumber : Pengolahan Data)
Dalam cara ini Metode Algoritma Wagner-Within ongkos minimum yang didapat
yaitu pada 𝑓5 dengan total Rp 2.172.000 untuk O56 + f4.
Tabel 5. Tabel Inventori Algoritma Wagner-Within dengan LT 2 Bulan
Periode (t) 1 2 3 4 5 6
Demand (Dt) 17 96 97 23 51 49
Ukuran Lot Pemesanan (q0) 120 100
Saat Pemesanan (POR) 120 100
(Sumber : Pengolahan Data)
Data diatas merupakan tipe lost sale sehingga permintaan pada periode 1-2 tidak
dapat terpenuhi. Dengan lead time 2 bulan, permintaan periode 3-4 masih bisa
disupply dengan jumlah pemesanan sebesar 120 unit di periode pertama, dan 100
unit diperiode 3 untuk kebutuhan permintaan periode 5-6.

Sedangkan untuk metode Lot For Lot , ongkos total yang didapat Lost Sales adalah
Rp8.820.000 dibandingkan dengan Back Order dengan ongkos total sebesar
Rp9.160.000. Ongkos total Lost Sales lebih kecil dibandingkan dengan Back Order
karena kita kehilangan pemenuhan permintaan pada periode 1 sebanyak 17 unit.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum inventori deterministik, maka dapat disimpulkan:

1. Inventori deterministik statis merupakan persediaan yang permintaannya


diketahui secara pasti dan besar permintaan tiap periode sama, sedangkan
inventori deterministik dinamis merupakan persediaan yang permintaannya
diketahui secara pasti dan besar permintaan tiap periode berbeda.
2. Variabel keputusan pada inventori deterministik statis dan dinamis adalah
harga barang, ongkos pesan, ongkos simpan, kecepatan uniform, dan
leadtime.
3. Fungsi tujuan pada inventori deterministik statis dan dinamis adalah ongkos
total inventori paling optimal.

6.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan setelah melakukan praktikum inventori
deterministik adalah:
1. Sebelum melakukan perhitungan sebaiknya praktikan mengumpulkan data
dengan lengkap.
2. Agar lebih teliti dalam mengerjakan karena banyak perhitungan.
3. Untuk deterministik statis ada dua rumus saat mencari Ongkos total
inventori, pilihlah dengan bijak.
4. Gunakanlah perhitungan di Ms.Excel untuk meminimalisir kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Bahagia, Senator Nur. 2014. Sistem Inventory. Bandung: Penerbit ITB.