Anda di halaman 1dari 9

Bahan Hafalan

KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai


ANASTESI UMUM 5. Masukan oral : semua pasien yang dijadwalkan akan
melakukan operasi efektif untuk dipuasakan untuk
Anastesi umum adalah suatu tindakan meniadakan rasa sakit menghindari terjadinya regurgitasi isi lambung.
atau nyeri secara sentral yang disertai dengan penurunan kesadaran
dan bersifat reversible (dapat beralih kembali). II. Premedikasi
Tahapan-tahapan anastesi umum : Premedikasi merupakan tindakan pemberian obat 1-2 jam
I. Penilaian Prabedah sebelum dilakukannya induksi anastesi.
Terdiri dari : Tujuan premedikasi :
1. Anamnesa. 1. Meredakan kecemasan dan ketakutan.
2. Pemeriksaan fisik. 2. Memperlancar induksi anastesi.
3. Pemeriksaan Penunjang. 3. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus.
4. Klasifikasi status fisik (ASA : American Society of 4. Meminimalkan jumlah obat anastesi.
Anastesiology) : 5. Mengurangi mual muntah pasca operasi.
i. Pasien sehat organik, fisiologi, psikiatrik, dan biokimia. 6. Menciptakan amnesia.
ii. Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang. 7. Mengurangi isi cairan lambung.
iii. Pasien dengan penyakit sistemik berat sehingga aktifitas 8. Mengurangi reflex yang membahayakan.
rutin terbatas.
iv. Pasien dengan penyakit sistemik berat sehingga tidak III. Preoksigenasi
dapat melakukan aktifitas rutin dan penyakitnya Preoksigenasi adalah membuat cadangan O2 sebelum
merupakan ancaman bagi kehidupan setiap saat. dilakukan induksi dan intubasi. Hal ini dikarenakan semua
v. Pasien sekarat diperkirakan dengan atau tanpa obat pelumpuh otot menyebabkan apnoe induksi.
pembedahan hidupnya tidak lebih dari 24 jam.
vi. Pasien dengan mati batang otak yang organnya akan IV. Induksi
disumbangkan. Induksi adalah membuat pasien dari sadar menjadi tidak
Pada pasien cito atau emergency dicantumkan dengan sadar.
huruf E emergency.

Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya
Bahan Hafalan
KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai
Obat-obatnya : Indikasi intubasi :
IV : Tiopental 3-7 mg/kgBB 1. Menjaga potensi jalan nafas oleh sebab apa pun.
Propofol 2-3 mg/kgBB 2. Mempermudah oksigenasi dan ventilasi positif.
Ketamin (Ketalar) 1-2 mg/kgBB 3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi.
IM : Ketamin 5-7 mg/kgBB
Rektal : Tiopental 3-7 mg/kgBB dan Midazolam 0,2-0,6 Komplikasi selama intubasi :
mg/kgBB 1. Trauma gigi.
2. Laserasi bibir, gusi, dan laring.
V. Pelumpuh otot (Musclerelaxan) 3. Aspirasi.
Depolarisasi : Suksinilkolin 4. Spasme bronkus.
Decametonium 5. Merangsang saraf simpatis (hipertensi-takikardi).
Non depolarisasi : Long acting : Pankuronium 6. Intubasi bronkus.
Intermediate acting : Atracurium 7. Intubasi esophagus.
Short acting : Mivakurium
Komplikasi setelah ekstubasi :
VI. Intubasi 1. Infeksi pada laring, faring, trakea.
Intubasi merupakan suatu tindakan memasukkan pipa trakea 2. Edema pada glottis dan sub glottis.
ke dalam trakea melalui rimaglotis sehingga ujung distalnya 3. Terjadi gangguan fonasi.
kira-kira berada di pertengahan trakea antara pita suara dan 4. Aspirasi.
bifurkasio trakea. 5. Spasme laring.
Yang mempersulit intubasi :
1. Leher pendek berotot. VII. Maintenance (rumatan anastesi)
2. Mandibula menonjol. Zat yang digunakan adalah :
3. Gigi depan menonjol. - Halotan 0,5-2 vol% → hipnotik
4. Uvula tak terlihat. - Campuran N2O : O2 = 3 : 1
5. Gerakan sendi temporo-mandibular terbatas. - Fentanil 10-50 mg/KgBB IV
6. Gerakan vertebrae servikalis terbatas.

Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya
Bahan Hafalan
KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai
VIII. Akhir operasi ANASTESI SPINAL
Saat menjahit fascia, halotan dihentikan.
Saat menjahit cutis, N2O dihentikan → maka N2O akan cepat Anastesi spinal adalah suatu tindakan pemberian obat
keluar mengisi alveoli sehingga terjadi pengenceran O2 dan anastetik lokal ke dalam ruang subaraknoid.
terjadilah hipoksia, difusi. Untuk menghindari hipoksia difusi
maka diberikan O2 100% selama 5-10 menit. I. Indikasi :
1. Bedah ekstremitas bawah.
IX. Ekstubasi 2. Bedah panggul.
Ekstubasi merupakan pengangkatan keluar pipa trakea jika 3. Bedah abdomen bawah.
pasien sadar, bernafas spontan dilihat dari gerakan dada, 4. Bedah obstetric ginekologi.
frekuensi, regularitas dan volume nafas serta respon bola mata 5. Bedah urologi.
(+). 6. Tindakan sekitar rectum-perineum.
7. Tindakan pembedahan abdomen atas dan bedah pediatric
biasanya dikombinasikan dengan anastesi umum ringan.

II. Kontra indikasi :


i. Absolut :
1. Pasien menolak.
2. Infeksi pada tempat suntikan.
3. Syok hipovolemia berat → efek obat anastesi spinal
vasodilatasi.
4. Kurang pengalaman / tanpa didampingi konsultan
anastesi.
5. Tekanan intra cranial meningkat.
6. Koagulopati / mendapat terapi anti koagulan.
7. Fasilitas resusitasi minim.

Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya
Bahan Hafalan
KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai
ii. Relatif : V. Lapisan jaringan punggung :
1. Infeksi sistemik (sepsis / bakterimia). 1. Cutis
2. Infeksi sekitar tempat suntikan. 2. Subcutis
3. Kelainan neurologis. 3. Ligamentum supra spinosum
4. Kelainan psikis. 4. Ligamentum infra spinosum
5. Bedah lama. 5. Ligamentum flavum
6. Penyakit jantung. 6. Epidural
7. Syok hipovolemi ringan. 7. Duramater
8. Nyeri punggung kronis. 8. Ruang sub araknoid

III. Persiapan anastesi spinal : VI. Anastesi lokal untuk anastesi spinal :
1. Informed concent (persetujuan dari pasien). Berat jenis cairan serebrospinal (CSS) pada suhu 370 ialah
2. Pemeriksaan fisik. 1,003-1,008.
3. Pemeriksaan laboratorium anjuran.
VII. Anastesi lokal dbagi menjadi 3 jenis, menurut berat jenis :
IV. Teknik anastesi spinal : 1. Anastesi lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut
1. Atur posisi pasien, duduk / lateral dekubitus dengan isobarik.
punggung fleksi maksimal. 2. Anastesi lokal dengan berat jenis lebih besar dari CSS
2. Cari perpotongan antara garis yang antara SIAS dengan disebut hiperbarik.
tulang punggung, yaitu pada lumbal 2-3, L 3-4, L 4-5, 3. Anastesi lokal dengan berat jenis lebih kecil dari CSS
jangan pada L 1-2 karena dapat menimbulkan trauma pada disebut hipobarik.
medula spinalis.
3. Sterilkan tempat suntikan dengan alkohol dan bethadin. VIII. Penyebaran anastesi lokal tergantung :
4. Tusukkan jarum spinal sejajar dengan serat duramater, 1. Faktor utama :
kemudian cabut mandrinnya lalu masukkan spuit yang telah - Berat jenis anastesi lokal.
berisi obat, obat dimasukkan secara pelan yang diselingi - Posisi pasien (kecuali isobarik).
dengan aspirasi. - Dosis dan volume anastesi lokal (kecuali isobarik).

Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya
Bahan Hafalan
KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai
2. Faktor tambahan : XI. Komplikasi pasca tindakan :
- Ketinggian suntikan. 1. Nyeri tempat suntikan.
- Kecepatan suntikan → 1 ml = 5 detik. 2. Nyeri punggung.
- Ukuran jarum. 3. Nyeri kepala karena kebocoran liquor.
- Keadaan fisik pasien. 4. Retensio urin.
- Tekanan intra abdominal. 5. Meningitis.

IX. Lama kerja anastesi lokal tergantung :


1. Jenis anastesi lokal.
2. Besarnya dosis.
3. Ada tidak vasokonstriktor.
4. Besarnya penyebaran anastesi lokal.

X. Komplikasi pada saat tindakan :


1. Hipotensi berat.
2. Bradikardi.
3. Hipoventilasi.
4. Trauma pembuluh darah.
5. Trauma saraf.
6. Mual muntah.
7. Gangguan pendengaran (tinnitus).
8. Blok spinal tinggi.

Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya
Bahan Hafalan
KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai
DARAH 3. PRC (Packed Red Cell) :
Digunakan pada perdarahan lambat, anemia, dan pada
Darah adalah cairan yang mengalir dalam tubuh untuk kelainan jantung.
mempertahankan kelangsungan hidup manusia, yang berfungsi 1 unit PRC berisi 240-340 ml dengan Ht 75-80% dan Hb 24
mengangkut O2 dan CO2 sebagai nutrisi dan keseimbangan elektrolit gr/dl.
tubuh.
Normal volume darah pria 75 ml/kgBB, wanita 65 ml/kgBB, 4. Faktor pembekuan :
dan anak-anak 85 ml/kgBB, jika kehilangan darah lebih dari 20% - Trombosit mampat (Thrombocyt concentrate).
volume darah perlu dilakukan transfusi. - Cryoprecipitate – AHF.
Tujuan transfusi adalah untuk menaikkan kapasitas
pengangkutan oksigen dan volume intravaskular. 5. Komponen lain, misalnya : Buffycoat-Granulocyt
concentrate.
I. Indikasi transfusi darah :
1. Perdarahan akut → Hb < 8 gr/dl atau Ht < 30%. III. Transfusi darah masif :
2. Pada orang tua, kelainan paru, kelainan jantung Hb < 10 Definisi :
gr/dl. - Transfusi darah sebanyak lebih dari 1-2 kali volume darah
3. Bedah mayor kehilangan darah > 20% volume darah. dalam waktu kurang dari 24 jam.
- Transfusi darah > besar dari 50% volume darah dalam waktu
II. Jenis darah simpan : singkat (misalnya : 5 unit dalam 1 jam untuk BB 70 kg).
1. Darah lengkap (Wholeblood) : Darah segar → < 48 jam (< 2
hari) IV. Perdarahan masif :
Darah baru → < 6 hari Perdarahan lebih dari 1/3 volume darah dalam jangka waktu <
Darah biasa → 35 hari 30 menit.

2. Plasma :
1 unit plasma berisi 200 ml diperoleh dari mengendapkan
darah lengkap selama 72 jam.

Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya
Bahan Hafalan
KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai
V. Komplikasi transfusi darah : RESUSITASI JANTUNG PARU
1. Reaksi hemolitik → karena reaksi antigen-antibodi.
2. Infeksi → karena virus, bakteri, dan parasit. RJP merupakan hal yang paling penting untuk diketahui bagi
3. Lain-lain → demam, urtikaria, anafilaksis, edema paru non tenaga kesehatan termasuk perawat dalam menyelamatkan pasien
kardial, purpura, intoksikasi sitrat, hiperkalemia, dan kegawatdaruratan di RS atau pun di luar RS.
asidosis. RJP merupakan teknik dasar safe and rescue jika terdapat
korban yang mengalami henti jantung mendadak (cardiac arrest)
VI. Penanggulangan reaksi transfusi : atau henti nafas. RJP dilakukan dengan 2 prinsip yaitu bantuan dari
1. Hentikan transfusi. mulut ke mulut (mouth to mouth rescue bresthing) dan kompresi
2. Naikkan tekanan darah dengan koloid, kristaloid. jantung (chest compression) sampai pasien memberikan respon
3. Berikan oksigen 100%. positif atau sampai ambulance datang.
4. Diuretik manitol 50 mg atau furosemid (lasix) 10-20 mg. Bila jantung berhenti berdenyut maka akan terjadi pada 4
5. Anti histamin. menit pertama jantung gagal memompakan darah ke otak, maka
6. Steroid dosis tinggi. otak akan mengalami kekurangan suplai gula darah ke otak (yang
7. Kalau perlu exchange transfution. paling utama) dan oksigen. Sehingga otak akan mengalami iskemia.
8. Periksa analisa gas dan pH darah. Lewat dari itu selama 10 menit maka akan menyebabkan kematian
sel otak yang irreversible (fase kritis).
Tahapan RJP :
1. Lihat sekeliling korban ada bahaya atau tidak, jangan sampai
membahayakan penolong, jika ada singkirkan dan bawa korban
ke tempat tenang.
2. Nilai kesadaran korban dengan cara snake and shout atau
menepuk pundak pasien dan panggil namanya. Kalau ternyata
pasien mengalami penurunan kesadaran maka ;
3. Minta bantuan darurat seperti menghubungi nomor darurat 911
(Amerika), 118 (Indonesia). Lalu periksa ABC (airway,
breathing, and circulation).

Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya
Bahan Hafalan
KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai
4. Airway (jalan nafas) : periksa jalan nafas dengan cara membuka Kompresi dilakukan dengan kedalaman 4-5 cm dengan 30
mulut korban dengan 2 jari, lihat apakah ada benda asing, lidah kompresi (dulunya 15, yang terbaru 30). Bisa 1 atau 2 penolong
yang drop atau darah yang menutupi jalan nafas. Kemudian taruh semua 30 kompresi per siklus. Ini dilakukan selama 4 siklus (kurang
tangan penolong di atas jidat dan bawah dagu pasien (head tilt lebih 1 menit menjadi 100 kompresi).
and chin lift). Kalau curiga ada fraktur cervical lakukan jaw trust Di Inggris sendiri setelah 30 kompresi tidak dilakukan
dan buka jalan nafas. ventilasi (2 bantuan nafas mulut ke mulut), sedang di AS tetap 30
5. Breathing (pernafasan) : cek nafas korban selama 10 detik kompresi : 2 ventilasi.
dengan menyebutkan one thousand atau dua puluh satu sebab Setelah 4 siklus tadi, dicek kembali denyut nadi karotis
ucapan tersebut dinilai satu detik sambil rasakan dan lihat ke arah sampai bantuan ambulance datang atau ada respon positif dari
dada pasien apakah naik turun. Kalau tidak ada nafas maka pasien atau terlihat pasien mati biologis (tanda-tanda rigor mortis).
berikan nafas bantuan dengan cara mouth to mouth ventilation Alasan mengapa 30 : 2 ;
dengan cara tutup hidung korban dan berikan nafas 2 kali dengan 1. Untuk memberikan kesempatan jantung berdenyut lebih cepat
jaraknya 5 detik. Lakukan sampai terlihat rongga dada pasien dan kalau terlalu banyak ventilasi ada fase silence.
naik (ekspansi). Ingat posisi pasien masih hiperfleksi. Setelah itu 2. Mengurangi ITP (Intra Thoracis Pressure) → tekanan dalam
periksa denyut nadi arteri karotis sebelah kanan-kiri dekat jakun rongga dada karena ventilasi untuk mencegah regurgitasi /
(2-3 jari) selama 10 detik lalu rasakan. Bila ada face mask dapat aspirasi.
dipakai. 3. Sebenarnya dengan mengkompresi jantung, secara tidak langsung
6. Circulation : memberikan aspirasi nafas.
- Kalau ada denyut nadi dan korban hanya henti nafas maka
lanjutkan bantuan nafas dengan memberikan nafas mulut ke RJP menurut Safar :
mulut sampai 1 menit berarti 12 kali sampai nafas OK (satu 1. Bantuan hidup dasar ( Basic Life Support ).
siklus). Resusitasi ABC ( Airway control atau Assissment + Breathing
- Kalau denyut nadi tidak ada maka lakukan compresi jantung support + Circulatory support ). Oksigenasi darurat ( emergency
(CPR : Cardiac Pulmonary Recuscitation) dengan letakkan oxygenation ).
ujung telapak tangan dikunci dengan telapak tangan lain di 2. Bantuan hidup lanjut ( Advenced life Support ).
tulang dada (sternum) bias sejajar / segaris antara putting Resusitasi DEF ( Dougand fuids, ECG diagnosis, Fibrillation
payudara atau 3 jari di atas Processus Xiphoideus. Letakkan treatment ). Pengembalian sirkulasi spontan.
kedua bahu anda sejajar dan lakukan kompresi jantung.
Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya
Bahan Hafalan
KKS Anastesi RSUD Dr. R.M. Djoelham Binjai
3. Bantuan hidup perpanjangan ( Prolonged Life Support ).
Resusitasi GHI ( Garging, Human mentation, Intensive care ).
Resusitasi otak, terapi otak pasca resusitasi.

===@@@###$$$^^^***^^^$$$###@@@===

Created By :
Muchrizal / 05171037
FK - Unaya