Anda di halaman 1dari 7

3.3.

Ikan

1.Signalement :

 Hewan : Ikan Lele


 Jenis : Lele dumbo (Clarias gariepinus)
 Umur : 2 bulan
 Nama Tempat : Supermarket Carefoor, Transmart
 Alamat : Jl Elatri 1, Kota Kupang
b. Anamnesa
Dari hasil wawancara, diketahui bahwa ikan yang dijual di transmart kupang
di ambil dari supliyer ikan lele lokal yang juga terdapat di kota kupang. Ikan
yang digunakan sudah berada di aquarium selama kurang lebih 1 bulan.
c. Gejala Klinis :
 Terdapat lesi kecil pada bagian mulut ikan
 Terdapat ulcer pada tubuh ikan
 Produksi mucus meningkat
 Ikan berenang dengan posisi miring

d. Perubahan Patologi Anatomi


Gambar Organ Perubahan

Kulit Terdapat ulcer di daerah

kulit bagian

Kulit Terdapat ulcer

Daerah di Terdapat lesi kemrahan

sekitar insang

1
Kulit Terdapat ulcer pada kulit

ikan

Hepar Kongesti dan nekrosis

multifocal pada hepar

ikan

2
Usus Usus menunjukan gejala
jaundice (kekuningan)

e. Pembahasan
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan adanya lesi kemerahan serta ulcer
disekitar tubuh ikan khususnya kulit, serta produksi lendir pada kulit yang
meningkat. saat dilakukan nekropsi pada tubuh ikan, terlihat perubahan patologi
anatomi yaitu terdapat bagian usus yang berwarna kekuningan (jaundice). Warna
pada usus ikan lele mungkin diakibatkan oleh nutrisi pakan lele yakni kualitas
pakan yang buruk dan pelet yang sudah kadaluarsa. Biasanya pemberian pakan
yang terlalu banyak juga dapat mengendap dan membusuk. Akibat dari kondisi
tersebut mengakibatkan warna kuning seperti pada organ hati, ginjal dan usus.
Kondisi air yang buruk juga dapat menimbulkan penyakit pada ikan lele, salah
satunya penyakit akibat infeksi bakteri.

 Diagnosa Tentatif
Berdasarkan pemeriksaan klinis, diagnosa sementara dari ikan kasus ini
adalah infeksi bakteri Aeromona hydrophilas. Salah satu bakteri yang menyerang
ikan lele dumbo yaitu Aeromonas hydrophila yang biasa dikenal dengan penyakit
Motile Aeromonas Septicemia atau penyakit bercak merah. Angka dkk., (2005).
Yogananth et al., (2009) menyatakan bahwa A. hydrophila merupakan
mikroorganisme akuatik yang berada di perairan laut maupun perairan tawar,
dalam kondisi stres bakteri tersebut menjadi patogen dan bersifat patogen
oportunistik pada penyakit Hemoragi septicemia (penyakit bercak merah) pada
ikan. Menurut Lukistyowati dan Kurniasih (2012), Aeromonas hydrophila
merupkaan bakteri gram negative, berbentuk batang pendek, aerab dan fakultatif

3
anaerob, tidak berspora, hidup pada kisaran suhu 25-30 C. serangan bakteri ini
menyebabkan hemoragi septicaemia yang mempunyai ciri luka dipermukaan
tubuh, luka pada mulut, insang, ulser, abses, gastroenteritis, dan diare. Menurut
(Tantu et al.,2013) bakteri ini juga dapat mengakibatkan kerusakan pada hati,
ginjal dan limpa. Pemberian pakan dalam jumlah yang banyak mengendap di
dasar kolam sehingga membusuk juga dapat menimbulkan bakteri tersebut
sehingga akan terjadi kerusakan pada usus ikan.
 Patogenesis
Patogenesisnya dimulai saat ikan yang terinfeksi A. hydrophila, akan
menurunkan nilai hemoglobin dalam darah berkaitan dengan rendahnya nilai
eritrosit yang diduga karena darah ikan mengalami lisis. Lisis disebabkan oleh
pecahnya sel darah merah karena adanya toksin bakteri di dalam darah yang
disebut haemolisin. Toksin ini akan melisis hemoglobin dan melepaskan
hemoglobin (Angka, 1990). Kadar hemoglobin yang rendah dapat menjadi salah
satu indikasi pada ikan atas terjadinya infeksi dalam hal ini yang disebabkan
bakteri (Lucky, 1977). Respons imun alamiah ikan terhadap serangan infeksi
bakteri akan terbentuk dengan melibatkan peran sel darah putih (leukosit) sebagai
barrier pertahanan tubuh. Respons imun alami akan bertahan dan berfungsi
dengan baik dalam waktu beberapa hari sampai minggu setelah invasi bakteri ke
dalam tubuh. Setelah beberapa minggu terinfeksi, jumlah lifosit akan menurun.
Infeksi A. hydrophila menyebabkan septicemia yang ditandai dengan terjadinya
pendarahan pada organ hati, ginjal dan limpa sehingga sel granulosit keluar dari
pembuluh darah bergerak aktif ke daerah yang mengalami radang untuk
memfagosit patogen yang masuk sehingga hal ini menyebabkan proporsi jumlah
sel granulosit yaitu neutrofil di dalam darah cenderung menurun.
A. hydrophila merupakan flora normal pada air namun, jika kondisi air kotor
dan jarang dibersihkan/diganti dan di dukung dengan pakan yang sudah terlalu
lama dan membusuk didalam air dapat meningkatkan jumlah bakteri A.
hydrophila di dalam air, sehingga bakteri ini berubah menjadi bakteri patogen
yang dapat menyebabkan penyakit. Jika ikan mengkonsumsi pakan yang sudah
membusuk dan terkontaminasi bakteri ini, mengakibatkan penyakit kuning

4
(jaundice) pada saluran pencernaan ikan. Pada kasus infeksi bakteri yang parah
biasanya jaundice akan menyebar ke seluruh organ tubuh.

 Diagnosa Banding
Infeksi bakteri Aeromonas dapat dikelirukan dengan infeksi bakteri genus
vibrio. Gejala klinis yang terlihat pada ikan yang terinfeksi bakteri genus vibro
adalah lendir yang berlebihan, luka dibagian kepala, berenang meyendiri,
haemorragic, luka kemerahan/borok (ulcer) pada permukaan tubuh, sungut
kemerahan, mulut berwarna kemerahan, perut kembug, sirip gripis yang disertai
luka kemerahan pada sirip dada, sirip punggung, sirip ekor, serta hati dan ginjal
berwarna pucat. Dengan adanya gejala klinis yang hampir mirip, perlu dilakukan
pemeriksaan laboratorium yang tepat, untuk mendapatkan diagnosa yang akurat.
Diferensial diagnosa yang kedua yang digunakan yaitu penyakit
Furunculosis yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas salmonicida (Irianto,
2005). Furunculosis merupakan penyakit yang memiliki ciri-ciri yang mirip
dengan gejala yang ditunjukan akibat infeksi bakteri Aeromonas hydrophila,
yakni luka yang khas yaitu nekrosis pada otot, pembengkakan di bawah lapisan
kulit dengan luka terbuka berisi nanah, dan jaringan yang rusak di puncak luka
tersebut seperti cekungan. Untuk itu, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium
untuk mendapatkan diagnosa yang tepat. Bakteri ini menginfeksi bagian luar dan
dalam tubuh ikan, seperti kulit, pangkal sirip dan insang ikan, juga bagian dada,
perut, saluran pencernaan ikan, sehingga ikan yang terserang penyakit ini akan
mengalami pendarahan.

5
DAFTAR PUSTAKA

Angka, S.L. 2005. Kajian Penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) Pada
Ikan lele dumbo (Clasias sp.), Patologi, Pengobatan dan Pencegahannya
dengan Fitofarmaka. Pacsa Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Angka, S.L. (1990). The pathology of the walking catfish, Clarias batrachus (L)
infected intraperitoneally with Aeromonas hydrophila. Asian Fish Sci., 3,
343- 351.