Anda di halaman 1dari 20

MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Salah Satu Tugas Mata Kuliah

Manajemen Pendidikan

Dengan dosen pengampu :

Tuti Kurniati, S.Pd, M.Si

Disusun oleh :

Desi Marianti (161621199)

Hety Anggraini (161620453)

Isra’ Hayati (161620546)

Program Studi Pendidikan Kimia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Pontianak

2017

i
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr,wb.

Segala puji atas kehadirat Allah SWT tuhan semesta alam, karena atas rahmat
dan petunjuknya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah kami tentang
“Manajemen Keuangan Pendidikan”. Shalawat serta salam tak lupa pula kita curahkan
kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman
kegelapan menuju zaman yang terang benderang dalam naungan iman dan islam.

Penyusunan makalah mengenai “Manajemen Keuangan Pendidikan ”ini


merupakan tugas kelompok kami dalam mata kuliah Manajemen Pendidikan. Dalam
penyelesaian makalah ini, kami banyak mengalami kesulitan terutama disebabkan oleh
kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang.

Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa/i yang masih dalam proses


pembelajaran, penyusunan makalah ini masih banyak sekali kekurangan. Oleh karna itu,
kami sangat mengharapkan adanya kritik serta saran yang bersifat positif, guna
penyusunan makalah yang lebih baik untuk kedepannya.

Dan tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah
ikut serta dalam penyusunan makalah kita ini. Sehingga kami dapat menyelesaikannya
tepat waktu.

Pontianak, 19 Desember 2017

Penyusun,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................. 1
1.3 Tujuan Pembahasan............................................................................................... 1
1.4 Batasan Masalah.................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN 2
A. Manajemen Keuangan Pendidikan.......................................................................... 2
1. Konsep Manajemen Keuangan................................................................................ 2
2. Penganggaran (Budgeting)...................................................................................... 2
a. Karakteristik Anggaran..................................................................................... 3
b. Fungsi Anggaran............................................................................................... 3
c. Prinsip-Prinsip dan Prosedur Anggaran............................................................ 4
d. Bentuk-Bentuk Anggaran.................................................................................. 5
3. Akuntansi (Accounting).......................................................................................... 8
4. Auditing................................................................................................................... 10
5. Implementasi di Lapangan...................................................................................... 12
1. Penganggaran................................................................................................ 12
2. Akuntansi (Pembukuan).................................................................................... 13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................................. 16
B. Saran........................................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Setiap unit kerja selalu berhubungan dengan masalah keuangan, demikian pula
dilembaga pendidikan. Peningkatan kesejahteraan pendidikan bukanlah hal yang
ringan karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup
berbagai persoalan yang rumit dan kompleks, baik yang berkaitan dengan
perencanaan, pendanaan, efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sistem
persekolahan.
Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, perlu adanya pengelolaan
secara menyeluruh dan profesional terhadap sumber daya yang ada dalam lembaga
pendidikan. Salah satu sumberdaya yang perlu dikelola dengan baik dalam lembaga
pendidikan adalah masalah keuangan. Dalam konteks ini keuangan merupakan
sumber dana yang sangat diperlukan sekolah sebagai alat untuk melengkapi
perlengkapan berbagai sarana dan prasarana pembelajaran disekolah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian manajemen keuangan pendidikan?
2. Bagaimana tujuan manajemen keuangan pendidikan?
3. Bagaimana ruang lingkup manajemen keuangan pendidikan?
4. Bagaimana sumber keuangan di lembaga pendidikan?
5. Bagaimana fungsi manajemen keuangan pendidikan?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Untuk menjelaskan manajemen keuangan pendidikan.
2. Untuk menjelaskan tujuan manajemen keuangan pendidikan.
3. Untuk menjelaskan apa saja ruang lingkup manajemen keuangan pendidikan.
4. Untuk menjelaskan sumber keuangan di lembaga pendidikan.
5. Untuk menjelaskan fungsi manajemen keuangan pendidikan.
1.4 Batasan Masalah
Makalah ini hanya membahas tentang “pengertian manajemen keuangan
pendidikan, tujuan manajemen keuangan pendidikan, ruang lingkup manajemen
keuangan pendidikan, sumber keuangan di lembaga pendidikan, fungsi manajemen
keuangan pendidikan”.

1
BAB II

PEMBAHSAN

A. MANAJEMEN KEUANGAN PENDIDIKAN


1. Konsep Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan adalah manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan.
Sedangkan fungsi keuangan merupakan kegiatan utama yang harus dilakukan
oleh mereka yang bertanggung jawab dalam bidang tertentu. Fungsi manajemen
keuangan adalah menggunakan dana dan mendapatkan dana, (Suad Husnan,
1992:4)
Manajemen dalam perusahaan bisnis terdiri dari beberapa individu yang
dikelompokan menjadi tiga kelompok : (1) kelompok manajemen tingkat
pelaksana (operational management) meliputi para supervisor, (2) kelompok
manajemen menengah (middle management), meliputi kepala department,
manajer divisi, dan manajer cabang, dan (3) manajemen eksekutif (exsekutive
management) atau disebut juga manajemen puncak (top management) yang
meliputi presiden, wakil presiden, dan beberapa eksekutif sebagai penanggun
jawab dari fungsi-fungsi : pemasaran, pembelanjaan produksi, (manufacturing),
pembiayaan (finance) dan akuntansi. Manajemen eksekutif secara prinsipil
berkenaaan dengan pembuatan keputusan janka Panjang, manajemen menengah,
dan manajemen operational berkaitan dengan pembuatan keputusan jangka
pendek, (Usry, Hammer, 1992:2)
Konsep manajemen dapat digambarkan dalam kalimat seperti membuat
keputusan, memberi perintah, menetapkan kebijakan, menyediakan pekerjaan
dan system reward (imbalan), dan memperkerjakan orang untuk melaksanakan
kebijakan.” Manajemen meneapkan tujuan yang akan dicapai dengan
mengintegrsikan pengetahuan dan keterampilan dengan kecakapan dan
pengalaman personil. Supaya berhasil, manajemen harus melaksanakan secara
efektif fungsi-fungsi perencanaan, pelaksanaa, dan pengawasan. Perencanaan
dan pengorganisasian fungsi utama manajemen eksekutif, sedangkan
pengawasan merupakan fungsi manajemen operasional (lower management).
Pelaksanaan ketiga fungsi utama tadi perlu keterlibatan (partisipasi) dari tiap
tingkat manajemen, (Usry, Hammer, 1992:2)
Manajemen memiliki tiga tahap penting yaitu tahap perencanaan, tahap
pelaksanaan dan tahap penilaian (evaluasi), ketiga tahap tadi apabila diterapkan
dalam manajemen keuangan adalah menjadi tahap perencanaan keuangan
(budgeting) dan tahap pelaksanaan (akunting) dan tahap penilaian atau auditing,
(Thomas. H, Jones, 1985:22)
2. Penganggaran (Budgeting)
Penganggaran merupakan suatu proses kegiatan atau proses penyusunan
anggaran (budget). Budget ini merupakan rencana operasional yang dinyatakan
secara kuantitatif dalam bentuk satuan uang yang digunakan sebagai pedoman

2
dalam melaksanakan kegiatan Lembaga dalam kurun waktu tertentu (Nanang
Fattah, 2000). Budget may be defined as the financial paln for the future, usually
for one year but posbly a longer od shorter period of time, (Thomas H. Jone,
1985:22). Sementara kalau anggaran sector public adalah sebuah proses yang
dilakukan oleh organisasi sector public untuk mengalokasikan sumber daya yang
dimilikinya kedalam kebutuhan-kebutuhan yang tidak terbatas, (Freeman dalam
Deddi Nordiawan, 2006:48).
Dari pengertian tersebut mengungkapkan peran anggaran dalam pengelolaan
kekayaa sebuah organisasi public. Organisasi sector public tentu berkeinginan
memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat tetapi sering terkendala
oleh keterbatasan sumber daya yang dimiliki, maka anggaran memiliki fungsi
dan peran penting.
Anggaran dapat dikatakan juga sebagai pernyataan mengenai estimasi
kinerja yang hendak dicapai selama periode tertentu dalam ukuran finansial.
Penganggaran sector public berbeda dengan perusahaan swasta. Karena
penganggaran sector public lebih banyak muatan politis sedangkan perusahaan
swasta relaitf lebih kecil muatan politisnya. Selain itu sebagai sector public
anggaran tidak hanya sebagai sebuah rencana tahunan tetapi juga merupakan
bentuk akuntabilitas atas pengelolaan dana public yang dibebankan kepadanya.
a. Karakteristik Anggaran
Anggaran memiliki dua sisi, yaitu sisi penerimaan dan pengeluaran. Sisi
pengeluaran menggambarkan perolehan atau besarnya dana yant diterima
oleh Lembaga dari setiap sumber dana, misalnya dari pemerintah,
masyarakat, orang tua peserta didik, dan sumber-sumber lainnya. Sedangkan
sisi pengeluaran menggambarkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan
untuk tiap komponen program. Istilah-istilah yang lazim untuk pengeluran
anggaran adalah dana rutin dan dana pembanguanan (recurrent expenditure
dan capital expenditure.
b. Fungsi Anggaran
Anggaran disamping sebagai alat untuk perencanaan dan pengendalian
manajemen, juga merupakan alat bantu bagi manajemen dalam mengarahkan
suatu organisasi dalam posisi yang kuat atau lemah, (Nanang Fattah, 2000-
49). Sementara beberapa fungsi anggaran dalam manajemen orgnisasi sector
public menurut Deddy Nordiwan (200648-49) adalah sebagai berikut :
1.) Anggaran sebagai Alat Pengendalian
Dengan fungsi ini organisasi tahu apa yang harus dilakukan dan kearah
mana kebijakan dibuat.
2.) Anggaran sebagai Alat Pengendalian
Dengan adanya anggaran organisasi sector public dapat menghindari
adanya pengeluaran yang terlalu besar (overspending) atau adanya
penggunaan dana yang tidak semestinya (misspending).
3.) Anggaran sebagai Alat Kebijakan

3
Dengan adanya anggaran organisasi sector public dapat menentukan arah
atas kebijakan tertentu.
4.) Anggaran sebagai Alat Politik
Dengan adanya anggaran dapat dilihat komitmen pengelolaan dalam
melakasaakan program-program yang telah dijanjiakan.
5.) Anggaran sebagai Alat Koordinasi dan Komunikasi
Dengan dokumen anggaran yang komprehensif sebuah bagian atau unit
kerja atau departemen dapat mengetahui apa yang harus dilakukan dana
pa yang akan dilakukan oleh masing-masing bagian atau unit kerja
lainya.
6.) Anggaran sebagai Alat Penilaian Kinerja
Anggaran adalah suatu ukuran yang bisa menjadi patokan apakan suatu
bagian/unit kerja telah memenuhi target baik berupa terlaksananya
aktivitas maupun terpenuhinya efisiensi biaya.
7.) Anggaran sebagai Alat Motivasi
Anggaran dapat digunakan sebagai alat komunikasi dengan menjadikan
nilai-nilai nominal yang tercantum sebagai terget pencapaian. Dengan
catatan anggaran akan menjadi alat motivasi yang baik jika memenuhi
sifat menantang tetapi masih mungkin dicapai, maksudnya adalah suatu
anggaran itu hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat
dipenuhi juga jangan terlalu rendah sehingga terlalu mudah dicapai.
c. Prinsip-prinsip dan Prosedur Anggaran
Prinsip-prinsip penyusunan anggaran apabila dikaitkan dengan anggara
sebagai alat perencanaan dan pengendalian menurut Nanang Fattah (2000:49)
yaitu sebagai berikut :
a. Adanya pembagian wewenang dan tanggung jawab yang jelas dalam
system manajemen organisasi
b. Adanya system akuntansi yang memadai dalam melaksanakan aggaran
c. Adanya penelitian dan analisis untuk menilai kinerja organisasi
d. Adanya dukungan dari pelaksana dari tingkat atas hingga yang paling
bawah

Sedangkan apabila prinsi-prinsip anggaran dikaitkan dengan peran dan


fungsi anggaarn sebagai pedoman bagi organiasi public dan pemebrintah
adalah seperti dikemukakan oleh Deddy Nordiawan 92006:49-50) yaitu :
a. Otorisasi oleh legestatif
b. Komprehensif/menyeluruh
c. Keutuhan artinya semua penerimaan dan pengeluaran tersebut tercakup
dalam satu dana umum
d. Nindiscretionary apropriasi, jumlah yang disetujui legislative harus
termanfaatkan secara ekonomis.
e. Periodic

4
f. Akurat
g. Jelas
h. Tranfaransi

Sedangkan prosedur penyususan anggaran adalah sebagai berikut :


a. Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama periode
anggaran
b. Mengidentifikasi sumber-sumber yang dinyatakan dengan uang,jasa dan
barang.
c. Semua sumber dinyatakan dalam bentuk uang sebab anggaran pada
dasarnya merupakan pernyataan financial
d. Memformulasikan anggaran dalam bentuk format yang telah disetujui dan
dipergunakan oleh instalansi tertentu.
e. Menyusun usulan anggaran untuk memperoleh persetujuan dan pihak yang
berwenang
f. Melakukan revisi usulan anggaran
g. Persetujuan revisi usulan anggaran
h. Pengesahan anggaran
d. Bentuk-Bentuk Anggaran
1. Anggaran Butir-Per Butir (Line Item Budget)
Anggaran butir per butir merupakan bentuk anggaran yang konvensional,
namun paling simple dan banyak digunakan. Dalam bentuk ini, setiap
pengeluaran dikelompokan berdasarkan kategori-kategori atau jenis butir,
misalnya gaji, upah, honor menjadi satu kategori atau satu nomor/ butir
sedangkan perlengkapan, sarana, material dalam butir tersendiri.
Kelebihan :
a. Lebih simple
b. Mudah dalam pengawasan pengeluaran biaya

Kelemahan :

a. Tidak membantu dalam pengambilan keputusan seperti mengevaluasi


harga (unit cost) dalam hubungannya dengan pencapaian suatu program
b. Tidak akan dapat menunjukan hubungan antara masukan program
dengan keluaran
c. Tidak bisa menganalisis untung rugi (cost benefit analisis)
d. Lebih mengarahkan pada pembukuan dan tidak terhadap tujuan suatu
program
2. Anggaran Program (Program Budget System)
Bentuk anggaran ini dirancang untuk mengidentifikasi biaya setiap
program. Anggaran program dihitung berdasarkan jenis program. Sebagai
bahan perbandingan kalau dalam anggaran butir per butir disebutkan gaji
guru (item 01), sedangkan dalam anggaran program disebut gaji untuk

5
perencanaan pengajaran IPA sebagai salah satu komponen, dan komponen
lain yang termasuk program percobaan mencakup alat-alat IPA, bahan-
bahan kimia, IPA dan sebagainya menjadi satu paket namanya Gaji guru
Pogram IPA. Adapun keuntungan bentuk anggaran program yaitu :
a. Mengorganisasikan sejumlah besar pengeluaran menjadi rencana yang
logis dan konkrit
b. Merangsang perencanaan tahunan dan reevaluasi periodic dari
pelaksanaan rencana
c. Menghindari sentralisasi berlebihan, dimana keputusan menumpuk
ditingkat atas
3. Anggaran Berdasarkan Kinerja (Performance-Based Budget)
Bentuk ini sesuai dengan namanya menekankan pada kinerja
(Performance) dan bukan pada keterperincian dari suatu alokasi anggaran.
Pekerjaan dalam suatu program dipecah dalam bentuk beban kerja dan
unit hasil yang bisa diukur. Hasil pengukurannya dipergunakan untuk
menghitung masukan dana dan tenaga yang dapat digunakan untuk
mencapai tujuan suatu program. Anggran berdasarkan hasil ini merupakan
alat manajemen yang dapat mengidentifikasi secara jelas satuan dari hasil
suatu program dan sekaligus merinci butir perbutir dari kegiatan yang
harus dibiayai.
Bentuk ini menuntut akuntansi yang teliti dan pemroses data yang
akurat. Hal ini mengakibatkan system ini menjadi mahal terutama bagi
lembaga kecil/belum berkembang.

4. PPBS/SP4 (Planning Programing Budgeting System /Sistem Perencanaan


Penyusunan Program dan Pengarangan)
Bentuk ini dipopulerkan oleh Robert McNamara tahun 1960 di
AS. PPBS/SP4 merupakan kerangka kerja dalam perencanaan dengan
mengorganisasikaninformasi dan menganalisisnya secara sistematis.
Dalam PPBS tiap-tiap tujuan suatu program dinyatakkan dengan jelas,
baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Dalam proses PPBS/SP4 data tentang biaya, keuntungan
kelayakan suatu program disajikan secara lengkap sehingga pengambilan
keputusan dapat menetukan keuntungan, kelayakan suatu program yang
dissajikan secara lengkap sehingga pengambil keputusan dapat menetukan
pilihan program yang dianggap paling menguntungkan.
Ciri-ciri dari SP4/PPBS yaitu :
a. Perencanaan menggunakan pendekatan system
b. Orientasi perencanaan pada pengeluaran
c. Penganggaran didasarkan pada program yang telah ditetapkan

6
d. Keseimbangan antara otonomi dan pengarahan harus diperhatikan
berdasarkan pada prinsip perencanaan atas bawah (bottom-up) dan
atas bawah (top-down)
e. Perencanaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan dan
bergulir (rolling plan)
Tiga Unsur PPBS/SP4 yang saling Menunjang yaitu:
a. Sikuls operasi yang mengatur seluruh urutan jadwal kegiatan yang
disesuaikan dengan siklus DUP dan DIP
b. Struktur program yaitu gambaran hierarki program yang disusun
dengan bertitik tolak dari permasalahan pokok yang dihadapi pada
tahun mendatang
c. System informasi yang meliputi, dokumen pengarahan, perencanaan,
memo program koordinatif, konsep program operasional, usulan
program, memo keuangan, daftar usulan proyek (DUP), dan daftar
isian proyek (DIP) serta petunjuk operasional

Kelebihan Bentuk SP4/PPBS yaitu:

a. Taksonomik, yaitu penggolongan tujuan berdasarkan tujuan


b. Analitik, ada perbandingan keuntungan dan kerugian alternative
c. Proyektif, yaitu member arah perencanaan jangka panjang
d. Konsentrik, yaitu member perhatian pada pencapaian tujuan akhir, dan
e. Evaluative, yaitu member kemudahan menilai keberhasilan program
dan efektifitas penggunaan sumber-sumber

Kelemahan Bentuk SP4/ PPBS yaitu :

a. Kekeliruan mengakibatkan pemborosan sumber-sumber


b. Sering kali mengabaikan tujuan kualitatif yang sukar diukur
c. Kekurangan data/informasi dapat mengakibatkan kesalahan penentuan
prioritas, alokasi biaya dan waktu penyelesaian suatu program.
5. Anggaran Berbasis Nol (Zero Based Budget/ZBB)
Bentuk pembuatan anggran ini adalah bahwa setiap aktifitas atau
program yang telah diadakan di tahun-tahun sebelumnya tidak secara
otomatis dapat dilanjutkan. Setiap aktivitas harus dievaluasi setiap tahun
untuk menetukan apakah aktivitas ini akan diadakan tahun ini dengan
melihat kontribusi yang diberikannya kepada tujuan organisasi.
Proses dari anggaran berbasis nol adalah sebagai berikut :
a. Membagi semua operasi dari organisasi kedalam unit-unit keputusan.
Unit-unit keputusan ini adalah program, aktivitas, atau unit organisasi
ditingkat yang rendah

7
b. Dasar untuk pembagian adalah aktivitas secara spesifik, jasa spesifik
yang diberikan, sub unit organisasi atau aktivitasalternatif yang
dilakukan untuk mencapai tujuan dari program
c. Memilih cara yang terbaik untuk menyediakan jasa berdasarkan
analisis biaya-manfaat atau analisis lain (pertimbangan politis)
d. Menentukan pilihan atas beberapa unit organisasi sehingga didapat
keputusan keputusan tentang beberapa banyak jasa yang akan
disediakan (sama dengan tahun yang lalu, ditambah atau dikurangi).
3. Akuntansi (Accounting)
Akunting adalah bahasa yang digunakan untuk menggambarkan hasil
kegiatan ekonomi. Sebagaimana diungkapkan oleh Henke O, Emerson, (1991:3)
“Accounting is the language used to describe the result of economic activities”.
Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan konversi (perubahan) sumber daya yang
akan menjadi barang dan jasa yang biasa dipakai. Oleh karena itu, akunting
berkaitan dengan mengukur dan menyingkap hasil dari kegiatan konversi
sumber daya tadi. Teknik manajemen yang digunakan adalah MBO
(Management By Objective). Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan financial
(keuangan) didalam organisasi laba dan nirlaba. Accounting is the process of
classifying, recording, and summarizing financial transaction and sometimes,
describing organizational activities that accompany those transactions, (Thomas
H, Jones, 1985:22).
Selain pendapat diatas Arens & Loebbecke (1996:3) menjelaskan bahwa
akuntansi merupakan proses pencatatan, pengelompokan dan pengikhtisaran
kejadian-kejadian ekonomi dalam bentuk yang teratur dan logis dengan tujuan
menyajikan informasi keuangan yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan.
Fungsi akuntansi bagi badan usaha dan masyarakat adalah menyajikan informasi
kuantitatif tertentu yang dapat digunakan oleh pemimpin entitas ekonomi
maupunn pihak lainnya untuk mengabil keputusan. Agar penyajian informasi
tepat, maka seorang akuntan harus memiliki pengetahuan baik mengenai prinsip-
prinsip dan aturan-aturan dalam penyusunan informasi akuntansi. Disamping itu,
seorang akuntan harus mengembangkan system yang dapat menjamin bahwa
semua peristiwa ekonomi yang terjadi dalam organisasi dapat tercatat dengan
mencukupi pada saat yang tepat dengan biaya yang pantas.
Kegiatan akuntansi memerlukan system akuntansi yang benar. Didalam
system akuntansi terdiri dari catatan-catatan akuntansi (buku, cek, jurnal, dan
buku besar) serta serangkaian proses dan prosedur yang ditetapkan untuk staf,
sukarelawan dan para professional. Tujuan system akuntansi ini adalah untuk
memastikan bahwa data keuangan dan transaksi ekonomi diinputkan secara tepat
kedalam catatan akuntansi, serta laporan-laporan yang diperlukan disajikan
secara akurat dan tepat waktu, (Indra Bastian, 2007:75)
Komponen-komponen Sistem Akuntansi, secara tradisional system
akuntansi terdiri dari komponen-komponen berikut :

8
a. Bagan Perkiraan/Akun
Bagan perkiraan adalah daftar masing-masing item, dimana pencatatanya
dibagi kedalam lima kategori yaitu :
a. Aktiva
b. Utang
c. Aktiva bersih
d. Pendapatan
e. Belanja

Masing-masing pencatatan ditentukan dengan mengidentifikasi angka


yang diinputkan kedalam system akuntansi.

b. Buku Besar
Buku besar mengklasifikasi informasi pencatatan, dimana perkiraan atau
akun bertindak sebagai daftar isi buku besar. Dalam system manual,
ringkasan total dari seluruh jurnal dimasukan kedalam buku besar setiap
bulannya dimana hal ini dilaksanakan selama satu tahun dan dilaporkan pada
tanggal neraca. Dalam system terkomputerisasi, data secara khusus
dimasukan kesistem sekali saja, saat entri data telah disetujui oleh pemakai,
perangkat lunak memasukan informasi itu ke seluruh laporan, dimana angka
yang dicatat akan muncul.
c. Jurnal
Jurnal digunakan untuk mencatat semua transaksi akuntansi, sebelum
dikalsifikasikan kebuku besar. Jurnal mengatur informasi secara kronologis
dan sesuai dengan jenis transaksi. Contohnya :
1. Jurnal untuk mencatat transaksi pengeluaran kas adalah suatu pencatatan
secara kronologis atau cek yang ditulis, yang dikategorikan menurut bagan
perkiraan/akun
2. Jurnal untuk mencatat transaksi penerimaan kas adalah pencatatan secara
kronologis atau seluruh setoran yang dibuat, yang dikategorikan menurut
bagan perkiraan/akun
3. Jurnal untuk mencatat trnasaksi gaji, yaitu jurnal yang mencatat seluruh
transaksi yang terkait dengan penggajian
4. Jurnal untuk mencatat transaksi pengeluaran kas dan piutang merupakan
bagian akun pertambahan biaya dan pendaptan. Jurnal ini bermanfaat
untuk mengelompokan transaksi pertambahan biaya dan atau pendapatan
yang terlalu banyak melalui jurnal.
d. Buku Cek
Buku cek menyajikan kombinasi jurnal dan buku besar. Sebagian besar
transaksi keuangan akan dicatat melalui buku cek, dimana tanda penerimaan
yang disetor ked an dari saldo pembayaran akan dibuat.

9
Tabel 11.1 tabel Siklus Akuntansi
Tahap  Kegiatan pengidentifikasian dan pengukuran
pencatatan dalam bentuk bukti transaksi dan bukti pencatatan
 Kegiatan pencatatan bukti transaksi kedalam buku
harian atau jurnal
 Memindahkan bukukan (posting) dari jurnal
berdasarkan kelompok atau jenisnya ke dalam
bentuk akun buku besar
Tahap  Penyusunan neraca saldo (trial balance)
pengikhtisaran berdasarkan akun-akun buku besar
 Pembuatan ayat jurnal penyesuaian
 Penyusunan kertas kerja (wprk sheet)
 Pembuatan ayat jurnal penutup (closing enteries)
 Pembuatan neraca saldo etelah penutupan
 Pembuatan ayat jurnal pembalik
Tahap Pelaporan  Neraca
 Laporan surplus deficit/ laporan aktiva
 Laporan arus kas
 Laporan perubahanaktiva bersih
 Catatan atas laporan keuangan

4. Auditing
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti
tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang
dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan
melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan criteria-kriteria yang telah
ditetapkan. Auditing seharusnya dilakukan oleh seorang yang independen dan
kompeten, (Arens & Loebbecke, 1996:1). Auditing may be defined as the
review of financial transction to assure their accuracy, completeness, legality,
and comparability with general accepted practices, (Thomas, H. Jones, 1985:22).
Untuk melaksanakan audit, diperlukan informasi yang dapat
diverifikasikan dan sejumlah standar (criteria) yang dapat digunakan sebagai
pegangan pengevaluasian informasi tersebut. Agar dapat diverifikasi, informasi
harus dapat diukur. Informasi yang dapat diukur memiliki berbagai bentuk.
Dalam auditing data akuntansi yang menjadi pokok adalah menentukan
apakah informasi yang tercatat telah mencerminkan denga benar kejadian
ekonomi pada periode akuntansi. Oleh karena kriterianya adalah aturan-aturan
akuntansi, maka seorang auditor harus memahami atauran-aturan dimaksud
dengan baik. Dalam asudit laporan harus memahami aturan-aturan yang
dimaksud dengan baik. Dalam audisut keuangan, aturan-aturan dimaksud adalah
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dalam system akuntansi

10
Indonesia, maka standar akuntansi keuangan yang ditetapkan oleh IAI (Ikatan
Akuntan Indonesia).
Jenis-Jenis Auditing yaitu sebagai berikut :
1. Audit Laporan Keuangan
Audit laporan keuangan adalah bertujuan untuk menentukan apakah
laporan keuangan secara keseluruhan yang digunakan untuk merupakan
informi terukur yangakan diveriikasi, tela disajikansesuai dengan akata
aaaaaa kriyrtis.
Umumnya kriteriaitu adalah prinsip-prinsip yang berlaku umumnyta
akan lebih efisiensi keuangan yang berdaansi membuatsarkan basis kas akunt
kesimpulan yang dapat diandalknan oleh semua pihak dari pada darsit
sendiri-sendiri.
2. Audit Operasionalian
Audit operasional merupakan bagian atas mau maupun prosedur dan
metode operasi suatu organisasi untuk menilai efesiensi dan efektifitasnya.
Umumnya, pada saat selesainya audit operasional, auditor akan memberikan
sejumlah saran kepada manajemen untuk memperbaiki jalanya operasi
lembaga. Dalam audit operasional, tinjauan yang dilakukan tidak terbatas
pada masalah-masalah akuntansi, tetapi juga meliputi evaluasi terhadap
strukutr organiasisi, pemanfaatan computer,metode produksi, pemasaran, dan
bidang-bidang lain sesuai dengan keahlian auditor.
Pelaksanaan audit operasional dan hasil yang dilaporakan lebih ssulit
untuk menentukan definisikan daripada Janis audit lainnya. Efisiensi dan
efektifitas operasi suatu organisasi jauh lebih sulit pengevaluasianya ssecara
objektif daripada penerapan penyajian laporan keuangan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dalam hal ini audit operasional lebih
merupakan konsultasi manajemen daripada audit.
3. Audit Ketaatan
Audit ketaatan bertujuan mempertimbangkan apakah auditi (klien) telah
mengikuti prosedur atau aturn tertentu yang telah ditetapkan oleh pihak yang
memiliiki otoritas lebih tinggi. Suatu asudit ketatan pada lembaga
(perusahaan) swasta, dapat termasuk penentuan apakah para pelaksana
akuntansi telah mengikuti prosedur yang telah di tetapkan oleh lembaga.
Contoh peninjauan tingkat upah, pemeriksaan perjanjian dengan pihak lain
(seperti bank/kreditor), dan memenuhi ketentuan hokum yang berlaku.
Dalam audit atas badan-badan pemerintah makin banyak audit ketaatan
yang dilakukan oleh karena banyaknya aturan yang dibuat oleh pihak yang
berwenang. Dihampir semua organisasi swasta dan nirlaba selalu terdapat
kebijakan khusus, perjanjian, dan kewajiban hokum yang membutuhkan suatu
audit ketaatan.
Selain jenis audit diatas, menurut (Thomas H. Jones, 1985:23) terdapat
jenis audit yang dapat dikembangkan oleh auditor, yaitu audit yang dilakukan

11
didalam kantor atau audit diatas meja (desk audit) dengan melihat laporan-
laporan yang masuk dan audit yang akan dilakukan dengan mendatangi objek
dilapangan (field audit) untuk memverifikasi data dan laporan yang masuk
dan dibuktikan dilapaangan. Kegiatan lain yang terkait dengan manajemen
keuangan adalah membuat laporan pertanggung jawaban keuangan kepada
kalangan internal lembaga atau eksternal yang menjadi stakeholder lembaga
pendidikan. Pelaporan dapat dilakukan secara periodic seperti laporan
tahunan dan laporan pada masa akhir jabatan pimpinan.

5. Implementasi di Lapangan
1. Penganggaran
Manajmen keuangan pendidikan yang akan dijadikan contoh kajian
disini adalah manajmen keuangan tingkat mikro, satuan pendidikan atau
lembagapenyelenggaraan pendidikan sekolah. Setiap sekolah memiliki
rencana strategis untuk periode waktu tertentu yang didalamnya mencakup
visi, misi, dan program, serta sasaran tahunan.
Tujuan utama manajmen keuangan sekolah adalah sebagai berikut :
a. Menjamin agar dana yang tersedia dipergunakan untuk kegiatan harian
sekolah dan menggunakan kelebihan dana untuk diinvestasikan kembali
b. Memelihara barang-barang (asset) sekolah
c. Menjaga agarperaturan-peraturan serta praktik penerimaan, pencatatan,
danpengeluaran uang diketahui dan dilaksanakan.

Kerangka kerja manajemen keuangan di sekolah mencakup pengertian


yaitu sebagai berikut :

a. Pembukuan yag cermat dan akurat


b. Pertanggung jawaban yang luwes
c. Pertukaran pengeluran
d. Kemudahan membelanjakan uang bagi kepala sekolah bila tidak akan
menghambat kebebasan sekolah dalam bertransaksi apa yang menghambat
kebebasan sekolah dalam bertransaksi apa yang diperlukan
e. Kebijakan keuangan
f. Alokasi dana yang tepat

Kebijakan keuangan sekolah terkait dengan pegangan dana bantuan bagi


para administrator dan manajer delam mengontrol dan mengatur:

a. Penerimaan uang
b. Pembukuan uang
c. Pengambillan uang
d. Pembelanjaan uang

12
Selain enam pengertian tadi, penerimaan dan sekolah perlu mendapat
perhatian pimpinan sekolah. Hal ini berkaitan dengan buku catatan
penerimaan dana sekolah, kepala sekolah perlu memahami tentang yaitu :

a. Tujuab diadakanya buku catatan penerimaan dana sekolah


b. Informasi yang harus tercantum dalam setiap penerimaan, dan
c. Memberdayakan uang tunai
2. Akuntansi (Pembukuan)
Kepala sekolah hendaknya benar-benar memahami dan dapat
menjelaskan fungsi tujuan manfaat pembukuan kepada staf keuangan.
3. Buku Pos (Vate Book)
Buku pos pada hakikatnya memuat informasi beberapa dana yang masih
tersisa untuk tiap pos anggaran. Buku pos mencatat peristiwa- peristiwa
pembelanjaan uang harian. Dan buku pos kepala sekolah dengan mudah dapat
melihat apakah sekolah telah berlebihan membelanjakan uang. Oleh karena
itu, dianjurkan agar kepala sekloah menyelenggarakan buku tersebut.

Tabel 11.2 Contoh Buku Pos


Pos : Pemeliharaan Laboratorium IPA
Anggaran : 8.250.000
Tanggal Pembelian Jumlah Sisa (Rp)
08-08- Mikroskop 3.000.000,00 5.250.000,00
2007
02-09- Alat 60.000,00 5.190.000,00
2007 pengukur
suhu
11-10- Bahan-bahan 700.000,00 4.490.000,00
2007 kimia
22-10- Galas ukur 550.000,00 3.940.000,00
2007

4. Faktur
Faktur dapat berupa buku atau lembaran lepas yang dapat diarsipkan.
Seperti pada contoh berikut, faktur berisi rincian tentang yaitu :
a. Maksud pembelian
b. Tanggal pembelian
c. Jenis pembelian
d. Rincian barang yang dibeli
e. Jumlah pembayaran, dan
f. Tanda tangan pemberi kuasa(kepala sekolah)

Hal-hal penting yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut :

13
a. Factor ditulis dan ditanda tangani sebelum uang dibayarkan
b. Harus ada nomor untuk diagendakan
c. Kuitansi pembelian harus dilampirkan
d. Faktor untuk mempertanggung jawabkan penggunaan uang umum
5. Buku Kas
Buku kas mencatat rincian tentang penerimaan danpenegluaran uang
serta sisa saldo secara harian dan pada hari yang sama, misalnya pembelian
kapur tulis, dengan demikian kepala sekolah akan segera tahu tentang keluar
masuknya uang pada hari yang sama. Termasuk yang harus dicatat pada buku
kas adalah Cheque yang diterima dan dikeluarkan pada hari itu.
6. Lembar Cek
Lembar cek merupakan alat bukti bahwa pembeyaran yang dikeluarkan
adalah sah. Lembar cek dikeluarkan bila menyangkut tagihan atas
pelaksanaan suatu transaksi, misalnya barang yang dipesan sudah dikirimkan
dan catatan transaksinya benar. Orang yang berhak menandatangani lembar
cek adalah kepala sekolah atau petugas keuangan.
7. Jurnal
Sebagai pengawas keuangan kepala sekolah harus membuka buku jurnal
dimana seluruh transaksi keuangan setiap hari dicatat
8. Buku Besar
Ada data keuangan berarti, informasi dan jurnal hendaknya dipindahkan
kebuku besar atau buku kas induk pada setiap bulan. Buku besar mencatat
kapan terjadinya transaksi pembelian, keluar masuknya uang saat itu, dan
neraca saldonyabulan. Buku besar mencatat kapan terjadinya transaksi
pembelian, keluar masuknya uang saat itu, dan neraca saldonya

Tabel 11.3 Contoh Buku Besar Umum


tanggal No. faktur Alat Tulis Pengeluaran
07-08-2007 182/7 Kertas HVS 125.000,00
122-08- 182/7 Spidol 174.000,00
2007 snowman
08-09-2007 183/20 …. 215.000,00

9. Buku Kas Pembayaran Uang Sekolah


Buku kas pembayaran berisi catatan tentang pembayaran uang sekolah
siswa menurut tanggal pembayaran, jumlah dan sisa tunggakan atau
kelebihan pembayaran sebelumnya. Pencatatan untuk tiap pembayaran harus
segera dilakukan untuk menghindari timbulnya masalah karena kuitansi
hilang, lupa menyimpan atau karena pekerejaan yang menjadi bertumpuk

14
10. Buku Kas Piutang
Buku ini berisi daftar/catatan orang yang berhutang kepda sekolah
menurut jumlah uang yang berhutang, tanggal pelunasan, dan sisa
hutangyang belum dilunasi. Informasi dalam buku ini harus selalu dalam
keadaan mutakhir untuk melihat jumlah uang milik sekolah yang belum
kembali
11. Neraca Percobaan
Tujuan utama diadakannya neraca percobaan adalah untuk mengetahui
secara cepat keadaan neraca pertanggung jawaban keuangan secara tepat,
misalnya mingguan atau dua minggu sekali. Hal ini memungkinkan kepala
sekolah sewaktu-waktu (selama tahun anggaran) menentukan hal yang harus
didahulukan dan mengangguhkan pengeluaran yang terlalu cepat dari pos
tertentu.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendidikan dipandang sebagai sektor yang strategis dan memiliki peran
penting dalam menghasilkan sumber daya manusia dalam suatu bangsa. Bangsa-
bangsa yang maju memiliki sumber daya manusia unggul dengan memiliki
pengetahuan, sikap dan keterampilan, kreativitas, dan inovasi melebihi bangsa
lainnya yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi sumber
dayanya lemah.
Uang merupakan sumber daya yang terbatas dan langka, maka perlu
dikelola dengan baik dan benar. Uang tersebut digunakan oleh pemerintah untuk
investasi fisik dan nonfisik di bidang pendidikan, dan biaya operasional
pendidikan menurut jalur, jenis dan jenjang pendidikan. Pendidikan sebagai
sektor publik yang berorientasi pada pelayanan publik dipandang sebagai sektor
publik yang berorientasi pada nirlaba (non profit) berbeda dengan sektor publik
yang lain seperti perusahaan yang berorientasi keuntungan, laba (profit). Tujuan
manajemen keuangan pada intinya untuk meminjam agar dana yang tersedia
dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien, memelihara barang-barang (aset)
milik lembaga pendidikan dan menjaga agar pengelolaan keuangan tersebut
dengan peraturan yang berlaku.
Kerangka manajemen keuangan ditingkat mikro (sekolah) meliputi buku
catatan keuangan dan penerimaan dan sekolah. Untuk mengelola keuangan
sekolah secara aman, kepala sekolah perlu memahami praktik-praktik perbankan
dan memanfaatkannya. Lebih lanjut dia perlu memahami tujuan dan fungsi
pembukuan dan ditindak lanjuti dengan pemeriksaan (audenting) secara berkala,
sehingga terhidar penyimpangan dan kekeliruan yang tidak diinginkab. Untuk
mempermudah manajmen keuangan kepala sekolah dapat dibantu oleh staf di
sekolah dengan prinsip jujur, transparansi, dan akuntabel.
B. Saran
Masalah keuangan harus dipecahkan secara bersama jika kita ingin mendapatkan
peluang yang maksimal bagi semua sekolah agar dapat berkembang. Usaha dan
pendanaan mandiri merupakan cara pemecahan yang sangat hakiki bagi sekolah
yang benar-benar ingin berkembang. Jika berkaitan dengan masalah keuangan,
maka sebaiknya digunakan sistem manajemen terbuka. Dengan manajemen
terbuka, maka semua keadaan sekolah baik atau buruk bisa diketahui oleh siapa
saja.

16
DAFTAR PUSTAKA

Arens dan Loebecke, (1991) Auditing, Pendekatan Terpadu, (edisi indonesia),


Prentice Hall, Salemba Empat, Jakarta.

Bastian Indra, (2007), Akuntansi Yayasan dan Lembaga Publik, PSASP, Erlangga,
Jakarta.

Fattah, Nanang, (2000). Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Rosda. Bandung.

-----(2007), Manajemen Keuangan, Makalah, disampaikan dalam seminar MDC Kanwil


Depag Jawa Barat.

Husnan Suad, (1992) Manajemen Keuangan, Teori dan Penerapan, BPFE, Yogyakarta.

Henke O. Emerson, (1988), Introduction to NonProfit Organization Accounting, (thrid


Edition), PWS-Kent Publishing Co., Boston

Jones. H. Thomas, (1985), Introduction ro School Finance. Technique and Social


Policy, MacMillan Publishing Company, New York.

Matz Adolph, Et.al (1991) Akuntansi Biaya, Perencanaan dan Pengendalian, (edisi 9),
Erlangga, Jakarta.

Nordiawan Deddi, (2006), Akuntansi Sektor Publik, Selemba Empat, Jakarta.

17