Anda di halaman 1dari 7

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Gula adalah salah satu dari sembilan bahan pokok, sehingga gula merupakan komoditas

pangan yang memiliki arti dan posisi yang strategis di Indonesia. Keputusan konsumen dalam

membeli gula pasti memerhatikan ciri-ciri fisik atau atribut yang sesuai dengan kriteria. Untuk

mengetahui atribut gula yang diinginkan konsumen perlu ada informasi pasar yang menunjukan

preferensi konsumen terhadap gula. Preferensi diartikan sebagai tindakan konsumen dalam

memberikan penilaian dan sikap tingkat kesukaan terhadap merek-merek alternatif produk.

Mempelajari tipe perilaku konsumen gula menjadi penting khususnya bagi produsen dan

pemasar, guna menghasilkan produk gula yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan

konsumen. Analisa preferensi konsumen berkaitan erat pada penilaian akan kepuasan atau

ketidakpuasan terhadap produk atau jasa dimaksudkan agar perusahaan dapat menganalisis

niat pembelian konsumen dan menyusun strategi pemasaran yang dapat meningkatkan

penjulan gula. Oleh karena itu dilakukan praktikum mengenai perilaku konsumen terhadap

produk gula.

B. Tujuan

1. Mengetahui faktor–faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian gula di

Rita Isola Purwokerto.

2. Mengetahui faktor–faktor dominan yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam

pembelian gula di Rita Isola Purwokerto.


Isi

A. Gambaran Perusahaan

PT. Rita Ritelindo berkedudukan di Purwokerto, didirikan pada tanggal 1 Februari 1997

merupakan perusahaan yang bergerak dalam perdagangan ritel. Saat ini PT. Rita Ritelindo telah

memiliki 9 (sembilan) outlet yang terdiri dari 4 (empat) outlet di Purwokerto dan 5 (lima) outlet

yang tersebar di Cilacap, Wonosobo, Kebumen, Tegal dan Kroya dengan total luas outlet

seluruhnya mencapai ±78.942 m2.

B. Gambaran Produk

Gula pasir adalah jenis gula yang paling mudah dijumpai, digunakan sehari-hari untuk

pemanis makanan dan minuman. Gula pasir berasal dari cairan sari tebu. Setelah dikristalkan,

sari tebu akan mengalami kristalisasi dan berubah menjadi butiran gula berwarna putih bersih

atau putih agak kecoklatan. Manfaat gula diantaranya bisa sebagai bahan pengawat, bahan

perasa, dan bahan dalam merubah warna di dalam produk makanan.

C. Karakteristik Konsumen

1. Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi


Perempuan 19
Laki-laki 1
Hal tersebut di sebabkan oleh kondisi sosial dimana dalam rumah tangga yang mengurus

kebutuhanya adalah seorang istri.

2. Usia

Usia Frekuensi
15-24 1
25-34 6
35-44 2
45-54 7
55-64 6
Kebutuhan dan selera seseorang akan berubah sesuai dengan bertambahnya usia.

Pembelian dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga, sehingga pemasar perlu memerhatikan

perubahan minat pembelian yang berhubungan dengan daur hidup manusia.


3. Pendapatan

Pendapatan Frekuensi
1-2 juta 2
2-3 juta 5
> 3 juta 13
Responden terbanyak adalah responden yang memiliki pendapatan lebih dari Rp

3.000.000,00 per bulan, hal ini disebabkan responden terbanyak adalah pegawai yang

pendapatanya diatas UMR.

4. Pekerjaan

Pekerjaan Frekuensi
Wirausaha 4
Pegawai Swasta 5
PNS 1
Ibu Rumah Tangga 9
Pelajar atau mahasiswa 1
Konsumsi gula terutama pada ibu rumah tangga, meningkat karena gula digunakan

merupakan bahan pokok dalam rumah tangga. Ibu rumah tangga menggunakan gula

sebagai penyeimbang rasa dalam setiap masakannya. Selain itu gula juga digunakan

sebagai perasa manis dalam makanan maupun minuman.

5. Pendidikan

Pendidikan Frekuesi
SMA 10
D3 4
S1 6
6. Jumlah Anggota Keluarga

Jumlah Anggota Keluarga Frekuensi


3 orang 5
4 orang 10
5 orang 3
6 orang 2
Menurut teori, semakin banyak jumlah anggota keluarga maka akan meningkatkan

permintaan suatu barang. Hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan jumlah barang

yang diminta adalah positif


7. Intensitas Konsumsi

Intensitas Frekuensi
Kadang 4
Sering 16
Hal ini disebabkan karena banyaknya responden yang kami temui adalah seorang

perempuan dan ibu rumah tangga. Konsumsi pangan rumah tangga merupakan makanan

dan minuman yang tersedia untuk dikonsumsi oleh rumah tangga, kelompok keluarga atau

institusi.

D. Preferensi Konsumen

1. Merek Gula

Merek Frekuensi
Gulaku 12
Rose Brand 1
Gula Curah 7
Responden terbanyak adalah menyukai gula dengan merek Gulaku, karena banyaknya

responden yang kami temui cenderung lebih memilih gula dengan merek terkenal.

2. Warna Butir Gula

Warna Butir Frekuensi


Sangat Putih 2
Putih 5
Agak Putih 6
Agak Kecoklatan 7
Responden terbanyak adalah menyukai gula dengan warna buit gula agak kecoklatan,

karena banyaknya responden yang kami temui cenderung menganggap warna agak

kecoklatan lebih alami.

3. Harga

Harga Frekuensi
Rp. 5.000 - Rp. 10.000 2
Rp. 10.000 - Rp. 15.000 6
Rp. 15.000 - Rp. 20.000 3
> Rp. 20.000 9
Responden terbanyak adalah responden yang mengeluarkan biaya untuk satu kali

pembelian gula diatas Rp 20.000, karena banyaknya responden yang kami temui membeli

gula sesuai kebutuhan perbulan.


4. Ukuran

Ukuran Frekuensi
300 gram 1
500 gram 3
1000 gram 10
2000 gram 6
Responden terbanyak adalah responden yang memilih ukuran untuk satu kali pembelian

gula seberat 1000 gram, karena banyaknya responden yang kami temui membeli gula

sesuai kebutuhan perbulan.

5. Aftertaste

Aftertaste Frekuensi
Sangat Kuat Melekat 1
Kuat Melekat 6
Agak Kuat Melekat 9
Tidak Kuat Melekat 4
Responden terbanyak adalah menyukai gula dengan dengan aftertaste agak kuat melekat,

karena banyaknya responden yang kami temui cenderung tidak terlalu menyukai rasa yang

terlalu manis.

E. Uji Validitas dan Realibilitas

Uji validitas adalah uji yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat ukur yang

digunakan dalam suatu mengukur apa yang diukur. Suatu kuesioner dikatakan valid jika

pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh

kuesioner tersebut. Reliabilitas tidak sama dengan validitas, artinya pengukuran yang dapat

diandalkan akan mengukur secara konsisten, tetapi belum tentu mengukur apa yang

seharusnya diukur.

Berdasarkan hasil uji validitas yang telah dilakukan diketahui variabel yang valid meliputi

variabel pertanyaan4, pertanyaan5, pertanyaan6, pertanyaan8, pertanyaan10, dan

pertanyaan12, serta variabel yang tidak valid meliputi variabel pertanyaan1, pertanyaan2,

pertanyaan3, pertanyaan7, pertanyaan9, pertanyaan11, pertanyaan13, pertanyaan14, dan

pertanyaan15. Variabel yang tidak valid tersebut seharusnya dalam penelitian dihilangkan,

sehingga hanya variabel yang valid sajalah yang digunakan dalam kuisioner.
Pada hasil analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa jumlah responden atau nilai N

adalah sebesar 20. Besarnya nilai Cronbach’s Alpha adalah 0,612 > Nilai r tabel sebesar 0,4438,

maka kuesioner ini dinyatakan reliabel. Hal ini menunjukkan bahwa reliabilitas data tersebut

moderat.

F. Uji Cochran Q Test

Uji cochran merupakan uji statistik untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara lebih

dari dua sampel yang berhubungan. Uji Cochran Q Test merupakan suatu uji yang digunakan

untuk mengetahui atribut-atribut yang dipertimbangkan dalam keputusan pembelian produk

yakni dengan cara mereduksi satu per satu atribut sampai ditentukan atribut yang valid.

Uji ini dikatakan valid apabila nilai Chochran’s Q < nilai tabel Q. Hasil output menunjukkan

nilai Cochran’s Q sebesar 15,217, sedangkan nilai Q tabel dengan 5 variabel dan 20 yaitu 9,48

menunjukkann atribut yang diuji belum valid sehingga harus dilakukan pengujian ulang. Peneliti

mengeluarkan atribut-atribut yang dinilai tidak sah berdasarkan kriteria-kriteria statistik yang

dipakai. Pengujian ulang dari uji Cochran’s Q dengan cara mengeluarkan nilai terkecil dari value

1 hingga nilai Cochran’s Q < nilai Q tabel dan dinyatakan valid. Nilai yang dikeluarkan yaitu

merek.

Berdasarkan hasil pengujian ulang menggunakan SPSS dapat disimpulkan bahwa dari sekian

konsumen saat membeli gula mempertimbangkan atribut warna, harga, ukuran dan aftertaste

dalam membeli produk gula.

G. Uji Conjoint

Analisis konjoin adalah suatu teknik analisis yang dapat digunakan untuk menentukan

tingkat kepentingan relatif berdasarkan persepsi pelanggan yang dibawa oleh suatu produk

tertentu dan nilai kegunaan yang muncul dari atributatribut produk terkait. Berdasarkan output

utilities diketahui bahwa:


1. Butiran gula berwarna Putih merupakan warna yang paling diminati oleh konsumen karena

memberikan nilai tertinggi yaitu sebesar 1.040, sedangkan warna Agak Putih menjadi warna

yang paling tidak diminati karena memberikan nilai terendah sebesar -0,470.

2. Harga kurang dari Rp5.000 merupakan harga yang paling diminati oleh konsumen karena

memberikan nilai tertinggi yaitu sebesar 1.320, sedangkan harga Rp10.000-Rp15.000

menjadi harga yang paling tidak diminati karena memberikan nilai terendah sebesar -3,010.

3. Ukuran 2000 gram menjadi ukuran yang diminati oleh konsumen karena memberikan nilai

tertinggi yaitu sebesar 1.330, sedangkan ukuran 1000 gram menjadi ukuran yang paling

tidak diminati karena memberikan nilai terendah sebesar -0,790.

4. Aftertaste Sangat Kuat Melekat merupakan rasa yang paling diminati oleh konsumen karena

memberikan nilai tertinggi yaitu sebesar 1.210, sedangkan aftertaste Sangat Tidak Kuat

Melekat menjadi rasa yang paling tidak diminati karena memberikan nilai terendah sebesar

-1.230.

Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa harga merupakan atribut yang paling

penting yang dipilih oleh konsumen dengan nilai 41,635%. Pada urutan kedua ditempati oleh

aftertaste dengan nilai 23,462%, urutan ketiga ditempati oleh ukuran dengan nilai 20,385% dan

pada urutan terakhir ditempati warna dengan nilai 14,519%.

Kesimpulan

1. Mengetahui faktor–faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian gula di

Rita Isola Purwokerto.

2. Mengetahui faktor–faktor dominan yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian

gula di Rita Isola Purwokerto.