Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

kuman Tuberkulosis (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman

Tuberkulosis menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh

lainnya. Kuman ini berbentuk batang dan mempunyai sifat khusus yaitu tahan

terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai BTA,

kuman TB Paru cepat mati bila kena sinar matahari langsung, tetapi dapat

bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam tubuh

kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun (Depkes RI,

2008).

Menurut World Health Organitation (WHO) tahun 2014, tuberculosis

masih menjadi salah satu penyakit menular yang paling mematikan di dunia.

Tahun 2014 diperkirakan 9.6 juta orang menderita tuberculosis dan 1.5 juta

meninggal karena penyakit ini. Tuberculosis terdapat pada semua wilayah di

dunia dan laporan Global memperkirakan kasus tuberculosis paru dan angka

kematian pada tahun 2015 lebih tinggi dari pada tahun 2014.

Di Indonesia, tuberculosis merupakan masalah utama kesehatan

masyarakat dengan jumlah menempati urutan ke-3 terbanyak di dunia setelah

Cina dan India, dengan jumlah sekitar 10% dari total jumlah pasien

tuberculosis di dunia. Diperkirakan terdapat 539.000 kasus baru dan kematian

1
101.000 orang setiap tahunnya. Jumlah kejadian TB paru di Indonesia yang

ditandai dengan adanya Basil Tahan Asam (BTA) positif pada pasien adalah

110 per 100.000 penduduk (Riskesdas, 2013).

Mengacu pada kondisi tersebut diperlukan adanya penanggulangan

penyakit TBC ini. Directly Observed Treatment Succes Rate (DOTS) adalah

strategi penyembuhan TB paru jangka pendek dengan pengawasan secara

langsung. Dengan menggunakan strategi DOTS, maka proses penyembuhan

TB paru dapat berlangsung secara cepat. Kategori kesembuhan penyakit TB

yaitu suatu kondisi dimana individu telah menunjukan peningkatan kesehatan

dan memiliki salah satu indikator kesembuhan penyakit TBC, diantaranya:

menyelesaikan pengobatan secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak

(follow up ) hasilnya negatif pada akhir pengobatan dan minimal satu

pemeriksaan folowup sebelumnya negatif (Nizar, 2010). Program

kesembuhan TB paru DOTS menekankan pentingnya pengawasan terhadap

penderita TB paru agar menelan obat secara teratur sesuai ketentuan sampai

dinyatakan sembuh. Strategi DOTS direkomendasikan oleh WHO secara

global untuk menanggulangi TB paru, karena menghasilkan angka

kesembuhan yang tinggi yaitu 95%. (Pedoman nasional penaggulangan

tuberkulosis, 2010).

Pengobatan TB Paru diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif 2

bulan pengobatan dan tahap lanjutan 4 - 6 bulan berikutnya. Pengobatan yang

teratur TB Paru dapat sembuh secara total, apabila klien itu sendiri mau patuh

dengan aturan-aturan tentang pengobatan TB Paru. Sangatlah penting bagi

2
penderita untuk tidak putus berobat dan minum obat dan jika penderita

menghentikan pengobatan dan minum obat, kuman TB Paru akan mulai

berkembang biak lagi yang berarti penderita mengulangi pengobatan intensif

salama 2 bulan pertama. Pada fase ini terdapat banyak kuman TB Paru yang

hidup dalam tubuh penderita dan mampu berkembang biak sangat cepat jika

penderita TB Paru tersebut menghentikan pengobatannya (Depkes RI, 2009).

Ada 3 hal yang berpengaruh terhadap perilaku, yaitu pengetahuan,

sikap dan tindakan (Notoadmojo, 2012). Banyak faktor yang mempengaruhi

kesembuhan dari penderita TB paru yaitu pengetahuan penderita, sikap

penderita terhadap kesembuhan, serta perilaku penderita berhubungan dengan

kesembuhan pasien TB paru (Nurkholifah, 2009).

Perilaku kesehatan adalah tanggapan dan tindakan seseorang terhadap

sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan.

Disebutkan dalam Green L, bahwa kualitas hidup seseorang dapat

dipengaruhi oleh kesehatannya, sedangkan kesehatan dipengaruhi oleh tiga

faktor yaitu predisposing factors (pengetahuan, sikap dan kepercayaan

terhadap apa yang dilakukan, serta beberapa faktor social demografi seperti

umur, jenis kelamin, status perkawinan, status sosial dan ekonomi), enabling

factor (ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan), dan reinforcing factor

(dukungan dari lingkungan sosialnya). Dimana ketiga faktor tersebut secara

bersamaan mempengaruhi perilaku (Notoadmojo, 2012).

Penelitian Dhewi (2010) tentang hubungan antara pengetahuan, sikap

dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB paru

3
di BKPM Pati, menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara

pengetahuan, sikap dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat

pada pasien TB paru.

Berdasarkan survey awal yang peneliti lakukan pada tanggal 3

Desember di Puskesmas Mapadegat, terdapat 45 pasien yang mengalami TB

Paru. Hasil wawancara dengan 10 pasien didapatkan hasil 6 dari 10 orang

pasien mengatakan bahwa penyakitnya hanya batuk biasa dan biasanya

langsung sembuh sendiri. 5 dari 10 pasien mengatakan sering bergantian

peralatan makan dan minum dengan penderita TB paru tanpa dicuci terlebih

dahulu. 8 dari 10 pasien mengatakan sering tidak menutup mulut dengan

masker saat batuk di depan orang lain. Sementara itu 6 orang pasien

mengatakan kadang-kadang lupa minum obat sehingga proses sembuhnya

lama.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik melakukan

penelitian tentang faktor – faktor yang berhubungan dengan kesembuhan tb

paru pada anak di Wilayah Kerja Puskesmas Mapadegat Kepulauan

Mentawai Tahun 2018.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah “apa saja faktor – faktor yang

berhubungan dengan kesembuhan tb paru pada anak di Wilayah Kerja

Puskesmas Mapadegat Kepulauan Mentawai Tahun 2018?”

4
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan kesembuhan tb

paru pada anak di Wilayah Kerja Puskesmas Mapadegat Kepulauan

Mentawai Tahun 2018.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui distribusi frekuensi Kesembuhan Tb Paru pada anak di

Wilayah Kerja Puskesmas Mapadegat Kepulauan Mentawai Tahun

2018.

b. Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan pada pasien Tb paru di

Wilayah Kerja Puskesmas Mapadegat Kepulauan Mentawai Tahun

2018.

c. Mengetahui distribusi frekuensi sikap pasien tb paru di Wilayah Kerja

Puskesmas Mapadegat Kepulauan Mentawai Tahun 2018.

d. Mengetahui distribusi frekuensi perilaku Tb paru di Wilayah Kerja

Puskesmas Mapadegat Kepulauan Mentawai Tahun 2018.

e. Mengetahui hubungan pengetahuan dengan kesembuhan tb paru pada

anak di Wilayah Kerja Puskesmas Mapadegat Kepulauan Mentawai

Tahun 2018.

f. Mengetahui hubungan sikap dengan kesembuhan tb paru pada anak di

Wilayah Kerja Puskesmas Mapadegat Kepulauan Mentawai Tahun

2018.

5
g. Mengetahui hubungan perilaku dengan kesembuhan tb paru pada anak

di Wilayah Kerja Puskesmas Mapadegat Kepulauan Mentawai Tahun

2018.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi tempat penelitian (Puskesmas Mapadegat)

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi Puskesmas Mapadegat dalam

memberikan pelayanan berupa pendidikan kesehatan kepada pasien agar

kepatuhan pasien dalam minum obat TB Paru menjadi meningkat.

2. Bagi institusi pendidikan (STIKes Syedza Saintika Padang)

Sebagai bahan masukan bacaan di perpustakaan Prodi Sarjana Ilmu

Keperawatan STIKes Syedza Saintika Padang.

3. Bagi peneliti lanjutan

Rekomendasi untuk penelitian lain untuk mengkaji variabel lain diluar

model penelitian ini seperti: pendidikan, dukungan petugas kesehatan, dan

lain sebagainya.

E. Ruang lingkup penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah faktor – faktor yang berhubungan

dengan kesembuhan tb paru pada anak di Wilayah Kerja Puskesmas

Mapadegat Kepulauan Mentawai Tahun 2018. Penelitian ini direncanakan

akan dilakukan di Puskesmas Mapadegat pada bulan November – Maret

Tahun 2019. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional.

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien TB yang

6
berobat ke Puskesmas Mapadegat yang berjumlah 45 orang (Januari – Oktober

2018). Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. Data

dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan data di analisa

menggunakan analisa univariat dan bivariat dengan uji statistik Chi Square.