Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Sejak tahun 1986, standar praktik keperawatan komunitas ditulis
dalam suatu kerangka kerja proses keperawatan. Keperawatam kesehatan
komunitas diinterpretasikan secara luas untuk mencakup sub-bidang keahlian
tentang kesehatan masyarakat, kesehatan rumah, kesehatan kerja, sekolah
keperawatan, dan praktisi perawatan dalam bidang asuhan primer. Proses
keperawatan digunakan untuk mengkaji, merencanakan, mendiagnosis,
mengintervensi, dan mengevaluasi individu, keluarga dan komunitas.
Kolaborasi dengan keluarga sangat ditekankan. Oleh karena itu, praktik
keperawatan kesehatan komunitas mengarahkan pelayanannya kepada
individu, keluarga dan kelompok meski tanggug jawab dominannya tetap
pada populasi secara keseluruhan (friedman dan Marilyn, 1998).
Standar praktek keperawatan adalah acuan untuk praktik keperawatan
yang harus dicapai oleh seorang perawat dan dikembangkan untuk membantu
perawat melakukan validasi mutu dan mengembangkan keperawatan.Dan
suatu pernyataan yang menguraikan suatu kualitas yang diinginkan terhadap
pelayanan keperawatan yang diberikan untuk klien. Perawat sebagai profesi
pelayanan kesehatan mempunyai tanggung jawab utama yaitu melindungi
masyarakat / publik, profesi keperawatan dan praktisi perawat. Praktek
keperawatan ditentukan dalam standar organisasi profesi dan system
pengaturan serta pengendaliannya melalui perundang – undangan
keperawatan (Nursing Act), dimanapun perawat itu bekerja. ( PPNI, 2000).
Penerimaan dan pengakuan keperawatan sebagai pelayanan professional
diberikan dengan perawat professional sejak tahun 1983.
Oleh karena itu kita sebagai perawat yang mengedepankan
profesionalitas harus mampu memenuhi standar praktek keperawatan yang
telah di tetapkan tersebut agar mampu memelihara interaksi antara perawat
dengan klien dan tenaga kesehatan lainnya.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian standart praktik keperawatan komunitas?
2. Bagaimana program evaluasi keperawatan komunitas ?
3. Bagaiman proses belajar mengajar di komunitas ?
4. Apa saja dan bagaimana terapi tradisional pada komunitas ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian standart praktik keperawatan komunitas.
2. Untuk mengetahui program evaluasi keperawatan komunitas.
3. Untuk mengetahui proses belajar mengajar di komunitas.
4. Untuk mengetahui terapi tradisional pada komunitas.
D. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi siswa, baik penyusun maupun pembaca
adalah untuk menambah wawasan terhadap seluk beluk tentang asuhan
standart praktik keperawatan komunitas.
2. Bagi institusi
Makalah ini bagi institusi pendidikan kesehatan adalah sebagai
tambahan referensi untuk menguji mahasiswa atau mahasiswiny tentang
standart praktik keperawatan komunitas.
3. Bagi masyarakat
Makalah ini bagi masyarakat adalah sebagai penambah wawasan
tentang standart praktik keperawatan komunitas.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Standart praktik keperawatan adalah norma atau penegasan tentang
mutu pekerjaan seseorang perawat yang dianggap baik, tepat dan benar yg
dirumuskan dan digunakan sebagai pedoman pemberian keperawatan serta
merupakan tolok ukur penilaian penampilan kerja perawat. Standar
merupakan pernyataan yang sah, suatu model yang disusun berdasarkan
kebiasaan atau kesepakatan mengenai apa yang memadai dan sasuai, dapat
diterima, dan layak dalam praktek keperawatan. Standar pratek menguraikan
apa yang harus di lakukan, mengidentifikasi tanggung jawab dan pelaksaan
tanggung jawab tersebut. Standar praktek keperawatan bergantung pada
tempat dan waktu, sehingga standar praktek keperawatan dapat berubah dari
waktu ke waktu pada tempat yang berbeda.
Standar praktek keperawatan komunitas adalah merupakan salah satu
karakteristik rofesi perawat komunitas yang diperlukan untuk menjamin mutu
praktik keperawatan komunitas sehingga mutu asuhan keperawatan yang
diberikan kepada masyarakat dapat dipertahankan pada tingkat optimal.
Keperawatan komunitas adalah pelayanan yang memberikan
pelayanan terhadap pengaruh lingkungan (bio, psiko, sisio, cultural dan
spiritual) terhadap kesehatan komunitas dan memberikan prioritas pada
strategi pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan.
Standar praktik keperawatan merupakan acuan untuk praktik
keperawatan yang harus dicapai oleh seorang perawat, dan dikembangkan
untuk mernbantu perawat melakukan validasi mutu dan rnengembangkan
keperawatan. Standar praktik keperawatan komunitas merupakan salah satu
karakteristik profesi perawat komunitas yang diperlukan untuk jarninan mutu
praktik keperawatan kornunitas sehingga mutu asuhan keperawatan yang
diberikan kepada masyarakat dapat dipertahankan pada tingkat optimal.
Menurut Dewan Pertimbangan Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia (DPP PPNI) tahun 1999, standar praktik keperawatan merupakan
kornitmen profesi keperawatan dalam melindungi masyarakat terhadap
praktik yang dilakukan oleh anggota profesi. Di dalamnya terdapat penegasan
tentang mutu pekerjaan seorang perawat yang dianggap baik, tepat, dan benar,
yang digunakan sebagai pedoman daJam pemberian pelayanan keperawatan
serta tolok ukur dalam penilaian kerja seorang perawat.
Adapun standart praktik keperawatan pada komunitas yaitu:
1. Standar 1: pengkajian
Perawat kesehatan kornunitas mengkaji status komunitas menggunakan data,
idcntifikasi sumber- surnber yang ada di komunitas, masukan dari komunitas
dan pemangku kepentingan (stakeholder) lain, serta penilaian profesional,
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Mengumpulkan data dari berbagai surnber yang berhubungan dengan
masyarakat skala luas atau komunitas khusus.
b. Menggunakan model dan prinsip-prinsip epiderniologi, dernografi,
biometri, sosial, perilaku, dan pemeriksaan fisik untuk mengolab data
yang telah dikumpulkan.
c. Melakukan pengkajian berdasarkan kriteria yang ditentukan untuk
memenuhi kebutuhan komunitas, nilai dan kepercayaan, sumber-
sumber, dan faktor lingkungan yang relevan.
d. Menganalisis data menggunakan teknik pemecahan masaJahdan model
keperawatan, kesehatan masyarakat, dan disiplin lain.
e. Menggunakan data untuk meugldentifikasi kecenderungan dan
penyimpangan dari pola kesehatan yang diharapkan di komunitas.
f. Melakukan pengkajian data dokumen yang tidak dimengerti yang
terlibat dalam proses.
g. Menerapkan etik, hukum, dan menghormati privasi klien dalam
mengumpulkan, mengolah, serta menyampaikan data dan informasi.
2. standart 2 prioritas dan diagnosis komunitas
Perawat kesehatan komunitas menganalisis pengkajian data untuk
menentukan prioritas atau diagnosis komunitas.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Mendapatkan prioritas atau diagnosis komunitas berdasarkan pengkajian
data seperti input dari komunitas.
b. Menganalisis data yang berhubungan dengan akses dan penggunaan
pelayanan kesehatan,
c. Faktor yang berhubungan dengan promosi kesehatan dan pencegahan
penyakit.
d. Paparan yang ada dan berpotensi membahayakan.
e. Keperawatan dasar dan ilmu kesehatan masyarakat yang terkait.
f. Validasi diagnosis atau kebutuhan dari komunitas, dinas kesehatan dan
organisasi masyarakat setempat, lokal, wilayah, dan statistik kesehatan
yang ada dan dapat diaplikasikan.
g. Diagnosis dokumen atau kebutuhan dengan cara memfasilitasi komunitas
yang terlibat dalam menentukan reneana dan hasil yang diharapkan.
3. standart 3 identifikasi hasil
Perawatkesehatan komunitas mengidentifikasi hasilyang diharapkan untuk
merencanakan berdasarkan prioritas atau diagnosis komunitas.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Melibatkan komunitas, profesional lain, organisasi, dan pemangku
kepentingan dalam merumuskan hasil yang diharapkan.
b. Memperoleh kompetensi budaya yang diharapkan dari diagnosis.
c. Mempertimbangkan kepercayaan dan nilai komunitas, risiko, keuntungan,
biaya.. bukti i1miah terkini, dan keahlian ketika merumuskan prioritas
dan hasil yang diharapkan.
d. Memasukkan pengetahuan fakror lingkungan dan kejadian, sumber yang
tersedia, waktu yang diperkirakan, etik, hukum, dan pertimbangan privasi
dalam mencntukan hasil yang diharapkan.
e. Mengembangkan hasil yang diharapkan serta menyediakan kelanjutan
proses dari identifikasi kebutuhan dan perhatian komunitas.
f. Memodifikasi hasil yang diharapkan berdasarkan perubahan status
kebutuhan dan perhatian komunitas serta ketersediaan sumber daya.
g. Dokumen hasil yang diharapkan sebagai tujuan yang bisa diukur
rnenggunakan bahasa yang dapat dimcngerti untuk melibatkan semua
komponen.
4. standart 4: perencanaan
Perawat kesehatan komunitas mengembangkan perencanaan untuk
mengidentifikasi strategi, rencana tindakan, dan alternatif untuk mencapai
hasil yang diharapkan.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Mengembangkan komunitas yang berfokus pada perencanaan untuk
pelayanan yang berhubungan dengan kesehatan berdasarkan pengkajian
prioritas kebutuhan dan risiko kesehatan.
b. Memasukkan pendekatan promosi dan pemulihan kesehatan; pencegahan
penyakit, kecelakaan, atau penyakit; serta respons dan persiapan keadaan
gawat darurat yang menjadi perhatian atau kebutuhan komunitas.
c. Mempertahankan kontinuitas di dalam dan lintas program.
d. Menetapkan perencanaan yang menggambarkan kompetensi budaya,
pendidikan dan prinsip pembelajaran, serta prioritas yang mewakili
kebutuhan komunitas dalam waktu yang berbeda.
e. Mempertahankan partisipasi dari komunitas yang diidentifikasi, tenaga
kesehatan profesional, organisasi, dan pemangku kepentingan lain dalam
menentukan peranan dalam perencanaan, implernentasi, dan proses
evaluasi.
f. Menerapkan standar yang ada, hukurn, peraturan, dan kebijakan dalam
proses perencallaan.
g. Mengintegrasikan kecenderungan penelitian keperawatan terkini dan
kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan proses perencanaan.
5. standar 5a: koordinasi
Perawat kesehatan komunitas mengoordinasikan program, pelayanan, dan
aktivitas lain dalam mengimplementasikan reneana yang teridentifikasi
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Mempromosikan kebijakan, program, dan pelayanan untuk meneapai
hasil yang diharapkan.
b. Melakukan surveilans, penemuan kasus, dan pelaporan dengan tenaga
profesional dan pemangku kepentingan lain.
c. Mendokumentasikan koordinasi dan laporan yang diperlukan.

standar 5 b: pendidikan dan promosi kesehatan


Perawat kesehatan komunitas bekerja dengan strategi pendidikan untuk
promosi kesehatan, mencegah penyakit, dan meyakinkan lingkungan yang
nyaman pada komunitas.
a. Termasuk pendidikan kesehatan yang sesuai dalam implementasi program
dan pelayanan untuk komunitas.
b. Menentukan pengajaran dan metode belajar yang sesuai dengan
komunitas dan identifikasi sasaran hasil komunitas.
c. Menawarkan budaya yang sesuai promosi kesehatan, pencegahan
penyakit dan informasi keamanan lingkungan, serta bahan pendidikan
pada komunitas.

Mengumpulkan umpan balik (feedback) dari partisipan untuk menentukan


efektivitas program dan pelayanan serta merekomendasikan perubahan

6. Standar 6: evaluasi
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Mengoordinasikan secara sistematis, berke1anjutan, dan evaluasi berdasarkan
kriteria hasil pelayanan dalam komunitas dan pemangku kepentingan lain.
b. Mengumpulkan data secara sistematis, menerapkan epidemiologi dan metode
ilmiah untuk menentukan efektivitas intervensi keperawatan kesehatan
komunitas dalam kebijakan, program,dan pelayanan.
c. Berpartisipasi dalam proses dan evaluasi hasil dengan aktivitaspemantauan
(monitoring) program dan pelayanan.
d. Mengaplikasikan pengkajian data yang berkelanjutan untuk merevisi reneana,
intervensi, dan aktivitas yang sesuai.
e. Mendokumentasikan hasil dari evaluasi termasuk perubahan atau rekomendasi
untuk meningkatkan efektivitas intervensi.
f. Menyampaikan evaluasi proses dan hasil yang dihasilkan kepada komunitas
dan pemangku kepentingan lain berdasarkan hukum dan peraturan negara.
7. standar 7 : kualitas praktik
Perawat kesehatan komunitas secara sistematis mcnirrgkatkan kualitas dan
efektivitas praktik keperawatan.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
Mendemonstrasikan kualitas melalui pencrapan proses keperawatan dengan cara
tanggung jawab, tanggung gugat, dan etik,

a. Mengimplemetasikan pengetahuan baru dan peningkatan kinerja untuk


mengawali perubahan dalam praktik keperawatan kesehatan komunitas dan
pembcrian layanan keperawatan pada komunitas.
b. Menyertakan kreativitas dan inovasi dalam aktivitas untuk rnemperbaiki
kualitas praktik keperawatan.
c. Mengembangkan implementasi serta prosedur evaluasi dan prosedur untuk
meningkatkan kualitas praktik
8. standar 8: pendidikan
Perawat kesehatan komunit.asmemperoleh pengetahuan dan kompetensi yang
menggambarkan praktik keperawatan kesehatan komunitas terkini.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan berkelanjutan untuk
mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yaIlg
dibutuhkan guna meningkatkan kesehatan komunitas.
b. Mencari pengalaman untuk mengembangkan dan mempertahankan
kompetensi sesuai keterampilan yang dibutuhkan untuk
mengimplementasikan kebijakan, program, dan pelayanan untuk
komunitas.
c. Identifikasi kebutuhan belajar berdasarkan ilmu keperawatan dan
pengetahuan kesehatan masyarakat.
d. Identifikasi perubahan yang disyaratkan oleh undang-undang untuk
praktik keperawatan dan kesehatan masyarakat.
e. Mempertahankan catatan profesional yang mendukung bukti kompetensi
dan pembelajaran seumur hidup.
f. Mencari pengalaman formal dan aktivitas belajar mandiri untuk
mempertahankan dan mengembangkan keterarnpilan dan pengetahuan
klinis profesional.
9. Standar 9: evaluasi praktik professional
Perawat kesehatan masyarakat mengevaluasi praktik keperawatan mandiri
yang sesuai dengan standar dan panduan praktik profesional, sesuai undang-
undang, aturan, dan regulasi,
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas
a. Mengimplernentasikan praktikkomunitas yang berfokus padakebijakan,
program, danpelayanan dengan menghonnati etnis dan kultur setempat,
b. Melakukan evaluasi diri dari praktik yang dilakukan, identifikasi Iingkup
kekuatan seperti lingkup dimana tenaga profesionallain mengembangkan
dan menguntungkannya. .
c. Meneari umpan balik dari praktik kornunitas baik seeara mandiri maupun
bermitra dengan kelompok profesionallain.
d. Mengimplernentasikan pereneanaan untuk memenuhi tujuan reneana
kerja mandiri.
e. Mengintegrasikan pengetahuan dalam stan dar praktik yang digunakan
saat ini, panduan, undang-undang, aturan, dan regulasi ke dalam reneana
kerja mandiri.
f. Memberikan rasional untuk kepercayaan praktik profesional, keputusan,
dan tindakan sebagai bagian dari proses evaluasi.
g. Mengaplikasikan pengetalman dari standar praktik yang digunakan saat
ini, panduan, undang-undang, sertifikasi, dan regulasi untuk diri sendiri
dan pratinjau (review) kelompok.
10. Standar 10: hubungan sejawat dan profesional
Perawat kesehatan komunitas membangun hubungan kesejawatan ketika
berinteraksi dengan wakil komunitas, organisasi, dan pelayanan profesional
serta berkontribusi terhadap pengembanganke1ompok, sejawat, dan lainnya.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Membagi pengetahuan dan keterampilan dengan kelompok, sejawat, dan
pihak lain.
b. Melakukan interaksi dengan kelompok, sejawat, dan pihaklain
untukmeningkatkan keperawatan profesional atau praktik kesehatan
komunitas serta berperan sebagai diri sendiri dan orang lain.
c. Mengajari perawat kesehatan komunitas lain dan teman sejawat sesuai
kebutuhan. Mempertahankan hubungan kasih sayang dan saling
menghormati dengan sejawat dan pemangku kepentingan lain yang
melibatkan kesehatan komunitas.
d. Berkontribusi pada lingkungan yang mendukung pendidikan
berkelanjutan bagi ternan, tenaga kesehatan profesional lain, dan
komunitas.
e. Berkontribusi untuk mendukung lingkungan kerja yang aman dan sehat.
11. Standar 11: kolaborasi
Perawat kesehatan komunitas berkolaborasi dengan perwakilan kornunitas,
organisasi, dan tenaga profesionallain dalam menyediakan dan melakukan
promosi kesehatan pada komunitas.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Melakukan komunikasi dengan berbagai institusi dalam komunitas untuk
mengumpulkan inforrnasi dan mengembangkan kemitraan serta koalisi
untuk identifikasi komunitas yang berfokus pada masalah kesehatan.
b. Melakukan koordinasi dengan individu, kelompok, dan organisasi
berbasis komunitas dalarn pengkajian, perencanaan, implernentasi, dan
evaluasi komunitas yang berfokus pada kebijakan, program, dan
pelayanan.
c. Mengaplikasikan pengetahuan keperawatan dan kesehatan kornunitas ke
tim interdisiplin, adrninistrasi, pembuat kebijakan, organisasi komunitas,
masyarakat, dan mitra multi- sektor.
d. Melakukan kerja sama dengan disiplin i1mulain dalam pengajaran,
pengembangan program, implementasi, penelitian, serta advokasi
kcbijakan masyarakat.
e. Memberi kontribusi dengan tim multi-scktor lain dalam
mengirnplementasikan kebijakan kesehatan masyarakat yang dibutuhkan
seperti identifikasi kasus, manajemen program, dan laporan
pendelegasian.
f. Melakukan kerja sama dengan individu, kelompok, koalisi, dan organisasi
untuk berubah yang akan berefek pada kebijakan kesehatan, program, dan
layanan untuk memberikan hasil yang positif.
g. Mendokumentasikan interaksi kolaboratif dan proses terkait kebijakan,
program, dan pelayanan.
12. standar 12: etik
Perawat kesehatan komunitas harus mengintegrasikan nilai-nilai etik dalam
semua area praktik
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Mengaplikasikan kode etik untuk perawat dengan pernyataan yang
diuraikan (ANA,2001) dan prinsip-prinsip etik praktik kesehatan
komunitas (Public Health Leadership Society,2002) untuk panduan
praktik keperawatan kesehatan komunitas.
b. Memberikan program dan pelayanan dengan cara rnelindungi dan
rnenghormati autonorni, harga diri, dan hak populasi atau kornunitas juga
individu.
c. Menerapkan standar etika dalarn advokasi kesehatan dan kebijakan sosial.
d. Mempertahankan kerahasiaan individu dalam ukuran legal dan sesuai
regulasi.
e. Membantu individu, kelompok, dan komunitas dalam mengembangkan
keterampilan untuk advokasi diri.
f. Mempertahankan hubungan profesional dan batas dengan individu dan
kelompok dalam komunitas ketika memberikan program dan pelayanan
kesehatan masyarakat.
g. Mendemonstrasikan komitmen untuk mengembangkan Iingkungan dan
kondisi di mana gaya hidup sehat kemungkinan dipraktikkan oleh
individu, ternan, dan komunitas dalam bermitra.
h. Mengklarifikasi isu-isu sosial serta penghambat untuk hidup dengan
kondisi sehat.
i. Berperan dalarn memecahkan isu-isu etik yang melibatkan ternan,
kelompok komunitas, sistem, dan pemangku kepentingan lain.
j. Melaporkan aktivitas ilegal, tidak sesuai dengan standar praktik yang ada,
atau menggambarkan praktik yang tidak sesuai.
13. Standar 13: penelitian
Perawat kesehatan komunitas mengintegrasikan hasil penelitian ke dalarn
praktik keperawatan komunitas
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Menggunakan bukti terbaik yang ada, termasuk hasil penelitian untuk
panduan dalarn praktik, kebijakan, dan keputusan pemberian layanan.
b. Secara aktif berperan dalam aktivitas penelitian pada berbagai tingkat
yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan posisi sese orang. Kegiatan
tersebut adalah sebagai berikut,
c. Identifikasi komunitas dan kesempatan profesional yang ada untuk
keperawatan dan penelitian kesehatan masyarakat.
d. Berpartisipasi dalam pengumpulan data.
e. Berpartisipasi dalam lembaga, organisasi, atau komite penelitian yang
berfokus komunitas.
f. Berbagi aktivitas dan hasil penelitian dengan kelompok dan lainnya.
g. Mengimplementasikan protokol penelitian.
h. Menganalisis dan menginterpretasi penelitian untuk aplikasi bagi praktik
yang berfokus pada komunitas secara kritis.
i. Menerapkan hasil penelitian keperawatan dan kesehatan masyarakat
dalam pengembangan kebijakan, program, dan pelayanan bagi komunitas.
j. Menerapkan penelitian sebagai basis pernbelajaran.
14. Standar 14 (menggunakan sumber-sumber)
Perawat kesehatan komunitas mempertimbangkan faktor-faktor yang
berhubungan dengan keamanan, efektivitas, biaya, serta dampak praktik pada
komunitas dalam merencanakan dan memberikan pelayanan, program,
maupun kebijakan keperawatan dan kesehatan masyarakat.
Kriteria Pengukuran Bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Mengevaluasi faktor-faktor seperti keamanan, aksesibilitas, biaya,
keuntungan, efisiensi, serta dampak praktik pada komunitas ketika
memilih pilihan praktik yang akan berakibat pada hasil yang diharapkan.
b. Membantu mewakili komunitas dan pemangku kepentingan lain dalam
mengidentifikasi dan mengamankan layanan yang ada dan sesuai serta
berhubungan dengan kebutuhan kesehatan.
c. Mengizinkan atau mendelegasikan tugas yang diambil ke dalam
pertimbangan yang menjadi kepedulian komunitas, potensial terjadi
paparan dan bahaya, kompleksitas tugas, dan kemampuan prediksi hasil
yang diharapkan.
d. Membantu komunitas dalam memberikan informasi mengenai pilihan
biaya, risiko, dan keuntungan dari kebijakan, program, dan pelayanan.
15. standar 14: kepemimpinan
Perawat kesehatan komunitas menerapkan prinsip kepemimpinan dalam
keperawatan dan kesehatan komunitas.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Terlibat dalam pengembangan tim multi-sektor dan membangun koalisi
termasuk profesional lain, kornunltas, dan pemangku kepentingan.
b. Meningkatkan Iingkungan kerja yang sehat.
c. Menjabarkan rnisi, tujuan, rencana, aksi, maupun mengukur hasil
keperawatan, program. Serta layanan kesehatan komunitas kepada tenaga
profesionallain atau komunitas.
d. Advokasi kesempatan yang berkelanjutan serta pernbelajaran seumur
hidup untuk diri sendiri dan yang lain.
e. Mengajarikelompok, pemangku kepentingan, dan lainnya dalam
komunitas untuk menyukseskan program atau pelayanan melalui panduan
dan strategi lain.
f. Menunjukkan krcativitas dan fleksibilitas melalui waktu yang selalu
berubah.
g. Mengembangkan budaya ill mana sistern dimonitor dan dievaluasi untuk
menlngkatkan kualitas kebljakan, program. dan pelayanan komunitas.
h. Mengoordinasikan program dan pelayanan lintas area di antara tim multi-
sektor lain.
i. Melayani peran kepemimpinan dalam lingkungan kerja, populasi, dan
komunitas.
j. Meningkatkan keahlian kesehatan komunitas dan keperawatan melalui
partisipasi di organisasi profesi.
k. Berfungsi sebagai pemimpin tim kesehatan komunitas dalam persiapan
situasi gawat darurat dan mendelegasikan tugas seperti yang tereantum
dalam standar protokol pelaksanaan.
16. Standar 16: advokasi
Perawat kesehatan kornunitas melakukan advokasi dan usaha keras untuk
melindungi kesehatan, keamanan, dan hak-hak komunitas.
Kriteria Pengukuran bagi Perawat Kesehatan Komunitas:
a. Menyatukan identifikasi kebutuhan komunitas dalam pengembangan
kebijakan, program, atau rencana peJayanan.
b. Mengintegrasikan advokasi ke dalam implementasi kebijakan, program,
dan pelayanan komunitas.
c. Mengukur efektivitas untuk advokasi komunitas ketika mengkaji hasil
yang diharapkan.
d. Menerapkan kerahasiaan, etik, hukurn, privasi, dan panduan profesional
dalam pengembangan kebijakan dan isu-isu lainnya.
e. Mendernonstrasikan keterampllan dalarn advokasi dihadapan penyedia
layanan dan pernangku kepentingan atas nama komunitas.
f. Berusaha keras memecahkan konflik yang berasal dari kornunitas,
peayedia layanan, pemangku kepentingan untuk memastikan kearnanan
serta menjaga rninat baik komunitas dan integritas perawat professional.
B. Evaluasi Keperawatan Komunitas
1. Pengertian evaluasi
Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang
sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang
telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan
melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. merupakan tahap akhir
dari rangkaian proses keperawatan yang berguna apakah tujuan dari
tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau perlu
pendekatan lain. Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan,
dilakukan penilaian untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak atau
belum berhasil, perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua
tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilaksanakan dalam satu
kali kunjungan ke keluarga. Untuk itu dapat dilaksanakan secara
bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga.
Penilaian keperawatan merupakan kegiatan melaksanakan
rencana tindakan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan
kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil.
Penilaian keperawatan adalah mungukur keberhasilan dari
rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan
memenuhi kebutuhan klien. Penilaian adalah tahap yang menentukan
apakah tujuan tercapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan.
Apabila dalam penilaian ternyata tujuan tidak tercapai, maka perlu
dicari penyebabnya. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor :
a. Tujuan tidak realistis
b. Tindakan keperawatan yang tidak tepat
c. Terdapat faktor lingkungan yang tidak dapat diatasi.

2. Tujuan evaluasi
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam
mencapai tujuan. Hal ini bisa di laksanakan dengan mengadakan
hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan
keperawatan yang di berikan sehingga perawat dapat mengambil
keputusan :
a. Tujuan umum :
a) Menjamin asuhan keperawatan secara optimal
b) Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
b. Tujuan khusus :
a) Mengakhiri rencana tindakan keperawatan
b) Menyatakan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau
belum
c) Meneruskan rencana tindakan keperawatan
d) Memodifikasi rencana tindakan keperawatan
e) Dapat menentukan penyebab apabila tujuan asuhan
keperawatan belum tercapai
3. Manfaat evaluasi
a. Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien
b. Untuk menilai efektifitas, efisiensi dan produktifitas asuhan
keperawatan yang diberikan
c. Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan
d. Sebagai umpan balik untuk memperbaiki atau menyusun siklus
e. Menunjang tanggung gugat dan tanggung jawab pelaksanaan
keperawatan.
4. Tahapan evaluasi
Evaluasi disusun menggunakan SOAP secara operasional dengan
sumatif (dilakukan selama proses asuhan keperawatan) dan
formatif (dengan proses dan evaluasi akhir).
Evaluasi dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
a. Evaluasi berjalan (sumatif)
Evaluasi jeni ini dikerjakan dalam bentuk pengisian format
catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah
yang dialami oleh keluarga. format yang dipakai adalah format
SOAP.
b. Evaluasi akhir (formatif)
Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan
antara tujuan yang akan dicapai. Bila terdapat kesenjangan
diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses
keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat data-data,
masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi.
5. Metode / alat
a. Metode yang dipakai dalam evaluasi antara lain:
a) Observasi langsung adalah mengamati secara langsung
perubahan yang terjadi dalam keluarga.
b) Wawancara keluarga, yang berkaitan dengan perubahan
sikap, apakah telah menjalankan anjuran yang diberikan
perawat.
c) Memeriksa laporan, dapat dilihat dari rencana Asuhan
Keperawatan yang dibuat dan tindakan yang dilaksanakan
sesuai dengan rencana.
d) Latihan stimulasi, berguna dalam menentukan
perkembangan kesanggupan melaksanakan Asuhan
Keperawatan.
e) Mengukur pencapaian tujuan keluarga.
b. Factor yang dievaluasi ada beberapa komponen, antara lain:
1. Kognitif (pengetahuan)

Tujuan mengidentifikasi pengetahuan yang spesifik yang di


perlukan setelah klien di ajarkan tentang teknik-teknik
tertentu.Lingkup evaluasi pada kognitif meliputi pengetahuan
klien terhadap penyakitnya, mengontrol gejala-gejalanya,
pengobatan, diet, aktifitas, persediaan ala-alat, resiko
komplikasi, gejala yang harus dilaporkan, pencegahan,
pengukuran dll. Evaluasi kognitif di peroleh melalui interview
atau tes tertulis.

Lingkup evaluasi pada kognitif adalah:

a. Pengetahuan keluarga mengenai penyakitnya

b. Mengontrol gejala-gejala

c. Pengobatan

d. Diet, aktivitas, persediaan alat-alat

e. Risiko komplikasi

f. Gejala yang harus dilaporka


g. Pencegahan

Informasi ini dapat diperoleh dengan cara:

a. Interview, dengan cara:

a) Untuk Menanyakan kepada keluarga untuk mengingat


beberapa fakta yang sudah diajarkan.

Untuk Menanyakan kepada keluarga untuk menyatakan


informasi yang spesifik dengan kata-kata keluarga sendiri
(pendapat keluarga sendiri )
Untuk Mengajak keluarga pada situasi hipotesa dan
tanyakan tindakan yang tepat terhadap apa yang
ditanyakan.
b) Kertas dan pensil

Perawat menggunakan kertas dan pensil untuk


mengevaluasi pengetahuan keluarga terhadap hal-hal yang
telah diajarkan.
2. Afektif (status emosional)
dengan cara observasi secara langsung, yaitu dengan
cara observasi ekspresi wajah, postur tubuh, nada suara, isi
pesan secara verbal pada waktu melakukan wawancara.
Affektif klien cenderung ke penilaian yang subyektif
dan sangat sukar di evaluasi.Hasil penilaian emosi di tulis
dalam bentuk perilaku yang akan memberikan suatu indikasi
terhadap status emosi klien.hasil tersebut meliputi tukar
menukar perasaan tentang sesuatu. cemas yang berkurang
ada kemauan berkomunikasi dan seterusnya.

3. Psikomotor

yaitu dengan cara melihat apa yang dilakukan keluarga


sesuai dengan apa yang diharapkan. Psikomotor biasanya
lebih mudah di evaluasi di bandingkan yang lainnya jika
perilaku yang dapat di observasi sudah di identifikasikan
pada tujuan (kriteria hasil ).Hal ini biasanya di lakukan
melalui observasi secara langsung.Dengan melihat apa yang
telah di lakukan Klien sesuai dengan yang di harapkan
adalah suatu cara yang terbaik untuk mengevaluasi
psikomotor Klien.

4. Penentuan Keputusan Pada Tahap Evaluasi


a. Keluarga telah mencapai hasil yang ditentukan dalam
tujuan, sehingga rencana mungkin dihentikan.
b. Keluarga masih dalam proses mencapai hasil yang
ditentukan, sehingga perlu penambahan waktu,
resources, dan intervensi sebelum tujuan berhasil
c. Keluarga tidak dapat mencapai hasil yang telah
ditentukan, sehingga perlu:
 Mengkaji ulang masalah atau respon yang lebih
akurat
 Membuat outcome yang baru, mungkin outcome
pertama tidak realistis atau mungkin keluarga tidak
menghendaki terhadap tujuan yang disusun oleh
perawat.
 Intervensi keperawatan harus dievaluasi dalam hal
ketepatan untuk mencapai tujuan sebelumnya.
C. proses belajar mengajar di komunitas
a. jenis kegiatan mengajar di komunitas
1) Weekly meeting
adalah kegiatan rutin dua kali seminggu bagi para anggota
komunitas. Kegiatannya diskusi antar anggota komunitas,
mempelajari mata pelajaran sesuai tema dan tingkatan level
pendidikan dan membangun jaringan antar sesame komunitas.
2) Home visit
Di luar weekly meeting,anggota komunitas diharapkan mampu
belajar mandiri di rumah dengan fasilitator uatama orangtua
3) I am eo
Adalah kegiatan yang melatih para anggota komunitas yang
sudah menduduki kelas SD ke atas untuk berlatih menjadi
event organizer (EO). Mereka akan berlatih menyelenggarakan
kegiatan yang sifatnya edukatif ditunujukkan bagi sesama
anggota komunitas,orang tua anggota komunitas dan
masyarakat di luar komunitas.
4) Work with wow
Adalah kegiatan menarik untuk mengetahui tingkat
pemahaman anggota komunitas terhadap materi pelajaran yang
telah di dapatkannya sesuai tema bulan itu. Kegiatan ini
meliputi presentasi atau pemaparan hasil project belajar di
hadapan para fasilitator baik orang tua maupun fasilitator
komunitas cantrik.
5) Boutique class
Adalah program pembelajaran, yang kurikulumnya dirancang
khusus antara orangtua dan fasilitator komunitas,disesuaikan
dengan kebutuhan tiap tiap individu anggota komunitas.
b. pendidikan kesehatan
pendidikan kesehatan sebagai sekumpulan pengalaman yang
mendukung kebiasaan, sikap, dan pengetauhan yang berhubungan
dengan kesehatan individu,masyarakat dan ras.
1) Tujuan pendidikan kesehatan
Secara umum, tujuan dari pendidikan kesehatan ialah
mengubah perilaku individu atau masyarakat di bidang
kesehatan (WHO), tujuan ini dapat diperinci lebih lanjut
menjadi :
 Menjadikan kesehatan sebagai Sesutu yang bermisi di
masyarakat.
 Menolong individu agar mampu secara mandiri atau
berkelompok mengadakan kegiatan untuk mencapai
tujuan hidup sehat
2) Prinsip pendidikan kesehatan
 Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas,
tetapi merupakan kumpulan pengalaman dimana saja
dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi
pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan.
 Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah
diberikan oleh seseorang kepada orang lain, karena
pada ahirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat
mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.
 Bahwa yang harus di lakukan oleh pendidikan adalah
menciptakan sasaran agar individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah
lakunya sendiri.
c. prilaku kesehatan
suatu respon seseorang (organism) terhadap stimulus yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan serta
lingkungan .
D. Terapi tradisional pada komunitas
1. Pengertian
Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan
cara, obat dan pengobatannya yang mengacu kepada pengalaman,
keterampilan turun temurun, atau pendidikan, pelatihan, dan diterapkan
sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau
campuran bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan
untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (Kepmenkes, 2003).
2. Prinsip-prinsip terapi tradisional
Complementary and Alternative Medicine (CAM) merupakan pengobatan
non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan
dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik.
3. Jenis-jenis terapi tradisional
1) Akupuntur
Stimulasi dari titik akupuntur dengan menusukkan jarum, arus
listrik (elektroakupuntur), panas (moxibustion), laser (laser akupuntur),
atau tekanan (acupressure)
2) Alexander Technique
Psikofisikal reedukasi untuk memperbaiki posisi dan koordinasi
3) Aromaterapi
Aplikasi dari minyak esensial dari tanaman, seringnya dibarengi
dengan pijatan
4) Pelatihan autogenik
Autosugesti, teknik hypnosis mandiri untuk relaksasi
5) Kelasi
Infus intravena EDTA untuk penyakit arteriosklerotik
6) Chiropractic
Sistem perawatan kesehatan melalui kepercayaan bahwa sistem
saraf berperan penting dalam kesehatan dan kebanyakan penyakit
diakibatkan oleh subluksasi spinal dan dapat disembuhkan dengan
manipulasi spinal
7) Terapi enzim
Pemberian enzim proteolitik peroral dengan tujuan untuk kesehatan
8) Pengobatan dengan bunga
Infus ekstrak tanaman untuk keseimbangan fisik dan emosional
9) Herbalisme
Pengobatan dengan tanaman obat
10) Homeopati
Orang sakit dapat disembuhkan dengan menggunakan efek pantulan
substansi yang menghasilkan gejala sakit pada orang sehat
11) Pijatan
Melakukan pemijatan pada lokasi-lokasi tertentu
12) Osteopati
Terapi dengan melakukan pijatan, mobilisasi dan manipulasi
13) Refleksiologi
Menggunakan tekanan manual ke area spesifik (khususnya pada
telapak kaki) yang berhubungan dengan organ dalam
14) Penyembuhan spiritual
Menyalurkan energy penyembuhan dari seorang terapis ke tubuh
pasien
15) Tai chi
Sistem pergerakan dan posisi tubuh untuk meningkatkan kesehatan
fisik dan mental
16) Yoga
Olahraga peregangan untuk control pernafasan dan meditasi
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Standart praktik keperawatan adalah norma atau penegasan tentang mutu
pekerjaan seseorang perawat yang dianggap baik, tepat dan benar yg
dirumuskan dan digunakan sebagai pedoman pemberian keperawatan serta
merupakan tolok ukur penilaian penampilan kerja perawat.
Evaluasi Keperawatan Komunitas adalah perbandingan yang sistematik
dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan,
dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga
kesehatan lainnya
jenis kegiatan mengajar di komunitas
1. Weekly meeting
2. Home visit
3. I am eo
4. Work with wow
5. Boutique class
Terapi tradisional pada komunitas adalah pengobatan dan atau perawatan
dengan cara, obat dan pengobatannya yang mengacu kepada pengalaman,
keterampilan turun temurun, atau pendidikan, pelatihan, dan diterapkan sesuai
dengan norma yang berlaku dalam masyarakat
B. Saran
Dengan selesainya makalah ini disusun, penulis berharap pembaca dapat
mempelajari dan memahami tentang penyakit sindrom chusing. Penulis juga
mengharapkan adanya kritik dan saran yang menbangun, sehingga penulis
dapat menjadi lebih baik untuk masa yang akan datang dalam penyusunan
makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi f dan makhfudi 2009.keperawatan komunitas teori dan paktek dalam
keperawatan. Jakatar: selemba medika;
Satria, darma. 2013. Complementary and alternative medicine: fact or
promise.fakustas kedokteran universitas kuala syiah: kuala
Kepmenkes, 2003. Keputusan menteri kesehatan republic
Indonesia.1076IMENKESISKISKIVIII2013 tengtang penyelenggaraan pengobatan
tradisional.
Effendi,ferry dan makhdli. 2013.keperawatan kesehatan komunitas teori dan
praktik dalam keperawatn.salemba medika: Jakarta