Anda di halaman 1dari 7

NAWACITA KESEHATAN

Program Jokowi dalam bidang kesehatan yang paling menonjol, yaitu adanya fasilitas seperti Kartu
Indonesia Sehat (KIS) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Kartu Indonesia Sehat (KIS)
sudah diterima oleh 92 juta masyarakat. Program-program ini bisa langsung dirasakan manfaatnya secara
langsung oleh publik.

Program BPJS dibagi menjadi 2, yaitu Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Non-Penerima Bantuan Iuran
(Non-PBI). Penerima BPJS PBI bisa mendapatkan KIS (Kartu Indonesia Sehat). KIS bisa digunakan pada
Puskesmas, klinik, dan rumah sakit mana pun tanpa kecuali. Penerima BPJS PBI juga tidak harus
membayar iuran. Banyak warga miskin terbantu dan mendapatkan fasilitas kesehatan sebagaimana
mestinya.

Dalam agenda pembangunan nasional 2015-2019 dibangun pula kemandirian di bidang ekonomi,
berdaulat di bidang politik dan berkepribadian dalam budaya yang dikenal dengan TRISAKTI. Untuk
mewujudkan TRISAKTI tersebut maka ditetapkan 9 agenda prioritas (NAWACITA), dimana pada agenda
ke-5 dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia yang akan dicapai melalui tiga
program, yaitu

program Indonesia Pintar, program Indonesia Sehat dan program Indonesia Kerja dan Indonesia
Sejahtera.

Dalam program Indonesia Sehat terdapat tiga komponen yaitu mewujudkan paradigma sehat,
penguatan pelayanan kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional.

Program NAWACITA di bidang kesehatan salah satunya adalah memperjuangkan penurunan angka
kematian ibu (AKI). Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup.
Kematian ibu di Indonesia tetap didominasi oleh tiga penyebab utama kematian yaitu perdarahan,
hipertensi dalam kehamilan (HDK) dan infeksi.

Sebagai salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan adalah melalui pemenuhan
kebutuhan darah bagi ibu melahirkan dengan komplikasi perdarahan. Hal ini membutuhkan pelayanan
darah yang aman dan berkualitas, serta perlu didukung dengan ketersediaan darah sesuai kebutuhan.
Untuk mencapai NAWACITA tersebut, ditetapkan Quick Wins bidang kesehatan terkait dengan pelayanan
darah.

Kebijakan Quick Winsprogram pelayanan darah tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015
tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019 dan Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 52 Tahun 2015 tentang Rencana Strategi Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019.

Dalam Perpres tersebut dinyatakan bahwa reformasi di bidang kesehatan terutama difokuskan pada
peningkatan pelayanan kesehatan dasar. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar salah satunya
diwujudkan melalui pelayanan darah. Untuk meningkatkan akses pelayanan darah yang berkualitas,
dilakukan program kerja sama antara Puskesmas, Unit Transfusi Darah (UTD), dan Rumah Sakit.
Untuk melaksanakan Perpres tersebut, telah disahkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 92 Tahun
2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program Kerja Sama antara Puskesmas, UTD dan RS dalam
Pelayanan Darah untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu. Tujuan dari program tersebut adalah untuk
menjamin tersedianya darah yang cukup bagi ibu melahirkan dan juga meningkatkan peran serta
masyarakat untuk menjadi pendonor darah sukarela.

Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016
tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Program
Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dilaksanakan secara bertahap dengan target pada akhir
tahun 2019, seluruh Puskesmas di Indonesia telah dapat melaksanakannya.Untuk tahun 2017, target
2926 Puskesmas telah terintegrasi dengan Pendekatan Keluarga.

Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dibagi dalam tiga kelompok indikator, yaitu (1)
Program gizi, kesehatan ibu dan anak; (2) Pengendalian penyakit menular dan tidak menular; (3)
Perilaku dan kesehatan lingkungan.

GERMAS

Dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik, Pemerintah telah
mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). GERMAS adalah suatu tindakan yang
sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan
kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

GERMAS dilaksanakan oleh seluruh komponen bangsa terkait baik lintas kementerian ataupun lembaga
melalui

(1) Peningkatan aktivitas fisik;

(2) Peningkatan perilaku hidup sehat;

(3) Penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi;

(4) Peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit;

(5) Peningkatan kualitas lingkungan; dan

(6) Peningkatan edukasi hidup sehat.

Ada tiga pilar yang ditetapkan untuk merealisasikannya.


Pertama, melakukan revolusi mental masyarakat agar memiliki paradigma sehat. Pilar ini
diimplementasikan melalui pendekatan keluarga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Beberapa capaian berhasil dilakukan melalui pilar pertama ini. Di antaranya terjadi penurunan angka
kematian ibu dari 5.019 orang pada 2013 menjadi 4.340 orang pada 2016. Begitu pula angka kematian
bayi juga berhasil diturunkan dari 23.703 anak pada 2013 menjadi 17.037 anak pada 2016. Angka balita
yang mengalami stunting juga turun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 27,5 persen pada 2016.

Kedua, penguatan layanan kesehatan mulai dari pinggiran di Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan
Kepulauan (DTPK) dengan melakukan terobosan pemerataan tenaga kesehatan. Sejak April 2015 hingga
Mei 2017, telah ditempatkan sebanyak 1769 orang dalam tim Nusantara Sehat di 311 Puskesmas di DTPK
dan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Pengembangan rumah sakit rujukan juga menjadi bagian dari
penguatan layanan kesehatan ini.

Ketiga, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam pelaksanaannya, jumlah peserta JKN semakin
meningkat. Hingga Agustus 2017, tercatat jumlah peserta JKN 179.474.296 juta jiwa atau sekitar 70
persen dari total penduduk Indonesia. Sebanyak 92,6 juta diantaranya peserta Penerima Bantuan Iuran
(PBI) yang preminya ditanggung oleh pemerintah. Fasilitas kesehatan yang telah bekerja sama dengan
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk melayani peserta JKN berjumlah 26.860
yang terdiri atas Puskesmas, klinik, rumah sakit, dokter dan dokter gigi praktik perorangan, apotek, optik,
dan laboratorium.

Germas untuk mengantisipasi terjadinya masalah kesehatan terutama Stunting, TBC, dan penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi.

Germas meliputi kegiatan aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, tidak merokok, memeriksakan
kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, dan menggunakan jamban. Germas secara nasional
dimulai dengan berfokus pada 3 kegiatan, yakni melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari,
mengkonsumsi buah dan sayur, dan memeriksakan kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali sebagi
upaya deteksi dini penyakit.

STUNTING

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada Balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga terlalu pendek
untuk usianya.

Banyak faktor yang menyebabkan stunting, di antaranya dari faktor ibu yang kurang nutrisi di masa
remajanya, masa kehamilan, masa menyusui, dan infeksi pada ibu. Faktor lainnya berupa kualitas
pangan, yakni rendahnya asupan vitamin dan mineral, buruknya keragaman pangan dan sumber protein
hewani, dan faktor lain seperti ekonomi, pendidikan, infrastruktur, budaya, dan lingkungan.
Untuk mengatasi hal tersebut, perlu intervensi spesifik gizi pada remaja, ibu hamil, bayi 0-6 bulan dan
ibu, bayi 7-24 bulan dan ibu. Selain itu diperlukan juga intervensi sensitif gizi seperti peningkatan
ekonomi keluarga, program keluarga harapan, program akses air bersih dan sanitasi, program edukasi
gizi, akses pendidikan, dan pembangunan infrastruktur.

TBC

TBC di Indonesia merupakan salah satu jenis penyakit penyebab kematian nomor empat setelah penyakit
stroke, diabetes dan hipertensi.

Kasus penyakit TBC di Indonesia masih terbilang tinggi yakni mencapai sekitar 450 ribu kasus setiap
tahun dan kasus kematian akibat TBC sekitar 65 ribu orang.

Penyebab penyakit TBC adalah infeksi yang diakibatkan dari kuman Mycobaterium tuberkulosis yang
sangat mudah menular melalui udara dengan sarana cairan yang keluar saat penderita bersin dan batuk,
yang terhirup oleh orang sekitarnya.

Solusi yang bisa ditawarkan berupa peningkatan deteksi dengan pendekatan keluarga, Menyelesaikan
under-reporting pengobatan TBC dengan penguatan public privat mix (PPM), Meningkatkan kepatuhan
pengobatan TBC, Perbaikan sistem deteksi Multi Grug Resistense (MDR) TBC (Klinik MDR TBC dengan
jejaringnya) dan akses terapi TBC MDR, Edukasi TBC pada masyarakat dan perbaikan perumahan, dan
Pemenuhan tenaga analis peningkatan sensitivitas diagnosa melalui tenaga nusantara sehat (NS)
individual.

IMUNISASI

Imunisasi adalah proses untuk membuat seseorang imun atau kebal terhadap suatu penyakit.

Kejadian luar biasa difteri dan campak yang baru-baru ini terjadi membuat pemerintah harus kembali
menganalisa terkait cakupan imunisasi yang telah dilakukan, mutu atau kualitas vaksin yang ada, serta
kekuatan surveilans di berbagai daerah.

Usulan penajaman program penting dilakukan, yaitu berupa peningkatan cakupan imunisasi, edukasi
kepada masyarakat dan advokasi pada pimpinan wilayah, dan membangun sistem surveilans yang kuat
untuk deteksi kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek berulang kali menegaskan lengkapi imunisasi dasar seperti
vaksinasi hepatitis B, BCG dan Polio sampai DPT yang dilakukan di Puskesmas, dan itu tidak dipungut
biaya dengan vaksin yang terjamin dan berkualitas. Imunisasi merupakan perlindungan awal dari
penyakit, seperti imunisasi BCG yang mencegah penyakit TBC.
PEMBERIAN IMUNISASI

Pemberian imunisasi disesuaikan dengan usia anak. Untuk imunisasi dasar lengkap, bayi berusia kurang
dari 24 jam diberikan imunisasi Hepatitis B (HB-0), usia 1 bulan diberikan (BCG dan Polio 1), usia 2 bulan
diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2), usia 3 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3), usia 4 bulan
diberikan (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik), dan usia 9 bulan diberikan (Campak atau
MR).

Untuk imunisasi lanjutan, bayi bawah dua tahun (Baduta) usia 18 bulan diberikan imunisasi (DPT-HB-Hib
dan Campak/MR), kelas 1 SD/madrasah/sederajat diberikan (DT dan Campak/MR), kelas 2 dan 5
SD/madrasah/sederajat diberikan (Td).

Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang dapat menyebabkan
pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati. Imunisasi BCG diberikan guna
mencegah penyakit tuberkulosis.

Imunisasi Polio tetes diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah
lumpuh layu. Imunisasi polio suntik pun diberikan 1 kali pada usia 4 bulan agar kekebalan yang terbentuk
semakin sempurna.

Imunisasi Campak diberikan untuk mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan radang paru
berat (pneumonia), diare atau menyerang otak.

Imunisasi MR diberikan untuk mencegah penyakit campak sekaligus rubella.

Rubella pada anak merupakan penyakit ringan, namun apabila menular ke ibu hamil, terutama pada
periode awal kehamilannya, dapat berakibat pada keguguran atau bayi yang dilahirkan menderita cacat
bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung bawaan.

Vaksin DPT-HB-HIB diberikan guna mencegah 6 penyakit, yakni Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B,
serta Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan infeksi kuman Hib.

CERDIK dan PATUH

Program CERDIK adalah langkah preventif yang dibuat agar masyarakat yang masih sehat dan bugar
dapat terhindar dari berbagai penyakit tidak menular (PTM).

Program ini terdiri atas:


Cek kesehatan secara berkala

Enyahkan asap rokok

Rajin Olahraga

Diet sehat dengan kalori seimbang

Istirahat yang cukup

Kelola stress

Sedangkan program PATUH dibuat untuk pasien penyandang penyakit tidak menular (PTM) agar penyakit
tidak semakin parah dan tetap terkontrol kesehatannya.

Program ini meliputi:

Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter

Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur

Tetap diet sehat dengan gizi seimbang

Upayakan beraktivitas fisik yang aman, serta

Hindari rokok, alkohol dan zat karisogenik lainnya.

Setidaknya ada tujuh hal paling umum dari tubuh kita yang perlu dicek kondisinya minimal satu tahun
sekali. Ketujuh hal tersebut adalah mengecek tekanan darah, kadar gula darah, lingkar perut, kolesterol
total, arus puncak ekspirasi, deteksi dini kanker leher rahim, dan periksa payudara sendiri.

 Memeriksa tekanan darah adalah salah satu cara mendeteksi secara dini risiko hipertensi, stroke,
dan penyakit jantung. Angka hasil pemeriksaan terhitung normal, jika berada di bawah 140/90
mmHg.
 Pengecekan kadar gula darah dilakukan untuk membantu mendeteksi masalah diabetes.
Pemeriksaan ini akan menunjukkan kadar glukosa dalam darah. Hasil tes normal, jika kadar gula
dalam darah kurang dari 100.
 Mengukur lingkar perut secara rutin dapat menjaga kita dari lemak perut yang berlebihan, yang
bisa memicu masalah kesehatan serius, misalnya serangan jantung, stroke, dan diabetes. Batas
aman lingkar perut pria adalah 90 cm. Sementara pada wanita 80 cm.
 Pengecekan kolesterol total terdiri dari pemeriksaan kadar LDL (kolesterol buruk), HDL
(kolesterol baik), dan trigliserida (lemak yang dibawa dalam darah, berasal dari makanan yang
kita makan). Total hasil pengukuran yang disarankan adalah selalu di bawah angka 200.
 Arus puncak ekspirasi adalah salah satu upaya pengecekan kesehatan dalam uji fungsi paru.
Biasanya, pengecekan ini dilakukan pada penderita asma atau berbagai penyakit yang
mengganggu pernapasan lainnya untuk menilai kemampuan paru-paru.
 Tes pap smear dan tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) adalah dua cara paling umum
untuk mendetesi munculnya kanker leher rahim. Lakukan pap smear di rumah sakit, klinik dokter
kandungan, maupun laboratorium dengan tenaga kesehatan terlatih. Sementara tes IVA
dilakukan dengan cara mengoleskan larutan asam asetat (asam cuka 3-5 persen) pada leher
rahim. Jika mengalami pra-kanker, hasilnya ditandai dengan perubahan warna agak keputihan.
Metode ini sangat sederhana, sehingga Puskesmas pun dapat melakukannya.
 Pemeriksaan payudara sendiri bisa dilakukan sejak perempuan mencapai usia 20 tahun.
Pengecekan ini akan lebih mudah dilakukan pada saat mandi, ketika masih ada sabun menempel
di kulit. Pemeriksaan dilakukan dengan mengamati ukuran, bentuk, dan warna payudara untuk
melihat adanya perubahan dan pembengkakan. Langkah berikutnya adalah menekan puting susu
untuk melihat adanya cairan atau tidak, baik berupa air susu, cairan kekuningan, atau darah.
Meraba payudara sambil berbaring akan memberikan petunjuk terjadinya perubahan pada
payudara.