Anda di halaman 1dari 5

BAB IV KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA

Kebijakan penanggulangan bencana di Kota Parepare merupakan suatu kebijakanyang diambil


berdasarkan prinsip-prinsip dasar penanggulangan bencana. Prinsip ini harus berpedoman pada
Rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD), Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) dan selaras dengan prinsip-prinsip penanggulangan bencana Provinsi Sulawesi
Selatan dan tingkat nasional, seperti :

1. Cepat dan Tepat


2. Prioritas
3. Koordinasi dan Keterpaduan
4. Berdayaguna dan Berhasilguna
5. Transparansi dan Akuntabilitas
6. Kemitraan
7. Pemberdayaan
8. Tidak Diskriminatif
9. Tidak Proletisi

Upaya pelaksanaan penanggulangan bencana di Kota Parepare selain memakai prinsip di atas, juga
mengacu pada kearifan lokal yang berbasis religi dan budaya yang dikembangkan oleh pemerintah
kota parepare adalah proaktif, Disiplin, Inovatif, Kerjasama dan Transparan. Gabungan dari prinsip
dasar dan budaya yang dilandasi atas religiusitas yang kuat yang dikembangkan di Kota Parepare
diperlukan dalam implementasi kebijakan pembangunan penanggulangan bencana. Pelaksanaan
kebijakan ini berpedoman pada Rencana pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota
Parepare Tahun 2015 – 2019.

4.1 Visi dan Misi

Visi penganggulangan bencana Kota Parepare merupakan komitmen yang kuat dari pemerintah
daerah terhadap pelaksanaan penanggulangan bencana di Kota Parepare. Adapun visi
penanggulangan bencana Kota Parepare adalah :
"Terwujudnya Kepedulian Dalam Penanggulangan Bencana Yang Tanggap, Cepat, dan Tepat."

Misi penanggulangan bencana kota parepare adalah :


1. Meningkatkan kapasitas Badan penanggulangan bencana Daerah Kota Parepare
dan Sumber Daya Manusia,
2. Melindungi masyarakat dari ancaman, saat dan dampak bencana
3. Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan dan kedarmawanan.

4.2 Kebijakan Penanggulangan Bencana

Kebijakan Penanggulangan bencana Kota Parepare disusun atas dasar regulasi dan kelembagaan
untuk setiap fase penanganan bencana. Fase penanganan bencana ini terdiri dari fase pencegahan,
mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan darurat, serta rehabilitasi dan rekonstruksi. Kebijakan
penanggulangan bencana Kota Parepare senantiasa harus memperhatikan regulasi yang berlaku
secara nasional berupa perundang-undangan, peraturan pemerintah, peraturan kementerian dan
kelembagaan terkait, maupun peraturan kepala badan nasional penanggulangan bencana; maupun
secara lokal berupa peraturan daerah, peraturan gubernur, dan peraturan bupati.
Regulasi perundang-undangan yang dijadikan sebagai landasan untuk penyusunan kebijakan terkait
penanggulangan bencana kota parepare adalah :

1. UU No. 24 Tahun 2007


Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4723). Undang-undang ini lahir dilatarbelakangi oleh pertemuan Hyogo Jepang.
Pertemuan ini mencanangkan Rencana Aksi Hyogo 2005 – 2015 yang menyerukan kepada
seluruh Negara untuk menyusun dokumen Pengurangan Resiko Bencana (PRB) yang terpadu
dengan dukungan kelembagaan yang kuat dan sumber – sumber daya yang tersedia.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Indonesia melalui Badan Perencanaan Pembangunan
Nasional (BAPPENAS) pada 24 Januari 2007 meluncurkan Rencana Aksi Nasional untuk
Pengurangan Resiko Bencana (RAN PRB). Selanjutnya pada 26 April 2007 disahkan dan
diundangkan secara resmi sebagai Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana yang tercantum dalam Lembaran Negara RI Tahun 2007 No. 66
dan Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang tercantum dalam
lembaran Negara RI No. 68 Kedua undang-undang ini merupakan perangkat hukum dan
kebijakan yang mencerminkan komitmen pemerintah untuk mengurangi resiko bencana dan
menciptakan lingkungan kehidupan yang lebih aman dan tanggap terhadap berbagai
ancaman bencana.
Merujuk pada ketentuan Pasal 35 dan 36, Undang-undang No. 24 Tahun 2007 di atas, hal
penyelenggaraan dan penanggualangan bencana merupakan upaya sistematis dalam rangka
mengidentifikasi sumber kerentanan dan penguatan kapasitas PRB sehingga dengan
demikian rangkaian upaya sistematis tersebut secara yuridis menjadi tanggung jawab
pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya. Namun demikian,
pemerintah harus melibatkan masyarakat melalui penyusunan data tentang risiko bencana
pada suatu wilayah dalam bentuk dokumen resmi yang berisi program kegiatan
penanggulangan bencana.
2. PP No. 21 Tahun 2008
Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 42, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesa Nomor 4829). Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008
tentang Peran serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Non-pemerintah dalam
Penganggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik IndonesiaTahun 2008 Nomor 44,
Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 4830). Tiga peraturan pemerintah ini menjadi
landasan gerak dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana baik di tingkat nasional,
provinsi, maupun di Kabupaten/Kota di indonesia.
Pengeluaran Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 3 Tanggal 12
Januari 2010 tentang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010 – 2014 dan
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 5 Tanggal 12 januari 2010
tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana 2010 – 2012 untuk memuat
aspek terkait dengan penanggulangan bencana di Indonesia, termasuk aspek anggaran dan
pendanaan.
3. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008
Peraturan presiden Nomor 8 tahun 2008 membahas tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana . BNPB sebagai badan yang mengkoordinasikan penanggulangan
bencana di tingkat nasional, dan pada tingkat provinsi dibentuk Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD), dan pada tingkat kabupaten/kota dibentuk BPBD tingkat
kabupaten/kota. Kehadiran badan penanggulangan bencana di tingkat pusat, provinsi, dan
kabupaten/kota diharapkan dapat melakukan aktivitas yang sistematis, terukur, terarah, dan
terkoordinasi dalam penanggulangan bencana di Indonesia maupun di daerah – daerah
Provinsi dan Kabupaten/Kota.
4. Perka – Perka BNPB
Peraturan Kepala badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 3 Tanggal 12 Januari 2010
tentang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010 – 2014 dan Peraturan Kepala
badan Nasional Penanggulangan Bencana No. 5 Tanggal 12 januari 20101 tentang Rencana
Aksi Nasional Pengurangan Resiko Bencana 2010 – 2012 memuat berbagai aspek yang
terkait dengan penanggulangan bencana di Indonesia termasuk aspek anggaran dan
pendanaan. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun
2008 tentang pedoman penyusunan RPB; Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan
Bencana Nomor 2 tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana; dan
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 Tahun 2012 tentang
panduan penilaian kapasitas daerah dalam Penanggulangan Bencana.
5. Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana
Dalam Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB), pemerintah daerah
diharapkan dapat menindaklanjuti penyusunan rencana aksi nasional ini dalam bentuk
penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana (RAD PRB) baik di tingkat
provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Untuk itu, Pemerintah Kota parepare
berkomitmen menyusun RPB yang berisi Rencana Aksi Daerah dalam penanggulangan
bencana yang ditumbulkan.
6. Perda – Perda Provinsi Sulawesi Selatan dan Kota Parepare
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 3 Tahun 2010 tentang rencana tataruang
wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 – 2029 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi
Selatan Tahun 2011 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Nomor 56); Peraturan Daerah
Kota Parepare Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
Kota Parepare; dan Peraturan Daerah Kota Parepare Nomor 16 Tahun 2012 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Parepare serta
Uraian tugasnya ditetapkan dengan Peraturan Walikota Nomor 27 Tahun 2014. Ketiga
peraturan tersebut memuat berbagai aspek kegiatan BPBD Parepare.

4.3 Kelembagaan Penanggulangan Bencana Daerah

Salah satu butir isi Undung-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana telah
mensyaratkan pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada daerah – daerah
tingkat provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota, baik yang rawan bencana maupun tidak. BPBD
merupakan organisasi resmi pemerintah untuk melak5sanakan kegiatan penanggulangan bencana
yang mencakup kegiatan saat prabencana, saat terjadi bencana, maupun pasca bencana. Kegiatan
tersebut meliputi : pencegaahan dan mitigasi bencana, kesiapsiagaan, penanganan darurat bencana,
rehabilitasi serta rekonstruksi secara adil dan setara. BPBD sebagai badan utama untuk penanganan
penanggulangan bencana bertugas melakukan pengoordinasian pelaksanaan kegiatan
penanggulangan bencana secara terencana, terarah, terpadu, dan menyeluruh.

Sejalan dengan amanat Undang – Undang tersebut di atas, Pemerintah Kota parepare mengeluarkan
Peraturan Daerah Kota Parepare Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat
Daerah Kota Parepare. Pembentukan BPBD Kota Parepare diharapkan dapat menjamin keterpaduan
dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan operasional penanggulangan bencana daerah secara
terarah dan terpadu. BPBD Kota Parepare diharapkan dapat menjadi lembaga yang mampu
mengkoordinasikan segala upaya penanggulangan bencana di Kota Parepare.
Struktur organisasi BPBD Kota Parepare memiliki susunan organisasi sebagai berikut.
a. Kepala
b. Unsur Pelaksana
c. Unsur Pengarah

Gambar Struktur Organisasi BPBD Kota Parepare

Kepala BPBD Kota Parepare dijabat secara rangkap (ex-officio) oleh Sekretaris Daerah Kota Parepare.
Selanjutnya, Unsur Pelaksana BPBD merupakan jabatan struktural eselon IIb, Sekretaris dan Kepala
Bidang merupakan jabatan eselon IIIb.
Pola struktur atau susunan organisasi Unsur Pelaksana BPBD Kota Parepare :
a. Kepala Pelaksana
b. Unsur Pelaksana
c. Seksi Pencegahan dan kesiapsiagaan
d. Seksi Kedaruratan dan logistik
e. Seksi rehabilitisasi dan rekonstruksi
f. Kelompok jabatan fungsional

Unsur pelaksana mempunyai tugas pokok melaksanakan penanggualngan bencana secara terpadu
dan terintegritas pada tahap prabencana, saat bencana, dan pascabencana. BPBD Kota Parepare
merupakan kepala sektor dalam upaya penanggulangan bencana di Kota Parepare . Salahsatu upaya
untuk mengimplementasikan upaya-upaya yang ada adalam penyusunan dokumen RPB Kota
Parepare dengan kerjasama lintas sektoral di instansi terkait penanggulangan bencana. Pencapaian
upaya penganggulangan akan optimal jika terjalin kerjasama antara BPBD Kota Parepare dengan
segenap SKPD dan instansi terkait yang ada di Kota Parepare.

4.4 Strategi Penanggulangan Bencana

Pemerintah daerah bertindak sebagai koordinator, fasilitator, sekaligus juga sebagai pelaksana
pelaksaan program – program penaggulangan bencana di daerahnya. Keterbatasan sumberdaya
yang dimiliki pemerintah mengharuskan pemerintah untuk mempertimbangkan dan menerapkan
strategi – strategi khusus dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana di daerahnya. Strategi
ini akan diterapkan dalam pembuatan Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPBD)
Kota Parepare. Fungsi yang melekat pada pemerintah Kota Parepare perlu dicermati sebagai dasar
penyususnan kebijakan dan strategi penanggulangan bencana. Peran teknis pemerintah Kota
Parepare terkait semua aset yang berada di daerah tersebut. Peran teknis lain perlu diselaraskan
oleh Kota Parepare dengan Provinsi Sulawesi Selatan adalah masa darurat bencana.

Secara umum terdapat enam strategi penanggulangan bencana yang terbagi menjadi dua kelompok,
yaitu:

- Strategi generik, strategi ini berlaku untuk seluruh jenis bencana yang ada di Kota Parepare.
Strategi ini terdiri dari:
1. Penguatan aturan dan kapasitas kelembagaan
2. Perencanaan penanggulangan bencana terpadu
3. Penelitian, pendidikan dan pelatihan
4. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat
- Startegi spesifik, strategi ini terdiri dari :
1. Pengurangan risiko bencana
2. Peningkatan efektifitas penanganan darurat bencana
3. Optimalisasi pemulihan dampak bencana.