Anda di halaman 1dari 10

Tugas:

Jaringan Multimedia

EDGE
(Enhanced Data rates for GSM Evolution)

Oleh:

Subhan (D411 10 960)

Munadiah Ekawati (D411 10 9511)

Zul Fadjri D. (D411 10 9515)

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2010
Enhanced Data Rates for GSM Evolution

Teknologi telekomunikasi merupakan salah satu teknologi yang berkembang dengan sangat
cepat. Mulai dengan berkembangnya pemanfaatan teknologi VoIP (Voice over Internet Protocol),
Teknologi satelit yang memungkinkan melakukan komunikasi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa
saja. Teknologi telekomunikasi bergerak (mobile technology) juga mengalami perkembangan yang
sangat cepat dimulai dengan layanan yang kita kenal 1G (AMPS), 2G (GSM), 2,5G (GPRS), 2,75G
(EDGE), 3G (UMTS) sampai dengan 4G (WiMax).

A. EDGE
EDGE (Enhanced Data rates for GSM Evolution) adalah teknologi evolusi dari GSM dan IS-
136 (Interim Standard-136 dikenal juga dengan Digital-AMPS atau D-AMPS, generasi kedua dari
sistem seluler digital TDMA yang beroperasi di Amerika Utara pada band 800 MHz dan band
PCS 1,9 GHz, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994).
Tujuan pengembangan teknologi baru ini adalah untuk meningkatkan kapasitas data dari
jaringan GSM/GPRS lebih dari tiga kali lipat, sehingga memungkinkan operator GSM untuk
menyediakan akses internet mobile dengan kecepatan tinggi melalui infrastruktur yang telah
ada, dan efisiensi spektrum, serta memungkinkan penggunaan aplikasi-aplikasi baru.
Pengaplikasian EDGE pada jaringan GSM fase 2+ seperti GPRS dan HSCSD dilakukan dengan
penambahan lapisan fisik baru pada sisi Radio Access Network (RAN). Jadi tidak ada perubahan
di sisi jaringan inti seperti MSC, SGSN (Serving GPRS Support Node), ataupun GGSN (Gateway
GPRS Support Node). Seiring dengan EDGE perlahan-lahan menjadi fungsi mandatory pada
peralatan mobile handset GSM/GPRS dan WCDMA/HSPA, EDGE saat ini telah dipertimbangkan
sebagai suatu langkah alami pada evolusi GSM.

B. Kapasitas EDGE
Seperti yang telah disinggung diatas, EDGE menawarkan peningkatan kapasitas dan
kecepatan data. Sebelumnya GPRS menawarkan kecepatan data sebesar 115 kbps, dan secara
teori dapat mencapai 160 kbps. Sedangkan pada EDGE kecepatan datanya sebesar 384 kbps,
dan secara teori dapat mencapai 473,6 kbps. Secara umum kecepatan EDGE tiga kali lebih besar
dari GPRS. Hal ini dimungkinkan karena pada EDGE digunakan teknik modulasi (EDGE
menggunakan 8PSK, GPRS menggunakan GMSK) dan metode toleransi kesalahan yang berbeda
dengan GPRS, dan juga mekanisme adaptasi pranala yang diperbaiki. EDGE juga menggunakan
coding scheme yang berbeda dengan GPRS. Dalam EDGE dikenal 9 macam skema pengkodean,
sedangkan di GPRS hanya ada 4 skema pengkodean (Tabel 1 dan 2).

C. Sejarah Perkembangan EDGE


Edge mengalami perkembangan dari beberapa generasi terdahulu. Perkembangan
teknologi ini didahului oleh AMPS sebagai teknologi komunikasi seluler generasi pertama pada
tahun 1978, hingga sekarang (tahun 2006), perkembangan nya sudah sampai pada teknologi
generasi ke-4, walaupun masih dalam tahap penelitian dan uji coba. GSM sendiri sebagai salah
satu teknologi komunikasi mobile generasi kedua, merupakan teknologi yang saat ini paling
banyak digunakan di berbagai negara. Dalam perkembangannya, GSM yang mampu
menyalurkan komunikasi suara dan data berkecepatan rendah (9.6 - 14.4 kbps), kemudian
berkembang menjadi GPRS yang mampu menyalurkan suara dan juga data dengan kecepatan
yang lebih baik, 115 kbps.
Pada fase selanjutnya, meningkatnya kebutuhan akan sebuah system komunikasi mobile
yang mampu menyalurkan data dengan kecepatan yang lebih tinggi, dan untuk menjawab
kebutuhan ini kemudian diperkenalkanlah EDGE (Enhanced Data rates for GSM Evolution) yang
mampu menyalurkan data dengan kecepatan hingga 3 kali kecepatan GPRS, yaitu 384 kbps.

D. Kapasitas dan Kapabilitas EDGE


Sebagaimana telah disinggung pada poin sebelumnya, EDGE memiliki Dalam transfer data,
misalnya, teknologi EDGE bisa tiga kali lebih cepat dari teknologi GPRS. Artinya, bila pelanggan
selular ingin mendownload pesan MMS dengan teknologi GPRS memerlukan waktu puluhan
detik, tapi dengan teknologi EDGE, hanya perlu waktu beberapa detik saja.
Kelebihan lain, bila teknologi GPRS memiliki kemampuan transfer data hingga 114 Kbps,
teknologi EDGE mampu mendukung data, layanan multimedia hingga 384 Kbps. EDGE
merupakan sebutan baru buat GSM 384. Teknologi ini disebut GSM 384, karena memiliki
kemampuan transmisi data hingga 384 Kbps.
Menurut GSM World Association, EDGE bahkan dapat mencapai kecepatan hingga 473,8
kbps. Dengan EDGE, operator seluler dapat memberikan layanan komunikasi data dengan
kecepatan lebih tinggi dibandingkan GPRS, di mana GPRS hanya mampu melakukan pengiriman
data dengan kecepatan sekitar 25 Kbps. Begitu juga bila dibandingkan platform lain,
kemampuan EDGE mencapai 3-4 kali kecepatan akses jalur kabel telepon (biasanya sekitar 30-
40 kbps) dan hampir 2 kali lipat kecepatan CDMA 2000 1x yang hanya sekitar 70-80 kbps.
Tentang layanan yang diberikan teknologi ini, yakni berbagai aplikasi layanan generasi ketiga
yakni audio streaming kualitas tinggi, video streaming, permainan on line, high speed download.

E. Implementasi EDGE
EDGE merupakan teknologi yang dikembangkan dengan teknologi dasar GSM dan GPRS.
Sebuah sistem EDGE dikembangkan dengan tetap menggunakan perangkat yang terdapat pada
jaringan GSM/GPRS. Jadi EDGE tidak bisa sendiri. Sebuah sistem GPRS terdiri dari SGSN (Serving
GPRS Support Node) dan GGSN (Gateway GPRS Support Node), yang merupakan jaringan
corenya, yang ditambahkan pada sebuah jaringan GSM sebelumnya. Sedangkan pada sisi
radionya, jaringan GPRS membutuhkan penambahan PCU pada perangkat radio jaringan GSM
sebelumnya.

Gambar 1. Diagram Jaringan GPRS

Pengimplementasian EDGE pada jaringan existing GPRS hanya memerlukan penambahan


pada sisi radio aksesnya saja. Sedangkan pada sisi jaringan intinya, EDGE menggunakan
perangkat dan protokol yang sama dengan yang digunakan pada jaringan GPRS sebelumnya.
Perbedaan jaringan GPRS dan EDGE hanya terdapat pada sisi radio akssnya saja, sedangkan
pada sisi jaringan intinya, EDGE dan GPRS menggunakan piranti dan protokol yang sama.
Sebuah jaringan GPRS dapat diupgrade menjadi sebuah jaringan dengan sistem EDGE hanya
dengan menambahkan sebuah EDGE Transceivier Unit (TRU) pada sisi radio aksesnya.
Gambar 2. Diagram Jaringan EDGE

F. Aspek baru pada EDGE


Dengan menggunakan teknik modulasi dan skema pengkodean yang berbeda dengan
sistem GPRS sebelumnya, serta dengan melakukan pengaturan pada pranala protokol radionya,
EDGE menawarkan kapasitas yang secara signifikan jauh lebih besar dari yang dimiliki oleh
sistem GPRS. Secara umum ada tiga aspek teknik baru pada EDGE jika kita bandingkan dengan
GPRS, yaitu:
1. Teknik Modulasi
Untuk mendapatkan kecepatan transfer yang lebih tinggi dari GPRS yang
menggunakan modulasi GMSK (Gausian Minimum Shift Keying), EDGE selain
menggunakan GMSK juga menggunakan teknik modulasi 8PSK (8-Phase Shift Keying).
Dengan menggunakan modulasi 8PSK, sebuah symbol dikodekan dengan
menggunakan 3 bit, sedangkan pada GMSK sebuah symbol dikodekan dengan 1 bit.
Karena GMSK dan 8PSK mempunyai simbol tingkat yang sama, yaitu sebesar 270k
simbol/s, maka secara keseluruhan tingkat modulasi pada 8PSK akan menjadi 3 kali
lebih besar daripada GMSK, yaitu sebesar 810 kb/s.

2. Teknik Coding
Pada EDGE dikenal 9 macam teknik pengkodean, yaitu MCS1 sampai dengan
MCS9. Sedangkan pada GPRS hanya digunakan 4 buah teknik pengkodean, yaitu CS1
sampai dengan CS4. Empat teknik pengkodean pertama pada EDGE, MCS1 sampai
dengan MCS4, menggunakan modulasi GMSK, sama seperti yang digunakan pada
GPRS. Sedangkan 5 teknik pengkodean lainnya, MCS5 sampai dengan MCS9,
menggunakan modulasi 8PSK.

Coding and Modulation Bit Rate (kbit/s


Modulation
Scheme (MCS) per slot)

MCS-1 8.4 GMSK


MCS-2 11.2 GMSK
MCS-3 14.8 GMSK
MCS-4 17.6 GMSK
MCS-5 22.4 8-PSK
MCS-6 29.6 8-PSK
MCS-7 44.8 8-PSK
MCS-8 54.4 8-PSK
MCS-9 59.2 8-PSK
Tabel 1. Teknik Pengkodean pada EDGE

Bit Rate (kbit/s


Coding Scheme (CS) Modulation
per slot)

CS-1 8.0 GMSK


CS-2 12.0 GMSK
CS-3 14.4 GMSK
CS-4 20.0 GMSK
Tabel 2. Teknik Pengkodean pada GPRS
Gambar 3. Modulasi dan Coding GPRS dan EDGE

Baik pada GPRS ataupun EDGE, tingkatan skema pengkodean yang lebih tinggi
menawarkan kecepatan data yang lebih tinggi pula, tetapi ketahanannya terhadap
kesalahan makin rendah. Artinya, makin tinggi kecepatan packet data, maka makin
mudah packet data itu mengalami kesalahan dalam pengirimannya. Hal ini karena,
makin tinggi tingkatan skema pengkodeannya, maka tingkatan mekanisme “koreksi
kesalahan” yang digunakan makin rendah.
Walaupun MCS1 sampai dengan MCS4 pada EGDE sama-sama menggunakan
modulasi GMSK seperti CS1 sampai dengan CS4 pada GPRS, tetapi keduanya memiliki
kecepatan yang berbeda. Hal ini karena adanya penggunaan header yang berbeda.
Pada EDGE, packet datanya mengandung header yang memungkinkan dilakukannya
resegmentasi packet data. Artinya, apabila suatu packet data dikirimkan dengan
menggunakan tingkat skema pengkodean yang tinggi (kecepatan lebih tinggi, error
correction kurang) dan data tidak diterima dengan baik pada sisi penerima.Maka
setelah dilakukan permintaan pengiriman ulang (retransmisi) packet data yang salah
terima itu, pada pengiriman selanjutnya, coding scheme yang digunakan dapat diganti
dan disesuaikan dengan kondisi radio interface. Artinya, pada pengiriman selanjutnya,
packet data akan dikirimkan dengan menggunakan coding scheme yang lebih rendah,
yang memiliki mekanisme error correction yang lebih baik. Sehingga diharapkan pada
pengiriman kedua ini data dapat diterima dengan baik di sisi penerima.
Sedangkan pada GPRS, resegmentasi packet data ini tidak dapat dilakukan.
Sehingga apabila suatu packet data telah dikirim dengan menggunakan suatu coding
scheme tertentu. Maka walaupun data diterima salah di sisi penerima, pada saat
pengiriman berikutnya, data tetap akan dikirim dengan menggunakan coding scheme
yang sama. Sehingga kemungkinan packet data itu salah diterima di sisi penerima
masih sama besar dengan sewaktu pengiriman pertama.

G. Tipe EDGE
Berikut ini tipe EDGE:
1. EDGE Classic
Edge classic berdasarkan standar EDGE yang dibangun oleh European
Telecommunication Standards Institute (ETSI). EDGE classic merupakan ETSI-EDGE
dengan sedikit modifikasi, umumnya yang berhubungan dengan ANSI-136, yang
memungkinkannya untuk di-overlaid sebagai sebuah packet data carrier diatas ANSI-
136 30kHz yang telah ada sebelumnya.
EDGE classic telah ditentukan untuk menjadi sebuah sistem yang menggunakan
carrier BCCH (Broadcast Control Channel) yang biasanya menggunakan pola reuse 4/12
atau 3/9 dan memerlukan setidaknya 2.4 MHz bandwidth pada masing-masing arah.
Carrier tambahan, jika tersedia dengan total bandwidth yang lebih tinggi, dapat
digunakan pada faktor reuse yang lebih rendah.

2. Edge Compact
Edge Compact menggunakan skema modulasi yang sama dengan EDGE classic.
Tetapi, terdapat beberapa perbedaan penting yang memungkinkannya untuk dapat
ditempatkan pada spectrum yang kurang dari 1 MHz. Karakteristik penting yang
membedakan EDGE compact dari EDGE classic adalah:
a. Sinkronisasi antara Base Station
Karakteristik penting pada EDGE compact adalah bahwa base station-
base station tersinkronisasi satu dengan yang lainnya. Hal ini memungkinkan
untuk mengalokasikan common control channel sehingga dapat mencegah
pengiriman dan penerimaan yang bersamaan. Hal ini menghasilkan
(frekuensi) reuse efektif yang lebih tinggi yang penting untuk signaling, yaitu
3/9 atau 4/12. Sinkronisasi base station dilakukan sedemikian rupa sehingga
struktur timeslot sejajar antara sektor dan struktur hyper-frame selaras
antara semua sektor.

b. Transmisi diskontiniu dan Time Group


Setiap lokasi base station biasanya dialokasikan sedikitnya tiga
frekuensi, satu per sektor, menggunakan 1/3 pola frekuensi reuse.
Sinkronisasi antara base station memungkinkan untuk membuat time group
dalam setiap frekuensi. Setiap sektor diberikan satu time group. EDGE
compact mampu mendukung sampai empat time group-per carrier.
Konfigurasi reuse umum dengan tiga carrier adalah:
 3/9 reuse dengan menggunakan 3 dari 4 time group
 4/12 reuse dengan menggunakan keempat time group
Saat suatu sektor dari salah satu time group mengirimkan atau

menerima common control signal, sektor-sektor dari time group yang


lain menjadi idle (diam di uplink dan downlink). Perlu dicatat bahwa
trafik data berjalan dengan menggunakan frekuensi yang sama tanpa
menggunakan konsep time group. Hal ini menghasilkan pola 1/3 reuse
untuk pola kembali menggunakan 1 / 3 untuk trafik data.

DAFTAR PUSTAKA

Online Documentation. Enhanced Data rates for GSM Evolution.


http://en.wikipedia.org/wiki/Enhanced_Data_Rates_for_GSM_Evolution (Diakses 3 Oktober
2010).

Online Documentation. Enhanced Data rates for GSM Evolution.


http://id.wikipedia.org/wiki/Enhanced_Data_Rates_for_GSM_Evolution (Diakses 1 Oktober
2010).

Online Documentation. General Packet Radio Station.


http://en.wikipedia.org/wiki/General_Packet_Radio_Service (Diakses 3 Oktober 2010).
Tajudin. Mengenal EDGE. http://tajudinst.blogspot.com/2010/03/mengenal-edge-enhanced-data-
rates-for.html (Diakses 3 Oktober 2010).

Murnani, Suatmi. Migrasi Teknologi GSM menuju LTE.


http://suatmimurnani.wordpress.com/2010/06/30/migrasi-teknologi-gsm-menuju-lte (Diakses
3 Oktober 2010).

Siddarth, Wandre. EDGE : Enhaced Data Rates for GSM Evolution.


http://transanatolia.eu/Analyses/Wireless%20Networks/edge1.pdf (Diakses 1 Oktober 2010).

Anda mungkin juga menyukai