Anda di halaman 1dari 8

MODUL 2

PENENTUAN BIOAVAILABILITAS ABSOLUT DAN RELATIF


25 SEPT 2018

A. Tujuan

1. Mahasiswa dapat membedakan bioavailabilitas absulot dan relatif.


2. Mahasiswa dapat menghitung bioavailabilitas absulot dan relatif.

B. Alat dan Bahan

Alat :

1. Spektrofotometri ultraviolet
2. Mikropipiet
3. Gelas ukur 10 ml
4. Labu ukur 50 ml
5. Labu ukur 25 ml

Bahan :

1. Vitamin C

- Tablet 250 mg
- Sirup 250 mg/5 ml
- Injeksi 50 mg
- Aquadest

C. Dasar Teori

Bioavailabilitas merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sistem


sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetik dan perbandingan
zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang dberikan.
Ketersediaan hayati merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk
sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut.
Bioavailabilitas suatu obat mempengaruhi daya terapetik, aktivitas
klinik, dan aktivitas toksik obat, maka biofarmasetika menjadi sangat
penting. Biofarmasetika bertujuan mengatur pelepasan obat sedemikian
rupa ke sirkulasi sistemik agar diperoleh pengobatan yang optimal pada
kondisi klinik tertentu (Shargel dan Andrew, 2005).
Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat
dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke
dalam sirkulasi sistemik. Uji bioavailabilitas dapat digunakan untuk menentukan
bahwa produk obatnya dengan formulasi dan proses produksi yang spesifik akan
memberikan efek klinik yang sebanding dengan produk obat sejenis yang
diproduksi industri obat lain (produk originator atau produk inovator), yang pada
uji kliniknya memberikan hasil yang baik.
Bila dilakukan dengan baik, bioavailabilitas ini dapat digunakan untuk menilai
potensi suatu obat yaitu dengan mengetahui jumlah relatif obat yang diabsorpsi dan
kecepatan obat berada dalam sirkulasi sistemik, dan dapat diperkirakan tercapai
atau tidaknya efek terapi yang dikehendaki menurut formulasinya. Berdasarkan
penjelasan diatas, tujuan lain dari bioavailability yaitu :
 Pengembangan senyawa baru
 Eksplorasi/ pengembangan ilmu
 Pengembangan produk / formulasi Jaminan mutu produk (quality control)
Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi obat
dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke
dalam sirkulasi sistemik. Uji bioavailabilitas dapat digunakan untuk menentukan
bahwa produk obatnya dengan formulasi dan proses produksi yang spesifik akan
memberikan efek klinik yang sebanding dengan produk obat sejenis yang
diproduksi industri obat lain (produk originator atau produk inovator), yang pada
uji kliniknya memberikan hasil yang baik.
Yang perlu diperhatikan dalam studi BA dan atau BE adalah perbedaan luas di
bawah kurva konsentrasi zat aktif/obat dalam plasma - waktu (AUC) yang teramati,
yang dinilai sebagai perbedaan efisiensi absorpsi obat karena adanya perbedaan
kualitas produk obat yang dipengaruhi formulasi.

Bioavailabilitas terbagi menjadi 2, yaitu:


a. Bioavailabilitas absolut: bioavaibilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi
sistemik dari suatu sediaan obat dibandingkan dengan bioavaibiltas zat aktif tersebut
dengan pemberian intra vena. Bioavailabilitas absolut dapat diukur dengan membandingkan AUC
produk yang bersangkutan setelah pemberian oral dan IV. Pengukuran dapat dilakukan sepanjang
Vd dan K tidak tergantung pada rute pemberian. Availabililitas absolut dengan menggunakan data
plasma dapat ditentukan sebagai berikut :
[𝐴𝑈𝐶]𝑃𝑂/𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝑃0
Availabilitas absolut =
[𝐴𝑈𝐶]𝐼𝑉/𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝐼𝑉
b. Bioavailabilitas relatif: bioavaibilitas zat aktif yang mencapai sirkulasi
sistemik dari suatu sediaan obat dibandingakan dengan bentuk sediaan lain selain
intra vena. Availabilitas relatif dari dua produk obat yang diberikan pada dosis dan rute pemberian
yang sama dapat diperoleh dengan persamaan berikut :
[𝐴𝑈𝐶]𝐴
Availabilitas relatif =
[𝐴𝑈𝐶]𝐵
Dimana produk obat B sebagai standar pembanding yang telah diketahui. Fraksi tersebut
dapat dikalikan 100 untuk memberi prosen availabilitas relatif. Jika dosis yang diberikan berbeda,
suatu koreksi untuk dosis dibuat seperti dalam persamaan berikut :
[𝐴𝑈𝐶]𝐴/𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝐴
Availabilitas relatif =
[𝐴𝑈𝐶]𝐵/𝑑𝑜𝑠𝑖𝑠 𝐵

Penilaian ketersediaan hayati / bioavaibilitas pada sukarelawan dapat


dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode dengan menggunakan data darah,
data urin dandata farmakologis atau klinis. Data darah atau data urin lazim
digunakan untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat
berkhasiatnyatelah diketahui cara dan validitasnya. Jika cara dengan validitas
analisis belum diketahui, dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek
farmakologi yangtimbul dapat diukur secara kuantitatif.

D. Prosedur Kerja
1. Dibuat larutan stok vitamin C 1000 ppm
2. Dilakukan pengenceran dari larutan stok dengan konsentrasi µg/ml.
3. Dilakukan pengukuran standar untuk membuat kurva kalibrasi dan
pengukuran sampel dengan panjang gelombang 267 nm dengan
menggunakan spektrofotometer UV-Visible.
4. Ditentukan kadar sampel Vitamin C dalam sediaan injeksi, sirup, dan
tablet.
5. Ditentukan BA absolut dan relatif dari Vitamin C tersebut.

E. Hasil Pengamatan
F. Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan nilai bioavaibilitas absolut dan
relatif. Pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk membedakan antara BA
absolut dan relatif dan untuk menghitung BA absolut dan relatif dari Vit C.
Penentuan nilai BA digunakan untuk memastikan bahwa suatu obat yang akan
beredar di pasar telah melewati serangkaian pengujian antara lain untuk
membuktikan bahwa obat tersebut memiliki khasiat seperti yang di harapkan, aman
digunakan dan tidak menimbulkan efek negative yang tidak diinginkan dengan
proses produksi yang telah distandardisasi.
Bioavaibiltas itu sendiri merupakan suatu istilah yang menyatakan
jumlah/proporsi (exetent) obat yang diabsorpsi dan kecepatan (rate) yang
diabsorpsi itu terjadi. Extent biasanya dinyatakan dalam F. Hal ini biasanya diukur
dari perkembangan kadar obat (zat aktif) atau metabolit aktifnya dalam darah dan
eksresinya dalam urin terhadap waktu.
Pada pengujian pertama dilakukan perhitungan BA absolut (F) suatu sediaan
obat Vit C berupa Injeksi dengan konsentrasi 50 mg, Tablet 250 mg dan Sirup 250
mg/5 ml.

Dalam bidang farmakologi, bioavailabilitas (BA atau dapat disebut


pula ketersediaan hayati) adalah fraksi dari dosis obat diberikan yang dapat
mencapai sirkulasi sistemik, salah satu profil penting dari farmakokinetika obat.
Berdasarkan definisi, ketika obat diberikan secara intravena, bioavailabilitasnya
adalah 100%.[1] Namun, ketika obat diberikan melalui rute pemberian
lain (semisal peroral), pada umumnya bioavailabilitasnyaTH["] akan menurun
(karena obat tersebut tidak diabsorbsi sepenuhnya dan metabolisme lintas
pertama) atau dapat bervariasi antara satu pasien dengan pasien lainnya.
Bioavailabilitas sangat penting dalam farmakokinetika, salah satu pentingnya hal
tersebut adalah bioavailabilitas harus diperhitungkan dalam perhitungan dosis
untuk pemberian obat selain rute intravena.
Untuk suplemen makanan, jamu, dan nutrisi lain yang pada umumnya rute
pemberiannya hampir semuanya melalui peroral, bioavailabilitas hanya
didefinisikan sebagai jumlah atau fraksi dari dosis yang diabsorbsi (bukan yang
masuk dalam sirkulasi sistemik).[2]

Dalam farmakologi, untuk dapat menentukan bioavailabilitas absolut obat,


studi farmakokinetika harus dilakukan untuk memperoleh plot grafik konsenstrasi
obat dalam plasma vs waktu dari obat setelah pemberian melalui intravena (iv)
dan ekstravaskular (non-intravena contoh peroral). Untuk menghitung
bioavailabilitas absolut dapat menggunakan persamaan di bawah ini.

Oleh karena itu, obat yang diberikan secara intravena akan memiliki
bioavailabilitas absolut sebesar 100% (f=1), sedangkan obat-obatan yang
diberikan melalui rute lain biasanya memiliki bioavailabilitas absolut kurang dari
satu. Jika kita ingin membandingkan dua dosis yang berbeda dengan zat aktif
yang sama dan membandingkan bioavailabilitas ke dua obat tersebut, maka
perbandingan itu disebut bioavailabilitas komparatif.

Dalam farmakologi, bioavailabilitas relatif mengukur bioavailabilitas (sebagai


AUC) dari suatu formulasi (A) obat tertentu yang dibandingkan dengan formulasi
yang lain (B) pada obat yang sama, biasanya dengan standar yang telah
ditetapkan, atau melalui rute pemberian yang berbeda. Bioavailabilitas relatif
dapat dihitung dengan persamaan berikut.

Bioavailabilitas relatif merupan salah satu langkah yang digunakan untuk


menilai bioekivalensi (BE) antara dua produk obat. Untuk mendapat persetujuan
dari FDA, produsen obat generik harus menunjukkan bila 90% dari selang
kepercayaan untuk rasio dari respons rerata (biasanya dalam bentuk AUC dan
konsentrasi maksimum, Cmax) terhadap produk "inventornya"OB["] harus berada
dalam rentang 80%-125%. AUC menggambarkan sejauh mana bioavailabilitas
dapat dicapai, Cmax menggambarkan laju bioavailabilitas.
Sedangkan Tmax menggambarkan waktu yang diperlukan bagi obat untuk
mencapai Cmax.

Bioavailability absolut obat, ketika diberikan dengan rute pemberian


ekstravaskular, biasanya bernilai kurang dari satu (F <100%). Berbagai faktor-
faktor fisiologi mengurangi ketersediaan obat sebelum memasuki sirkulasi
sistemik. Waktu meminum obat apakah sebelum atau sesudah makan juga akan
mempengaruhi penyerapan obat. Obat lain yang diminum secara bersamaan
dengan obat tersebut juga dapat mempengaruhi absorpsi dan metabolisme lintas
pertama. Motilitas usus mempengaruhi disolusi obat dan dapat mempengaruhi
laju degradasi kimia obat oleh mikroflora pada usus. Adanya penyakit
mempengaruhi metabolisme di hati atau kerja saluran pencernaan.
Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan nilai bioavaibilitas absolut dan
relatif. Pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk membedakan antara BA
absolut dan relatif dan untuk menghitung BA absolut dan relatif dari Vit C.
Penentuan nilai BA digunakan untuk memastikan bahwa suatu obat yang akan
beredar di pasar telah melewati serangkaian pengujian antara lain untuk
membuktikan bahwa obat tersebut memiliki khasiat seperti yang di harapkan, aman
digunakan dan tidak menimbulkan efek negative yang tidak diinginkan dengan
proses produksi yang telah distandardisasi.
Bioavaibiltas itu sendiri merupakan suatu istilah yang menyatakan
jumlah/proporsi (exetent) obat yang diabsorpsi dan kecepatan (rate) yang
diabsorpsi itu terjadi. Extent biasanya dinyatakan dalam F. Hal ini biasanya diukur
dari perkembangan kadar obat (zat aktif) atau metabolit aktifnya dalam darah dan
eksresinya dalam urin terhadap waktu.
Pada pengujian pertama dilakukan perhitungan BA absolut (F) suatu sediaan
obat Vit C berupa Injeksi dengan konsentrasi 50 mg, Tablet 250 mg dan Sirup 250
mg/5 ml.

kadar (µg/ml)
t (jam)
suspensi oral i.v
0,5 2,75 5,31
1 6,24 4,62
1,5 8,5 4,02
2 9,81 3,5
3 7,43 2,65
4 5,6 2,01
6 3,19 1,16
8 1,91 0,66

Pertama – tama dilakukan perhitungan AUC sediaan suspense oral dan intravena.
Selanjutnya dilakukan perhitungan ln nya dan di cari nilai eksponennya maka
didapatkan kadar intravena nya yaitu sebesar 6.136165, kemudian didapatkan pula
kadar tak hingga oral dengan t saat 8 jam yang digunakan dalam perhitungan di
dapatkan 7.103012272, sedangkan kadar tak hingga intra vena nya adalah
2.370689655 yang dapat di gambarkan pada kurva sebagai berikut
Dari data yang telah di peroleh dapat diketahui bioavaibilitas absolut obat dengan
melakukan perhitungan :

BA = x x 100

Dan di dapatkan BA obat yang diujikan adalah 85.46471707, hasil ini masih cukup
baik karena ketersediannya dalam darah masih tinggi yaitu sekitar 85%.
Pengujian selanjutnya dilakukan uji bioekivalensi terhadap 3 kapsul uji yang di
bandingkan dengan standarnya, uji ini untuk memastikan obat yang di ujikan
memiliki efek yang sama dengan obat standarnya. Pengujian ini dilakukan terhadap
8 orang sukarelawan yang di berikan obat uji dan obat standar pada waktu yang
tidak bersamaan kemudian di ambil sampel nya dan di ukur kadarnya. Analisis
dilakukan dengan perhitungan AUC obat uji dan obat standar dari setiap
sukarelawan, kemudian di hitung nilai F nya, F menyatakan nilai kadar obat yang
diabsorpsi.
F=(AUC A/ AUC STD)*100

maka didapatkan nilai F rata-ratanya untuk kapsul A adalah sebesar 89.0342125.


Kemudian masih dengan menggunakan Microsoft excel di hitung pula nilai standar
deviasi rataannya untuk mendapatkan kriteria BE dan nilainya adalah 5.291458517,
dan nilai tα berdasarkan tabel yaitu 1.895 maka dapat dilakukan perhitungan
kriteria BE yang dinyatakan dengan rumus :

Cli = F ± Std . tα

Kriteria BE yang baik suatu obat harus memiliki nilai BE 80 – 125 %. Untuk kapsul
A sendiri nilai Cli(+) nya adalah 99.06152639 dan nilai Cli(-) nya adalah
79.00689861. Maka dapat disimpulan kapsul A ini tidak memenuhi kriteria BE
yang baik karena nilai Cli(-) nya kurang dari 80%.
Untuk kapsul B yang diujikan, di dapatkan nilai Cli(+) nya adalah 121.2250497
dan nilai Cli(-) nya adalah 85.23636298. Maka dapat disimpulkan kapsul B ini
tmemenuhi kriteria BE yang baik karena nilai Cli(+) dan Cli(-) nya berada dalam
rentang 80 – 125 %. Selanjutnya kapsul yang terakhir yaitu kapsul C, di dapatkan
nilai Cli(+) nya adalah 84.61875121, dan nilai Cli(-) nya adalah 45.45846835, maka
dapat disimpulkan juga bahwa kapsul C ini tidak memenuhi kriteria BE yang baik
karena nilai Cli(-) nya kurang dari 80%.

G. Kesimpulan

1. Perbadaan BA absolut dg BA relatif adalah


2. Nilai BA absolut Vit C adalah ... dan nilai BA relatif vit C adalah...

H. Daftar Pustaka

1. ^ Griffin, J.P. The Textbook of Pharmaceutical Medicine (6th Ed.).


2. ^ Heaney, Robert P. (2001). "Factors Influencing the Measurement of Bioavailability,
Taking Calcium as a Model". The Journal of Nutrition. 131 (4): 1344S–
8S. PMID 11285351
3. Shargel, L. dan B.C. Andrew. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya: Airlangga University Press.