Anda di halaman 1dari 27

HUBUNGANG ANTARA OBESITAS

DENGAN PREEKLAMPSIA
PADA IBU HAMIL DI RSUD SANJIWANI

PROPOSAL PENELITIAN
KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti seleksi penerimaan PPDS


Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas Karunia-Nya sehingga
usulan penelitian ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Usulan penelitian ini disusun
sebagai salah satu persyaratan dalam mengikuti seleksi Program Pendidikan Dokter Spesialis I
(PPDS-I) program studi Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan di Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana/ RSUP Sanglah Denpasar. Usulan penelitian ini berjudul “Hubungan
Antara Obesitas dengan Preeklamsia di RSUD Sanjiwani”
Dalam penyelesaian usulan penelitian ini, penulis banyak memperoleh bimbingan,
petunjuk-petunjuk, serta bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang sudah membantu penyelesaian usulan
penelitian ini, terutama keluarga penulis. Penulis berharap tulisan ini dapat memberi manfaat
bagi semua pihak yang berkepentingan.
Akhir kata, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penulis sebagai manusia
biasa tidak luput dari kekurangan, maka penulis berharap akan mendapatkan masukan-masukan,
baik berupa saran ataupun kritik yang membangun guna perbaikan mutu tulisan ini di masa
mendatang.

Gianyar, 20 September

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………… i


KATA PENGNTAR ………………………………………………………………. ii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………. Iii
DAFTAR TABEL …………………………………………………………………. iv
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………… v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ………………………………………………... 1
1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………………… 4
1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………………….. 4
1.4 Manfaat Penelitian ……………………………………………………… 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Obesitas ………………………………………………………………… 5
2.1.2 Prevalensi dan Risiko Obesitas dalam Kehamilan ……………... 6
2.2 Preeklampsia …………………………………………………………… 7
2.2.1 Diagnosis Hipertensi pada Kehamilan …………………………. 8
2.2.2 Penentuan proteinuria …………………………………………… 8
2.2.3 Diagnosis Preeklampsia …………………………………………. 9
2.3 Peranan Obesitas Mempengaruhi Preeklampsia ………………………. 9
BAB III KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP
3.1 Kerangka Teori …………………………………………………………. 14
3.2 Kerangka Konsep ………………………………………………………. 15
3.3 Hipotesis ………………………………………………………………... 15
BAB IV. METODE PENELITIAN
4.1 Ruang Lingkup Penelitian ……………………………………………… 16
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ………………………………………….. 16
4.3 Jenis dan Rancangan Penelitian ………………………………………... 16
4.4 Populasi dan Sampel …………………………………………………… 16
4.4.1 Populasi Target ………………………………………………….. 16
4.4.2 Populasi Terjangkau ……………………………………………...16

iii
4.4.3 Sampel ……………………………………………………………16
4.4.3.1 Kriteria Inklusi …………………………………………….. 16
4.4.3.2 Kriteria Ekslusi ……………………………………………. 16
4.4.4 Cara Sampling …………………………………………………… 17
4.5 Variabel Penelitian ……………………………………………………... 17
4.6 Definisi Operasional Variabel …………………………………………. 17
4.7 Sumber Data ……………………………………………………………. 17
4.8 Instrumen Penelitian ……………………………………………………. 17
4.9 Alur Penelitian ………………………………………………………….. 18
4.10 Etika Penelitian ………………………………………………………...18
4.11 Jadwal Penelitian ……………………………………………………… 19

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Body Mass Index (BMI) …………………………………………………. 5

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Prevalensi status gizi kurus, BB lebih, obesitas penduduk dewasa


(> 18 tahun) menurut provinsi …………………………………………….……... 6
Gambar 2. Kecenderungan prevalensi obesitas pada perempuan usia >18 tahun
berdasarkan data Riskesdas 2007, dan 2013 ……………………………………... 7
Gambar 3. Kerangka Teori ………………………………………………………... 14
Gambar 4. Kerangka Konsep ……………………………………………………… 15
Gambar 5. Alur Penelitian ………………………………………………………… 18

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Prevalensi status gizi kurus, BB lebih, obesitas penduduk dewasa


(> 18 tahun) menurut provinsi …………………………………………….……... 6
Gambar 2. Kecenderungan prevalensi obesitas pada perempuan usia >18 tahun
berdasarkan data Riskesdas 2007, dan 2013 ……………………………………... 7
Gambar 3. Kerangka Teori ………………………………………………………... 14
Gambar 4. Kerangka Konsep ……………………………………………………… 15
Gambar 5. Alur Penelitian ………………………………………………………… 18

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan
perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam
tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5, meningkatkan kesehatan ibu. Dari survey yang
dilakukan AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya
mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha
keras (Departemen Kesehatan RI,2011)
Jumlah angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tergolong sangat tinggi diantara
Negara-negara ASEAN lainnya. Jika dibandingkan AKI di singapura adalah 6 per 100.000
kelahiran hidup, AKI Malaysia mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup. Bahkan AKI
Vietnam sama seperti Negara Malaysia, sudah mencapai 160 per 100.000 kelahiran hidup,
Philipina 112 per 100.000 kelahiran hidup, Brunai 33 per 100.000 per kelahiran hidup,
sedangkan di Indonesia 228 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2008).
Target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 adalah 102 per 100.000
kelahiran hidup. Berdasarkan (SDKI 2012), rata-rata angka kematian ibu (AKI) tercatat
mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup. Rata-rata kematian ini jauh melonjak dibanding hasil
SDKI 2007, yang mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2008 AKI sempat
turun tipis menjadi 226 namun pada tahun 2010 AKI justru merosot jauh ke angka 390 per
100.000 kelahiran hidup, target MDGs untuk menurunkan rasio AKI menjadi 102 per 100.000
kelahiran hidup adalah hal yang mustahil (Djaja, 2011).
Di Provinsi Bali dari tahun 2006 sampai dengan 2015 sudah mencapai MDG’s 2015 yaitu
kurang dari 102 per 100.000. Namun demikian, trendnya sangat fluktuaktif yakni masih
mengalami naik turun sehingga diharapkan target AKI di Provinsi Bali dapat menurun setiap
tahunnya. AKI terendah ada di Kabupaten Gianyar sebesar 0 per 100.000 kelahiran hidup dan
tertinggi ada di Kabupaten Jembrana yaitu sebesar 145,7 per 100.000 Kelahiran hidup pada
tahun 2015. (Depkes Prov Bali, 2016)
Salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu dan janin adalah preeklamsia (PE)
yang menurut WHO angka kejadiannya berkisar antara 0,5% - 38,4%. Di Negara maju angka

1
kejadian preeklampsia berkisar 6 – 7% dan eklampsia 0,1 – 0,7%. Sedangkan angka kematian
ibu yang diakibatkan preeklampsia dan eklampsia di Negara berkembang masih tinggi.
Menurut Depkes RI tahun 2010, penyebab langsung kematian maternal di Indonesia
terkait kehamilan dan persalinan terutama yaitu perdarahan 28%, eklampsia 24%, infeksi 11%,
partus lama 5%, dan abortus 5%.
Preeklamsia dan eklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang disebabkan
langsung oleh kehamilan itu sendiri. Preeklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria
akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan.
Preeklamsia merupakan salah satu faktor yang menyebabkan perdarahan postpartum dimana
wanita dengan preeklamsia menghadapi resiko perdarahan yang meningkat. Preeklamsia dapat
terjadi pada masa antenatal, intranata, dan postnatal. Ibu yang mengalami hipertensi akibat
kehamilan berkisar 10%, 3-4% diantaranya mengalami preeklamsia, 5% mengalami hipertensi
dan 1-2% mengalami hipertensi kronik (Robson dan Jason, 2012)
Penyebab terjadinya preeklampsia sampai saat ini belum diketahui, tetapi beberapa
penelitian menyimpulkan sejumlah faktor yang mempengaruhi terjadinya preeklampsia salah
satunya yaitu kegemukan / obesitas selama kehamilan . ( Rahmayanti, 2011) Obesitas kehamilan
adalah kenaikan berat badan pada ibu hamil melebihi 12-16 kg berat badan normal. Obesitas
kehamilan merupakan ancaman yang cukup serius, kemungkinan akan mengalami masalah
ketika persalinan dan pasca persalinan. Obesitas selama kehamilan berdampak buruk bagi
kesehatan terutama pada ibu hamil, dimana dapat menyebabkan hipertensi, hyperkolesterol,
hyperglikemia yang dikenal dengan (3H). Hypertensi pada kehamilan membuat janin meninggal,
plasenta terputus, Intra Uterine Grow Retardation (IUGR), Intra Uterine Fetal Dead (IUFD),
dan abortus (Nugroho, 2011).
Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan di atas, pencegahan yang dapat dilakukan
yakni ibu hamil diharapkan melakukan pemeriksaan rutin kepada dokter kandungan setiap bulan
karena sangatlah penting, agar perkembangan berat badan, urin serta tekanan darah ibu dapat
terpantau dengan baik. Konsultasikan pada dokter, sebelum mengkonsumsi suplemen di saat
hamil. Sebaiknya ibu menjalani pola makanyang sehat dengan menu seimbang mengingat
obesitas merupakan salah satu faktor pencetus preeklamsia. Idealnya pola makan yang sehat dan
menu seimbang dan menjaga berat tubuh sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan
kehamilan dapat mengurangi risiko terkena preeklamsia. Peran perawat diharapkan lebih aktif

2
dalam mengadakan penyuluhan dan kegiatan yang dapat mengurangi obesitas, melakukan
pengawasan secara ketat dan lebih teliti pada saat pemeriksaan kehamilan untuk deteksi dini.
Agar ibu mengerti akan bahaya obesitas dalam kehamilan yang mengaibatkan preeklamsia
(Sungkar, 2013). Berdasarkan fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitiannya tentang “ Hubungan Obesitas dengan preeklamsia di RSUD Sanjiwani”.

1.2 Rumusan Masalah


Adakah hubungan antara Obesitas dengan Preeklampsia di poli Kandungan RSUD
Sanjiwani?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk megetahui adanya hubungan antra Obesitas dengan Preeklamsia di poli kandungan
RSUD Sanjiwani

1.3.2 Tujuan khusus


1. Untuk mengetahui prevalensi pasien obesitas yang mengalami preeklampsia dalam periode 6
bulan di poli kandungan RSUD Sanjiwani.
2. Mengetahui hubungan antara obesitas dan preeklampsia di poliklinik kandungan RSUD
Sanjiwani.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Untuk mengetahui hubungan antara obesitas dan preeklampsia di poliklinik RSUD Sanjiwani.
2. Memeberikan masukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana Body Mass Index (BMI) ≥ 30 kg/m 2
dimana angka tersebut diperoleh dari rumus (Davies, 2010):

BMI= BB(kg)
TB2(M)

Penetuan obesitas dengan BMI lebih lazim digunakan dibandingkan dengan metode lain seperti
pengukuran ketebalan lipatan lemak dan lingkar pinggang (waist circumferrencia), perhitungan
rasio waist-to-circumferrencia, termasuk juga dengan menggunakan alat-alat seperti USG (
Ultrasonografi), CT-scan (Computed Tomography Sacanning) (Davies,2010).
BMI oleh WHO dikelompokkan menjadi underweight, normal, overweight, dan obese
dimana obesitas dibagi menjadi kelas I, II, II seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Body Mass Index (BMI) (Gunatilake, 2011)

4
Ukuran yang ditetapkan WHO ternyata terlalu besar untuk orang asia. Dari jurnal yang
diakses dari website WHO, diperoleh keterangan mengenai BMI untuk orang Asia, yang
dikatakan sudah menderita kelebihan berat badan jika Indeks Massa Tubuhnya melebihi 23
kg/m2 dan disebut obesitas apabila telah mencapai > 25 kg/m2. (WHO, 2012)

2.1.2 Prevalensi dan Risiko Obesitas dalam Kehamilan


Wanita hamil dengan obesitas mancapai 28% dari keseluruhan kehamilan dengan 8%
dikategorikan sebagai “Extremely obese” (BMI ≥ 40kg/m2) dan jumlah penderitanya mengalami
peningkatan setiap tahun. Keadaan ini menunjukkan suatu kondisi yang sangat serius mengingat
komplikasi yang ditimbulakan baik terhadap ibu, fetus, neonatus serta potensial komplikasi yang
dapat ditimbulkannya pada kehidupan selanjutnya serta secara ekonomi dan membutuhkan biaya
yang lebih banyak (Gunatilake, 2011)
Di Indonesia data tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada penduduk
usia >18 tahun sebesar 15,4%. Data obesitas tiap provinsi digambarkan pada grafik di bawah ini
(Balitbangkes, 2013):

Gambar 1 Prevalensi status gizi kurus, BB lebih, obesitas penduduk dewasa (> 18 tahun)
menurut provinsi (Balitbangkes, 2013)

5
Sedangakan obesitas pada perempuan usia 18 tahun di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 32,9
persen, meningkat 18,1 persen dari tahun 2007 ( 13,9%) dan 17,5 persen dari tahun 2010
(15,5%) dimana prevalensi terendah di Nusa Tenggara Timur (5,6%), dan prevalensi tertinggi di
Sulawesi Utara (19,5%) (Balitbangkes).

Gambar 2. Kecenderungan prevalensi obesitas pada perempuan usia >18 tahun


berdasarkan data Riskesdas 2007, dan 2013 (Balitbangkes, 2013)

Sudah jelas bahwa wanita hamil dengan obesitas akan memerlukan perawatan yang lebih jika
dibandingkan wanita hamil dengan berat badan normal, obesitas beresiko tinggi menimbulkan
abortus, gestasional diabetes melitus, hipertensi dalam kehamilan, gangguan pernafasan pada
ibu, bayi makrosomia, trauma persalinan baik pada ibu maupun bayi, kelainan kongenital, fase
persalinan yang lambat, tindakan operasi pervaginam, disotosia bahu, persalinan dengan seksio
sesaria, perdarahan post partum, trombosis dan infeksi.

2.2 Preeklamsia
Preeklamsia merupakan kondisi spesifik pada kehamilan yang tandai dengan adanya
disfungsi plasenta dan respon maternal terhadap adanya inflamasi sistemik dengan aktivasi
endotel dan koagulasi. Diagnosis preeklamsia ditegakkan berdasarkan adanya hipertensi spesifik
yang disebabkan kehamilan disertai dengan gangguan sistemik organ lainnya pada usia

6
kehamilan diatas 20 minggu. Preeklamsia, sebelumnya selalu didefinisikan dengan adanya
hipertensi dan proteinuri yang baru terjadi pada kehamilan (new onset hypertension with
proteinuria). Meskipun kedua kriteria ini masih menjadi definisi klasik preeklamsia, beberapa
wanita lain menunjukkan adanya kondisi berat dari preeklamsia meskipun pasien tersebut tidak
mengalami proteinuri. Sedangkan, untuk edema tidak lagi dipakai sebagai kriteria diagnostik
karena sangat banyak ditemukan pada wanita dengan kehamilan normal (Gary C, 2015).

2.2.1 Diagnosis Hipertensi pada Kehamilan


Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg
diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 15 menit menggunakan lengan yang sama. Definisi
hipertensi berat adalah peningkatan tekanan darah sekurang-kurangnya 160 mmHg sistolik atau
110 mmHg diastolik. Tensimeter sebaiknya menggunakan tensimeter jarum atau tensimeter
otomatis yang sudah divalidasi. Laporan terbaru menunjukkan pengukuran tekanan darah
menggunakan alat otomatis sering memberikan hasil yang lebih rendah.
Berdasarkan American Society Hypertension ibu diberi kesempatan duduk tenang dalam
15 menit sebelum dilakukan pengukuran tekanan darah pemeriksaan. Pengukuran dilakukan
pada posisi duduk posisi manset setingkat dengan jantung, dan tekanan diastolik diukur dengan
mendengar bunyi korotkoff V (hilangnya bunyi). Ukuran manset yang sesuai dan kalibrasi alat
juga senantiasa diperlukan agar tercapai pengukuran tekanan darah yang tepat. Pemeriksaan
tekanan darah pada wanita dengan hipertensi kronik harus dilakukan pada kedua tangan, dengan
menggunakan hasil pemeriksaan yang tertinggi.

2.2.2 Penentuan proteinuria


Proteinuria ditetapkan bila ekskresi protein di urin melebihi 300 mg dalam 24 jam atau tes urin
dipstik > positif. Pemeriksaan urin dipstik bukan merupakan pemeriksaan yang akurat dalam
memperkirakan kadar proteinuria. Konsentrasi protein pada sampel urin sewaktu bergantung
pada beberapa faktor, termasuk jumlah urin. Kuo melaporkan bahwa pemeriksaan kadar protein
kuantitatif pada hasil dipstik positif 1 berkisar 0-2400 mg/24 jam, dan positif 2, berkisar 700-
4000 m/24 jam. Pemeriksaan tes urin dipstik memiliki angka positif palsu yang tinggi, seperti
yang dilaporkan oleh Brown, dengan tingkat positif palsu 67-83%.

7
2.2.3 Diagnosis Preeklampsia
Diagnosis preeklampsia daptat ditegakkan dari gambaran klinik dan pemeriksaan
laboratorium. Dari hasil diagnosis, maka preeklampsia dapat diklasifikasikan menjadi dua
golongan yaitu:
1) Preeklampsia ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut:
a. Tekanan darah 140/90 mmHg, atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih,
atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan
dengan riwayat tekanan darah normal.
b. Proteinuria kuantitatif ≥ 0,3 gr perliter atau kualitatif 1+ atau 2+ pada urine
kateter atau midstream.
2) Preeklampsia berat, bila disertai keadaan sebagi berikut:
a. Tekanan darah 160/110 atau lebih.
b. Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+.
c. Oligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam.
d. Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri epigastrium.
e. Terdapat edema paru dan sianosis.
f. Trombositopenia.
g. Gangguan fungsi hati.
h. Pertumbuhan janin terhambat (lanak, 2004).

2.3 Peranan Obesitas Mempengaruhi Preeklampsia


Obesitas merupakan faktor resiko yang telah banyak diteliti terhadap terjadinya
preeklampsia. Obesitas memicu kejadian preeklampsia melalui mekanisme, yaitu berupa
superimposed preeclampsia, maupun melalui pemicu-pemicu metabolit maupun molekul-
molekul mikro lainnya. Resiko preeklampsia meningkat sebesar 2 kali lipat setiap peningkatan
berat badan sebesar 5-7 kg/m2 selain itu ditemukan adanya peningkatan resiko preeklampsia
dengan adanya peningkatan BMI. Wanita dengan BMI > 35 sebelum kehamilan memiliki resiko
empat kali lipat mengalami preeklampsia dibandingkan dengan wanita dengan BMI 19-27.
Beberapa studi juga menemukan bahwa pada wanita dengan BMI < 20 resiko preeklampsianya
berkurang. Resiko terjadinya preeklampsia karena tingginya BMI kemungkinan disebabkan oleh
hubungannya dengan peningkatan resiko terjadinya hipertensi.( Ekaidem, 2011)

8
Pada seseorang baik dengan kehamilan maupun tidak, terjadi disfungsi endotel yang
dipicu oleh adanya obesitas, dimana hal ini akan menyebabkan kerusakan dari endotel dan
semakin mempresipitasi terjadinya preeklampsia dengan beberapa mekanisme. .( Ekaidem,
2011)
Pada wanita dengan preeklampsia dapat ditemukan adanya lesi pada arteri
uteroplasentalnya. Karakteristik lesinya adalah adanya daerah dengan nekrosis fibrinoid yang
diliputi oleh sel makrofag yang memfagosit lipid. Lesi mikroskopis ini mirip dengan lesi yang
ada pada atheroskeloris. Penumpukan lemak juga dapat ditemukan pada glomerulus dari pasien
dengan preeklampsia dan biasa disebut glomerular endotheliosis. Adanya lesi pada glomerular
ini berhubungan dengan terjadinya proteinuria. Pada kadar LDL dan Trigleserida yang tinggi
juga berhubungan dengan kerusakan ginjal diatas. Perubahan pada metabolisme lemak dapat
berperan terhadap lesi endotel yang ditemukan pada pasien preeklampsia. Keparahan dari
hipertensi dan proteinuria mencerminkan keparahan dari kerusakan endotel yang terjadi.(Roberts
JM, 2011)
Hipertrigliseridemia yang terjadi behubungan dengan patogenesis dari hipertensi yang
terjadi saat kehamilan. Adanya lemak berlebih juga berperan dalam patofisiologi kerusakan
endotel pada preeklampsia. Tingginya trigleserida akan meningkatkan resiko kelainan pembuluh
darah plasenta yang akan merangsang terjadinya kelainan endotel, atherosceloris, dan
thrombosis. Atherosclerosis pada wanita preeklampsia terjadi pada arteri spiralis pada plasenta.
.(Roberts JM, 2011)
Wanita dengan peningkatan trigleserida memiliki resiko dua kali lipat mengalami
preeklampsia dibandingkan dengan wanita dengan berat badan normal. Pada orang dengan
obesitas, tidak hanya jumlah lemak, namun distrubusi lemak tersebut merupakan hal yang
penting. Obesitas sentral sebagai marker dari obesitas visceral memilik resiko yang lebih tinggi
dibandingkan dengan obesitas perifer. Lemak visceral berbeda dengan lemak subkutan. Lemak
visceral menghasilkan lebih banyak C-reactive protein (CRP) dan sitokin inflamasi sehingga
mengakibatkan lebih banyak dihasilkannya stress oksidatif. Stress oksidatif disebutkan
merupakan hasil dari peningkatan free fatty acid dan adanya inflamasi. ( Ekaidem, 2011) Diet
juga disebutkan sebagai salah satu penyebab meningkatnya stress oksidatif. Pada orang dengan
dengan obesitas, kadar anti oksidan dalam darahnya lebih rendah, hal ini kemungkinan dapat
disebabkan karena rendahnya konsumsi antioksidan atau tingginya konsumsi makanan yang kaya

9
karbohidrat dan lemak. Diet seperti ini berhubungan dengan meningkatnya radikal bebas dalam
tubuh dan pola diet ini lebih sering ditemukan pada orang obesitas dan wanita yang kemudian
akan mengalami preeklampsia. (Roberts JM, 2011)
Sebagai tambahan, lemak visceral akan dibawa langsung ke hepar, fungsi dan respon dari
hepar akan lebih nampak pada metabolisme terhadap jaringan lemak visceral. Dibawanya lemak
hati ini akan meregulasi produksi lemak hati, acute phase reactans berupa CRP, dan sitokin
inflamasi. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya konsentrasi CRP yang beredar dalam
darah, plasminogen activator inhibitor 1 (PA1-1), dan sitokin inflamasi. C-reactive protein (CRP)
ditemukan lebih tinggi pada individu dengan obesitas dan merupakan prediktor terhadap
pronosis buruk pada cardiovascular disease. C-reactive protein (CRP) juga ditemukan
meningkat di awal kehamilan pada wanita yang kemudian akan mengalami preeklampsia.
Mediator inflamasi yang dikeluarkan akan mengganggu fungsi dari endotel pembuluh darah.
Interleukin 6 (IL-6) ditemukan meningkat pada obesitas dan juga pada preeklampsia. 30% IL-6
yang beredar dalam darah adanya IL-6 yang diproduksi oleh jaringan adiposa. Interleukin 6
berhubungan dengan peningkatan terjadinya CVD dan resistensi insulin dan merupakan stimulus
terhadap gangguan dinding pembuluh darah dan blood clotting. Interleukin 6 merupakan
mediator utama inflamasi yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah. (Roberts JM, 2011)
Penyebab preeklampsia pada obesitas lainnya adalah adanya molekul fibrinectin (FN)
yang berlebih pada obesitas, yang diteliti oleh Fibronectin adalah glikoprotein yang terdapat
pada matriks ekstraseluler, yang dihasilkan oleh sel epitel serta sel-sel endotel. Hasil dari
penelitian tersebut adalah terdapat peningkatan kadar FN pada wanita hamil dengan obesitas,
jika dibandingkan dengan wanita hamil yang memiliki berat badan normal. Pada Trimester
pertama, tidak terdapat perubahan kadar yang signifikan, namun jumlah tersebut meningkat pada
trimester kedua dan ketiga, dimana terdapat kenaikan jumlah FN sebesar 20% pada wanita hamil
dengan obesitas dibandingkan dengan wanita hamil dengan berat badan normal. ( Ekaidem,
2011)
Pada obesitas, jaringan adiposa yang ada bukan hanya merupakan suatu cadangan lemak
tapi juga merupakan jaringan yang aktif menghasilkan hormon, sitokin, dan beberapa material
yang dapat diproduksi dijaringan lemak yaitu adipokin. Hasil reproduksi adipokin berhubungan
dengan meningkatnya inflamasi, resistensi insulin, sindrom resistensi insulin dan stres oksidatif.
Salah satu adipokin yang dihasilkan adalah leptin. Orang dengan obesitas memiliki kadar leptin

10
yang tinggi dan berasosiasi dengan resistensi insulin. Leptin memiliki fungsi seperti sitokin yang
dapat mengaktivasi sel endotel, memiliki kerja sentral yang menstimulasi sistem simpatik dan
meningkatkan tekanan darah. Selain itu ternyata ditemukan juga bahwa leptin yang diproduksi
oleh plasenta meningkat pada preeklampsia. (Laivuori,2006).
Resistensi insulin juga umum ditemukan pada preeklampsia dan dapat dilihat pada
individu riwayat preeklampsia. Resistensi insulin sendiri dapat dilihat pada 2/3 individu yang
obesitas. Pada orang dengan obesitas sering ditemukannya resistensi insulin, dimana resistensi
insulin akan meningkatkan resiko terjadinya preeklampsia dan penyakit kardiovaskular. (Roberts
JM, 2011)
Faktor gaya hidup juga mempengaruhi terjadinya obesitas. Gaya hidup, termasuk
didalamnya diet dan aktivitas fisik berhubungan dengan terjadinya obesitas dan penyakit
kardiovaskular. Resiko terjadinya preeklampsia pada wanita obesitas juga berhubungan dengan
faktor gaya hidupnya.
Asupan vitamin C, vitamin E, dan karoten merupakan antioksidan yang penting.
Konsumsi vitamin C, buah, dan sayur dalam jumlah setahun sebelum kelahiran meningkatkan
resiko preeklampsia. Hal ini didukung dengan adanya penemuan bahwa wanita dengan kadar
vitamin C yang normal pada minggu ke 18 kehamilan memiliki resiko preeklampsia yang lebih
rendah. Namun suplementasi vitamin C dan E pada beberapa penelitian tidak menunjukkan hasil
yang konsisten, kemungkinan karena bedanya populasi dan perbedaan jenis makanan yang
dikonsumsi. Selain vitamin C dan E, folat juga berfungsi untuk memperbaiki gangguan endotel,
menurunkan stress oksidatif, dan memperbaiki kerja nitrit oxide (NO). (Zhang, 2002)
Pada umumnya orang dengan obesitas memiliki pola makan dengan rendah serat serta
tinggi kalori dan lemak. Rendahnya serat mengakibatkan sedikitnya konsumsi buah dan sayur
dan penurunan antioksidan yang merupakan salah satu penyebab meningkatnya resiko
preeklampsia.
Aktifitas fisik menurunkan resiko terjadinya preeklampsia. Wanita yang melakukan
aktifitas fisik selama awal kehamilan dibandingkan dengan wanita yang inaktif mengalami
penurunan resiko preeklamsia sebanyak 35%. Jalan cepat dibandingkan dengan tidak berjalan
sama sekali menurunkan resiko 30-35%. Selainitu aktifitas fisik yang bersifat rekresional juga
berhubungan dengan penurunan resiko preeklampsia. Pada orang dengan obesitas, biasanya
aktivitas fisik juga menurun sehingga akan meningkatkan resiko preeklampsia.( Saftlas, 2004)

11
Faktor-faktor diatas seperti inflamasi, resistensi insulin, dislipidimia stres oksidatif, serta
diet berhubungan dengan peningkatan kadar asymmetric dimethylarginine (ADMA). ADMA
adalah suatu inhibitor endogen dari nitrit oxide sintase (NOS). ADMA juga akan meningkat pada
individu dengan resiko penyakit kardiovaskular. (Roberts JM, 2011)
ADMA adalah analog dimetil dari arginin. Metal arginin disintase dari protein dan hanya
ada sebagai asam amino yang mengalami modifikasi dalam pemecahan protein. Mekanisme
untuk mengontrol ADMA dikerjakan oleh enzim degradasinya yaitu dimethylarginine
dimethylaminohydrolase (DDAH). Gangguan DDAH dapat meningkatkan resiko penyakit
kardiovaskular dan mengganggu aktvitas NOS. Adanya stres oksidatif dapat menurunkan kerja
DDAH sehingga terjadi peningkatan ADMA. (Roberts JM, 2011)
ADMA berperan sebagai antagonis terhadap perubahan arginin menjadi NO oleh NOS.
Adanya efek antagonis ini akan menyebabkan penurunan NO dan uncoupling dari NOS. Hal ini
akan menyebabkan NOS endotel menghasilkan anion superoksida, meningkatkan stres oksidatif
dan mengakibatkan disfungsi endotel. Beberapa studi menemukan bhawa kadar plasma ADMA
meningkat pada orang dengan obesitas, wanita preeklampsia, wanita hamil yang kemudian akan
mengalami preeklampsia. (Roberts JM, 2011)

12
BAB III

KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori

OBESITAS

Terdapat
Kompresi/Timbunan
Lemak

Resistensi Molekul pro Stres Oksidatif Diet & Gaya


Insulin Inflamasi hidup

PREEKLAMPSIA

Gambar 3. Kerangka Teori

13
3.2 Kerangka Konsep

PREEKLAMPSIA

Obesitas (+) OBESITAS (-)

Gambar 4. Kerangka konsep

3.3 Hipotesis

“Terdapat hubungan antara obesitas dan Preeklampsia di RSUD Sanjiwani”

14
BAB IV.

METODE PENELITIAN

4.1 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian di bidang SMF Obstetri & Ginekologi

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Sanjiwani Gianyar

2. Waktu penelitian dimulai dari bulan Januari 2018- Juni 2018

4.3 Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional

4.4 Populasi dan Sampel

4.4.1 Populasi Target

Populasi penelitian ini pasien preeklampsia dan ibu hamil yang tidak preeklampsia yan kontrol di
poli kandungan RSUD Sanjiwani.

4.4.2 Populasi Terjangkau

Pasien preeklampsia dan ibu hamil yang tidak preeklampsia yang kontrol di poli kandungan
RSUD Sanjiwani Gianyar dari bulan Januari 2018 hingga bulan Juni 2018

4.4.3 Sampel

Penelitian menggunakan data Ibu Hamil yang melakukan pemeriksaan di poli Kandungan di
RSUD Sanjiwani Gianyar pada bulan Januari 2018 hingga Juni 2018 yang sesuai dengan kriteria
inklusi

4.4.3.1 Kriteria Inklusi

1. Pasien preeklampsia

2. Ibu hamil yang tidak preeklampsia

4.4.3.2 Kriteria Ekslusi

1. Tidak memiliki data berupa tinggi dan berat bada sebelum hamil

15
2. Memiliki faktor resiko preeklampsia: usia ekstrim (35 Tahun <usia< 20 tahun), Primigravida,
hiperplasentosis, riwayat penyakit ginjal atau hipertensi

4.4.4 Cara Sampling

Cara Pengambilan data dilakukan dengan metode total sampling.

4.5 Vaiabel Penelitian

Variabel bebas : Obesitas

Variabel Terikat : Kejadian Preeklampsia

4.6 Definisi Operasional Variabel

Definisi Operasional Variabel meliputi:

1. Obesitas: Kondisi dimana Indeks Massa Tubuh > 25 kg/m2


2. Kejadian Preeklampsia: Kejadian Preeklampsia dikategorikan berdasarkan
a. Preeklampsia Ringan : Tekanan darah 140/90, protein uria 1+ atau 2+
b. Preeklampsia Berat : Tekanan darah 160/110 atau lebih, proein uria 3+ atau 4+,
sindrom HELLP

4.7 Sumber Data


Data dalam penelitian ini didapatkan dari data primer
4.8 Instrumen Penelitian
Timbangan Berat Badan
Pengukur tinggi badan
Tensimeter
Stetoskope
Tabung Urine

16
4.9 Alur Penelitian

Pasien Hamil

Kriteria Inklusi

Pengukuran Berat Badan


dan Tinggi Badan

Obesitas Non Obesitas

Pemasukan data

Analisis Data

HASIL PENELITIAN

Gambar 5. Alur Penelitian

4.10 Etika Penelitian

Sebelum penelitian dilakukan, penelitian akan dimintakan ethical clearance dari Komite Medik
RSUD Sanjiwani. Seluruh data pasien hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian dan
dijaga kerahasiannya.

17
4.11 Jadwal Penelitian

TAHAPAN September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni
Penentuan
Judul
Pembuatan
Proposal
Ijin
Penelitian
Pelaksanaa
Penelitian
Analisis
Data
Penyusunan
Laporan

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Balitbangkes. Riset Kesehatan Dasar. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013.


263-265.
2. Davies, G.A.L.; Maxwell, C.; McLeod, L. Obesity in Pregnancy. SOGC clinical practice
guidelines. International Journal of Gynecology and Obstetrics. 2010. 110:167-173
3. Depkes RI. (2011). Riset Kesehatan Dasar Tahun 2011. Penelitian dan pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
4. Dinas Kesehatan Provinsi Bali. 2016. Buku profil kesehatan profinsi Bali tahun 2016.
Bali: Dinkes Bali.
5. Djaja S, Afifah T. Penacapaian dan tantangan status kesehatan maternal di Indonesia.
Jurnal Ekologi Kesehatan. 2011;10(1):10-20. (diunduh 16 Agustus 2017)
6. Ekaidem IS, Bolarin DM, Udoh AE, Etuk SJ, Udiong CEJ. Plasma fibronectin
concentration in obese/overweight pregnant women: A possible risk factor for
preeclampsia. Ind J Clin Biochem [internet]. 2011 [diakses tanggal 20 Agustus 2017];
26:187-92.
7. Gary C, Kenneth J, Steven L, John C, Dwight J, Catherine Y. Preganancy Hypertention.
Williams Obstetric. 2015. 740-794
8. Gunatilake; R.P.; Perlow, J.H. Obesity and pregnancy: clinical management of the obese
gravid. American Journal of Obstetrics and Gynecology. Februari 2011. 106-119
9. Laivuori H, Gallaher MJ, Collura L. Relationship between maternal plasma leptin mRNA
and protein in normal pregnancy, pre-eclampsia and intrauterine growth restriction
without pre-eclampsia. Molecular Human Reproduction. 2006;12:551-6.
10. Nugroho HSW, Ambarwati MR, Siti NMA 2011. Pengaruh faktor risiko usia, paritas,
keturunan, riwayat preeklampsia, riwayat hipertensi, status gizi, kenaikan berat badan
selama hamil, dan ANC terhadap kejadian preeklampsia di RSUD dr. Sayidman Magetan
tahun 2011.
11. Rahmayanti R. Faktor-faktor risiko maternal yang berhubungan dengan kejadian
preeklampsia berat pada ibu di RSUP DR. M Djamil Padang tahun 2010. Padang
12. Roberts JM, Bodnar LM, Patrick TE, Powers RW. The Role of Obesity in preeclampsia.
Pregnancy Hypertens[Internet]. 2011 [diakses tanggal 20 Agutus 2017]; 1(1);6-16.

19
13. Saftlas AF, Logsden-Sackett N, Wang W, Woolson R, Bracken MB. Work, leisure-time
physical activity, and risk of preeclampsia and gestational hypertention. Am J Epidemiol.
2004; 160;758-65.
14. Tahun Depkes RI (2010). Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
15. World Health Organization. 2012. Obesity and overweight. Tersedia dari: URL;
HYPERLINK http://www.who.int/medicacentre/factsheets/fs311/en/ .
16. Zhang C, Williams MA, King IB. Vitamin C and the risk of preeclampsia-result from
dietary questionnaire and plsama assay. Epidemiology. 2002; 13:409-16.

20