Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS PERENCANAAN DAN PENGADAAN OBAT DI PUSKESMAS SARIO

KOTA MANADO
Clara Rosalia Nibong*, Febi K. Kolibu*, Chreisye K. F. Mandagi*

*Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi

ABSTRAK
Perencanaan dan pengadaan obat merupakan tahap yang penting dalam memenuhi kebutuhan
obat-obatan di suatu pelayanan kesehatan. Dari jenis permintaan obat yang dibutuhkan di bulan
Juli dari 66 jenis obat yang diminta hanya terdapat 11 jenis obat dan alkes yang diterima sesuai
permintaan, sisanya sebanyak 52 jenis obat yang tidak terpenuhi sesuai yang diminta dan
sebanyak 3 jenis obat yang diberi berlebih jumlahnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui informasi mendalam mengenai perencanaan dan pengadaan obat di Puskesmas Sario
Kota Manado.Jenis penelitian ini menggunakan metode Kualitatif bertujuan untuk mendapatkan
informasi yang lebih mendalam tentang proses pengadaan obat di Puskesmas Sario. Metode
pengumpulan data yaitu dengan wawancara mendalam dengan Informan penelitian yang dipilih
menurut tanggung jawab yang bersangkutan dengan penelitian. Informan dalam penelitian ini
terdiri dari 4 (Empat) informan yang terdiri dari Kepala Puskesmas Sario, Penanggung Jawab
Gudang Obat di Puskesmas Sario, Kepala Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Manado, dan
Staff Apotik di Puskesmas Sario. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metode untuk perencanaan
dan pengadaan obat yang digunakan oleh Dinas Kesehatan Kota Manado dan Puskesmas Sario
berbeda, perencanaan kebutuhan obat di Puskesmas Sario menggunakan metode Konsumsi.
Sedangkan metode perencanaan dan pengadaan obat di Dinas Kesehatan Kota Manado
berbeda-beda sesuai dengan tugas, pokok, dan fungsinya masing-masing. Masalah kekosongan
obat di Puskesmas Sario disebabkan pendanaan yang tidak mencukupi dari pemerintah dan
kurangnya respon dari PBF (Pedagang Besar Farmasi). Pengadaan obat JKN melalui e-katalog
tidak dapat menyediakan sesuai dengan jumlah yang diminta, jadi ketika didistribusi ke
Puskesmas mengalami kekurangan.

Kata Kunci: Perencanaan, Pengadaan

ABSTRACT
Medicine planning and procurement are two important steps in fulfilling the need of medicines in
a certain unit of health service. Looking at the drug demand in July,out of the 66 types of drug
demanded, only 11 types of drug and medical devices met the demand. 52 types did not meet the
demand while the other 3 excess the demanded amount. The objective of this research is to obtain
a deeper information regarding the drug planning and procurement in Puskesmas Sario Manado.
This research uses the qualitative method in order to obtain a deeper information regarding the
process of drug procurement in Puskesmas Sario. The data collected by doing an interview with
informants whose tasks are related to this research. The informants were chosen based on their
resposibilities. There are 4 (four) informants, namely The Head of Puskesmas Sario, Penanggung
Jawab Gudang Obat Puskesmas Sario, The Head of The Pharmacy Installation of Manado Health
Department and a Staff of Puskesmas Ssrio Drugstore. The result of this research shows that the
methods of drug planning and procurement used by both Manado Health Department and
Puskesmas Sario are different to each other. The drug planning in Puskesmas Sario uses the
Comsumptionmethod while the Manado Health Department uses various methods according to
each officer's tasks and functions. The problem in drug supply in Puskesmas Sario is caused by the
insufficient funding from the government and the lack of response from the PBF (Pedagang Besar
Farmasi). The drug procurement via e-catalog is not able to provide the sufficient amount of drug
demanded, causing the lack of drug distributed to the Puskesmas.

Keywords: Planning, Procurement

1
PENDAHULUAN perencanaan dan pengadaan obat
Pelaksanaan pembangunan kesehatan (Safriantini 2011).
dilaksanakan melalui usaha-usaha Tahap perencanaan merupakan
pelayanan kesehatan yang tersedia tahap yang penting karena faktor
secara lebih luas dan merata untuk perencanaan obat yang tidak tepat,
seluruh masyarakat dimana salah satu belum efektif dan kurang efisien
program pelayanan kesehatan bersifat berakibat kepada tidak terpenuhinya
upaya pengobatan memerlukan logistik kebutuhan obat – obatan di suatu
misalnya obat-obatan untuk kegiatan pelayanan kesehatan. Jika suatu
pelayanan kesehatan ( Nurniati,2016). perencanaan di Puskesmas direncanakan
Puskesmas sebagai suatu organisasi tidak baik maka akan terjadi kekurangan
fungsional yang memiliki peran atau kelebihan (pemborosan obat) di
memberikan pelayanan promotif suatu puskesmas Beberapa kegiatan
(peningkatan), preventif (pencegahan), dalam perencanaan terdiri atas
kuratif (pengobatan), rehabilitatif pemilihan/seleksi obat, kompilasi
(pemulihan kesehatan). Salah satu pemakaian obat, perhitungan kebutuhan
pelayanan yang diberikan oleh obat, proyeksi kebutuhan obat dll.
Puskesmas adalah upaya pemulihan Sistem Kesehatan Nasional
kesehatan dan pengobatan. Dalam tahun 2009 menetapkan bahwa tujuan
melakukan pemberian pelayanan dari pelayanan kefarmasian adalah ”
pengobatan dan pemulihan kesehatan, Tersedianya obat dan perbekalan
memerlukan ketersediaan obat yang kesehatan yang bermutu, bermanfaat,
sesuai dengan kebutuhan pelayanan terjangkau untuk meningkatkan derajat
yang ada (Malasai 2016). kesehatan yang setinggi-tingginya”. Hal
Proses pengelolaan obat terdiri tersebut diwujudkan oleh Direktorat
dari beberapa tahap yaitu tahap Bina Obat Publik dan Perbekalan
perencanaan, tahap pengadaan, tahap Kesehatan dalam sebuah Misi yaitu ”
distribusi dan tahap penggunaan. Karena Terjaminnya ketersediaan, pemerataan
untuk membatasi ruang lingkup masalah dan keterjangkauan obat dan perbekalan
penelitian dan tahap yang dianggap kesehatan bagi pelayanan kesehatan”
berperan sangat besar dalam (Direktorat Bina Obat Publik dan
ketersediaan obat di suatu pelayanan Perbekalan Kesehatan 2015).
kesehatan adalah tahap perencanaan dan Dalam penelitian Safriantini
pengadaan obat maka fokus penelitian mengenai Analisis Perencanaan dan
ini lebih kepada masalah tahap Pengadaan Obat di Puskesmas Pembina

2
Palembang, berdasarkan Laporan ketidaksesuaian antara kebutuhan obat
Pemakaian dan Lembar Permintaan Puskesmas dengan persediaan obat,
Obat (LPLPO) di Puskesmas Pembina sehingga penulis tertarik untuk meneliti
pada Triwulan pertama Bulan Januari proses pengadaan obat di Puskesmas
Tahun 2010, dari 96 jenis obat dan alat Sario.
kesehatan (alkes) yang diminta hanya
terdapat 36 jenis obat dan alkes yang METODE PENELITIAN
diterima sesuai permintaan, sisanya Jenis penelitian ini menggunakan
sebanyak 43 jenis obat dan alkes yang metode Kualitatif bertujuan untuk
tidak terpenuhi sesuai yang diminta dan mendapatkan informasi yang lebih
sebanyak 17 jenis obat dan alkes yang mendalam tentang proses pengadaan
diberi berlebih jumlahnya. Perbedaan obat di Puskesmas Sario. Metode
antara jumlah yang diminta dan diterima pengumpulan data yaitu dengan
ini dipengaruhi oleh perencanaan dan wawancara mendalam dengan Informan
pengadaan obat yang di lakukan oleh penelitian yang dipilih menurut
Puskemas Pembina. tanggung jawab yang bersangkutan
Berdasarkan data yang di dapat dari dengan penelitian. Penelitian ini
Puskesmas Sario, dari jenis permintaan dilaksanakan di instansi kesehatan yaitu
obat yang dibutuhkan di bulan Juli dari Dinas Kesehatan Kota Manado dan
66 jenis obat yang diminta hanya Puskesmas Sario dan dilaksanakan pada
terdapat 11 jenis obat dan alkes yang bulan Agustus sampai September 2017.
diterima sesuai permintaan, sisanya Informan dalam penelitian ini terdiri dari
sebanyak 52 jenis obat yang tidak 4 (Empat) informan yakni: Kepala
terpenuhi sesuai yang diminta dan Puskesmas Sario Kota Manado sebagai
sebanyak 3 jenis obat yang diberi penanggung jawab utama di Puskesmas
berlebih jumlahnya. Sedangkan Sario Kota Manado, penanggung jawab
permintaan obat yang dibutuhkan di gudang obat di Puskesmas Sario Kota
bulan September dari 65 jenis obat yang Manado, kepala instalasi farmasi Dinas
diminta hanya terdapat 11 jenis obat Kesehatan Kota Manado, staff apotik di
yang diterima sesuai permintaan, sisanya Puskesmas Sario Kota Manado.
sebanyak 48 jenis obat yang tidak Instrumen (alat ukur) yang digunakan
terpenuhi sesuai yang diminta dan pada penelitian ini yaitu wawancara
sebanyak 6 jenis obat yang diberi mendalam dengan memberikan
berlebih jumlahnya. Hal ini pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan
menunjukkan bahwa terdapat tujuan penelitian dengan bantuan

3
pedoman wawancara dan alat perekam kesehatan strata pertama yang meliputi
suara yang memiliki manfaat pelayanan kesehatan perorangan dan
mengingatkan peneliti untuk menulis pelayanan kesehatan masyarakat
rangkaian wawancara yang telah (Permenkes RI No. 30 Tahun 2014).
dijalankan serta pengamatan untuk Puskesmas Sario tidak melakukan
mendapatkan data perbandingan. permintaan obat berdasarkan pola
penyakit, melainkan berdasarkan pola
HASIL DAN PEMBAHASAN konsumsi dengan melihat penyakit
Perencanaan Kebutuhan Obat terbanyak dan rekapan resep terbanyak
Puskesmas Sario merupakan puskesmas untuk satu bulan. Rencana
yang melakukan pelayanan rawat jalan, pengembangan dari Puskesmas Sario
dan memiliki 40 orang tenaga dalam perencanaan obat bila tidak
diantaranya 5 orang tenaga medis yaitu didistribusikan secara keseluruhan oleh
7 orang dokter umum, 1 orang dokter Dinas kesehatan berdasarkan hasil
gigi, 16 orang perawat dan 3 orang wawancara dengan Informan yaitu
bidan, tenaga gizi berjumlah 1 orang, dengan membeli obat sendiri, dan
asisten apoteker berjumlah orang, meminjam kepada dinas kesehatan nanti
sanitarian berjumlah 2 orang, dan dikembalikan di bulan berikutnya
pekarya kesehatan berjumlah 2 orang. Perencanaan merupakan proses
Memiliki cakupan wilayah kerja 7 kegiatan seleksi Obat dan Bahan Medis
kelurahan dengan jumlah penduduk Habis Pakai untuk menentukan jenis dan
wilayah kerja Puskesmas Sario sebanyak jumlah Obat dalam rangka pemenuhan
24.345 jiwa. kebutuhan Puskesmas. Proses seleksi
Pelayanan Kefarmasian di Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Puskesmas merupakan satu kesatuan dilakukan dengan mempertimbangkan
yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan pola penyakit, pola konsumsi Obat
upaya kesehatan, yang berperan penting periode sebelumnya, data mutasi Obat,
dalam meningkatkan mutu pelayanan dan rencana pengembangan. Proses
kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan seleksi Obat dan Bahan Medis Habis
Kefarmasian di Puskesmas harus Pakai juga harus mengacu pada Daftar
mendukung tiga fungsi pokok Obat Esensial Nasional (DOEN) dan
Puskesmas, yaitu sebagai pusat Formularium Nasional (Permenkes RI
penggerak pembangunan berwawasan No. 30 Tahun 2014).
kesehatan, pusat pemberdayaan Berdasarkan hasil wawancara
masyarakat, dan pusat pelayanan dengan salah satu informan yaitu tentang

4
standar pelayanan kefarmasian di Berbeda dengan Proses seleksi Obat
puskesmas yang digunakan Puskesmas dan Bahan Medis Habis Pakai menurut
Sario menurut landasan hukum dari permenkes no. 30 tahun 2014, yaitu
permenkes no. 30 tahun 2014, dan ada dilakukan dengan mempertimbangkan
obat yang berasal dari dana JKN, pola penyakit, pola konsumsi Obat
kemudian dari dana JKN ini yang periode sebelumnya, data mutasi Obat,
dikelola untuk pembelian obat, dan dan rencana pengembangan. Proses
biasanya yang sediakan oleh dinas seleksi Obat dan Bahan Medis Habis
kesehatan. Dan tujuan perencanaan Pakai juga harus mengacu pada Daftar
kebutuhan obat habis pakai di Obat Esensial Nasional (DOEN) dan
Puskesmas menurut informan yaitu agar Formularium Nasional. Proses seleksi
seluruh pasien yang datang di ini harus melibatkan tenaga kesehatan
Puskesmas Sario bisa terlayani segala yang ada di Puskesmas seperti dokter,
kebutuhannya dan untuk menunjang dokter gigi, bidan, dan perawat, serta
pelayanan kesehatan masyarakat di pengelola program yang berkaitan
bidang perbekalan farmasi di dengan pengobatan.
puskesmas. Tujuan utamanya dari Berdasarkan hasil wawancara
undang-undang kesehatan, yaitu mengenai siapa saja yang terlibat dalam
meningkatkan derajat kesehatan dengan proses seleksi obat. Jawaban Informan 1,
setinggi-tingginya salah satunya yang untuk lini pertama yaitu yang secara
menjadi kebutuhan adalah obat. langsung berhadapan dengan pasien, jadi
Proses pertimbangan menyeleksi dilibatkan dokter poliklinik, kemudian
obat yang dilaksanakan Puskesmas tenaga apotik yang ada, dan dengan
Sesuai kebutuhan. Jadi diseleksi untuk kepala puskes yang mengatur
perencanaan penyediaan di bulan berikut perencanaan kebutuhan obat apa yang
dan biasanya untuk perencanaan dibutuhkan untuk bulan depan.
Puskesmas per satu tahun disebut RKO Termasuk juga dengan pemegang-
(Rencana Kebutuhan Obat). Akan tetapi pemegang program karena di Puskesmas
kemudian setelah itu akan terdapat RKO kan ada beberapa program yang
per bulan, jadi untuk penyeleksiannya dijalankan. Jadi kebutuhan obat itu
sesuai dengan kebutuhan. Dan dilihat berdasarkan juga kebutuhan dari
dalam sehari itu penyakit apa yang pemegang program. Misalnya program
paling terbanyak kemudian dilihat HIV/AIDS, perkiraan obat apa yang
kebutuhan untuk terapinya jenis-jenis dibutuhkan dan digunakan dalam setiap
obatt yang paling sering digunakan. bulannya, kemudian ada program

5
malaria. jadi para pemegang program ini obat yang digunakan di Puskesmas Sario
dokter poliklinik dan petugas apotik berdasarkan hasil wawancara yaitu
yang dilibatkan. Jawaban dari Informan untuk sementara masih pake metode
2 yaitu hanya penanggung jawab gudang konsumsi. Konsumsi yaitu sesuai
obat di Puskesmas sendiri kemudian dengan keadaan obat. Misalnya 1000
dibuat berdasarkan data sedangkan habis sekarang kemudian perencanaan
Informan 4 memberikan jawaban, untuk berikutnya harus ditambah 10-20%.
di dalam tim perencanaan obat tingkat Sebab perencanaan obat tidak bisa lebih
puskesmas, terdapat ketua, sekertaris, dari 20%, jadi harus belasan atau
dan anggota. Jadi ketua kepala maksimal sampai 20%. Jika terjadi
puskesmas, sekertaris apoteker, jika kekurangan atau lebih berarti
terdapat apoteker, jika tidak dialihkan perencanaannya yang salah. Dikatakan
pada asisten apoteker. Kemudian tidak mungkin jika kasus penyakit
anggotanya yang dari program KIA, meningkat 100% kecuali wabah
program P2P, poli, apotik, setelah itu (kejadian luar biasa). Dan untuk
mereka beremuk untuk jumlah perencanaan satu tahun kebutuhan untuk
kebutuhan selama 18 bulan, karena ada tahun yang sudah terlewati ditambah
masa tenggang dari pembuatan dengan 20-30% untuk buffer, dan jadi
pengadaan tersebut. untuk dari apotik dan Puskesmas
Proses seleksi Obat dan Bahan pembantu buat permintaan obat, dan
Medis Habis Pakai ini harus melibatkan kami lihat berdasarkan resep yang
tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas masuk. Rekapan resep untuk sehari-hari
seperti dokter, dokter gigi, bidan, dan dibuat kemudian pengeluaran
perawat, serta pengelola program yang pengelolaan obat tiap hari dilihat dari
berkaitan dengan pengobatan resep pengeluaran apa saja dan kami
(Permenkes RI No. 30 Tahun 2014), dan buat rekapan untuk 1 bulan.
Puskesmas Sario telah menjalankan Hasil penelitian sesuai dengan
sesuai dengan permenkes no. 30 tahun penelitian Hasil penelitian yang
2014. dilakukan di Puskesmas Paniki Bawah
Metode untuk perencanaan dan tentang pelaksanaan pengelolaan obat
pengadaan obat yang digunakan di oleh Sera S. Hiborang. Dalam
Dinas Kesehatan Kota Manado yaitu merencanakan kebutuhan obat
berbeda-beda sesuai dengan tugas, dipuskesmas mengacu pada pola
pokok, dan fungsinya masing-masing. konsumsi atau kebutuhan obat
Dan untuk perencanaan dan pengadaan sebelumnya ditambah 10%. Selain itu

6
untuk menyeleksi kebutuhan obat yang tergeser. Misalnya mereka telah
dibutuhkan sesuai dengan jumlah dan rencanakan bulan juni sudah ada obat,
jenis dilihat dari penyakit yang paling tapi akhirnya tergeser. Faktor
menonjol, jadi sebagian menggunakan keterlambatan juga bisa menjadi
pola penyakit. Berdasarkan pengamatan kendalanya.
data yang paling banyak digunakan Menurut Permenkes No.63
dalam merencanakan kebutuhan obat tahun 2014 tentang Pengadaan Obat
adalah data pemakaian obat periode berdasarkan Katalog Elektronik (e-
sebelumnya atau pola konsumsi. Kepala Catalogue), pengaturan pengadaan obat
Puskesmas memahami dan mengetahui berdasarkan Katalog Elektronik (E-
tentang perencanaan kebutuhan obat di Catalogue) bertujuan untuk menjamin
Puskesmas. transparansi/keterbukaan,efektifitas dan
Pengadaan Obat efisiensi proses pengadaan obat dalam
Menurut Departemen Kesehatan rangka memenuhi kebutuhan pelayanan
RI Tahun 2007, kegiatan pengadaan kesehatan yang hasilnya dapat
obat di Puskesmas meliputi penyusunan dipertanggung jawabkan.
daftar permintaan obat yang sesuai Sesuai Peraturan Presiden RI
kebutuhan, pengajuan kebutuhan Nomor 70 tahun 2012 tentang
permintaan obat kepada Dinas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah,
Kesehatan Daerah Tingkat II/ Gudang sejak tahun 2013 penetapan harga obat
Obat dengan menggunakan formulir untuk pengadaan pemerintah
daftar permintaan obat serta penerimaan dilaksanakan melalui lelang harga
dan pengecekan jumlah obat. satuan (e-katalog), dengan harapan agar
Hasil wawancara dengan pengadaan obat lebih transparan, efektif,
Informan Puskesmas Sario mengatakan efisien dan akuntabel dalam rangka
bahwa untuk efektif, memang baru menjamin tersedianya obat yang aman,
berjalan mulai dari bulan lalu, biasanya bermutu dan berkhasiat.
untuk pendistribusiannya, Puskesmas Obat-obat yang masuk ke dalam e-
Sario yang pergi ke dinas kesehatan katalog adalah obat-obat yang terdapat
untuk mengambilnya, jadi secara di dalam Formularium Nasional
keefektifan waktu dan lainnya tidak (Fornas). Dengan telah terbangunnya
efektif. Dan jawaban atas informan yang sistem e-katalog obat, maka
lain yaitu belum efektifnya untuk Kementerian/Lembaga/Dinas/Instansi
pengadaan obat, mungkin karena (K/L/D/I) dapat langsung memanfaatkan
perencanaan waktu yang ditetapkan bisa sistem e-katalog obat dalam pengadaan

7
obat dengan prosedur e-purchasing. Menurut Permenkes No.63 tahun
Pengadaan obat berdasarkan e-katalog 2014 tentang Pengadaan Obat
telah dilaksanakan sejak tahun 2013 berdasarkan Katalog Elektronik (e-
untuk 196 item obat dalam 327 sediaan Catalogue), dalam hal pengadaan obat
generik, dan melibatkan kurang lebih 29 melalui E-Purchasing berdasarkan
industri farmasi. Katalog Elektronik (E-Catalogue)
Tahun 2014, Sistem Jaminan mengalami kendala operasional dalam
Kesehatan Nasional (JKN) mulai aplikasi (offline), pembelian dapat
diberlakukan. Berdasarkan Peraturan dilaksanakan secara manual. Pembelian
Menteri Kesehatan Republik Indonesia secara manual dilaksanakan secara
Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman langsung kepada Industri Farmasi yang
Pelaksanaan Program Jaminan tercantum dalam Katalog Elektronik (E-
Kesehatan Nasional, pelayanan obat Catalogue). PBF yang ditunjuk oleh
untuk peserta JKN pada fasilitas Industri Farmasi yang tercantum dalam
kesehatan mengacu pada daftar obat Katalog Elektronik (E-Catalogue) wajib
yang tercantum dalam Fornas dan harga memenuhi permintaan obat dari FKTP
obat yang tercantum dalam e-katalog atau FKRTL swasta yang bekerjasama
obat. dengan BPJS Kesehatan dalam rangka
Menurut hasil wawancara dengan pengadaan obat.
informan Puskesmas Sario, Menurut Direktorat Bina Obat
menyebutkan bahwa untuk pengadaan Publik dan Perbekalan Kesehatan
obat masih belum terpenuhi Pengelolaan obat publik dan perbekalan
keseluruhannya. Menurutnya, kesehatan membutuhkan dukungan
penyediaan obat JKN yang di berbagai pihak, baik diselenggarakan
distribusikan oleh Dinas Kesehatan, oleh Pusat, Provinsi maupun
sementara Dinas Kesehatan dalam Kabupaten/Kota. Wujud dari dukungan
pengorderan obatnya melalui e-katalog, tersebut dapat berupa kegiatan, anggaran
jadi kadang jumlah yang mereka minta dan komitmen. Anggaran yang
kemudian dari e-katalog hanya diperlukan dapat berasal dari APBD
menyediakan kurang dari itu, jadi ketika Provinsi dan Kabupaten/Kota, APBN
didistribusi ke Puskesmas agak kurang. dan Dana DAK sub bidang pelayanan
Jadi masih ada sering terjadi kekosongan kefarmasian. Dan sesuai dengan sumber
karena itu mereka menyikapinya dengan dana untuk pengadaan obat dari Dinas
membeli ke PBF (Pedagang Besar Kesehatan Kota Manado ke Puskesmas
Farmasi). Sario, yaitu dengan menggunakan

8
penggunaan dana Kalau puskesmas dipuskesmas Kampala yaitu sesuai
mengadakan pengadaan, ada pengadaan dengan kebutuhan dan pola penyakit
dari JKN yaitu dana APBD yang dengan menggunakan Lembar
diperuntukkan di kota manado, kalau Permintaan dan Lembar Pemakaian
untuk APBN untuk pemerintah pusat. Obat kemudian ke dinas kesehatan
Tapi terkadang, dana APBN DAK (Gudang Farmasi Kabupaten/Kota)
masuk ke kas daerah dan jadilah APBD setiap pertriwulan.
Kota Manado, tetapi tetap APBN dana Hasil penelitian wawancara
DAK (Dana Alokasi Khusus) yang dengan Informan di Puskesmas Sario
masuk ke pemerintah daerah dan mengenai pengecekan yang dilakukan
pemerintah daerah kelola. setelah tibanya obat di Puskesmas.
Penelitian ini sama seperti halnya Informan mengatakan bahwa biasanya
dengan penelitian Duwiki Malasai pengecekan dilakukan oleh petugas
tentang Analisis Perencanaan dan gudang ketika ada obat, dicek nama
Pengadaan Obat di Puskesmas obatnya, jenisnya apa misalnya
Modayag, untuk pendanaan Dinas antibiotik, antipiretik, kemudian dicatat
Kesehatan Bolaang Mongondow Timur namanya sesuai tidak dengan
menggunakan Dana Alokasi Khusus permintaanya, kemudian jumlahnya dan
(DAK), pendanaan yang diberikan tentu expire datenya dan obat diterima
pemerintah untuk Perencanaan dalam keadaan utuh, sesuai jumlah,
pengadaan obat di Dinas Kesehatan sesuai yang tertera dalam dokumen, obat
Bolaang Mongondow Timur sering tidak dalam keadaan aman. Berdasarkan
mencukupi akibatnya obat yang penelitian Duwiki Malasai tentang
dibutuhkan oleh khususnya Puskesmas Analisis Perencanaan dan Pengadaan
Modayag tidak terpenuhi keseluruhan. Obat di Puskesmas Modayag,
Dalam penelitian serupa oleh pengecekan obat setelah obat tiba di
Mangindara dkk, tahun 2012 tentang Puskesmas adalah sebagian dari proses
Analisis Pengelolaan Obat di Puskesmas pengadaan, hasil wawancara dengan
Kampala Kecamatan Sinjai Timur informan penelitian, Puskesmas
Kabupaten Sinjaitahun 2011 Modayag untuk cara pengecekan adalah
mengalami masalah yang sama yakni dengan melihat kualitas dan kuantitas.
kekosongan stock obat di Puskesmas Pengecekan kualitas obat oleh petugas
dalam penelitian Mangindara farmasi di Gudang Obat Puskesmas
menyebutkan bahwa Metode yang Modayag adalah melihat tanggal Expire
digunakan dalam pengadaan obat obat dan kemasan obat, sedangkan untuk

9
pengecekan kuantitas dilihat dari jumlah KESIMPULAN
obat yang diminta didistribusikan Berdasarkan penelitian ini, dapat
apakah sesuai dengan jumlah yang disimpulkan bahwa:
diminta. 1. Perencanaan Kebutuhan Obat
Menurut Permenkes no. 30 tahun Perencanaan kebutuhan obat di
2014 tentang standar pelayanan Puskesmas Sario sudah sesuai
kefarmasian di Puskesmas, Penerimaan dengan peraturan pemerintah yaitu
Obat dan Bahan Medis Habis Pakai penyusunan rencana kebutuhan obat
adalah suatu kegiatan dalam menerima harus di lakukan oleh tenaga
Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dari kefarmasian dan menggunakan
Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota sesuai metode yang sesuai dengan keadaan
dengan permintaan yang telah diajukan. di Puskesmas yaitu metode
Tujuannya adalah agar Obat yang konsumsi, yaitu sesuai dengan
diterima sesuai dengan kebutuhan keadaan obat. Masalah kekosongan
berdasarkan permintaan yang diajukan obat dapat mempengaruhi kualitas
oleh Puskesmas. Semua petugas yang pelayanan untuk masyarakat,
terlibat dalam kegiatan pengelolaan kekosongan obat disebabkan
bertanggung jawab atas ketertiban pendanaan yang tidak mencukupi
penyimpanan, pemindahan, dari pemerintah dan kurangnya
pemeliharaan dan penggunaan Obat dan respon dari PBF (Pedagang Besar
Bahan Medis Habis Pakai berikut Farmasi).
kelengkapan catatan yang menyertainya. 2. Pengadaan Obat
Petugas penerimaan wajib melakukan Keefektifan pengadaan obat dari
pengecekan terhadap Obat dan Bahan Dinas Kesehatan ke Puskesmas
Medis Habis Pakai yang diserahkan, Sario memiliki kendala lain yaitu
mencakup jumlah kemasan/peti, jenis perencanaan waktu yang ditetapkan
dan jumlah Obat, bentuk Obat sesuai bisa tergeser karena faktor
dengan isi dokumen (LPLPO), keterlambatan pendistribusian
ditandatangani oleh petugas penerima, sehingga untuk pengadaan obat
dan diketahui oleh Kepala Puskesmas. masih belum terpenuhi
Bila tidak memenuhi syarat, maka keseluruhannya. Dalam penyediaan
petugas penerima dapat mengajukan obat JKN yang di distribusikan oleh
keberatan. Dinas Kesehatan, sementara Dinas
Kesehatan dalam pengorderan
obatnya melalui e-katalog, jadi

10
kadang jumlah yang diminta DAFTAR PU STAKA
kemudian dari e-katalog tidak dapat Nurniati, L, Lestari, H, Lisnawaty 2016,
menyediakan sesuai dengan jumlah ‘Studi Tentang Pengelolaan Obat
yang diminta, jadi ketika didistribusi di Puskesmas Buranga Kabupaten
ke Puskesmas mengalami Wakatobi’, Jurnal Kesehatan
kekurangan. Sehingga masih sering Masyarakat, halaman 1-9.
terjadi kekosongan, karena itu http://ojs.uho.ac.id/index.php/JIM
Puskesmas menyikapinya dengan KESMAS/article/viewFile/1254/9
membeli ke PBF (Pedagang Besar 00
Farmasi). Safriantini, D, Ainy, A, Mutahar, R
2011, ‘Analisis Perencanaan dan
SARAN Pengadaan Obat di Puskesmas
1. Petugas farmasi di Instalasi Farmasi Pembina Palembang’, Jurnal Ilmu
Dinas Kesehatan Kota Manado dan Kesehatan Masyarakat, vol. 2, no.
petugas Farmasi di Gudang Obat 01, halaman 30-38.
Puskesmas Sario perlu menyusun https://media.neliti.com/media/pu
perencanaan pengadaan obat dengan blications/57873-ID-analysis-
metode yang tepat dan sesuai planning-and-procurement-of-
dengan kebutuhan obat yang dru.pdf
direncanakan dengan metode yang Malasai, D 2016. Analisis Pelaksanaan
dipakai agar obat yang dibutuhkan Perencanaan dan Pengadaan Obat
pasien dapat tersedia pada saat yang di Puskesmas Modayag. Fakultas
dibutuhkan. Kesehatan Masyarakat Universitas
2. Dinas Kesehatan Kota Manado dan Sam Ratulangi Manado. Skripsi.
pemerintah daerah yang mengatur https://ejournalhealth.com/index.p
anggaran Dana Alokasi Khusus hp/ikmas/article/view/217
(DAK) untuk pengadaan obat di Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 30
Puskesmas perlu memperhatikannya Tahun 2014 Tentang Standar
agar pendistribusian obat di Pelayanan Kefarmasian di
Puskesmas Sario dapat tersalurkan Puskesmas.
sesuai dengan jumlah kebutuhan Mangindara, dkk 2011, ‘Analisis
obat yang diminta oleh Puskesmas Pengelolaan Obat di Puskesmas
Sario. Kampala Kecamatan Sinjai Timur
Kabupaten Sinjai, Jurnal
Administrasi Kebijakan

11
Kesehatan, vol. 1, no. 1, halaman
1-55.
https://media.neliti.com/media/pu
blications/8245-ID-the-analysis-
drug-management-at-kampala-
health-center-at-yeast-sinjai-sub-
distri.pdf
Peraturan Presiden RI Nomor 70 tahun
2012 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah
Depkes RI. 2007, Proses Pengadaan
Obat Berdasarkan E-Cataloge di
Kota Denpasar pada tahun 2015,
Jurnal Ilmu Kesehatan
Masyarakat.

12