Anda di halaman 1dari 20

STRATEGI DAN DESAIN PEMBELAJARAN IPA

RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (MODEL SIKLUS


BELAJAR (LEARNING CYCLE) 5E
LAJU REAKSI

OLEH:

NYOMAN AYU AMARDINI


1823071013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
DENPASAR
2018
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
MODEL SIKLUS BELAJAR (LEARNING CYCLE) 5E
Satuan Pendidikan : SMA
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : XI /1
Materi Pokok : Laju Reaksi
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

I. KOMPETENSI INTI
KI-1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI-2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun,
responsif dan proaktif, dan menunjukan sikap sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI-3 : Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,
dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah
KI-4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

II. KOMPETENSI DASAR


1.1 Menyadari adanya keteraturan dari sifat hidrokarbon, termokimia, laju
reaksi, kesetimbangan kimia, larutan dan koloid sebagai wujud kebesaran
Tuhan YME dan pengetahuan tentang adanya keteraturan tersebut sebagai
hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin, jujur,
objektif, terbuka, mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti,
bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif, demokratis, komunikatif)
dalam merancang dan melakukan percobaan serta berdiskusi yang
diwujudkan dalam sikap sehari-hari.
3.7 Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan
menentukan orde reaksi berdasarkan data hasil percobaan.
4.7 Merancang, melakukan, dan menyimpulkan serta menyajikan hasil
percobaan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan orde reaksi.

III. INDIKATOR

1. Menganalisis pengaruh katalis terhadap laju reaksi.


2. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi terhadap
kehidupan sehari-hari

IV. TUJUAN
Melaui proses praktikum dan diskusi, siswa dapat :
1. Menganalisis pengaruh katalis terhadap laju reaksi.
2. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi terhadap
kehidupan sehari-hari
3. Merancang percobaan pengaruh katalis terhadap laju reaksi
4. Melakukan percobaan pengaruh katalis terhadap laju reaksi
5. Menarik simpulan hasil percobaan pengaruh katalis terhadap laju reaksi
6. Menyajikan hasil percobaan pengaruh katalis terhadap laju reaksi

V. MATERI PEMBELAJARAN
A. Pengertian Laju Reaksi
Dalam fisika, istilah laju digunakan untuk menyatakan besarnya perpindahan
suatu benda tiap satuan waktu. Akan tetapi, dalam kimia, laju reaksi didefinisikan
sebagai ukuran yang menyatakan jumlah berkurangnya jumlah zat-zat pereaksi tiap
satuan waktu atau bertambahnya zat-zat hasil reaksi tiap satuan waktu. Karena
jumlah zat-zat yang terlibat dalam suatu reaksi kimia biasanya dinyatakan dalam
konsentrasinya, maka laju reaksi juga didefinisikan sebagai ukuran yang
menyatakan perubahan konsentrasi zat-zat pereaksi atau zat-zat hasil reaksi tiap
satuan waktu.
Jika suatu reaksi kimia dinyatakan dengan : A → B
Dengan : A = reaktan dan B = produk
Maka laju reaksinya dinyatakan dengan perumusan berikut:

r= r=+

atau

Keterangan : r = laju reaksi Δt = waktu


Δ[A] = perubahan konsentrasi zat-zat pereaksi
Δ[B] = perubahan konsentrasi zat-zat hasil reaksi
Nilai positif laju reaksi dinyatakan dalam kosentrasi zat-zat hasil reaksi
menunjukkan bahwa konsentrasi zat tersebut selalu bertambah. Sementara itu, nilai
negatif laju reaksi dinyatakan dengan konsentrasi zat-zat pereaksi menunjukkan
bahwa konsentrasi zat tersebut berkurang. Suatu reaksi kimia melibatkan beberapa
zat perbandingan jumlah molnya dinyatakan dengan koefisien-koefisien reaksi,
sehingga persamaan kimia dapat dituliskan sebagai berikut.
pA + qB → rC + sD

Dengan : A, B = reaktan ; C,D = produk ; p, q, r, s = koefisien


reaksi

Laju reaksinya dinyatakan sebagai berikut:

r=
Laju reaksi dapat dibagi menjadi tiga yaitu, laju awal yaitu laju reaksi ketika
pertama kali reaktan mengalami reaksi, laju sesaat yaitu laju reaksi pada saat
tertentu dan laju rata-rata yaitu laju reaksi pada saat selang waktu tertentu
Pada dasarnya laju reaksi dapat ditentukan dengan menggunakan cara fisika
maupun cara kimia. Cara fisika untuk menentukan laju reaksi didasarkan pada sifat-
sifat fisis zat-zat yang terlibat dalam suatu reaksi kimia yang berhubungan dengan
konsentrasi zat tersebut seperti tekanan, konduktivitas listrik. Secara kimia, laju
reaksi dapat ditentukan dengan menentukan konsentrasi zat-zat pada waktu
tertentu.
Jika terjadi reaksi: xA + yB  zC maka laju reaksi berbanding lurus dengan
konsentrasi pereaksi dipangkatkan dengan bilangan tertentu yang sama dengan
koefisien reaksinya. Oleh karena itu, laju reaksi tersebut dapat dinyatakan dengan
persamaan berikut.
v = [A]m [B]n atau v = k [A]m [B]n

[A] dan [B] menyatakan konsentrasi molar pereaksi, k menyatakan tetapan


kesetaraan, eksponen m dan n dinamakan orde atau tingkat reaksi. Persaman
tersebut dinamakan persamaan laju reaksi atau hukum laju reaksi, yaitu persamaan
yang menyatakan hubungan antara laju reaksi dan konsentrasi molar pereaksi
dipangkatkan tingkat reaksi atau orde reaksinya. Tetapan kesetaraan (k) bergantung
pada macam pereaksi dan suhu reaksi. Untuk reaksi yang sama, harga k tetap
selama suhu reaksi tidak berubah. Jika suhu atau pereaksi berubah, harga k juga
berubah.

B. Teori Tumbukan
Gagasan utama dari teori tumbukan tentang laju reaksi adalah bahwa reaksi
untuk menjadi molekul, atom atau ion harus terjadi tumbukan. Peningkatan
konsentrasi dari spesi reaktan menghasilkan jumlah tumbukan per satu satuan
waktu lebih besar. Namun, tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi sehingga
tidak semua tumbukan adalah tumbukan efektif. Untuk tumbukan yang efektif,
spesi reaktan harus (1) prosesnya paling sedikit mengandung energi minimum yang
dibutuhkan untuk mengatur elektron terluar pada pemutusan ikatan dan
pembentukan ikatan dan (2) mempunyai orientasi yang tepat terhadap satu dengan
yang lainnya pada tumbukan tersebut. Tumbukan harus terjadi dalam reaksi kimia,
tetapi tidak menjamin reaksi tersebut akan berlangsung.
Laju suatu reaksi kimia dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya luas
permukaan, suhu, konsentrasi, tekanan dan katalis. Berikut ini penjelasan tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi tersebut.

a. Suhu

Perubahan suhu akan mempengaruhi laju suatu reaksi kimia. Pada umumnya,
kenaikan suhu akan meningkatkan laju reaksi. Jika suhu naik, maka partikel-
partikel zat-zat yang terlibat dalam reaksi akan menyerap kalor (energi),
sehingga energi kinetik partikel-partikel tersebut meningkat. Oleh karena itu,
dengan meningkatnya suhu, maka semakin banyak partikel yang mempunyai
energi kinetik lebih besar dari energi aktivasi. Keadaan ini memungkinkan
terjadinya tumbukan efektif antara partikel-partikel, sehingga reaksi akan
berlangsung lebih cepat.

b. Luas Permukaan

Pada reaksi-reaksi zat padat, luas permukaan zat padat tersebut akan
mempengaruhi laju reaksi.oleh karena itu, luas permukaan zat padat akan
mempengaruhi seberapa cepat reaksi tersebut berlangsung. Zat padat yang
berbentuk serbuk mempunyai luas permukaan yang lebih besar dibandingkan
dengan zat padat dalam bentuk batangan untuk massa zat padat yang sama.

Pada reaksi zat padat yang berbentuk serbuk, setiap bagian zat padat akan segera
bereaksi dengan zat lain pada waktu yang bersamaan karena luas permukaan zat
padat tersebut relatif besar. Sementara itu, pada reaksi zat padat yang berbentuk
batangan atau lempengan, reaksinya akan terjadi pada permukaan zat padat
yang bersentuhan dengan zat lain, sehingga untuk terjadi reaksi pada seluruh
bagian zat padat diperlukan waktu yang cukup lama.
c. Konsentrasi

Pada reaksi-reaksi yang melibatkan larutan, konsentrasi larutan mempengaruhi


laju reaksi suatu zat dengan larutan tersebut. Meningkatnya konsentrasi zat-zat
pereaksi (dalam bentuk larutan) akan meningkatkan frekuensi tumbukan antara
partikel-partikel zat pereaksi tersebut. Hal ini karena dalam larutan pekat, jarak
antara dua buah partikel yang berdekatan relatif rapat, sehingga mudah
bertumbukan. Oleh karena itu, semakin besar konsentrasi suatu larutan, maka
semakin banyak partikel zat terlarut yang terdapat dalam larutan. Jadi apabila
suatu larutan direaksikan dengan zat tertentu, maka zat tersebut akan semakin
mudah bereaksi pada larutan yang pekat.

C. Persamaan Laju Reaksi

Perubahan konsentrasi zat-zat dalam suatu reaksi kimia biasanya


mempengaruhi laju reaksi tersebut. Persamaan laju reaksi menunjukkan pengaruh
tersebut secara matematis. Orde reaksi merupakan bagian dari persamaan laju
reaksi.

Pada dasarnya, terdapat beberapa cara sederhana dalam mengukur laju


reaksi. Salah satunya seperti yang telah anda pelajari dalam pembahasan
sebelumnya. Akan tetapi, cara tersebut hanya digunakan mengukur laju reaksi rata-
rata. Untuk penggunaan yang lebih formal, laju reaksi biasanya diukur pada waktu
tertentu, sehingga laju reaksi tersebut dinamakan laju reaksi sesaat. Dalam hal ini,
konsep laju reaksi sesaat diperlukan karena perhitungan laju reaksi rata-rata
seringkali menghasilkan nilai yang tidak akurat. Jadi persamaan laju reaksi
digunakan untuk menyatakan laju reaksi sesaat dari suatu reaksi kimia. (catatan:
untuk pembahasan selanjutnya, laju reaksi sesaat hanya dinamakan dengan laju
reaksi).

Laju reaksi dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan laju reaksi berdasarkan
konsentrasi zat-zat pereaksi. Pada umumnya, laju reaksi hanya bergantung pada
konsentrasi awal zat-zat pereaksi yang dapat ditentukan melalui percobaan. Untuk
reaksi aA + bB → cC + dD, maka persamaan laju reaksinya dapat dinyatakan
sebagai berikut.

v = k[A]x[B]y
Dimana:
v = laju reaksi
k = tetapan laju reaksi
[A] = konsentrasi pereaksi A
[B] = konsentrasi pereaksi B
x = orde reaksi terhadap A
y = orde reaksi terhadap B
x + y = orde reaksi total
Tetapan jenis reaksi (k) adalah suatu tetapan yang harganya bergantung
pada jenis pereaksi, suhu dan katalis. Setiap reaksi mempunyai harga k tertentu pada
suhu tertentu. Harga k akan berubah jika suhu berubah.

VI. METODE PEMBELAJARAN


Metode pembelajaran : praktikum, diskusi, presentasi, tugas
Model Pembelajaran : Siklus belajar (learning cycle) 5e
Pendekatan : Scientific

VII. MEDIA, ALAT DAN SUMBER BELAJAR


1. Media :
- Lembar kerja siswa (LKS)
- Power Point
2. Alat/Bahan
- Alat dan bahan praktikum
3. Sumber Belajar
Johari, J. M., & Rachmawati, M. (2004). Kimia SMA untuk Kelas XI.
Jakarta: Esis.
Damayanti, C., Kirana, C., Rosyidah, H., Ria, P., Hastuti, P., & Haryanto,
T. (2013). Kimia SMA/MA Kelas XI Semester 1. Semarang: Viva
Pakarindo.
Sudarmo, U. (2013) Kimia untuk SMA/MA Kelas XI. Surakarta: Erlangga.
VIII. LANGKAH PEMBELAJARAN

Langkah-Langkah
Alokasi
Pokok Kegiatan Guru Kegiatan Siswa
Waktu
Pembelajaran
Kegiatan Awal (5 menit)
 Memberikan salam dan mengecek kehadiran siswa  Memberikan salam kepada 5 menit
 Mempersiapkan siswa untuk belajar faktor-faktor yang guru
mempengaruhi laju reaksi.  Menyimak informasi yang
diberikan guru

Kegiatan Inti (75 Menit )


Fase 1 : Engagement  Guru memberikan pertanyaan sebagai apersepsi dan motivasi  Siswa mencatat dan memahami 5 menit
 Apersepsi: “anak-anak minggu lalu kita sudah melaksanakan penyampaian guru, kemudian
praktikum mengenai pengaruh suhu, bagaimana suhu yang lebih menjawab pertanyaan guru.
tinggi dapat mempercepat suatu laju reaksi?”
 Motivasi : “anak-anak pernahkan kalian membandingkan kecepatan
matangnya dari buah pisang yang diberi karbit dengan pisang yang
tidak diberi karbit?
Fase 2 : Exploration  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.  Siswa membentuk kelompok 25 menit

 Guru membagikan LKS kepada siswa yang berisi permasalahan  Siswa menerima LKS yang
terkait pengaruh KATALIS terhadap laju reaksi dan memberikan diberikan oleh guru dan
petunjuk dalam mengerjakan LKS (lampiran 1) mencermatinya.
 Siswa memahami dan
 Guru meminta siswa untuk memahami permasalahan yang disajikan
menghayati permasalahan yang
pada LKS.
disajikan dalam LKS.

 Siswa menyampaikan hipotesis


 Guru meminta siswa memberikan hipotesis pemecahan masalah.
pemecahan masalah.

 Siswa melakukan telusur


 Guru meminta siswa melakukan telusur literatur untuk memecahkan
literature untuk memecahkan
masalah yang diberikan.
permasalahan pada LKS

Fase 3: Explanation  Guru membimbing siswa dalam proses pemecahan masalah.  Siswa menganalisis informasi 20 menit

terhadap ilustrasi masalah tersebut dengan melaksanakan kegiatan dari berbagai literatur yang
praktikum diperoleh, dan melaksanakan
praktikum untuk memecahkan
masalah tersebut
 Guru meninjau kegiatan kelompok dalam mendiskusikan data hasil  Siswa melaksanakan diskusi
investigasi dan praktikum yang telah dilakukan untuk memecahkan dalam kelompok untuk
masalah. membahas data hasil
investigasi dan kegiatan
praktikum yang telah dilakukan
untuk memecahkan masalah.

Fase 4 : Elaboration  Guru meminta siswa untuk menyajikan laporan hasil pemecahan  Masing-masing kelompok 20 menit

masalahnya siswa mempersentasikan hasil


penyelidikan dan diskusi
mereka di depan kelas terkait
pengaruh Katalis terhadap laju
reaksi. Siswa memahami
konsep-konsep esensial yang
disampaikan.
 Siswa lain, memberikan
 Guru membimbing kegiatan diskusi kelas
pertanyaan, dukungan atau
sanggahan atas laporan hasil
pemecahan masalah
 Guru memperbaiki konsep-konsep siswa yang masih salah dan  Siswa memperhatikan dan
memberikan penekanan pada konsep-konsep esensial tentang ikatan mencatat konsep-konsep
kimia dan aplikasinya pada teknologi. esensial yang diberikan oleh
guru.

Fase 5 Evaluation  Guru memberikan quiz atau tes kecil untuk menguji tingkat  Siswa mengerjakan soal quiz 5 menit

pemahaman siswa tentang pengaruh katalis terhadap laju reaksi. yang diberikan oleh guru

Kegiatan Penutup (10 menit)

 Guru memberi kempatan pada siswa untuk menyimpulkan inti  Beberapa siswa menyimpulkan 10 menit
pelajaran. inti pelajaran.

 Guru meminta siswa untuk mempelajari materi selanjutnya  Siswa memperhatikan.


mengenai reaksi penetralan asam-basa.  Siswa menjawab salam guru.
 Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam.
IX. PENILAIAN
1. Aspek yang dinilai
- Kognitif : skor hasil belajar
- Sikap : sikap siswa di kelas dan di sekolah
- Keterampilan : aktivitas pada saat pelaksanaan praktikum
2. Instrumen penelitian
- Kognitif : Tes kecil (quiz)
- Afektif : Rubrik Penilaian Afektif
- Psikomotor : Rubrik Penilaian Psikomotor

Mengetahui Singaraja, ……………………………


Kepala Sekolah SMA Negeri….. Guru Mata Pelajaran Kimia

………………………………..
NIP. ……………………………… ……………………………………..
NIP………………………………..
Lampiran 1. LKS berbasis PBL

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

Materi pokok : Laju Reaksi


Kelas : XI
Semester :1
Waktu : 2 x 45 menit

I. Konsep-konsep esensial:
- Laju Reaksi
- Pengaruh Katalis terhadap Laju Reaksi
II. Rumusan Problem
a. Bacalah wacana di bawah ini!

Ketika hari raya Galungan dan Kuningan tiba, Ketut Sari bertugas
menyiapkan banten yang akan digunakan sebagai sarana upacara yang dihaturkan
kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Dua hari sebelum hari raya Galungan, Ketut
Sari membeli buah-buah yang digunakan dalam banten upacara seperti buah apel,
mangga, rambutan, pisang dan lain-lain. Namun sayang buah pisang yang dia beli
masih sangat muda untuk digunakan sebagai banten dan dalam waktu dua hari
pisang tersebut mustahil bisa matang dengan cepat. Untuk mengatasi hal tersebut
maka Ketut Sari membeli karbit yang digunakan sebagai alternatif agar buah pisang
yang dia beli bisa matang lebih cepat dalam waktu dua hari. Sesampainya di rumah
dia menyiapkan kantong plastik untuk digunakan membungkus pisang dan karbit.
Dia meletakkan pisang kedalam plastik kemudian menempatkan karbit di sela-sela
pisang tersebut. Kemudian Ketut Sari menutup rapat-rapat kantong plastik tersebut
agar tidak ada udara masuk kedalam kantong plastik yang didalamnya terdapat buah
pisang dan karbit. Dua hari kemudian, Ketut Sari membuka kantong plastik tersebut
dan pisang yang semulanya belum matang (kulit pisang berwarna hijau) berubah
menjadi pisang yang sudah matang (kulit pisang berwarna kuning). Akhirnya buah
pisang yang sudah matang tersebut dapat digunakan sebagai banten.

III. RUMUSAN MASALAH

Buatlah rumusan masalah berdasarkan pengamatan terhadap permasalahan


di atas!

a. Carilah penjelasan dari berbagai sumber mengenai konsep-konsep


yang harus diketahui!

 Hipotesis
Berdasarkan informasi yang disajikan, maka buatlah hipotesis anda!
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................

 Mengumpulkan Data
3. Rancangan Kegiatan Eksperimen untuk Uji Hipotesis
Alat dan Bahan Alat dan bahan percobaan yang diperlukan untuk
Percobaan pengujian hipotesis adalah:

Langkah Kerja Langkah kerja yang dilakukan untuk memecahkan


masalah tersebut, yaitu:
 Analisis Data
Setelah melakukan eksperimen, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................
 Simpulan
Berdasarkan hasil eksperimen, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
............................................................................................................................
............................................................................................................................
............................................................................................................................
............................................................................................................................
............................................................................................................................
......................................................................
Lampiran 2

Soal Post Test

Jawablah soal-soal dibawah ini dengan tepat!

1. Apakah yang dimaksud dengan karbit dan unsur – unsur apa saja yang ada dalam
karbit?
2. Reaksi yang terjadi ketika karbit dan udara bereaksi ?
3. Mengapa dari reaksi yang terjadi antara karbit dan udara (dalam kondisi tertutup)
dapat mempercepat proses pematangan buah ?
4. Jelaskan bagaimana karbit dapat bersifat sebagai katalis?
Pembahasan
1. Karbit atau Kalsium karbida adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CaC2.
Senyawa murninya tidak berwarna, tetapi kalsium karbida yang biasanya
digunakan warnanya adalah abu-abu atau coklat dengan kandungan CaC2 hanya
sekitar 80-85% (sisanya adalah CaO, Ca3P2, CaS, Ca3N2, SiC, dan lain-lain).
2. Reaksi yang terjadi
CaC2 + 2 H2O → C2H2 + Ca(OH)2
3. Karbit atau kalsium karbida (CaC2) yang bila terkena air/uap yang mengandung
air akan menghasilkan gas asetilin (tidak alami) yang menghasilkan panas dan
berfungsi sama seperti etilin sehingga buah cepat matang, dengan cara buah
ditempatkan di tempat tertutup.
4. Katalis adalah zat yang dapat mempercepat reaksi. Dalam hal ini karbit sebagai
katalis yang membantu mempercepat proses pematangan pada buah sehingga
buah yang awalnya masih mentah ketika diberikan karbit pada ruang tertutup
akan menjadi lebih cepat matang
Lampiran 3

Rubrik Afektif

Sikap

Hormat pada orang tua


Ramah dengan teman
Ketekunan belajar

Tanggung jawab
Menepati janji

Nilai rata-rata
No

Tenggng rasa
Keterbukaan

Kedisplinan

Kepedulian
Kerjasama

Kejujuran
Kerajinan

Nama
1

10

dst

Sikap untuk masing-masing sikap di atas dapat berupa angka. Pada setiap akhir
skor tersebut dikomulatifkan, kemudian dikonversikan ke dalam bentuk kualitatif. Skala
penlaian sikap dibuat dengan rentang antara 1 sampai dengan 5. Penafsiran angka-angka
tersebut antara lain: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, dan 5 = amat baik.
Sedangkan untuk penilaian minat dapat menggunakan skala bertingkat dengan rentangan 1
sampai dengan 4 tergantung pertanyaan atau pertanyaan yang telah ditetapkan.
Lampiran 4

Rubrik Psikomotor

RUBRIK PENILAIAN DISKUSI KELOMPOK

Skor kelompok
No. Indikator dan gradasi kualitas performance
1 2 3 4 5
1. Aktivitas siswa dalam kelompok
5 = Aktivitas siswa > 80% mengarah pada sasaran
dan seluruh waktu dimanfaatkan secara
optimal
4 = Aktivitas siswa 61-80 % mengarah pada
sasaran, tetapi agak lambat.
3 = Aktivitas siswa 41-60% mengarah pada sasaran
tetapi lambat
2 = Aktivitas siswa 21-40% kurang mengarah pada
Sasaran
1 = Aktivitas siswa <20 % sangat menyimpang
dari sasaran diskusi
2. Penyampaian pendapat
5 = Menyampaikan pendapat dengan jelas, tegas,
dan Benar
4 = Menyampaikan pendapat dengan jelas, tidak
tegas, dan benar
3 = Menyampaikan pendapat dengan tidak jelas,
tidak tegas, dan benar
2 = Menyampaikan pendapat dengan tidak benar
1 = Tidak menyampaikan pendapat sama sekali
3. Diskusi dan memecahkan masalah
5 = Siswa aktif dalam diskusi dan dapat
memecahkan suatu permasalahan dengan
memberikan alasan-alasan yang tepat
4 = Siswa aktif dalam diskusi namun kurang dapat
memecahkan suatu permasalahan dengan
memberikan alas an-alasan yang tepat
3 = Siswa cukup aktif dalam diskusi dan kurang
dapat memecahkan suatu permasalahan dengan
memberikan alas an-alasan yang tepat
2 = Siswa kurang aktif dalam diskusi dan tidak
dapat memecahkan suatu permasalahan dengan
memberikan alas an-alasan yang tepat
1 = Siswa sama sekali tidak terlibat dalam diskusi
Indikator dan Gradasi Indikator No absen Siswa
Skor
Aktivitas/Kemampuan yang Teramati
4 Interaksi siswa dengan guru
Menjawab dengan benar dan/ atau tepat semua pertanyaan
4 guru dan menanyakan > 75% masalah keraguan siswa
kepada guru
Menjawab > 75 % benar dan/ atau tepat semua pertanyaan
3 guru dan menanyakan 51- 75% masalah keraguan siswa
kepada guru
Menjawab minimal 51% benar pertanyaan guru dan
2
menanyakan 51-75% masalah keraguan siswa kepada guru
Menjawab 26-50% benar pertanyaan guru atau
1
menanyakan 26-50% masalah keraguan siswa kepada guru
Menjawab < 25 % benar pertanyaan guru atau menanyakan
0
> 25% masalah keraguan siswa kepada guru
5 Interaksi siswa dengan siswa
Siswa aktif berinteraksi belajar dan > 75% solusi/
4
konsepsi dibangun dari masukan siswa-siswa.
Siswa aktif berinteraksi belajar dan 51-75% solusi/
3
konsepsi dibangun dari masukan siswa-siswa.
Siswa aktif berinteraksi belajar minimal 51% solusi/
2
konsepsi dibangun dari masukan siswa-siswa.
Siswa kurang aktif berinteraksi belajar atau 26-50%
1
solusi/ konsepsi dibangun dari masukan siswa-siswa.
Siswa tidak aktif berinteraksi belajar atau ≤ 25% solusi/
0
konsepsi dibangun dari masukan siswa-siswa.
6 Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi pembelajaran
Siswa menyimpulkan materi secara mandiri dan tepat
4
serta proaktif menyempurnakan simpulan teman/guru.
Siswa menyimpulkan materi secara mandiri dan tepat
3
serta aktif menyempurnakan simpulan teman/guru.
Siswa menyimpulkan materi secara mandiri namun
2 kurang tepat atau aktif menyempurnakan simpulan
teman/guru.
Siswa kurang mampu menyimpulkan materi secara
1 mandiri atau kurang aktif menyempurnakan simpulan
teman/guru.
Siswa tidak mampu menyimpulkan materi secara mandiri
0
dan tidak aktif menyempurnakan simpulan teman/guru.