Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

LOGIKA SAINTIFIKA
Dengan Judul:
PENGERTIAN, MACAM-MACAM DAN SYARAT DEFINISI
Diajukan untuk memenuhi tugas Dosen: Dr. Hasan Mustafa,S.Fil.l, M.Si

Disusun oleh:
Denisa Mediana
Neng Tusy Alawiyah
Nisfia Rohmatunnisa
Lely Mukti Lestari
Rosi Aryani

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SABILI


BANDUNG
2018
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiran Tuhan yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
lingkungan-nya. Akhirnya makalah ini kami selesaikan dengan lancar. Makalah
ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Logika Saintifika. Selain itu
kami menyusun makalah ini untuk menambah wawasan dan dapat memahaminya.
Mugkin makalah yang kami buat ini belum sempurna karena kami juga
masih dalam tahap belajar, oleh karena itu kami nerima saran ataupun kritikan
dari segala pihak agar makalah selanjutnya bisa lebih baik dari sebelumnya.
Dalam makalah ini saya membahas tentang “Pengertian, Macam-macam, dan
Syarat Definisi” semoga makalah yang kami buat ini bisa bermanfaat bagi
pembaca.
Demikian makalah yang kami susun dan jika ada tulisan atau perkataan
yang kurang berkenan (sopan) kami mohon maaf sebesar-besarnya, semoga
makalah ini bermanfaat buat pembaca.

Garut , 5 Agustus 2018


BAB I
PENDAHULUANAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Berfikir merupakan aktivitas manusia untuk menemukan pengetahuan
yang benar, sedang kebenaran itu tidaklah persis sama pada setiap individu. Maka
setiap jalan pikiran manusia memiliki kriteria kebenaran yang berfungsi sebagai
landasan proses penemuan kebenaran tersebut,dan setiap penalaran mempunyai
kriteria kebenarran masing-masing.
Pengertian di jadikan sebagai untuk penagkapan esensi objek (yang di
mengerti). Penalaran manusia mempunyai ciri utama sebagai suatu pola berfikir
yang secara luas disebut logika. Dalam mempelajari pola berfikir yang luas dalam
logika itulah di butuhkan terlebih dahulu tentang apa itu logika, pengertian,
macam-macam dan syarat definisi karena hal ini akan membantu dasar pemikiran
yang berdasarkan penalaran yang logis dan kritis. Selain berguna sebagai sarana
ilmu penalaran yang logis dan kritis ini juga yang nantinya akan membantu
pemahaman bagi semua ilmu, karena penalaran yang logis, kritis dan sistematis
inilah yang menjadi salah satu syarat sifat ilmiah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang di maksud dengan pengertian dalam logika ?
2. Apa macam-macam pengertian dalam logika ?
3. Bagaimana Syarat-syarat definisi ?

1.2 TUJUAN PENULIS


Dalam pengembangan dan penggunaanya bahwa belajar tentang Ilmu
logika sangat penting agar setiap manusia dapat berfikir dengan tepat dan masuk
akal, sehingga mampu menggambarkan suatu objek dan daya analisis untuk
mengambil sebuah keputusan, memiliki pemikiran yang luas tidak terpacu dalam
satu arah pemikiran.
BAB II
PEMBAHASAN
3.1 ARTI LOGIKA
Dardiri mengemukakan, bahwa perkataan “logika”yang di sebut juga
dengan istilah “mantiq”, di turunkan dari kata sifat ”Logike”, bahasa Yunani,
yang berhubungan dengan kata benda “Logos”, yang berarti pikiran arau
perkataan sebagai pernyataan dari pikiran itu 1. Berpikir artinya menggunakan
akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu2. Kata pengartian
berarti proses, cara, perbuatan memberi arti3. Dengan demikian maka logika
merupakan hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan
dinyatakan dalam bahasa. Logika dengan demikian bersangkut paut dengan
pengetahuan tentang kaidah berpikir. Kaidah berpikir artinya rumusan asas-asas
yang menjadi hukum atau aturan yang tentu yang menjadi patokan dalam berpikir.
Dengan kata lain logika adalah ajaran tentang berfikir tertib dan benar,
atau perumusan lebih teliti, ilmu penarikan kesimpulan dan penalaran tanpa
meninggalkan keabsahan. Logika tidak menelaah urutan berfikir sebagai gejala
psikologi dan tidak pula mempersoalkan isi pemikiran, tetapi mempermasalahkan
tata tertib yang harus menjadi panutan jalan pemikiran agar memperoleh hasil
yang benar.

3.2 PENGERTIAN
Pengertian adalah hasil penagkapan esensi objek (yang di mengerti).
Maka, mengerti berarti menagkap hakikat objek.4 Istila pengertian ini dalam kitab
mantiq di sebut ta’rif.5
Lebih jauh Dardiri mengemukakan bahwa pengertian dapat di sebut juga
“idea” berasal dari kata “ideos” yang ari sebenarnya adalah gambar. Gambaran
akal budi yang abstrak, yang batiniah, tentang sesuatu sebagaimana dimaksudkan
di atas disebut juga konsep.

1
Dardir ,Humaniora Filsafat dan Logika. (Jakarta: Rajawali, Cet,1986), h.26.
2
Ibid. hal.682
3
Ibid. hal.49.
4
Dardiri,Humaniora….., h.29.
5
Mu”in, Ilmu Mantiq, h.57.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia konsep didefinisikan sebagai:
1. Rancangan atau buram surat dsb.,
2. Ide atau pengertian yang diabstrakan dari peristiwa kongkret,
3. Gambaran mental dari obyek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa,
yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain6.
Wilayah dan Isi pengertian.
Isi pengertian ialah semua unsur yang termuat di dalam pengertian itu7.
Ada rumusan filsafat kuno yang menyatakan demikian: “Makin banyak isi
pengertian, makin sempit wilayahnya”8. Dapat di tegas kan bahwa ‘isi pengertian’
menunjuk pada syarat-syarat/ sifat-sifat/kriteria (aspek kualitas). Sedangkan
wilayah pengertian mereferensi pada jumlah individu/subjek yang dapat di
masukan di dalamnya (aspek kuantitas).
Dapat di ambil contoh tentang pengertian Mahasiswa STAI Sabili. Apabila
kalimat itu diuraikan maka akan terdiri dari unsur-unsur mahasiswa dan STAI
Sabili. Kata mahasiswa terdiri dari unsur: manusia-dewasa yang melanjutkan
pendidikan-di sekolah tinggi-yang bernama STAI Sabili-yang terletak di
Bandung, apabila kata itu diurai maka di dalamnya akan terdapat sejumlah unsur
yang memuat isi pengertian yang relevan.
Semakin banyak sifat-sifat yang di cantumkan dalam pengertian, maka
semakin sempit wilayah pengertian itu sebab semakin sempit individu (mahasiswa
dengan menunjukan contoh di atas)yang dapat di masukan dalam pengertian itu;
mahasiswa yang dewasa yang melajutkan pendidikan di sekolah tinggi

2.3 MACAM-MACAM PENGERTIAN


Poejawijatna mengemukakan bahwa dalam meninjau isi penegrtian,
jelaslah bahwa pengertian memang tidak identic dengan kata. Oleh arena itulah,
maka ada satu kata saja yang memang mennjuk satu pengertian, tetapi isinya
banyak sekali misalnya penegrtian ‘manusia’ (sepatah kata) tetapi sebagai

6
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Op, Cit. hal 456.
7
Poespoprodjo dan EK. T Gilars. Op.Cit.hal 52.
8
Poejawijatna, Logika ….., h.33.
pengertian, isi nya banyak: yaitu ‘sesuatu yang hidup sensitif dan rasional’.
Sedangkan ‘binatang’ (juga sepatah kata), isinya kurang dari isi manusia9.

1. Pengertian Universal
Penegrtian Universal (Umum) adalah pengertian yang mewilayahi
terhadap semua dan tiap–tipa dalam macamnya. Ini berarti bahwa manusia, dalam
menghadapi realitas tertentu, hanya memperhatikan sifat atau aspek yang terdapat
pada hal termasuk dalam macaam realitas, dan dari itu kemudian umum. Sifat
tersebut umum, karena harus terdapat pada realitas tersebut, sehingga sifat itu
mutlak. Misalnya: jika realitas yang di tunjuk dengan penegrtian ‘manusi’ maksud
manusia itu tidak lain adalah manusia kongkrit dengan segala aspeknya tetapi
aspek-aspek yang membedakan manusia satu dengan manusia yang lainya itu
sekarang ini tidak di perhatikan apa yang di perhatikan adalah sifat yang
menyamakan satu dengan lainya.
Penegrtian universal inilah yang seringkali di pakai dalam ilmu-ilmu
dalam banyak putusan merupaka hukum ilmu. Tujuan nya ilmu diantaranya
adalah usaha untuk menciptakan hukum yang umumdalam memberikan
penjelasan ilmiah.

2. Pengertian Partikular
Pengertian partikular adalah pengertian dalam putusan yang tidak umum
mutlak.Penegrtian ini tidak berlaku pada semua dan tiap-tiap pada macamnya.
Mengenai pengertian patikular ini menunjuk pada yang berlaku banyak atau
sedikit, bukan masalah.di sini letak perbedaannya dengan pengertian universal.
Dalam praktiknya, seringkali benar bahwa penegertian partikular ini di
anggap sebagai penegrtian universal. Apabila seseorang berkata kepada gadis
sunda, misalnya:”Anda gadis sunda, tidak dapat menari jaipong, mana
mungkin?”dengan maksud bahwa mustahil seorang gadis sunda tidak dapat
menari jaipong. Sebab gadis sunda dianggapnya pasti dapat menari jaipong. Akan
tetapi keharusan dan kepastian tidak mutlak umum. Kepastiannya amat tidak pasti
, ada dan banyak juga gadis sunda tidak dapat menari jaipong. Dalam putusan

9
Ibid.
:’gadis sunda dapat menari jaipong’, pengertian ‘gadis sunda’ ini hanya penegrtian
partikular. Anggapan bahwa tiap-tiap dan semua gadis sunda dapat menari
jaipong, keliru: yang hanya partikular dianggap universal. Secara logis harus di
katakana, bahwa wilayah penegrtian partikular tidak seluas penegrtian universal.

2.3 DEFINISI
1. Pengertian Definisi
Definisi berasal dari kata latin definire yang berarti yang berate menandai
batas-batas pada sesuatu, menentukan batas, memeberi ketentuan atau batasan
arti. Jadi maksud dari definisi adalah sebuah pernyataan yang memuat penejelasan
tentang arti suatu trem (istilah). Dan definisi terdiri dari: bagian pangkal
(definiendum) yaitu sebuah istilah yang harus di beri penjelasan, dan bagian
pembatas (definiens) yaitu sebagai uraian menegenai arti dari bagian pangkal.
Contoh: manusia adalah mahluk berakal, dalam definisi tersebut manusia adalah
definiendum dan makhluk berakat adalah definiens. Dalam mantiq definisi tedin
sebut “ta’rif bin al-bada”, dan ta’rif ini merupakan bagian dari ta’rif baqiqi10.
Definisi secara etimologi adalah sebuah usaha untukmemberikan batasan
terhadap sesuatu yang di kehendaki seseorang sehingga ia dapat di pahami oleh
orang lain. Dengan kata lain, memberikan definisi adalah menjelaskan sebuah
materi yang hakikatnya mungkin dapat di bahas para cendikiawan.
Definisi secara termiologi adalah suatu yang menguraikan mkna lafadz
kulli dan menjelaskan karakteristik khusus pada diri individu. Dan penulis
memberikan penegertian definisi sebagai pengurai makna lafadz kuill, karena
lafadz laz’i tidak mempunyai peegrtian terminologi dengan adanya perubahan
karakteristik yang konsisten menyertainya.
Dan lebih jelasnya definisi adalah perumusan yang singkat, padat, jelas
dan tepatyang mampu menerangkan apa yang sebenernya penegrtian dari suatu
hal itu sehingga dapat di mengerti dan di bedakan dengan jelas dari semua hal
yang lainya.

10
Mu’in, Ilmu Mantiq,h. 59-60.
2. Macam-Macam Definisi.
1) Definis nominal (ta’rif lafz), dalam fiqih sering di gunakan istilah makna
lugbawi); yaitu pembatasan penerangan nama (identitas), yang biasanya di
pinjam dari bahasa asing. Kemudian definisi ini di kenal oleh pembaca
(pendengar). Missal kata ‘hadith’ (bahasa arab) di terangkan dengan ‘ucapan’,
dan kata ‘nagasari’ (bahasa jawa)terdiri dari kata-kata ‘naga’ (ular besar) dan
‘sari’ (bunga). Kalaupun ternyata nagasari itu nama makanan yang
berunsurkan ular besar dan bunga, tidak menjadi urusan definisi ini.
Definisi nominal tidak memberi banyak manfaat untuk menangkap pengertian,
kecuali hanya membantu ke arah pengertian. Secara jelas perlu di lanjutkan
pada macam definisi berikutnya.
2) Definisi Real (ta’rif bi al had), dalam fiqih sering di gunakan istilah makna
istilah: yakni pembatasan yang mencoba mendekati pengertian realitas, dan
dengan demikian hendak penegrtian yang jelas, sehingga terhindar darinya
kesalahpahaman.
Pembatasan inilah yang sesungguhnya diperlukan dalam ilmu dalam
hubungannya dengan objektivitas unuversalitas ilmiah.

3. Syarat-Syarat Definisi
Empat syarat berikut merupakan syarat pokok bagi pembuatan definisi.
1. Jami’ (Inclusief); yakni pembatasan harus meliputi seluruh sifat-sifat atau
aspek-aspek sesuatu yang di definisikan.
2. Mani’ (Eklusief); yaitu pembatasan harys menolak segala sesuatu yang lain
dar pada sesuatu yang di definisikan.
3. Pembatasan tidak mengakibatkan kemustahilan (imposibilitas) seperti definisi
yang mengandung daur tasalsul atau berkumpulnya dua hal yang bertentangan
sebagaimana contoh-contoh berikut;
a) Contoh daur
A melahirkan B, B melahirkan C dan C melahirkan A.
b) Contoh tasalsul
Segala sesuatu ada sebab dan akibat, kalau ini tidak di akhiri dengan
sebab yang pertama, maka tidak aka nada habidnya.
c) Contoh berkumpulnya dua hal yang bertentangan:
Suatu angka di katakana ganjil dan genap Sekaligus.
Seorang lelaki di katakan wanita sekaligus.
Seseorang di katakana berdiri dan duduk.
4. Pembatasan harus lebih jelas daripada sesuatu yang di definisikan dan mudah
di terima akal, karena, jika tidak demikian, tujuan defiinisi tidak akan tercapai
karena tujuan definisi adalah menerangkan gambaran sesuatu agar jelas
hakikatnya.

Dua syarat pokok definisi (nomor 1 dab 2)tersebut di atas, oleh al-Farabi
diringkas dengankata kunci “jami’-mani”. Sementara itu, syarat-syarat berikut
merupakan syarat-syarat sekunder.
1. Definisi bersih dari kesalahan-kesalahan tata bahasa.
Misalny: adanya subjek dan objek sifat dan yang disifati, dan lainnya.
2. Definisi dan yang di definisikan harus dapat di balik.
Misalnya: “segitiga adalah bidang yang di batasi oleh garis tiga”. Sebab
berlaku juga bila di kataan “bidang yag di batasi oleh garis tiga adalah
segitiga”.
3. Kata (yang menunjukan pengertian) yang harus didefinikan tidak boleh
diulangi dalam definisi.
Misalnya:logika ialah pengetahuan yang mempelajari masalah-masalah logika.
4. Definisi tidak boleh memberikan kata-kata yang searti.
Misalnya; “materi ialah bahan”
5. Sedapat mungkin definisi tidak berupa bentuk ingkar.
Misalnya: “ manusia adalah bukan tumbuh-tumbuhan “.
Contoh ini juga bertentangan dengan syarat kedua, karena tidak dapat dibalik.
6. Definisi harus menggunkan kata-kata yang jelas artinya.

4. Contoh Operasionalisasi Penyusunan Definisi


Di bawah ini penulis berikhtiar untuk memberikan resep praktis yang
sederhana berupa langkah-langkah penyusunan definisi. Ada dua langkah praktis
penyusunan definisi pertama ambilah genus terdekat. Kedua, berikan sifat-sifat
lengkap (primer) yang di perlukan. Anatara kaya yang di definisikan da nisi
definisi dihubungkan oleh kata”adalah” atau “ialah” , hanya untuk membedakan
antara definisi dan non definisi. Untuk non-definisi, dapat di gunakan kata
“merupakan” atau sejenisnya.
Contoh 1:
- Masjid (kata yang di definisikan)
- Adalah (Penghubung)
- Tempat ibadah (genus terdekat)
- Bagi umat islam (sifat primer)

Contoh 2:
- Bendera (kata yang di definisikan)
- Adalah (penghubung)
- Identitas Idealisme (genus terdekat)
- Di ekspresikan dalam bentuk gambar (sifat primer)
- Beralas kain atau sejenisnya yang
dapat Di kibarkan (sifat primer)
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Huda,Sokhi.