Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

Kehamilan ektopik terjadi apabila hasil konsepsi berimplantasi, tumbuh dan

berkembang di luar endometrium normal. Kehamilan ektopik ini merupakan kehamilan yang

berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubungan dengan besarnya kemungkinan

terjadi keadaan gawat. Keadaan gawat ini dapat terjadi apabila Kehamilan Ektopik Terganggu

(KET) dimana terjadi abortus maupun ruptur tuba. Abortus dan ruptur tuba menimbulkan

perdarahan ke dalam kavum abdominalis yang bila cukup banyak dapat menyebabkan

hipotensi berat atau syok. Bila tidak atau terlambat mendapat penanganan yang tepat

penderita akan meninggal akibat kehilangan darah yang sangat banyak.

Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (95%) terutama di

ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun uterus.

Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit radang

panggul, pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi

dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas,

kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi.

Menurut WHO (2007), kehamilan ektopik mengakibatkan sekitar 5% kematian ibu

pada negara-negara berkembang.Berdasarkan data Centers for Disease Control and

Prevention, insiden rate kehamilan ektopik di Amerika Serikat pada tahun 1990-1992

diperkirakan 19,7/1000 kehamilan dan pada tahun 1997-2000 mengalami peningkatan lagi

menjadi 20,7/1000 kehamilan. Kejadian kehamilan ektopik tidak sama di antara senter

pelayanan kesehatan. Di Indonesia kejadian sekitar 5-6 per seribu kehamilan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kehamilan Ektopik Terganggu 1


2.1 DEFINISI
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/nidasi/ melekatnya buah
kehamilan di luar tempat yang normal, yakni di luar rongga rahim. Sedangkan yang disebut
sebagai kehamilan ektopik terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami
abortus ruptur pada dinding tuba.

2.2 EPIDEMIOLOGI
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 25-35 tahun.
Lebih dari 60% kehamilan ektopik terjadi pada wanita 25-35 tahun dengan sosio-ekonomi
rendah dan tinggal didaerah dengan prevalensi gonore dan prevalensi tuberkulosa yang
tinggi. Pemakaian antibiotik pada penyakit radang panggul dapat meningkatkan kejadian
kehamilan ektopik terganggu.Antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang
mengalami infeksi tetapi perlengketan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltik tuba
terganggu sehingga menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampula ke rahim dan
berimplantasi ke tuba.
Penelitian Cunninghamdi Amerika Serikat melaporkan bahwa kehamilan ektopik
terganggu lebih sering dijumpai pada wanita kulit hitam dari pada kulit putih karena
prevalensi penyakit peradangan pelvis lebih banyak pada wanita kulit hitam. Selain itu,
Cunninghamdalam bukunya menyatakan bahwa lokasi kehamilan ektopik terganggu paling
banyak terjadi di tuba (90-95%), khususnya di ampula tuba (78%) dan isthmus (2%). Pada
daerah fimbrae (5%), intersisial (2-3%), abdominal (1-2%), ovarium (1%), servikal (0,5%).
Menurut penelitian Abdullah dan kawan-kawan (1995-1997) ternyata paritas 0-3
ditemukan peningkatan kehamilan ektopik terganggu. Pada paritas >3-6 terdapat penurunan
kasus kehamilan ektopik terganggu.
2.3 ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO

Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar
penyebabnya tidak diketahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya menjelaskan beberapa
faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu:

1. Faktor mekanis: hal-hal yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan ovum yang dibuahi
ke dalam cavum uteri, antara lain:

a) Salpingitis, terutama endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi silia lipatan mukosa


tuba dengan penyempitan saluran atau pembentukan kantong-kantong buntu.
Kehamilan Ektopik Terganggu 2
Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai akibat infeksi juga menyebabkan implantasi hasil
zigot pada tuba fallopi

b) Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/ infeksi paska nifas, appendisitis, atau
endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba atau penyempitan lumen

c)Kelainan pertumbuhan tuba, terutama divertikulum, ostium asesorius dan hipoplasi. Namun
ini jarang terjadi

d)Bekasoperasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan usaha untuk
memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi.

e) Tumor yang merubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya benjolan pada adneksa

f) Penggunaan IUD

2. Faktor Fungsionalyaitu perubahan motilitas tuba yang berhubungan dengan faktor


hormonal dan defek fase luteal.

Faktor risiko kehamilan ektopik adalah :

Faktor riwayat kehamilan ektopik sebelumnya

Risiko paling besar untuk kehamilan ektopik. Angka kekambuhan sebesar 15% setelah
kehamilan ektopik pertama dan meningkat sebanyak 30% setelah kehamilan ektopik kedua.

1. Faktor penggunaan kontrasepsi spiral dan pil progesteron


Kehamilan ektopik meningkat apabila ketika hamil, masih menggunakan kontrasepsi
spiral (3 – 4%). Pil yang mengandung hormon progesteron juga meningkatkan kehamilan
ektopik karena pil progesteron dapat mengganggu pergerakan sel rambut silia di saluran
tuba yang membawa sel telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi ke dalam rahim.
2. Faktor kerusakan dari saluran tuba
Telur yang sudah dibuahi mengalami kesulitan melalui saluran tersebut sehingga
menyebabkan telur melekat dan tumbuh di dalam saluran tuba. Beberapa faktor risiko
yang dapat menyebabkan gangguan saluran tuba diantaranya adalah :
 Merokok : kehamilan ektopik meningkat sebesar 1,6 – 3,5 kali dibandingkan wanita
yang tidak merokok. Hal ini disebabkan karena merokok menyebabkan penundaan

Kehamilan Ektopik Terganggu 3


masa ovulasi (keluarnya telur dari indung telur), gangguan pergerakan sel rambut silia
di saluran tuba, dan penurunan kekebalan tubuh.
 Penyakit Radang Panggul : menyebabkan perlekatan di dalam saluran tuba, gangguan
pergerakan sel rambut silia yang dapat terjadi karena infeksi kuman TBC, klamidia,
gonorea
 Endometriosis tuba : dapat menyebabkan jaringan parut di sekitar saluran tuba
 Tindakan medis : seperti operasi saluran tuba atau operasi daerah panggul,
pengobatan infertilitas seperti bayi tabung, menyebabkan parut pada rahim dan
saluran tuba
 Penyempitan lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing
 Tuba sempit, panjang dan berlekuk-lekuk
 Gangguan fungsi rambut getar ( silia ) tuba
 Operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna
 Divertikel tuba dan kelainan kongenital lainnya
 Perleketan peritubal dan lekukan tuba
 Tumor lain menekan tuba
3. Faktor uterus
 Tumor rahim yang menekan tuba
 Uterus hipoplastis
4. Faktor ovum
 Migrasi eksterna dari ovum
 Perlengketan membrane granulose
 Rapid cell devision
 Migrasi internal ovum
2.4 KLASIFIKASI
Klasifikasi kehamilan ektopik berdasarkan lokasinya antara lain:
a. Tuba fallopi (95%)
1. Pars intertisialis (2%)
Karena dinding agak tebal, dapat menahan kehamilan sampai 4 bulan atau lebih,
kadang kala sampai atem. Kalau pecah dapat menyebabkan perdarahan yang
banyak dan keluarnya janin dalam rongga perut.

2. Isthmus (25%)
Dinding tuba di sini lebih tipis, biasanya pada kehamilan 2-3 bulan sudah pecah.

Kehamilan Ektopik Terganggu 4


3. Ampulla (55%)
Dapat terjadi abortus atau ruptur pada kehamilan 1-2 bulan.

4. Infundibulum
5. Fimbriae (17%)
Dapat terjadi abortus atau ruptur pada kehamilan 1-2 bulan.

b. Uterus (jarang)
1. Kanalis servikalis
2. Divertikulum
3. Kornu
4. Tanduk rudimenter
c. Ovarium (0,5%)

d. Intraligamenter (jarang)

e. Abdominal (kira-kira 1/15000 kehamilan)

1. Primer, dengan implantasi awal zigot di luar tuba (pada hati)

2. Sekunder, karena ekspulsi atau ruptur kehamilan tuba

f. Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus (heterotopik), terjadi 1/17000-30000


kehamilan.

Gambar 1. Klasifikasi Kehamilan Ektopik


2.5 PATOGENESIS
Pada proses awal kehamilan, apabila embrio tidak bisa mencapai endometrium untuk
proses nidasi, maka embrio dapat tumbuh di saluran tuba dan kemudian akan mengalami

Kehamilan Ektopik Terganggu 5


beberapa proses seperti pada kehamilan pada umumnya. Karena tuba bukan merupakan
medium yang baik untuk pertumbuhan embrio atau mudgah, maka pertumbuhan dapat
mengalami perubahan dalam bentuk berikut ini:

1. Hasil konsepsi mati dini dan direabsorbsi


Pada implantasi secara kolumner, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi
kurang dengan mudah terjadi reabsorbsi total. Dalam keadaan ini penderita tidak
mengeluh apa-apa dan haidnya terlambat untuk beberapa hari.
2. Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh villi koriales
pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut
bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi sebagian
atau seluruhnya. Bila pelepasan menyeluruh, mudigah dan selaputnya dikeluarkan dalam
lumen tuba dan kemudian didorong oleh darah ke arah ostium tuba abdominal. Perdarahan
yang berlangsung terus menyebabkan tuba membesar dan kebiru-biruan (hematosalping)
dan selanjutnya darah mengalir ke rongga perut melalui ostium tuba berkumpul di kavum
douglas dan akan membentuk hematokel retrouterina.

Gambar 1. Abortus Tuba

Kehamilan Ektopik Terganggu 6


3. Ruptur dinding tuba
Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada
kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstisialis terjadi pada kehamilan lebih
lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur adalah penembusan vili koriales ke dalam
lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur dapat terjadi spontan atau karena
trauma ringan. Darah dapat mengalir ke dalam rongga perut melalui ostium tuba
abdominale. Bila ostium tuba tersumbat, ruptur sekunder terjadi. Dalam hal ini, dinding
tuba telah menipis oleh invasi trofoblas, pecah karena tekanan darah dalam tuba. Kadang
ruptur terjadi di arah ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter antara 2
lapisan ligamentum tersebut.Jika janin hidup terus dapat terjadi kehamilan intraligamenter.
Pada ruptur ke rongga perut, seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi bila robekan
tuba kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Nasib janin
bergantung pada tuanya kehamilan dan kerusakan yang diderita. Bila janin mati dan
masih kecil, dapat direabsorbsi seluruhnya dan bila besar dapat diubah menjadi
litopedion.
Janin yang dikeluarkan dari tuba dengan masih diselubungi oleh kantong amnion dan
dengan plassenta masih utuh kemungkinan tumbuh terus dalam rongga perut, sehingga
terjadi kehamilan ektopik lanjut atau kehamilan abdominal sekunder.

Kehamilan Ektopik Terganggu 7


Gambar 2. Komplikasi Kehamilan Ektopik, Ruptur tuba

2.6 GEJALA KLINIS


Kehamilan ektopik biasanya baru memberikan gejala-gejala yang jelas dan khas jika
sudah terganggu dan kehamilan ektopik yang masih utuh, gejala-gejalanya sama dengan
kehamilan muda intrauterin. Gejala khas dari kehamilan ektopik terganggu adalah seorang
wanita yang sudah terlambat haidnya, tiba-tiba merasa nyeri perut, kadang-kadang nyeri lebih
jelas sebelah kiri atau sebelah kanan. Pada ruptur, nyeri dapat terjadi di daerah abdomen
manapun. Nyeri dada pleuritik dapat terjadi akibat iritasi diafragmatik yang disebabkan oleh
perdarahan. Selanjutnya pasien pusing dan kadang-kadang pingsan, sering keluar darah
sedikit pervaginam pada pemeriksaan didapatkan seorang wanita yang pucat dan gejala-
gejala syok. Sebelum ruptur, tanda-tanda vital umumnya normal. Tekanan darah akan turun
dan denyut nadi meningkat hanya jika perdarahan berlanjut dan hipovoleminya menjadi
nyata. Pada palpasi perut terasa tegang dan pemeriksaan dalam sangat nyeri, terutama kalau

Kehamilan Ektopik Terganggu 8


serviks digerakkan (slinger pain) atau pada perabaan kavum doglasi (fornix posterior) teraba
lunak dan kenyal. Nyeri tekan seperti itu mungkin tidak terasa sebelum ruptur.
Gambaran klinis kehamilan ektopik tergantung dari dua bentuk, yaitu :
1. Apakah kehamilan ektopik masih utuh
2. Apakah kehamilan ektopik sudah ruptur sehingga terdapat timbunan darah
intraabdominal yang menimbulkan gejala klinis

a) Gejala Subjektif
Sebagian besar pasien merasakan nyeri abdomen, keterlambatan menstruasi dan
perdarahan per vaginam. Nyeri yang diakibatkan ruptur tuba berintensitas tinggi dan terjadi
secara tiba-tiba. Penderita dapat jatuh pingsan dan syok. Nyeri akibat abortus tuba tidak
sehebat nyeri akibat ruptur tuba, dan tidak terus-menerus. Pada awalnya nyeri terdapat pada
satu sisi, tetapi setelah darah masuk ke rongga abdomen dan merangsang peritoneum, nyeri
menjadi menyeluruh. Perdarahan per vaginam berasal dari pelepasan desidua dari kavum
uteri dan dari abortus tuba. Umumnya perdarahan tidak banyak dan berwarna coklat tua.
Keterlambatan menstruasi tergantung pada usia gestasi. Penderita mungkin tidak menyangka
bahwa dirinya hamil, atau menyangka dirinya hamil normal, atau mengalami keguguran
(abortus tuba). Sebagian penderita tidak mengeluhkan keterlambatan haid karena kematian
janin terjadi sebelum haid berikutnya. Kadang-kadang pasien merasakan nyeri yang menjalar
ke bahu. Hal ini disebabkan iritasi diafragma oleh hemoperitoneum.

b) Temuan objektif
Pada kasus-kasus yang dramatis, sering kali pasien datang dalam keadaan umum yang
buruk karena syok. Tekanan darah turun dan frekuensi nadi meningkat. Darah yang masuk ke
dalam rongga abdomen akan merangsang peritoneum, sehingga pada pasien ditemukan
tanda-tanda rangsangan peritoneal (nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas, defense musculaire).
Bila perdarahan berlangsung lamban dan gradual, dapat dijumpai tanda anemia pada pasien.
Hematosalping akan teraba sebagai tumor di sebelah uterus. Dengan adanya hematokel
retrouterina, kavum Douglas teraba menonjol dan nyeri pada pergerakan (nyeri goyang
porsio). Di samping itu dapat ditemukan tanda-tanda kehamilan, seperti pembesaran uterus.

Kehamilan Ektopik Intak Kehamilan Ektopik Dengan Rupture

Kehamilan Ektopik Terganggu 9


- Amenore - Terdapat trias ruptur kehamilan ektopik:
 Amenore
- Rasa tidak nyaman di abdomen
 Nyeri abdomen mendadak
- Perdarahan pervaginam  Terdapat perdarahan

- Pemeriksaan vaginal - Perdarahan pervaginam akibat :


 Deskuamasi endometrium
 Nyeri gerak serviks
 Aliran darah melalui tuba fallopi

 Adneksa tegang atau teraba massa - Tanda perdarahan intraabdominal positif


 Tanda cairan intraabdomen
 Massa adneksa terasa nyeri saat palpasi
 Palpasi abdomen nyeri akibat iritasi

 Tanda perdarahan intra abdominal negatif peritoneum


- Pemeriksaan dalam :
- Kesimpulan diagnosis sulit
 Terdapat nyeri goyang serviks
 Kavum douglasi menonjol dan nyeri
 Perdarahan pervaginam
- Konfirmasi diagnosis :
- Kuldosintesis akan terdapat darah
2.7 DIAGNOSIS
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta penunjang.
Anamnesis
Terjadi amenorea, yaitu haid terlambat mulai beberapa hari sampai beberapa bulan atau hanya
haid yang tidak teratur. Kadang-kadang dijumpai keluhan hamil muda dan gejala hamil
lainnya. Nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, tenesmus dan perdarahan pervaginam terjadi
setelah nyeri perut bagian bawah.
Pemeriksaan Umum
Penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam rongga perut dapat ditemukan
tanda-tanda syok.
Pemeriksaan Ginekologi
Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan. Pergerakan serviks menyebabkan rasa
nyeri. Bila uterus dapat diraba maka akan terasa sedikit membesar dan kadang-kadang teraba
tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Kavum douglas yang menonjol
dan nyeri raba menunjukkan adanya hematocele retrouterina. Suhu kadang-kadang bisa naik
sehingga menyukarkan perbedaan dengan infeksi pelvik.

Kehamilan Ektopik Terganggu 10


Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang
1. Hemoglobin, hematokrit, dan hitung leukosit
Pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan jumlah sel darah merah berguna menegakkan diagnosa
kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam rongga
perut. Perlu diingat, bahwa turunnya Hb disebabkan darah diencerkan oleh air dari
jaringan untuk mempertahankan volume darah. Hal ini memerlukanwaktu 1-2 hari.
Mungkin pada pemeriksaan Hb yang pertama-tama kadar Hb belum seberapa turunnya
maka kesimpulan adanya perdarahan didasarkan atas penurunan kadar Hb pada
pemeriksaan Hb berturut-turut.Pada kasus tidak mendadak biasanya ditemukan anemia,
tetapi harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam. Derajat
leukositosis sangat bervariasi pada kehamilan ektopik. Untuk membedakan kehamilan
ektopik dari infeksi pelvik dapat diperhatikan jumlah leukosit. Jumlah leukosit yang lebih
dari 20.000 biasanya menunjukkan infeksi pelvik.
2. β-hCG
Penting untuk mendiagnosis ada tidaknya kehamilan. Cara yang paling mudah ialah
dengan melakukan pemeriksaan konsentrasi hormon β human chorionic gonadotropin (β-
hCG) dalam urin atau serum. Hormon ini dapat dideteksi paling awal pada satu minggu
sebelum tanggal menstruasi berikutnya. Konsentrasi serum yang sudah dapat dideteksi
ialah 5 IU/L, sedangkan pada urin ialah 20–50 IU/L. Tes kehamilan negatif tidak
menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik terganggu karena kematian hasil konsepsi
dan degenerasi trofoblas menyebabkan human chorionic gonadotropin menurun dan
menyebabkan tes negatif.Tes kehamilan positif juga tidak dapat mengidentifikasi lokasi
kantung gestasional. Meskipun demikian, wanita dengan kehamilan ektopik cenderung
memiliki level β-hCG yang rendah dibandingkan kehamilan intrauterin.
3. Laparoskopi
Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk kehamilan
ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain meragukan. Melalui
prosedur laparaskopik, alat kandungan bagian dalam dapat dinilai. Secara sistematis
dinilai keadaan uterus, ovarium, tuba, kavum douglas, dan ligamentum latum. Adanya
darah dalam rongga pelvis mungkin mempersulit visualisasi alat kandungan. Akan tetapi
hal ini menjadi indikasi untuk dilakukan laparatomi.
4. Ultrasonografi
Ultrasonografi abdomen berguna dalam diagnostik kehamilan ektopik. Diagnosis pasti
ialah apabila ditemukan kantung gestasi diluar uterus yang didalamnya terdapat denyut

Kehamilan Ektopik Terganggu 11


jantung janin. Pada kehamilan ektopik terganggu dapat ditemukan cairan bebas dalam
rongga peritoneum terutama dalam kavum douglas.Ultrasonografi vagina dapat
menghasilkan diagnosis kehamilan ektopik dengan sensitifitas dan spesifitas 96%.
Kriterianya antara lain adalah identifikasi kantong gestasi berukuran 1-3 mm atau lebih
besar, terletak eksentrik di uterus, dan dikelilingi oleh reaksi desidua-korion.

Gambar 3. USG Kehamilan Ektopik


5. Kuldosintesis
Kuldosintesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya darah dalam
kavum douglas atau mengidentifikasi hematoperitoneum. Kuldosintesis diindikasikan
pada kasus kehamilan ektopik dan abses pelvik.
Teknik :
1. Penderita dibaringkan dalam posisi litotomi
2. Vulva dan vagina dibersihkan dengan antiseptik
3. Spekulum dipasang dan bibir belakang porsio dijepit dengan cunam serviks dengan
traksi ke depan sehingga forniks posterior tampak.
4. Jarum spinal no.18 ditusukkan ke dalam kavum Douglas dan dengan semprit 10 ml
dilakukan pengisapan.
5. Bila pada pengisapan ditemukan darah, maka isinya disemprotkan pada kain kasa dan
diperhatikan apakah darah merah yang dikeluarkan merupakan :
a. Darah segar berwarna merah dan akan membeku; darah berasal dari arteri atau
vena yang tertusuk
b. Darah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku,darah menunjukkan
adanya hematokel retrouterina.

Kehamilan Ektopik Terganggu 12


Gambar 4. Teknik Kuldosintesis
Hasil positif bila dikeluarkan darah berwarna coklat sampai hitam yang tdak membeku atau
berupa bekuan-bekuan kecil.
Hasil negatif bila cairan yang dihisap berupa :
- Cairan jernih yang mungkin berasal dari cairan peritoneum normal atau kista ovarium yang
pecah.
- Nanah yang mungkin berasal dari penyakit radang pelvis atau radang appendiks yang pecah
(nanah harus dikultur).
- Darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan membeku, darah ini berasal
dari arteri atau vena yang tertusuk.

2.8 PENATALAKSANAAN
PEMBEDAHAN
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Dalam tindakan ini,

beberapa hal harus diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu: kondisi penderita saat itu,

keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomi

organ pelvis, kemampuan teknik bedah mikro dokter operator dan kemampuan teknologi

fertilisasi invitro setempat. Hasil pertimbangan ini menentukan apakah perlu dilakukan

salpingektomi pada kehamilan tuba, atau dapat dilakukan pembedahan konservatif dalam arti

Kehamilan Ektopik Terganggu 13


hanya dilakukan salpingostomi. Apabila kondisipenderitaburuk, misalnya dalam keadaan

syok, lebih baik dilakukan salpingektomi.

Kehamilan ektopik tidak terganggu harus segera dioperasi untuk menyelamatkan

penderita dari bahaya terjadinya gangguan kehamilan tersebut. Operasi yang dilakukan

ialah salpingektomi yaitu


prosedur bedah untuk mengangkat salah satu atau kedua tuba
fallopi, namun tetap membiarkan keberadaan uterus dan ovarium. Salpingektomi total
diperlukan apabila satu kehamilan tuba mengalami ruptur, karena perdarahan
intraabdominal akan terjadi dan harus segera diatasi. Hemoperitonium yang luas akan
menempatkan pasien pada keadaan krisis kardiopulmunonal yang serius.
Insisi suprapubik Pfannenstiel dapat digunakan , dan tuba yang meregang diangkat.
Mesosalping diklem berjejer dengan klem Kelly sedekat mungkin dengan tuba. Tuba
kemudian dieksisi dengan memotong irisan kecil pada myometrium di daerah cornu uteri,
hindari insisi yang terlalu dalam ke myometrium. Jahitan matras angka delapan dengan
benang intrauteri digunakan untuk menutup myometrium pada sisi reseksi baji. Mesosalping
ditutup dengan jahitan terputus dengan menggunakan benang absorbable. Hemostasis yang
komplit sangat penting untuk mencegah terjadinya hematom pada ligamentum latum.
Pada abortus tuba, walaupun tidak selalu ada bahaya terhadap jiwa penderita,
sebaiknya juga dilakukan operasi. Keberatan terhadap terapi konservatif ialah bahwa
walaupun darah yang berkumpul dirongga perut lambat laun akan diresorbsi atau untuk
sebagian dapat dikeluarkan dengan kolpotomi (pengeluaran lewat vagina dari darah di
kavum douglasi), sisa darah dapat menyebabkan perlekatan-perlekatan dengan bahayaileus.
Operasi terdiri atas salpingektomi, akan tetapi tidak jarang ovarium termasuk dalam
gumpalan darah dan sukar dipisahkan, sehingga terpaksa dilakukan salphingo-
oophorektomy yaitu pengangkatan tuba dan ovarium. Darah dalam rongga perut sebanyak
mungkin dikeluarkan, dan tuba serta ovarium dari sisi yang laindiperiksa.
Jika penderita sudah mempunyai anak yang cukup dan terdapat kelainan pada tuba
tersebut, dapat dipertimbangkan untuk mengangkat tuba itu pula, untuk mencegah
berulangnya kehamilan ektopik. Jika penderita belum punya anak, maka pada kelainan
tuba dapat dipertimbangkan untuk mengkoreksi kelainantersebut, hingga tuba berfungsi.

Pada ruptur tuba, segera dilakukan transfusi darah dan laparotomi. Pada laparotomi
itu, perdarahan selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang

Kehamilan Ektopik Terganggu 14


menjadi sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dari
rongga perut sebanyak mungkin dikeluarkan. Sesudah itu dilakukan salpingektomi atau
salpingo-oofektomi. Adneksa yang lain sebaiknya diperiksa, tetapi jangan membuang waktu
dengan mengambil tindakan
padatubanya.Konservasiovariumdanuteruspadawanitayangbelumpernahpunya anak perlu
dipikirkan sehubungan dewasa ini masih ada kemungkinan dapat anak melalui fertilisasi
invitro.Pada ruptur pars interstisialis tuba sering kali terpaksa dilakukan histerektomi
subtotal untuk menjamin bahwa perdarahan berhenti.
Penderita yang disangka KET harus dirawat inap di rumah sakit untuk

penanggulangannya. Bila wanita dalam keadaan syok, perbaiki keadaan umumnyadengan

pemberian cairan NaCl 0,9% (garam fisiologis) yang cukup, Plasma Expander (plasmanat

Hes) dan transfusi darah. Setelah diagnosis jelas atau sangat disangka KET dan keadaan

umum baik atau lumayan, segera lakukan laparotomi explorasi untuk menghilangkan sumber

perdarahan, dicari, diklem dan dieksisi sebersih mungkin (salpingektomi), kemudian diikat

sebaik-baiknya.Sisa-sisadarah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya

penyembuhan lebih cepat. Kemudian berikan antibiotik yang cukup dan obat anti inflamasi.

Penatalaksanaan bedah (laparoskopi atau laparotomi):

1. Laparotomi merupakan tindakan terbaik untuk pasien dengan kedaruratan


bedah.Laparoskopi dengan salpingostomi linear antimesenterik (lebih disukai
dengan laser) makin digunakan secara luas untuk kehamilan ektopik yang tidak
ruptur dan pada situasi bukan kedaruratan.
2. Kendalikan perdarahan.
3. Keluarkanhasilkonsepsi(dapatterjadi
implantasisekunderjikapengeluarantidak lengkap).
4. Upayakan tuba atau organ lain tetap normal atau hanya sedikit rusak. Jika
kehamilan masih dini atau terjadi missed abortion di tuba, lakukan salpingostomi
untuk mengeluarkan hasil kehamilan dan mempertahankan tuba. Ligasi tempat
perdarahan.

Kehamilan Ektopik Terganggu 15


5. Indikasi pengangkatan organ meliputi:
a. Perdarahan yang tidak terkendali
b. Tuba rusak berat
c. Biasanya diperlukan histerektomi padakehamilanservikalatau interstisial
yang ruptur

d. Ooforektomi diperlukan pada kehamilan ovarium.

MEDIKAMENTOSA
Terapi medisinalis yang utama pada kehamilan ektopik adalah methotrexate (MTX).
Methotrexate merupakan analog asam folat yang akan mempengaruhi sintesis DNA dan
multiplikasi sel dengan cara menginhibisi kerja enzim Dihydrofolate reduktase. MTX ini
akan menghentikan proliferasi trofoblas.
Pemberian MTX dapat secara oral, sistemik iv,im atau injeksi lokal dengan panduan
USG atau laparoskopi. Efek sampingyang timbul tergantung dosis yang diberikan. Dosis
yang tinggi akan menyebabkan enteritis hemoragik dan perforasi usus, supresi sumsum
tulang, nefrotoksik, disfungsi hepar permanen, alopesia, dermatitis, pneumonitis, dan
hipersensitivitas. Pada dosis rendah akan menimbulkan dermatitis, gastritis, pleuritis,
disfungsi hepar, supresi sumsum tulang sementara. Pemberian MTX biasanya disertai
pemberian folinic acid (leucovorin calcium atau citroforum factor) yaitu zat yang mirip asam
folat namun tidak tergantung pada enzim dihydrofolat reduktase. Pemberian folinic acid ini
akan menyelamatkan sel-sel normal dan mengurangi efek MTX pada sel-sel tersebut.
2
Regimen yang dipakai saat ini adalah dengan pemberian dosis tungal MTX 50 mg/m
luas permukaan tubuh. Sebelumnya penderita diperikasa dulu kadar hCG, fungsi hepar,
kreatinin, golongan darah. Pada hari ke-4 dan ke-7 setelah pemberian MTX kadar hCG
diperiksa kembali. Bila kadar hCG berkurang 15% atau lebih, dari kadar yang diperiksa pada
hari ke-4 maka mTX tidak diberikan lagi dan kadar hCG diperiksa setiap minggu sampai
hasilnya negatif atau evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan USG transvaginal setiap
minggu. Bila kadar hCG tidak berkurang atau sebaliknya meningkat dibandingkan kadar
2
harike-4 atau menetap selama interval setiap minggunya, maka diberikan MTX 50 mg/m
kedua. Stoval dan Ling pada tahun 1993 melaporkan keberhasilan metoda ini sebesar 94,3%.

Kehamilan Ektopik Terganggu 16


Selain dengan dosis tunggal, dapat juga diberikan multidosis sampai empat dosis atau
kombinasi dengan leucovorin 0,1 mg/kgBB.

Kriteriauntuk terapiMethotrexateadalah sebagai berikut:


 Massabelum ruptur, diameter kantong gestasi<3,5-4,0 cm(peningkatan ukurandapat
meningkatkan risikopecah ataumemerlukanlebih darisatu dosismetotreksat)
 Tidak adagerakanjantungjanin(aktivitas jantung menunjukkan kehamilanlanjut
danmeningkatkan risikorupture ataukegagalanmetotreksatdosis tunggal)
 Tidak ada buktiruptur atauhemoperitoneum
 Hemodinamik stabil
 Diagnosiskehamilan ektopiktelah pasti dantidakmemerlukandiagnosislaparoskopi
 Pasienmenginginkankesuburandi masa depan(jikafertilitas masa depantidakdiinginkan,
pertimbangkanlaparoskopidenganligasi tubadari tubakontra-lateral)
 Anestesi umummenimbulkan risiko yang signifikan
 Pasiendapat diandalkandanbersediauntuk kembali kontrol
 Pasientidak memilikikontra-indikasiuntukMethotrexate
 +/-Serumβ-hCG kurang dari6.000-15.000mIU/mL10
Penatalaksanaan suportif:
1. Berikan antibiotik spektrum luas untuk infeksi.
2. Berikan terapi besi per oral atau IM atau keduanya untuk mengembalikan
simpananbesi.
2.9 DIAGNOSA BANDING

Yang perlu dipikirkan sebagai diagnosis banding adalah: infeksi pelvik, abortus iminens
atau abortus inkompletus, tumor ovarium, apendisitis, salpingitis, ruptur kista korpus luteum
dan torsi kista ovarii.
Kehamila Ruptur
n Ektopik Apendisitis Salpingitis kista Abortus
korpus
luteum

Kehamilan Ektopik Terganggu 17


Rasa Kram&ny Nyeridiepigas Biasanya Unilateral, Kram
sakit eri trik, pada kedua menjadi digaris
tekanunilat periumbilikali kuadranba menyeluruh tengah
eral s kemudian wah, dengan tubuh
sebelum kuadran denganatau terjadinya
rupture kanan tanpanyeri perdarahan
bawah,nyeri tekanlepas hebat
tekan
setempat pada
titik Mc
burney,nyeri
Muald Kadangseb Biasanya Tidak Jarang Hampir
an elum mendahului sering tidak
munta rupturedan pergeseran pernah
h seringkalis rasa sakit ke
etelah kuadran
rupture kanan bawah

Menst Terdapat Tidakterkait Hipermenor Terlambat Amenore,


ruasi beberapa dengan e atau menstruasi kemudian
penyimpan menstruasi metroragi kemudian perdaraha
gan: atau perdarahan n bercak,
tidakhaid,p keduanya , atau tiba-
erdarahanb seringdiser tiba
ercak tai nyeri terjadi
perdaraha
n
Suhu 37,2- 37,2-37,8ºC 37,2-40ºC Tidak Sampai
37,8ºC melebihi 37,2ºC,
dan Nadi cepat: Nadimenin
Nadibervar 37,2ºC jika
nadi 99-100 gkat dan
iasi: Nadi spontan
demam
normal normal sampai
sebelumru kecuali 40ºC
ptur,cepat terjadi jikaterinfe
setelah kehilangan ksi
rupture darahyang
banyak

Kehamilan Ektopik Terganggu 18


Pemeri Nyeritekan Tidakada Nyeritekan Nyeritekan Serviks
ksaan unilateral, massa bilateral pada agak
pelvis terutama pada ovarium terbuka,
pada pergerakan yang uterus
pergerakan serviks, terkena, sedikit
serviks,ma massa tidakada membesar
ssa hanya ada massa , melunak
krepitasipa jikaterjadi tidak
da 1 piosalping beraturan,
sisiataudal atau nyeri
amcul-de- hidrosalpin
sac g tekan
Jikaada
infeksi
Temua Leukositsa Leukosit Leukosit Leukosit Leukosit
n lab mpai 10000-18000 15000- normal 15000/uL
15000/uL: /uL, eritrosit 30000, sampai jika
eritrosit normal, eritrosit 10000 /uL, spontan
Sangat LED sedikit normal, eritrosit sampai
rendah jika meningkat LED sangat normal, 30000 /uL
banyak meningkat LED jika
kehilangan normal infeksi,
darah, LED eritrosit
sedikit normal,
meningkat LED
meningkat
sedikit

2.10 PROGNOSIS

Angka kematian ibu yang disebabkan oleh kehamilan ektopik terganggu turun sejalan
dengan ditegakkannya diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Kehamilan ektopik
terganggu yang berlokasi di tuba pada umumnya bersifat bilateral. Sebagian ibu menjadi
steril (tidak dapat mempunyai keturunan) setelah mengalami keadaan tersebut diatas, namun
dapat juga mengalami kehamilan ektopik terganggu lagi pada sisituba yang lain.

Ibu yang pernah mengalami kehamilan ektopik terganggu, mempunyai resiko 10% untuk
terjadinya kehamilan ektopik terganggu berulang. Ibu yang sudah mengalami kehamilan
ektopik terganggu sebanyak dua kali terdapat kemungkinan 50% mengalami kehamilan
ektopik terganggu berulang.

Kehamilan Ektopik Terganggu 19


Ruptur dengan perdarahan intraabdominal dapat mempengaruhi fertilitas wanita. Dalam
kasus-kasus kehamilan ektopik terganggu terdapat 50-60% kemungkinan wanita steril. Dari
sebanyak itu yang menjadi hamil kurang lebih 10% mengalami kehamilan ektopik berulang.

Kehamilan Ektopik Terganggu 20


BAB III
STATUS PASIEN

3.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Umay Yanti
Umur : 29 tahun
Alamat : Sungai Pauh
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMA sederajat
Suku : Aceh
MRS : 15Juni 2017 (23.00WIB)

3.2 ANAMNESA

Keluhan utama : Nyeri seluruh bagian perut

21
Telaah :Pasien datang ke IGD RSUD Langsa dengan keluhan nyeri seluruh bagian
perut yang dirasakan tiba-tiba. Nyeri menjalar ke paha, seluruh perut dan
badan sulit untuk digerakkan karena nyeri yang dirasakan. Nyeri dirasakan
sangat hebat. Nyeri semakin bertambah jika pasien bergerak dan berkurang
jika berbaring.Riwayat perdarahan (-) ,Riwayat pingsan karena nyeri (+),
riwayat trauma (-), BAK dan BAB normal.

RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU


- Disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Hipertensi : (-)
Diabetes mellitus : (-)

RIWAYAT PEMAKAIAN OBAT : Disangkal


RIWAYAT ALERGI : Disangkal
RIWAYAT OPERASI : (-)

3.3 ANAMNESIS OBSTETRI

Riwayat Menstruasi :
Menarche usia 12 tahun, siklus 28 hari, lamanya 7 -8 hari, darah banyak, Disminore (+)
Riwayat Perkawinan : I x menikah, lamanya 6 tahun

Riwayat Persalinan :
- Anak pertama lahir spontan di tolong bidan, dengan jenis kelaminperempuan.
- Hamil ini

Riwayat KB :(-)

3.4 PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS PRESENT
- Keadaan Umum : Tampak Lemah
- Kesadaran : Compos Mentis
- Vital Sign : Tekanan Darah : 90/70 mmHg
Nadi : 86x/menit
Pernafasan : 24 x/menit

22
Suhu : 36,7oC
- Berat Badan sekarang : 55 kg
- Tinggi Badan : 165 cm

B. STATUS GENERALISATA
- Kepala : Normocephali
- Mata : Konjungtiva palpebraanemis (+/+), sclera ikterik (-/-)
- Hidung : sekret (-), deviasi septum (-)
- Telinga : Normotia
- Bibir : Pucat (+), sianosis (-)
- Leher : Trakea midline (+), pembesaran KGB (-)
- Thoraks
o Inspeksi : Simetris (+/+), jaringan parut (+)
o Palpasi : SF : ka=ki
o Perkusi : Sonor
o Auskultasi: Vesikuler (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)
- Abdomen
o Inspeksi : Simetris (+), distensi (-), bekas luka operasi (-), lineaalba (+),
linea gravidarum (-)
o Palpasi : Soepel (+), nyeri tekan perut kanan bawah (+)
o Perkusi :Timpani
o Auskultasi: Bising usus (+) normal
- Ekstremitas Atas : Oedem (-/-)
- Ekstremitas Bawah : Oedem (-/-)

C. STATUS GINEKOLOGI
a. Pemeriksaan Luar : Perdarahan Pervaginam (-)
b. Pemeriksaan Dalam: Tidak dilakukan
c. Inspekulo : Tidak dilakukan

D. STATUS OBSTETRI
Inspeksi : Datar
Palpasi
Leopold I : TFU sulit dievaluasi
Leopold II : Tidak teraba
Leopold III : Tidak teraba
Leopold IV : Tidak teraba
DJJ : (-)

23
3.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Darah (tanggal 16junii 2017)


DARAH RUTIN USG
Hemoglobin: 7,6 g/Dl Uterus Normal
Hematokrit: 22,4 % Cairan bebas pada kavum abdomen (+)
Eritrosit: 2,54 /UI x !02
Leukosit: 15.02 /UIx 103 Kesan: Kehamilan Ektopik Terganggu.
Trombosit:188.000 /UIx 103
Gol. Darah: O
HbsAg: (-) Non reaktif

3.6 DIAGNOSA
Kehamilan Ektopik Terganggu
3.7 PENATALAKSANAAN
- Infus Ringer Laktat 20 gtt/i
- Profenid supp
- Laparotomi Cito
- Inj. Cefotaxime 1A/ 8 jam
LAPORAN PEMBEDAHAN
Tanggal OP : 16Junii 2017
Jam : 10.25 WIB
Diagnosa Pra Bedah : Kehamilan Ektopik Terganggu
Diagnosa Pasca bedah : Ruptur IsthmusSinistra (KET)
Tindakan : Sinistra a/i KET
TERAPI POST OPERASI
- NPO sampai peristaltic (+)
- Infus Ringer Laktat s/s Dekstrose 5% 20 gtt/i
- Inj. Cefotaxime 1 gr/ 8 jam
- Infus Paracetamol / 8 jam
- Tranfusi prc 1 bag

3.8FOLLOW UP

24
(17Juni 2017)
S: Nyeri didaerah bekas operasi(+)
O: KU : Baik
Tensi : 100/72mmHg
Nadi : 89x/i
Nafas : 24x/i
Suhu : 36,60C
A :Post op Laparotomi Sinistra hari ke-1
P : Infus Ringer Laktat s/s Dekstrose 5% 20 gtt/i
Diet MB
Inj. Cefotaxime 1 gr/ 8 jam
Infus Paracetamol/ 8 jam
Inj Tramadol
Pemeriksaan Darah (tanggal 17Juni2017)
Hemoglobin : 7,4 g/dL
Hematokrit : 23,3 %
Eritrosit : 2,65 /UI x 102
Leukosit : 13.6 /UIx 103
Trombosit : 165.000 /UIx 103
Gol. Darah :O
(18 Juni 2017)
S: Nyeri didaerah bekas operasi (+) jika bergerak, lemas(+),
O: KU : Baik
Tensi : 100/72 mmHg Nyeri tekan abdomen (+)
Nadi : 100 x/i peristaltic (+), kembung (+)
Nafas : 20x/i
Suhu : 36,50C
A :Post op Laparotomi Sinistra hari ke-2
P : Diet MB
Aff infus
Ciprofloxacin 500mg 2x1
Meloxicam 15mg 2x1
Sulfas ferosus 1x1
Antasida Syr 3 x CI

25
Tranfusi PRC s/d Hb>8

(19Juni2017)
S: Nyeri didaerah bekas operasi(+) keterbatasan bergerak. Sakit kepala.
O: KU : Baik
Tensi : 100/70 mmHg
Nadi : 76 x/i
Nafas : 22x/i
Suhu : 37,40C
A :Post op Laparotomi Sinistra hari ke-3
P: - Ciprofloxacin 2 x 500 mg
- Meloxicam 2 x 15 mg
- Sulfas Ferosus1 x 1 tab
- Antasida syr 3 x 1C
- Transfusi darah 1 bag PRC
(20Juni 2017)
S: Nyeri didaerah bekas operasi(+), pusing (+), nyeri pada bagian tulang belakang.
O: KU : Baik
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/i
Nafas : 22x/i
Suhu : 36,70C
A :Post op Laparotomi Sinistra hari ke-4
P: - Ciprofloxacin 2 x 500 mg
- Meloxicam 2 x 15 mg
- Sulfas Ferosus1 x 1 tab
(21Juni2017)
S: Pedih didaerah bekas operasi.
O: KU : Baik
Tensi : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/i
Nafas : 22x/i
Suhu : 36,50C
A :Post op Sinistra hari ke-5
P: - Ciprofloxacin 2 x 500 mg

26
- Meloxicam 2 x 15 mg
- Sohobion
BAB IV
PEMBAHASAN

TEORI KASUS
Epidemiologi Pada kasus
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur ini
antara 25-35 tahun. Menurut penelitian Abdullah dan kawan-kawan dijumpai
(1995-1997) ternyata paritas 0-3 ditemukan peningkatan kehamilan pasien
ektopik terganggu. Pada paritas >3-6 terdapat penurunan kasus berumur
kehamilan ektopik terganggu. 29tahun.

Diagnosis Dari anamnesis


Anamnesis didapatkan hasil
yang mengarahkan
Dari anamnesis didapatkanamenore, nyeri perut, perdarahan diagnosis KET
pervaginam merupakan trias dari KET. Pada ruptur tuba nyeri perut yaitu adanya
bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya disertai Amenorrhea,adanya
dengan perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk keluhan nyeri perut
ke dalam syok. Biasanya pada abortus tuba nyeri tidak seberapa kanan bawah yang
hebat dan tidak terus-menerus. Rasa nyeri mula- mula terdapat pada menjalar ke paha,
satu sisi; tetapi, setelah darah masuk kedalam rongga perut, rasa seluruh perut dan
nyeri menjalar kebagian tengah atau ke seluruh perut bawah. semakin nyeri saat
Perdarahan pervaginam menunjukkan kematian janin, dan berasal bergerak.
dari kavum uteri karena pelepasan desidua. Perdarahan yang berasal
dari uterus biasanya tidak banyak dan berwarna coklat tua
Sedangkan amenorea merupakan salah satu tanda yang tidak pasti.

Pemeriksaan USG Daripemeriksaan


USGdidapatkan:
Ultrasonografi abdomen berguna dalam diagnostik kehamilan uterus normal,
ektopik. Diagnosis pasti ialah apabila ditemukan kantung gestasi cairan bebas pada
diluar uterus yang didalamnya terdapat denyut jantung janin. Pada kavum abdomen
kehamilan ektopik terganggu dapat ditemukan cairan bebas (+)
dalam rongga peritoneum terutama dalam kavum douglas. Kesan: Kehamilan
Ektopik
Terganggu

Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan


Pemeriksaanlaboratorium dilakukandenganpemeriksaan

27
hemoglobin dan jumlahseldarah merah berguna dalam Laboratorium
menegakkandiagnosiskehamilan Hemoglobin: 7,6
ektopikterganggu,terutama bila ada tanda-tanda
perdarahandalamronggaperut. g/dL
Hematokrit: 22,4 %
Penghitunganleukositsecaraberturutmenunjukkanadanya
peningkatanleukosit. Eritrosit: 2,54 /UI
x !02
Leukosit: 15.02
/UIx 103
Trombosit:188.000 /
UIx 103
Gol. Darah: O
HbsAg: (-) Non
reaktif

Penatalaksanaan Pada kasus ini


Penatalaksanaankehamilanektopikterganggupadaumumnyaadalah dilakukan
laparotomi.Dalam tindakan demikian,beberapa hal harus laparotomi
diperhatikan dandipertimbangkan. Hasil pertimbangan dengan salpingo-
inimenentukanapakahperludilakukansalpingektomi,yaitu ooforektomi untuk
pengangkatan membersihkan
tubapadakehamilantuba,ataudapatdilakukanpembedahankonserva darah yang berada
tifdalamartihanyadilakukansalpingostomi,akantetapi di
tidakjarangovariumtermasukdalam kavumabdomen.
gumpalandarahdansukardipisahkan,sehinggaterpaksadilakukansa
lpingo-ooforektomi.

28
BAB V
KESIMPULAN

Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/nidasi/ melekatnya buah


kehamilan di luar tempat yang normal, yakni di luar rongga rahim. Sedangkan yang disebut
sebagai kehamilan ektopik terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami bortus
ruptur pada dinding tuba.
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 25-35 tahun.
Lebih dari 60% kehamilan ektopik terjadi pada wanita 25-35 tahun dengan sosio-ekonomi
rendah dan tinggal didaerah dengan prevalensi gonore dan prevalensi tuberkulosa yang
tinggi.
Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar
penyebabnya tidak diketahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya menjelaskan beberapa
faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu, yaitu:1. Faktor
mekanis seperti Salpingitis, Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/ infeksi pasca
nifas, apendisitis, atau endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba atau penyempitan
lumen, Kelainan pertumbuhan tuba, Bekas operasi tuba, mioma uteri dan Penggunaan IUD.2.
Faktor Fungsionalyaitu perubahan motilitas tuba yang berhubungan dengan faktor hormonal
dan defek fase luteal.
Menurut lokasinya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan yaitu:
tuba falopii, ovarium, uterus, abdominal, intraligamentar dan kombinasi lainnya.Gejala klinis
yang dialami pasien dengan kehamilan ektopik yaitu: amenorrhea, rasa nyeri kiri atau kanan
perut bagian bawah, uterus membesar dan lembek, abortus.Diagnosis kehamilan ektopik
dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetric, pemeriksaan
ginekologi, pemeriksaan penunjang (kuldosintesis, USG). Penatalaksanaan pada kehamilan
ektopik terdiri dari terapi operatif dan medikamentosa.

DAFTAR PUSTAKA

29
1. Cunningham, FG, Leveno, KJ, et al.2010.Ectopic Pregnancy in William’s Obstetry 23rd
Edition. Philadelphia: Mc-Graw-Hill
2. Prawirohardjo, S.2009.Kehamilan Ektopik dalam Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka

3. Polan ML, Wheeler JM. 1997. Kehamilan Ektopik (Diagnosis dan Terapi). Dalam: Seri
Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan Infertilitas. Edisi I. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
102-50
4. Cunningham FG, Macdonald PC, Gant NF. 2005. KehamilanEktopik. Dalam: Obstetri
William (William’s Obstetri). Edisi XVIII. Jakarta: PenerbitBukuKedokteran EGC.599-
26
5. Rachimhadhi T. 2005. Kehamilan Ektopik. Dalam:Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi I.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. 198-10.
6. Prawirohardjo S, Hanifa W. 2005. Gangguan Bersangkutan dengan Konsepsi. Dalam:
Ilmu Kandungan.Edisi II. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. 250-58.

7. Bangun, R. 2009. Kehamilan Ektopik. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara,


Medan.Availableat
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14667/1/09E00840.pdfDiakses pada
tanggal 18Mei 2017
8. Prawirohardjo, S.2006.Kuldosentesis dalam Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
9. Universitas Sriwijaya. Kehamilan Ektopik. Diakses
darihttp://digilib.unsri.ac.id/download/kehamilanEktopik.pdfDiakses pada tanggal 18 Mei
2017
10. Schawrt SI, schires TS. 2000. Kehamilan Ektopik. Dalam: Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu
Bedah. Edisi VI. Editor: Spencer FC. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.599-06
11. Moechtar R. 1998.Kelainan Letak Kehamilan (Kehamilan Ektopik). Dalam: Sinopsis
Obstetri, Obstetri Fisiologis dan Obstetri Patologis. Jilid I. Edisi II.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

30