Anda di halaman 1dari 9

 Mengumpulkan data mengenai daerah atau kegiatan yang berpotensi sangat berbahaya

agar bisa mendapatkan pengawasan yang lebih ketat serat menyarankan tata cara kerja
yang aman untuk bekerja pada kegiatan tersebut
 Memberikan penerapan dan petunjuk K3 terhadap pekerja.
 Melakukan pertemuan K3 ceramah publikasi, dll
 Melakukan evaluasi penerapan K3 dan upaya perbaikan berkelanjutan

b. Wadah fungsional
Wadah Fungsional adalah wadah organisasi berupa Komite Keselamatan Kerja (Safety
Commite), tempat berkumpulnya orang-orang yang dengan sukarela atas penunjukan dari
bagian kerjanya untuk ikut menangani K3. Tugas yang dapat dilakukan adalah melakukan
inspeksi terpadu terhadap tempat kerja dan mengadakan rapat K3 secara terbuka.

3.3 Program K3.


Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) mengacu pada prinsip-prinsip bahwa :
 Setiap Pekerjaan dapat dilakukan dengan aman dan selamat tanpa harus terjadi
kecelakaan maupun korban
 Jika terjadi kecelakaan pasti ada penyebabnya
 Penyebab kecelakaan tersebut harus ditiadakan dan dicegah agar kecelakaan tidak
terulang lagi

Untuk mendukung pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja, maka perusahaan


merencanakan untuk melaksanakan program-program sebagai berikut :

3.3.1 Alat Pelindung Diri


Sebagai seorang pekeja yang bekerja di daerah pertambangan, maka semua orang
terutama karyawan wajib memakai alat pelindung diri yang terdiri dari :
3.3.1.1 Alat Pelindung Diri Umum
APD ini wajibbagi semua orang, yaitu :
a. Helm Pengaman (Safety Helmet)
b. Sepatu safety (Safety Shoes)
c. Baju Safety atau Rompi Reflector (Safety Vest / Safety Wear)
3.3.1.2 Alat Pelindung Diri Khusus
APD ini disesuaikan dengan kondisi kerja
a. Kacamata Safety (Safety Glasses)
b. Sarung Tangan Safety ( Safety Gloves)
c. Masker Debu ( Safety Mask)
d. Ikat Pinggang untuk ketinggian ( Safety Belt)
e. Sumbat Telinga (Ear Plug)
f. Kacamata untuk Las (Safety Welding Mask)

3.3.2 Alat Pemadam Kebakaran


Alat Pemadam Kebakaran merupakan Alat yang harus ada pada setiap kegiatan yang dapat
menimbulkan api dan penyimpanannya harus memenuhi SOP. Daerah-daerah yang harus
dilengkapi alat pemadam kebakaran, yaitu :
a. Kendaraan ringan dan alat berat
b. Bengkel
c. Kantor
d. Gudang
e. Ruang Diesel
f. Ruang panel listrik
g. Tempat penampungan BBM
h. Jembatan timbang, dll

3.3.3 Lalu lintas Tambang


Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di daerah lalu lintas tambang, antara lain :
a. Kewajiban memakai safety belt bagi operator alat berat dan pengemudi kendaraan
b. Pemasangan bendera safety setinggi kendaraan yang paling tinggi.
c. Pemasangan rotary lamp pada semua kendaraan
d. Pemasangan rambu lalu lintas dan peringatan keselamatan kerja.
e. Penerapan pemakaian SIMPER (Kartu Ijin Mengemudi Perusahaan) yang mengacu
pada SIM yang dikeluarkan Pihak Kepolisian.
f. Pembuatan jalan yang sesuai dengan standar teknis serta pembuatan tanggul
pengaman (safety bern)
g. Menempatkan traffic man bila melalui persimpangan yang sangat sibuk.
h. Penerangan yang cukup pada waktu operasi malam.
i. Melakukan penyiraman saat jalan berdebu.

3.3.4 Pengawasan K3 Di Lokasi Penambangan


a. Pengawasan terhadap kestabilan lereng tambang (high wall/low wall) untuk menjaga
kemungkinan terjadinya longsor
b. Pengawasan terhadap pekerjaan penimbunan tanah penutup di area Disposal dan
kestabilan lerengnya agar tidak terjadi kelongsoran.
c. Pengawasan terhadap aktifitas pekerjaan dibagian bawah dari jatuhan material lepas
apabila ada pekerjaan pada level atasnya.
d. Pengawasan terhadap tanjakan yang tinggi dan jalan-jalan sempit pada daerah
operasional peralatan bergerak dan pemantauan jalan-jalan tambang
e. Memastikan semua operator dapat mengerti dan memahami SOP (Standard Operating
Procedure) setiap unit alat berat yang dioperasikan
3.3.5 Sosialisasi Keselamatan Kerja
a. Safety Talk, dilakukan setiap pagi dan saat pertukaran gilir kerja.
b. Safety Meeting, dilakukan sekali dalam seminggu pada unit-unit kerja
c. Safety Induction, dilakukan pada karyawan baru atau karyawan lama pada tugas baru
d. Pembuatan SOP (Standard Operating Procedure) yang mengutamakan keselamatan
dalam sistem kerjanya.
e. Membentuk Safety Commite untuk keselamatan dan kesehatan kerjayang melibatkan
subkontraktor
f. Safety Inspection, yaitu pemeriksaan unit-unit kerja secara berkala dan
menginventarisir hal-hal tentang K3
g. Membuat analisa potensi kecelakaan kerja, pencegahan dan cara penanganannya (Job
Safety Analysis)
h. Pemasangan spanduk dan moto K3, papan pengumuman K3, peringatan dan
himbanuan K3
i. Membuat laporan dan administrasi K3, meliputi laporan kecelakaan tambang, laporan
jumlah karyawan yang bekerja, lapran tingkat kekerapan kecelakaan, laporan tingkat
keparahan kecelakaan, safety performance, dll.

3.3.6 Kesehatan Kerja


a. Menyediakan Kotak P3K pada setiap unit kendaraan
b. Mengikutsertakan karyawan pada program JAMSOSTEK
c. Bekerjasama degan klinik atau rumah sakit terdekat untuk pelayanan kesehatan bagi
karyawan
d. Pengadaan ruang P3K
e. Pemantauan kebersihan lingkungan kerja di kantor, mess karyawan, dapur, dll.
f. Pemantauan kualitas air, baik untuk mandi maupun minum
g. Pemeriksaan kesehatan karyawan setiap tahun bagi yang bekerja didaerah berdebu
dan bising.

3.4 Evaluasi dan Pelatihan K3


Pentingnya evaluasi dan pelatihan K3 dalam suatu waktu yang telah ditentukan
dimaksudkan agar dapat diketahuinya tigkat keberhasilan program K3 yang telah
direncanakan dan dijalankan sehingga apabila adanya kekurangan dapat segera diperbaiki
dan ditigkatkan dan meningkatkan pengetahuan serta kesadaran semua pihak yang bekerja
akan pentingnya K3. Evaluasi dan pelatihan tersebut dapat dilakukan dengan cara :
 Melakukan pertemuan safety committee setiap bulan untuk evaliasi terhadap perogram
K3 yang di laksanakan ataw yang perlu di perbaiki.
 Melakukan inspeksi K3 secara berkala ke seluruh unit kerja termasuk subkontraktor.
 Melakukan peyelidikan apabila terjadi kecelakaan/kejadian berbahaya.
 Melakukan safety audit untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam pengelolahan
keselamatan dan kesehatan kerja.
 Mengadakan pelatihan awal tentang K3,pelatihan baru dan pelatihan peyegaran tentang
K3.
 Menadakan pelatihan kesiapan menghadapi keadaan darurat yang mencakup petugas,
perraturan yang di perlakukan,kuminikasi,mekanisme kerja tim peyelamat,dll.
 Mengikutsertakan pada pelatihan pengawas oprasional baik internal maupun eksternal.
BAB IV
RENCANA PENGOLAHAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN

4.1 RUANG LINGKUP PENGELOLAHAN LINGKUNGAN

Pembukaan areal tambang dengan metode tambang terbuka akan berpengaruh


terhadap lingkungan di lookasi tambang tersebut,yaitu mulai dari tahap persiapan
penambangan,tahap oprasi penambangan sampai pada tahap pasca tambang. Beberapa
dampak yang di timbulkan oleh kegiatan penambangan antara lain perubahan bentang
alam, perubahan kesuburan tanah,perubahan kualitas udara dan air,kebisingan, perubahan
sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat,dll.

Ruang lingkup pengelolahan lingkungan ini mencakup daerah


penambangan,daerah penimbunan tanahpenutup, jalan angkut tambang,lokasi pengapalan
dan pemukiman sekitar tambang.pelaksanaan pengelolahan lingkungan di PT. Era Energi
Mandiri akan berpedoman pada peraturan perudang-undang mengenai lingkungan yang
telah di tetapkan,sehingga di harapkan kegiatan penambanganyang dilakukan oleh PT.
Era Energi Mandiri Coal dapat menjadi usaha pertambangan yang berwawasan
lingkungan.

4.2 SASARAN DAN TUJUAN

Upaya pengelolahan dan pemantauan lingkungan yang akan di lakukan oleh PT. Era
Energi Mandiri bertujuan untuk mencegah,mengulangi dan mengendalikan meksimalkan
dampak-dampak yang bersikap negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar serta
memaksimalkan dan mengembangkan dampak positif terhadap keberadaan tambang PT. Era
Energi Mandiri di kelurahan kelurahan cinta damai,berlian makmur bumi kencana dan sri
Guning Kecamatan Sungai Liln dan Keluang,Kabupaten Musi Bayuasin,propinsi Sumatra
Selatan.
Adapun sasaran yang ingin di raih dalam pengelolahan dan pemantauan lingkungan ini
adalah :
a. Meminimalisasi dampak kerusakan sekecil mungkin.
b. Membuat kondisi area kerja yang sehat,bersih dan teratur.
c. Harmonisasi hubungan antara perusahaan dengan masyarakat sekitar tambang.
d. Melaksanakan kegiatan tambang yang ramah lingkungan.

4.3 PENGELOLAAN LINGKUNGAN DI TAMBANG

4.3.1 Pengelolahan Tanah Pucuk ( Top Soil )


Peyelamatan tanah pucuk ( top soil ) pada area yang akan di tambang sangat penting,
karna tanah pucuk sangat berguna dan penting dalam menunjang keberhasilan peroses rehabilitasi lahan.
Kegiatan pengupasan lapisan tanah permukaan ( top soil dan sub soil ) di lakukan pada musim kemarau
dan tidak akan di lakukan pada musim penghujan,hal ini di maksudkan agar unsur hara tanah tetap terjaga
dan untuk menghindari terjadinya erosi.Tanah pucuk ( top soil ) merupakan bagian tanah yang menutup
yang mengandung unsur hara yang sangat di butuhkan oleh tumbuhan ( vegetasi ) sehingga dalam
pengamanannya dilakukan secara tersendiri dan penempatannya akan di pisahkan antara top soil dan sub
soil.
Tanah pucuk top (soil ) setebal ± 15 cm dan tanah bawah ( sub soil ) setebal ± 50 cm di
kupas,di angkut ke tempat peyimpanan khusus dan di lakukan pengelolahan agar tidak terjadi erosi
dengan cara sistem transiring ataw langsung di tebar di daerah-daerah reklamasi yang dilakukan dengan
menggunakan Excavator dan Dump Truck Serta Bulldoser untuk meyebarkannya.

Lokasi penimbunan adalah lokasi yang tidak mengandung cadangan batu bara,tidak
mengganggu daerah yang akan di tambang serta topolografi permukaannya berupa lembah,penataan
penimbunan tanah pucuk baik top soil maupun sub soil ini akan di rancang denan
mempertimbangkan aspek-aspek kestabilan lahan,hidrologi serta di selaraskan dengan tofologi yanmg
berada di sekitarnya drainase akanb di bangun di kelilingi lokasi penimbunan tanah pucuk yang berfungsi
untuk mengendalikan air limpasan yang akan di salurkan ke kolam pengendapan ( setting pound ).

Pengelolahan tanah pucuk meliputi :


1. Material akan di dorong dan kemudian di kumpulkan dengan Bulldoser dan di muat demgan
Excavator ke dump Truk untuk di angkut ke lokasi penimbunan,
2. Pengalian di lakukan pada musim kemarau agar unsur hara yang terkandung pada top soil dapat
terjaga.
3. Tempat penimbunan top soil harus stabil dengan tinggi bench maksimal 3 meter dan kemiringan
30o.
4. Untuk menghindari terjadinnya gully pada tempat penimbunan,dilakukan penanaman cover crop.
5. Untuk menjaga unsur hara yang di kandung dalam top soil,maka dilakukan pemupukan dam
peyiraman pada musim kemarau.

4.3.2 Pengelolaan Tanah Penutup ( Over border/Interburden )


Tanah penutup hasil dari penggalian akan di angkut menuju lokasi penimbunan, baik ke
lokasi timbunan tanah penutup di luar tambang (diposal/spoil dump area) maupun ke lokasi ke lokasi
bekas bukaan tambang sebagai material penimbunan lubang bekas tambang (backfilling). Area
diposal/spoil dump area seluas 5,90 Ha dengan rancangan aout of pit spoil dump intuk jangka pendek
terdiri dari tinggi jejang 7 m, sedut lereng 30o ,lebar jenjang 10 m, untuk kondisi lereng permanen.untuk
rencana volume tanah penutup yang akan dipindahkan dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1

Rencana Volume Perpindahan Tanah Penutup


Tahun Over Burden (BCM) Batu Bara Tertambang ( MT)
1 1.247.279 526.316
2 2.294.558 1.052.632
3 2.294.558 1.052.632
4 2.294.558 1.052.632
5 4.589.115 2.105.263
6 4.589.115 2.105.263
7 4.589.115 2.105.263
8 4.589.115 2.105.263
9 4.589.115 2.105.263
10 4.589.115 2.105.263
11 4.589.115 2.105.263
12 4.589.115 2.105.263
13 4.589.115 2.105.263
14 4.589.115 2.105.263
15 4.589.115 2.105.263
16 4.589.115 2.105.263
17 4.589.115 2.105.263
18 4.589.115 2.105.263
19 4.589.115 2.105.263
29 4.589.115 1.909.237
Total 81.029.488 37.172.395

4.3.3 Pengolahan Air Asam Tambang

Air asam tambang (AAT) Adalah istilah umum yang digunakan untuk menerangkan lindian
(leachate).
Rembesan (seepage) atau aliran (drainage) yang telah di pengaruhi oleh oksidasi alamia mineral sulfida
yang terkandung dalam batuan yang terpapar (exposed) selama penambangan.penurunan pHselalu
berasosialisasi dengan kenaikan sulfat dan nitrogen.
Tiga faktor utama yang bisa meyebabkan terjadinnya penurunan pH pada air tanah,adalah
Evavotranspisi,penggunaan Amonia Oksidasi Mineral Pyrite (Fes2)

Pengendalian air asam tambang di daerah pertambangan dan lokasi penimbunan batu bara mencakup
upaya untuk mengendalikan teroksidasinya mineral sulfida yang terdapat pada lapusan penutup atu
tempat peimbunan batu bara, menetralkan air asam tambang yang terbentuk sebelum du alirkan ke
perairan umum atau mengendalikan aliran air asam tambang yang terbentuk pada lapisan tanah penutup
(overborden) atau tempat penimbunan batu bara. Pencegahan terjadunnya air asam ytambang merupakan
upaya untuk mencegah proses oksidasi mineral su;fida.terdapat dua metode yang di gunakan untuk
mencegah proses tersebut :

a. Metode menutup basa ( wet cover method )yaitu dengan cara menempatkan air asam tambang di
dalam air sedemikian rupa sehingga proses oksidasi mineral sulfida dapat dicegah

b. Metode menutup kering (dry cover method) yaitu dengan cara menempatkan bantuan yang
berpotensi menghasilkan air asam tambang pada bagian terbawah di daerah
penimbunan,kemudian ditutupi dengan bantuan yang bersipat netral dengan permeabilitas yang
rendah untuk menghindarirembesan udara yang masuk kebatuan yang mengandung mineral
sulfide tersebut.
Sedangkan penetralan air asam dapat di lakukan dengan cara mengalirkan ke kolam pengendapan
(setting pond) yang di buat untuk menampung, pengendapan dan pengolahan air asam tambang
agar air yang keluar dari kolam tidak mencemari perairan umum.peroses pengolahan pada setting
pound,yaitu :
1. Sedemensi suspense lumpur
2. Penambahan kpur (CaO atau Ca(OH)2) atau batu gaping (CaCO3)
3. penjernihan dengan pembvuatan saringan.
4. Pengurukan apabila sedimentasi lumpur di kolam suda penuh.
5. Pemantauan secara berkala pada tempat air masuik dan dan keluar kolam untuk menjaga
kualitas air tersebut (debit,warna,kekeruhan,pH,dll)
6. Pada daerah reklamasi,material yang mengandung asam di tempatkan pada bagian bawah
ini minimal 10 meter.
Gambar 4.1 sistem setting poud

Tampak ata

4.3.4 Pengolahan Jalan Tambang


Pengolahan lingkungan pada jalan tambang dan jalan angkut batubara antara lain :
1. Pengerasan jalan dengan agregat khusus.
2. Pembatasan kecepatan kendaraan pengangkut,terutama bila melewati kawasan
pemukiman penduduk.
3. Perawtan kondisi jalan tambang dan jalan angkut secara berkala dan berlanjutan
dengan alat groder dan campaktor.
4. Pembuatan material tanah/batubara tidak melebihi kapasitas maksimal dari alat
angkutan yang di gunakan.
5. Peyiraman tanaman secara periodic dengan menggunakan water truck,terutama saat
musim kemarau.
6. Penanamam pohon di sepanjang jalan angkut batubara (green belt).
7. Pembuatan safety berm dan parit di kanan dan kiri jalan tambang maupun jalan
angkutan untuk meyalurkan runoff air permukaan.

4.3.5 pengolahan bengkel

Dalam kegiatan tambang yang menggunakan alat berat, tentunnya akan menghasilkan oli
bekas dan cucuran oli bekas yang dihasilkan pada saat dilakukan perawatan dan perbaikan alat berat
tersebut. Oli bekas ini termasuk dalam katagori limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3). Oleh karena
itu perbaikan dan poerawatan harus dilakukan didalam bengkel (workshop) agar oli dan grease bekas itu
tidak terbuang di lokasi di luar bengkel.

Pada lokasi bengkel, pengolahan dilakuykan dengan cara menampung oli bakas tersebut
kedalam drum dan disimpan dalam tem[pat penampungan semantara (TPS). Selanjutnya kumpulan oli
bekas ini disalurkan kepada penampung oli bekas resmi yang ditunjuk pemerintah. Sedangkan oli bekas
sisa dari oil filter dan fuel filter juga dikelolah dengan cara,menampung bekas filter-filte tersebut kedalam
drum,tempat penirisan dalam posisi terbalik ,sehingga oli dan solar secara berlahan akan keluar dari
dalam filter hingga kering.

Lokasi bengkel juga dibuat dengan lantai beton dengan dilengkapi dengan saluran air
(drainase) yang mengalir kesebuah tempat penampungan limbah cair tersebut yang dinamakan oil trap,air
yang keluar dari oil trap ini akan disambung dengan tabung penjernihan air sebelum dibuang keperairan
umum.oil trap ini akan dipantau secara periodic agar tingkat ketinggian air dan oli tidak sampai tumpah
kelur.kumpulan limbah cair bekas oli ini akan juga disalurkan kepenampung resmi y6ang ditunjuk
Pemerintah.Desain Oli trap dapat dilhat pada
Ganbar 4.2

4.4 PENGELOLAAN LINGKUNGAN DITEMPAT PENGELOLAAN / PELABUHAN


4.4.1 Pengelolaan Kualitas Udara / Debu

Penurunan kualitas udara yang terjadi dilokasi pertambangan yang berpengaruh pada
lingkungan dapat disebabkan oleh beberapa hal,antara lain mobilisasi alat angkut,debu batubara akibat
kegiatan crushing,dll.untuk menghindari atau meminimalisasi hal tersebut,upaya yang akan dilakukan
antara lain dengan melakukan peyiraman jalan yang menjadi akses alat angkut baik didalam tambang
maupun disepanjang jalan menuju dilokasi penimbunan dan melakukan penghujauan (green belt)
disekitar lokasi pengangkutan.

4.4.2 Pengelolaan Kebisingan


Untuk merngatasi dan meminimalisasi terjadinnya tingkat kebisingan yang tin ggi akibat
kegiatan penambangan, antara lain :
 Pembatasan kecepatan maksimal alat angkut
 Pengaturan penempatan mesin Diasel Genset dan memfasilitasinya dengan cara tertutup
agar tidak melewati ambang kebisingan.
 Pemantauan dan pengukuran tingkat kebisingan dititik luar konsesi dengan masyarakat
terdekat.
 Perawatan secara berkala unit-unit yang digunakan dalam aktifitas penambangan.

4.4.3 Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun ( B3 )


Limbah B3 yang dihasilkan dari kegiatan pembengkelan pada workshop akan dikelolah
dengan cara :

 Meyediakan tempat peyimpanan sementara limbah bahan berbahaya dan beracun


 Membuat sistem drainase disekeliling area bengkel yang dilengkapai dengan oil trap
(perangkap ceceran miyak)
 Meyerahkan ceceran limbah B3 kepada pihak yang berwenang )memiliki ijin pengelolah
dari KLH) untuk di lakukan daur ulang.

4.5 PEMANTAUAN LINGKUNGAN

Dampak yang ditimbulkan oleh kegoiatan penambangan yang akan di pantau selama
penambangan oleh PT.Era Energi Mandiri mencakup beberapa komponen diantaranya kom[ponmen
fisika-kimia,komponen biologi dan komponen susekbudkesmas. Pemantauan lingkungan disusun
mengaju pada dokumen rencana pemantauan lingkungan. Program pemantauan lingkungan ini antara lain
pemantauan kualitas udara,pemantauan kualitas air tanah serta aspek lain yang diperkirakan terdampak
negatif terhadap lingkungan,frekuansi pemantauan lingkungan disesuaikan dengan jenis parameter uji
dan baku mutu yang tertuang dalam RKL dan RPL. Secara garis besar,tujuan dari pelaksanaan
pemantauan lingkungan ini adalah untuk :

1. Mengetahui-mengetahui keberhasilan pengelolahan lingkungan khususnya dalam


mencegah,menanggulangi dan mengendalikan dampak negative serta mengembangkan dampak
positif terhadap lingkungan.
2. Mengevaluasi kegiatan pengolaan lingkungan yang tepat.