Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR OS MANDIBULARIS

RUANGAN AR-RAHIM RS ISLAM FAISAL MAKASSAR

OLEH :

SITI NURUL HAFIIZHA EPPE


PO714201161084

CI LAHAN CI INSTITUSI

( ) ( )

POLTEKNIK KESEHATAN MAKASSAR


D.IV KEPERAWATAN
2018
LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR OS MANDIBULA

I. KONSEP DASAR TEORI


A. Defenisi
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga
fisik dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan dari tulang itu sendiri dan
jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi
itu lengkap, tidak lengkap. (Arice, 1995 : 1183)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. (Mansjoer, 2000 : 42)
Mandibula membentuk rahang bawah. Mandibula merupakan satu-satunya
tulang pada tengkorak yang dapat bergerak. (Pearce, 2000 : 50)
Jadi Fratur Mandibula adalah terputusnya kontinuitas tulang rahang bawah
yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.

B. Penyebab
Penyebab fraktur / patah tulang menurut (Long, 1996 : 367) adalah :
1. Benturan dan cedera (jatuh pada kecelakaan)
2. Fraktur patologik (kelemahan hilang akibat penyakit kanker,
osteophorosis)
3. Patah karena letih
4. Patah karena tulang tidak dapat mengabsorbsi energi karena berjalan
terlalu jauh.

C. Pathofisiologi
Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah,
sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi
perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini
menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah
periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon
inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan
vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh
mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini
menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk bisa
menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian
merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam
pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom
menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler,
kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan
protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan
terjadinya edema, sehingga mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan
terjadi penurunan perfusi jaringan
D. Klasifikasi
1. Klasifikasi patah tulang menurut bentuk patah tulang
a. Fraktura complet, pemisahan komplit dari tulang menjadi dua fragmen
b. Fraktura incomplet, patah sebagian dari tulang tanpa pemisahan
c. Simple atau closed fraktura, tulang patah, kulit utuh
d. Fraktur complikata, tulang yang patah menusuk kulit, tulang terlihat
e. Fraktur tanpa perubahan posisi, tulang patah, posisi pada tempatnya
yang normal.
f. Fraktur dengan perubahan posisi, ujung tulang yang patah berjauhan
dari tempat patah.
g. Communited fraktura, tulang patah menjadi beberapa fragmen.
h. Impacted (telescoped) fraktura, salah satu ujung tulang yang patah
menancap pada yang lainnya.
2. Klasifikasi Menurut Garis Patah Tulang
a. Greenstick, retak pada sebelah sisi dari tulang (sering terjadi pada anak
dengan tulang yang lembek)
b. Transverse, patah menyilang
c. Obligue, garis patah miring
d. Spiral, patah tulang melingkari tulang

E. Manifestasi Klinik
Manifestasi Klinis Fraktur adalah nyeri, hilangnya sungsi deformitas,
pemendekan ekstremitas krepitus, pembekakan lokal dan perubahan warna.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai frogmen tulang
diimobilisasi spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen
tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap menjadi seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada faktur lengan
atau tungkai menyebabkan defromitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas
yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal.
Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen
sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm.
4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya fragmen satu
dengan lainnya (uji krepitus dapat kerusakan jaringan lunak yang lebih
berat).
5. Pembekakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi
setelah beberapa jam atau hari setelah cedera. ( Brunner dan Suddarth,
2001 : 2358 )
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur
2. Scan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan
mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak
3. Pemeriksaan darah lengkap: Hb menurun terutama fraktur terbuka,
peningkatan leukosit adalah respon stres normal setelah trauma.

G. Penatalaksanaan
1. Konservatif : Immobilisasi, mengistirahatkan daerah fraktur.
2. Operatif : dengan pemasangan Traksi, Pen, Screw, Plate, Wire ( tindakan
Asbarg)
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Aktivitas / istirahat
Tanda : Keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
(mungkin segera, fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder dari
pembengkakan jaringan, nyeri
b. Sirkulasi
Tanda : Hipertensi (kadang-kadang sebagai respons terhadap nyeri /
ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah), takikardi (respon stress,
hipovelemia) penurunan / tak ada nadi pada bagian distal yang cedera :
pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian distal yang terkena
pembekakan jaringan atau hematoma pada sisi cedera.
c. Neurosensori
Gejala : Hilang gerakan / sensasi, spasme otot, eksemutan
Tanda : Deformitas lokal : angutasi abnormal, pemendekan, rotasi,
krepitasi, spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi agitasi (mungkin
berhubungan dengan nyeri / ansietes atau trauma lain).
d. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terkolalisasi pada
area jaringan) kerusakan tulang : dapat berkurang pada imobilisasi) ; tak
ada nyeri akibat kerusakan saraf.
Spasme / kram otot (setelah imobilisasi)
e. Keamanan
Tanda : Laserasi kulit, ovulasi jaringam pendarahan, perubahan warna
pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).
B. Diagnosa dan Intervensi

lu1. Gangguan rasa nyama: nyeri (akut) b.d pergeseran fragmen tulang
terhadap jaringan lunak
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri
dapat berkurang atau terkontrol.
Kriteria hasil : a. Nyeri berkurang atau hilang
b. Skala nyeri 1
c. Klien menunjukkan sikap santai
Intervensi Rasional
1. Kaji lokasi nyeri, itensitas dan tipe nyeri 1. Mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi
2. Pertahankan imobilisasi fraktur wajah 2. Mempertahankan posisi yang tepatndan
dengan alat yang tepat mencegah stres yang tak diperlukan pada
dukungan otot
3. lakukan rentang gerak pasif/ aktif untuk 3. menurunkan ketidaknyamanan dan kekakuan,
ekstremitas/ sendi merangsang sirkulasi yang melambat sehubungan
dengan tirah baring
4. Ajarkan dan dorong tehnik relaksasi napas4. Dengan tehnik relaksasi dapat mengurangi
dalam nyeri
5. Berikan waktu untuk ekspresikan perasaan,5. ekspresikan masalah/ rasa takut menurunkan
dalam tingkat kemampuan berkomunikasi ansietas/ siklus nyeri
Kolaborasi
Berikan analgetik sesuai indikasi
dengan dokter, pemberian analgetik Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri
akan berkurang.

2. Resiko tinggi inefektifnya bersihan jalan nafas b.d trauma pada


jaringan lunak
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
resiko inefektif bersihan jalan nafas tidak terjadi
Kriteria hasil: a. Pola nafas normal
b. Bunyi nafas jelas dan tidak bising
c. Mendemonstrasikan perilaku untuk
meningkatkan jalan napas paten
Intervensi Rasional
1. Tinggikan tempat tidur 30 derajat 1. Meningkatkan drainase sekresi dan
menurunkan terjadinya edema
2. Observasi frekuensi/ irama pernafasan. 2. Dapat mengindikasikan terjadinya gagal
Perhatikan penggunaan otot aksesori, pernafasan
pernafasan cuoing hidung, stridor, serak
3. Periksa mulut terhadap pembengkakan, 3. Pemeriksaan hati-hati diperlukan karena
perubahan warna, akumulasi sekret mulut mungkin adanya perdarahan
atau darah
4. Perhatikan keluhan pasien akan 4. Menindikasikan pembengkakan jaringan lunak
peningkatan disfagia, batuk nada tinggi, pada faring posterior
mengi
5. Awasi TTV dan perubahan mental 5. Takikardi/ peningkatan gelisah dapat
mengindikasikan terjadinya hipoksia
6. Auskultasi bising usus 6. Adanya mengi/ ronki menunjukan sekret
tertahan
7. Kaji warna dasar kuku 7. Menentukan keadekuatan oksigenasi
Kolaborasi
Berikan antiemetik sesuai indikasi Mencegah terjadinya muntah dan aspirasi

3. Kerusakan komunikasi verbal b.d nyeri


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien
dapat berkomunikasi dengan baik
Kriteria hasil : pasien akan menetapkan metode komunikasi dimana
kebutuhan dapat diekspresikan

Intervensi Rasional
1. Tentukan luasnya ketidakmampuan 1. Tipe cedera/ situasi individual akan
untuk berkomunikasi menentukan kebuthan yang memerlukan bantuan
2. Memampukan pasien untuk
mengkomunikasikan kebutuhan atau masalah
3. Batasi frusteasi dan kelelahan yang dapat terjadi
2. Berikan pilihan cara komunkasi
pada percakapan lama
menggunakan alat
4. Menurunkan ansietas dan perasaan tidak
3. validasi arti upaya
berdaya
komunikasi.gunakan ya atau tidak
4. Antisipasi kebutuhan pasien
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8.
Jakarta : EGC

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Muskuloskeletal. Jakarta : EGC

Nurarif Amih Huda, 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc. Jakarta: EGC

Price S. A dan Wilson, Lorraine M. C, 2006, Patofisiologi Clinical Concepts


of Desiase Process, Edisi 6, Vol 2, Alih bahasa Brahm U, EGC :
jakarta.

Anda mungkin juga menyukai