Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT SISTEM I


“KERACUNAN FOSFAT ORGANIK”

COVER

Dosen Pembimbing :

Merina Widyastuti, S.Kep.,Ns.,M.Kep


NIP. 03.033

Oleh :

Kelompok 7

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
2018
MAKALAH

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT SISTEM I


“KERACUNAN FOSFAT ORGANIK”

Disusun Oleh :

1. Brahmayda Wiji Lestari NIM 1510006


2. Herda Mentary Sitorus NIM 1510019
3. Ika Yulia Hadinata NIM 1510021
4. Mahalia Ocha Danna NIM 1510029
5. Vamila Meydiawati NIM 1510054

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT, berkat ridho,
rahmat, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah Keperawatan
Gawat Darurat Sistem I “Keracunan Fosfatorganik” untuk memenuhi syarat tugas
mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat Sistem I mahasiswa Program Studi S1
Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya.
Dalam penyusunan Satuan Acara Penyuluhan ini, kami mendapatkan
banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan
ini perkenankanlah saya mengucapkan banyak terima kasih kepada yang
terhormat:
1. (Purn) Kolonel Laut (K/W) Wiwiek Liestyaningrum, M.Kep selaku Ketua
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya, yang telah memberikan
kesempatan dan fasilitas kepada kami untuk mengikuti dan menyelesaikan
pendidikan di Program Studi Ilmu Keperawatan.
2. Merina Widyastuti, S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku penanggung jawab mata kuliah
Keperawatan Gawat Darurat Sistem I di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Hang Tuah Surabaya yang telah bersedia mengorbankan waktu dan
pikirannya untuk bimbingannya dalam penyelesaian Makalah Seminar ini.
3. Teman-teman Program Studi S-1 Keperawatan Angkatan 2015, yang banyak
membantu dalam penyusunan Makalah Seminar ini.
4. Serta kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan
Makalah Seminar ini.

Kami sadari bahwa Satuan Acara Penyuluhan ini jauh dari sempurna,
tetapi saya berharap Satuan Acara Penyuluhan ini dapat bermanfaat bagi
masyarakat dan perkembangan ilmu keperawatan.

Surabaya, 17 September 2018

Penulis

3
DAFTAR ISI

COVER....................................................................................................................1
KATA PENGANTAR...............................................................................................3
DAFTAR ISI............................................................................................................4
BAB I.......................................................................................................................5
1.1 Latar Belakang..........................................................................................6
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................6
1.3 Tujuan........................................................................................................7
1.3.1 Tujuan Umum....................................................................................7
1.3.2 Tujuan Khusus...................................................................................7
1.4 Manfaat......................................................................................................7
BAB II......................................................................................................................8
2.1 Definisi......................................................................................................8
2.2 Etiologi......................................................................................................8
2.3 Klasifikasi..................................................................................................8
2.4 Patofisiologi...............................................................................................8
2.4.1 Pathway..............................................................................................9
2.5 Manifestasi Klinis....................................................................................10
2.6 Komplikasi..............................................................................................11
2.7 Pemerikasaan Penunjang.........................................................................11
2.8 Penatalaksanaan Medis............................................................................11
2.9 Askep Teori.............................................................................................13
2.9.1 PENGKAJIAN.................................................................................13
2.9.2 DIAGNOSIS YANG MUNGKIN MUNCUL.................................15
2.9.3 INTERVENSI KEPERAWATAN....................................................16
BAB III..................................................................................................................20
BAB IV..................................................................................................................22
4.1 Kesimpulan..............................................................................................22
4.2 Saran........................................................................................................22

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia


dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang
menggunakannya. Racun adalah zat / bahan yang apabila masuk ke dalam
tubuh melalui mulut, hidung / inhalasi, suntikan dan absorbsi melalui kulit
atau di gunakan terhadap organisme hidup dengan dosis relatif kecil akan
merusak kehidupan / menggangu dengan serius fungsi satu / lebih organ atau
jaringan. Organofosfat adalah intsektisida yang paling toksik diantara jenis
pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia. Bila
tertelan, meskipun hanya dalam jumlah sedikit, dapat menyebabkan
kematian pada manusia.
Data di Indonesia tentang laporan kejadian keracunan pestisida
secara pasti masih belum ada. Namun, beberapa laporan regional dapat
ditemukan.misalnya pada kecmatan Bulu, Kab. Temanggung Provinsi Jawa
Tengah dilaporkan bahwa Pada tahun 1997 dilakukan pemeriksaan pada 85
orang petani dan 36,3% mengalami keracunan. Pada tahun 1999 diperiksa
80 orang petani dan 30,7% mengalami keracunan. Pada tahun 2000
diperiksa 80 orang dan 65,3% dilaporkan mengalami keracunan. Laporan
kasus di kecamatan Bulu, Kab. Temangung tersebut memberikan estimasi
bahwa sebenarnya kasus keracunan organofosfat di Indonesia cukup tinggi.
Dalam tubuh manusia diproduksi asetikolin dan enzim
kholinesterase. Enzim kholinesterase berfungsi memecah asetilkolin
menjadi kolin dan asam asetat. Asetilkolin dikeluarkan dari ujung saraf ke
ujung saraf berikutnya, kemudian diolah dalam Central nervous system
(CNS), kemudian terjadi gerakan-gerakan tertentu yang di koordinasikan
oleh otak. Ketika pestisida organofosfat memasuki tubuh manusia atau
hewan, pestisida akan menempel pada enzim kholinesterase. Karena enzin
kholinesterase ini tidak dapat memecahkan asetilkolin, sehingga impuls

5
saraf mengalir terus (konstan) dan menyebabkan suatu twitching yang cepat
dari otot-otot kemudian mengarah pada kelumpuhan. Saat otot-otot pada
sistem pernapasan tidak berfungsi, terjadilah kematian.
Penatalaksanaan pestisida merupakan suatu bentuk teknik tata
laksana yang berkaitan dengan keamanan dan ketetapan pemakaian dari
tingkat produksi sampai penggunaan pada tingkat bawah. Tata laksana dasar
keracunan organofsfat terdiri dari : Tindakan Supportif dan Dekontaminasi,
Melakukan Eliminasi Bahan Racun, Pemberian Anti-Dotum, dan
Pencegahan Terhadap Kejadian Keracunan Selanjutnya. Kemudian untuk
tindakan supportif berupa ABC (Airway-Breathing-Circulation) yaitu :
Pemberian oksigenasi jika perlu bantuan ventilisasi, Pertahankan jalan napas
tetap bebas, Mengatasi kondisi hemodinamik yang tidak stabil dan
Mengatasi gangguan aritmia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep penyakit intoksikasi organofosfat?


2. Bagaimana asuhan keperawatan intoksikasi organofosfat?

6
1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Setelah membahas tentang “Asuhan Keperawatan Pada Klien


Intoksikasi Organofosfat” mahasiswa mampu memahami “Asuhan
Keperawatan Pada Klien Intoksikasi Organofosfat”.

1.3.2 Tujuan Khusus

Setelah membahas tentang “Asuhan Keperawatan Pada Klien


Intoksikasi Organofosfat” mahasiswa mampu :
1. Memahami konsep penyakit intoksikasi organofosfat
2. Memahami asuha keperawatan intoksikasi Organofosfat

1.4 Manfaat

Manfaat dibuatnya makalah ini adalah untuk membagikan informasi


dan wawasan kepada pembaca mengenai asuhan keperawatan pada kasus
intoksikasi organofosfat.

7
BAB II

TINJAUAN TEORI

2 1

2.1 Definisi

Racun adalah suatu zat yang bila masuk ke dalam tubuh dalam jumlah
tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat
menimbulkan kematian. Reaksi kimia dari racun tersebut akan merusak
jaringan tubuh atau mengganggu fungsi tubuh (Palang Merah Indonesia,
2009). Setiap keadaan yang menunjukkan kelainan multi sistem dengan sebab
yang tidak jelas harus di curigai kemungkinan sebagai keracunan.

2.2 Etiologi

Disebabkan zat-zat yang berupa racun, seperti: insektisida, bahan kimia


(sianida), logam berat, racun binatang (ular, kalajengking) (Nugroho, Putri, &
Putri, 2016).

2.3 Klasifikasi

Menurut jurnal penelitian dari (Amanvermez, Baydin, Yardan, Başol, &


Günay, 2010) bila intoksikaais organofosfat memiliki empat tingkatan beserta
tanda dan gejalanya yaitu:
1. Grade 0: tidak ada tanda gejala
2. Grade 1: Hipersekresi, fasikulasi, masih sadar
3. Grade 2: Tanda klinis Grade 1 + hipotensi, penurunan kesadaran
4. Grade 3: Tanda klinis Grade 2 + stupor, abnormal chest x-ray, pO2< 10
mmHg.

2.4 Patofisiologi

Insektisida bekerja dengan menghabat dan menginaktifasikan enzim


asetilkolin nesterase. Enzim ini secara normal menghancurkan asetilkolin yang
dilepaskan oleh susunan saraf pusat, ganglion autonom, ujung-ujung saraf
parasimpatis dan ujung-ujung saraf motoric. Hambatan asetilkolin nesterase

8
menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin pada tempat-tempat
tersebut.

2.4.1 Pathway

9
2.5 Manifestasi Klinis

Gejala keracunan organofosfat sebagai berikut:


1. Gejala awal
Gejala awal akan timbul : mual / rasa penuh di perut, muntah, rasa lemas,
sakit kepala dan gangguan penglihatan.
2. Gejala Lanjutan
Gejala lanjutan yang ditimbulkan adalah keluar ludah yang berlebihan,
pengeluaran lendir dari hidung (terutama pada keracunan melalui hidung),
kejang usus dan diare, keringat berlebihan, air mata yang berlebihan,
kelemahan yang disertai sesak nafas, akhirnya kelumpuhan otot rangka.
3. Gejala Sentral
Gelaja sentral yan ditimbulkan adalah sukar bicara, kebingungan,
hilangnya reflek, kejang dan koma.
4. Kematian
Apabila tidak segera di beri pertolongan berakibat kematian dikarenakan
kelumpuhan otot pernafasan.
Gejala-gejala tersebut akan muncul kurang dari 6 jam, bila lebih dari itu
maka dipastikan penyebabnya bukan golongan organofosfat. Pestisida
organofosfat dan karbamat dapat menimbulkan keracunan yang bersifat akut
dengan gejala sebagai berikut: leher seperti tercekik, pusing-pusing, badan terasa
sangat lemah, sempoyongan, pupil atau celah iris mata menyempit, pandangan
kabur, tremor, terkadang kejang pada otot, gelisah dan menurunnya kesadaran,
mual, muntah, kejang pada perut, mencret, mengeluakan keringat yang
berlebihan, sesak dan rasa penuh di dada, pilek, batuk yang disertai dahak,
mengeluarkan air liur berlebihan. Denyut jantung menjadi lambat dan
ketidakmampuan mengendalikan buang air kecil maupun besar biasanya terjadi 12
jam setelah keracunan.
Sedangkan gejala keracunan menurut (Nugroho et al., 2016) dibagi
menjadi dua yaitu:
1. Gejala Muskarinik
Hypersekresi kelenjar keringat, air mata, air liur, saluran pernapasan,
dan saluran pencernaan. Dapat juga ditemukan gejala nausea, nyeri perut,
diare, muntah, inkontinensia alvi dan urin, bronkokontriksi, miosis,
bradikardi dan hipotensi. Pada keracunan parathion tidak selalu ditemukan
miosis dan hipotensi.
2. Gejala Nikotinik

10
Twitching dan fasikulasi otot lurik dan kelemahan otot. Ditemukan
pula gejala sentral seperti ketakutan, gelisah, gangguan pernapasan,
gangguan sirkulasi, tremor dan kejang.

2.6 Komplikasi

1. Henti nafas
2. Henti Jantung
3. Kejang
4. Koma

2.7 Pemerikasaan Penunjang

Pengukuran kadar AChE dalam sel darah merah dan plasma, penting untuk
meastikan diagnosis keracunan akut atau kronis. Monitoring untuk pemaparan
organofosfat dilakukan dengan penilaian kadar AChE darah. Standar nilai
penurunan AChE di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Normal bila kadar AChE > 75 %
2. Keracunan ringan bila kadar AChE 75 % - 50 %
3. Keracunan sedang bila kadar AChE 50% – 25%
4. Keracunan berat bila kadar AChE < 25%
Kadar kolinesterase plasma berkurang samapi 30% normal terutama pada
pasien yang kontak dengan insektisida organofosfat secara kronik dengan gejala
keracunan akut.

2.8 Penatalaksanaan Medis

1. Penalaksanaan kegawatan
Setiap keracunan dapat mengancam nyama. Walaupun tidak
dijumpai kegawatan kasus keracunan harus diberlakukan seperti keadaan
kegawatan yang mengancam nyama. Penilaian terhadap tanda vital seperti
jalan nafas/pernafasan, sirkulasi dan penurunan kesadaran harus dilakukan
secara tepat dan seksama sehingga tindakan resusitasi yang meliputi ABC
(Airway, Breathing, Circulation) tidak terlambat dimulai.
2. Penilaian klinis
Penatalaksanaan keracunan harus segera dilakukan tanpa menunggu
hasil penapisan toksikologi. Walaupun dalam sebagian kasus diagnosa
etiologi sulit ditegakkan dengan penilaian dan pemeriksaan klinis yang

11
cermat dapat ditemukan beberapa kelompok yang memberi arahan ke
diagnosa etiologi. Oleh karena itu pada kasus keracunan bukan hasil
laboratorium yang harus diperhatikan tetapi standar pemeriksaan kasus di
setiap ruamh sakitjuga perlu dibuat untuk memudahkan penanganan yang
tepat guna. Beberapa keadaan klinis yang perlu mendapat perhatian karena
dapat mengancam nyawa ialah koma, henti jantung, henti nafas dan syol.
Upaya yang paling penting adalah anamnesis atau aloanamnesis yang
rinci.
3. Dekontaminasi
1. Bila pelarut organofosfat terminum ialah minyak tanah, tindakan untuk
memuntahkan atau cuci lambung sebaiknya dihindari untuk mencegah
timbulnya pneumonia aspirasi. Bila pelarut golongan organofosfat
adalah air seperti yang digunakan dipertanian tindakan cuci lambung
atau membuat pasien muntah dapat dibenarkan.
2. Dilakukan pernapasan bautan bila terjadi depresi pernapasan dan
bebaskan jalan nafas dari sumbatan.
3. Bila racum mengenai kulit atau muosa mata bersihkan dengan air
4. Atropin dapat diberikan dengan dosis 0,015-0,05 mg/kgBb secara
intravena dan dapat diulangi setiap 5-10 menit sampai timbul gejala
antropinisasi seperti muka merah, mulut kering, takikardi dan
midriasis. Kemudian diberikan dosis rumat untuk mempertahankan
atropinisasi ringan selama 24 jam. Protopan dapat diberikan pada anak
dengan dosis 0,25 g secara intravena sangat perlahan-lahan atau “ivfd”.
5. Pengobatan sistomatik dan suportif.

12
2.9 Askep Teori

2.9.1 PENGKAJIAN

1. Pengkajian Primer
a) Airway
Periksa kelancaran jalan napas, gangguan jalan napas sering
terjadi pada klien dengan keracunan baygon, botulisme karena
klien sering mengalami depresi pernapasan seperti pada klien
keracunan baygon, botulinun.

b) Breathing
Kaji keadekuatan ventilasi dengan observasi usaha ventilasi
melalui analisa gas darah atau spirometri.

c) Circulation
Kaji TTV, kardiovaskuler dengan mengukur nadi, tekanan darah,
tekanan vena sentral dan suhu. mungkin ini berhubungan dengan
kerja kardio depresan dari obat yang ditelan, pengumpulan
aliran vena di ekstremitas bawah, atau penurunan sirkulasi
volume darah, sampai dengan meningkatnya permeabilitas
kapiler.

d) Disability (evaluasi neurologis)


Pantau status neurologis secara cepat meliputi tingkat kesadaran
dan GCS, ukuran dan reaksi pupil serta tanda-tanda vital.
Penurunan kesadaran dapat terjadi pada klien keracunan alcohol
dan obat-obatan. Penurunan kesadaran dapat juga disebabkan
karena penurunan oksigenasi, akibat depresi pernapasan seperti
pada klien keracunan baygon, botulinum.

2. PengkajianSekunder
a) Riwayat Kesehatan
Riwayat keracunan, bahan racun yang digunakan, berapa lama
diketahui setelah keracunan, ada masalah lain sebagai pencetus

13
keracunan dan sindroma toksis yang ditimbulkan dan kapan
terjadinya.

b) Pemeriksaan fisik head to toe

c) Pemeriksaan ADL (Activity Daily Living)


1. Aktifitas dan Istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise
Tanda : Kelemahan, hiporefleksi
2. Sirkulasi
Tanda : Nadi lemah (hipovolemia), takikardi, hipotensi
(pada kasus berat) , aritmia jantung, pucat, sianosis,
keringat banyak.
3. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih, distensi vesika urinaria,
bising usus menurun, kerusakan ginjal.
Tanda : Perubahan warna urin (contoh kuning pekat,
merah,coklat)
4. Makanan Cairan
Gejala : Dehidrasi, mual , muntah, anoreksia, nyeri uluhati
Tanda : Perubaan turgor kulit/kelembaban, keringat banyak
5. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur, midriasis, miosis,
pupil mengecil, kram otot/kejang
Tanda : Gangguan status mental,penurunan lapang
perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi kehilangan
memori, penurunan tingkat kesadaran(azotemia), koma,
syok.
6. Nyaman / Nyeri
Gejala : Nyeri tubuh, sakit kepala
Tanda : Perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah
7. Pernafasan
Gejala : Nafas pendek, depresi napas, hipoksia
Tanda : Takipnea, dipsnea, peningkatan frekuensi,
kusmaul, baruk produktif
8. Keamanan
Gejala : Penurunan tingkat kesadaran, koma, syok,
asidemia
9. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat terpapar toksin(obat,racun), obat nefrotik
penggunaan berulang

14
2.9.2 DIAGNOSIS YANG MUNGKIN MUNCUL

1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi.


2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas.
3. Resiko defisien volume cairan ditandai dengan faktor resiko asupan
cairan kurang

15
2.9.3 INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


1. Ketidakefektifan Tujuan : 1. Pantau tingkat, irama 1. Efek insektisida mendepresi
Pola nafas kembali efektif
pola nafas b/d pernapasan & suara napas SSP yang mungkin dapat
hiperventilasi Kriteria hasil : serta pola pernapasan mengakibatkan hilangnya
1. RR dalam batas normal
kepatenan aliran udara atau
2. jalan nafas bersih
3. sputum tidak ada depresi pernapasan, pengkajian
yang berulang kali sangat penting
karena kadar toksisitas
mungkin berubah-ubah secara
drastis.

2. Tinggikan kepala tempat 2. Menurunkan kemungkinan


tidur aspirasi, diafragma bagian bawah
untuk menigkatkan inflasi paru.

3. Memudahkan ekspansi paru &


3. Dorong untuk batuk/ nafas
mobilisasi sekresi untuk
dalam
mengurangi resiko
atelektasis/pneumonia.

16
4. Auskultasi suara napas 4. Pasien beresiko atelektasis
dihubungkan dengan hipoventilasi
& pneumonia.

Tujuan :
2. Penurunan curah Pompa jantung efektif.
5. Hipoksia mungkin terjadi
jantung b/d 5. Berikan O2 jika dibutuhkan
Kriteria hasil : akibat depresi pernapasan
perubahan 1. Tanda-tanda vital dalam
kontraktilitas rentang normal
2. Tidak ada penurunan 6. Kolaborasi 6. Memantau kemungkinan
kesadaran. untuk pemeriksaan sinar X munculnya komplikasi sekunder
3. AGD dalam batas normal dada, Blood Gas Analysis
4. Tidak ada distensi vena seperti atelektasis/pneumonia,

leher evaluasi kefektifan dari usaha

5. warna kulit normal pernapasan.

(HKM)

1. Observasi tanda-tanda 1. Untuk memantau keadaan


vital. umum pasien. tekanan darah
rendah secara signifikan
sebagai respons terhadap
penurunan curah jantung.
respirasi cepat adalah
karakteristik penurunan curah

17
2. Perhatikan warna kulit, jantung
suhu, dan kelembaban. 2. Kulit dingin, lembap, dan
pucat merupakan akibat
kenaikan kompensasi pada
stimulasi sistem saraf simpatis
dan curah jantung rendah dan
3. Periksa adanya perubahan desaturasi oksigen.
tingkat kesadaran.
3. Penurunan perfusi serebral
dan hipoksia tercermin dalam
iritabilitas, kegelisahan, dan
sulit berkonsentrasi. Pasien
usia sangat rentan terhadap
perfusi yang berkurang
4. Periksa gejala nyeri dada.
4. Curah jantung rendah dapat
menurunkan perfusi miokard,
sehingga menyebabkan nyeri

5. Edukasi keluarga agar dada.

menyesuaikan pola hidup 5. Transisi ke setting rumah


sehari-hari yang sehat dapat menyebabkan faktor
untuk membangun risiko seperti diet tidak tepat

18
perubahan hidup yang untuk muncul kembali.
akan memperbaiki fungsi
jantung pada pasien.

6. Kolaborasi dengan dokter


untuk pemberian obat
6. Dokter dapat memutuskan
untuk memiliki obat yang
diberikan walaupun tekanan
darah atau denyut nadi telah
diturunkan
3. Resiko defisien Tujuan : 1. Monitor pemasukan dan 1. Dokumentasi yang akurat dapat
Kekurangan cairan tidak
volume cairan d.d pengeluaran cairan. membantu dalam mengidentifikasi
terjadi
faktor resiko pengeluran dan penggantian
asupan cairan Kriteria hasil : cairan.
Tanda-tanda vital stabil,
kurang
2. Monitor suhu kulit, palpasi
Turgor kulit stabil,
2. Kulit dingain dan lembab,
denyut perifer.
Membran mukosa lembab,
denyut yang lemah
Pengeluaran urine normal 1
mengindikasikan penurunan
– 2 cc/kg BB/jam
sirkulasi perifer dan dibutuhkan
untuk pengantian cairan
tambahan.
3. Observasi adanya mual,

19
muntah, perdarahan
3. Mual, muntah dan perdarahan
yang berlebihan dapat mengacu
4. Pantau tanda-tanda vital
pada hipordemia.

4. Hipotensi, takikardia,
peningkatan pernapasan
mengindikasikan kekurangan
cairan (dehindrasi /hipovolemia).
5. Berikan kembali
pemasukan oral secara
5. Pemasukan peroral bergantung
berangsur-angsur.
kepada pengembalian fungsi
gastrointestinal.
6. Kolaborasi dengan tim
medis dalam pemberian
6. Cairan parenteral dibutuhkan
cairan parenteral
untuk mendukung volume
cairan /mencegah hipotensi.
7. Kolaborasi dalam
pemberian antiemetic
7. Antiemetik dapat
menghilangkan mual/muntah yang
dapat menyebabkan ketidak

20
8. Pantau hasil laboratorium seimbangan pemasukan
(Hb, Ht).
8. Sebagai indikator untuk
menentukan volume sirkulasi
dengan kehilanan cairan.

21
BAB III

PEMBAHASAN

Analisa Jurnal:
1. Judul: Accidental organophosphate insecticide intoxication in children: a
reminder
2. Tahun: 2011
3. Penulis: Willemijn van Heel and Said Hachimi-Idrissi
4. Problem
Keracunan yang diakibatkan oleh organofosfat dapat mengancam kehidupan.
Keracunan organofosfat dapat terjadi karena disengaja untuk tindakan bunuh
diri atau tidak sengaja karena ketidak tahuan anak-anak bila itu adalah zat
beracun. Keracunan organofsfat dapat terjadi apabila zat beracun tersebut
terkena kulit dan pernafasan karena semprotan atau spray dan bisa saja
melalui mulut dengan mencerna. Organofosfat ini dapat menyebabkan
penghambatan acetylcholinesterase mengakibatkan kelemahan
neurotransmitter dan otot-otot tubuh. Jika blockade dari racun organofosfat
tidak segera ditangani dalam waktu 24jam dapat mengakibatkan blockade
acetylcholinesterase secara permanen dan transmisi sistem saraf pusat akan
terganggu.
5. Intervention
Manajemen awal harus diarahkan pada mengamankan dan memelihara jalan
napas (airway) paten yang stabil dan memastikan pertukaran gas pada perfusi
organ yang memadai. Setelah elemen-elemen ini stabil dan aman, usahakan
dapat diarahkan untuk menetapkan diagnosis definitif dan perawatan.
6. Comparation
Jurnal ini adalah jurnal case report dari berbagai kasus keracunan organofosfat
pada anak-anak, sehingga tidak ada perbandingan intervensi yang dilakukan
tetapi menjelaskan kejadian keracunan organofosfat dan penanganan gawat
daruratnya.

7. Outcome

22
Dari berbagai case report keracunan organofosfat didalam jurnal, manajemen
awal untuk keracunan organofosfat terdiri dari manajemen saluran napas
(airway), pemberian oksigen dan cairan, peningkatan dosis pemberian dosis
pemberian atropine (0.05 mg/kg setiap15 min) dan pralidoxime (25mg/kg
setiap 6jam), serta dekontaminasi kulit pasien. Penurunan dosis atropine dapat
diturunkan setelah gejala bradikardi, hipersekrsi dan bronkospasme
menghilang (Van Heel & Hachimi-ldrissi, 2011).

23
BAB IV
KESIMPULAN

4 \1

4.1 Kesimpulan
Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam
tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang
menggunakannya. Organofosfat adalah intsektisida yang paling toksik diantara
jenis pestisida lainnya dan sering menyebabkan keracunan pada manusia.
Gejala awal yang timbul jika seseorang mengalami keracunan organo fosfat
adalah mula, pandangan kabur, lemas, kemudian keluar ludah yang berlebih
disertai dengan kejang dan kelemahan otot rangka. Jika penyebab keracunan
adalah zat cair yang masuk kedalam tubuh tindakan yang tepat adalah cuci
lambung atau membuat pasien muntah, tetapi jika terkena pada kulit segera
untuk mencuci dengan air mengalir. Penangan yang tepat menurut jurnal ialah
mengamankan dan memelihara jalan napas (airway) paten yang stabil dan
memastikan pertukaran gas pada perfusi organ yang memadai.

4.2 Saran
Demikian makalah KEPERAWATAN GAWAT DARURAT SISTEM
“KERACUNAN FOSFAT ORGANIK” kami buat semoga dapat bermanfaat
bagi pembaca dan teman-teman. Menyadari bahwa kami masih jauh dari kata
sempurana, kedepannya kami akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan
makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat
kami pertanggung jawabkan. Jika ada kritik dan saran yang membangun untuk
melengkapi makalah ini kami sangat berterimakasih .

24
DAFTAR PUSTAKA

25