Anda di halaman 1dari 7

1

A. Graviditas
1. Pengertian graviditas
Kehamilan di sebut juga graviditas, yaitu suatu rangkaian peristiwa yang di
mulai dengan konsepsi (pembuahan) antara sperma terhadap sel telur yang terjadi di
dalam atau di luar rahim, dan berakhir dengan persalinan (Isa, 2008). Graviditas
merupakan frekuensi kehamilan yang pernah ibu alami (Bobak, 2004). Bagi
primigravida, kehamilan yang di alaminya merupakan pengalaman pertama kali,
sehingga trimester III di rasakan semakin mencemaskan karena semakin dekat dengan
proses persalinan. Ibu akan cenderung merasa cemas dengan kehamilannya, merasa
gelisah, dan takut menghadapi persalinan, mengingat ketidaktahuan menjadi faktor
penunjang terjadinya kecemasan. Sedangkan ibu yang pernah hamil sebelumnya
(multigravida), mungkin kecemasan berhubungan dengan pengalaman masa lalu yang
pernah di alaminya (Kartono,1992).

a. Efek samping obat untuk ibu hamil


Tiap individu atau janin mempunyai afinitas yang berbeda-beda dalam
merespon obat. Plasenta sangat berperan dalam penyaluran obat ke dalam janin.
Kelainan plasenta atau penyakit pada ibu misalnya virus, infeksi kuman, atau
penyakit jantung sangat berpengaruh terhadap penyaluran obat ke janin. Efek obat
terhadap janin berbeda-beda tergantung dari periode kehamilan atau umur janin
intrauterin. Klasifikasi obat yang umum di gunakan pada wanita adalah seperti
antimikroba, analgesik, dan hormon, berikut penjelasannya.
1) Antimikroba
Telah di ketahui bahwa antimikroba seharusnya tidak di gunakan tanpa
adanya indikasi. Resistensi obat telah menjadi ancaman kesehatan utama karena
penggunaan agens ini yang tidak sesuai dan secara bebas di masa lalu. Namun,
terdapat hal-hal spesifik ketika agens antimikroba di perlukan. Banyak agens
seperti penisilin, merupakan pilihan yang beralasan bagi wanita hamil. Namun,
tetrasiklin (tetrasiklin atau acromycin, doksisilin, vibramicyn, minosiklin, dan
minocin) harus di hindari, setelah melewati plasenta, obat akan terkonsentrasi
dalam tulang dan gigi.

Aminoglikosida, streptomisin, dan kenamisin (Kantrex) adalah obat


ototoksik, yang menyebabkan kerusakan permanen saraf kranial delapan.
2

Sefalosporin (misal sefaklor atau ceclor, sefiksim atau suprax, seftriakson atau
rocephin) adalah anti mikroba yang paling umum di gunakan untuk menangani
berbagai infeksi reproduksi mikroba. Quinolon merupakan kategori C FDA
tetapi biasanya di anggap kontraindikasi dalam kehamilan dan bagi anak-anak
kecil.

2) Vitamin
Vitamin A, Vitamin tidak selalu merupakan suplemen yang positif,
vitamin A dalam dosisi besar dapat menjad teratogen. Efek samping dari hiper
vitamin A merupakan vitamin yang larut lemak yang akan disimpan dalam
tubuh, terutama di hati. Jika jumlahnya berlebih, kelebihan ini akan menumpuk
di tubuh. Vitamin A terdapat dalam dua bentuk, yaitu bentuk preform vitamin
A (retinol) dan provitamin A (karoten). Makanan yang menyediakan vitamin A
dalam bentuk preform adalah daging, hati, susu, ikan, telur, dan sereal yang
telah difortifikasi. Sedangkan vitamin A yang tersedia dalam buah dan sayur
berada dalam bentuk karoten. Jika Anda hamil atau sedang merencanakan
kehamilan, sebaiknya:
a) Hindari mengonsumsi suplemen yang mengandung vitamin A, seperti
minyak hati ikan, kecuali jika Anda di sarankan oleh dokter.
b) Hindari mengonsumsi hati karena mengandung tinggi vitamin A, Anda bias
mendapatkan vitamin A dari sumber pangan lain, seperti buah dan sayur.
3) Vaksinasi
Vaksinasi merupakan contoh perawatan pencegahan primer yang baik.
Namun, wanita hamil, atau yang beresiko terjadi kehamilan, tidak boleh di
berikan vaksin virus hidup seperti vaksin rubela. Vaksinasi lain, seperti hepatitis
A dan B, influenza, polio, dan rabies dapat di berikan selama kehamilan jika di
perlukan.

b. Obat yang boleh di konsumsi untuk ibu hamil

Mual adalah perasaan yang secara sadar dirasakan sebagai akibat terjadi
eksitasi pada pusat muntah tersebut.sedangkan muntah,merupakan isi usus dari
dalam saluran usus ketika salah stu bagian mengalami imtasi. Mekanisme dari
muntah sebagai berikut, oleh karena adanya stimulus dan factor penyebab
muntah,yang di hasilkan oleh reseptor-reseptor muntah yang tersebar diseluruh
3

tubuh.melewati saraf otonom,stimulus muntah menstimulus pusat muntah atau


chemo reseptor trigger zone/CTZ (terletak sebelah luar sawar darah otak dalam
mendula yang berbeda dengan pusat muntah namun letaknya berdekatan pusat
muntah), respom yang keluar adalah emesis. Adapun penyebab muntah, antara lain:

1) Jika CTZ/zona pemicu kompresor mendeteksi :


a) Zat-zat kimia yang beredar didalam darah seperti estrogen, alkohol, nikotin,
opiozid, zat besi, dan obat anastesi
b) Gangguan keseimbangan elektrolit (kadar Na rendah)
c) Penghentian pemakaian alkohol yang teratur
d) Metabolit jringan rusak yang terlepas di sirkulasi pada saat cedera
2) Nucleus vestiburasi yang mendetesi adanya gerakan mendadak misalnya setelah
persalinan atau pembedahan
3) Pusat-pusat yang lebih tinggih yang mendeteksi, yaitu citarasa, bau,
penglihatan, nyeri, emosi, takut, antisipatif, faktor - faktor individual tersebut
4) Sistem saraf otonom mendeteksi, yaitu:
a) Iritasi pada usus, tenggorokan periotenum, seperti migran, nyeri persalinan,
penyakit hati, beberapa makanan tertentu, alkohol, NSAID, obstruksi GIT,
dan konstipasi
b) Ganguan fisiologis, seperti perubahan tekanan darah, PH,gas darah, kadar
glukosa, nyeri syok, ketoasidosis, urenemia, kerusakan organ, dan infeksi.

Mual (nausea) dan muntah (emensi gravidarium) adalah gejala yang wajar
pada kehamilan trimester mual. Biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat juga
timbul pada malam hari dan setiap hari. Gejala-gejala ini terjadi kurang lebih terjadi
setelah 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir berlangsung dan selama kurang
lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi dari 60-80% primi gravid dan 40-60%
multi gravida.satu di antara seribu kehamilan,gejala ini menjadi berat. Perasan mual
ini disebabkan karena meningkatnya kadar hormon esterogen dan HCG dalam
serum. Hiper emensis gravid adalah keadan mual dan munta pada wanita hamil
sampai menggangu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk
akibat terjadi dehidrasi.
4

Tidak di ragukan lagi bahwa menyusui adalah metode terbaik memberi


makan bayi baru lahir dan bayi muda. Bagi banyak wanita, kebutuhan
menggunakan obat selama masa ini memunculkan dilema. Seringkali mereka
merasa takut jika terdapat efek yang tidak menguntungkan pada anaknya, dan
pemberi perawatan dapat atau mungkin tidak mampu mengatasi ketakutan tersebut.
Agar obat masuk ke dalam ASI, obat ini harus melewati embran mammae.
Membran mammae semipermeabel, dan transfernya lebih sulit daripada transfer
melalui plasenta. Namun, transfer obat melalui plasenta tergantung berbagai faktor,
sehingga sejumlah agens di transfer melalui ASI.
Terapi obat janin adalah pemberian agens yang bertujuan untuk mengatasi
gangguan pada janin untuk meningkatkan kapasitas adaptasi intrauterus atau
neonatus nantinya. Terapi ini berdasarkan pada pengetahuan farmakokinetik janin
dan transfer plasenta. Waktu juga mempengaruhi transfer obat dalam ASI. Ekskresi
obat dalam air susu terutama dalam melibatkan difusi pasif. Namun, selain difusi
obat dapat lewat dengan metode sekresi melalui dinding kapiler dalam yang
melapisi sel alveolar puting susu dan melalui dua dinding ke sel alveolar ntuk
penetrasi air susu. Berikut beberapa agens yang lebih di pilih wanita menyusui,
sebagai berikut:
1) Antimikroba
Penisilin (mis, ampisilin atau omnipen dan amoksisilin atau amoxil) dan
sefalosporin terkait (mis, sefaklor atau ceclor, sefiksim atau suprax, seftriakson
atau rocephine di anggap kompatibel untuk menyusui. Aminoglikosida seperti
kanamisin (kantrex) adalah agens yang di berikan secara langsung pada bayi
baru lahir.
2) Analgesik
Kodein dan meperidin (demerol) terdpat dalam ASI dengan kadar yang
rendah dan biasanya tidak memerlukan penghentian pemberian obat atau proses
menyusui. Obat anti inflamasi nonsteroid merupakan obat pilihan yang di
pertimbangkan beralasan saat menyusui karena jumlahnya sangat sedikit di
temukan dalam ASI. Namun, jika memberikan opiat dalam jumlah besar selama
proses persalinan, bayi akan mengantuk dan hipotonik saat di lahirkan, yang
menyebabkan beberapa kesulitan dalam memulai poses munyusui.
3) Obat Gastrointestial dan Antihistamin
5

Simetidin (tagamet) adalah anti histamin antisekresi yang populer di


gunakan untuk pirosis maternal atau nyeri ulu hati. Namun, obat ini mempunyai
efek antiandrogenik dan menyebabkan MPR lebih dari 1 antasid dapat juga di
gunakan untuk nyeri ulu hanti dan kompatibel bagi ibu menyusui.

2. Hiperemisi
Batas mual dan muntah berpa banyak tidak ada kesepakatan.akan tetapi bil
keadaan umum ibu terpengaruh ibu diangap sebagai hiperemisis. Adapun tingkatan
pada hiperemisi, yaitu:
a. Hiperemesis gravidarum tingkat 1= Ringan
Mual muntah terus menerus menyebab kan penderita lemah,tidak mau
makan, berat badan menurun,dan nyeri pada epigasstrium,denyut nadi
menigkat,tekanan darah turun,lidah kering dan mata cekung.
b. Hiperemesis gravidarum tingkat 2= Sedang
Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih
parah,lemah apatis turgor kulit mulai jelek,lidah kering dan kotor,nadi kecil dan
cepat ,suhu badan naik(dehidrasi),ikterus ringan,bert badan turun,tensi
turun,hemokonsentrasi, oguri dan konstipasi,dapat juga terjadi asetorunia dan
nafas keluar bau aseton.
c. Hiperemesis gravidarum tingkat 3= Berat
Keadaan umum buruk,keadaan sangat menurun samnolen sampai koma,
nadi kecil halus dan cepat,dehidrasi hebat,suhu tubuh naik,dan tensi turun sekali
ikterus,komplikasi yang berakibat fatal terjadi pada susunan saraf pusat
(ensefalopati wernicke) dengan adanya nigtasmus,nistagmus,diplopia,perubahan
mental.

3. Konsekuensi emensi/hiperemesis
a. Dehidrasi lebih lanjut menimbulkan resiki trombosit.
b. Gangguan kesemimbangan elekrolit (Na,K)yang berakibat kelemahan tubuh
c. Keseimbangan Ph.
d. Pembentukan keton
e. Gangguan pemberian obat secara per-oral.
f. Resiko asipirasi muntah sering menjadi sindrom gawat pernafasan.
g. Resiko hipotensi,penurunan aliran darah plasenta,sinkop,syok kolap sirkulasi.
6

h. Distress pisikologis
i. Defensiensi vitamin,kegagalan hati
j. Resiko trauma pada GIT.
k. Konsekuensi jangkan panjang, yaitu malnutrisi dan karien dentis.

4. Epitologi
a. Sering terjadi pada primigravida,molahidatidosa,dan kehamilan ganda akibat
peningkatan kadar HCG.
b. Factor organic,karena masuknya vilkhoriales dalam sirkulasi mentemal,dan
perubahan metabolic.
c. Factor psikologis keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan,rasa takut
terhdap kesalinan dan persalinan,
d. Factor endokrin lainnya : hiperteorid,diabetes.

5. Konsep penanganan hiperemesis gravidarium


a. Isolasi dan pengobatan psikologis
b. Pemberian cairan pengganti’
c. Pemberian obat: sadativa ringan,anti alergi,anti mual-muntah dan vitamin.
d. Menghentikan kehamilan

6. Penatalaksaan non farmakologi


Terhadap kasus kehamilan selalu saja tindakan non farmakologis diambil
sebagai tindakan pertama dan utama dengan maksud untuk menekan kejadian efek
samping farmakologis yang tidak diinginkan.
a. Pertimbangan apakah penyebab mual itu spesifik misanya akibat pemberian tabel
zat bes,infeksi saluran kemih,ansientas,kehamilan kembar.
b. Istirahat dan konsusmsi makanan KH misanya biscuit(khususnya yang
mengandung jahe),sereal mungkin cukup efektif untuk mengatasi muntah
c. Dianjurkan untuk tidak melakukan: gerakan medadak pada bumi,makan yang
terlambat pada malam hari,bumbu yang berlebihan.

7. Penatalaksaan farmakologi
7

Obat yang dapat diberikan pada hiperemesis gravidarum dapat dipilih obat-
obatan yang tidak bersifat teratogenik(dapat menyebabkan kelainan kogenital-cacat
bawaan bayi)komponen yang dapat diberikan (sesuai urutan), yaitu :
a. Sadativa ringan: obat ini memang tidak menurunkan frekuensi dan emensis
namun sangat membantu terutama untuk menenagkan fisik dan psikologis paien
yang mana factor tersebut kerap kali menyebabkan dominan emensis gravidarum
obat yang digunakan : Phenobarbital(luminal)30mgr,lorazepam dan valium
b. Antihistamin : jika penanganan diatas belum dapat menolong hentikan
penggunaan hedative dan lanjutkan dengan pemberian antihistamin.obat ini untuk
mencegah dan mengobati mual-muntah terutama pusing. Obat yang dapat
digunakan: dimenhidrinat (dramamin),prometazin(avopreg).
c. Vitamin: kerap penggunaan histamine merupakan kombinasi dengan anti emetic
lain seperti bersama antihistamin terutama vitamin B1&B6
d. Antagonis dopamine :penggunaanya dipertimbangkan untuk kasus yang tidak bisa
ditangani oleh perlakuan diatas. Contoh : metoklorpramid (primperam), dan
klorpromazin(langacitil).
.