Anda di halaman 1dari 3

Nama : Clara Meigia Putri

Kelas : 2 LE

PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


PEMERINTAH (EKSEKUTIF, LEGISLATIF, DAN YUDIKATIF) YANG MEMILIKI
MORAL POSITIF DAN NEGATIF

Moral Positif

Eksekutif
Nama : Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. (Ahok)
- Basuki memperoleh penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara
negara dari Gerakan Tiga Pilar Kemitraan, yang terdiri dari Masyarakat Transparansi
Indonesia, KADIN dan Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara, pada tanggal 1
Februari 2007. Ia dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat pemerintah daerah,
antara lain dengan tindakannya mengalihkan tunjangan bagi pejabat pemerintah untuk
kepentingan rakyat, yaitu untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis
bagi masyarakat Belitung Timur. Ia juga terpilih menjadi salah seorang dari 10 tokoh yang
mengubah Indonesia, yang dipilih oleh Tempo.
Basuki kembali mendapat penghargaan anti korupsi dari Bung Hatta Anti Corruption Award,
yang diterimanya pada tanggal 16 Oktober 2013. Ia mendapat penghargaan ini karena
usahanya membuka laporan mata anggaran DKI Jakarta untuk dikaji ulang.
Anugerah Seputar Indonesia (ASI) 2013 memberikannya gelar Tokoh Kontroversial.
(sumber: https://id.m.wikipedia.org)
- “Ahok secara kinerja sedang menerobos semua sistem yang beku di DKI, itu merupakan sisi
positif dari kebuasannya”, kata Pras kepada kompas.com
(sumber: www.kompas.com)

Legislatif
Nama : Percha Leanpuri, B.Bus., M.B.A

Percha merupakan Politisi termuda di gedung parlemen, seorang anggota DPD RI dari daerah
pemilihan Sumatera Selatan, yang telah menjabat sebanyak dua periode sejak tahun 2009 s/d
sekarang.
Meskipun masih muda, kemampuan politik perempuan satu ini tidak bisa dipandang sebelah mata
karena darah politik telah mengalir di dirinya. Perempuan kelahiran Belitang pada 24 Juni 1986 ini
menyelesaikan studi nya di Victoria University (Sunway College) Malaysia, dan University Of
Ballarat (Unity College) Malaysia.
Percha meraih prestasi sebagai Juara 3 pentas bintang pelajar TVRI 1998, Indonesian delegator
ASEAN YOUTH CAMP 2002 Myanmar, dan masih banyak prestasi di bidang lainnya.
Dari kecil Percha sudah melek sama politik, setelah menyelesaikan kuliahnya di Malaysia, Percha
tanpa ragu lagi langsung terjun kepolitik. Titik ingin mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara
yang lebih baik lagi.
(sumber: https://m.merdeka.com)
Yudikatif
Nama : Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U.
Muhammad Mahfud MD sudah banyak diulas dalam berbagai tulisan, baik di media dunia nyata
maupun dunia maya. Muhammad Mahfud lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur 13 Mei 1957.
Komitmen Mahfud MD terhadap NKRI tidak perlu diragukan. Hal menarik dari sosok Mahfud MD
adalah bukan tipe seorang politisi yang munafik. Sikap lugas Mahfud MD sangat mewarnai kiprahnya
sebagai Ketua MK, sehingga di bawah kepemimpinannya, MK berhasil menjadi lembaga yang sangat
dihormati. MK berhasil menjadi lembaga yang powerfull. MK benar-benar menjadi lembaga yang
tidak bisa ditawar-tawar. Banyak sudah keputusan MK yang fenomenal dan membawa dampak besar
bagi negeri ini. Mahfud MD adalah sosok pemimpin yang menjunjung tinggi sikap kejujuran. Beliau
juga bukan tipe pemimpin yang sangat mencintai jabatannya sehingga bersedia menjual integritas dan
prinsipnya demi mempertahankan jabatan. Sikap yang tidak mau dipenjara oleh jabatan itu
dipeliharanya secara konsisten dan berulangkali dibuktikannya. Mahfud MD juga dikenal memiliki
empati yang sangat besar terhadap gerakan anti korupsi di negeri ini. Dan sudah dibuktikannya
berulang kali. Pada kasus yang menimpa mantan pimpinan KPK Bibit-Chandra yang terkenal dengan
kasus “Cicak vs Buaya” itu, dia berdiri paling depan. Sebagai negarawan, Mahfud MD adalah sosok
yang mampu meningkatkan martabat bangsa di mata internasional.
(sumber: m.beritahukum.com)

Moral Negatif

Eksekutif

Nama : Ir. H. Ibnu Amin, Msc.

Mantan Bupati Musi Rawas, Sumatera Selatan Ir. H. Ibnu Amin, Msc. Bin H. Mahmud Amin dicokok
tim Satuan Tugas (Satgas) Kejaksaan Agung.
Ibnu ditangkap paksa karena menjadi buron sejak berstatus terpidana atas kasus dugaan korupsi dana
operasional Setda Kabupaten Musi Rawas tahun 2004 yang merugikan negara hingga Rp1,8 miliar.
Sejak putusan PK tersebut diputus, Ibnu justru menghilang dan lantas pada 24 juli 2012 tersebut
terhadapnya dinyatakan buron. Atas perbuatan yang dilakukan Mahmud negara dirugikan Rp1,8
miliar. Dana tersebut dibagikan kepada anggota DPRD Musi Rawas untuk bantuan Tunjangan Hari
Raya.
(sumber: palembang.tribunnews.com/ Sriwijaya Post)

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya moral negatif pada kasus tersebut
dengan membuat suatu terobosan baru yang dapat mendidik masyarakat baik dari kalangan umum dan
kalangan pejabat sebagai pemerintah bahwa pentingnya bersikap jujur baik dalam pergaulan sehari-
hari maupun dalam dunia pekerjaan, diberikan efek jera berupa hukuman yang pantas diterima oleh
pelaku.

Legislatif
Nama : Edward Jaya, S.H.
Mendapat perlakuan berupa pengeroyokan yang diduga dilakukan Edwar Jaya, Sutrisno bin Kusman
Kepala Desa Karang Marga, Kecamatan Semendawai III, OKU Timur, akhirnya melaporkan kejadian
tersebut ke Polres OKU Timur, Rabu (4/11).Dalam laporan Polisi nomor : LP-
B/141/XI/2015/SUMSEL/OKUT tanggal 4 November 2015, yang diterima dan ditandatangani oleh
Aiptu Mohtarom, Kanit Regu II Polres OKU Timur, dilaporkan Edwar Jaya melakukan tindak pidana
pengeroyokan, dan dikenakan pasal 170 KUHPidanapada Senin (3/11) sekitar pukul 23.00 Wib, di
rumah korban.
Selain telah melakukan tindakan penganiayaan, Edward Jaya juga ditetapkan sebagai tersangka kasus
dugaan penipuan masuk perguruan tinggi. Edward Jaya juga menjadi salah satu dari sembilan anggota
DPRD Sumsel periode 2009-2014, yang mengikuti sidang keterangan saksi, pada sidang lanjutan
kasus dugaan korupsi dana hibah Pemprov Sumsel tahun 2013.
(sumber: sumeks.co.id)
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya moral negatif pada kasus tersebut
dengan memberikan efek jera berupa hukuman, dan pemberitaan agar adanya sifat malu dalam diri
pelaku agar tidak mengulangi kesalahan, serta diberikan pendidikan moral dan agama kepada
masyarakat luas terutama pelajar sebagai generasi penerus bangsa agar tidak adanya lagi oknum
pejabat yang salah menggunakan kekuasaannya.
Yudikatif
Nama : H. Ahmad Yamani, SH. MH.
Majelis Kehormatan Hakim Mahkamah Agung di Jakarta, Selasa (11/12) memberhentikan Hakim
Agung Ahmad Yamani secara tidak hormat, karena terbukti melakukan pemalsuan berkas putusan
pengajuan kembali (PK) terpidana kasus narkoba Hengky Gunawan.
Pimpinan Mahkamah Agung pada waktu itu menyebut kesalahan Yamani itu kelalaian semata.
Yamani sebelumnya sempat membantah telah mengubah amar putusan hukuman terhadap Hengky
Gunawan dari 15 tahun menjadi 12 tahun, yang sebelumnya diakui dalam Berita Acara Pemeriksaan
(BAP).
Yamani merupakan hakim agung pertama kali di Indonesia yang dipecat oleh Majelis Kehormatan
Hakim bentukan Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial. Dalam persidangan itu, Achmad Yamani
didampingi anggota Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) Andi Samsan Nganro.
(sumber: https://m.detik.com/ahmad-yamani)

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya moral negatif pada kasus tersebut
diberikan efek jera berupa hukuman yang berat bagi pelaku, ditingkatkan sarana pengawasan baik
internal, eksternal, dan masyarakat pada hakim agung guna memelihara kepercayaan masyarakat.