Anda di halaman 1dari 9

A.

Identitas
Judul Buku : Konseling dan Psikoterapi
Penulis : Stephen Palmer (Ed.)
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : 1.2011
Jumlah : 664 + cover
Halaman

B. Pendahuluan
Buku yang ditulis oleh Stephen Palmer menjelaskan berbagai macam teknik konseling dan
terapi. Teknik yang dijelaskan mengacu pada perspektif humanistik, perspektif kognitif,
perspektif psikodinamika, dan perspektif lainnya yang baru berkembang akhir-akhir ini.

Pada paparan awal, diberikan pengertian beberapa istilah penting dan sedikit sejarah
mengenai bentuk konseling-terapi dari setiap perspektif. Pengarang sendiri memberikan
penjelasan yang kuat bagi pembaca untuk membedkan istilah konseling dan psikoterapi. Dalam
penerapannya, konseling bergerak dengan tujuan jangka pendek, sedangkan psikoterapi dalam
jangka yang panjang.

Buku setebal 652 halaman ini juga menyajikan petikan kasus dan proses konseling sebagai
contoh aplikasi nyata konsep yang ditawarkan. Banyak juga kajian masalah psikologis dari
berbagai perspektif. Metode konseling dan psikoterapi yang ditawarkan pun mudah dipahami
oleh pembaca. Namun, walaupun begitu buku ini tetap memiliki kekurangan, dengan ketebalan
yang mencapai 652 halaman buku ini sepintas terlihat menakutkan dan membosankan. Tetapi
dengan konten yang menarik dan mudah dipahami maka buku ini bisa menjadi pilihan bagi
siapapun yang ingin belajar memecahkan masalah dikehidupan sehari-hari.

Ringkasan Bab
1. Bab 1 : Pengantar Konseling dan Psikoterapi – Collin Feltham
2. Bab 2 : Konseling dan Psikoterapi Adlerian – jenny Clifford dan Gerhard Baumer
3. Bab 3 : Konseling dan Psikoterapi Pelaku – Berni Curwen dan Peter Ruddell
4. Bab 4 : Psikoterapi dan Konseling Analitik Kognitif - David Crossley dan Michael
Gopfert
5. Bab 5 : Psikoterapi dan Konseling Kognitif – Kasia Szymanska dan Stephen Palmer
6. Bab 6 : Psikoterapi dan Konseling Eksistensial – Sarah Young
7. Bab 7 : Psikoterapi dan Konseling Gestalt – Maris Gilbert dan Ken Evans
8. Bab 8 : HIpnosis dalam Konseling dan Psikoterapi - Peter J. Hawkins
9. Bab 9 : Konseling integratif – Gladeana McMahon
10. Bab 10 : Konseling dan Keterampilan Hidup - Richard Nelson-Jones

Adapun uraian singkat dari masing-masing bab, akan disajikan sebagai berikut :
1. Bab 1 : Keterampilan konseling
Keterampilan konseling sering disamakan artinya dengan percakapan biasa. Padahal berebeda
dalam beberapa hal :
Percakapan Biasa Keterampilan Konseling
Adanya bagian menyimak biasa, bahkan Menyimak aktif yang melibatkan
mungkin agak tidak perhatian kedisiplinan untuk menyingkirkan
pikiran diri sendiri secara sadar agar bisa
berkonsentrasi penuh pada hal-hal yang
diungkapkan seseorang.
Berisi banyak interaksi,anekdot, pikiran Melibatkan kedisiplinan untuk
dan gagasan bersama, dan perubahan merespons terutama kepada lawan
subjek tanpa tujuan. bicara, dengan cara yang bertujuan, tidak
menilai, dan sering kali serius, yang
biasanya bersifat satu arah.
Tidak dibatasi oleh persetujuan Didukung oleh pemahaman eksplisit
kerahasiaan atau tersirat mengenai kerahasiaan
Sering kali dianggap alami dan tidak Sering dirasakan atau dialami sebagai hal
punya aturan tertentu, yang agak tidak dialami.
Membicarakan banyak hal tanpa tujuan Terkait dengan beberpa jenis tujuan.
tertentu.

Konseling
Biasanya ditandai dengan adanya perjanjian eksplisit antara konselor dan kliennya untuk
bertemu ditempat tertentu, pada waktu yang telah disepakati, dan dalam kondisi kerahasiaan
yang tertib, dengan parameter etis, waktu terlindungi dan tujuan yang spesifik.

Psikoterapi
Lebih bersifat jangka panjang dibanding dengan konseling.
 Psikoterapi melibatkan pelatihan yang sangat lama, yang biasanya mencakup terapi
pribadi, wajib bagi semua peserta pelatihan, memaparkan mereka pada lapisan konflik
dam pertahanan bawah sadar yang subtil.
 Menangani masalah kedalamn bawah sadar, perilaku dan kepribadian yang
berkepanjangan, serta pola-pola klien, ketimbang berfokus pada pemecahan secara
seperfisial gejala-gejala yang tampak.
 Psikoterapi awalnya terkait dengan profesi medis,.

Pendekatan Terhadap Konseling


Ikhtisar mengenai pendekatan-pendekatan utama terhadap konseling :
 Mendapatkan rasa dibidang konseling dan psikoterapis
 Mulai berfikir tentang perbedaan-perbedaan kunci antara berbagai pendekatan
 Mulai mempertimbangkan unsur-unsur utama dan efektif yang dimiliki pendekatan-
pendekatan itu
 Bertanya kepada diri sendiri mengapa mereka tertarik pada beberapa pendekatan
tertentu

Pendekatan Psikoanalitik
Adalah ciptaan Sigmund Freud pada akhir abad 19. Istilah psikoanalisis, analisis, dinamis, dan
psiko dinamis mempunyai kemiripan dalam hal kepercayaan adanya eksistensi dan kekuatan
dimensi bawah sadar pikira. Para kritikus menunjukkan bahwa pendekatan ini mungkin terlalu
bertele-tele, elitis, mahal, tidak efektif, dan berdasarkan teori yang tidak masuk akal.

Freudian
Satu-satunya tokoh yang paling penting dalam pengembangan konseling dan psikoterapi.
Mengenai sistem bawah sadar yang kompleks yang terbentuk dari dorongan darai dalam dan
kerapuhan perkembangan awal. Konsepnya tentang ego, id, dan superego.

Jungian
Jungian dipengaruhi oleh mitologi, antropologi, teologi, astrologi, kimia dan ilmu lain,
mendorong bawah sadar individu dan kolektif, dan memperkenalkan banyak teknik non-
freudian.

Adlerian
Meneliti isu-isu kekuasaan dalam keluarga terutama tentang hubungan persaudaraan, logika
pribadi keliru yang mengarah pada tujuan hidup yang salah.

Kleinian
Metode psiko-terapi anak dan teori dan praktik terkait dengan psikosis.

Pendekatan Perilaku Kognitif


pendekatan perilaku kognitif berusaha mengkaji dan menangani gejala-gejala yang
teridentifikasikan dan berfokus pada perilaku yang bisa dibuktikan. Secara umum di sisni dan
saat ini, dan efisien dengan menggunakan teknik kajian tepat dan tugas-tugas berbasis ramah
dan in-session.
1. Terapi Perilaku – faktor situasional
2. Terapi Perilaku Emotif Rasional REBT
3. Terapi Kognitif (pemikiran)
4. Terapi Realitas
5. Terapi Konstruk Pribadi
6. Terapi Multimedia
7. Konseling Keterampilan Hidup

Pendekatan Humanistik
Penekanannya lebih ke masa sekarang daripada masa lalu. Lebih pada perubahan sosial yang
radikal daripada daripada beradaptasi pada masyarakat yang sakit.
1. Konseling yang berorientasi pribadi
2. Terapi Gestalt
3. Konseling Eksistensial
4. Analisis Transaksional
5. Konseling psikosintesis
6. Integrasi Utama

Pendekatan Lain
1. Hipnosis
2. Pemrograman neuro-linguistik
3. Terapi analitik kognitif
4. Terapi berfokus solusi
5. Konseling berfokus problem
6. Integrative
Kesimpulan
Diharapkan pada tahap ini pembaca telah memiliki kesan tentang keluasan,
kekompleksitasan,, ketakjuban dan problem-problem yang dihadapi bidang konseling dan
psikoterapi.

2. Bab 2 : Konseling dan Psikoterapi Adlerian


Terapi Adlerian adalah suatu pendekatan kognitif yang berarti bahwa para klien didorong untuk
melihat dan memahami dan kemungkinan mengubah gagasan dan keyakinan-keyakinan
mereka tentang diri mereka sendiri, dunia mereka, dan bagaimana mereka akan berperilaku di
dunia itu.

Perkembanngan Terapi
Menunjukan pendekatan holistic terhadap kepribadian.

Teori dan Konsep


Holistik
Tindakan, pikiran dan perasaan manusia harus dilihat sebagai satu kesatuan utuh yang
konsisten.
Sosial
Karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial maka perilaku manusia harus
ditafsirkan dalam konteks sosial.
Teleologis
Dalam rangka memahami perilaku seseorang kita harus tahu tujuan apa yang mereka
cari secara tidak sadar dengan bertingkah laku seperti itu.
Gangguan Psikologis
Orang-orang yang mengalami gangguan psikologis akan merasa inferior karena mereka
tidak pernah mengalami persamaan sosial; mereka hanya mengenal kompetisi dan bertingkah
laku sok kuasa, atau justru merasa rendah diri terhadap orang lain.

Praktik
Tujuan pendekatan Adlerian adalah:
 Bersama klien mengungkap tujuan keliru dan gagasan yang mendasarinya sehingga
mereka memahami gaya hidup khas mereka
 Mendorong klien untuk mengakui bahwa mereka memiliki persamaan sosial
Tujuan tersebut bisa dicapai melalui 4 fase terapi:
 Menjalin hubungan, menjalin hubungan dengan persamaan sosial di mana pasangan
punya penghargaan sejajar, hak yang sama, dan tanggung jawab yang sama.
 Mengumpulkan informasi untuk memahami klien, penting bagi terapis untuk
mengumpulkan informasi baik langsung dari klien atau sumber lain.
 Memberi wawasan, terapis membuat hipotesis pandangan klien terhadap dirinya
sendiri, pandangannya tentang dunia dan keyakinan bawah sadar bagaimana
menjalankan kehidupan.
 Mendorong reorientasi, terapis akan membimbing dan mendorong klien menemukan
cara untuk berubah.

3. Bab 3 : Konseling dan Psikoterapi Perilaku


Terapi perilaku bertujuan untuk mengubah perilaku manusia yang bisa diamati dan bisa
diukur. Pendekatan ini bertujuan melihat perubahan perilaku,.
Perkembangan Terapi
Perilaku terutama ditentukan oleh konsekuensi-konsekuensinya, jika perilaku tertentu
di hargai sebagai hal yang disukai, perilaku itu cenderung diperkuat dan diulangi.

Teori dan Konsep Dasar


Pikiran (kognisi), perasaan (emosi), dan tindakan(perilaku) berjalan secara
berdampingan. Perubahan pada satu aspek akan memicu perubahan pada kedua aspek.
Praktik
Tujuan umum terapi perilaku adalah menghasilkan perubahan perilaku realistis yang
diinginkan melalui pendekatan yang terencana dan konsisten. Perkakas utama terapi perilaku
adalah terapi paparan dan keterampilan dan pelatihan pengendalian diri yang masing-masing
konsisten dengan prinsip-prinsip pengkondisian klasik dan pengkondisian operan.
Asesmen
Seseorang dengan problem tertentu biasanya akan dikaji dan dirujuk untuk terapi perilaku
jika sesuai. Jika orang itu dan problemnya sesuai untuk dilakukan terapi perilaku, asasemen perilaku
penuh untuk problem itu akan dilakukan.

Proses Terapi
Begitu problem target telah dikaji penuh, terapeutik dimulai. Termasuk di dalamnya adalah
terapi paparan, yang melibatkan atau tidak melibatkan pengendalian diri atau latihan keterampilan.

Terapi Paparan
Dengan paparan terus menerus pada objek atau situasi yang ditakuti, awalnya kecemasan
akan muncul, namun akhirnya memudar pada level yang bisa di toleransi.

Pelatihan Keterampilan
Rentang teknik ini digunakan untuk semua tipe pelatihan keterampilan. Dalam pemodelan
terapis mendemonstrasikan perilaku yang sesuai, komponen demi komponen, dan mendorong klien
mengikuti contoh, memberi masukan dan pujian jika berkinerja bagus.

Pelatihan Pengendalian Diri


Bertujuan membantu klien mengendalikan perilaku dan perasaannya. Klien didorong untuk
menghargai dirinya dengan berbagai cara jika ia bisa mengendalikan diri, maka itu disebut
penguatan.

4. Bab 4 : Psikoterapi dan Konseling


Terapi analitik kognitif adalah terapi singkat dan bersifat kolaboratif yang berintegrasi pada tataran
teoretis dan pragmatic pendekatan kognitif dan psikoanalitik. Terapi ini telah digunakan untuk
menangani berbagai macam problem termasuk gangguan makan, menyakiti diri sendiri dengan
sengaja, dan gangguan kepribadian.

Teori dan konsep dasar


Terapi analitik kognitif bertujuan mengkombinasikan hal terpenting dalam psikoanalitik
dengan teori-teori terapi kognitif dalam kerangka tunggal, ditujukan terutama bagi banyak orang
yang masalahnya tidak mudah dipahami dengan menggunakan model psikoterapi lain.

Praktik
Terdapat empat fase, tiga sesi pertama difokuskan pada asesmen problem klien dan latar
belakang mereka dan menetapkan fondasi pemahaman bersama yang memperkuat hubungan
terapeutik. Sesi keempat adalah saat ketika terapis menyatukan cabang-cabang problem dan
menawarkan pemahaman tentang kesulitan klien dalam bentuk tertulis, yang disebut sebagai
reformulasi.

Sesi pendahuluan
Asesmen terapis akan berorientasi pada penulisan surat reformulasi. Untuk tujuan itu,
informasi diperoleh dari banyak sumber melalui proses wawancara tak terstruktur, melalui evaluasi
kritis hubungan terapis-klien, dan dari tugas tertulis laporan diri.

Reformulasi
Menjelang sesi ketiga atau keempat, terapis sampai pada pandangan sementara tentang
asal-usul dan fitur utama inti problem klien seperti yang diidentifikasikan dalam istilah prosedural
seperti jebakan, dilema, dan hambatan.

Sesi-sesi selanjutnya
Fokus terapeutik sekarang bisa diarahkan pada problem sasaran yang telah disepakati sebelumnya
dan prosedur-prosedur yang mengarah ke problem tersebut.

Mengakhri terapi
Akhir terapi mungkin masih menyisakan kesulitan klien sendiri, seperti kehilangan yang tak
terselesaikan, dan menyediakan kesempatan untuk praktik terapeutik.

5. Bab 5 : Psikoterapi dan Konseling Kognitif


Terapi kognitif adalah suatu pendekatan yang mengombinasikan penggunaan teknik kognitif dan
perilaku untuk membantu individu memodifikasi mood dan perilakunya dengan mengubah pikiran
yang merusak diri.

Teori dan konsep dasar


Premis dasar terapi kognitif adalah bahwa cara individu merasa atau berperilaku sebagian
besar ditentukan oleh penilaian mereka terhadap peristiwa.
Sejumlah faktor berperan dalam pemerolehan problem psikologis, termasuk di antaranya :
 Peristiwa kehidupan, seperti problem perkawinan, kedukaan karena ditinggal mati,
kehilangan pekerjaan atau sakit fisik.
 Faktor-faktor sosial, seperti rumah yang buruk, stress di tempat kerja, dan kesepian.
 Strategi buruk dalam mengatasi masalah, misalnya konsumsi alkohol yang tinggi
untuk meringankan gejala stress.
Masalah-masalah psikologs dikekalkan karena mempertahankan kesalahan berfikir dan
skema yang tidak bermanfaat.
Perpindahan menuju kesehatan psikologis melibatkan aplikasi secara sistematik teknik
perilaku kognitif yang spesifik oleh konselor dan dank lien pada problem yang dihadapi.

Praktik
Tujuan praktif kognitif:
 Memperbaiki dan memecahkan kesulitan atau masalah
 Membantu klien memperoleh strategi yang konstruktif dalam mengatasi masalah
 Membantu klien memodifikasi kesalahan berfikir dan/atau skema
 Membantu klien menjadi terapis pribadinya sendiri
Asesmen problem klien juga dikenal sebagai konseptualisasi kasus atau formulasi. Beberapa
fitur utama konseptualisasi kasus :
 Deskripsi detail tentang problem klien, terutama terkait pada modalitas perilaku,
perasaan, fisiologi dan kognisi
 Pemahaman problem dalam hal perkembangan dan arah, yaitu apakah problemnya
berkembang secara tiba-tiba atau secara perlahan.
 Identifikasi faktor-faktor yang memperparah problem.
 Mengompilasi daftar problem oleh konselor dank lien, untuk klien lebih dari satu
masalah.
 Mendiskuskan dan menetapkan tujuan yang realistis dan bisa dicapai.
Karakteristik untuk sesi ini adalah :
1. Mengulas keadaan psikologis terkini klien
2. Menegosiasikan agenda untuk sesi terapi
3. Mengulas pekerjaan rumah yang dilaksanakan sejak sesi terakhir
4. Mengerjakan sasaran-sasaran sesi spesifik

6. Bab 6 : Psikoterapi dan Konseling Eksistensi


Terapi eksistensi adalah pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi yang didasarkan pada
pemahaman filosofis tentang apa makna menjadi manusia, dan apa makna keberadaannya.

Teori dan konsep dasar


Pemikiran eksistensial memiliki beberapa asumsi dasar tentang apa yang sejati bagi kita
semua umat manusia, dan asumsi-asumsi tentang apa makna eksistensi kita.
Hakikat manusia sebenarnya tidak ada (Jean-Paul Sartre 1905-1980), karena kita menjadi
sesuatu melalui pilihan-pilihan yang kita buat dengan cara mengisi kehidupan kita, kita menjadi
sesuatu yang tidak pernah tetap, tidak pernah sekaligus.
Kita sering kali mengalami kesulitan menerima sebentuk kebebasan, dan alih-alih kita
melewatkannya dan membiarkan orang lain bertanggung jawab atas diri kita. Sering pula kita
merasa lebih mudah untuk bermain aman dan melakukan apa yang selalu kita lakukan, mengikuti
aturan dan berpura-pura bahwa kita tidak punya pilihan.
Eksistensialis berpendapat bahwa karena kita punya ukuran kebebasan ini dan dikutuk untuk
memilih, tak bisa dihindari kita juga akan merasa cemas. Kehidupan kita adalah tanggung jawab kita
dan itu membuat kita cemas.

Praktik
Terapis eksistensial tidak berfokus pada penentuan tujuan spesifik untuk terapi. Terapis
eksistensial mangadopsi metode fenomenologis dalam pendekatan mereka pada konseling dan
psikoterapis. Terapis eksistensial tidak menganggap dirinya lebih superior daripada kliennya dan ia
menghormati kliennya sebagai sesame manusia. Terapis eksistensial memberi klien ruang di mana
klien bisa mengekplorasi pengalamannya, juga akan berupaya mengembangkan kepercayaan dan
hubungan yang saling peduli di mana klien merasa cukup aman untuk mengungkapkan dirinya.

7. Bab 7 : Psikoterapi dan Konseling Gestalt


Terapi gestalt pendekatan eksistensial/ humanitik pada konseling dan psikoterapi yang telah
digunakan selama lebih dari 50 tahun. Humanism menekankan pada pentingnya kapasitas bawaan
sejak lahir yang dimiliki seseorang untuk perkembangan dan perubahan. Ada dua macam terapi
gestalt, yaitu gestalt klasik yang fungsinya mengembangkan kesadaran diri, sedangkan gestalt
kontemporer lebih berfokus pada kontak, yaitu kesadaran relasi seseorang dengan dirinya. Dengan
orang lain, atau dengan dunianya.

Praktik
Tujuan terapi Gestalt adalah menumbuhkan kesadaran dan metodologi primernya adalah
kesadaran. Kesadaran tentang bagaimana seseorang berada di dunia yang memampukannya
memilih pilihan bebas.
Terapi Gestalt didasarkan pada teori perubahan paradoksikal, semakin seseorang
menghormati orang lain, semakin besar orang itu merasa didukung untuk berubah. Dalam terapi
gestalt, pengalaman dinilai sebagai hal yang lebih penting daripada sekadar memperoleh
pemahaman intelektual. Inti terapeutik terapi gestalt adalah meningkatkan kesadaran. Teknik-teknik
yang digunakan dalam terapi gestalt ini merupakan layanan kesadaran yang lebih besar.
Mimpi adalah fokus penting dalam terapi gestalt. Mimpi adalah jalan utama menuju bawah
sadar, menuju integrasi.

8. Bab 8 : Hypnosis dalam Konseling dan Psikoterapi


Hypnosis bukanlah tidur, namun lebih pada pergeseran dalam perhatian yang bisa terjadi dalam
hitungan detik, baik dengan bimbingan maupun spontanitas. Hypnosis adalah strategi sekunder,
atau sebagai prosedur tambahan, dengan mengutamakan strategi, intervensi primer misalnya terapi
perilaku, terapi kognitif, analisis transaksional, konseling, dan sebagainya.
Asumsi praktik hypnosis :
 Keadaan hypnosis, atau keadaan trance adalah alami dan terjadi dalam induksi formal yang
dilakukan hipnoterapis.
 Semua hypnosis adalah hypnosis diri.
 Individu punya pikiran bawah sadar yang memiliki sumber daya untuk penyembuhan dan
penyadaran diri.

Praktik
Sebelum menginduksi keadaan trance, penting untuk menyiapkan klien bagi hypnosis, dengan
melibatkan sejumlah faktor :
 Terkait resistensi
 Memberi klien informasi tentang prosedur
 Mengklarifikasi segala kesalahpahaman terkait sifat alami hypnosis

Penting juga bagi terapis untuk mengetahui histori kasus. Aspek penting lainnya adalah
pemeriksaan keyakinan klien dan miskonsepsinya tentang hypnosis. Sebaiknya diperiksa dengan
cermat segala pengalaman sebelumnya dengan hypnosis dan mitos-mitos sebagai berikut :
 Hypnosis sama dengan tidur
 Bahwa penghipnotis punya kendali sepenuhnya atas diri klien
 Bahwa hypnosis merupakan pengalaman tidak normal dan luar biasa dan oleh karena itu
pasti berbahaya
 Bahwa klien bisa memulai berbicara secara spontan dan mengeluarkan informasi rahasia
dan pribadi

9. Bab 9 : Konseling Integratif


Konseling integrative digunakan untuk menggambarkan integrasi dua atau lebih terapis atau
integrasi teknik-teknik konseling, atau integrasi terapi dan teknik. Meskipun konseling integratif
biasanya pragmatis isinya dan tidak peduli degan peminjaman konsep-konsep yang berguna,
keterampilan atau teknik dari segala sumber, asalkan penerapannya memberi manfaat kepada klien.

Konselor integratif diwajibkan untuk selalu berpikiran terbuka mengenai problem tersebut, dan oleh
karena itu lebih baik mengenali validitas pendekatan yang berbeda terhadap problem tertentu pada
saat yang sama menerima batasan-batasan terapi dan kemampuannya yang berbeda.

Praktik
Konselor harus membangun relasi kerja debgab klien, membangun kesepahaman dan
menegakkan nilai-nilai inti. Klien dibantu menceritakan kisahnya dan mengungkapkan,
mengidentifikasi, menggambarkan dan mengklarifikasi masalahnya.

10. Bab 10 : Konseling Keterampilan Hidup


Merupakan pendekatan edukatif yang titik awalnya adalah problem kehidupan yang dihadapi orang-
orang awam, dan bukan mereka yang mengalami problem emosional serius atau memiliki gangguan
psikiatris. Landasan filosofis konseling keterampilan hidup adalah humanistic-eksistensial.- humanitik
dalam hal nilai-nilai yang ditempatkan pada diri individu., sebuah lompatan keyakinan tentang
kemampuan memperbaiki diri, yang dimiliki manusia

Fokus utama konseling keterampilan hidup lebih terkait dengan psikologis ketimbang biologis
misalnya adalah pikiran dan bukan jasmani. Maka dari itu tujuan utama kehidupan psikologis adalah
mencapai potensi manusia ketimbang kesehatan manusia

Anda mungkin juga menyukai