Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN HIPERKES DAN K3

INTENSITAS BISING, GETARAN DAN TEKANAN PANAS


DI BALAI YASA PT. KAI YOGYAKARTA

Disusun oleh:
KELOMPOK I :
dr. Eko Cahyadi
dr. Yeni Verawati
dr. Decky Yoga Saputro
dr. Herratri Wikan Nur Agusti
dr. Adrian Taufik
dr. Ranisa Handayani
dr. Muhammad Abdurrahman
dr. I Komang Adhi Amertajaya
dr. Prima Hari Pratama
dr. Nila Kusuma
dr. Putri Maulida Novianti
dr. Arya Prasiddha Putra

BALAI HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


YOGYAKARTA
2010

1
DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………... 1
Daftar Isi………………………………………………………………………… 2
BAB I. LATAR BELAKANG………………………………………………….. 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………….. 6
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………. 25
III.1. Hasil……………………………………………………………………….. 25
III.2. Pembahasan……………………………………………………………....... 27
BAB IV. KESIMPULAN……………………………………………………….. 33
BAB V. SARAN……………………………………………………………........ 34
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………........ 35

2
BAB I
LATAR BELAKANG

Menghadapi era globalisasi, ketenaga-kerjaan semakin diharapkan


konstribusinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan
tercermin dengan meningkatnya profesionalisme, kemandirian, etos kerja dan
produktivitas kerja. Untuk mendukung itu semua diperlukan tenaga kerja dan
lingkungan kerja yang sehat, selamat, nyaman dan menjamin peningkatan
produktivitas kerja.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kepentingan pengusaha,
pekerja dan pemerintah di seluruh dunia. Menurut perkiraan ILO, setiap tahun di
seluruh dunia 2 juta orang meninggal karena masalah akibat kerja. Dari jumlah ini,
354.000 orang mengalami kecelakaan fatal. Disamping itu, setiap tahun ada 270 juta
pekerja yang mengalami kecelakaan akibat kerja dan 160 juta yang terkena penyakit
akibat kerja. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bahaya-bahaya akibat kerja ini
amat besar. ILO memperkirakan kerugian yang dialami sebagai akibat kecelakaan-
kecelakaan dan penyakit-penyakit akibat kerja setiap tahun lebih dari US$1.25 triliun
atau sama dengan 4% dari Produk Domestik Bruto (GDP).
Pada dasawarsa 1990-an, Indonesia, melewati suatu periode yang ditandai
dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat hingga tahun 1997, walaupun periode
sesudah itu didera oleh krisis keuangan. Selama tahap pertumbuhan tersebut, ternyata
jumlah kecelakaan kerja cenderung mengalami kenaikan. Tetapi selama resesi,
jumlah biaya yang dialokasikan untuk keselamatan dan kesehatan kerja justru
termasuk salah satu yang mengalami pemangkasan. Sehubungan dengan hal ini, ILO
berpendapat bahwa apapun keadaan yang menimpa suatu negara, keselamatan dan
kesehatan pekerja adalah hak asasi manusia yang mendasar, yang
bagaimanapun juga tetap harus dilindungi, baik sewaktu negara tersebut sedang
mengalami pertumbuhan ekonomi maupun ketika sedang dilanda resesi.

3
Tingkat kecelakaan-kecelakaan fatal di negara-negara berkembang empat kali
lebih tinggi dibanding negara-negara industri. Kebanyakan kecelakaan dan penyakit
akibat kerja terjadi di bidang pertanian, perikanan, perkayuan, pertambangan dan
konstruksi. Tingkat buta huruf yang tinggi dan pelatihan yang kurang memadai
mengenai metode-metode keselamatan kerja mengakibatkan tingginya angka
kematian yang terjadi karena kebakaran dan pemakaian zat-zat berbahaya yang
mengakibatkan penderitaan dan penyakit yang tak terungkap termasuk kanker,
penyakit jantung dan stroke.
Praktek-praktek ergonomis yang kurang memadai mengakibatkan gangguan
pada otot, yang mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas pekerja. Selain itu,
masalah-masalah sosial kejiwaan ditempat kerja seperti stres ada hubungannya
dengan masalah-masalah kesehatan yang serius, termasuk penyakit-penyakit jantung,
stroke, kanker yang ditimbulkan oleh masalah hormon, dan sejumlah masalah
kesehatan mental.
Pada tahun 2002, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea
menyebutkan bahwa kecelakaan kerja menyebabkan hilangnya 71 juta jam orang
kerja, yang seharusnya dapat secara produktif digunakan untuk bekerja apabila
pekerja-pekerja yang bersangkutan tidak mengalami kecelakaan dan kerugian laba
sebesar 340 milyar rupiah. Bulan Januari 2003 menyebutkan bahwa kecelakaan di
tempat kerja yang tercatat di Indonesia telah meningkat dari 98,902 kasus pada tahun
2000 menjadi 104,774 kasus pada tahun 2001. Dan 11 selama paruh pertama tahun
2002 saja, telah tercatat 57,972 kecelakaan kerja.Meskipun tingginya angka
kecelakaan kerja ini cukup memprihatinkan, hal ini menyiratkan adanya perbaikan
yang nyata dalam pelaporan dan penyebaran informasi tentang kecelakaan kerja
kepada masyarakat.
Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama
pembangunan jalan KA didesa Kemijen Jum'at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur
Jenderal Hindia Belanda, Mr.L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan
diprakarsai oleh "Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg

4
Maatschappij" (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir.J.P de Bordes dari Kemijen
menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka
untuk angkutan umum pada Hari Sabtu, 10 Agustus 1867.
Walaupun kereta api dikatakan cukup diminati masyarakat, bukan berarti
alasan tersebut dikarenakan oleh rasa aman yang ditimbulkan. Bahkan kereta api
menjadi salah satu penyebab kecelakaan bahkan kematian bagi masyarakat. Hal ini
dilihat dari jumlah angka kecelakaan yang menimpa baik karyawatan PT. Kereta Api
maupun penumpangnya. Data kecelakaan yang terjadi di pintu lintasan ini
mempunyai frekuensi yang sangat tinggi. Dalam lima tahun terakhir (2003-2007),
terjadi 134 kasus tabrakan antara kereta api dengan kendaraan bermotor lainnya, dan
31 kasus tabrakan kereta api dengan kereta api. Kecelakaan akibat anjloknya kereta
dari relnya mencapai 538 kasus pada periode yang sama, atau rata-rata hampir
sembilan kasus setiap bulan. Rawannya kecelakaan akibat human error dan
ketidaklaikan sarana dan prasarana telah memakan korban jiwa sebanyak 257 orang
meninggal dunia, 478 luka berat, dan 486 luka ringan selama lima tahun terakhir.
Sedangkan pada tahun 2008 jumlahnya mengalami penurunan menjadi 7
kasus, diantaranya terdiri atas 3 kasus tabrakan dan 4 kasus anjlok. Untuk itu
pemerintah telah mengaturnya dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor:
Per05./MEN/1996 tentang berbagai aspek Hiperkes dan Keselamatan Kerja yang
perlu mendapatkan perhatian, perlindungan tenaga kerja mendapatkan prioritas yang
cukup tinggi dalam suatu industri, khususnya industri yang rawan cedera,
pencemaran dan penyakit akibat kerja.
Selain menerbitkan peraturan dan undang-undang, sebaiknya pemerintah
mengajak masyarakat untuk menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja di area
stasiun kereta api dengan berbagai metode yang menarik, guna meminimalisasi
kecelakan dan gangguan-gangguan kerja baik bagi karyawan maupun pengguna
stasiun lainnya.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang
memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan ma-syarakat sekitar dari
bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang
wajib dipenuhi oleh perusahaan. .( Suma’mur, 1988)
K3 mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero
accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost)
perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang
memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan dating.
( http://www.sinarharapan.co.id) Sedangkan definisi Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) menurut falsafah keselamatan kerja dapat diterangnkan sebagai berikut:
” menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupu rohaniah
manusia serta hasil karya dan budayanya, tertuju pada kesejahteraan masyarakat
pada umumnya dan manusia pada khususnya ” (Dalih, 1982)
Perumusan falsafah ini harus dipakai sebagai dasar dan titik tolak dari tiap
usaha keselamatan kerja karena didalamnya telah tercakup pandangan serta
pemikiran filosofis, sosial-teknis dan sosial ekonomis. Oleh sebab itu dibuat
peraturan–peraturan mengenai berbagai jenis keselamatan kerja sebagai berikut:
1. Keselamatan kerja dalam industri ( industrial safety)
2. Keselamatan kerja di pertambangan ( mining safety)
3. Keselamatan kerja dalam bangunan ( building and construction safety)
4. Keselamatan kerja lalu lintas ( traffic safety)
5. Keselamatan kerja penerbangan (flight safety)
6. Keselamatan kerja kereta api ( railway safety)
7. Keselamatan kerja di rumah ( home safety)

6
8. Keselamatan kerja di kantor ( office safety)
Menurut Undang-Undang No.23/ 1992 tentang kesehatan memberikan
ketentuan mengenai kesehatan kerja dalam Pasal 23 yang menyebutkan bahwa
kesehatan kerja dilaksanakan supaya semua pekerja dapat bekerja dalam kondisi
kesehatan yang baik tanpa membahayakan diri mereka sendiri atau masyarakat, dan
supaya mereka dapat mengoptimalkan produktivitas kerja mereka sesuai dengan
program perlindungan tenaga kerja (Departmen Kesehatan 2002).
Higiene perusahaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat
dikatakan memiliki satu kesatuan pengertian, yang merupakan terjemahan resmi dari
”Occupational Health” dimana diartikan sebagai lapangan kesehatan yang
mengurusi problematik kesehatan secara menyeluruh terhadap tenaga
kerja.Menyeluruh maksudnya usaha-usaha kuratif, preventif, penyesuaian faktor
menusiawi terhadap pekerjaanya. ( Suma’mur, 1988)
Tujuan utama dari dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah
menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Tujuan tersebut dapat tercapai
karena terdapat korelasi antara derajat kesehatan yang tinggi dengan produktivitas
kerja atau perusahaan berdasarkan kenyataan-kenyataan sebagai berikut ( Suma’mur,
1988) :
1. Untuk efisiensi kerja yang optimal dan sebaik-baiknya pekerjaan harus
dilakukan dengan cara dan dalam lingkungan kerja yang memenuhi syarat-
syarat kesehatan. Lingkungan dan cara yang dimaksud meliputi diantaranya
tekanan panas, penerangan ditempat kerja, debu di udara ruang kerja, sikap
badan, penyerasian manusia dan mesin, dan pengekonomisan usaha.
2. Biaya dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta penyakit umum yang
meningkat jumlahnya oleh karena pengaruh yang memburukkan keadaan
oleh bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh pekerjaan sangat mahal misalnya
meliputi pengobatan, perawatan di rumah sakit, rehabilitasi, absenteisme,
kerusakan mesin, peralatan dan bahan akibat kecelakaan, terganggunya
pekerjaan dan cacat yang menetap.

7
Untuk mencapai tujuannya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga
harus mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan erat dengannya seperti ergonomi,
psikologi industri, toksiologi industri, dan lain sebagainya.

2.1.1. Undang-undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Dibuatkannya Undang-undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam
praktik Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah sesuatu yang sangat penting
dan harus. Karena hal ini akan menjamin dilaksanakannya Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) secara baik dan benar. Kemudian konsep ini berkembang
menjadi employers liability yaitu K3 menjadi tanggung jawab pengusaha,
buruh/pekerja, dan masyarakat umum yang berada di luar lingkungan kerja.
Dalam konteks bangsa Indonesia, kesadaran K3 sebenarnya sudah ada sejak
pemerintahan kolonial Belanda. Misalnya, pada 1908 parlemen Belanda mendesak
Pemerintah Belanda memberlakukan K3 di Hindia Belanda yang ditandai dengan
penerbitan Veiligheids Reglement, Staatsblad No. 406 Tahun 1910. Selanjutnya,
pemerintah kolonial Belanda menerbitkan beberapa produk hukum yang memberikan
perlindungan bagi keselamatan dan kesehatan kerja yang diatur secara terpisah
berdasarkan masing-masing sektor ekonomi.
Beberapa diantaranya yang menyangkut sektor perhubungan yang mengatur
lalu lintas perketaapian seperti tertuang dalam Algemene Regelen Betreffende de
Aanleg en de Exploitate van Spoor en Tramwegen Bestmend voor Algemene Verkeer
in Indonesia (Peraturan umum tentang pendirian dan perusahaan Kereta Api dan
Trem untuk lalu lintas umum Indonesia) dan Staatblad 1926 No. 334, Schepelingen
Ongevallen Regeling 1940 (Ordonansi Kecelakaan Pelaut), Staatsblad 1930 No. 225,
Veiligheids Reglement (Peraturan Keamanan Kerja di Pabrik dan Tempat Kerja), dan
sebagainya. Namun sekarang Undang-undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja
yang terutama di Indonesia adalah Undang-Undang No.1/1970 tentang Keselamatan
Kerja, sedangkan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan adalah UU Nomor
12 Tahun 1948 tentang Kerja. Pengaturan hokum K3 dalam konteks diatas adalah

8
sesuai dengan sektor/bidang usaha. Misalnya, UU No.13 Tahun 1992 tentang
Perkerataapian, UU No.14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
(LLAJ), UU No.15 Tahun 1992 tentang Penerbangan beserta peraturan-peraturan
pelaksanaan lainnya.

2.1.2. Kecelakaan kerja


Terjadinya Kecelakaan kerja yang mengakibatkan luka-luka ataupun cacat
berdasarkan penelitian dan pengalaman merupakan akibat dari berbagai faktor
sebagai berikut (Bennet, 1985) :
1. Golongan fisik
a. Bunyi dan getaran yang bisa menyebabkan ketulian dan pekak baik
sementara maupu permanen.
b. Suhu ruang kerja. Suhu yang tinggi menyebabkan hiperprexia, heat
stroke, dan heat cramps ( keadaan panas badan yang tinggi suhunya ).
Sedangkan suhu yang rendah dapat menyebabkan kekakuan dan
peradangan.
c. Radiasi sinar rontgen atau sinar-sinar radioaktif menyebabkan kelainan
pada kulit, mata, dan bahkan susunan darah.
2. Golongan kimia
a. Debu dan serbuk menyebabkan terganggunya saluran pernafasan.
b. Kabut dari racun serangga yang menimbulkan keracunan.
c. Gas, sebagai contoh keracunan gas karbonmonoksida, sulfur, dan
sebagainya.
d. Uap, menyebabkan keracunan dan penyakit kulit.
e. Cairan beracun.
3. Golongan Biologis
a. Tumbuh-tumbuhan yang beracun atau menimbulkan alergi;
b. Penyekit yang disebabkan oleh hewan-hewan di tempat kerja, misal
penyakit antrax atau brucella di perusahaan penyamakan kulit.

9
4. Golongan Fisiologis
a. Konstruksi mesin atau peralatan yang tidak sesuai dengan mekanisme
tubuh manusia.
b. Sikap kerja yang menyebabkan keletihan dan kelainan fisik.
c. Cara bekerja yang membosankan/ titik jenuh tinggi.
5. Golongan Psikologis
a. Proses kerja yang rutin dan membosankan;
b. Hubungan kerja yang tidak harmonis antar karyawan tau terlalu menekan
atau sangat menuntut;
c. Suasana kerja yang kurang aman.

2.2. Potensi Bahaya Fisik


2.2.1. Bising
2.2.1.1. Definisi Kebisingan
Bising merupakan suara yang tidak dikehendaki (unwanted sound).
yang menimbulkan berbagai macam gangguan, yaitu: gangguan pendengaran,
fisiologis, komunikasi,performance, gangguan tidur dan psikologis.
Pemerintah telah menetapkan Nilai Ambang Kebisingan sebesar 85 dB(A)
untuk lingkungan kerja yaitu suatu iklim kerja yang oleh tenaga kerja masih dapat
dihadapi dalam pekerjaannya sehari-hari tidak mengakibatkan penyakit atau
gangguan kesehatan untuk waktu kerja terus menerus tidak lebih dari 8 jam sehari
dan 40 jam seminggu.
Definisi lain tentang kebisingan antara lain:
a. Denis dan Spooner, bising adalah suara yang timbul dari getaran-getaran
yang tidak teratur dan periodik.
b. Hirrs dan ward, bising adalah suara yang komplek yang mempunyai
sedikit atau bahkan tidak periodik, bentuk gelombang tidak dapat diikuti
atau di produsir dalam waktu tertentu.
c. Spooner, bising adalah suara yang tidak mengandung kualitas musik.

10
d. Sataloff, bising adalah bunyi yang terdiri dari frekuensi yang acak dan
tidak berhubungan satu dengan yang lainnya
e. Burn, Littler, dan wall bising adalah suara yang tidak dikehendaki
kehadirannya oleh yang mendengar dan mengganggu.
f. Menurut permenkes RI NO : 718 / MENKES / PER / XI / 1987 tentang
kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan, BAB I pasal I (a) :
kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki,
sehingga menganggu dan atau membahayakan kesehatan.

2.2.1.2. Klasifikasi Kebisingan


Di tempat kerja, kebisingan diklasifikasikan ke dalam dua jenis golongan
besar, yaitu :
a. Kebisingan yang tetap (steady noise) dipisahkan lagi menjadi dua jenis,
yaitu :
1) Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frequency noise)
Kebisingan ini merupakan „nada-nada„ murni pada frekuensi yang
beragam., contohnya suara mesin, suara kipas dan sebagainya.
2) Kebisingan tetap (Brod band noise)
Kebisingan dengan frekuensi terputus dan Brod band noise sama-sama
digolongkan sebagai kebisingan tetap (steady noise). Perbedaannya
adalah brod band noise terjadi pada frekuensi yang lebih bervariasi
(bukan „nada„ murni).
b. Kebisingan tidak tetap (unsteady noise) dibagi lagi menjadi tiga jenis,
yaitu :
1). Kebisingan fluktuatif (fluctuating noise)
Kebisingan yang selalu berubah-ubah selama rentang waktu tertentu.
2). Intermitent noise
Kebisingan yang terputus-putus dan besarnya dapat berubah-ubah.,
contoh kebisingan lalu lintas.

11
3). Kebisingan impulsif (Impulsive noise)
Kebisigan ini dihasilkan oleh suara-suara berintensitas tinggi
(memekakkan telinga) dalam waktu relatif singkat, misalnya suara
ledakan senjata dan alat-alat sejenisnya.

2.2.1.3. Sumber kebisingan


Di tempat kerja, sumber kebisingan berasal dari peralatan dan mesin-mesin.
Peralatan dan mesin-mesin dapat menimbulkan kebisingan karena:
a. Mengoperasikan mesin-mesin produksi yang sudah cukup tua.
b. Terlalu sering mengoperasikan mesin-mesin kerja pada kapasitas kerja
cukup tinggi dalam periode operasi cukup panjang.
c. Sistem perawatan dan perbaikan mesin-mesin produksi ala kadarnya.
Misalnya mesin diperbaiki hanya pada saat mesin mengalami kerusakan
parah.
d. Melakukan modifikasi/perubahan/pergantian secara parsial pada
komponen-komponen mesin produksi tanpa mengidahkan kaidah-kaidah
keteknikan yang benar, termasuk menggunakan komponen-komponen
mesin tiruan.
e. Pemasangan dan peletakan komponen-komponen mesin secara tidak tepat
(terbalik atau tidak rapat/longgar), terutama pada bagian penghubung
antara modul mesin (bad conection).
f. Penggunaan alat-alat yang tidak sesuai dengan fungsinya.

2.2.2. Getaran
2.2.2.1. Definisi Getaran
Getaran atau vibrasi adalah faktor fisik yang ditimbulkan oleh subjek dengan
gerakan osilasi. Vibrasi dapat terjadi lokal atau seluruh tubuh. Alat yang digunakan
untuk mengukur frekuensi dan intensitas vibrasi di lingkungan kerja adalah vibration
meter.

12
Vibrasi mekanis dapat bersumber dari peralatan atau mesin-mesin produksi.
Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak kita sering terpapar vibrasi, terutama
jika mengadakan perjalanan menggunakan alat transportasi seperti : bus,
kapal,pesawat, mobil dan sepeda motor. Di lingkungan industri, banyak pula tenaga
kerja yang terpapar vibrasi dalam melakukan aktivitasnya, biasanya mereka yang
menggunakan hand tool, mesin-mesin besar atau kendaraan berat.

WHOLE BODY VIBRATION (WBV) dan HAND ARM VIBRATION (HAV)

Ada 2 tipe vibrasi pada manusia yaitu : whole body vibration dan hand arm
vibration. WBV ditransmisikan ke tubuh melalui permukaan penyangga (kaki, pantat
dan punggung). Seseorang yang mengemudikan kendaraan terpapar WBV lewat
pantat dan punggung. HAV ditransmisikan ke tangan dan lengan, vibrasi tersebut
teutama dialami oleh operator peralatan tangan getar. Sistem WBV dan HAV secara
mekanis berbeda.

Keterpaparan terhadap WBV

Terpapar terhadap WBV dapat menyebabkan kerusakan fisik permanen atau


dapat terganggu sistem sarafnya. Terpapar setiap hari oleh WBV selama bertahun-
tahun dapat menyebabkan kerusakan fisik serius, sebagai contoh Ischemic Lumbago
yang mempengaruhi tulang belakang bagian bawah, selain itu sistem urologi dan
sirkulasi juga terpengaruhi. Terpapar WBV dapat mengganggu sistem saraf pusat.
Gejala dari gangguan ini tampak dalam bentuk kelelahan, insomnia dan sakit kepala.
Banyak orang mengalami gejala gangguan saraf pusat selama atau setelah melakukan
perjalan panjang dengan mobil atau kapal. Namun demikian gejala biasanya hilang
seteah cukup beristirahat.

Keterpaparan terhadap HAV

Terpapar setiap hari oleh HAV selama bertahun-tahun dapat menyebabkan


kerusakan fisik permanen, yang pada umumnya dikenal sebagai “White finger

13
syndrome” atau dapat merusakkan persendian dan otot jari atau lengan. White finger
syndrome dalam tahap perkembangannya ditunjukkan oleh memutihnya jari-jari
yang disebabkan oleh kerusakan arteri dan saraf-saraf jaringan lunak pada tangan.
Gejala biasanya mempengaruhi satu jari pada mulanya tetapi juga akan
mempengaruhi jari-jari lain bila keterpaparan HAV berlanjut. Dalam sebagian kasus-
kasus berat gejala akan menyerang pada kedua tangan. Dalam tahap awal white
finger syndrome gejalanya adalah sensasi gatal, mati rasa dan hilangnya kontrol pada
jari-jari yang dipengaruhi. Hilangnya rasa dan kontrol pada jari-jari dapat
mengundang bahaya langsung dan seketika, apabila tenaga kerja mengoperasikan
alat yang berbahaya seperti alat pemotong atau gergaji. Kerusakan sendi-sendi jari
atau siku sering disebabkan oleh terpapar vibrasi yang dihasilkan alat seperti :
asphalt hammers dan rock drill dalam jangka panjang. Kerusakan ini menyebabkan
sakit di persendian dan otot-otot lengan serta disertai berkurangnya kontrol dan otot
lengan.

Respons frekuensi dari tubuh manusia

Vibrasi mekanis dari sebuah mesin disebabkan oleh komponen-komponen


mesin yang bergerak atau berputar. Setiap gerakan komponen mempunyai frekuensi
tertentu. Dengan demikian vibrasi keseluruhan yang ditransmisikan ke tubuh
manusia dibangun atau terdiri dari frekuensi yang berbeda-beda yang terjadi secara
simultan.

Untuk mengetahui mengapa bagian tubuh manusia ada yang lebih sensitif
dari yang lain untuk satu macam frekuensi, maka perlu diasumsikan bahwa tubuh
manusia merupakan sistem mekanis. Sistem ini karena :
a. Tiap-tiap bagian tubuh mempunyai sensitivitas terbesar pada kisaran
frekuensi yang berbeda
b. Tubuh manusia tidak ada yang simetris sehingga respons terhadap vibrasi
tergantung pada arah dimana vibrasi ditemukan
c. Tiap orang akan berbeda dalam merespons suatu vibrasi.

14
Sensitivitas dan sumbu-sumbu acuan WBV

WBV sebaiknya diukur dalam arah-arah sistem koordianat orthogonal. Arah


longitudinal (dari kepala ke ujung kaki) disebut sumbu z. dalam arah ini tubuh paling
sensitif terhadap vibrasi dengan kisaran frekuensi 4-8 Hz. Respons tubuh terahadap
sumbu x (depan ke belakang) dan sumbu y (samping ke samping) tidak berbeda, dan
dalam arah sumbu x dan y respons terbesar apada kisaran frekuensi 1-2 Hz.

Sensitivitas dan sumbu-sumbu acuan HAV

Untuk sistem HAV, respons frekuensi terhadap vibrasi adalah sama untuk
smeua sumbu. Oleh karena itu tidak menjadi masalah apakah sumbu x, y atau z yang
diambil dalam pengukuran vibrasi. HAV mempunyai sensitivitas frekuensi terbesar
pada kisaran 12-16 Hz.

Pengendalian Vibrasi

a. Whole body vibrarion


Tujuan utama dari pengendalian vibrasi adalah mengurangi banyaknya
bahaya vibrasi dengan meredam resonansi yang tibul tanpa menimbulkan
frekuensi yang baru. Caranya antara lain :

- Memberikan bantalan atau damping antara tempat duduk pengemudi


dengan bagian tubuh pengemudi.
- Menggunakan sepatu anti getar apabila sumber getaran merambat melalui
kaki
- Memberi damping pada fondasi mesin-mesin berat
- Membatasi waktu terpapar
b. Hand arm vibration
Ada 5 cara untuk mengurangi bahaya keterpaparan vibrasi yang disebabkan
oleh hand tool :

- Memberikan internal damping

15
- Memasang damping antara tool housing dan tangan
- Mengoperasikan alat mengguanakan remote control
- Mengurangi waktu terpapar
- Menggunakan sarung tangan

Penyakit akibat paparan getaran alat kerja

Angioneurosis jari-jari tangan

Fenomenon Raynaud (jari-jari putih) adalah syndrome akibat getaran yang


paling sering di wilayah-wilayah dunia yang dingin. Gejala-gejala nonspesifik
pertama adalah akroparestesia pada tangan dan perasaan kebal di jari-jari tangan
pada waktu kerja atau sebentar sesudahnya. Pada stadium ini, selain gangguan
kepekaan terhadap getaran, tidak ditemukan perubahan objektif lainnya. Pada fase
berikutnya, diamati kepucatan paroksismal sporadik pada ujung-ujung jari tangan.

Paroksisme disebabkan oleh spasme lokal arteriol dan kapiler, serta


dicetuskan oleh paparan terhadap suhu dingin lokal atau umum. Biasannya terjadi
pada musim dingin dan sepenuhnya pulih kembali 15-30 menit setelah tangan
dihangatkan. Selama paroksisme, kepekaan nyeri taktil sangat berkurang. Fase ini
menimbulkan kesulitan diagnostik yang besar, karena penyakit yang dilaporkan tidak
selalu dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan di ruang konsultasi dokter.

Observasi secara langsung suatu serangan di tempat kerja mempermudah


diagnosanya. Stadium lebih lanjut dari penyakit ini ditandai dengan kepucatan
paroksismal, tidak hanya pada ujung-ujung jari, tetapi menyebar pada hampir seluruh
jari namun jarang mengenai ibu jari. Parokisme dapat diprovokasi oleh suhu yang
sedikit dingin, bahkan dapat timbul gejala pada suhu lingkungan. Pada stadium yang
lebih lanjut, angiospasme diganti oleh paresis dinding pembuluh darah kecil yang
mengakibatkan akrosianosis. Gejala-gejala yang menonjol adalah rasa kebal
ditangan, gangguan kecepatan jari, dan gangguan sensitivitas.

16
Juga dapat timbul perubahan-perubahan tonus lokal. Berbeda dengan
endarteritis

obliterans, nekrosis sangat jarang terjadi. Uji diagnosik yang paling umum
digunakan adalah induksi parokisme jari dengan air dingin. Baik tangan maupun
lengan bawah (sampai ke siku) direndam selama 10 menit dalam air yang
didinginkan dengan kubus-kubus es (Beberapa dokter menambah rasa dingin dengan
meletakan handuk basah pada bahu). Hendaknya dijelaskan bahwa metode ini lebih
jarang menginduksi parokisme jari tangan dibandingkan getaran pada situasi kerja
yang nyata. Kadang kala hanya dapat terlihat pengembalian darah ke kapiler yang
melambat seperti : ujung jari didistal kuku perlu ditekan sebentar dan dicatat waktu
yang diperlukan oleh darah untuk kembali ke titik anoksemik. Metode pemeriksaan
laboratorium yang dapat diterapkan pada pemeriksaan pencegahan meliputi
plestimografi jari (gangguan gelombang denyut akibat dingin), mikroskopi kapiler
dan pengukuran suhu kulit (termometer kontak atau termografi). Mungkin terdapat
penurunan suhu kulit permulaan atau terlambatnya pemulihan suhu jari normal
setelah tes air dingin.

Gangguan tulang, sendi dan otot

Patologi osteoartikular sering kali terbatas pada tulang-tulang karpal


(khususnya lunata dan navikularis), sendi radioulnaris dan sendi siku. Gejala
subjektif biasanya ringan tetapi pada stadium yang lanjut gangguan fungsional dapat
cukup berarti. Perubahan radigram yang paling khas adalah atrosis sendi karpal,
radioulnaris dan siku, serta pseudokista (terutama pada tulang-tulang karpal, yang
dapat pula memperlihatkan perubahan-perubahan atrofik lain seperti trabekula yang
menebal dan menjadi jarang). Otot dan tendon disekitar sendi tersebut biasanya juga
terlibat, gejala subyektif (nyeri) yang disebabkan kelainan ini sering mendahului
perubahan radiogram yang jelas.

17
Neuropati

Kerusakan saraf yang disebabkan getaran meliputi persyarafan otonom


perifer (pada angioneurosis). Beberapa ahli mengemukakan efek-efek pada syaraf
perifer (ulnaris, medianus, radialis). Ahli lainya menganggap trauma saraf
umumnya sekunder dari iskemik berulang (pada angioneurosis), atau suatu faktor
tambahan sering kali neuropati kompresif misalnya, perubahan osteoartikuler di
sekitar batang saraf tersebut (Darmanto Djojodibroto, 1995:139). Terkenanya serat-
serat sensoris menyebabkan parastesia atau berkurangnya kepekaan serat-serat
motorik, gangguan ketangkasan dan akhirnya atrofi. pengukuran kecepatan konduksi
saraf adalah pemeriksaan terpilih. Suatu bentuk campuran menggabungkan gangguan
otot, tendon, tulang, pembuluh darah dan saraf perifer.

2.2.3. Tekanan Panas


2.2.3.1. Definisi Tekanan Panas
Tekanan panas (heat stress) di suatu lingkungan kerja merupakan perpaduan
antara faktor iklim: suhu udara, kelembaban, radiasi dan kecepatan angin serta faktor
non-iklim, yakni panas metabolisme tubuh, pakaian kerja dan tingkat aklimatisasi
(penyesuaian diri).

2.2.3.2. Bahaya Tekanan Panas


Tekanan/terpaan panas yang mengenai tubuh manusia dapat mengakibatkan
berbagai permasalahan kesehatan hingga kematian. Pada musim panas tahun 95 100
penduduk chicago meninggal karena gelombang panas di musim panas. Penelitian
lain di Amerika menunjukkan terjadi 400 kematian setiap tahun yang diakibatkan
oleh tekanan panas. Dari tahun 1995 hingga 2001 di Amerika juga tercatat ada 21
pemain sepakbola muda meninggal terkena akibat heatstroke. Di Jepang dari tahun
2001-2003 dilaporkan 483 ornag tidak masuk kerja selama lebih dari 4 hari karena
penyakit akibat panas. Dari 483 tersebut 63 orang meninggal.

18
2.2.3.3. Penyakit Akibat Terpaan Panas
Kematian tersebut diakibatkan oleh berbagai penyakit yang diakibatkan oleh
terpaan panas pada tubuh. Berbagai penyakit tersebut meliputi:
1. Heat rash merupakan gejala awal dari yang berpotensi menimbulkan penyakit
akibat tekanan panas. Penyakit ini berkaitan dengan panas, kondisi lembab
dimana keringat tidak mampu menguap dari kulit dan pakaian. Penyakit ini
mungkin terjadi pada sebgaian kecil area kulit atau bagian tubuh. Meskipun
telah diobati pada area yang sakit produksi keringat tidak akan kembali
normal untuk 4 sampai 6 minggu.
2. Heat syncope adalah ganggunan induksi panas yang lebih serius. Ciri dari
gangguan ini adalah pening dan pingsan akibat berada dalam lingkungan
panas pada waktu yang cukup lama.
3. Heat cramp gejala dari penyakit ini adalah rasa nyeri dan kejang pada kakai,
tangan dan abdomen dan banyak mengeluarkan keringat. Hal ini disebabkan
karena ketidakseimbangan cairan dan garam selama melakukan kerja fisik
yang berat di lingkungan yang panas
4. Heat exhaustion diakibatkan oleh berkurangnya cairan tubuh atau volume
darah. Kondisi ini terjadi jika jumalah air yang dikeluarkan seperti keringat
melebihi dari air yang diminum selama terkena panas. Gejalanya adalah
keringat sangat banyak, kulit pucat, lemah, pening, mual, pernapasan pendek
dan cepat, pusing dan pingsan. Suhu tubuh antara (37°C - 40°C)
5. Heat stroke adalah penyakit gangguan panas yang mengancam nyawa yang
terkait dengan pekerjaan pada kondisi sangat panas dan lembab. Penyakit ini
dapat menyebabkan koma dan kematian. Gejala dari penyakit ini adalah detak
jantung cepat, suhu tubuh tinggi 40o C atau lebih, panas, kulit kering dan
tampak kebiruan atau kemerahan, Tidak ada keringat di tubuh korban,
pening, menggigil, muak, pusing, kebingungan mental da pingsan.

19
6. Multiorgan-dysfunction syndrome Continuum adalah rangkaian
sindrom/gangguan yang terjadi pada lebih dari satu/ sebagian anggota tubuh
akibat heat stroke, trauma dan lainnya.
Penyakit lain yang dapat timbul adalah penyakit jantung, tekanan darah
tinggi, gangguan ginjal dan gangguan psikiatri.

Umur Core Body temperatur


o
F/oC
0-3 month 99.4 oF / 37.40 oC
3-6 month. 99.5 oF / 37.5 oC
0,5- 1 year 99.7 oF / 37.6 oC
1 – 3 year 99.0 oF / 37.2 oC
3 – 5 year 98.6 oF / 37.0 oC
5 – 9 year 98.3 oF / 36.8 oC
9 –13 year 98.0 oF / 36.6 oC
> 13 year 97.8 – 99.1 oF / 36.5 – 37.2 oC

Penyakit akibat terpaan panas ini diakibatkan karena naik/turunnya suhu


tubuh. Suhu normal tubuh berkisar anatara 37-38oC (99 – 100oF). Perubahan suhu

20
inti tubuh naik/turun 2 oC dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh. Berikut ini
adalah temperatur normal tubuh manusia dari berbagai usia.
Suhu tubuh harus dijaga agar tetap berada pada suhu normal agar seluruh
organ tubuh dapat bekerja dengan normal. Jika terjadi perubahan core temperature
tubuh maka beberapa fungsi organ tubuh akan terganggu. Sistem metabolisme tubuh
secara alami dapat bereakasi untuk menjaga kenormalan suhu tubuh seperti denagn
keluarnya keringat, menggigil dan meningkatkan/mengurangi aliran darah pada
tubuh. Untuk pengaturan suhu tubuh secara eksternal ada 7 faktor yang harus
dikontrol yaitu: suhu udara, kelembapan, kecepatan udara, pakaian, aktivitas fisik,
radiasi panas dari berbagai sumber panas dan lamanya waktu terpaan panas. Berikut
adalah keadaan manusia pada berbagai variasi suhu tubuh:
a. Kondisi panas
• 37°C (98.6°F) – Suhu tubuh normal (36-37.5°C /96.8-99.5°F)
• 38°C (100.4°F) – berkeringat,, sangat tidak nyaman, sedikit lapar
• 39°C (102.2°F) – berkeringat, kulit merah dan basah, napas dan jantung
berdenyut kencang, kelelahan, merangsang kambuhnya epilepsi
• 40°C (104°F) -Pingsan, dehidrasi, lemah, sakit kepala, muntah, pening dan
berkeringat
• 41°C (105.8°F) – Keadaan gawat. Pingsan, pening, bingung sakit kepala,
halusinasi, , napas sesak, mengantuk mata kabur, jantung berdebar
• 42°C (107.6°F) – pucat kulit memerah dan basah, koma, mata gelap, muntah
dan terjadi gangguan hebat. tekanan darah menjadi tinggi/rendah dan detak
jantung cepat.
• 43°C (109.4°F) – Umumnya meninggal, kerusakan otak, gangguan dan
goncangan hebat terus menerus, fungsi pernapasan kolaps.
• 44°C (111.2°F) or more – Hampir dipastikan meninggal namun ada
beberapa pasien yang mampu bertahan hingga diatas 46°C (114.8°F).
b. Kondisi Dingin
• 37°C (98.6°F) – Suhu tubuh normal (36-37.5°C /96.8-99.5°F)

21
• 36°C (96.8°F) – Menggigil ringan hingga sedang
• 35°C (95.0°F) – (Hipotermia suhu kurang dari 35°C (95.0°F) – menggigil
keras, kulit menjadi biru/keabuan. Jantung menjadi berdegup.
• 34°C (93.2°F) – Mengiggil yang sangat keras, jari kaku, kebiruan dan
bingung, terjadi perubahan perilaku
• 33°C (91.4°F) – Bingung sedang hingga parah, mengantuk, depresi, berhenti
menggigil, denyut jantung lemah, napas pendek dan tidak mampu merespon
rangsangan.
• 32°C (89.6°F) – Kondisi gawat Halusinasi, gangguan hebat, sangat bingung,
tidur yang dalam dan menuju koma, detak jantung rendah , tidak menggigil.
• 31°C (87.8°F) – Comatose, tidak sadar, tidak memiliki reflex, jantung sangat
lamabat, terjadi gangguan irama jantung yangs serius.
• 28°C (82.4°F) – Jantung berhenti berdetak pasien menuju kematian
• 24-26°C (75.2-78.8°F) or less – Terjadi kematian namun beberapa pasien ada
yang mampu bertahan hidup hinggan dibawah 24-26°C (75.2-78.8°F)
Terpaan panas pada tubuh pertama kali diterima oleh lapisan kulit pada
tubuh. Sehingga efek terbesar proses terpaan panas terajdi pada kulit. Jika kulit
diterpa panas pada suhu tertentu dalam waktu tertentu maka selaian akan berakibat
pada terjadinya heat strain pada tubuh juga matinya/kerusakan sel-sel tubuh. Dengan
matinya sel-sel tubuh t maka akan menyebabkan terjadinya gangguan pada panca
indera manusia, regnerasi sel terhambat dan akhirnya terjadi proses penuaan lebih
cepat seiring kurang optimalnya fungsi organ tubuh.

2.2.4 Iklim Kerja


2.2.4.1. Pengertian Iklim kerja
Menurut Suma’mur PK (1996: 84) iklim kerja adalah kombinasi dari suhu
udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Kombinasi keempat
faktor tersebut bila dihubungkan dengan produksi panas oleh tubuh dapat disebut
dengan tekanan panas. Indeks tekanan panas disuatu lingkungan kerja adalah

22
perpaduan antara suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara, dan panas
metabolisme sebagai hasil aktivitas seseorang.
Suhu tubuh manusia dapat dipertahankan secara menetap oleh suatu sistem
pengatur suhu (Thermoregulatory system). Suhu menetap ini adalah akibat
keseimbangan diantara panas yang dihasilkan didalam tubuh sebagai akibat
metabolisme dan pertukaran panas diantara tubuh dengan lingkungan sekitar.
Dari suatu penyelidikan diperoleh hasil bahwa produktivias kerja manusia akan
mencapai tingkat yang paling tinggi pada temperatur sekitar 24 derajat Celsius
sampai 27 derajat Celsius.

2.2.4.2. Macam Iklim kerja


Kemajuan teknologi dan proses produksi didalam industri telah menimbulkan suatu
lingkungan kerja yang mempunyai iklim atau cuaca tertentu, yang dapat berupa iklim
keja panas dan iklim kerja dingin.

1) Iklim Kerja Panas


Iklim kerja panas merupakan meteorologi dari lingkungan kerja yang dapat
disebabkan oleh gerakan angin, kelembaban, suhu udara, suhu radiasi dan sinar
matahari. Panas sebenarnya merupakan energi kinetik gerak molekul yang secara
terus menerus dihasilkan dalam tubuh sebagai hasil samping metabolisme dan panas
tubuh yang dikeluarkan kelingkungan sekitar. Agar tetap seimbang antara
pengeluaran dan pembentukan panas maka tubuh mengadakan usaha pertukaran
panas dari tubuh kelingkungan sekitar melalui kulit dengan cara konduksi, konveksi,
radiasi dan evaporasi.
(1) Konduksi, merupakan pertukaran diantara tubuh dan benda-benda sekitar
dengan melalui sentuhan atau kontak. Konduksi akan menghilangkan panas
dari tubuh apabila benda-benda sekitar lebih dingin suhunya, dan akan
menambah panas kepada tubuh apabila benda-benda sekitar lebih panas dari
tubuh manusia.

23
(2) Konveksi, adalah petukaran panas dari badan dengan lingkungan melalui
kontak udara dengan tubuh. Pada proses ini pembuangan panas terbawa oleh
udara sekitar tubuh.
(3) Radiasi, merupakan tenaga dari gelombang elektromagnetik dengan
panjang gelombang lebih panjang dari sinar matahari.
(4) Evaporasi, adalah keringat yang keluar melalui kulit akan cepat menguap
bila udara diluar badan kering dan terdapat aliran angin sehingga terjadi
pelepasan panas dipermukan kulit, maka cepat terjadi penguapan yang
akhirnya suhu badan bisa menurun.

2.2.4.3. Pengukuran Iklim kerja


Untuk mengetahui iklim kerja disuatu tempat kerja dilakukan pengukuran
besarnya tekanan panas salah satunya dengan mengukur ISBB atau Indeks Suhu
Basah dan Bola (Tim Hiperkes, 2004), macamnya adalah:
1. Untuk pekerjaan diluar gedung
ISBB = 0,7 x suhu basah + 0,2 x suhu radiasi + 0,1 suhu kering
2. Untuk pekerjaan didalam gedung
ISBB = 0,7 x suhu basah + 0,3 x suhu radiasi
Alat yang dapat digunakan adalah Arsmann psychrometer untuk mengukur
suhu basah, temometer kata untuk menguku kecepatan udara dan termometer bola
untuk mengukur suhu radiasi. Selain itu pengukuran iklim kerja dapat mengunakan
questemt digital. Adapun standar Nilai Ambang Batas (NAB) iklim kerja adalah
280C (Kep.Men no.51/Men/1999).

24
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1. Hasil Pengujian


Nama Perusahaan : PT KERETA API INDONESIA (BALAI YASA)
Jumlah sampel : 7
Alamat Perusahaan : Pengok, Yogyakarta
Jenis Pengukuran : Getaran mekanis di tempat kerja
Tanggal pengambilan sampel : 15 Oktober 2010, Pukul: 10.00 WIB

III.1.1 Hasil Pengujian Kebisingan


Tabel 1. Hasil Pengujian
TK.
KEBISINGAN JENIS SUMBER
No. LOKASI NAB KETERANGAN
(Db) BISING BISING
L eq L max
1. Ruang Logam Panas

a. Tempat 76,5 84,3 Steady Blower 85 < NAB


pengecoran noise
b. tempat penempaan 91,3 101,2 Impulsiv Mesin 85 >NAB
e noise tempa
3 Ruang Gerinda
a. Pengelasan 94,6 97,6 Intermitt Las 85 >NAB
en noise
b. Pemerataan 78,9 84,3 Steady Mesin 85 <NAB

25
permukaan noise CNC
c. Pembuatan Roda 79,0 82,1 Steady Mesin 85 <NAB
noise bubut
china
4 Tempat 76,7 91,8 Intermitt Las & 85 >NAB
Pembuatan Pintu en Noise Palu
Catatan : NAB berdasarkan Kepmenaker No.51 tahun 1999.

III.1.2. Hasil Pengujian Getaran


Tabel 1. Kategori WBV berdasarkan ISO 2631
Reduced
No. Lokasi WBV(m/s2) Comfort HAV(m/s2) Keterangan
Boundary
Logam Panas
- Mesin tempa 0,151 ±10 jam < NAB
- Area 0,092 ±10 jam < NAB
1.
pelapisan
babet axle
lining
Logam Dingin
- Mesin 1,72 < NAB
2.
Gerinda 0,0711 ±10 jam < NAB
- Mesin Bubut
Kerangka Bawah
- Mesin bubut 0,112 ±10 jam < NAB
roda 0,0876 ±10 jam < NAB
3.
- Mesin
boring
vertical roda
Terapi listrik
4. - Mesin Sand 0,062 ±10 jam 0,453 < NAB
Blasting
Catatan : NAB HAV berdasarkan Kepmenaker No. 51 tahun 1999

III.1.3. Hasil Pengujian Iklim


Tabel 1. Hasil Pengujian
NO LOKASI HASIL PENGUJIAN JENIS SUMBER NAB KET.

26
Tnwb RH ISBB ISBB
. KERJA PANAS
(°C) (%) (°C) (°C)
1. Ruang - Matahari
logam Kerja - Tungku
26,3 84 27,7 26,7 >NAB
panas Sedang - Metabolisme
tubuh
2. Ruang
rangka - Matahari
Kerja
bawah 26,1 83 27,4 - Metabolisme 26,7 >NAB
Sedang
perbaikan tubuh
wogi
3. Area - Matahari
pelapisan Kerja - Tungku
26,8 72 29,4 26,7 >NAB
babet axle Sedang - Metabolism
lining tubuh

Tabel pedoman penilaian ISBB


ISBB (°C)
NO. Variasi kerja Kerja Kerja Kerja Keterangan
Ringan Sedang Berat
1. Kerja terus-menerus 30,0 26,7 25,5
2. Kerja 75%, istirahat 25% 30,6 28,0 25,9
3. Kerja 50%, istirahat 50% 31,4 29,4 27,9
4. Kerja 25%, istirahat 75% 32,2 31,1 30,0

III.2. PEMBAHASAN
III.2.1. Kebisingan
Menurut kepmenaker nomor KEP-51/MEN/1999 nilai ambang bising (NAB)
yang diizinkan pada pekerjaan sehari-hari adalah 85db selama 8 jam atau 40 jam
seminggu. Dari tabel dapat dilihat angka kebisingan di Balai Yasa PT.KAI pada
tempat-tempat tertentu masih ada yang melebihi NAB yang diizinkan. Angka
kebisingan yang lebih tinggi itu ada di tempat penempaan dengan bising yang berasal
dari mesin tempa, tempat pengelasan yang berasal dari mesin las, dan tempat
pembuatan pintu yang berasal dari las dan palu. Dari pengamatan sulit untuk

27
dilakukan engineering control, sebaiknya pada bagian-bagian tersebut dilakukan
administrative control seperti pekerja tidak di bolehkan terpapar terlalu lama dengan
sumber kebisingan atau istirahat beberapa menit setiap terpapar kebisingan. Tidak
seharusnya pekerja yang terpapar bising di atas NAB bekerja selama 8 jam secara
terus menerus di tempat itu.
Jika pengendalian secara teknis dan administratif tidak dapat mengurangi
tingkat paparan bising pada pekerja, maka sebaiknya pekerja diwajibkan memakai
alat pelindung telinga yang baik dan benar. Dari pengamatan masih banyak pekerja
di tempat dengan melebihi NAB masih tidak memakai alat pelindung telinga, mereka
masih menggunakan kapas sebagai alat pelindung telinga. Namun mengingat alat
pelindung telinga tidak nyaman dipakai secara terus-menerus maka manajemen
sebaiknya tetap memikirkan pengendalian bising secara teknis dan administratif.
Sebaiknya manajemen mengadakan pemeriksaan kesehatan secara berkala
terkait dengan paparan kebisingan. Perlu di periksa akibat-akibat yang ditimbulkan
dari kebisingan seperti :
1) Mengurangi kenyamanan dalam bekerja
2) Mengganggu komunikasi atau percakapan antar pekerja
3) Mengurangi konsentrasi
4) Menurunkan daya dengar, baik yang bersifat sementara maupun permanen
5) Tuli akibat kebisingan (AM Sugeng Budiono, 2003: 33).
Kebisingan yang tinggi memberikan efek yang merugikan pada tenaga kerja,
terutama akan mempengaruhi pada indera pendengaran. Mereka memiliki resiko
mengalami penurunan daya pendengaran yang terjadi secara perlahan-lahan dalam
waktu lama dan tanpa mereka sadari.
Bising dapat merusak kokhlea di telinga dalam sehingga menganggu
pendengaran, sedang kerusakan yang ditimbulkan pada saraf vestibuler di telinga
dalam dapat menyebabkan gangguan keseimbangan. (Jenny Bashirudin:2003).
Pengendalian kebisingan terutama ditujukan bagi mereka yang dalam hariannya
menerima kebisingan. Karena daerah utama kerusakan akibat kebisingan pada

28
manusia adalah pendengaran (telinga bagian dalam), maka metode pengendaliannya
dengan memanfaatkan alat bantu yang bisa mereduksi tingkat kebisingan yang
masuk ke telinga bagian luar dan bagian tengah, sebelum masuk ke telinga bagian
dalam. Pihak manajemen sebaiknya melakukan pengawasan terhadap peraturan
bahwa saat berada dalam lingkungan kerja tenaga kerja wajib mengenakan alat
pelindung telinga berupa ear plug dalam melakukan pekerjaannya.
Pengaruh kebisingan terhadap pelaksanaan tugas para pekerja di balai yasa
adalah:
1) Frekuensi kebisingan, nada tinggi adalah lebih beresiko mengalami NIHL
daripada nada rendah. Terutama di tempat penempaan yang menggunakan mesin
gerinda.
2) Jenis kebisingan, kebisingan terputus-putus lebih beresiko mengalami NIHL
daripada kebisingan kontinyu. Dapat dilihat terdapat jenis kebisingan impulsive di
bagian penempaan.
3) Sifat pekerjaan, pada pekerjaan yang rumit atau kompleks lebih banyak beresiko
mengalami NIHL daripada pekerjaan yang sederhana.
4) Variasi kebisingan, makin sedikit variasinya maka makin sedikit pula resikonya.
Dari data dapat dilihat variasi kebisingan sudah sedikit.
5) Sikap individu, karyawan yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD),
yaitu ear plugh/ear muff akan lebih banyak beresiko mengalami NIHL daripada yang
menggunakan APD. Masih banyak yang tidak menggunakan alat pelindung diri.
Gangguan pendengaran jika terjadi pada pekerja di Balai Yasa PT.KAI
sifatnya hanya sementara dan tergantung dari lamanya pemaparan serta tingkat
kebisingan. Sehingga perlu dicegah terjadinya gangguan pendengaran dan faktor
yang dapat menimbulkan harus dikurangi atau dihindari sedapat mungkin. Tetapi
kerja terus menerus di tempat bising dengan intensitas tinggi dan lama pemaparan 8
jam perhari berakibat kehilangan daya dengar yang menetap dan tidak pulih kembali.

III.2.2. Getaran

29
Ada 4 faktor perlu dipertimbangkan dalam mengasses efek vibrasi pada tubuh
manusia, yaitu:
1. Equivalent acceleration value (aeq) dari vibrasi.
2. Macam-macam frekuensi yang menyusun vibrasi.
3. Arah transmisi vibrasi.
4. Waktu paparan vibrasi.
ISO standard 2631 untuk WBV membedakan 3 kriteria yang dapat digunakan untuk
mengasses vibrasi dalam situasi yang berbeda:
1. Untuk mempertahankan kenyamanan (Reduces Comfort Boundary)
2. Untuk mempertahankan efisiensi kerja (Fatigue-decreased proficiency
boundary)
3. Untuk mempertahankan kesehatan atau keselamatan (Exposure Limit)

Sedangkan untuk batas pemaparan HAV diatur dalam KEPMENAKER


NOMOR: KEP 51/MEN/1999. Di dalam KEPMEN ini mengatur berapa lama tenaga
kerja diijinkan terpapar HAV dengan intensitas getaran tertentu. Hal yang tidak
mudah adalah menentukan lama terpapar sebenarnya bagi tenaga kerja. Meskipun
mereka bekerja delapan jam sehari, namun terpaparnya vibrasi tidak otomatis
delapan jam. Berikut adalah petikan dari KEPMENAKER mengenai batas
pemaparan HAV:

Tabel 2
Jumlah Waktu Pemajanan Nilai Percepatan Pada Frekuensi Dominan
Per Hari Kerja (m/s2) Gram
4 jam dan ≤ 8 jam 4 0,40
2 jam dan < 4 jam 6 0,61
1 jam dan < 2 jam 8 0,81
< 1 jam 12 1,22

30
Tabel ISO 2631 untuk pemaparan WBV

Interpretasi Hasil Pengujian Vibrasi


1. Dari table 1 dapat dilihat bahwa seluruh alat yang diuji memiliki Reduced
Comfort Boundary sekitar ±10 jam. Sehingga alat-alat tersebut akan
menyebabkan ketidaknyamanan hidup kepada pengguna setelah penggunaan
±10 jam terus menerus. Dan seorang pekerja tidak mungkin menggunakan
alat tersebut selama 10 jam terus menerus. Sehingga kami mengambil
kesimpulan bahwa alat-alat tersebut tidak berbahaya bagi pekerja dari faktor
vibrasi.
2. Dari table 2 dapat dilihat bahwa nilai percepatan pada frekuensi dominan
HAV masih dibawah nilai percepatan pada frekuensi dominan HAV minimal
sesuai dengan KEPMENAKER. Sehingga kami mengambil kesimpulan
bahwa alat-alat tersebut tidak berbahaya bagi pekerja dari faktor vibrasi.

31
III. 2.3. Iklim
Dari table hasil pengujian iklim kerja di Balai Yasa PT.KAI pada ketiga
lokasi (ruang logam panas, ruang rangka bawah perbaikan wogi, memiliki iklim
kerja, Area pelapisan babet axle lining) memiliki iklim kerja diatas Nilai Ambang
Batas (NAB), dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pada ruang logam panas, didapatkan ISBB 27,7°C
2. Pada ruang rangka bawah perbaikan wogi, didapatkan ISBB 27,4°C
3. Pada area pelapisan babet axle lining, didapatkan ISBB 29,4°C
Berdasarkan table pedoman penilaian ISBB diatas, pada lokasi ruang logam
panas, ruang rangka bawah perbaikan wogi para pekerja seharusnya tidak bekerja
terus-menerus, melainkan bekerja 75% dan istirahat 25%. Sedangkan pada area
pelapisan babet axle lining, para pekerja juga tidak boleh bekerja terus-menerus,
melainkan bekerja 50% dan istirahat 50%.
Pengendalian
Pencegahan terhadap pengaruh iklim kerja panas:
1. Isolasi sumber panas dengan sekat non-logam dan atau lapis aluminium
2. Pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat sesuai dengan pedoman
3. Aklimatisasi tenaga kerja terutama tenaga kerja yang baru
4. Disediakan cukup air minum disertai tablet garam NaCl 0,1% dan jumlah
mencukupi dan memenuhi syarat kesehatan
5. Tidak menyediakan minum susu di tempat kerja panas, tidak mempekerjakan
pekerja yang sedang masuk angin, sakit ginjal, dan jantung pada tempat kerja panas.

32
BAB IV
KESIMPULAN

IV.1. Kebisingan
1. Angka kebisingan di Balai Yasa PT.KAI pada tempat-tempat tertentu
masih ada yang melebihi NAB yang diizinkan.
2. Sumber kebisingan yang melebihi NAB berasal dari tempat pengelasan
dan tempat penempaan.
3. Jam istirahat untuk pekerja kurang memadai bila dibandingkan dengan
kebisingan di tempat tersebut sehingga para pekerja beresiko mengalami
NIHL (noise induced hearing loss) dan gangguan komunikasi.

IV.2. Getaran
Berdasarkan dari hasil pengujian getaran tersebut dapat disimpulkan bahwa
nilai getaran alat-alat tersebut masih dalam ambang batas normal sehingga getaran
alat tidak beresiko menimbulkan bahaya bagi pekerja.

IV.3. Iklim
Iklim kerja di Balai Yasa PT.KAI melebihi nilai ambang batas. Pada Balai
Yasa PT.KAI isolasi sumber panas menggunakan seng, yang seharusnya
menggunakan lapis alumunium.

33
BAB V
SARAN

Sebaiknya lebih digalakkan pelaksanaan K3 di lokasi kerja bagi seluruh


karyawan.
V.1. Kebisingan
Pengendalian dengan engineering control sulit dilakukan, oleh karena itu
pengendalian yang paling memungkinkan adalah dengan administrative control dan
APD.

V.2. Getaran
Untuk pengambilan data berikutnya:
- Sebaiknya dilakukan ketika semua alat digunakan sehingga semua alat dapat
diuji nilai getarannya.

V.3. Iklim
Pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat belum sesuai dengan pedoman
karena pekerja di bagian ruang logam panas dan ruang rangka bawah perbaikan wogi
seharusnya tidak bekerja terus menerus melainkan 75% kerja dan 25% istirahat,
sedangkan pada area lapisan babet axle lining para pekerja tidak bekerja terus
menerus melainkan kerja 50% dan istirahat 50%. Persediaan air minum di tempat
tersebut cukup, namun tidak ditambahkan tablet garam NaCl 0,1%, selain itu
penempatan air minum kurang sesuai dengan syarat kesehatan sebab tempat tersebut
merupakan ruang terbuka yang banyak terpapar debu dan mikroorganisme.

34
DAFTAR PUSTAKA

ASEAN OSHNET Occupational Safety and Health Network (Jejaring Kerja dibidang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja antara Negara-Negara ASEAN),
2003; http://www.asean-osh.net/indonesia/osh%20statistic.htm. Bennet, dkk.1985.
Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Jakarta:
PT.Pustaka Binaman Pressindo Dalih. 1982. Keselamatan Kerja Dalam Tatalaksana
Bengkel 1. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Konradus, Dangur. 2003. Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja. pada
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/02/opi01.html)
K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) 21 Agustus 2008 diambil di website
http://gedbinlink.wordpress.com/tag/k3/
Suma’mur. 1988. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: CV.Haji
Masagung
Suma’mur PK. PK. 1996. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja. Jakarta:
PT.Toko Gunung Agung
Suma’mur PK. PK. 1999. Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja. Jakata: CV Haji
Masagung
Sutaryono. 2002. Hubungan antara tekanan panas, kebisingan dan penerangan
dengan kelelahan pada tenaga kerja di PT. Aneka Adho Logam Karya Ceper
klaten, Skripsi. Semarang : UNDIP
Tarwaka, Solichul, Bakri, Lilik Sudiajeng. 2004. Ergonomi Untuk Kesehatan Kerja
Dan Produktivitas. Surakarta: UNIBA Pers

35