Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim
penghujan. Saat musim penghujan tiba, Indonesia memiliki suatu problematika yang terjadi tiap
tahun yaitu bencana banjir. Bencana banjir dan putting beliung mengakibatkan banyak kerugian
baik korban jiwa maupun material.
Banjir merupakan bencana alam paling sering terjadi, baik dilihat dari intensitasnya pada
suatu tempat maupun jumlah lokasi kejadian dalam setahun yaitu sekitar 40% di antara bencana
alam yang lain. Bahkan pada tempat-tempat tertentu, banjir merupakan rutinitas tahunan. Lokasi
kejadiannya bisa perkotaan atau pedesaan, negara sedang berkembang atau negara maju
sekalipun. Diantara lokasi-lokasi tersebut dapat dibedakan berdasarkan dampak dari banjir itu
sendiri. Dampak banjir pada wilayah perkotaan pada umumnya adalah pemukiman sedangkan di
pedesaan dampak dari banjir disamping pemukiman juga daerah pertanian yang bisa berdampak
terhadap ketahanan pangan daerah tersebut dan secara nasional terlebih jika terjadi secara
besarbesaran pada
Kabupaten Sampang merupakan salah satu daerah di Pulau Madura yang termasuk dalam
kategori rawan banjir dan putting beliung. Bencana alam ini selalu terjadi setiap tahun ketika
memasuki musim penghujan dan musim kemarau. Selain faktor curah hujan, kemarau
berkepanjangan, faktor lain juga diduga menjadi penyebab terjadinya bencana alam tersebuut,
misalnya kemiringan lereng, elevasi, jenis tanah, penggunaan lahan dan kerapatan sungai yang
ada di Kabupaten Sampang. Untuk memberikan informasi terkait bencana banjir dan putting
beliung di Kabupaten Sampang sangat diperlukan pemetaan tentang daerah yang mempunyai
kerawanan banjir serta penyelidikan mengenai penyebab lain terjadinya bencana alam tersebut.
Dalam makalah ini saya menggabungkan dua paper yang bertema sama yakni
penanggulangan banjir Sampang, dengan judul paper pertama yakni, “Analisa Potensi Genangan
Berdasarlan Data Curah hujan Global TRMM” oleh Filsa Bioresita, Dr. Ir. M. Taufik. Judul paper
yang kedua yakni, “Analisis Tingkat Kerawanan Banjir di Kabupaten Sampang Menggunakan
Metode Overlay Scoring Berbasis Sistem Indormasi Geografis” oleh, Kurnia Darmawan,
Hani’ah, Andri Suprayogi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, masalah yang dapat ditemukan dalam
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa saja Bencana alam yang terjadi di Kab. Sampang?
2. Apa penyebab dari bencana alam di Kab. Sampang?
3. Apa saja dampak dari Bencana alam di Kab. Sampang?
4. Bagaimana penanggulangan Bencana yang terjadi di Kab. Sampang?

1.3 Tujuan
Maksud dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui bencana alam yang terjadi di Kab. Sampang
2. Mengetahui penyebab terjadinya bencana alam di Kab. Sampang
3. Mengetahui dampak dari Bencana alam di Kab. Sampang
4. Mengetahui penanggulangan Bencana yang terjadi di Kab. Sampang
BAB II

DASAR TEORI

2.1. Definisi Bencana Alam

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik,
seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena
ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga
menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian.

Bencana alam juga dapat diartikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh gejala alam.
Sebenarnya gejala alam merupakan gejala yang sangat alamiah dan biasa terjadi pada bumi.
Namun, hanya ketika gejala alam tersebut melanda manusia (nyawa) dan segala produk
budidayanya (kepemilikan, harta dan benda), kita baru dapat menyebutnya sebagai bencana.

Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari
bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana
muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas
alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan
manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah
"alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa
keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri,
mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor
besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.

Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki
kerentanan/kerawanan(vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang
hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster
resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-
infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir.
Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar
jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.
http://id.shvoong.com/exact-sciences/architecture/2352256-pengertian-banjir/

2.2 Kabupaten Sampang

Kabupaten Sampang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Pulau Madura
selain Kabupaten Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep. Kabupaten ini terletak pada 113°08’
hingga 113°39’ Bujur Timur dan 06°05’ hingga 07°13’Lintang Selatan. Batas daerah Sampang,
di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten
Pamekasan. Di sebelah selatan berbatasan dengan Selat Madura. Sedangkan di sebelah barat
berbatasan dengan Kabupaten Bangkalan. Secara umum wilayah Kabupaten Sampang berupa
daratan, terdapat satu pulau yang terpisah dari daratan bernama Pulau Mandangin/Pulau
Kambing. Luas wilayah Kabupaten Sampang yang mencapai 1233,33 km2 habis dibagi menjadi
14 kecamatan dan 186 desa/ Kelurahan (Sampangkab.go.id, 2016).

2.3 Banjir

Banjir merupakan bencana alam paling sering terjadi, baik dilihat dari intensitasnya pada
suatu tempat maupun jumlah lokasi kejadian dalam setahun yaitu sekitar 40% di antara bencana
alam yang lain. Bahkan pada tempat-tempat tertentu, banjir merupakan rutinitas tahunan. Lokasi
kejadiannya bisa perkotaan atau pedesaan, negara sedang berkembang atau negara maju
sekalipun. Diantara lokasi-lokasi tersebut dapat dibedakan berdasarkan dampak dari banjir itu
sendiri. Dampak banjir pada wilayah perkotaan pada umumnya adalah pemukiman sedangkan di
pedesaan dampak dari banjir disamping pemukiman juga daerah pertanian yang bisa berdampak
terhadap ketahanan pangan daerah tersebut dan secara nasional terlebih jika terjadi secara
besarbesaran pada suatu negara (Suherlan, 2001).

Hampir di setiap musim penghujan sering terjadi peristiwa bencana banjir yang muncul
dimana-mana, dengan lokasi dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan sangat beragam. Masalah
banjir telah ada sejak manusia bermukim dan melakukan berbagai kegiatan di dataran banjir
(flood plain) suatu sungai (Kementrian Negara Ristek dan Teknologi, 2008). Bencana banjir
merupakan kejadian alam yang sulit diduga karena datang secara tiba-tiba dengan perioditas yang
tidak menentu, kecuali daerah-daerah yang sudah menjadi langganan terjadinya banjir.
Setidaknya ada beberapa faktor penting yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Indonesia
diantaranya faktor kemiringan lereng dan ketinggian lahan suatu daerah, faktor jenis tanah dan
penggunaan lahannya, faktor kerapatan sungai dan curah hujan yang tinggi membuat suatu daerah
akan rawan bencana banjir seperti yang terjadi di Sampang.

24. Faktor – faktor terjadinya Banjir


Faktor – faktor terjadinya banjir sangat beragam. Hal tersebut tidak lepas dari dua
komponen, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang membuat terjadinya banjir
antara lain hujan deras, curah hujan tinggi, aliran sungai alami yang kecil, berubahnya iklim,
dan sebagainya. Kemudian faktor manusia atau hasil ulah manusia seperti eksploitasi hutan,
pembalakan liar, penggundulan tanaman bakau, buang sampah sembarangan, dan bermukim
didaerah tepi sungai (Ramdhani, 2009).

Beberapa faktor banjir yang disebabkan oleh peran manusia secara tidak langsung:

a) Curah hujan tinggi menyebabkan debit air sungai lebih besar dari kapasitas alur
sungainya, sehingga timbul genangan pada daerah dataran banjir.
b) Aliran pada anak sungai tertahan oleh aliran pada sungai induknya.
c) Terjadinya pembendungan pada aliran akhir sungai akibat air pasang laut.
d) Terjadi penyempitan alur sungai “Bottle Neck” atau “ambal alam” sehingga menimbulkan
pembendungan muka air sungai.

Beberapa faktor banjir yang disebabkan oleh peran manusia secara langsung:

a) Tumbuhnya daerah pemukiman didaerah dataran banjir sehingga alur sungai menyempit.
b) Pembuatan bangunan yang dibangun di sepanjang sungai terutama pada kondisi banjir
(kincir – kincir air, jembatan, dan sebagainya).
c) Kesadaran masyarakat disepanjang pemukiman dekat sungai. Buang sampah
sembarangan.
d) Usaha untuk pemulihan banjir yang kurang digalakan (Setiawan, Tanpa tahun).

2.5 Sungai

Pola aliran Sungai yang terdapat di Kabupaten Sampang yang merupakan sumber air
permukaan mengikuti pola aliran Sungai sejajar teranyam (brainded), berkelok putus
(Anastromik), cakar ayam bersifat tetap, sementara dan berkala. Untuk panjang Sungai yang ada
tersebut berkisar antara 0,7 - 22 Km.
Permasalahan yang dihadapi sungai – sungai di Indonesia pada umumnya adalah
tingginya laju sedimentasi sebagai akibat dari meningkatnya laju erosi permukaan maupun erosi
tebing di daerah hulu atau daerah pengairan sungainya. Pengelolaan lahan secara intensif yang
mengabaikan aspek konservasi dalam upaya pemenuhan kebutuhan akibat bertambahnya
penduduk dapat mengakibatkan laju erosi yang semakin tinggi.

Erosi tidak hanya menurunkan tingkat kesuburan tanah karena hilangnya lapisan humus
di daerah yang tererosi, tetapi juga menimbulkan dampak negatif di daerah hilir yaitu timbulnya
masalah sedimentasi yang dapat merugikan tempat – tempat tertentu seperti pendangkalan sungai,
waduk, pantai dan muara – muara sungai serta terjadinya banjir di daerah hilir. berdasarkan studi
terdahulu Sungai Kemuning merupakan sungai yang dikategorikan produktif dengan sumber
penghasil bahan sedimen, disamping itu Sungai Kemuning juga merupakan kali dengan run-off
yang cukup tinggi. Sementara itu bagian hilir Sungai Kemuning melalui jantung kota strategis
yaitu Kota Sampang dan sekaligus Sungai Kemuning ini masih difungsikan sebagai pelabuhan
maupun alur pelayaran bagi nelayan dan kapal curah berukuran kecil. Selain sumber penghasil
bahan sedimen juga merupakan kali yang potensi akan terjadinya banjir di kota Sampang dan
sekitarnya.

Sungai Kemuning dengan DAS-nya termasuk dalam wilayah Kabupaten Sampang Pulau
Madura. Sungai Kemuning merupakan kali terbesar di Kabupaten Sampang dan posisi geografi
DAS Kali Kemuning terletak pada 113˚12’42” – 113˚20’28” Bujur Timur dan 6˚59’ hingga 7˚13’
Lintang Selatan. Sedangkan elevasi topografinya berada pada elevasi 1 m sampai dengan + 150
m. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Kemuning adalah 333,34 km2 ditinjau dari lokasi
pengamatan AWLR Pangilen. Sungai Kemuning adalah sungai yang berhulu dari Gunung
Batating Kabupaten Sampang yang bermuara di Selat Madura. Sungai Kemuning ini memiliki
anak sungai yang cukup banyak dan berbentuk kipas, sehingga menyebabkan datangnya banjir
begitu cepat. Ditambah lagi susunan tanah di wilayah DAS Sungai Kemuning yang sebagian besar
terdiri atas lempung hal ini akan menambah besarnya puncak banjir serta dalam waktu yang relatif
pendek terjadi waktu puncak dan waktu surut. Oleh karena itu perencanaan pengendalian daya
rusak pada Sungai Kemuning yang ditimbulkan oleh aliran air dan material yang dibawanya perlu
dilakukan.
Sebagaimana daerah di Indonesia pada umumnya, Kabupaten Sampang mempunyai iklim
tropis yang ditandai dengan adanya 2 (dua) musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Musim
hujan berlangsung mulai dari bulan Oktober s.d. dengan Maret, dan musim kemarau berlangsung
mulai dari butan April s.d. dengan September. Hujan terjadi sepanjang tahun, dengan frekuensi
tertinggi terjadi pada bulan Januari s.d. April. Pada bulan Mei s.d. September berkurang dan
mulai bulan Oktober s.d. Desember mulai turun hujan dengan frekuensi berangsur angsur
bertambah. Beberapa waktu terakhir berlangsung gejala hujan yang tidak teratur, yang menjadi
sebab utama merosotnya produksi tembakau. Curah hujan tertinggi terjadi di Kecamatan Robatal
dengan rata-rata 146,70 mm dan terendah di Kecamatan Ketapang, yaitu rata-rata 61,00 mm.

2.6 Data Banjir

Informasi bahaya banjir telah dihasilkan seperti pada di bawah berikut, dimana
ditunjukkan bahwa tingkat bahaya sangat tinggi dengan warna merah terdapat di bagian selatan
dan bagian utara Kabupaten Sampang. Bagian selatan Kabupaten Sampang yang mempunyai
tingkat bahaya banjir sangat tinggi adalah di Kecamatan Sampang, dan daerah tambak di
Kecamatan Sreseh dan Jrengkrik, sedangkan bagian utara yang mempunyai tingkat bahaya banjir
sangat tinggi adalah di daerah pantai Kecamatan Banyuates, Ketapang, dan Sokobanah

Bencana Banjir di Kabupaten Sampang seringkali terjadi. Banjir disebabkan oleh curah
hujan yang tinggi. Pada Tahun 2015, banjir terjadi kurang lebihsebanyak 7 kali dalam satu tahun.
Yang ditunjukkan pada table 4.1

Dari data di atas dapat dijelaskan bahwa bencana banjir di Sampang terjadi akibat luapan
sungai kalikemuning yang tidak mampu menampung debit air yang sangat tinggi. Luapan sungai
kalikemuning itu karena curah hujan yang tinggi, jika dipertemukan dengan air laut yang pasang
maka banjir pasti akan terjadi. Banjir akan menggenangi daerah yang rendah seperti Ds.
Tanggumong, Ds. Paseyan, Kel. Dalpenang, dan Kel. Rontengah. Adapun bencana banjir ini
menyebabkan kerugian yang mengganggu kelangsungan hidup masyarakat Sampang. Kerugian
yang diakibatkan oleh bencana banjir diantaranya menyebabkan beberapa jalan mengelupas.
Tidak hanya itu saja, perekonomian masyarakat juga ikut rugi pada pascabencana banjir.
Masyarakat juga resah jika terjadi banjir secara terus menerus sehingga juga akan menyebebkan
psikologis warga kurang nyaman dan merasa tidak aman.
Tabel 4.1 Laporan Kejadian Banjir Kabupaten Sampang Tahun 2015

Sedangan pada tahun 2016, dapat dikatakan banjir lebih sering terjadi dibandingkan
dengan tahun 2015. Pada tahun 2016 ini, banjir bisa saja terjadi 3 kali dalam kurun waktu satu
bulan. Jika ditotal selama satu tahun banjir terjadi kurang lebih sebanyak lebih dari 15 kali.
Berikut ini daftar kejadian bencana banjir. Sampang pada tahun 2016 :
Tabel 4.2 Laporan Kejadian Banjir Kabupaten Sampang Tahun 2016
2.7 Angin Puting Beliung

Angin puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam
yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit. Orang awam
menyebut angin puting beliung adalah angin “Leysus”, di daerah Sumatera disebut “Angin
Bohorok” dan masih ada sebutan lainnya. Angin jenis ini yang ada di Amerika yaitu “Tornado”
mempunyai kecepatan sampai 320 km/jam dan berdiameter 500 meter. Angin puting beliung
sering terjadi pada siang hari atau sore hari pada musim pacaroba. Angin ini dapat
menghancurkan apa saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati
terangkat dan terlempar

Angin puting beliung merupakan gejala alam yang tidak dapat diduga kedatangannya.
Frekuensi angin puting beliung yang kian meningkat tidak terlepas dari kerusakan lingkungan
yang terjadi di Indonesia.
2.8 Faktor Faktor Terjadinya Angin Puting Beliung
a) Sebab Alam
Penyebab Terjadinya Angin Puting Beliung disebabkan karena Udara panas dan dingin
bertemu, sehingga saling bentrok dan terbentuklah puting beliung. Selain itu juga karen
Dalam awan terjadi arus udara naik ke atas yang kuat. Hujan belum turun, titik-titik air
maupun Kristal es masih tertahan oleh arus udara yang naik ke atas puncak awan.
b) Sebab Sosial
Angin puting beliung ini biasanya terjadi di daerah yang jumlah vegetasinya kurang atau
sedikit, contohnya pada sebuah kota yang didalamnya terdapat banyak gedung yang
menyebabkan suhu didalamnya menjadi panas. Selain itu penyebab lain angin puting beliung
adalah pemakaian alat elektronik seperti kulkas, AC, televisi, mesin cuci dan sebagainya yang
dapat menimbulkan efek rumah kaca dan menyebabkan terjadinya global warming sehingga
udara panas terperangkap dalam atmosfer bumi dan berbenturan dengan udara yang lebih
rendah sehingga menyebabkan terjadinya angin puting beliung.
2.9 Penanggulangan Puting beliung

Antisipasi adanya angin puting beliung, antara lain sebagai berikut:


 Jika terdapat pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh agar segera ditebang untuk
mengurangi beban berat pada pohon tersebut
 Perhatikan atap rumah yang sudah rapuh, karena pada rumah yang rapuh sangat mudah
sekali terhempas, sedangkan pada rumah yang permanent, kecil kemungkinan terhempas.
 Apabila melihat awan yang tiba-tiba gelap, semula cerah sebaiknya untuk tidak
mendekati daerah awan gelap tersebut
 Cepat berlindung atau menjauh dari lokasi kejadian, karena peristiwa fenomena tersebut
sangat cepat
 Untuk jangka panjang pohon dipinggir jalan diganti dengan pohon akar berjenis serabut
seperti pohon asem, pohon beringin dsb.
Akibat dari Angin Puting Beliung

a. Akibat Alam
Angin puting beliung sangat berdampak buruk pada kehidupan dan lingkungan tempat
manusia tinggal.Akibat dari angin puting beliung antara lain banjir, tsunami dan tanah
longsor yang disebabkan oleh guncangan dari pusaran angin yang bertekanan sangat tinggi.
b. Akibat Sosial
Setiap bencana alam selalu membawa dampak dan menimbulkan kerugian bagi
manyarakat, berupa korban jiwa, dan material. Bencana angin puting beliung bila
menimbulkan korban dan kerusakan pada bangunan infrastruktur, hal ini tergantung dari
skala intensitas angin. Semakin tinggi intensitas angin maka akan semakin berat tingkat
kerusakan yang ditimbulkan Angin puting beliung. Kerusakan yang dilimbulkan
diantaranya:
· Menyebebkan kerusakan atau kehancuran bangunan
· Merusak jaringan listrik
· Mengangkat dan memindahkan benda-benda yang tidak stabil
· Membahayakan keselamatan
· Rusaknya rumah dan infrastruktur suatu daerah
· Dapat menimbulkan korban jiwa.
· Rusaknya kebun-kebun warga
· Kerugian Material.
· Banyak puing-puing dan sampah yang terbawa puting beliung dan berserakan
· Terganggunya kegiatan-kegiatan ekonomi.
c. Antisipasi dan Penanggulangan Angin Puting Beliung

Antisipasi adanya angin puting beliung:

· Jika terdapat pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh agar segera ditebang untuk
mengurangi beban berat pada pohon tersebut
· Perhatiakan atap rumah yang sudah rapuh, karena pada rumah yang rapuh sangat mudah
sekali terhempas, sedangkan pada rumah yang permanent, kecil kemungkinan terhempas. ·
Apabila melihat awan yang tiba-tiba gelap, semula cerah sebaiknya untuk tidak mendekati
daerah awan gelap tersebut
· Cepat berlindung atau menjauh dari lokasi kejadian, karena peristiwa fenomena tersebut
sangat cepat
· Untuk jangka panjang pohon dipinggir jalan diganti dengan pohon akar berjenis serabut
seperti pohon asem, pohon beringin dan sebagainya.

Adapun upaya penanggulangannya adalah sebagai berikut :

a. Sebelum Datangnya Angin

· Dengar dan simaklah siaran radio atau televisi menyangkut prakiraan terkini cuaca setempat
Waspadalah terhadap perubahan cuaca

· Waspadalah terhadap angin topan yang mendekat.

· Waspadalah terhadap tanda tanda bahaya sebagai berikut:

· Langit gelap, sering berwarna kehijauan.

· Hujan es dengan butiran besar

· Awan rendah, hitam, besar, seringkali bergerak berputar

· Suara keras seperti bunyi kereta api cepat

· Bersiaplah untuk ke tempat perlindungan ( bunker ) bila ada angin topan mendekat

b. Saat Datangnya Angin

· Ø Bila dalam keadaan bahaya segeralah ke tempat perlindungan (bunker)

· Ø Jika anda berada di dalam bangunan seperti rumah, gedung perkantoran, sekolah, rumah
sakit, pabrik, pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit, maka yang anda harus lakukan
adalah segera menuju ke ruangan yang telah dipersiapkan untuk menghadapi keadaan tersebut
seperti sebuah ruangan yang dianggap paling aman, basement, ruangan anti badai, atau di
tingkat lantai yang paling bawah. Bila tidak terdapat basement, segeralah ke tengah tengah
ruangan pada lantai terbawah, jauhilah sudut sudut ruangan, jendela, pintu, dan dinding terluar
bangunan. Semakin banyak sekat dinding antara diri anda dengan dinding terluar gedung
semakin aman. Berlindunglah di bawah meja gunakan lengan anda untuk melindungi kepala
dan leher anda. Jangan pernah membuka jendela.
· Ø Jika anda berada di dalam kendaraan bermobil, segeralah hentikan dan tinggalkan
kendaraan anda serta carilah tempat perlindungan yang terdekat seperti yang telah disebutkan
di atas.

· Ø Jika anda berada di luar ruangan dan jauh dari tempat perlindungan, maka yang anda
harus lakukan adalah sebagai berikut:

· Ø Tiaraplah pada tempat yang serendah mungkin, saluran air terdekat atau sejenisnya sambil
tetap melindungi kepala dan leher dengan menggunakan lengan anda · Ø Jangan berlindung
di bawah jembatan, jalan layang, atau sejenisnya. Anda akan lebih aman tiarap pada tempat
yang datar dan rendah

· Ø Jangan pernah melarikan diri dari angin puting beliung dengan menggunakan kendaraan
bermobil bila di daerah yang berpenduduk padat atau yang bangunannya banyak. Segera
tinggalkan kendaraan anda untuk mencari tempat perlindungan terdekat.

· Ø Hati hati terhadap benda benda yang diterbangkan angin puting beliung. Hal ini dapat
menyebabkan kematian dan cedera serius

2.10 Mitigasi Bencana Putting Beliung

Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mitigasi bencana angin putting
beliung :

1. Membuat sruktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk mampu bertahan terhadap gaya
angin

2. Perlunya penerapan aturan standar bangunan yang memperhitungkan beban angina khususnya
di daerah yang rawan angin topan

3. Penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada daerah yang terlindung dari
serangan angin topan.

4. Penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angina

5. Pembuatan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan sebagai tempat
penampungan sementara bagi orang maupun barang saat terjadi serangan angin topan.
6. Pengamanan/perlakuan bagian-bagian yang mudah diterbangkan angin yang dapat
membahayakan diri atau arang lain disekitarnya.

7. Kesiap-siagaan dalam menghadapi angin puting beliung, mengetahui bagaimana cara


penyelamatan diri

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Bencana alam Kabupaten Sampang, Madura

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

Kabupaten Sampang, Madura

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Studi pustaka : teknik pengumpulan data dengan mengkaji berbagai teori, prinsip, kosep,
dan beberapa paper. Data yang diperoleh bersumber dari buku buku, paper, jurnal, dan internet.
BAB IV

ISI DAN PEMBAHASAN

4.1 Riwayat Banjir Sampang

Dalam 10 tahun terakhir, Sampang telah dilanda 29 kejadian Banjir dan 16


kejadian Angin Putingbeliung . Berdasarkan data akumulasi curah hujan harian dari
QMorph dapat diketahui bahwa rata-rata di Kabupaten Sampang terjadi curah hujan
dengan intensitas sedang (21-50 mm/hari) dan intensitas ringan (5-20 mm/hari). Yang
menyebabkan sungai kemuning meluap.
Gambar 4.1 Tren Kejadian Bencana 10 Tahun Terakhir

4.2 Analisis tingkat kerawanan banjir


Sampang merupakan salah satu kabupaten di Pulau Madura yang menjadi
langganan banjir ketika musim penghujan. Selain faktor curah hujan yang tinggi, beberapa
faktor lain seperti kemiringan lereng dan ketinggian lahan, jenis tanah dan penggunaan
lahan serta kerapatan sungai digunakan sebagai parameter pada penelitian tingkat
kerawanan banjir. Penelitian ini menggunakan metode overlay dengan scoring antara
parameter-parameter yang ada, dimana setiap parameter dilakukan proses scoring dengan
pemberian bobot dan nilai yang sesuai dengan pengklasifikasiannya masing masing yang
kemudian dilakukan overlay menggunakan software ArcGIS 10.2.1. Penggunaan
software ini memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang dapat menjelaskan
dan mempresentasikan objek daerah rawan banjir dalam bentuk digital. (Kurnia, 2017)
Hampir seluruh wilayah yang
berada di bagian selatan
Kabupaten Sampang
mempunyai potensi banjir yang
sangat besar. Wilayah ini
meliputi sebagian besar
Kecamatan Sampang, Torjun,
Pangarengan, Jrengik,

Sreseh dan sebagian


kecil dari Kecamatan
Camplong, Omben,
Kedungdung dan Tambelangan.
Semua wilayah ini dapat dikategorikan sebagai daerah yang sangat rawan akan
terjadinya banjir. Sedangkan wilayah di bagian utara hanya sebagian kecil dari
Kecamatan Banyuates, Ketapang, dan Sokobanah saja yang dapat dikategorikan
sebagai daerah sangat rawan banjir. Sementara itu, sebagian besar Kecamatan
Kedungdung, Tambelangan, Omben, Banyuates, Robatal, dan Karangpenang dapat
dikategorikan sebagai daerah yang cukup rawan terhadap bencana banjir. Hal ini
dapat dilihat dari warna kuning yang hampir mendominasi di wilayah kecamatan-
kecamatan ini. Sedangkan wilayah yang dapat dikatakan aman dari bahaya banjir
terletak di sebagian besar Kecamatan Ketapang dan sebagian kecil dari Kecamatan
Banyuates, Sokobanah, Tambelangan, Jrengik, Torjun dan Kecamatan Omben.
REFERENSI

http://geospasial.bnpb.go.id/pantauanbencana/data/datatopanall.php

https://daerah.sindonews.com/read/923642/23/angin-puting-beliung-robohkan-rumah-di-sampang-
1415854322