Anda di halaman 1dari 13

TUGAS 1

Nama : Idris Iskandar Mata Kuliah : Seminar Proposal


Kelas : 7/B Dosen : Ramlah, M.Pd.
NPM : 1510631050062 Kegiatan : Resume Artikel Jurnal

1. Judul: Kemampuan Literasi Matematika Siswa SMP ditinjau dari gaya belajar
 Nama Jurnal : Beta (Jurnal Tadris Matematika)
 Volume : 10 Nomor 2
 Tahun : 2017
 Peneliti : M. Syawahid dan Susilahudi Putrawangsa
 Latar Belakang Masalah
PISA adalah salah satu program yang diinisiasi OECD untuk mengaji
pembelajaran matematika. Hal yang dikaji tidak hanya terbatas pada prestasi
belajarnya, tetapi meliputi kemampuan yang diistilahkan dengan literasi matematika.
Literasi matematika merupakan kemampuan siswa untuk merumuskan, menggunakan,
dan menginterpretasi matematika dalam berbagai konteks (OECD, 2016).
Berdasarkan hasil PISA 2015, Indonesia masuk dalam 10 negara dengan
kemampuan literasi rendah karena menduduki posisi ke-69 dari 76 negara yang
disurvei (OECD, 2016). Rata-rata skor siswa yakni 375 (literasi matematika level 1)
berada di bawah rata-rata skor internasional yakni 500 (literasi matematika level 3).
Literasi matematika level 1 merupakan yang terendah sedangkan level 6 merupakan
yang tertinggi.
Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pencapaian hasil belajar siswa
yaitu gaya belajar. Gaya belajar adalah pilihan modalitas kognitif yang berlaku dalam
proses belajar (Akinyode & Khan, 2016). Sedangkan Amin dan Suardiman (2016)
menyatakan bahwa gaya belajar merupakan cara termudah yang dimiliki oleh individu
dalam menyerap, mengatur, dan mengolah informasi yang diterima. Gaya belajar
terdiri dari tiga jenis yaitu visual, auditori, dan kinestetis dan setiap individu
cenderung memiliki salah satu dari ketiga gaya belajar tersebut (Grinder & Bandler,
1981). Penelitian Sulistiana, Sriyono, dan Nurhidayati (2013) menunjukkan bahwa
gaya belajar berpengaruh terhadap prestasi siswa.
Berdasarkan uraian yang telah peneliti kemukakan, terdapat keterkaitan antara
kemampuan literasi matematis siswa dan gaya belajar siswa. Oleh karenanya, peneliti
mencoba menganalisis hubungan-hubungan tersebut.
 Perumusan masalah
Bagaimana keterkaitan antara kemampuan literasi matematis dengan gaya belajar
siswa?
 Teori pendukung
(1) Kriteria Level Literasi Matematika PISA (OECD, 2017)
(2) Gaya belajar yang terdiri dari visual, audio, dan kinestetik (Grinder & Bandler,
1981)
 Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan
di SMPN 1 Mataram kelas VIII. Subjek penelitian terdiri dari 3 siswa yang dipilih
dari 82 siswa kelas VIII A dan VIII B berdasarkan angket kecenderungan gaya belajar
versi O’Brien (1985). Tiga siswa tersebut masing-masing memiliki gaya belajar
auditori, visual, dan kinestetik. Kemudian, ketiga siswa diberikan tes literasi
matematis level 3 dan 4. Setelahnya, hasil tes dinilai berdasarkan kriteria level literasi
matematis PISA versi Tim Penyusun Soal KLM Unsri (2013).
 Pembahasan
Siswa kelas VIII A dan VIII B SMPN 1 Mataram yang terdiri dari 82 orang
diberikan angket gaya belajar yang terdiri dari 36 pernyataan. 36 pernyataan tersebut
terdiri dari 12 pernyataan mengukur gaya belajar auditori, 12 pernyataan mengukur
gaya belajar visual, dan 12 pernyataan mengukur gaya belajar kinsetetis. Pernyataan
tersebut disusun secara acak untuk dilingkari yang sesuai dengan keadaan tiap-tiap
siswa. Kemudian, dipilih tiga siswa yang meraih skor tertinggi pada masing-masing
jenis gaya belajar. Setelah itu, ketiga siswa diberikan tes literasi matematika sebanyak
4 soal. Soal disusun berdasarkan kriteria literasi matematika PISA level 3 dan 4.
Nomor 1 dan 2 untuk menguji kriteria level 4. Sedangkan soal nomor 3 dan 4 untuk
menguji kriteria level 3.
 Hasil penelitian
(1) Siswa dengan gaya belajar auditori memiliki kemampuan literasi matematika level
4, yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal
literasi matematika level 4 (soal nomor 1 dan 2) meskipun mereka kesulitan dalam
menyelesaikan soal literasi matematika dengan level 3 (soal nomor 3 dan 4).
(2) Siswa dengan gaya belajar visual memiliki kemampuan literasi matematika level 3
yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal literasi
matematika level 3 (soal nomor 3 dan 4) dan tidak mampu menyelesaikan soal
literasi matematika level 4 (soal nomor 1 dan 2).
(3) Siswa dengan gaya belajar kinestetis memiliki kemampuan literasi matematika
level 4 yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka dalam menyelesaikan soal
literasi matematika level 4 (soal nomor 1) dan level 3 (soal nomor 3 dan 4). Pada
soal nomor 2 (level 4) siswa dengan gaya belajar kinestetis kurang teliti sehingga
jawaban yang dihasilkan salah.
2. Judul: Literasi Matematika Siswa SMA Kelas X dalam Menyelesaikan Soal Model PISA
ditinjau dari Perbedaan Gender
 Nama Jurnal : MATHEdunesa (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika)
 Volume : 2 Nomor 7
 Tahun : 2018
 Peneliti : Ihmah Risywanda dan Siti Khabibah
 Latar Belakang Masalah
Literasi matematika merupakan salah satu kompetensi yang perlu dimiliki di era
hiperteknologi dan hiperinformasi. Literasi matematika didefinisikan sebagai
kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan matematika
dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis
dan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menggambarkan,
menjelaskan, atau memperkirakan fenomena/kejadian (OECD, 2016). Literasi
matematika merupakan salah satu komponen penting untuk memecahkan masalah PISA
(Fatmawati, 2016). Dalam praktiknya, literasi matematika terjadi melalui tiga proses
matematika yaitu proses merumuskan (formulate), menerapkan (employ), dan
menafsirkan (interpret).
Berdasar pada penelitian Mena (2016) tentang literasi matematika siswa didapat
hasil hanya satu dari tiga subjek penelitiannya yang mampu mengerjakan dengan benar.
Hal tersebut mengindikasikan adanya perbedaan literasi matematika pada setiap siswa.
Salah satu faktornya adalah perbedaan konstruksi sosial dan budaya. Konstruksi dari
sosial dan budaya tersebut membentuk sifat-sifat yang melekat pada diri tiap manusia,
yang selanjutnya disebut dengan gender. Gender adalah segala sifat yang melekat pada
kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural
(Fakih, 2008). Bem (1981) berpendapat bahwa karakteristik yang diasosiasikan dengan
maskulinitas dan feminitas terletak pada dua dimensi yang berbeda. Rentang yang satu
berkisar dari maskulinitas rendah sampai yang tinggi, dan rentang lain berkisar dari
feminitas yang rendah sampai yang tinggi. Selanjutnya gender dibagi menjadi empat
macam, yaitu maskulin, feminin, androgini, dan tak dapat dibedakan.
Berdasarkan uraian yang telah peneliti kemukakan, terdapat keterkaitan antara
kemampuan literasi matematis siswa dan gender siswa. Oleh karenanya, peneliti
mencoba menganalisis hubungan-hubungan tersebut.
 Perumusan Masalah
Bagaimana keterkaitan antara kemampuan literasi matematis dengan gender siswa?
 Teori Pendukung
(1) Tes kategori gender Personal Attribute Questionnaire (PAQ) (Spence, Helmreich,
& Stapp, 1973)
(2) Tes Literasi Matematika PISA konten quantity dan space and shape
(3) Tahapan literasi matematika PISA
 Metode Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berjenis deskriptif. Subjek dalam
penelitian ini adalah 4 orang siswa SMA Negeri 1 Manyar kelas X tahun ajaran
2017/2018 yang telah dipilih berdasarkan kesetaraan kemampuan matematika dan
perbedaan gender yang terdiri maskulin, feminin, androgini, dan tak dapat dibedakan.
Selanjutnya, 4 siswa terpilih diberikan soal-soal literasi matematika model PISA untuk
dikerjakan. Hasil tes diukur dengan suatu indikator literasi matematika meliputi tahap
merumuskan,emenerapkan, danemenafsirkan. Selanjutnya, peneliti melakukan
wawancara terhadap tiap-tiap siswa. Adapun analisis data dilakukan dengan
mendeskripsikan hasil tes dengan menggunakan indikator literasi matematis untuk tiap-
tiap siswa dengan gender yang berbeda.
 Pembahasan
(1) Literasi matematika subjek bergender maskulin adalah sebagai berikut. Pada proses
merumuskan (formulate) subjek mengidentifikasi beberapa variabel dan aspek
penting pada soal dan menyederhanakan masalah agar mudah untuk dianalisis
secara matematis serta menemukan hubungan dari permasalahan yang diberikan.
Pada proses menerapkan (employ) subjek merancang dan menerapkan strategi untuk
menemukan solusi matematika serta menerapkan fakta, kaidah, dan algoritma
matematika selama proses menemukan jawaban. Subjek juga melakukan manipulasi
bilangan dan informasi yang didapat dari soal serta melakukan representasi
geometri dari soal yang diberikan. Pada proses menafsirkan (interpret) subjek
menafsirkan kembali hasil matematika yang didapat ke dalam konteks, kemudian
subjek mengevaluasi kewajaran solusi matematika dan menjelaskan mengapa hasil
matematika yang didapat tidak masuk akal.
(2) Literasi matematika subjek bergender feminin adalah sebagai berikut. Pada proses
merumuskan (formulate) subjek mengidentifikasi beberapa variabel dan aspek
penting pada soal namun hanya ada pada pikiran subjek, tidak tertulis di lembar
jawaban. Kemudian subjek menyederhanakan masalah agar mudah untuk dianalisis
secara matematis serta subjek menemukan hubungan pada permasalahan yang
diberikan. Pada proses menerapkan (employ) subjek merancang dan menerapkan
strategi untuk menemukan solusi matematika serta menerapkan fakta, kaidah, dan
algoritma matematika selama proses menemukan jawaban. Subjek juga melakukan
manipulasi bilangan dan informasi yang didapat dari soal serta melakukan
representasi geometri dari soal yang diberikan. Selain itu, subjek juga
mengidentifikasi syarat dan asumsi di setiap model matematika. Pada proses
menafsirkan (interpret) subjek menafsirkan kembali hasil matematika yang didapat
ke dalam konteks, kemudian subjek mengevaluasi kewajaran solusi matematika dan
menjelaskan mengapa hasil matematika yang didapat tidak masuk akal atau masuk
akal.
(3) Literasi matematika subjek bergender androgini adalah sebagai berikut. Pada proses
merumuskan (formulate) subjek mengidentifikasi beberapa variabel dan aspek
penting pada soal. Kemudian subjek menyederhanakan masalah agar mudah untuk
dianalisis secara matematis. Subjek juga menemukan hubungan pada permasalahan
yang diberikan. Selain itu, subjek juga mengidentifikasi syarat dan asumsi di setiap
model matematika. Pada proses menerapkan (employ) subjek merancang dan
menerapkan strategi untuk menemukan solusi matematika serta menerapkan fakta,
kaidah, dan algoritma matematika selama proses menemukan jawaban. Subjek juga
melakukan manipulasi bilangan dan informasi yang didapat dari soal serta
melakukan representasi geometri dari soal yang diberikan. Pada proses menafsirkan
(interpret) subjek menafsirkan kembali hasil matematika yang didapat ke dalam
konteks, kemudian subjek mengevaluasi kewajaran solusi matematika dan
menjelaskan mengapa hasil matematika yang didapat masuk akal.
(4) Literasi matematika subjek bergender tak dapat dibedakan adalah sebagai berikut.
Pada proses merumuskan (formulate) subjek mengidentifikasi beberapa variabel
dan aspek penting pada soal. Kemudian subjek menyederhanakan masalah agar
mudah untuk dianalisis secara matematis. Subjek juga menemukan hubungan pada
permasalahan yang diberikan. Pada proses menerapkan (employ) subjek merancang
dan menerapkan strategi untuk menemukan solusi matematika serta menerapkan
fakta, kaidah, dan algoritma matematika selama proses menemukan jawaban.
Subjek juga melakukan manipulasi bilangan dan informasi yang didapat dari soal
serta melakukan representasi geometri dari soal yang diberikan. Pada proses
menafsirkan (interpret) subjek menafsirkan kembali hasil matematika yang didapat
ke dalam konteks, kemudian subjek mengevaluasi kewajaran solusi matematika dan
menjelaskan mengapa hasil matematika yang didapat masuk akal.
 Hasil Penelitian
(1) Subjek bergender maskulinememunculkan semuaeindikator pada proses
menerapkane dan menafsirkanudalam mengerjakan soal konten quantitye(bilangan).
Pada proses merumuskan subjek tidak menemukanphubunganpdari
permasalahanpyangpdiberikan. Pada soal konten spaceuandoshape0(ruang dan
bentuk) subjek memunculkanosemua indikatorupada proses menerapkanedan
menafsirkanenamun tidak mengidentifikasiosyarat dan asumsipbalik pada
prosesymerumuskan.
(2) Subjek bergenderpfeminin memunculkanesemuaeindikator pada
prosesemerumuskan,tmenerapkan, danymenafsirkan dalam mengerjakan soal
konten quantityo(bilangan) dan spaceoandoshapeo(ruang dan bentuk)
(3) Subjek bergenderfandrogini memunculkanfsemua indikator pada proses
menerapkanedanemenafsirkan dalam mengerjakan soal konten quantityo(bilangan),
namun tidak menemukanehubungan yang ada pada soal saat proses emerumuskan.
Selanjutnya subjek memunculkanesemua indikator pada
prosesemerumuskan,emenerapkan, danemenafsirkan dalam mengerjakan soal
konten spaceoandoshape0(ruang dan bentuk).
(4) Subjek bergender tak dapatedibedakan memunculkanesemua indikator pada proses
merumuskan,emenerapkan, danemenafsirkan pada soal konten quantityo(bilangan)
dan spaceoandoshapeo(ruang dan bentuk).
3. Judul: Profil Literasi Matematis Konten Change and Relationship Siswa Kelas X ditinjau
dari Gaya Kognitif Visualizer dan Verbalizer
 Nama Jurnal : Edukasi
 Volume : 3 Nomor 1
 Tahun : 2017
 Peneliti : Nurina Ayuningtyas
 Latar Belakang Masalah
Survei kemampuan matematika siswa oleh PISA disebut literasi matematis.
Literasi matematis merupakan kemampuan individu untuk merumuskan, menerapkan,
dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Salah satunya adalah konteks
pribadi sebagai yang paling dekat dengan kehidupan siswa.
Hasil survei PISA 2012 menunjukkan bahwa siswa Indonesia menempati
peringkat 64 dari 65 negara dengan tingkat pencapaian relatif rendah yakni sebanyak
98,5% hanya mampu mencapai level 3 dari 6. Edo,dkk (2013) pada penelitiannya
menyimpulkan bahwa siswa kesulitan dalam merumuskan masalah matematika dalam
kehidupan sehari-hari yang disajikan ke dalam bentuk pemodelan matematika.
Dalam menyelesaikan soal matematika, setiap siswa memiliki karakteristik cara
tersendiri dalam memperoleh, memproses dan menyimpan dan menggunakan informasi
yang disebut gaya kognitif. Paivio (dalam Kozhevnikov: 2007) berpendapat bahwa
gaya kognitif dibagi menjadi dua dimensi yaitu visualizer dan verbalizer.
Dari berbagai uraian yang peneliti telah kemukakan, peneliti tertarik untuk
menganalisis dan mendeskripsikan profil literasi matematika siswa SMA kelas X
ditinjau dari gaya kognitif visualizer dan verbalizer.
 Perumusan Masalah
(1) Bagaimana keterkaitan antara kemampuan literasi matematis siswa dengan gaya
kognitif Visualizer?
(2) Bagaimana keterkaitan antara kemampuan literasi matematis siswa dengan gaya
kognitif Verbalizer?
 Teori Pendukung
(1) Literasi Matematika PISA (OECD, 2013)
Literasi matematika PISA terdiri dari tiga indikator yaitu merumuskan,
menerapkan, dan menafsirkan masalah matematika.
a. Merumuskan meliputi mengidentifikasi aspek-aspek matematika dalam
permasalahan yang terdapat pada situasi konteks nyata serta mengidentifikasi
variabel yang penting. Selain itu, termasuk pula mengubah permasalahan
menjadi bahasa matematika atau model matematika yang sesuai ke dalam
bentuk variabel, gambar atau diagram yang sesuai.
b. Menerapkan meliputi menerapkan rancangan model matematika untuk
menemukan solusi matematika.
c. Menafsirkan meliputi menafsirkan hasil matematis yang diperoleh dan
mengevaluasi kewajaran solusi matematika dalam konteks masalah dunia nyata.
(2) Gaya Kognitif (Paivio dalam Kozhevnikov, 2007)
Paivio (dalam Kozhevnikov: 2007) mengusulkan gaya kognitif dibagi menjadi dua
dimensi yaitu visualiser dan verbaliser. Visualiser menggunakan gambar dalam
memproses informasi sedangkan verbaliser menggunakan informasi linguistik.
 Metode Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berjenis deskriptif. Subjek dalam
penelitian ini adalah 2 orang siswa kelas X yang berusia sekitar 15 tahun. Subjek dipilih
berdasarkan hasil tes VVQ (Visualizer and Verbalizer Questioner) terdiri dari 20
pertanyaan yang dikembangkan oleh Richarson (dalam Mandelson 2004). Subjek yang
terpilih adalah subjek dengan hasil verbalizer maupun visualizer tertinggi. Dua subjek
verbalizer dan visualizer terpilih adalah subjek dengan kemampuan setara dibuktikan
dengan rata-rata nilai tugas-tugas matematika dan ulangan harian matematika siswa di
sekolah yang tidak jauh berbeda. Kemudian, tiap-tiap siswa diberikan tes penggolongan
gaya kognitif, soal tes matematika model PISA, dan wawancara tertulis. Adapunn
analisis data dilakukan dengan metode triangulasi.
 Pembahasan dan Hasil Penelitian
Profil literasi matematis subjek verbalizer dan visualizer adalah sebagai berikut:
(1) Profil literasi matematis subjek verbalizer dalam merumuskan permasalahan pada
soal yaitu dengan menyebutkan dan menuliskan atribut-atribut yang melekat pada
objek sesuai dengan konteks nyata pada soal, dan menyebutkan konsep matematika
yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal. Subjek verbalizer memodelkan
permasalahan matematika dengan mengubahnya menjadi variabel yang sesuai dan
mengalami kesulitan dalam memodelkan permasalahan yang memerlukan gambar.
Dalam menerapkan rancangan model matematika, subjek verbalizer menggunakan
pemodelan yang telah diungkapkan sebelumnya ke dalam langkah-langkah untuk
menyelesaikan soal. Dalam menafsirkan hasil yang didapat, subjek verbalizer hanya
menafsirkan hasil matematis.
(2) Profil literasi matematis subjek visualizer dalam merumuskan permasalahan pada
soal yaitu dengan menggambar objek, menyebutkan dan menuliskan atribut-atribut
yang melekat pada objek sesuai dengan konteks nyata pada soal, menandai atribut-
atribut yang melekat pada objek sesuai dengan konteks soal dan menyebutkan
konsep matematika yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal. Dalam
menerapkan rancangan model matematika untuk menemukan solusi, subjek
visualizer menggunakan pemodelan yang telah diungkapkan sebelumnya ke dalam
langkah-langkah untuk menyelesaikan soal.
4. Judul: The Students Ability in The Mathematical Literacy for Uncertainty Problems on
The PISA Adaptation Test
 Nama Prosiding : AIP Conference Proceedings1868
 Tahun : 2017
 Peneliti : Hongki Julie, Febi Sanjaya, dan Ant. Yudhi Anggoro
 Latar Belakang Masalah
Tes literasi matematis oleh PISA bertujuan untuk mengukur penerapan
pengetahuan matematis berupa penyelesaian seperangkat permasalahan dalam beragam
konteks. PISA mendefinisikan literasi matematis sebagai kemampuan individu untuk
mengidentifikasi dan memahami peran matematika di dunia, membuat asesmen akurat,
menggunakan dan melibatkan matematika dalam beragam cara untuk memenuhi
kebutuhan individu sebagai warga negara yang reflektif, konstruktif, dan filial. Literasi
matematis merupakan salah satu kecakapan abad ke-21.
Hasil studi PISA 2015 menunjukkan Indonesia menduduki peringkat ke-63
untuk matematika dengan skor 386. Hasil ini naik apabila dibandingkan dengan tahun
2012 ketika Indonesia berada di posisi 65 dengan skor 375 (www.oecd.org/pisa). Pada
studi PISA tersebut, tes literasi matematika PISA terbagi ke dalam empat kelompok
terdiri dari (1) quantity, (2) space and shape, (3) change and relationship, dan (4)
uncertainty (Wijaya, 2012).
 Perumusan Masalah
Bagaimana solusi profil siswa SMP dalam mengadaptasi tes PISA masalah
uncertainty?
 Teori Pendukung
PISA merupakan program internasional yang disponsori oleh OECD untuk
menentukan salah satunya kemampuan literasi matematika siswa usia 15 tahun.
Menurut Jan de Lange, literasi matematika adalah kemampuan individu untuk
mengidentifikasi dan memahami peran matematika di dunia, membuat asesmen akurat,
menggunakan dan melibatkan matematika dalam beragam cara untuk memenuhi
kebutuhan individu sebagai warga negara yang reflektif, konstruktif, dan filial (Julie &
Marpaung, 2012). Kemudian, terdapat enam level pada tes literasi matematika PISA
dengan level 1 sebagai level terendah dan level 6 sebagai level tertinggi. Semakin
tinggi level maka semakin sulit tes yang diberikan pada siswa.
 Metode Penelitian
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif pada penelitian ini. Penelitian
dilakukan dengan cara mendeskripsikan fenomena yang terjadi pada situasi alami dan
tidak menarik kuantifikasi pada fenomena tersebut. Situasi alami yang dimaksud adalah
profil siswa dalam menyelesaikan tes adaptasi PISA. Proses penelitian meliputi
adaptasi tes PISA, validasi tes adaptasi PISA, mengetes siswa dengan tes adaptasi PISA
yang telah dibuat, dan mendeskripsikan profil jawaban siswa SMP dalam menjawab tes
adaptasi PISA. Tes adaptasi PISA terdiri dari 15 pertanyaan meliputi dua pertanyaan
quantity, enam pertanyaan space and shape, tiga pertanyaan change and relationship,
dan empat pertanyaan unncertainty. Adapun alokasi waktu pengerjaan tes adalah 90
menit. Subjek penelitian adalah 18 siswa dipilih dari 11 SMP di Yogyakarta, Jawa
Tengah, dan Banten dengan usia 14-15 tahun. Subjek dipilih dengan cara peneliti
memilih sekolah secara acak dan proporsional. Kemudian, dipilih siswa terbaik yang
ada di sekolah yang telah dipilih.
 Pembahasan
Pada pertanyaan pertama, terdapat 12 dari 18 siswa yang mencapai level 3. Pada
pertanyaan kedua, terdapat 8 dari 18 siswa yang mencapai level 4 dan 6 dari 18 siswa
mencapai level 3. Pada pertanyaan ketiga, terdapat 7 dari 18 siswa yang mencapai level
5, dua dari 18 siswa mencapai level 4, dan satu dari 18 siswa mencapai level 3. Pada
pertanyaan keempat bagian a, terdapat 13 dari 18 siswa yang mencapai level 4.
Terakhir, pada pertanyaan keempat bagian b, terdapat 15 dari 18 siswa mencapai level
4.
 Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tes adaptasi PISA masalah uncertainty
diperoleh:
(1) Pada soal pertama, 66,67% siswa mencapai level 3;
(2) Pada soal kedua 44,44% siswa mencapai level 4 dan 33,33 % siswa mencapai level
3;
(3) Pada soal ketiga, 38,89% siswa mencapai level 5, 11,11% siswa mencapai level 4,
dan 5,56% siswa mencapai level 3; dan
(4) Pada soal keempat bagian a, 72,22% siswa mencapai level 4 dan pada bagian b,
83,33% siswa mencapai level 4.
5. Judul: The Analysis of Diagnostic Assessment Result in PISA Mathematical Literacy
Based on Students Self-Efficacy in RME Learning
 Nama Jurnal : Infinity
 Tahun : 2017
 Peneliti : Koerunisak, Kartono, Isti Hidayah, Ahmad Yusril Fahmi
 Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pendidikan memiliki peran penting dalam mengedukasi SDM
agar mampu bersaing secara global pada perkembangan IPTEK. Salah satu survei yang
mengaji tentang pendidikan adalah PISA yang menguji siswa dengan usia sekitar 15
tahun. Berdasarkan studi PISA tahun 2003, 2009, 2012, dan 2015 menunjukkan bahwa
peringkat Indonesia berada di posisi rendah secara internasional. Hal ini
mengindikasikan bahwa literasi matematika siswa SMP/MTs masih rendah.
Menurut Zulfikar, Asikin, dan Hendikawati (2012), banyak siswa masih
menganggap mata pelajaran matematika sulit, menakutkan, dan kurang berguna dalam
kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan observasi yang dilakukan peneliti di
SMPN 2 Wonopringgo yang menunjukkan banyak siswa yang masih belum mencapai
KKM karena kesulitan dalam menjawab soal matematika yang dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari terutama dalam hal pemodelan matematis. Oleh karenanya,
literasi matematika siswa masih terbilang rendah. Salah satu cara untuk menelusuri
penyebab rendahnya literasi matematis siswa adalah dengan asesmen diagnostik.
Menurut Shute, Graf, dan Hansen (2006), asesmen diagnostik meliputi diagnostik
kemampuan alamiah, klasifikasi kognitif, dan identifikasi masalah dan potensi masalah
siswa.
Berdasarkan hasil diagnostik, perlu disusun langkah lanjutan yaitu menentukan
strategi dan metode pembelajaran yang tepat untuk terwujudnya literasi matematika
salah satunya adalah RME. Alasannya, RME merupakan salah satu strategi dan metode
pembelajaran yang menekankan pada konteks. Seperti yang telah dikemukakan, siswa
memiliki literasi matematika rendah karena pemahaman siswa terhadap konteks masih
terbilang rendah. Selain itu, pandangan siswa yang menyatakan matematika merupakan
mata pelajaran yang sulit disebabkan oleh lemahnya sellf efficacy siswa. Semakin tinggi
self efficacy siswa maka semakin tinggi pula semangatnya dalam menghadapi
permasalahan matematika yang sulit.
 Perumusan Masalah
(1) Apakah pembelajaran RME dengan pendekatan saintifik efektif untuk literasi
matematika dan self –efficacy?
(2) Bagaimana hasil asesmen diagnostik literasi matematis siswa pada pembelajaran
RME dengan pendekatan saintifik terhadap siswa dengan self-efficacy tinggi,
sedang, dan rendah?
(3) Bagaimana hasil asesmen diagnostik literasi matematis siswa pada pembelajaran
konvensional dengan pendekatan saintifik terhadap siswa dengan self-efficacy
tinggi, sedang, dan rendah?
(4) Bagaimana kesulitan siswa pada pembelajaran RME dengan pendekatan saintifik
berdasarkan hasil asesmen diagnostik literasi matematis?
 Teori Pendukung
(1) Literasi Matematika PISA
(2) Self-Efficacy
(3) Pembelajaran RME Hans Freudenthal (Gravemeijer dalam Tandililing, 2010)
(4) Asesmen Diagnostik
 Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan mix method cuncurrent embbeded dengan
subyek penelitian siswa kelas VIII. Penelitian diawali dengan penilaian diagnostik
literasi matematika dan inventori self-efficacy selanjutnya dilakukan pembelajaran
RME pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.
Analisis kuantitatif dilakukan untuk menguji keefektifan pembelajaran. dan diperdalam
dengan wawancara sebagai analisis kualitatifnya. Pembelajaran RME dengan
pendekatan saintifik efektif ditandai dengan tercapainya ketuntasan klasikal, proporsi
literasi matematika siswa, self-efficacy siswa dan selisih literasi matematika awal-akhir
pada pembelajaran RME lebih baik daripada pembelajaran konvensional.
 Pembahasan
Pembelajaran RME dengan pendekatan saintifik terbukti efektif untuk literasi
matematika dan self-efficacy. Hasil asesmen diagnostik literasi matematika memenuhi
kriteria sel-efficacy siswa kecuali untuk siswa dengan literasi matematika sedang yang
memiliki self-efficacy tinggi.
Self-efficacy siswa perlu ditanamkan melalui pengondisian lingkungan yang
responsif dan pendekatan personal terhadap siswa. Literasi matematika adalah salah
satu kecakapan yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Literasi
matematika siswa tidak tumbuh dengan baik secara langsung dan dibutuhkan latihan
yang tepat untuk mengembangkan kemampuan ini secara tepat. Salah satu cara dalam
mempraktekkan literasi matematika dan menciptakan lingkungan responsif adalah
memberlakukan pembelajaran RME dengan pendekatan saintifik. Guru perlu
melakukan analisis kesulitan siswa dalam menyelesaikan pertanyaan. Analisis ini
berguna untuk memperbaiki pembelajaran berikutnya. Selain itu, analisis juga berguna
untuk perbaikan instrumen dalam menemukan solusi kesulitan belajar siswa.
 Hasil Penelitian
Hasil penilaian diagnostik literasi matematika siswa sesuai kriteria self-efficacy
siswa kecuali untuk literasi matematika sedang yang memiliki self-efficacy tinggi.
Sedangkan kesulitan siswa dalam pembelajaran RME dengan pendekatan saintifik
berdasarkan hasil penilaian diagnostik literasi matematika, yakni kesulitan kemampuan
bahasa, kemampuan memahami, membuat strategi, dan membuat algoritma.