Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENGENALAN MESIN ATM SHUTTEL

A. MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud
Agar Mahasiswa dapat memahami alur proses atm shuttle
b. Tujuan
 Mahasiswa dapat mengindentifikasi elemen yang ada pada mesin atm
shuttle
 Mahasiswa dapat memahami mekanisme kerja dari ATM Shuttel
 Mahasiswa dapat menggambarkan gearing diagram ATM Shuttel
 Mahasiswa Dapat menghitung kecepatan pada ATM Shuttel

B. TEORI DASAR
Menurut Wikipedia : Alat tenun adalah alat atau mesin untuk menenun
benang menjadi tekstil (kain). Alat tenun terdiri dari alat tenun tradisional,
alat tenun bukan mesin yang dipakai untuk menenun dengan tangan
manusia, serta alat tenun mesin yang dilengkapi motor penggerak.
Menurut ukurannya, alat tenun tradisional dan alat tenun bukan mesin
yang berukuran kecil dipakai untuk menenun sambil duduk, sementara alat
tenun berukuran besar digunakan untuk menenun sambil berdiri. Orang
Mesir kuno dan orang Cina kuno sudah mengenal alat tenun bukan mesin
sejak 4000 SM. Fungsi dasar alat tenun sebagai tempat memasang benang-
benang lungsin agar benang pakan dapat diselipkan di sela-sela benang
lungsin untuk dijadikan kain. Bentuk dan mekanisme alat tenun dapat
berbeda-beda, namun fungsi dasarnya tetap sama.
Alat menenun sendiri dibagi berdasarkan 3 jenis yaitu : atm, atbm, dan alat
tenun gedogan. Pada alat tenun atm sendiri prinsip kerjanya hampir sama
dengan alat tenun bukan mesin hanya saja dibedakan menurut daya
menenun serta alat untuk meletakan gun atau kamranya. Biasanya pada
atbm gun atau Kamran diikat pada sebuah injakan dan rol atau alat lainya
sehingga mulut lusi akan terbentuk ketika injakan tersebut dipinjak. Akan
1
tetapi prinsip kerja tersebut diubah oleh alat tenun atm menggunakan
poros sebagai sumber gerakan utama guna menyonsong 3 gerakan pokok
pertenunan. Alat atm sendiri sekarang telah berkembang dan memilki
beberapa keunggulan dari atm atm sebelumnya. Atm sendiri dibedakan
menjadi 2 berdasarkan lusi dan pakan. Berdasarkan lusi atm yang dapat
dipakai meliputi : cam, jacquard,dobby,crank. Yang semuanya dibedakan
menurut fungsi dan kesukaran anyaman. Sedangkan jika berdasarkan
pakan alat lusi yang membentuk kain dibagi menjadi beberapa yaitu :
shuttle dan shutteles. ATM (Alat Tenun Mesin) adalah alat tenun dalam
prosese pengerjaannya menggunakan motor penggerak listrik. ATM ini
biasanya proses pengerjaanya terbilang sangatlah cepat. ATM bahan
penyusunnya terbuat dari logam sehingga lebih stabil dan tahan
lama.Proses pengerjaan yang cepat dan terbuat dari bahan logam, hal ini
yang mepengaruhi harga dari ATM (Alat Tenun Mesin) sangatlah mahal.
Gerakan pokok pertenunan pada ATM tidak jauh berbeada dengan ATBM,
hanya saja disini terdapat penambahan gerakan yaitu : Gerakan
Otomatisasi antara lain :
 Pergantian teropong (shuttle change)
 Pergantian palet ( cop change)
 Otomatisasi lusi putus
 Otomatisasi pakan putus
 Otomatisasi sisir lepas
 Otomatisasi sisir tetap

C. Alat dan Bahan


a. Alat
Penggaris
Alat tulis
Alat hitung
b. Bahan
-

2
D. Langkah Kerja
1. Memperhatikan penjelasan dosen mengenai ATM dan bagian – bagiannya
secara keseluruhan
2. Mencari fungsi masing – masing bagian ATM

E. Data Percobaan
Percobaan yang dilakukan adalah melakukan pengindentifikasian dari alat
tenun mesin shuttel merk toyoda dan menggambar gearing diagram
a. Indentifikasi alat tenun mesin shuttle toyoda bagian bagianya

Bagian-bagian mesin tenun

1. Rangka mesin
Rangka mesin adalah badan utama yang menyokong bagian-
bagian lainnya atau tempat dipasangnya bagian mesin yang lain. Tiap-
tiap mesin tenun biasanya terdiri dari dua buah rangka samping
(rangka kiri dan rangka kanan) kedua rangka tersebut dihubungkan
dengan rangka penghubung masing-masing ; rangka penghubung
depan bawah, rangka penghubung belakang bawah, rangka
penghubung tengah atas, rangka penghubung depan atas (balok
dada).

2. Poros Utama
Fungsi utama poros engkol atau poros utama adalah untuk
menggerakkan lade mundur maju, dengan kata lain untuk penggerak
proses pengetekan. Disamping itu juga sebagai sumber gerakan dari
gerakan-gerakan keseluruhan mesin tenun. Misalnya gerakkan
pemukulan teropong, gerakan pembukaan mulut lusi, dan lainnya.

3. Poros Pukulan
Fungsi utama poros pukulan adalah untuk memukul teropong
didalam laci sehingga dapat meluncur ke kiri dan ke kanan. Untuk
keperluan ini maka kedua ujung daripada poros harus dilengkapi
dengan serangkaian alat pemukul. Perbandingan putaran antara poros
utama dengan poros pukulan 2 : 1. Hal ini dibuat demikian karena satu
kali putaran poros pemukul terjadi dua pukulan yaitu ke kiri dan ke

3
kanan atau sebaliknya sedangkan satu kali putaran poros utama terjadi
satu kali pengetekan. Maka agar gerakan itu seimbang yaitu satu kali
peluncuran pakan dan satu kali pengetekan dibuat perbandingan
antara poros utama dan poros pemukul sebesar 2 : 1

4. Lade dan bagiannya


Fungsi utama daripada lade adalah sebagai alat untuk tempat
menyimpan dan meluncurkan teropong, pula untuk merapatkan
benang pakan setiap proses pertenunan. Adapun bagian dari lade
adalah :

 Laci
 Jalur tempata peluncuran teropong
 kaki lade
 Sisir tenun
5. Gun dengan bagian pembentuk mulut lusi.
Fungsi gun adalah untuk mengatur benang-benang lusi helai per helai
sesuai dengan jumlah lusi dan rencana tenunnya dan untuk menaik
atau menurunkan benang lusi sesuai dengan rencana tenun.

6. Rol Penggulung lusi dan Pengulung kain


Rol pengulung ini fungsinya untuk mengulung lusi, dibuat dari logam
ataupun kayu. rol pengulung kain fungsinya untuk mengulungkan kain
hasil tenunan

7. Mata Gun
Yaitu bagian dari gun yang biasanya berada ditengahnya, yang
berfungsi untuk menahan benang-benang lusi pada saat
pengangkatan kamran untuk membentuk mulut lusi.

8. Sisir Tenun
Fungsi dari sisir tenun antara lain untuk merapatkan benag pakan yang
telah diluncurkan, mengatur lebar kain dan mengatur tetal lusi. Sisir
tenun ini akan selalu berada pada lade.

9. Boom Lusi untuk menggulung benang-benang lusi.

4
Boom kain untuk menggulung kain yang dihasilkan.

10. Motor
Yaitu bagian utama mesin tenun yang berfungsi sebagai penggerak
dari mesin tenun itu sendiri. Pemindahan gerakannya dengan
menggunakan pully

11. Kopling
Berfungsi untuk mengoperasikan mesin tenun yaitu dengan cara
mendorongnya ke sebelah kiri (mesin jalan).

12. Gandar Belakang


Berfungsi sebagai landasan benang-benang lusi saat proses
penguluran lusi.

13. Balok Dada


Berfungsi sebagai pengantar kain yang dihasilkan yang berada di
bagian depan mesin.

14. Picker dan Batang Pemukul (stick)


Berfungsi untuk memukul teropong yang meluncurkan pakan.

15. Roda Gigi Pick


Berfungsi untuk mengatur tetal pakan yang akan dihasilkan. Diatur
dengan cara memasang atau menggantinya sesuai dengan tetal yang
diinginkan.

b. Gearing Diagram

Poros Pukulan

Poros Engkol

5
F. DISKUSI
Pada Praktikum Pengenalan Alat Tenun Mesin. Praktikan belum
menemukan kesulitan berarti yang mengharuskan praktikan menuis secara
ilmiah dan membuktikan secara sains. Akan tetapi pada praktikum ini
praktikan telah mengindentifikasi alat tenun mesin yang dari segi
visualitas juga berbeda dengan alat tenun bukan mesin. Dan alat tenun
mesin shuttle memiliki kekurangan yaitu mesin berisik dan resiko terkena
peluru loncat juga ada. Namun kelebihanya yaitu kain yang dihasilkan
oleh alat tenun mesin shuttle ini memiliki kerapatan dan kekuatan yang
cukup disbanding shutteless
G. KESIMPULAN
 ATM adalah alat tenun yang penggunaannya menggunkan motor
pengeerak listrik
 ATM merupakan alat tenun yang sangat cepat dalam proses
pertenunan
 Bagian – bagian ATM adalah
1. Rangka mesin
2. Poros Utama
3. Poros Pukulan
4. Lade dan bagiannya
5. Gun dengan bagian pembentuk mulut lusi.
6. Rol Penggulung lusi dan Pengulung kain
7. Mata Gun
8. Sisir Tenun
9. Boom Lusi untuk menggulung benang-benang lusi.
10. Motor
11. Kopling
12. Gandar Belakang
13. Balok Dada
14. Picker dan Batang Pemukul (stick)
15. Roda Gigi Pick
6
BAB II

PENGENALAN ATM SHUTTELESS LOOM

A. MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud
Agar Mahasiswa dapat mengetahui jenis jenis mesin tenun shutteless
loom
b. Tujuan
o Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan mesin mesin tenun yang
ada pada shutteles loom
o Mahasiswa dapat menenun dengan durasi waktu tertentu dan
mendapat efesiensi bahan baku tertentu
B. TEORI DASAR
Teknologi pertenunan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat
seiring perkembangan zaman. Dalam beberapa dekade silam teknologi
pertenunan telah menemui titik kemajuan dalam industry manufaktur.
Kemajuan tentang effesiensi produksi, jenis anyaman yang bisa diproduksi
dalam mesin dan juga system otomatisasi mesin yang semakin hari
semakin maju saja. Shutteles loom ini memungkinkan industry untuk
memproduksi kain dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat. Dalam
pengoprasian mesin ini operator juga dibantu atau dimudahan dengan
perintah yang ada pada kartu tenun. Mesin shuttelles ini merupakan jenis
tenun berdasarkan peluncuran benang pakanya. Peluncuran benang pakan
pada mesin shutteles sendiri tidak menggunakan media teropong sehingga
3 gerakan pokok pertenunan cepat untuk dapat bergerak. Berikut
merupakan beberapa jenis mesin tenun shutteles loom :
A. Water jet dan Air jet Loom
a. Water jet loom
Water jet loom pertama kali dikembangkan pada 1950-an di
Cekoslovakia. Setelah itu, disempurnakan oleh Jepang pada 1960-

7
an. Perlu dicatat di sini bahwa, Water jet tidak digunakan sebagai
alat tenun jet udara di pabrik tenun. Mesin tenun jet udara dan
mesin jet air dapat menenun dengan cepat. Ini juga menyediakan
peletakan warna yang berbeda dalam arah pakan. Ini membantu
menghasilkan kain berkualitas seragam dan lebih tinggi. Water jet
loom sendiri penyisipan benang pakanya melalu suatu media air
yang mengsiklurasikan daya sehingga pakan dapat disisipkan
kedalam benang lusi, namun penggunaan mesin water jet loom ini
membutuhkan alat penggering ( drying mesin ) karena kain yang
dihasilkan dalam kondisi basah. Berikut merupakan keunggulan
mesin tenun water jet :
1. Lebih sedikit menggunakan daya dari mesin lain
2. Cocok untuk produksi kain sintetik
3. Meniptakan lebih sedikit ruang dari pada rapier dan projitlle
4. Untuk penyisipan benang pakanya bisa lebih banyak
disbanding air jet loom normalnya (6000 ppm)

b. Air Jet Loom


Air jet loom adalah salah satu jenis shuttle less loom. Biasanya,
alat tenun jet udara menggunakan jet udara untuk mendorong
benang pengisi melalui gudang penenunan. Ini membutuhkan
benang mengisi seragam. Mereka cocok digunakan dengan benang
8
berbobot sedang maka benang sangat ringan dan sangat berat. Air
jet tenun adalah salah satu dari dua jenis alat tenun jet cairan di
mana yang lain adalah air jet tenun.

Dalam hal alat tenun jet udara, kinerja penyisipan pakan yang lebih
tinggi terjadi.
Konsumsi daya yang lebih sedikit dalam alat tenun jet udara.
Dibutuhkan penyisipan pakan multi-warna hingga delapan.
Air jet tenun memberikan produksi lebih tinggi daripada yang
lain.
Kain ringan dan sedang telah diproduksi di sini. Di sini lebar
kain adalah 190 cm.
Keuntungan dari Air Jet Loom:
 Dalam hal alat tenun jet udara, tingkat kebisingan lebih
rendah dari alat tenun dan rudal Rapier.
 Biasanya, lebar standar alat tenun jet udara adalah 190
cm
 Penampilan penyisipan pakan terlalu banyak di sini
(biasanya 600 pm).
Kekurangan Air Jet Loom:
 Patah pick atau miss pick telah terjadi karena tekanan
udara berlebih dari nosel utama.
 Dalam hal alat tenun jet udara, tumpukan dan gesper
ujung benang yang terbentuk karena hambatan
udara.
 Double pick dapat terjadi di air jet loom.
 Tenunan benang pakan sepanjang arah pakan
dibentuk karena variasi tekanan udara.

9
B. Rapier Loom

Mesin tenun rapier adalah suatu alat tenun dimana peluncuran benang
pakan ke dalam mulut lusi dengan menggunakan suatu bilah tipis yang
di digerakan secara positip dan mempunyai kait atau jepitan pada
ujung bilah tipis benang tersebut.

Menurut Textile Intitutte ; “Rapier loom, in which the means for


carrying the weft thread through the shed is fixed in the end of rigid or
flexible ribbon , this is being positive driven”

Rapier tenun adalah alat tenun tenun yang tidak beraturan di mana
benang pengisi dibawa melalui lenan benang lungsin ke sisi lain dari
alat tenun dengan jari seperti pembawa yang disebut rapier. Seperti
dalam alat tenun proyektil, paket benang stasioner digunakan untuk
memasok benang pakan dalam mesin rapier. Salah satu ujung rapier,
batang atau pita baja, membawa benang pakan. Ujung lain rapier
terhubung ke sistem kontrol. Rapier bergerak melintasi lebar kain,
membawa benang pakan melewati gudang ke sisi yang berlawanan.
Rapier kemudian ditarik kembali, meninggalkan pengisian baru di
tempatnya.

10
C. Projetctille loom
Mesin tenun projectile adalah mesin tenun dengan peluncuran pakan
menggunakan projectile. Projectile berbentuk seperti peluru dan
terbuat dari logam dengan panjang 89 mm. Pada salah satu ujung
projectile terdapat penjepit ( gripper ) yang berfungsi menjepit ujung
benang pakan, sehingga dapat dibawa oleh projectile yang diluncurkan
ke dalam mulut lusi. Dalam prosesnya mesin tenun projectile juga
menggunakan 5 gerakan pokok, sama dengan mesin tenun yang lain.
Adapun gerakannya adalah sebagai berikut :

1. Penguluran benang lusi


Pada mesin Sulzer Ruti , penguluran lusi dikontrol oleh sistem
elektronik yang menggunakan let-off motor. Sistem control
elektroniknya menggunakan sistem MIECO yang dapat disetel
beberapa program yang mengontrol tegangan benang lusi pada back
rest roller. Tegangan back rest roller dimonitor oleh back roller sensor
dan control flag yang terhubung untuk mengendalikan putaran let-off
motor. Kontrol ini berfungsi saat mesin jalan, apabila tegangan lusi
11
terlalu rendah atau terlalu tinggi maka putaran let-off motor akan
menyesuaikan. Sistem ini secara otomatis akan mengendalikan
tegangan lusi tetap sama dari beam penuh sampai beam habis (kosong)
2. Pembukaan mulut lusi
Mesin tenun projectile , dalam menggerakkan naik turun kamran (
heald frame )menggunakan cam ( tappet ), dengan kapasitas
maksimum untuk mesin Sulzer Ruti adalah 10 kamran. Anyaman yang
cocok di mesin ini adalah plat ( polos ) dan twill ( keeper ).
3. Peluncuran pakan
Proses peluncuran pakan dimulai dari reaksi melepas twist yang
diberikan oleh picking cam kepada poros torsi ( torsion rod ). Tenaga
yang ada dari reaksi tersebut kemudian digunakan menggerakkan
picking lever yang terpasang di ujung torsion rod. Pada picking lever
yang telah terpasang picking link sebagai penghubung dan picking
shoe akan mendorong projectile untuk meluncur dengan membawa
benang pakan saat mulut lusi telah terbuka.
4. Pengetekan
Setelah benang pakan diluncurkan oleh projectile ke dalam mulut lusi,
selanjutnya akan dirapatkan ke ujung kain oleh sisir. Gerakan maju
mundur sisir berasal dari poros utama yang ditransmisikan dengan
roda gigi dan cam.
5. Penggulungan kain
Dengan menggunakan roda gigi pada take-up roll dan press roll,
putaran roda gigi disesuaikan dengan tetal pakan yang diinginkan
dengan mengganti 4 buah gigi pengganti.

12
D. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
Hook
Alat Tulis
Stopwatch
b. Bahan
-
E. LANGKAH KERJA
a. Indentifikasi mesin tenun
 Mendengarkan intruksi dosen
 Mencatat dan mengindentifikasi komponen
b. Menenun anyaman kepper selama 30 menit dimesin rapier
 Melihat kartu tenun yang tersedia
 Mencocokan pada layar display
 Melihat data kain yang telah ditenun oleh kelompok
sebelumnya
 Menjalankan mesin dengan menekan tombol push button
berwarna hijau pada sisi kiri mesin atau disamping layar
display
 Menyetel stopwatch selama 30 menit
 Menyambung benang ketika terjadi putus lusi maupun
pakan
 Menekan tombol off apabila selesai menenun selama 30
menit
 Dan catatat hasil produksi lalu membandingkan dengan
litelatur yang ada

F. PERCOBAAN
 Indentifikasi mesin Rapier dan air jet lomm
a. Air Jet loom
Pada dasarnya Mesin tenun Air Jet Loom sama dengan mesin
shuttle, namun pergerakan benang pakan tidak lagi menggunakan
13
teropong yang dipukul kekiri dan kekanan secara terus menerus,
tetapi menggunakan udara bertekanan tinggi sebagai media
pembawa pakan. Udara diatur tekanannya sedemikian rupa melalu
pengatur tekanan udara/angin ( regulator ), kemudian disemprotkan
melalui nozzle bersama benang pakan menyisip ke benang lusi ke
kiri dan kanan sampai pada pinggiran kain, angin yang ada tidak
ditembakkan secara terus menerus , tetapi diatur secara elektronik
valve saat terjadi penyisipan benang pakannya.Besar kecilnya
tekanan angin diatur sesuai ketentuan agar didapat suatu
keseimbangan antara benang pakan sampai ke ujung kain, tetapi
tidak merusak atau memutuskan benang pakan tersebut
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pemrosesan mesin air jet
loom adalah
 Keterangan pada LED
 Putih = elektrik
 Merah = lusi
 Kuning = pakan
 Hijau = Normal
 Dropper
 1 dropper diisi 1 helai benang
 Jika benang lebih tebal maka dropper yang digunakan pun berbeda
dan relnya pun berbeda
 Jika LED merah menyala, maka ada permasalahan pada bagian
benang lusi, umumnya ada benang lusi yang putus. Semua itu
ditandai dengan dropper yang jatuh dan menempel pada rel,
sehingga menyebabkan arus listrik pada rel dan menyebabkan LED
menyala
 Sensor Optik = mendeteksi material
Optik Panjang = mendeteksi limbah
Optik Pendek = sensor normal
 Pada proses Inching berguna untuk pergantian mulut lusi (salah
satunya)
14
 Kompresor
 Motor Utama ( Radiator ) Tabung ( Penampung ) Filter
( Penyaringan ) Pipa untuk disalurkan ke mesin yang keadaan
anginnya bersih Mesin
 Sistem Pneumatic
 Pneu = Angin
 Matic = Otomatis
 Untuk mengatur naiknya gun pada cam, harus diganti semua cam
nya , sedangkan dobby tidak
 RPM = 598 / 600 , bisa sampai 2000
 Tegangan benang lusi = 2,83
Namun pada umumnya adalah 2,5
 Peluncuran Pakan menggunakan angin , nozzle dan subnozzle
Kendala
1. Sering terjadi benang lusi putus, dikarenakan beberapa hal salah
satunya tidak sesuainya urutan benang per helai dengan droppernya
sehingga bergesekan dengan benang lainnya
2. Penyambungan benang harus menggunakan teknik khusus agar
simpul tidak terlalu besar, karena hal itu dapat menyebabkan
benang lusi putus dengan simpulnya tidak lancar masuk terhadap
mata gun
3. Terjadinya putus lusi di leno/beam
4. Putus pada benang pakan
b. Rapier loom
Pada pengindentifikasian komponen mesin rapier loom ini.
Prktikan menemukan system sensor memakai sensor friksi
dimana sensor ini bekerja untuk proses peluncuran benang
pakan untuk menunjukan pakan masih tersedia atau tidak pada
cones. Prinsip kerja dari mesin rapier ini adalah serah terima
benang yang digerakan atau dilangsungkan oleh dua tongkat
yang serah dan tongkat yang terima. Motor yang tersedia pada
mesin rapier ini sangat banyak untuk mengefeesiensikan
15
gerakan namun ada satu motor sebagai pusat gerakan letaknya
sebelah kiri dari mesin motor ini dinamakan SUPER MOTOR
(SUMO). Berikut hal hal yang harus diperhatikan :
Keterangan pada LED
Putih = Elektrik
Merah = lusi
Kuning = pakan
Hijau = normal
Benang leno adalah benang pengikat pinggir kain
Weste adalah alat yang memegang ujung benang
ILC adalah pengaturan gun
Cara memasang benang pakan :
 Masukkan ke LED, prawender dimatikan ketika
memasukkan benang pakan masuk ke wep filter (untuk
mendeteksi benang pakan), saller selector (memberi benang
pakan) dan (untuk mengatur warna benang)
 Color Selector adalah pengaturan warna
 Fix adalah tetal pakan
 Peluncuran pakan menggunakan tongkat rapier
Kendala :
 Benang lusi putus karena tidak sesuai dengan urutan
benang per helai dengan dropper sehingga bergesekan
dengan benang lainnya
 Penyambungan memiliki simpul yang besar sehingga
tidak bisa masuk ke mata gun
 Kecepatan Rpm 250 bisa sampai 700, jika benang
dalam beam tidak banyak menyilang

 Menenun isi anyaman keper dengan waktu 30 menit di mesin


rapier
 Data kelompok sebelumnya : 20 meter
 Litelatur menenun selama 30 menit : 6,5 meter
16
 Kain yang berhasil ditenun selama 30 menit : 3 meter
 Terjadi putus benang : 4 kali
 Durasi rata rata waktu penyambungan : 6 menit
 Effesiensi produksi kain :
𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑖𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎
𝑒𝑓𝑓𝑒𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 = 𝑥 100%
𝑙𝑖𝑡𝑒𝑙𝑎𝑡𝑢𝑟
3
= 𝑥 100% = 46 %
6,5

G. DISKUSI
Dalam Praktikum Pengindentifikasian mesin tenun shutteles loom dan
juga menenun isi anyaman keper selama 30 menit pada mesin rapier
loom, banyak factor yang menyebabkan praktikan kesulitan.
1. Dalam praktikum pengindentifikasian praktikan diminta
memahami fungsi dan mekanisme kerja dari mesin tenun dalam
mesin tenun air jet loom sangat diperhatikan tekanan udara yang
keluar pada noozle karena bilasanya tidak diperhatikan maka
peluncuran benang pakan akan mengalami masalah. Masalahnya
ialah pakan tidak akan sampai ke tepi lebar benang lusi karena
tekanan dan kecepatan tidak terpenuhi. Hubungan tekana dan
kecepatan dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝐹
𝑃= …1
𝐴
𝐹 = 𝑚 𝑥 𝑎…2
𝑣
𝑎 = …3
𝑡
𝑣
𝑚𝑥𝑡
𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑃 = …4
𝐴
𝑘𝑔
𝑝= …5
𝑚𝑥𝑠(𝑘𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎𝑡)
Terbukti dengan rumus diatas bahwa kecepatan berbanding lurus
dengan tekanan namun rumus diatas juga harus memperhatikan
luas permukaan. Semakin kecil luas permukaan fluida dan semakin
cepat kecepatan maka tekanan pun akan semakin besar. Hal ini bisa

17
diapilikasikan tekanan dan kecepatan penyemprotan udara pada
pakan yang akan disisipkan.

2. Pada saat menenun kain dengan anyaman kepper menggunakan


mesin rapier ditemukan banyak kendala yaitu putus benang lusi
yang mengakibatkan waktu penyambungan menjadi lama karena
praktikan belu professional dalam hal penyambungan. Putusnya
benang lusi disebabkan oleh tegangan yang tinggi dan pengikisan
dari diameter benang yang disebabkan oleh akitifitas : naik turuya
lusi, gerakan maju mundur sisir tenun untuk pengetekan dan
gesekan antar teropong dengan benang lusi secara matematis dapat
dirumuskan menjadi :
𝑇2 = 𝑇1 𝜇𝑠 𝑥 𝜀0 𝑥 𝜃
Dimana nilai dari μ = 0< μ > 1 dan nilai permebilitas ruang sebesar
4 π x 10-7
dan rumus ini berlaku untuk menentukan tegangan yang
dibutuhkan pada mesin tenun khususnya pada beam lusi

H. KESIMPULAN
Didapat data praktikum dan parameter pengindentifikasi mesin tenun :
AIR JET LOOM
 Keterangan pada LED
 Putih = elektrik
 Merah = lusi
 Kuning = pakan
 Hijau = Normal
 Dropper
 1 dropper diisi 1 helai benang
 Jika benang lebih tebal maka dropper yang digunakan pun berbeda
dan relnya pun berbeda
 Jika LED merah menyala, maka ada permasalahan pada bagian
benang lusi, umumnya ada benang lusi yang putus. Semua itu
18
ditandai dengan dropper yang jatuh dan menempel pada rel,
sehingga menyebabkan arus listrik pada rel dan menyebabkan LED
menyala
 Sensor Optik = mendeteksi material
Optik Panjang = mendeteksi limbah
Optik Pendek = sensor normal
 Pada proses Inching berguna untuk pergantian mulut lusi (salah
satunya)
 Kompresor
 Motor Utama ( Radiator ) Tabung ( Penampung ) Filter
( Penyaringan ) Pipa untuk disalurkan ke mesin yang keadaan
anginnya bersih Mesin
 Sistem Pneumatic
 Pneu = Angin
 Matic = Otomatis
 Untuk mengatur naiknya gun pada cam, harus diganti semua cam
nya , sedangkan dobby tidak
 RPM = 598 / 600 , bisa sampai 2000
 Tegangan benang lusi = 2,83
Namun pada umumnya adalah 2,5
 Peluncuran Pakan menggunakan angin , nozzle dan subnozzle
RAPIER LOOM
Keterangan pada LED
Putih = Elektrik
Merah = lusi
Kuning = pakan
Hijau = normal
Benang leno adalah benang pengikat pinggir kain
Weste adalah alat yang memegang ujung benang
ILC adalah pengaturan gun
Cara memasang benang pakan :

19
 Masukkan ke LED, prawender dimatikan ketika
memasukkan benang pakan masuk ke wep filter (untuk
mendeteksi benang pakan), saller selector (memberi benang
pakan) dan (untuk mengatur warna benang)
 Color Selector adalah pengaturan warna
 Fix adalah tetal pakan
 Peluncuran pakan menggunakan tongkat rapier
Kendala :
 Benang lusi putus karena tidak sesuai dengan urutan
benang per helai dengan dropper sehingga bergesekan
dengan benang lainnya
 Penyambungan memiliki simpul yang besar sehingga
tidak bisa masuk ke mata gun
 Kecepatan Rpm 250 bisa sampai 700, jika benang
dalam beam tidak banyak menyilang
MENENUN ANYAMAN KEPPER DI RAPIER
 Data kelompok sebelumnya : 20 meter
 Litelatur menenun selama 30 menit : 6,5 meter
 Kain yang berhasil ditenun selama 30 menit : 3 meter
 Terjadi putus benang : 4 kali
 Durasi rata rata waktu penyambungan : 6 menit
 Effesiensi produksi kain : 46 %

20
BAB 3

GERAKAN POKOK PERTENUNAN

A. MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud
Agar Mahasiswa dapat memahami prinsip kerja dari gerakan
pokok pertenunan
b. Tujuan
Mahasiswa dapat menghitung timming diagram masing masing
gerakan pokok pertenuan
Mengindentifikasi elemen yang terkain gerakan pokok pertenunan
B. TEORI DASAR
Gerakan pokok merupakan gerakan yang paling utama pada proses
pertenunan. Gerakan ini adalah gerakan yang paling penting dan paling
menentukan kualitas hasil kain. pada alat tenun mesin shuttle gerakan
ini didasari oleh kecepatan dari poros utama artinya jika poros utama
itu memiliki kecepatan sebesar 1800 rpm maka disitu juga terjadi 1800
shedding motion, 1800 kali picking motion dan 1800 kali beating up.
Namun untuk pembagian gerakan tersebut didasari oleh timming
diagram masing masing gerakan. 3 gerakan pokok pertenunan antara
lain :
a. Sheding motion
Yaitu gerakan pembukaan mulut lusi untuk pembentukan ruang
agar benang pakan dapat disisipkan diantara benang lusi yang naik
dan yang turun
b. Picking Motion
Yaitu gerakan peluncuran benang pakan untuk proses silangan
antara benang lusi dan benang pakan untuk membentuk suatu kain
yang memilki tingkat kerapatan tertentu.

21
c. Beating up
Proses merapatkan silangan ke ujung kain agar silangan tersebut
dapat membentuk suatu anyaman dan dapat menjadi kain yang
kokoh.
Timming diagram adalah diagram gerakan gerakan yang ada pada
proses pertenunan yang didasari oleh gerakan poros utama atau
poros engkol
C. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
Penggaris
Meteran
Catatan
b. Bahan
-
D. LANGKAH KERJA
Mengikuti intruksi yang diberikan dosen
Mencatat timming diagram gerakan pertenunan

E. HASIL PERCOBAAN
A. Shedding Motion
Gerakan membagi benang benang lusi ditarik sebagian keatas dan
sebagian kebawah oleh gerakan kamran naik turun, sehingga
terjadi pembukaan mulut lusi untuk memberi ruang ketika terjadi
peluncuran benang pakan Mulut Lusi : adalah ruangan yang
terbentuk karena adanya benang lusi naik/turun/diam pada
tempatnya terhadap ujung kain.
Jenis Mulut lusi :
a. Mulut lusi naik
b. Mulut Lusi Turun
c. Mulut Lusi naik turun

Alat pembuat Mulut Lusi sistem cam, heald frame naik-turun


berdasarkan bentuk dari cam yang dihungkan dalam setiap heald
22
frame. Bentuk cam dapat mengakibatkan berapa lama heald frame
di posisi atas atau bawah. Sehingga akan dapat mengatur jenis
anyaman yang akan kita buat. Sistem cam terdapat 2 jenis sistem,
yaitu:
a. Positif cam : Heald frame secara langsung bergerak berdasarkan
tekanan dari cam, sistem ini lebih sederhana dalam perawatan,
tetapi sangat berat membebani motor utama. Untuk itu diperlukan
motor utama yang lebih besar daya listriknya agar mampu menaik
turunkan heald frame dengan baik. Gambar sistem positif cam
b. Negatif cam : disini heald frame dibantu oleh per penarik (top
lever spring), sehingga cam tidak terlalu berat bebannya. Motor
hanya bertugas menurunkan heald frame saja sehingga
memerlukan daya listrik lebih kecil. Sistem ini memang lebih rumit
dari positf cam, karena menggunakan wire rope (tali) yang ada
umur pakainya

B. PICKING MOTION
Peluncuran teropong dilakukan dengan pertolongan sebuah picker
yang dibantu oleh katup pengerem didalam kotak teropong,
menjadikan picker berpungsi mendorong teropong agar meluncur
dan menangkap teropong kembali dari sisi lain pada kedudukan
tepat untuk diluncurkan lagi. Dorongan oleh picker ini terjadi
akibat suatu alat yang disebut kayu pemukul. Kayu pemukul ini
ada yang terletak diatas dan berayun secara horizontal dan ada
yang terletak dibawah kotak teropong yang berayun dalam lade.
Sistem peluncuran teropong terjadi atas beberapa macam pukulan
yaitu:
A. Pukulan atas
Sebuah eksentrik pada poros pukulan mempunyai bagian
bentuk hidung berputar dan memukul rol konis pada stang tegak.
Pukulan hidung eksentrik ini menjadikan putaran stang tegak
dengan kecepatan tinggi , sehingga stang tegak yang menumpuk
diatas dudukan dan pada bagian kepala memegang kayu pemukul
23
membawa picker mendorong teropong.Dengan kedudukan
eksentrik pemukul pada sudut 1800 dari eksentik kanan maka
peluncuran teropong bolak balik dapat dijalankan.
Alat peluncuran teropong dengan pukulan atas
dipergunakan pada mesin tenun dengan putaran tinggi pada
pertenunan ringan dan sedang dengan anyaman polos, juga dapat
digunakan pada mesin-mesin tenun dengan pergantian bak
teropong.

Ada 2 kerugian teknis yang terdapat pada sistem ini, yaitu:


 Kecepatan berputar bagian sisi luar dn sisi dalam rol konis
yang menyinggung permukaan eksentrik berbeda-berbeda
sehingga mengakibatkan ada tempat tempat yang terjadi
gesekan.
 Cara mengatasinya yaitu dengan mengkontruksi rol konis dari
beberapa cincin dan membuatnya dalam bentuk silinder
 Pada kedudukan stang tegak terdapat lubang alur yang vertikal
guna penyetelan letak konis untuk mengatur kekuatan
pukulan,pada waktu penyetelan turun atau naik stang tegak
akan berputar dan lepas sehingga terjadi perubahan kedudukan
kayu pemukul
 cara mengatasinya yaitu dengan membuat lubang alur yang
memusat dengan keliling eksentrik.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kekerasan/


kecepatan jalannya teropong diantaranya yaitu jenis
bahan,kehalusan benang, berat teropong, lebarnya mesin tenun
pemebentukan mulut lusi dan sebagainya. Kekerasan pukulan ini
harus diatur dengan baik, karena apabila pukulan terlalu keras akan
mengakibatkan peralatan tenun bergetar terlalu hebat dan hampir
semua mekanisme mesin akan lebih menderita sehingga anggaran
perusahaan bertambah tiap tahunnya untuk perbaikan mesin.

24
Cara untuk dapat mengatur kekerasan pukulan diantaranya:
a. memperpendek sabuk pemukul
b. Menempatkan hidung pemukul yang lebih tinggi
c. Penyetelan lebih dekat dengan stang tegak.
d. Menyetel kayu pemukul kearah dalam mesin
e. Penggunaan kayu pemukul yang lebih panjang.
 Mempercepat gerakan picker
Untuk mempercepat gerakan picker dapat diperoleh dengan:
 Melekukan hidung pemukul
 Mempertinggi jumlah putaran mesin tenun
 Mengurangi pengereman teropong
 Membuat agar terjadinya pukulan lebih lambat
 Menyetel rol konis lebih rendah

B. Pukulan Bagian Bawah


Keuntungan daripada system pukulan bawah adalah semua
peralatan ada diluar rangka mesin, yang oleh karenanya bahaya
cecer minyak (oli) diatas atau dibawah benang lusi menjadi
banyak berkurang, lagi pula tidak memakai tali pemukul.
Sedangkan kerugiannya adalah picker berada bebas diatas
puncak kayu pemukul, sehingga pengantaran teropong tidak
merupakan garis lurus.
25
Sedangkan cara kerja mekanisme pukulan bawah ini, ialah dari
piring pukulan (a) yang terpasang pada poros pukulan (b), ini
berputar dengan putaran yang tetap. Pada piring pukulan ini
terdapat rol pemukul (c) yang dapat berputar bebas pada
porosnya sendiri, dengan demikian rol pemukul selain berputar
pada porosnya, juga terbawa berputar bersama piring pemukul.
Sejajar dengan rangka sisi mesin sebelah luar terdapat balok
pemukul (d), dimana kira-kira bagian tengahnya terdapat
hidung pemukul (e).
Balok pemukul ini dapat berayun terhadap poros (f) dan dijaga
kedudukannya oleh pegas (g), balok pemukul ini mendapat
gerakan atau sentakan kebawah oleh pukulan dari rol pemukul
pada ujung hidung, maka balok meneruskan gerakan pada
sepatu (h)
Yang padanya disekrupkan kayu pemukul (i) sehingga kayu
pemukul berayun dengan tiba-tiba dan mendorong picker (j)
sehingga teropong meluncur.
Kayu pemukul yang terpasang pada sepatu ini berayun pada
porosnya sendiri yang ditunjang oleh dudukan silang (k) yang
terpasang pada poros lade (l) yang dengan sendirinya terbawa
berputar sesuai dengan gerakan lade.
Kekuatan pukulan pada pukulan bawah ini ialah jarak langkah
kayu pemukul antara saat mulai dan berakhirnya gerakan,pada
gambar ialah langkah ( p ).
Kekuatan pukulan pada pukulan bawah ini adalah jarak
langkah kayu pemukul antara saat mulai dan berakhirnya
gerakan .Kekuatan pukulan pada pukulan bawah harus
menuruti aturan aturan umum tentang pengaturan seperti pada
pukulan atas,yaitu kekerasan pukulan harus lemah dan
sederhana mungkin.

26
Langkah-langkah dalam praktikum penyetelan pukulan ini
adalah antara lain:
Penyetelan picking time :
 Menempatkan Poros Utama pada kedudukan 5-10 derajat
sebelum Titik Mati Bawah.
 Mengukur jarak sisir tenun ke ujung balok dada 23, – 23,5 cm
 Menempatkan rol pemukul atau picking roll dalam keadaan
menyentuh picking nose bagian belakang.
Penyetelan picking stroke :
 Pada kondisi 2c putar poros utama sampai rol pemukul berada
di puncak hidung pemukul.
 Tentukan langkah picker sesuai dengan tabel.
Lakukan penyetelan Picking Time dan Picking Stroke untuk
sisi yang lainya.
Periksa kembali PT dan PS.
Jalankan Mesin

Picking Stroke
Picking stroke

27
Picking Stroke merupakan penyetelan jarak yang ditempuh saat
picking stick dipukul yang akan menentukan jarak antara ujung
kain dengan sisir tenun saat shuttle didorongkan untuk melewati
mulut lusi. Picking stroke juga mempunyai diagram table untuk
menentukan jarak antara sisir tenun dengan ujung kain
Read 46” 52” 56” 60” 65” 70”
Space
Handle 254 267 273 267 273 279
Side mm mm mm mm mm mm
Change 241 254 260 254 260 267
Side mm mm mm mm mm mm

Semakin jauh jarak penyetelan dari picking Stroke maka sisir tenun
akan semakin jauh pula jaraknya begitu sebaliknya. Dan ini akan
berakibat cacat pada kain karna nantinya berkaitan dengan proses
pengetakan yang kurang maksimal
Mekanisme Picking Motion Lebih Lanjut
a
c b

Pada saat picking roll menyentuh picking nose maka akan terjadi
picker memukul teropong yang terhubung pada bagian atas mesin
shuttle tersebut. Namun gerakan picking motion juga harus
memperhatikan timming diagramnya berikut timming diagram
picking motion.

28
0
TMD = 00
Peluncuran pakan = 80- 1100
Teropong Melewati Mulut Lussi = 2300
Shuttel sampai laci sebelah = 2700
C. Beating UP

Proses perapatan benang pakan kearah ujung kain. proses ini


bersinambungan dengan gerakan peluncuran benang pakan.
Prinsip dasar dari gerakan ini adalah engkol pada poros utama
ini mengubah kecepatan putar menjadi kecepatan ayun yang
nantinya menggerakan sley dan juga sisir tenun Sekarang
engkol memberikan gerakan ayun ke sley dengan lengan
engkol. Ketika sley bergerak menuju healdshaft pada posisi
tertentu, teropong melewati mulut lusi. Sekali lagi ketika sley
datang ke arah front rest pada posisi terakhir, sisir tenun
mendorong pakan terakhir k ujung kain . Ini adalah gerakan
memukul dan kainnya memanjang dengan cara ini
Gerakan Sisir tenun juga dapat diatur jaraknya dengan picking
stroke yang dibahas pada bagian picking motion sementara
kecepatan beating tergangtung kecepatan dari poros utamanya.
Gerakan beating ini juga harus memperhatikan timming
diagram

29
Timming diagram shedding motion dan beating up

TMD/ 00

240-270 = Beating Up
5-10 sesduah TMA = Shedding Motion

30
F. DISKUSI
Pada praktikum indentifikasi tiga gerakan pokok pertenunan ini telah
dipelajari mengenai prinsip dasar geraka gerakan pokok pertenunan
diantaranya shedding motion,picking motion dan juga beating up.
Dalam praktikum hal yang paling sulit adalah pada saat proses
menyetel picking stroke karena jarak yang dikira pas antara sisir tenun
dan ujung kain sering kai dirasa terlalu jauh dan terlalu dekat hal ini
disebabkan oleh gerakan dari picking roll dan juga sentuhan picking
nose kurang pas. Selanjutnya hal yang suit lainya adalah saat
penginndetifikasian titik mati yang menunjukan gerakan itu masing
masig beropasi hal ini ditenggarai terlalu banyak para praktikan yang
lalu lalang disekitar mesin dan menyebabkan proses pengindetifikasian
belum berjalan lancer. Gerakan pokok pertenunan dipengaruhi
langsung oleh kecepatan dan gerakan poros utama atu engkol sehingga
apabila terjadi kecepatan menngkat maka intesitas dari gerakan ini juga
akan meninggakat
G. KESIMPULAN
Didapat data dari praktikum diatas yaitu :
Timming diagram shedding motion = 5 – 10 Sesudah titik mati atas
Picking motion = 90-110
Beating Up = 240-270
Semuanya dalam satuan derajat
Selanjutnya dalam picking motion juga harus diatur mengenai picking
strokenya karena jarak antara sisir tenun dan juga ujung kain serta
kecepatan teropong itu melucur akan sangat menentukan berapa tetal
pakan yang akan diperoleh suatu kain yang diproduksi. Lebih lanjt hal
ini akan berdampak pada kualitas kain yang diproduksi bila mana
gerakan gerakanini mengalami gangguan .

31
BAB 4

GERAKAN SEKUNDER

A. MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud
Agar mahasiswa dapat mengetahui gerakan gerakan sekunder
pertenuanan
b. Tujuan
Agar Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme dari gerakan gerakan
sekunder

B. TEORI DASAR
Gerakan sekunder merupakan gerakan tambahan yang juga penying
pada saat proses pertenunan berlangsung. Gerakan ini ditransmisikan
bukan langsung dari poros utama namun melalui media penyalur
lainya. Dalam pertenunan ada 2 gerakan sekunder diantaranya :
a. Penguluran lusi
adalah untuk mengulurkan benang lusi di pertenunan pada tingkat
yang telah ditentukan. Negatif let-off adalah mekanisme untuk
mengendalikan rotasi pada beam lusi untuk proses merajut atau
mesin pembentuk kain lainnya di mana beam ditarik oleh lusi
terhadap gaya reggang yang diterapkan pada beam lusi.
Beam lusi diikat oleh rantai. Satu ujung rantai tetap pada frame m / c
sedangkan ujung yang lain terhubung ke tuas berat, yang diputar dan
titik tumpu beban dapat dipindahkan di sepanjang panjang tuas berat.
mengulur benang lusi sesuai yang diperlukan, sehingga didapatkan
tegangan lusi yang konstan, baik pada saat mulut lusi sedang terbuka
maupun pada saat mulut lusi sedang tertutup.Tegangan lusi yang
konstan dimulai sejak benang lusi dalam alat tenun sampai dengan
benang lusi dalam alat itu habis dengan tidak melakukan perubahan-
perubahan peralatan secara manual, tetapi dengan bekerja secara
otomatis.
32
Tegangan yang ada pada benang lusi tersebut atau pada saat proses
pertenunan berlangsung, pada dasarnya adalah tergantung dari jenis
bahan ,jenis anyaman, nomor benang, tetal lusi dan tetal pakan yang
semuanya itu akan berpengaruh terhadap sistem penguluran lusi.
Jenis jeniss pengguluran lusi dibagi menjadi dua :
1. Positif ( shutteless)
2. Negatif ( shuttle)
Pada penguluran negative ini banyak sisitem penguluran berdasarkan
pengereman. Namu yang kita pelajari adalah jenis penguluran
dengan pengereman rantai :
Pengereman dengan rantai banyak dipergunakan untuk kain berat
semacam kain linen dan jute. Biasanya rantai dibelit 1,5 diatas
cakram rem dan ditempatkan diatas mesin tenun seperti halnya
dengan pengerem dengan tali biasanya dari besi dan ditempatkan
dalam bantalan yang lebar. Dengan alat pengerem dengan rantai ,
tegangan lusi dapat diambil besar.

Penguluran positif
Penguluraan positif ini sumber gerakanya berasal dari motor yang
berada pada sebelah kanan beam lusi yang khusus menggerakan
beam lusi untuk keperluan penguluran benang lusi, system
penguluran ini bekerja pada saat setiap peluncuran benang pakan
terjadi tidak memperdulikan penyisipan benang pakannya berhasil
atau tidak dan system pengeremanya telah dilakukan secara
otomatis artinya setiap kali tegangan pada proses pertenun berubah
33
maka penguluran benang lusi terjadi untuk menormalkan tegangan
yang ada. Selain itu poros utama yang terhubung dengan super
motor atau sumo juga terhubung dengan gerakan penguluran
benang lusi pada beam agar gerakan sinkron sewaktu sheding
motion dan penguluran benang lusi terjadi.
b. Penggulungan kain
Kain yang telah ditenun perlu digulung diatas mesin tenun
tersebut. Alat penggulungan kain dapat dibedakan sebagai berikut
:
1. Regulator Penggulungan Kain Positif
Alat ini adalah yang bekerja terus menggulung kain sekalipun
tidak ada pakan yang diluncurkan.
2. Regulator Penggulungan Kain Negatif
Alat ini hanya bekerja kalau ada pakan yang diluncurkan.
3. Regulator Kompensasi
Regulator ini baru bekerja bilamana panjang kain tertentu telah
ditenun. Susunan pakan dalam hal ini juga akan menjadi rapat
dan regulator ini dipakai dalam pertenunan sutera.

Gambar A Gambar B
Gambar diatas adalah penampang pakan pada kain yang merapat
dan tidak merapat.Gambar A memperlihatkan hasil penggulungan
regulator positif dengan susunan benang pakan tidak rata.Ada
yang besar ada yang kecil, sehingga kainnya ada yang rapat dan
ada yang jarang. Jarak antara titik tengah masing-masing pakan
sama, maka apabila ada pakan yang terlewat (tidak diluncurkan)
akan menyebabkan jalur pada kain. Jadi pengatur positif ini
dipakai pada kain dengan pakan yang rata seperti katun, rayon,
combed yarn dan kain-kain yang agak kurang tetalnya.

34
Susunan pakan pada kain hasil regulator negatif, gambar B, tiap
pakan mengambil tempat masing-masing sebagaimana besarnya
diameter. Bilamana ada pakan terlewat, regulator ini tidak bekerja.
Jadi jarak antara pakan itu adalah sama dan pada kain yang
keras/tetap yang satu mengisi lainnya. Inilah pengaturan yang
baik pada pakan yang tidak rata. Mungkin jumlah oakan tiap
satuan panjang tidak sama. Hal ini tentu saja tidak menjadi soal
untuk kain yang rata. Garis-garis keper tidak merupakan garis
lurus pada anyaman itu.

Banyaknya kain yang digulung tergantung pada tebalnya pakan


yang dipakai.Pengaturan negatif ini jadinya dipakai pada kain
yang kekar dengan pakan yang tidak rata. Regulator ini dapat
ditempatkan langsung pad boom kain atau pada boom perantara
yang khusus. Dalam hal yang pertama kain langsung digulung
pada boom kain. Karena diameternya makin lama makin besar
dengan makin banyaknya kain yang digulung, maka cara ini
kurang baik untuk regulator positif, karena akan menghasilkan
tetal pakan yang semakin berkurang. Dalam hal yang kedua kain
digulung tidak langsung, melalui boom perantara dulu kemudian
digulung pada boom kain. Karena diameter boom perantara yang
aktif tetap maka cara ini lebih baik untuk pengaturan
penggulungan kain yang positif. Pada penggulungan positif jumlah
pakan tiap satuan panjang sama, dan ini memudahkan untuk
mengadakan kalkulasi pendahuluan. Pada regulator penggulung
kain negatif jumlah pakan persatuan panjang tidak sama,
sehingga susah untuk mengadakan kalkulasi pendahuluan.

Pada zaman sekarang ini, semua mesin tenun modern


menggunakan rangkaian elektronik terpadu (integrated electronic
system) yang dioperasikan oleh pengarah dan unit pengendali
(control unit). Boom lusi dan penggulungan kain dijalankan oleh
motor yang berpresisi tinggi yang dilengkapi dengan pelambat
kecepatan, terhubung dengan PLC mesin yang melewati sebuah
encoder (sejenis alat ukur elektronik untuk mengukur sudut/

35
electronic goniometer) dan dikendalikan melewati ring penyetel
yang tertutup. Ini menjamin sinkronisasi dari mesin tenun dengan
penguluran lusi dan penggulungan kain (berjalan dalam seri – seri/
rangkaian atau rentetan): Praktisnya pengendali (controller) dapat
mengetahui pada saat apapun posisi yang pasti dari alat – alat
yang bermacam – macam.
Sensor posisi atau elemen beban (load cell) mengsinyalir tension
pada roller yang terpasang pada gandar dada dan mengijinkan
untuk mengatur kecepatan penguluran sehingga tegangan
menjadi benar – benar konstan dari awal sampai akhir proses
pertenunan. Selanjutnya posisi penguluran lusi dan penggulungan
kain selama tahap awal yang krisis dapat diatur jalannya sesuai
material yang sedang diproses, untuk menanggulangi garis – garis
pada kain.Juga kerataan pakan dapat bervaiasi tanpa adanya
batasan dan ada juda kemungkinan untuk memodifikasi tegangan
lusi karena adanya penyetelan yang sederhana.

C. ALAT DAN BAHAN


a. Alat
Meteran
Penggaris
Catatan
b. Bahan
-
D. LANGKAH KERJA
 Mendengarkan dan melakukan sesuai intruksi dosen
 Mengindentifikasi fungsi dan mekanisme penguluran serta
penggulungan kain

E. DATA PERCOBAAN
a. Penguluran Lusi
a. System negative
Cara kerja system negative sumber gerakanya dari motor
ditransmisikan ke poros utama selanjutnya poros utama yang
terhubung dengan lade akan mentransmisikan ketika

36
penguluran dilakukan ke rachet akan bergerak memutarkan roda
gigi payung 1 lalu menghubungkan roda gigi payung 2 dan ke
roda gigi cacing dan memutarkan roda gigi tambahan sehingga
beam dapat diputar.
b. System positif
Penguluraan positif ini sumber gerakanya berasal dari motor
yang berada pada sebelah kanan beam lusi yang khusus
menggerakan beam lusi untuk keperluan penguluran benang
lusi, system penguluran ini bekerja pada saat setiap peluncuran
benang pakan terjadi tidak memperdulikan penyisipan benang
pakannya berhasil atau tidak dan system pengeremanya telah
dilakukan secara otomatis artinya setiap kali tegangan pada
proses pertenun berubah maka penguluran benang lusi terjadi
untuk menormalkan tegangan yang ada. Selain itu poros utama
yang terhubung dengan super motor atau sumo juga terhubung
dengan gerakan penguluran benang lusi pada beam agar
gerakan sinkron sewaktu sheding motion dan penguluran
benang lusi terjadi.
- Gearing diagram penguluran negative

- Gearing diagram penguluran positif

Beam Lusi

motor

37
b. Penggulungan kain
- Gearing diagram

a. Rachet
b. Rachet
Pinion

d. change
c. change
pinion
well

f. coumpound
pinion
e. Coumpound
wheel
Taking-off Roll

g. Taking
wheel

Roll

a = 24T
b = 32 T
c = 54 T
d = 25 T
e = 89 T
f = 15 T
g = 96 T
Keliling Parut = 17,72 inchi

38
- PICK-SPACING
𝟏 𝟑𝟕 𝟐𝟓 𝟏𝟓
𝑷−𝒔= 𝒙 𝒙 𝒙 𝒙 𝟏𝟕, 𝟕𝟐" = 𝟏, 𝟏𝟖𝟖/𝒄𝒘
𝟐𝟒 𝑪 𝟖𝟗 𝟗𝟔
- Pick/inchi
𝑐𝑤 54
𝑝. 𝑝. 𝑖 = 1,188 = 1,188 = 45,45 ℎ𝑙/′’

F. DISKUSI
Telah dilaksanakan praktikum penguluran benang lusi dan
penggulungan kain. dimana dalam praktikum ini praktikan
menemukan beberapa factor yang harus diperhatikan :
1. Dalam penguluran benang lusi negative pada mesin shuttle
ditemukan bahwasanya system pengereman memakai rantai ini
didasari oleh tegangan yang dibutuhkan oleh benang lusi pada
saat proses pertenunan. Lebih kanjut roda gigi rachet juga
sangat berperan penting pada gerakan ini fatal akibatnya
apabila roda gigi rachet mengalami kerusakan yang nantinya
akan mengakibatkan tegangan berubah ubah dan system
pengereman tidak maksimal lagi
2. Dalam penggulungan kain harus diperhatikan keberadaan gigi
pada roda gigi rachet karna satu putaran roda gigi rachet sangat
berkaitan erat dengan pergerakan beam kain. apabila modul gigi
tertutupi kotoran maka akibatnya roda gigi tidak bisa berputar
dan benangakan menumouk tetal pakan akan naik. Dan apabila
modul gigi ompong maka kain akan mengalami cacat.

39
G. KESIMPULAN
Telah didapat data dari praktikum diatas
Penguluran benang lusi dibedakan menjadi dua :
Penguluran positif
Pengluruan negative
Yang dibedakan lagi berdasarkan system pengeremannya
Penggulungan kain
Pick spacing = 1,880/cw
p.p.i = 45,45 hl/’’
penggulungan kain harus benar benar memperhatikan keadaan
modul gigi apabila gigi tertutupi oleh debu maka tetal pakan akan
mnumpuk dan apabila modul gigi ompong maka kain akan cacat

40
BAB 5

DAFTAR PUSTAKA
1. Talinov zebua kevin. 2016.’’laporan penggulungan kain dan
pengguluran lusi’’. Dikutip pada 1-12-2018
2. Talinov zebua kevin. 2016.’’Picking and beating’’. Dikutip pada 1-12-
2018
3. Kiron islam mizrul. 2012. Left off mechanism.
http://textilelearner.blogspot.com/2012/02/negative-let-off-
mechanism.html. Diakses pada 1-12-2018.
4. Kiron islam mizrul. 2012. Beating up.
http://textilelearner.blogspot.com/2012/02/beat-up-mechanism-study-
on-beating-up.html. Diakses pada 1 -12-3018
5. Kiron islam mizrul.2012.
http://textilelearner.blogspot.com/2011/06/take-up-motion-let-off-
motion-secondary_5888.html. Diakses pada 1-12-2018
6. Pram teddy. 2012. Praktek teknologi tenun modern.
http://teddypram.blogspot.com/2011/02/praktek-teknologi-pertenunan-
modern.html. Diakses pada 1-12-2018
7. ________.2016.tekstil capter water jet loom.
https://textilechapter.blogspot.com/2016/11/water-jet-loom-definition-
features-advantage-disadvantages.html. Diakses pada 1-12-2018

41