Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI

SEMESTER GANJIL 2018 - 2019


PEMBUATAN LARUTAN BAKU PRIMER DAN SEKUNDER, INDIKATOR,
SERTA PENGENCERAN LARUTAN

Hari / Jam Praktikum : Selasa / 13.00-16.00 WIB

Tanggal Praktikum : Selasa, 25 September 2018

Kelompok :2

Asisten : 1. Diane Fauzi

2. Nita Rahmasari

KEVIN REINARD LIE


260110180089

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2018
PEMBUATAN LARUTAN BAKU PRIMER DAN SEKUNDER, INDIKATOR,
SERTA PENGENCERAN LARUTAN

I. Tujuan
Mengetahui cara pembuatan larutan baku primer, sekunder, serta
pembuatan indicator dan pengenceran larutan.

II. Prinsip
2.1 Kelarutan

Komposisi analitik dari larutan jenuh, dinyatakan dalam


proporsi zat terlarut yng ditentukan dalam pelarut. Kelarutan itu dapat
dinyatakan sebagai konsentrasi, molalitas, dan lain - lain (IUPAC,
2014).

2.2 Pengenceran
Pencampuran pada fasa cair, dimana larutan akan bersifat
homogen antara zat terlarut dan pelarut dalam larutan (Gunawan, 2004).
2.3 Larutan Baku Primer
Larutan baku primer merupakan larutan yang mengandung zat
padat murni yang konsentrasi larutannya diketahui secara tepat melalui
metode gravimetri (perhitungan massa), dapat digunakan untuk
menetapkan konsentrasi larutan lain yang belum diketahui (Svehla,
1985).
2.4 Larutan Baku Sekunder
Larutan baku sekunder merupakan larutan yang mengandung
suatu zat yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat karena
berasal dari zat yang tidak pernah murni. Konsentrasi larutan ini
ditentukan dengan pembakuan menggunakan larutan baku primer,
biasanya melalui metode titrimetric (Svehla, 1985).
2.5 Indikator
Suatu zat dimana zat tersebut memiliki sifat, yaitu perbedaan
warna yang mencolok pada saat diletakkan pada medium asam ataupun
basa (Chang, 2005).

III. Reaksi
-

IV. Teori Dasar


Pada praktikum ini akan dipelajari cara – cara tentang pembuatan
larutan baku primer, sekunder, serta indicator dan pengenceran larutan.
Larutan sendiri berarti campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih
zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut
atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain
dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut
dalam larutan dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses
pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan
atau solvasi (Oxtoby, et.al., 2001).
Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan
dalam cairan, seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat
pula dilarutkan dalam cairan, misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam
air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam cairan lain, sementara gas larut
dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat, misalnya aloi (campuran
logam) dan mineral tertentu (Oxtoby, et.al., 2001).
Pada praktikum ini akan dibuat larutan baku primer dan sekunder.
Larutan baku sendiri adalah suatu larutan yang mengandung konsentrasi
yang diketahui secara tepat dari unsur atau zat. Larutan standar biasanya
berfungsi sebagai titran sehingga ditempatkan buret, yang sekaligus
berfungsi sebagai alat ukur volume larutan baku. Larutan yang akan
ditentukan konsentrasinya atau kadarnya, diukur volumenya dengan
menggunakan pipet volumetri dan ditempatkan di erlenmeyer larutan
standar yang digunakan untuk menentukan konsentrasi zat lain, seperti
larutan dalam titrasi (Freiser, et.al., 1987).
Larutan baku primer sendiri yaitu larutan yang mengandung zat padat
murni yang konsentrasi larutannya diketahui secara tepat melalui metode
gravimetri (perhitungan massa), dapat digunakan untuk menetapkan
konsentrasi larutan lain yang belum diketahui. Nilai konsentrasi dihitung
melalui perumusan sederhana, setelah dilakukan penimbangan teliti dari zat
pereaksi tersebut dan dilarutkan dalam volume tertentu.Contoh larutan baku
primer diantaranya larutan kalium dikromat (K2Cr2O7), natrium klorida
(NaCl), asam oksalat, dan asam benzoat. (Svehla, 1985).
Syarat-syarat larutan baku primer :
1. Zat harus mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin
pada suhu 110-120 °C) dan disimpan dalam keadaan murni. (Syarat
ini biasanya tak dapat dipenuhi oleh zat- zat terhidrasi karena sukar
untuk menghilangkan air-permukaan dengan lengkap tanpa
menimbulkan pernguraian parsial.)
2. Zat harus tidak berubah berat dalam penimbangan di udara; kondisi
ini menunjukkan bahwa zat tak boleh higroskopis, tak pula
dioksidasi oleh udara atau dipengaruhi karbon dioksida.
3. Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji- uji kualitatif
dan kepekaan tertentu.
4. Zat tersebut sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa
ekuivalen yang besar.
5. Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih.
6. Reaksi yang berlangsung dengan pereaksi harus bersifat
stoikiometrik dan langsung.

(Svehla, 1985).

Larutan baku sekunder merupakan larutan yang mengandung suatu zat


yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan tepat karena berasal dari
zat yang tidak pernah murni. Konsentrasi larutan ini ditentukan dengan
pembakuan menggunakan larutan baku primer, biasanya melalui metode
titrimetri. Contoh larutan baku sekunder diantaranya larutan perak nitrat
(AgNO3), kalium permanganat (KMnO4), besi(II) sulfat (FeSO4) dan
natrium hidroksida (Svehla, 1985).
Syarat-syarat larutan baku sekunder :
1. Derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer.
2. Mempunyai berat ekivalen yang tinggi untuk memperkecil
kesalahan penimbangan.
3. Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan.
(Svehla, 1985).
Indikator sendiri adalah suatu zat dimana zat tersebut memiliki sifat,
yaitu perbedaan warna yang mencolok pada saat diletakkan pada medium
asam ataupun basa. Contoh dari indicator yang dapat digunakan pada proses
titrasi adalah fenolftalein, selain itu indicator yang paling lama digunakan
juga adalah kertas lakmus (Chang, 2005).
Prinsip yang digunakan dalam praktikum ini adalah kelarutan, yaitu
komposisi analitik dari larutan jenuh, dinyatakan dalam proporsi zat terlarut
yng ditentukan dalam pelarut. Kelarutan itu dapat dinyatakan sebagai
konsentrasi, molalitas, dan lain - lain (IUPAC, 2014).
Lalu prinsip yang kedua adalah pengenceran, dimana pengenceran
berarti pencampuran pada fasa cair, dimana larutan akan bersifat homogen
antara zat terlarut dan pelarut dalam larutan (Gunawan, 2004).
Proses pembuatan larutan baku ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan
terutama untuk penntuan kadar. Contohnya dalam industry makanan dan
minuman. Seringkali dibutuhkan untuk menentukan kadar suatu makan
atau minuman seperti untuk menentukan kadar kafein. Biasanya akan
dibuat lartutan baku dengan cara ditimbang sebanyak 250 mg kafein,
dimasukkan ke dalam gelas piala, dilarutkan dengan akuades panas
secukupnya, dimasukkan ke dalam labu takar 250 mL. Kemudian
diencerkan dengan akuades hingga garis tanda dan dihomogenkan. Dipipet
larutan standar kafein tadi sebanyak 2,5 mL, dimasukkan ke dalam labu
takar 25 mL mL kemudian diencerkan dengan akuades hingga garis tanda
dan dihomogenkan (Maramis, et.al., 2013).
Selain itu pada penentuan kadar senyawa fenolat total digunakan asam
galat sebagai larutan standar. Sebelum dilakukan pemeriksaan kadar fenolat
total, terlebih dahulu dibuat kurva kalibrasi larutan standar asam galat
dengan konsentrasi 300; 400; 500; 600; 700 mg/L. Pembuatan kurva
kalibrasi ini berguna untuk membantu menentukan kadar fenol dalam
sampel melalui persamaan regresi dari kurva kalibrasi (Andayani, et.al.,
2008).
Lalu pembuatan larutan standar juga dapat digunakan untuk mengukur
aktivitas radikal bebas dengan cara, sejumlah 1 mL larutan standar 100 ppm
dimasukkan kedalam kuvet lalu ditambahkan ke dalamnya 2 mL larutan
DPPH 0,004%. Campuran tersebut kemudian diaduk rata dengan
menggunakan pipet. Pada menit ke-5 dan ke-60 setelah reaksi berlangsung,
dilakukan pencatatan absorbansi pada panjang gelombang 497 nm, 517 nm,
dan 537 nm (Parwata, et.al., 2010).
V. Alat dan Bahan
5.1 Alat
a. Batang Pengaduk
b. Beaker Glass
c. Bulb Pipet
d. Buret
e. Kaca Arloji
f. Labu Ukur
g. Penangas Air
h. Statif
i. Timbangan Analitik
5.2 Bahan
a. Alkohol 70%
b. Asam Oksalat
c. Aquadest
d. Fenolftalein
e. NaOH

5.3 Gambar Alat

a. b. c.
d. e. f.

h. i. j.

VI. Prosedur
6.1 Membuat NaOH
Pertama – tama NaOH ditimbang menggunakan timbangan
analitik. Setelah itu panaskan air dalam penangas air, lalu larutkan
NaOH yang telah ditimbang ke dalam air yang baru saja dipanaskan.
Setelah itu diamkan larutan sampai dingin. Terakhir tutup wadah larutan
NaOH dengan plastic wrap.
6.2 Membuat NaCl
Pertama – tama, timbang NaCl dengan menggunakan timbangan
analitik, lalu segera siapkan aquades. Larutkan NaCl yang telah
ditimbang dalam aquades dengan batang pengaduk. Setelah NaCl larut
sepenuhnya, larutan siap untuk digunakan.
6.3 Membuat Indikator Fenolftalein
Menimbang fenolftalein 0.1% dengan timbangan analitik, lalu
menyiapkan etanol 70%. Larutkan fenolftalein dalam etanol sampai lart
sepenuhnya. Larutan fenolftalein siap digunakan.
6.4 Pengenceran
Siapkan larutan 10 N, 100 mL. Setelah itu, ambil 10 mL
larutan dengan pipet volume. Masukkan larutan yang telah diambil ke
dalam labu ukur dan tambhkan aquades hingga batas 100 mL dan
dikocok.

VII. Data Pengamatan

No. Perlakuan Hasil Dokumentasi


Pembuatan Larutan NaOH
Menimbang padatan NaOH Didapatkan NaOH
menggunakan kaca arloji sebanyak 6 gram
Didapatkan air panas
Menanangaskan air
sebanyak 1.5 L
1 Melarutkan NaOH dalam NaOH telah
aquadest yang telah panas dilarutkan
Larutan telah
Mendinginkan larutan
menjadi dingin
Didapatkan larutan
Menutup wadah dengan
baku sekunder
plastic wrap
NaOH
Membuat larutan Stok NaCl
Didapaptkan NaCl
Menimbang NaCl diatas
sebanyak 1,1723
kertas perkamen
gram
2
Aquadest disiapkan
Menyiapkan aquadest
sebanyak 100 mL
Melarutkan NaCl dalam Didapatkan larutan
aquades stok NaCl
Pengenceran
3 Menyiapkan 100 mL larutan Larutan NaCl telah
NaCL 0.2 N disiapkan
Mengambil 5 mL larutan
Didapatkan5 mL
NaCl 0.2 N dan
larutan NaCl 0.2 N
memasukkannya ke dalam
dalam labu ukur 10
labu ukur 10 mL
mL
menggunakan bulb pipette
Menambahkan larutan dengan
Aqudest
aquades sebelum mencapai
ditambahkan
batas 10 mL labu ukur
Mengocok larutan hingga Didapatkan larutan
larut NaCl telah larut
Menambahkan larutan dengan Didapatkan larutan
aquades sampai batas 10 mL mencapai volume 10
labu ukur mL
Mengocok larutan hingga larut Didapatkan larutan
telah larut

Percobaan tidak
4 Pembuatan indikator
dilakukan

VIII. Perhitungan
8.1 Larutan Stock
n = 0,2 × 100 = 20 mmol
m = 20 × 58,5 = 1170 mg = 1,170 gram
Saat penimbangan didapatkan sebanyak 1,1729 gram
8.2 Larutan NaOH 0,1 N
𝑚 1000
𝑁 = 𝑀𝑟𝑡 ∙ ∙𝑒
𝑉𝑝
𝑚𝑡 1000
0,1 = ∙ ∙1
40 2500

𝑚𝑡 = 10𝑚𝐿
8.3 Pengenceran
N1.V1 = N2.V2
0.2.V1 = 0.1.10
V1 = 10 mL
IX. Pembahasan
Pada praktikum ini akan dibahas cara – cara pembuatan larutan stok, cara
menimbang, dan cara pengenceran. Pertama – tama adalah pembuatan
larutan stok, dimana larutan stok adalah larutan yang konsentrasinya
dipekatkan dari konsentrasi dalam media. Kepekatan tersebut biasanya
dinyatakan dalam kelipatan konsentrasi media, misalnya 10x, 20x, 100x,
bahkan 1000x dari konsentrasi media. Tujuan dibuatnya larutan stok adalah
untuk menghindari penimbangan atau penakaran yang berulang-ulang.
Selain itu, kadang kali timbangan untuk menimbang bahan-bahan dalam
jumlah yang sangat kecil tidak tersedia di laboratorium. Larutan stok juga
sebaiknya disimpan di tempat yang bersuhu rendah dan gelap. Pada
pembuatan larutan stok perlu diperhatikan perhitungannya terlebih dahulu
agar meminimalisir error pada percobaan. Selain itu herus diperhatikan
kebersihan dati peralatan yang akan digunakan agar tidak mengotori larutan
yang akan dibuat nantinya. Hal ini dikarenakan larutan stok akan terus
digunakan untuk pengenceran berikutnya, sehingga keberadaan pengotor
akan meningkatkan data error pada percobaan. Lalu yang perlu
diperhatikan lagi juga adalah cara penyimpanan larutan stok, dimana
larutan stok harus disimpan pada tempat yang bersuhu rendah dan gelap,
karena beberapa kandungan pada larutan stok mungkin sensitif terhadap
suhu yang tinggi dan mungkin sensitive terhadap cahaya matahari ataupun
cahaya lainnya sehingga mengakibatkan rusaknya larutan stok.
Pembahasan yang kedua adalah tentang penimbangan menggunakan
timbangan analitik. Untuk menimbang, sebelumnya kita harus
memperhatikan waterpass yang terdaat pada timbangan analitik. Kita harus
memastikan waterpass telah tepat berada di tengah – tengah indikasi
waterpass. Hal ini bertujuan untuk memastikan akurasi dari timbangan tetap
tinggi sehingga memberikan hasil penimbangan yang tepat. Lalu setelah
memastikan waterpass, kita juga harus memastikan kebersihan dari
timbangan. Membersihkan timbangan dengan cara menggunakan kuas dan
di bersihkan pengotor keluar dari timbangan. Cara pemakaian timbangan,
pertama – tama timbangan dinyalakan, setelah itu menentukan satuan berat
yang akan digunakan. Setelah itu, buka kedua pintu timbangan dan
masukkan wadah tempat menimbang zat yang akan digunakan. Hal ini
bertujuan agar zat tidak mengotori timbangan. Setelah wadah dimasukkan,
tutup kembali timbangan, lalu hal yang harus dilakukan setelah itu adalah
menara timbangan, dengan menekan tombol tara pada timbangan. Buka
kembali kedua pintu timbangan, lalu masukan bahan yang akan ditimbang,
memasukkan bahan dengan hati – hati agar bahan tidak mengotori
timbangan. Setelah itu menutup kembali pintu timbangan, hal ini dilakukan
agar berat udara dan tekana udara pada dalam timbangan tidak berubah dan
sesuai dengan keadaan pada saat menera wadah, lalu memperhatikan angka
timbangan. Setelah angka sudah tidak berubah – ubah lagi, catat bobot yang
tertera dan mengambil bahan yang sudah ditimbang dengan hati – hati agar
tidak mengotori timbangan. Dalam praktikum ini NaCl yang ditimbang
sebanyak 1,1723 gram. Setelah selesai menggunakan timbangan, matikan
timbangan dan melepaskan kabel untuk menghemat listrik.
Lalu pembahasan yang ketiga adalah pengenceran, dimana larutan yang
diencerkan sendiri adalah larutan yang berasal dari larutan stok, yaitu
larutan NaCl. Pengenceran dilakukan dengan mengambil larutan stok
sebanyak 5 mL, lalu masukkan ke dalam labu ukur. Setelah itu masukkan
aquades dengan jumlah dibawah batas 10 mL labu ukur dan dilarutkan. Hal
ini bertujuan agar larutan larut terlebih dahulu. Lalu, mengelap dinding labu
ukur dengan tissue bersih, hal ini bertujuan agar penambahan aquades
berikutnya tepat volumenya. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah, saat
pembersihan dinding labu ukur tidak boleh sampai tissue menyentuk larutan
agar tidak terjadi error pada percobaan. Setelah itu, masukkan aquades
sampai batas 10 mL menggunakan pipet biasa dan dengan hati – hati
memasukkan aquades menggunakan pipet. Hal yang perlu diperhatikan
pada proses ini adalah saat memasukan aquades mengggunakan pipet, pipet
dimasukkan agak ke dalam labu ukur, agar aquades tidak mengenai dinding
labu ukur yang telah di lap dengan tissue, selain itu kebersihan pipet juga
harus diperhatikan, karena jika pipet menyentuh dinding labu ukur, akan
mengotori hasil dari pengenceran jika pipet tersebut membawa zat
pengotor. Setelah itu, kocok kembali larutan dalam labu ukur. Cara
pengocokan juga harus diperhatikan, dimana cara pengocokan yang benar
ialah dengan cara memegang bagian bawah dan bagian atas labu ukur, lalu
diputar balikkan terus menerus hingga larutan larut sepenuhnya. Setelah
dikocok kembali, diamkan sebentar agar cairan yang menempel pada
dinding labu ukur turun kembali sehingga larutan kembali ke volume
sebelumnya.

X. Kesimpulan
Larutan baku primer, sekunder, serta pembuatan indicator dan
pengenceran larutan dapat dilakukan dan diterapkan dengan baik.

XI. Daftar Pustaka


Andayani, R., Maimunah, dan Lisawati Y. 2008. Penentuan Aktivitas
Antioksidan, Kadar Fenolat Total dan Likopen pada Buah Tomat
(Solanum lycopersicum L). Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi,
Vol. 13, No. 1. Halaman 31 – 34.
Chang, R. 2005. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid I. Jakarta:
Erlangga.
Freiser, H., Nancollas, George H. 1987. Compendium of Analytical
Nomenclature: Definitive Rules 1987. Oxford: Blackwell Scientific
Publications.
Gunawan, A. dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Surabaya: Kartika.
IUPAC. 2014. Solubility. Dapat diakses secara online di
https://goldbook.iupac.org/html/S/S05740.html [18 November
2018].
Maramis, R. K., Citraningtyas, G., dan Wehantouw, F. 2013. Analisis
Kafein dalam Kopi Bubuk di Kota Manado Menggunakan
Spektrofotometri UV-VIS. Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol.
2 No. 4. Halaman 122 – 123.
Oxtoby, D.W., Gillis, H.P., dan Nachtrieb, N.H. 2001. Prinsip-prinsip
Kimia Modern Edisi ke-4 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Parwata, I. M. O. A., Ratnayani, K., dan Listya, A. 2010. Aktivitas
Antiradikal Bebas Serta Kadar Beta Karoten Pada Madu Randu
(Ceiba pentandra) dan Madu Kelengkeng (Nephelium longata L.).
Jurnal Kimia Vol. 4 No. 1. Halaman 54 – 56.
Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.