Anda di halaman 1dari 23

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 1
MARLINA (33117009)
SASTRIANI (33117010)
YULIANA (33117021)
1A
ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT. yang telah
memberi kesempatan, taufik dan hidayah-Nya sehingga tugas makalah Pendidikan Agama
Islam dengan judul “Etika, Akhlak dan Moral” ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar
Muhammad SAW. dan keluarganya beserta para sahabatnya yang telah membimbing kita
dari jalan yang gelap gulita menuju jalan yang terang benderang yang diridhoi oleh Allah
SWT.

Tak lupa pula kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman kami
yang telah memberikan petunjuk dalam terselesaikannya tugas makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan kami telah
berusaha semaksimal mungkin dalam menyusun tugas makalah yang sangat sederhana ini.
Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan kritik, saran dan nasehat yang baik demi
perbaikan tugas makalah ini kedepannya. Semoga makalah ni dapat berguna dan bemanfaat
untuk kita semua.

Makassar, 20 Juni 2018

PENYUSUN.
iii

DAFTAR ISI
Halaman

SAMPUL ............................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 2
1.3 Tujuan .......................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ......................................................................................................................... 2

BAB II ISI
2.1 Pengertian Etika,Akhlak dan Moral .............................................................................. 3
2.2 Macam-Macam Etika,Akhlak dan Moral ..................................................................... 6
2.3 Karakteristik Etika Islam .............................................................................................. 7
2.4 Karakteristik Akhlak ..................................................................................................... 8
2.5 Faktor-Faktor Pembentuk Akhlak................................................................................. 9
2.6 Indikator Manusia Berakhlak ........................................................................................ 12
2.7 Perbedaan dan Persamaan Etika,Akhlak dan Moral ..................................................... 15
2.8 Hubungan Etika,Akhlak dan Moral .............................................................................. 16
2.9 Hubungan Tasawuf dengan Akhlak ............................................................................. 17

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 19
3.2 Saran ............................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 20


1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pendidikan Islam pada intinya adalah sebagai wahana pembentukan manusia yang
bermoralitas tinggi. Di dalam ajaran Islam moral atau akhlak tidak dapat dipisahkan dari
keimanan. Keimanan merupakan pengakuan hati. Akhlak adalah pantulan iman yang berupa
perilaku, ucapan, dan sikap atau dengan kata lain akhlak adalah amal saleh. Iman adalah
maknawi (abstrak) sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang
dilakukan dengan kesadaran dan karena Allah semata.

Berkaitan dengan pernyataan di atas bahwa akhlak tidak akan terpisah dari keimanan,
dalam al-Qur'an juga sering dijelaskan bahwa setelah ada pernyataan “orang-orang yang
beriman,” maka langsung diikuti oleh “beramal saleh.” Dengan kata lain amal saleh sebagai
manifestasi dari akhlak merupakan perwujudan dari keimanan seseorang. Pemahaman
moralitas dalam bahasa aslinya dikenal dengan dua istilah yaitu al-akhlaq al-karimah dan al-
akhlaq al-mahmudah. Keduanya memiliki pemahaman yang sama yaitu akhlak yang terpuji
dan mulia, semua perilaku baik, terpuji, dan mulia yang diridlai Allah. Satu masalah
sosial/kemasyarakatan yang harus mendapat perhatian kita bersama dan perlu ditanggulangi
dewasa ini ialah tentang kemerosotan akhlak atau dekadensi moral.

Di samping kemajuan teknologi akibat adanya era globalisasi, kita melihat pula arus
kemorosotan akhlak yang semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita.
Dalam surat-surat kabar sering kali kita membaca berita tentang perkelahian pelajar,
penyebaran narkotika, pemakaian obat bius, minuman keras, penjambret yang dilakukan oleh
anak-anak yang berusia belasan tahun, meningkatnya kasus-kasus kehamilan dikalangan
remaja putrid dan lain sebagainya.

Hal tersebut adalah merupakan suatu masalah yang dihadapi masyarakat yang kini
semakin marak, Oleh kerena itu persoalan remaja seyogyanya mendapatkan perhatian yang
serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik beratnya
untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kemerosotan akhlak dan moral
dikalangan remaja.
2

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian etika,akhlak dan moral ?


2. Bagaimana karakteristik etika islam dan akhlak ?
3. Apa faktor-faktor pembentuk akhlak?
4. Apa indikator manusia berakhlak?
5. Apa perbedaan antara etika,akhlak dan moral ?
6. Apa hubungan tasawuf dengan akhlak ?

1.3 TUJUAN

Tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Agama Islam, kami juga akan memberi penjelasan tentang etika, akhlak dan
moral.

1.4 MANFAAT

Dengan pembuatan makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang


etika, akhlak dan moral dalam islam, dapat memahami pentingnya etika, akhlak dan moral
serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dimanapun.
3

BAB II
ISI

2.1 Pengertian Etika,Akhlak dan Moral

a. Pengertian Etika

Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang terdiri dari kata "ethikos", berarti
"timbul dari kebiasaan” adalah segala sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat
yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian
moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan
tanggung jawab.

Dengan demikian Etika adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk dan yang
menjadi ukuran baik dan buruknya adalah akal karena memang etika adalah bagian dari
filsafat.

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat


spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis
kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu
untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

b. Pengertian Akhlak

Akhlak berasal dari bahasa arab “akhlaq” yang merupakan bentuk jamak dari
“khuluq”. Secara bahasa “akhlak” mempunyai arti budi pekerti , tabiat, dan watak. Dalam
kebahasaan akhlak sering disinonimkan dengan moral dan etika. Menurut istilah yang
dijelaskan oleh Ibnu Maskawih “akhlak adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong
untuk melakukan kegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan”.

Menurut Abdul hamid yusuf akhlak adalah ilmu yang memberikan keterangan tentang
perbuatan yang mulia dan memberikan cara-cara untuk melakukannya. Sedangkan menurut
Ja’ad maulana “akhlak adalah ilmu yang menyelidiki gerak jiwa manusia, apa yang
dibiasakan mereka dari perbuatan dan perkatan dan menyingkap hakikat-hakikat baik dan
buruk”. Akhlak menurut Ahmad amin adalah kehendak yang biasa dilakukan. Artinya segala
sesuatu yang kehendak yang terbiasa dilakukan, disebut akhlak.
4

c. Pengertian Moral

Kata Moral berasal dari Bahasa Latin Moralitas, adalah istilah manusia menyebut ke
manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak
memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di
mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia.
Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu,
tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang
memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari
sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan
manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya.

Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian
terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah
laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan
seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima
serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang
baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan agama. Setiap budaya
memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah
terbangun sejak lama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa moral merupakan kondisi pikiran,
perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk.

Dalil-dalil yang berhubungan dengan akhlak, moral, dan etika

Firman Allah swt:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imran: 190)

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari
orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat maruf, atau mengadakan
perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari
keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-nisa:
114)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal:2)
5

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal:2)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mumin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat,
Injil dan Al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?
Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan
yang besar.” (QS. At Taubah: 111)

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak
menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu” (QS. Yasin:
60)

“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka)


akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS. Sad:
46)

Sabda Rasulullah:

‘Sesungguhnya aku Muhammad s.a.w. tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan


kemuliaan akhlak.’

‘Ketahuilah kamu di dalam badan manusia terdapat segumpal darah. Apabila baik maka
baiklah keseluruhan segala perbuatannya dan apabila buruk maka buruklah keseluruhan
tingkah lakunya. Ketahuilah kamu bahawa ia adalah hati’

‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras kamu dan tidak kepada tubuh badan
kamu, dan sesungguhnya Allah tetap melihat kepada hati kamu dan segala amalan kamu
yang berlandaskan keikhlasan hati.’

‘Seseorang itu tidak beriman sehinggalah dia mengasihi terhadap saudaranya seperti mana
dia kasih terhadap dirinya sendiri’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

‘Sesunggubnya amalan yang sangat dicintai Allah selepas melakukan ibadat fardhu oleh
hambanya ialah mengembirakan hati saudaranya sesama Islam’ (Riwayat Baihaqi)
6

2.2 Macam-Macam Etika,Akhlak dan Moral

 Macam-Macam Etika

Dalam membahas etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis
itu sama halnya dengan berbicara tentang moral. Manusia disebut etis karena manusia secara
utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan
antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan jasmaninya, dan
antara ssebagai makhluk dengan penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilai-nilai
atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat tiga macam etika yaitu sebagai
berikut:

 Etika Deskriptif adalah Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap
dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai
sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya,
yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi
dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam
penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi
tertentu yang memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.
 Etika Normatif adalah Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal
dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan
tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi etika normatif merupakan norma-norma
yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang
buruk sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.
 Etika metaetika merupakan sebuah cabang dari etika yang membahas dan menyelidiki
serta menetapkan arti dan makna istilah-istilah normatif yang diungkapkan lewat pertanyaan-
pertanyaan etis yang membenarkan atau menyalahkan suatu tindakan. Istilsh-istilah normatif
yang sering mendapat perhatian khusus, antara lain keharusan, baik, buruk, benar, salah, yang
terpuji, tercela, yang adil, yang semestinya.

 Macam-Macam Akhlak

Ulama akhlak menyatakan bahwa akhlak yang baik merupakan sifat para Nabi dan orang-
orang sidiq, sedangkan akhlak yang buruk merupakan akhlak setan dan orang-orang tercela.
Maka pada dasarnya akhlak itu dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Akhlak baik (al-akhlaqul mahmudah), yaitu perbuatan baik terhadap Tuhan, sesama
manusia dan makhluk-makhluk yang lain. Akhlak mahmudah adalah perbuatan yang
dibenarkan oleh agama (allah dan rasulnya).
7

Contoh : disiplin, hidup bersih, ramah, sopan santun, sykur nikmat, hidup sederhana, rendah
hati, jujur, rajin, percaya diri, kasih sayang, taat, rukun,tolong- menolong, hormat dan patuh,
sidik, amanah, fathanah, tablig, tanggung jawab, adil, bijaksana, teguh, pendirian, drmawan,
optimis, qana’ah, tawakal, bertauhid, ikhlas, khauf, taubah, ikhtiyar, sabar, syukur, tawadhu,
husnuzhan, tasammuh, dan ta’awwun, berilmu, kreatif, produktif, akhlak dalam berpakaian,
berhias, perjalanan, bertamu, dan menerima tamu, adil, ridha dan amal sholeh, persatuan dan
kerukunan, akhlak terpuji dalam pergaulan remaja, serta pengenalan tentang tasawuf.

2. Akhlak buruk atau tercela (al-akhlakul madzmumah), yaitu perbuatan buruk terhaap
Tuhan , sesama manusia dan makhluk-makhluk yang lain. Akhlak mazmumah (tercela)
adalah perbuatan yang tidak di benarkan oleh agama (Allah dan Rasul-Nya ). Contohnya :
hidup kotor, berbicara kasar, bohong, sombong, malas, durhaka, khianat, iri, dengki,
membangkang, munafik, hasud, kikir, serakah pesimis, putus asa, marah, fasi dan murtad,
kufur, syirik, riya, nifaq, anaaniah, putus asa,ghalab, tamak. Takabbur, hasad, dendam, gibah,
fitnah, dan namimmah, aniaya, dan diskriminasi, perbuatan dosa besar (septi mabuk-
mabukan, berjudi, zina, mencuri, mengkonsumsi narkoba) israf, tabzir.

 Macam-Macam Moral

1. Moral keagamaan merupakan moral yang selalu berdasarkan pada ajaran agama Islam.
2. Moral sekuler merupakan moral yang tidak berdasarkan pada ajaran agama dan hanya
bersifat duniawi semata-mata.

2.3 Karakteristik Etika Islam

Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu
masyarakat tertentu. Moral adalah secara etimologis berarti adat kebiasaan,susila. Jadi moral
adalah perilaku yang sesuai dengan ukuran-ukuran tindakan yang oleh umum di terima,
meliputi kesatuan sosial/lingkungan tertentu. Sedangkan akhlak adalah ilmu yang
menentukan batas antara baik dan buruk tentang perkataan/perbuatan manusia lahir dan batin.
Didalam islam, etika yang diajarkan dalam islam berbeda dengan etika filsafat. Etika
Islam memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Etika Islam mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan
menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.
2. Etika Islam menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, ukuran baik dan buruknya
perbuatan seseorang didasarkan kepada al-Qur’an dan al-Hadits yang shohih.
8

3. Etika Islam bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima dan dijadikan pedoman
oleh seluruh umat manusia kapanpun dan dimanapun mereka berada.
4. Etika Islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia kejenjang akhlak yang luhur dan
mulia serta meluruskan perbuatan manusia sebagai upaya memanusiakan manusia.

2.4 Karakteristik Akhlak

Yusuf Al-Qardhawi, berpendapat bahwa ada tujuh karakteristik dari akhlak Islam.

1. Akhlak itu Mampu untuk difahami

Islam selalu bersandar pada penilaian yang logis dan alasan yang dapat diterima oleh akal
yang lurus dan naluri yang sehat, yaitu dengan menjelaskan kebaikan dibalik apa yang
diperintahkan-Nya dan kerusakan dari terjadinya apa yang dilarang-Nya.Walaupun harus
mampu untuk dilogiskan namun, jangan sampai fikiran logis kita bertentangan dengan wahyu
yang sudah ada.

2. Moral yang Universal.

Moral dalam Islam berdasarkan karakteristik manusiawi yang universal, yaitu larangan bagi
suatu ras manusia berlaku juga bagi ras yang lain, bahkan umat Islam dan umat-umat yang
lain adalah sama dihadapan moral Islam yang universal. Dalam surat Al-Maidah ayat 8 :

”Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil.Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.”

Maka aturan-aturan yang Allah perintahkan itu sama, karena hal itu baik dan semuanya akan
mengatakan itu baik.

3. Kesesuaian dengan Fitrah

Islam datang dengan membawa suatu yang sesuai dengan fitrah dan tabiat manusia
serta penyempurnaannya.Islam mengakui eksistensi manusia sebagaimana yang telah
diciptakan Allah dengan segala dorongan kejiwaan, kecenderunganfitrah serta segala yang
telah digariskan-Nya.Islam menjadikan mulia dan membuat batasan hukum untuknya agar
dapat memelihara kebaikan masyarakat dan individu manusia itu sendiri. Kita dilahirkan
dengan fitoh kita sebagaoi makhluknya maka kita harus berbuat sesuai dengan apa fitroh kita
sebagai makhluk maka hendaknya kita patuh kepada yang menciptakan kita yaitu Allah swt.
9

4. Memperhatikan Realita.

Al-Qur’an tidak membebankan kepada manusia suatu kewajiban untuk mencintai musuh-
musuhnya, karena hal ini merupakan sesuatu hal yang tidak dimiliki jiwa manusia, akan
tetapi Al-Qur’an memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk berlaku adil kepada
musuh-musuhnya, supaya ras permusuhan dan kebencian mereka terhdap musuh-musuhnya
tidak mendorong untuk melakukan pelanggaran terhadap musuh-musuh mereka.

Penyesuaian dengan keadaan yang ada, artinya aturan Allah itu tidak statis namun dapat
diterapkan diberbagai situasi dan kondisi, misalkan dulu bangsa Arab itu sangat gemar sekali
melakukan perang antar suku, maka Allah katakana hal itu tidak baik dan dilarang, kemudian
Allah menunjukan jalan mana yang baik begitu.

5. Akhlak itu Positif.

Islam menganjurkan kita kuatakan, keyakinan dan cita-cita, melawan sikap ketidakberdayaan
dan pesimisme, malas serta segala bentuk penyebab kelemahan.Maka, kita hendaknya harus
mempunyai sikap yang optimis, dan selalu semangat dalam menghadapi arus dunia ini.

6. Akhlak itu Komprehensif (Menyeluruh)

Islam mengajarkan bahwa hubungan kita dengan Tuhan, hubungan kita dengan sesame
manusia, dan hubungan kita dengan diri kita sendiri serta alam itu semua dapat terlihat
dengan akhlak yang kita gunakan untuk membangun hubungan tersebut.

7. Tawazun (Keseimbangan)

Tawazun dalam etika Islam yaitu menggabungkan sesuatu dengan penuh keserasian dan
keharmonisan, tanpa sikap berlebihan maupun pengurangan.Sesuai dengan kadarnya.

2.5 Faktor-Faktor Pembentuk Akhlak

Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan Akhlak antara lain


adalah:

1. Insting (Naluri)
Aneka corak refleksi sikap, tindakan dan perbuatan manusia dimotivasi oleh kehendak yang
dimotori oleh Insting seseorang ( dalam bahasa Arab gharizah).
10

Insting merupakan tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa
insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku antara
lain adalah:

1. Naluri Makan (nutrive instinct). Manusia lahir telah membawa suatu hasrat
makan tanpa didorang oleh orang lain.
2. Naluri Berjodoh (seksul instinct).
3. Naluri Keibuan (peternal instinct) tabiat kecintaan orang tua kepada anaknya
dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya.
4. Naluri Berjuang (combative instinct). Tabiat manusia untuk mempertahnkan
diri dari gangguan dan tantangan.
5. Naluri Bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan penciptanya.

Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu dipelajrari
terlebih dahulu.

2. Adat/Kebiasaan
Adat/Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara
berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Abu Bakar Zikir
berpendapat: perbutan manusia, apabila dikerjakan secara berulang-ulang sehingga mudah
melakukannya, itu dinamakan adat kebiasaan.

3. Wirotsah (keturunan)
Maksudnya adalah Berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang
(anak keturunan). Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan sifat-sifat asasi orang tuanya.
Kadang-kadang anak itu mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya.

4.Milieu
Artinya suatu yang melingkupi tubuh yang hidup meliputi tanah dan udara sedangkan
lingkungan manusia, ialah apa yang mengelilinginya, seperti negeri, lautan, udara, dan
masyarakat. milieu ada 2 macam:

a. Lingkungan Alam
Alam yang melingkupi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan
tingkah laku seseorang. Lingkungan alam mematahkan atau mematangkan pertumbuhn bakat
yang dibawa oleh seseorang. Pada zaman Nabi Muhammad pernah terjadi seorang badui
yang kencing di serambi masjid, seorang sahabat membentaknya tapi nabi melarangnya.
Kejadian diatas dapat menjadi contoh bahwa badui yang menempati lingkungan yang jauh
dari masyarakat luas tidak akan tau norma-norma yang berlaku.
11

b. Lingkungan pergaulan
Manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Itulah sebabnya manusia harus
bergaul. Oleh karena itu, dalam pergaulan akan saling mempengaruhi dalam fikiran, sifat, dan
tingkah laku. Contohnya Akhlak orang tua dirumah dapat pula mempengaruhi akhlak
anaknya, begitu juga akhlak anak sekolah dapat terbina dan terbentuk menurut pendidikan
yang diberikan oleh guru-guru disekolah.Setiap perilaku manusia didasarkan atas kehendak.
Apa yang dilakukan manusia timbul dari kejiwaan. Walaupun pancaindra kesulitan melihat
pada dasar kejiwaan, namun dapat dilihat dari wujud kelakuan. Maka setiap kelakuan pasti
bersumber dari kejiwaan.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi akhlak pada khususnya dan pendidikan pada
umumnya, ada tiga aliran yaitu:

1) Aliran Nativisme

Menurut aliran ini faktor yang paling berpengaruhi terhadap diri seseorang
adalah faktor bawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecendrungan, bakat, dan
akal. Jika seorang telah memiliki bawaan kepada yang baik maka dengan sendirinya orang
tersebut lebih baik. Aliran ini begitu yakin terhadap potensi batin dan tampak kurang
menghargai peranan pembinaan dan pendidikan.

2) Aliran Empirisme

Menurut aliran ini faktor yang paling berpengaruhi terhadap pembentukan diri seorang
adalah faktordari luar, yaitu lingkugan sosial; termasuk pembinaan dan pendidikan yang
diberikan. Jika penddidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak itu baik, maka
baiklah anak. Demikian jika sebaliknya. Aliran ini begitu percaya kepada peranan yang
dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran.

3) Aliran Konvergensi

Menurut aliran ini faktor yang paling mempengaruhi pembentukan akhlak


yakni faktor internal (pembawaan) dan faktor dari luar (lingkungan sosial). Fitrah dan
kecendrungan ke arah yang lebih baik yang dibina secara intensif secara metode. Aliran ini
sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini dapat dipahami dari ayat dan hadits di bawah ini.

“setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan (membawa) fitrah (rasa ketuhanan dan
kecendrungan kepada kebenaran). Maka kedua orang tuanya yang membentuk anak itu
menjadi yahudi, Nasrani, atau majusi.” (HR. Bukhori).
12

Dari ayat dan hadits tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama
dalam pendidikan adalah kedua orang tua.
“Didiklah anakmu sekalian dengan tiga perkara: mencintai nabimu, mencintai keluarganya,
dan membaca al-Qur’an, karena orang yang membawa(lafal) al-Qur’an akan berada dibawah
perlindungan Allah, di hari tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya, bersama para
nabi dan kekasihnya.” (HR.al-Dailami dari Ali).

2.6 Indikator Manusia Berakhlak

Akhlak terhadap Allah


1. Mentauhidkan Allah
Tauhid adalah konsep dalam aqidah islam yang menyatakan ke-Esaan Allah dan
beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya.
2. Banyak Berzdikir pada Allah
Zikir (atau Dzikir) artinya mengingat Allah di antaranya dengan menyebut dan
memuji nama Allah. Zikir adalah satu kewajiban. Dengan berzikir hati menjadi tenteram.
3. Berdo’a kepada Allah SWT
Berdo’a adalah inti dari ibadah. Orang-orang yang tidak mau berdo’a adalah
orang-orang yang sombong karena tidak mau mengakui kelemahan dirinya di hadapan
Allah SWT.
4. Bertawakal Hanya pada Allah
Tawakal kepada Allah SWT merupakan gambaran dari sikap sabar dan kerja keras
yang sungguh-sungguh dalam pelaksanaanya yang di harapkan gagal dari harapan
semestinya, sehingga ia akan mampu menerima dengan lapang dada tanpa ada
penyesalan.
5. Berhusnudzhon kepada Allah
Yakni berbaik sangka kepada Allah SWT karena sesungguhnya apa saja yang di
berikan Allah merupakan jalan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Akhlak terhadap Rasulullah


1. Mengikuti atau menjalankan sunnah Rosul
Mengacu kepada sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah menjalani hidupnya
atau garis-garis perjuangan/ tradisi yang dilaksanakan oleh Rasulullah. Sunnah
merupakan sumber hukum kedua dalam islam, setelah Al-Quran.
13

2. Bersholawat Kepada Rosul


Mengucapkan puji-pujian kepada Rosulullah S.A.W . Sesungguhnya Tuhan
beserta para malaikatnya semua memberikan Sholawat kepada Nabi (dari Allah berarti
memberi rakhmat, dan dari malaikat berarti memohonkan ampunan). Hai orang-orang
beriman, ucapkanlah Sholawat kepadanya (AQ Al Ahzab : 56).

Akhlak terhadap diri sendiri


1. Sikap sabar
Sabar adalah menahan amarah dan nafsu yang pada dasarnya bersifat negatif.
Kemudianmanusia harus sabar dalam menghadapi segala cobaan.
2. Sikap Syukur
Dalam keseharian, kadang atau bahkan sering kali kita lupa untuk ber-Syukur,
atau men-Syukuri segala nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Ada 3 (tiga) cara
yang mudah untuk men-Syukuri nikmat Allah yaitu bersyukur dengan hati yang tulus,
mensyukuri dengan lisan yang dilakukan dengan memuji Allah melalui ucapan
Alhamdulillah, dan bersyukur dengan perbuatan yang dilakukan dengan menggunakan
nikmat dan rahmat Allah pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya.
3. Sikap Tawadlhu’
Tawadlhu’ atau Rendah hati merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia jadi
sudah selayaknya kita sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu
merupakan salah satu akhlak terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Orang
yang tawadhu’ adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya
bersumber dari Allah SWT.
4. Bertaubat
Apabila melakukan kesalahan, maka segera bertaubat dan tidak mengulanginya
lagi. Apabila ada dari kita yang merasa telah terlalu banyak berbuat dosa dan maksiat
sebaiknya kita jangan berputus asa dari rahmat ampunan Allah, karena Allah SWT
selalu memberikan kesempatan pada kita untuk bertobat.

Akhlak terhadap sesama manusia


1. Merajut Ukhuwah atau Persaudaraan
Membina persaudaraan adalah perintah Allah yang diajarkan oleh semua agama,
termasuk agama islam. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya kalau semua elemen
membangun ukhuwah dalam komunitasnya. Apabila ada kelompok tertentu dengan
mengatas-namakan agama tetapi enggan memperjuangkan perdamaian dan persaudaraan
maka perlu dipertanyakan kembali komitmen keagamaannya.
14

2. Ta’awun atau saling tolong menolong


Dalam Islam, tolong-menolong adalah kewajiban setiap Muslim. Sudah
semestinya konsep tolong-menolong tidak hanya dilakukan dalam lingkup yang sempit.
Tolong-menolong menjadi sebuah keharusan karena apapun yang kita kerjakan
membutuhkan pertolongan dari orang lain. Tidak ada manusia seorang pun di muka bumi
ini yang tidak membutuhkan pertolongan dari yang lain.
3. Suka memaafkan kesalahan orang lain
Islam mengajar umatnya untuk bersikap pemaaf dan suka memaafkan kesalahan
orang lain tanpa menunggu permohonan maaf daripada orang yang berbuat salah
kepadanya. Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa
ada sedikit pun rasa benci dan dendam di hati. Sifat pemaaf adalah salah satu perwujudan
daripada ketakwaan kepada Allah.
4. Menepati Janji
Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Menepati janji
adalah bagian dari iman. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan.

Akhlak Terhadap sesama Makhluk


1. Tafakur (Berfikir)
Salah satu ciri khas manusia yang membedakanya dari makhluk yang lain, bahwa
manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih
berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan.
2. Memanfaatkan Alam
Kedudukan manusia di bumi ini bukanlah sebagai penguasa yang sewenang-
wenang, tetapi sebagai khalifah yang mengemban amanat Allah. Karena itu, segala
pemanfaatan manusia atas bumi ini harus dengan penuh tanggung jawab dan tidak
menimbulkan kerusakan. Sebab, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.

Dalam ilmu akhlak dijelaskan bahwa kebiasaan yang baik harus diperhatikan dan
disempurnakan, serta kebiasaan yang buruk harus dihilangkan, karena merupakan faktor yang
sangat penting dalam membentuk karakter manusia berakhlak. Al-Ghozali menjelaskan
bahwa mencapai akhlak yang baik ada tiga cara;
1. Akhlak merupakan anugrah dan rahmat Allah, yakni orang memiliki akhlak baik secara
alamiah (bi-althabi;ah wa al-fitroh). Sesuatu yang diberikan Allah kepada seseorang sejak
ia dilahirkan.
2. Mujahadah, selalu berusaha keras untuk merubah diri menjadi baik dan tetap dalam
kebaikan, serta menahan diri dari sikap putus asa.
15

3. Riyadloh, adalah melatih diri secara spiritual untuk senantiasa dzikir (ingat) kepada
Allah.

Al-Ghozali juga berpendapat bahwa upaya mengubah akhlak buruk adalah kesadaran
seseorang akan akhlaknya yang jelek. Ada empat cara untuk dapat membantu seseorang
mengubah akhlaknya yang jelek menjadi baik, caranya sebagai berikut;
1. Menjadikan murid seorang pembimbing spiritual (syekh).
2. Minta bantuan seorang yang tulus, taat, dan punya pengertian.
3. Berupaya unuk mengetahui kekurangan diri kita dari sesorang yang tidak senang (benci)
dengan kita.
4. Bergaul bersama orang banyak dan memisalkan kekurangan yang ada pada orang lain
bagaikan yang ada pada kita.

Sedangkan menurut Achmad Amin, upaya mengubah kebiasaan buruk


sebagaimana yang dikutip Ishak solih (1990) adalah hal-hal sebagai berikut ini;
1. Menyadari perbuatan buruk, dan bertekad untuk meninggalkannya.
2. Mencari Waktu yang baik untuk mengubah kebiasaan itu untuk mewujudkan niat atau
tekad semula.
3. Menghindari diri dari segala yang dapat menyebabkan kebiasaan buruk itu terulang lagi.

Kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk memiliki akhlak (akhlak karimah)
dan berupaya dapat menjauhi akhlak jelek (akhlak sayiah). Jika kita ingin memiliki Negara
yang baldatun thoyibatun warobun ghofur (Negara yang, baik, makmur, dan senantiasa dalam
ampunan-Nya) kuncinya adalah masyarakat, bangsa tersebut harus berakhlak baik. Jika tidak,
kehancuran dan kehinaan akan meliputi masyarakat, bangsa tersebut.

2.7 Perbedaan dan Persamaan Etika,Akhlak dan Moral

Ada beberapa persamaan antara akhlak, etika, dan moral yang dapat dipaparkan sebagai
berikut:
 Pertama, akhlak, etika, dan moral mengacu kepada ajaran atau gambaran tentang
perbuatan, tingkah laku, sifat, dan perangai yang baik.
 Kedua, akhlak, etika, moral merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk menakar
martabat dan harakat kemanusiaannya. Sebaliknya semakin rendah kualitas akhlak, etika,
moral seseorang atau sekelompok orang, maka semakin rendah pula kualitas
kemanusiaannya.
16

 Ketiga, akhlak, etika, moral seseorang atau sekelompok orang tidak semata-mata
merupakan faktor keturunan yang bersifat tetap, stastis, dan konstan, tetapi merupakan
potensi positif yang dimiliki setiap orang. Untuk pengembangan dan aktualisasi potensi
positif tersebut diperlukan pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan, serta dukungan
lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara tersu
menerus, berkesinambungan, dengan tingkat konsistensi yang tinggi.

Perbedaan akhlak, etika dan moral


Dari Seginya di bagi menjadi 2 bagian yaitu : 1) berdasarkan tolak ukur dan 2) berdasarkan
sifat
a. Berdasarkan Tolak Ukur
1. Akhlak tolak ukurnya al-qur’an dan As Sunnah
2. Etika tolak ukurnya pikiran atau akal
3. Moral tolak ukurnya norma hidup yang ada di masyarakat berupa adat atau aturan
tertentu.
b. Berdasarkan Sifat
1. Etika bersifat teori
2. Akhlak dan Moral bersifat praktis

2.8 Hubungan Etika,Akhlak dan Moral

Moral, etika dan akhlak memiliki substansi yang sangat dekat bahkan bisa dikatakan sama.
Sebab tujuan ketiganya adalah mencari nilai-nilai positif dalam bertingkah laku untuk
menjadi makhluk yang bermoral etis sebagai ciptaan, baik di mata Tuhan maupun
makhlukNya. Namun disini peneliti lebih memilih moral sebagai bahasan sebab penggunaan
moral seperti tersebut di atas lebih cenderung digunakan kepada sosial.

Apabila etika dan moral dihubungkan maka dapat dikatakan bahwa antara etika dan moral
memiliki obyek yang sama yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia untuk
selanjutnya di tentukan posisinya baik atau buruk. Tolak ukur yang di gunakan dalam moral
untuk mengukur tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan, dan lainnya yang
berlaku dimasyarakat. Menurut Ibnu Arabi hati manusia itu bisa baik dan buruk, karena di
dalam diri manusia terdapat 3 nafsu :
1. Syahwaniyah
Nafsu ini ada pada diri manusia dan binatang yaitu nafsu pada kelezatan
(makanan,minuman) dan syahwat jasmani. Apabila manusia tidak mengendalikan nafsu ini
maka manusia tidak ada bedanya dengan binatang.
17

2. Al-Ghadabiyah

Nafsu ini juga ada pada diri manusia dan binatang , cenderung pada marah, merusak,
ambisi dan senang menguasai dan mengalahkan orang lain serta lebih kuat di banding dengan
syahwaniyah dan berbahaya jika tidak dikendalikan.

3. Al-Nathiqah
Nafsu yang membedakan manusia dengan binatang. Nafsu ini mampu membuat
berzikir, mengambil hikmah, memahami fenomena alam dan manusia menjadi agung, besar
cita-citanya, kagum terhadap dirinya hingga bersyukur kepada Allah. Yang menjadikan
manusia dapat mengendalikan 2 nafsu di atas dan membedakan mana yang baik dan mana
yang buruk

2.9 Hubungan Tasawuf dengan Akhlak

Tasawuf adalah proses pendekatan diri kepada Tuhan (Allah) dengan cara
mensucikan hati. Hati yang suci bukan hanya bisa dekat dengan Tuhan malah dapat melihat
Tuhan (al-Ma’rifah). Dalam tasawuf disebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Suci tidak dapat
didekati kecuali oleh hati yang suci. Kalau ilmu akhlak menjelaskan mana nilai yang baik dan
mana yang buruk juga bagaimana mengubah akhlak buruk agar menjadi baik secara zahiriah
yakni dengan cara-cara yang nampak seperti keilmuan, keteladanan, pembiasaan, dan lain-
lain maka ilmu tasawuf menerangkan bagaimana cara menyucikan hati , agar setelah hatinya
suci yang muncul dari perilakunya adalah akhlak al-karimah. Perbaikan akhlak, menurut ilmu
tasawuf, harus berawal dari penyucian hati.

Dalam kacamata akhlak, tidaklah cukup iman seseorang hanya dalam bentuk
pengakuan, apalagi kalau hanya dalam bentuk pengetahuan. Yang “kaffah” adalah iman,ilmu
dan amal. Amal itulah yang dimaksud akhlak . Tujuan yang hendak dicapai dengan ilmu
akhlak adalah kesejahteraan hidup manusia de dunia dan kebahagian hidup di akhirat.

Dari satu segi akhlak adalah buah dari tasawuf (proses pendekatan diri kepada Tuhan),
tapi dari sisi lain akhlak pun merupakan usaha manusia secara “zahiriyyah” dan “riyadhah”
Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur hubungan
horizontal antara sesama manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan komunikasi vertical
antara manusia dengan Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari pelaksanaan tasawuf, sehingga
dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak.
18

Hubungan akhlak dan tasawuf tidak bisa terpisashkan karena kesucian hati akan
membentuk akhlak yang baik pula . Pada intinya seseorang yang masuk kedalam dunia
tasawuf harus munundukan jasmani dan rohani dengan cara mendekatkan diri kepada Allah
dan menjaga akhlak yang baik.
Hubungan antara akhlak dengan tasawuf sangatlah erat dan bisa dikatakan seperti dua
mata uang, karena untuk mencapai akhlak yang mulia diperlukan proses-proses yang
biasanya dilakukan oleh kalangan mutashawwifin (pengamal tasawuf). Sementara bagian
yang terpenting dalam tasawuf adalah pencapaian akhlak yang mulia disamping hal-hal yang
terkait dengan kebutuhan.

Apa yang dilakukan kalangan mutashawwifin akhirnya akan membuahkan pada


akhlak mulia. Namun demikian tidak semua kajian dan pengalaman tasawuf masuk ke bidang
akhlak. Oleh karena itu akhlak tasawuf adalah proses-proses pencapaian akhlakul karimah
melalui metode tasawuf yang diilhami oleh kehidupan para salafus shalih.

Akhlak tasawuf ini menjadi penting untuk menghindari kajian akhlak yang hanya
berada pada tataran pemikiran dan wacana yang tentu akan jauh untuk dapat memberikan
bekas pada mahasiswa menjadi orang-orang yang memiliki akhlak mulia. Dilain pihak akhlak
tasawuf juga berguna untuk membatasi kajian salah satu aspek dalam dunia tasawuf, yaitu
tasawuf akhlaki, yang berarti mengesampingkan tasawuf falsafi.

Secara singkat akhlak tasawuf memfokuskan pada dataran Tazkiyah al-Nafs


(penyucian jiwa) yang sering diistilahkan juga dengan tathahur, tahaquq dan takhaluq,
membersihkan diri dari sifat madzmumah (tercela) dan menghiasi dengan akhlak mahmudah
(terpuji). Hal yang perlu di perhatikan adalah faktor dari sekedar fikri (pemikiran) dan
nadzari (teoritis).
19

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Etika adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk dan yang menjadi ukuran
baik dan buruknya adalah akal karena memang etika adalah bagian dari filsafat. Akhlak
adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan tanpa
melalui pertimbangan. Dan Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam
berinteraksi dengan manusia.

Faktor-faktor pembentuk akhlak yaitu Insting (Naluri), Adat/Kebiasaan, Wirotsah


(keturunan) dan Milieu (Lingkungan).

Perbedaan akhlak, etika dan moral dari segi tolak ukur yaitu akhlak tolak ukurnya al-qur’an
dan As Sunnah, etika tolak ukurnya pikiran atau akal dan moral tolak ukurnya norma hidup
yang ada di masyarakat berupa adat atau aturan tertentu. Sedangkan dari segi sifat etika
bersifat teori, akhlak dan moral bersifat praktis

Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur


hubungan horizontal antara sesama manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan
komunikasi vertical antara manusia dengan Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari
pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak.

3.2 Saran

Diharapkan dengan diselesaikannya makalah ini, dapat menyadarkan dan memberi


pemahaman baik kepada pembaca maupun penyusun mengenai pentingnya pendidikan
akhlak dan menerapkan etika, moral dan akhlak yang baik dan sesuai dengan ajaran islam
dalam kehidupan sehari-hari, kapan dan dimanapun kita berada
20

DAFTAR PUSTAKA
http://reza-kezot.blogspot.com/2017/01/makalah-agama-islam-tentang-etika-moral.html
(Diakses 17 Desember 2017)

http://b420k.blogspot.com/2012/10/akhlak-islami-dan-pembentukan-akhlak.html (Diakses 29
November 2012)

http://www.berryhs.com/2011/04/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_30.html (Diakses 01
Mei 2011)

https://amrikhan.wordpress.com/2012/07/30/karakteristik-dan-ruang-lingkup-akhlak-3/feed/
(Diakses 30 Juli 2012)

http://nurhayaticatatanpenting.blogspot.com/2012/05/pengertian-etika-moral-dan-akhlak.html
(Diakses 22 Mei 2012)

http://kuliahkucatatandankehidupan.blogspot.com/2015/12/pengertian-persamaan-dan-
perbedaan.html (Diakses 15 Desember 2015)