Anda di halaman 1dari 6

Laporan Ilmu Ukur Tanah Tahun 2018 Nilai:

Acara II Waktu Praktikum


Pengukuran Sudut Rabu, 11:00 WIB

Disusun oleh Asisten Praktikum Tanggal Praktikum


Nama Praktikan:
NIM:

Lampiran
1.

Pembahasan
Pengukuran suatu daerah merupakan menentukan unsur-unsur jarak dan sudut titik yang
ada pada suatu daerah dalam jumlah yang cukup sehingga suatu daerah dapat digambarkan pada
skala tertentu (Wongsotjitro,1980). Pengukuran sudut dilakukan untuk mendapatkan hubungan
antara titik satu dengan titik yang lain baik mendatar maupun vertikal. Sudut mendatar diukur pada
skala horizontal yang letaknya mendatar sementara sudut vertikal diukur pada skala lingkaran yang
tegaklurus. Peralatan yang digunakan untuk mengukur sudut diantaranya terdapat theodolite,
kompas geologi, kompas survei dan abney level. Pengukuran sudut menggunakan theodolite
dilakukan harus memperhatikan teropong harus benar-benar tegak, sumbu mendatar harus benar
benar mendatar, garis bidik harus tegak lurus dengan sumbu mendatar dan tidak adanya indeks
pada lingkaran kesatu (Wardhana, 2015).
Pengukuran sudut horizontal pada theodolite merupakan hasil sudut metode pembacaan
secara azimuth. Pengukuran sudut dilakukan secara berkelompok agar mempermudah manajemen
dalam pengukuran seperti pembagian tugas mengamati, mencatat dan memayungi alat supaya
theodolite tidak langsung berada dibawah sinar matahari. Hasil pengukuran sudut horizontal metode
azimjuth objek pohon depan gazebo 318°31’17’’; panel 296°18’45’’; lampu taman 47°47’22’’; ujung
KLMB 165°27’38’’; ujung atap gedung D 50°33’49’’, ujung pagar 52°27’06’’; pohon palm 178°24’30’’;
ujung kaktus 97°’16’54’’; ujung gazebo 306°17’39’’; dan ujung biologi 309°37’27’’. Sudut objek
merupakan hasil pengukuran sudut suatu objek satu terhadap objek yang lainnya. Hasil sudut objek
diperoleh dari selisih sudut antara objek satu dengan yang lain. Sketsa sudut objek membantu
memberikan gambaran dalam mengetahui lokasi objek satu terhadap objek yang lain dalam satu
lingkaran penuh.
Hasil pengukuran sudut horizontal metode bearings diperoleh melalui konversi hasil sudut
pengukuran azimuth. Berdasarkan hasil pengukuran letak ke 10 objek tersebar pada 3 kuadran yang
berbeda yaitu diantara N°E, N°W, dan S°E. Tidak terdapat hasil pengukuran objek yang berada
pada kuadran antara arah selatan dan barat. Berbeda dengan sudut metode azimuth, pada
umumnya pembacaan sudut horizontal metode bearings tidak menggunakan unsur menit dan detik
sehingga diperlukan konversi terlebih dahulu.
Pengukuran sudut horizontal juga dilakukan dengan menggunakan alat ukur kompas geologi
dan kompas survei. Pengukuran dilakukan pada dua objek yaitu panel dan ujung atap gedung D
Fakultas Geografi, UGM. Berdasarkan peralatan yang digunakan terdapat perbedaan hasil
pengukuran sudut pada kedua objek. Objek panel dengan kompas geologi 315°, dengan kompas
survei 290°, dan dengan menggunakan theodolite 296°18’45’’. Perbedaan hasil pengukuran sudut
dapat menggambarkan tingkat keakuratan alat yang digunakan. Diantara ketiga alat yang digunakan
yang memiliki tingkat akurasi paling baik adalah theodolite mencapai detik dalam hasil pengukuran
dan sebelum melakukan pengukuran terlebih dahulu dilakukan kalibrasi selain itu theodolite telah
memanfaatkan teknologi yang lebih baik dibandingkan dengan kompas geologi dan kompas survei
yang dalam penggunaanya masih manual.
Theodolite merupakan alat yang paling canggih di antara peralatan yang digunakan dalam
survei. Dasar penggunaan alat berupa sebuah teleskop yang juga dipasang pada piringan kedua
dan dapat diputar mengelilingi sumbu horisontal, sehingga memungkinkan sudut vertikal untuk
dibaca (Najmurrokhman, dkk 2017). Berbeda dengan hasil pengukuran sudut horizontal, hasil
pengukuran sudut vertikal pada theodolite hanya merupakan hasil pembacaan sudut. Untuk
mengetahui sudut vertikal sesungguhnya perlu dihitung kembali menggunakan rumus 90° dikurangi
hasil pembacaan sudut. Hasil sudut vertikal diantaranya objek pohon depan gazebo 0°24’43’’; panel
8°16’14’’; lampu taman 1°41’37’’; ujung KLMB 15°37’03’’; ujung atap gedung D 27°22’02’’, ujung
pagar 2°25’48’’; pohon palm 0°41’14’’; ujung kaktus 8°’13’17’’; ujung gazebo 6°30’57’’; dan ujung
biologi 11°30’12’’.
Perbandingan pengukuran sudut vertikal dilakukan dengan menggunakan theodolite, abney
level dan kompas survei. Objek yang dibandingkan hasil pengukurannya adalah objek panel dan
ujung atap gedung D. Objek panel dengan abney level memiliki sudut vertikal 12°, dengan kompas
survei 10°, dan dengan theodolite 8°16’14’’. Objek ujung atap gedung D dengan abney level 27°,
dengan kompas survei 27°, dan dengan theodolite 27°22’02’’. Hasil pengukuran pada objek ujung
atap D akurat karena tidak terdapat perbedaan hasil pengukuran, hal ini menunjukan bahwa
kesalahan dalam pengukuran sudut tidak hanya disebabkan oleh alat yang digunakan tetapi juga
adanya human error pengamat. Human error pengamat dapat disebabkan karena kesalahan dalam
pembacaan hasil pengukuran, dan kurang mampu menguasai alat yang digunakan. Alat yang
menggunakan dasar magnetik dalam menentukan arah seperti kompas terdapat penyebab khusus
saat ada kesalahan pengukuran sudut yaitu kemungkinan adanya deklanasi magnetik. Deklanasi
magnetik merupakan sudut yang dibentuk oleh kutub utara jarum kompas dengan arah utara dan
selatan geografis. Garis gaya magnet mengalami penyimpangan terhadap arah utara.
Kesalahan kesalahan yang terjadi pada pengukuran sudut menggunakan theodolite
diantaranya akibat kesalahan alat, kesalahan pengukur, kesalahan akibat faktor alam. Kesalahan
alat diantaranya dapat disebabkan oleh garis bidik tidak tegak lurus sumbu mendatar, poros
penyangga magnet tidak sepusat dengan skala lingkaran mendatar. Kesalahan yang disebabkan
oleh faktor alam diantaranya adalah adanya deklinasi magnet dan adanya atraksi lokal. Atraksi lokal
merupakan kesalahan yang mempengaruhi alat yang disebabkan oleh benda didekat peralatan saat
melakukan survei yang merupakan efek dari bahan magnetik.
Kesimpulan
1. Pengukuran sudut horizontal dan vertikal suatu objek di lapangan diukur menggunakan alat
pengukuran sudut berupa theodolite, kompas geologi, kompas survei, dan abney level. Hasil
pengukuran sudut horizontal dapat diketahui langsung sesuai dengan pembacaan sudut pada
alat yaitu pohon depan gazebo 318°31’17’’; panel 296°18’45’’; lampu taman 47°47’22’’; ujung
KLMB 165°27’38’’; ujung atap gedung D 50°33’49’’, ujung pagar 52°27’06’’; pohon palm
178°24’30’’; ujung kaktus 97°’16’54’’; ujung gazebo 306°17’39’’; dan ujung biologi 309°37’27’’.
Pengukuran sudut vertikal dengan alat theodolite perlu menggunakan rumus 90° - sudut
pembacaan untuk mengetahui sudut vertikal objek yaitu objek pohon depan gazebo 0°24’43’’;
panel 8°16’14’’; lampu taman 1°41’37’’; ujung KLMB 15°37’03’’; ujung atap gedung D 27°22’02’’,
ujung pagar 2°25’48’’; pohon palm 0°41’14’’; ujung kaktus 8°’13’17’’; ujung gazebo 6°30’57’’;
dan ujung biologi 11°30’12’’.

2. Perbandingan hasil pengukuran sudut horizontal objek panel dengan kompas geologi adalah
315°; dan objek ujung atap D adalah 55°, sementara hasil pengukuran sudut objek panel
dengan kompas survei adalah 290° dan ujung atap D adalah 44°. Perbandingan hasil
pengukuran sudut vertikal objek panel dengan abney level adalah 12°, dengan kompas survei
adalah 10°. Perbandingan hasil pengukuran sudut vertikal objek ujung atap D dengan abney
level adalah 27°, dengan kompas survei adalah 27°. Hasil perhitungan selisih sudut objek
secara horizontal digunakan untuk menggambarkan sketsa sudut objek untuk mengetahui lokasi
objek satu terhadap objek lain pada satu lingkaran penuh.

Referensi
Najmurrokhman, A., Kusnandar., Wibow, B.H.S.R., dan Annas, A.M. 2017. Perancangan Instrumen
Pengukur Ketinggian Menggunakan Sensor ADXL345 yang Terkoneksi dengan Smartphone
Berbasis Android. https://www.researchgate.net/publication/315484314
Wardhana, Y.P.K. 2015. Pembaruan Peta Dan Sig Fakultas Teknik
Universitas Negeri Semarang. Tugas Akhir. Program Studi Diploma III Teknik Sipil. Universitas Negeri
Semarang
Wongsotjitro, S. 1980. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Kanisius.
Tabel 2.1 Hasil Pengukuran Sudut Horizontal
Sudut Horizontal Sudut Objek
No Objek
Azimuth Bearings

1 Lampu taman 47°47’22’’ N 47.78 E 0°

2 Ujung atap D 50°33’49’’ N 50.45 E 2°51’27’’

3 Ujung pagar 52°27’06’’ N 52.45 E 1°53’23’’

4 Ujung kaktus 97°16’54’’ S 82.72 E 44°49’48’’

5 Ujung KLMB 165°27’38’’ S 14.54 E 68°10’44’’

6 Pohon palm 178°24’30’’ S 1.59 E 12°56’52’’

7 Panel depan masjid 296°18’45’’ N 63.69 W 117°54’15’’

8 Ujung Gazebo 306°17’39’’ N 53.71 W 109°58’54’’

9 Ujung Biologi 309°37’27’’ N 50.38 W 3°19’48’’

10 Pohon depan gazebo 318°31’17’’ N 41.48 W 8°53’50’’

Sumber: Hasil Pengukuran Lapangan

Tabel 2.2 Hasil Pengukuran Sudut Vertikal

Sudut Vertikal
No Objek
Hasil Pembacaan Vertikal

1 Pohon depan gazebo 89°35’17’’ 0°24‘43’’

2 Panel depan masjid 81°43’46’’ 8°16‘14’’

3 Lampu taman 88°18’23’’ 1°41‘37’’

4 Ujung KLMB 74°22’57’’ 15°37‘03’’

5 Ujung atap D 62°37’58’’ 27°22‘02’’

6 Ujung pagar 87°34’12’’ 2°25‘48’’

7 Pohon palm 89°18’46’’ 0°41‘14’’

8 Ujung kaktus 81°46’43’’ 8°13’17’’

9 Ujung Gazebo 83°29’03’’ 6°30’57’’

10 Ujung Biologi 78°29’48’’ 11°30‘12’’

Sumber: Hasil Pengukuran Lapangan


Tabel 2.3 Perbandingan Sudut Horizontal Objek

Alat Ukur Panel depan masjid Ujung atap D

Kompas geologi 315° 55°

Kompas survei 290° 44°

Theodolite 296°18’45’’ 50°33’49

Sumber: Hasil Pengukuran Lapangan

Tabel 2.4 Perbandingan Sudut Vertikal Objek

Alat Ukur Panel depan masjid Ujung atap D

Abney Level 12° 27°

Kompas Survei 10° 27°

Theodolite 8°16‘14’’ 27°22‘02’’


TUGAS

1. Apa yang saudara ketahui tentang deklanasi magnetik?


2. Jelaskan istilah lokal attraction dana pa pula pengaruhnya pada pengukuran sudut horizontal?

Jawaban

1. Deklinasi adalah sudut yang dibentuk oleh arah Utara Bumi dengan arah Utara Magnet. Oleh
karena itu untuk mengetahui deklinasi di suatu wilayah perlu melihat pada peta topografi yang
biasanya selalu ditulis dibagian bawah lembar peta. Bila tidak diketahui deklinasinya pada
wilayah/daerah itu perlu diadakan pengamatan matahari. Jika diketahui pada daerah itu deklinasi
antara Utara Bumi dan Utara Magnet adalah 10° ke arah Timur. Maka apabila alat ini ingin
dijadikan Utara Bumi, angka 0 pada lingkaran datar diputar ke arah Barat, sehingga indeks pin
menunjuk kepada angka 350° (alat ini adalah azimuth Timur).

2. Local attraction adalah kesalahan yang mempengaruhi perangkat atau alat yang disebabkan oleh
benda didekat kompas saat melakukan survei. Efek bahan magnetik benda mempengaruhi kompas
sehingga dapat memperngaruhi hasil pengukuran sudut objek. Local attraction di suatu tempat
dapat diketahui dengan mengamati bearing dari kedua ujung garis di area tersebut. jika bearing
depan dan bearing belakang tepat 180° maka tidak ada local attraction pada kedua ujung garis,
namun apabila nilai perbedaan antara kedua sudut kurang atau lebih dari 180° maka pada salah
satu ujung garis terdapat local attraction.