Anda di halaman 1dari 20

TUTORIAL KLINIK GINEKOLOGI

PELVIC INFLAMATORY DISEASE

Dosen Pembimbing
dr. Trianto Susetyo, Sp.OG

Disusun Oleh
Daniel Derian Chrisandi
42170135

KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KESEHATAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA

YOGYAKARTA

2018
BAB I
DATA KASUS

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. SW
Nomor Rekam Medis : 01-18-xx-xx
Tanggal Lahir : 14 Mei 1968
Umur : 50 tahun
Alamat : Kasongan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status Perkawinan : Menikah
Tanggal Periksa : 23 Oktober 2018

1.2 ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan di bangsal Poliklinik Obgyn pada hari Selasa, 23 Oktober 2018 pukul
10.30 WIB
1. Keluhan Utama
Nyeri perut bawah
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien usia 50 tahun, P2A0 datang ke poli obsgyn RS Bethesda pukul 10.30 WIB dengan
nyeri perut bawah sejak tanggal 6 Oktober 2018. Nyeri perut yang dirasakan disertai dengan
perut yang bertambah membesar, terasa keras dan demam. Pasien tidak mengeluh adanya
mual, muntah, keputihan maupun flek. BAB dan BAK dalam batas normal. Nafsu makan
baik dan tidak penurunan berat badan.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
 Keluhan serupa : (-)
 Asma : (+)
 Hipertensi : (+), sejak 2014
 Diabetes Mellitus : (-)
 Penyakit Jantung : (-)
 Kista : (-)
 Tumor : (-)
 Alergi : (-)
4. Riwayat Operasi :
Disangkal
5. Riwayat Pemakaian Obat
Pasien mengkonsumso obat untuk asma yaitu Salbutamol dan oabt untuk hipertensi yaitu
Valesco
6. Riwayat Menstruasi:
 Usia menarche : 15 tahun
 Lama haid : 5 hari
 Jumlah darah : Normal (4 kali ganti pembalut dalam satu hari)
 Siklus haid : Teratur
 Jarak antar haid : 28 hari
 Nyeri haid : (-)
 Keputihan : (-)
7. Riwayat Perkawinan:
 Menikah : 1x
 Menikah saat usia : 25 tahun
 Lama pernikahan : 25
8. Riwayat Kehamilan:
 P2 A0
N Tahun Jenis Cara Penolon Jenis BB Hidu Penyulit
O Persalina Persalina Persalina g Kelami (gram p /
n n n n ) Mati
1 1995 Aterm Spontan Bidan L 3800 H
2 2000 Aterm Spontan Bidan P 3500 H
9. Riwayat KB
IUD sejak 2010 hingga 2018
10. Riwayat Ginekologi
Kista ovari : (-)
Mioma uteri : (-)
Endometriosis : (-)
Infertilitas : (-)
Infeksi virus : (-)
Tumor / Ca : (-)
11. Riwayat Penyakit Keluarga:
Kista : (-)
DM : (-)
Hipertensi : (+)
Asma : (-)
Alergi : (-)
Jantung : (-)
Stroke : (-)
12. Gaya Hidup
 Pasien seorang ibu rumah tangga, aktivitas sehari-hari pasien mengurus pekerjaan rumah
(memasak, mencuci baju, dll)
 Makan rutin 3 kali sehari terdiri dari nasi, tahu, tempe, ayam, buah dan sayur, air putih
2-3 liter sehari
 Aktivitas olahraga pasien jalan pagi ± 15 menit 2 kali sehari

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan di Poliklinik Obsgyn pada tanggal 23 Oktober 2018 pukul 11.00
WIB.
1. Status Generalis
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. GCS : E4V5M6
d. Skala nyeri :4
e. Tanda Vital
Tekanan darah : 140/100 mmHg
Nadi : 84 kali/menit
Napas : 22 kali/menit
Suhu : 36,5°C
f. Berat badan : 86 kg
g. Tinggi badan : 157 cm
h. IMT : 30

2. Status Lokalis
Kepala : normocephali
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflek pupil isokor, reflek cahaya
(+/+), mata cekung (-)
Leher : limfonodi tidak teraba, nyeri (-), peningkatan JVP (-)
Thorax :
 simetris, retraksi dinding dada (-), perkusi sonor, vesikuler (+/+), ronkhi (-/-),
wheezing (-/-)
 S1/S2 normal tidak ada suara tambahan, bising jantung (-)
Abdomen :
 Inspeksi : jejas (-), bekas luka operasi (-), tanda peradangan (-), massa (-)
 Auskultasi : peristaltik usus (+) 4-5x/menit
 Perkusi : timpani
 Palpasi : dinding perut bawah tegang, nyeri tekan (+), massa (-)
Ekstremitas : akral hangat, CRT <2 detik, edema (-),
3. Status Pemeriksaan Obstetrical
Pemeriksaan leopold
 Leopold I : tidak dilakukan
 Leopold II : tidak dilakukan
 Leopold III : tidak dilakukan
 Leopold IV : tidak dilakukan
 TFU : tidak dilakukan
4. Status Pemeriksaan Ginekologi
 Genitalia eksterna : v/v fluor (-), flux (-)
 VT : teraba korpus uteri sebesar telur bebek, massa (-), nyeri tekan uterus (+), nyeri
tekan adneksa (+), Nyeri goyang portio (+), darah (-)

1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


- USG
Tuba menebal tanpa cairan bebas di panggul
Kesan : Pelvic Inflamatory Disease

1.5 DIAGNOSIS
Diagnosis utama : Pelvic Inflamatory Disease
Diagnosis tambahan : hipertensi, Asma
Diagnosis banding : kista ovarium, Endometriosis, TOA

1.6 PENATALAKSANAAN
Medikamentosa : Celocid 500 mg 2X1
Zemyc 150 mg 1x1
Ketesse 25 mg 2x1
1.7 PROGNOSIS
Quo Ad Visam: dubia ad bonam
Quo Ad Sanam : dubia ad bonam
Quo Ad fungionam : dubia ad bonam
Quo Ad Vitam : dubia ad bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Pelvic Inflammatory Disease (PID) atau Penyakit Radang Panggul (PRP) adalah penyakit
infeksi pada alat reproduksi wanita bagian atas (endometrium, tuba fallopi, ovarium, atau
peritoneum pelvis). Penyakit Radang Panggul (PRP) merupakan infeksi genitalia wanita yang
menggambarkan keadaan atau kondisi dimana organ pelvis (uterus, tuba/ovarium) diserang oleh
mikroorganisme patogen, biasanya bakteri yang multiplikasi dan menghasilkan suatu reaksi
peradangan.
PRP merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular Seksual (PMS) yang termasuk
di dalamnya endometritis, salpingitis, tuba-ovarian abses, dan peritonitis. Penyakit tersebut
menginfeksi saluran reproduksi bagian atas, termasuk uterus, tuba fallopi, dan struktur penunjang
pelvis. PID meliputi infeksi ascending dari saluran genital bawah ke atas

Epidemiologi
Dari tahun 1995 sampai 2001, 769.859 kasus PID dilaporkan di Amerika Serikat setiap
tahunnya. Kejadian sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi; Kasus kemungkinan tidak dilaporkan
sebagai konsekuensi metode pelaporan nonelektronik konvensional yang tidak lengkap dan tidak
tepat waktu dan karena banyak kasus PID yang senyap dan membara terjadi dan hanya
ditemukan saat komplikasi kronis berkembang.
CDC memperkirakan bahwa lebih dari 1 juta wanita mengalami episode PID setiap
tahun. Penyakit ini menyebabkan sekitar 2,5 juta kunjungan kantor dan 125.000-150.000 rawat
inap setiap tahun
Tidak ada data internasional khusus yang tersedia untuk kejadian PID di seluruh dunia.
Namun, pada tahun 2005, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekitar
448 juta kasus baru IMS yang dapat disembuhkan terjadi setiap tahun pada individu berusia 15-
49 tahun. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap sulitnya menentukan kejadian di seluruh
dunia aktual dan prevalensi PID meliputi hal berikut :
a) Tidak dikenalinya penyakit pada bagian pasien
b) Kesulitan mendapatkan akses terhadap perawatan
c) Metode diagnosis penyakit yang sering subjektif
d) Kurangnya diagnosa dan fasilitas laboratorium di banyak negara berkembang
e) Sistem kesehatan masyarakat yang kurang dana dan berlebih

Di seluruh dunia, WHO telah menetapkan bahwa peringkat IMS dalam 5 kategori penyakit
teratas di mana orang dewasa mencari perawatan. Perempuan di negara-negara miskin sumber
daya, terutama di sub-Sahara Afrika dan Asia Tenggara, mengalami peningkatan tingkat
komplikasi dan gejala sisa.
Tingkat PID tahunan di negara-negara berpenghasilan tinggi dilaporkan mencapai 10-20
per 1000 wanita usia subur. Upaya kesehatan masyarakat yang diterapkan di Skandinavia untuk
menurunkan prevalensi IMS cukup efektif dalam mengurangi kejadian PID.

Etiologi
Organisme yang paling sering diisolasi pada kasus PID akut adalah N gonorrhoeae dan C
trachomatis. C trachomatis adalah patogen bakteri intraselular dan organisme menular seksual
terdepan yang menyebabkan PID.
Di Amerika Serikat, N gonorrhoeae bukan lagi organisme primer yang terkait dengan PID,
namun gonore tetap merupakan penyakit menular seksual paling sering dilaporkan kedua, setelah
infeksi klamidia. Secara klinis, infeksi gonore mungkin asimtomatik atau dapat terjadi serupa
dengan infeksi klamidia; Namun, lebih sering menghasilkan penyakit simtomatik yang lebih
akut. Diperkirakan 10-20% infeksi klamidia atau infeksi gonorral yang tidak diobati berlanjut ke
PID.

Kultur spesimen yang dikumpulkan selama laparoskopi telah menunjukkan bahwa PID adalah
infeksi polimikroba pada sebanyak 30-40% kasus. PID polimikroba dapat dimulai sebagai
infeksi terisolasi dengan N gonorrhoeae atau C trachomatis, yang menyebabkan peradangan pada
saluran genital atas yang memfasilitasi keterlibatan patogen lain (anaerob, anaerob fakultatif, dan
bakteri lainnya). Organisme lain ini semakin terisolasi karena peradangan meningkat dan bentuk
abses.
Selain N gonorrhoeae dan C trachomatis, organisme yang terlibat dalam PID meliputi:
 Gardnerella vaginalis
 Mycoplasma hominis
 Mycoplasma genitalium
 Ureaplasma urealyticum
 Herpes simplex virus 2 (HSV-2)
 Trichomonas vaginalis
 Cytomegalovirus (CMV)
 Haemophilus influenzae
 Streptococcus agalactiae
 Enteric gram-negative rods (eg, Escherichia coli)
 Enterococcus, described in 2 individuals post IUD insertion
 Peptococcus species
 Anaerobes

Faktor risiko penyakit radang panggul adalah :


a) Menderita PMS dan tidak diobati dengan baik
b) Bergonta-ganti pasangan seksual
c) Riwayat menderita radang panggul sebelumnya
d) Pelaku seksual aktif dan berumur 25 tahun atau lebih muda
e) Pengguna IUD
f) Prosedur yang melibatkan organ genital atas (dilatation & curettage (D&C), recent
intrauterine device (IUD) insertion, therapeutic abortion (T/A))

Gambaran Klinis
1) Suhu tinggi disertai takikardi.
2) Nyeri suprasimfisis terasa lebih menonjol dari pada nyeri dikuadran atas abdomen.
3) Bila sudah terjadi iritasi peritoneum, maka akan terjadi “rebound tenderness”, nyeri
tekan, dan kekakuan otot perut sebelah bawah.
4) Tergantung dari berat dan lamanya keradangan, radang panggul dapat pula disertai
gejala ileus paralitik.
5) Dapat disertai metroragi, menoragi.
Patogenesis
Sebagian besar kasus PID diperkirakan terjadi dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah
akuisisi infeksi vagina atau serviks. Infeksi ini sering ditularkan secara seksual dan mungkin
tidak bergejala. Tahap kedua adalah penjalaran langsung mikroorganisme dari vagina atau leher
rahim ke saluran genital atas, dengan infeksi dan pembengkakan struktur ini.
Mekanisme yang digunakan mikroorganisme dari saluran genital bawah tidak jelas. Studi
menunjukkan bahwa beberapa faktor mungkin terlibat. Meskipun lendir serviks memberikan
penghalang fungsional melawan penyebaran ke atas, khasiat penghalang ini dapat dikurangi
dengan peradangan vagina dan dengan perubahan hormon yang terjadi selama ovulasi dan
menstruasi.
Selain itu, pengobatan antibiotik terhadap infeksi menular seksual dapat mengganggu
keseimbangan flora endogen di saluran genital bawah, yang menyebabkan organisme
nonpathogenic cenderung tumbuh dan naik. Pembukaan serviks saat menstruasi, bersamaan
dengan aliran menstruasi yang retrograde, juga dapat memfasilitasi pendakian mikroorganisme.
Hubungan intim dapat menyebabkan penjalaran infeksi melalui kontraksi uterus berirama
yang terjadi selama orgasme. Bakteri juga bisa dibawa bersamaan dengan sperma ke dalam
rahim dan saluran tuba.
Pada saluran bagian atas, sejumlah faktor mikroba dan inang tampaknya mempengaruhi
tingkat peradangan yang terjadi dan, dengan demikian, jumlah jaringan parut berikutnya yang
berkembang. Infeksi tuba fallopi pada awalnya mempengaruhi mukosa, namun peradangan dapat
dengan cepat menjadi transmural. Peradangan ini, yang tampaknya dimediasi oleh pelengkap,
dapat meningkat intensitasnya dengan infeksi berikutnya.
Peradangan bisa meluas ke struktur parametrium yang tidak terinfeksi, termasuk usus.
Infeksi dapat berlanjut melalui tumpahan bahan purulen dari tuba falopi atau melalui penyebaran
limfatik di luar panggul untuk menghasilkan peritonitis akut dan perihepatitis akut (sindrom Fitz-
Hugh-Curtis).
a) Kehamilan
PID jarang terjadi pada kehamilan; Namun, korioamnionitis dapat terjadi pada 12 minggu
pertama masa kehamilan, sebelum sumbat mukus mengeras dan menutup rahim dari
bakteri yang naik. Kehilangan janin bisa terjadi. Kehamilan bersamaan mempengaruhi
pilihan terapi antibiotik untuk PID dan menuntut agar diagnosis alternatif kehamilan
ektopik dikeluarkan. Infeksi uterus biasanya terbatas pada endometrium tapi mungkin
lebih invasif pada uterus gravid atau postpartum.

b) Faktor genetik
Variasi respons imun yang dimediasi secara genetik memainkan peran penting dalam
kerentanan terhadap PID. Varian pada gen yang mengatur reseptor seperti toleran (TLRs),
komponen penting dalam sistem kekebalan bawaan, dikaitkan dengan peningkatan
infeksi C trachomatis ke PID. Den Hartog dkk menemukan peran penyumbang 5
polimorfisme nukleosida tunggal (SNPs) dalam 4 gen yang mengkodekan reseptor
pengenalan pola pada sel tuba lokal dan sel kekebalan yang bersirkulasi (misalnya
makrofag). Kehadiran 2 atau lebih SNP tampaknya berkorelasi dengan patologi tuba yang
mengalami laparoskopi.

Diagnosis
PID sulit untuk mendiagnosis karena gejalanya sering halus dan ringan. Banyak episode
PID tidak terdeteksi karena wanita atau penyedia layanan kesehatan dia gagal untuk mengenali
implikasi dari gejala-gejala ringan atau spesifik. Karena tidak ada tes yang tepat untuk PID,
diagnosis biasanya berdasarkan temuan klinis. Jika gejala seperti sakit perut bagian bawah hadir,
penyedia layanan kesehatan harus melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan sifat dan
lokasi rasa sakit dan memeriksa demam, cairan vagina atau leher rahim normal, dan untuk bukti
infeksi gonorrheal atau klamidia. Jika temuan menunjukkan PID, pengobatan diperlukan.
Penyedia layanan kesehatan juga dapat memerintahkan tes untuk mengidentifikasi
organisme penyebab infeksi (misalnya, infeksi klamidia atau gonorrheal) atau untuk
membedakan antara PID dan masalah lain dengan gejala yang sama.
USG panggul adalah prosedur membantu untuk mendiagnosa PID. USG dapat melihat
daerah panggul untuk melihat apakah saluran tuba yang diperbesar atau apakah abses hadir.
Dalam beberapa kasus, laparoskopi mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasikan diagnosis.
laparoskopi adalah prosedur pembedahan di mana suatu tabung, tipis kaku dengan ujung
menyala dan kamera (laparoskop) dimasukkan melalui sayatan kecil di perut. Prosedur ini
memungkinkan dokter untuk melihat organ panggul internal dan untuk mengambil spesimen
untuk penelitian laboratorium, jika diperlukan.
Diagnosis radang panggul berdasarkan kriteria dari “Infectious Disease Society for
Obstetrics & Gynecology” ialah :
a. Ketiga gejala klinik dibawah ini harus ada :
1) Nyeri tekan pada abdomen, dengan atau tanpa rebound.
2) Nyeri bila servik uteri digerakkan.
3) Nyeri pada adneksa.
b. Bersamaan dengan satu atau lebih tanda-tanda dibawah ini :
1) Negatif gram diplokok pada secret endoserviks.
2) Suhu diatas 38º C.
3) Lekositosis lebih dari 10.000 per mm³.
4) Adanya pus dalam kavum peritonei yang didapat dengan kuldosentesis maupun
laparaskopi.
5) Adanya abses pelvic dengan pemeriksaan bimanual maupun USG.

Sejumlah prosedur dapat dilakukan untuk memperbaiki diagnosis penyakit radang panggul
(PID) dan komplikasinya. Prosedur ini tidak diperlukan, juga tidak ditunjukkan, dalam
pengelolaan setiap kasus PID. Namun, karena sulitnya diagnosis klinis definitif dan jumlah
keadaan darurat bedah dan ginekologi yang mungkin memiliki presentasi serupa, klinisi harus
menyadari adanya modalitas ini.
Prosedur yang mungkin sesuai untuk beberapa pasien, bersamaan dengan temuan yang sesuai
untuk PID, adalah sebagai berikut:
 Konfirmasi laparoskopi
 Pemindaian ultrasonografi transvaginal atau magnetic resonance imaging (MRI)
menunjukkan tabung menebal dan berisi cairan dengan atau tanpa cairan pelvis bebas
atau abses tubo-ovarium (TOA)
 Biopsi endometrium menunjukkan endometritis
Laparoskopi adalah standar kriteria untuk diagnosis PID, namun diagnosis PID di
departemen gawat darurat dan klinik sering didasarkan pada kriteria klinis, dengan atau tanpa
bukti laboratorium dan pencitraan tambahan. Tidak ada tes tunggal yang sangat spesifik dan
sensitif untuk PID, namun tes laboratorium, studi pencitraan, dan prosedur dapat digunakan
untuk meningkatkan spesifisitas diagnosis.
Kriteria tambahan yang memperbaiki spesifisitas diagnostik meliputi:
 Suhu mulut lebih tinggi dari 38,3 ° C (101 ° F)
 Pelepasan mucopurulen serviks atau vagina abnormal
 Sel darah putih berlebih (sel darah putih) pada mikroskop garam dari cairan vagina
 Peningkatan laju sedimentasi eritrosit (ESR)
 Peningkatan kadar protein C-reaktif (CRP)
 Bukti laboratorium infeksi serviks dengan N gonorrhoeae atau C trachomatis (via culture
or DNA probe)
Selain itu, mendapatkan sampel dari uretra pada wanita dengan dugaan PID dapat meningkatkan
hasil diagnostik untuk infeksi gonore dan klamidia. Langkah ini direkomendasikan hanya jika tes
amplifikasi asam nukleat yang lebih sensitif (NAAT) tidak tersedia.

Berdasarkan rekomendasi “Infectious Disease Society for Obstetrics & Gynecology”, USA,
Hager membagi derajat radang panggul menjadi :
Derajat I : Radang panggul tanpa penyulit (terbatas pada tuba dan ovarium ), dengan atau
tanpa pelvio – peritonitis.
Derajat II : Radang panggul dengan penyulit (didapatkan masa radang, atau abses pada kedua
tuba ovarium) dengan atau tanpa pelvio – peritonitis.
Derajat III : Radang panggul dengan penyebaran diluar organ-organ pelvik, misal adanya
abses tubo ovarial.
.
Komplikasi
Penyulit radang panggul dapat dibagi :
1. Penyulit segera.
Penyulit segera pada radang panggul ialah : pembentukan abses dan peritonitis,
perhepatitis (“Fitz-hugh Curth Syndrome”) dan sakrolitis.
2. Penyulit jangka panjang.
Penyulit jangka panjang adalah akibat kerusakan morfologik genitalia interna bagian atas
yaitu berupa :
a. Infeksi berulang.
Radang panggul yang timbul kembali setelah 6 minggu pengobatan terakhir. Wanita yang
pernah mengalami radang panggul mempunyai resiko 6-10 kali timbulnya episode radang
panggul.
1. Infertilitas.
2. Kehamilan ektopik.
3. Nyeri pelvic kronik.

PID dapat menyebabkan abses tubo-ovarium (TOA) dan dapat berlanjut ke peritonitis dan sindrom Fitz-Hugh-
Curtis. komplikasi ini jarang terjadi namun mengancam jiwa dari ruptur akut TOA dapat menyebabkan peritonitis
menyebar dan memerlukan operasi abdomen mendesak ("Violin-string" adhesions of chronic Fitz-Hugh-Curtis
syndrome)

Tatalaksana
Pengobatan penyakit radang panggul (PID) membahas kelegaan gejala akut,
pemberantasan infeksi saat ini, dan minimisasi risiko sekuele jangka panjang. Sekuele ini,
termasuk nyeri panggul kronis, kehamilan ektopik, infertilitas faktor tuba (TFI), dan kegagalan
implantasi dengan usaha fertilisasi in vitro, dapat terjadi pada sebanyak 25% pasien.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, pengobatan ditujukan untuk pemberantasan infeksi
segera guna mengurangi risiko penularan infeksi ke pasangan seksual baru. Selain itu,
identifikasi dan pengobatan pasangan saat ini dan baru-baru ini ditunjukkan untuk pengurangan
lebih lanjut infeksi menular seksual (IMS). Diagnosis dan pengobatan dini tampak kritis dalam
menjaga kesuburan. Pedoman saat ini menunjukkan bahwa perawatan empiris harus dimulai
pada wanita berisiko yang memiliki nyeri perut bagian bawah, nyeri tekan adneksa, dan nyeri
tekan serviks.
Mengingat kesulitan diagnostik dan potensi sekuel yang serius, Centers for Disease
Control and Prevention (CDC) menyarankan agar dokter mempertahankan ambang rendah untuk
perawatan pasien agresif, dengan overtreatment lebih diutamakan untuk tidak atau menunda
pengobatan. Terapi dengan antibiotik saja berhasil pada 33-75% kasus. Jika perawatan bedah
diperlukan, kecenderungan saat ini adalah terhadap konservasi potensi reproduksi dengan
drainase sederhana, adhesiolisis, dan irigasi berlebihan atau adneksektomi unilateral, jika
memungkinkan. Terapi bedah lebih lanjut diperlukan dalam 15-20% kasus sehingga berhasil.
Sebagian besar pasien dengan PID dikelola sebagai pasien rawat jalan, dan data yang
tersedia tidak secara jelas menunjukkan bahwa pasien mendapat manfaat dari perawatan di
rumah sakit. Namun, rawat inap harus dipertimbangkan untuk pasien dengan kondisi sebagai
berikut:
 Diagnosis tidak pasti
 Abses panggul pada pemindaian ultrasonografi
 Kehamilan
 Ketidakmampuan untuk mentolerir rejimen antibiotik oral rawat jalan
 Sakit parah
 Immunodeficiency (misalnya, pasien dengan infeksi HIV yang memiliki jumlah CD4
rendah atau pasien yang menggunakan obat imunosupresif)
 Kegagalan untuk memperbaiki secara klinis setelah 72 jam terapi rawat jalan

Di seluruh dunia, lebih dari 90% Odha dengan PID diperlakukan sebagai pasien rawat
jalan. Sebuah studi di Nairobi 2006, dengan penyidik membutakan status HIV pasien,
menunjukkan bahwa perempuan yang terinfeksi HIV cenderung memiliki PID berat dan bahwa
peningkatan klinis pada PID membutuhkan waktu lebih lama pada perempuan terinfeksi HIV,
terlepas dari jumlah CD4 mereka; Namun, tidak ada perubahan dalam rejimen antibiotik.
Sebagian besar pasien menunjukkan respons klinis dalam 48-72 jam setelah memulai terapi
medis. Jika pasien terus mengalami demam, menggigil, nyeri tekan rahim, nyeri tekan adneksa,
dan nyeri tekan serviks, pertimbangkan kemungkinan penyebab lain dan pertimbangkan untuk
melakukan laparoskopi diagnostik.
Rumah sakit yang menerima pasien terinfeksi HIV dan remaja harus ditinjau secara
individual. Keputusan penerimaan didasarkan pada faktor-faktor berikut:
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah menggariskan rejimen
antibiotik untuk perawatan rawat jalan dan rawat inap pada PID. Untuk perawatan rawat jalan,
CDC mendaftar 2 rejimen pengobatan yang saat ini diterima, diberi label sebagai A dan B.
Regimen A terdiri dari:
 Ceftriaxone 250 mg intramuskular (IM) sekali sebagai dosis tunggal plus
 Doxycycline 100 mg per oral dua kali sehari selama 14 hari
 Metronidazol 500 mg per oral dua kali sehari selama 14 hari dapat ditambahkan jika ada
bukti atau kecurigaan adanya vaginitis atau jika pasien menjalani terapi ginekologi pada
2-3 minggu sebelumnya.

Regimen B terdiri dari:


 Cefoxitin 2 g IM sekali sebagai dosis tunggal bersamaan dengan probenesid 1 g secara
oral dalam dosis tunggal, atau satu generasi parenteral generasi ketiga lainnya
sefalosporin (misalnya, ceftizoxime atau sefotaksim) plus
 Doxycycline 100 mg per oral dua kali sehari selama 14 hari
 Metronidazol 500 mg per oral dua kali sehari selama 14 hari dapat ditambahkan jika ada
bukti atau kecurigaan adanya vaginitis atau jika pasien menjalani terapi ginekologi pada
2-3 minggu sebelumnya.

Untuk perawatan rawat inap PID, CDC juga mencantumkan 2 rejimen pengobatan yang saat ini
diterima, sekali lagi diberi label sebagai A dan B.
Regimen A terdiri dari:
 Cefoxitin 2 g IV setiap 6 jam atau cefotetan 2 g IV setiap 12 jam plus
 Doxycycline 100 mg oral atau IV setiap 12 jam

Regimen ini dilanjutkan selama 24 jam setelah pasien tetap membaik secara klinis, setelah itu
doksisiklin 100 mg diberikan secara oral sebanyak dua kali sehari selama 14 hari. Jika TOA
hadir, klindamisin atau metronidazol digunakan dengan doksisiklin untuk cakupan anaerobik
yang lebih efektif.
Regimen B terdiri dari:
 Clindamycin 900 mg IV setiap 8 jam plus
 Gentamicin IV dalam dosis pemuatan 2 mg / kg, diikuti dengan dosis perawatan 1,5 mg /
kg q8h
 Terapi IV dapat dihentikan 24 jam setelah pasien membaik secara klinis, dan terapi oral
dengan doksisiklin 100 mg dua kali sehari harus dilanjutkan hingga total 14 hari. Jika
TOA hadir, klindamisin atau metronidazol dapat digunakan dengan doksisiklin untuk
cakupan anaerobik yang lebih efektif.
 Regimen parenteral alternatif adalah ampicillin-sulbactam 3 g IV setiap 6 jam bersamaan
dengan doksisiklin 100 mg oral atau IV setiap 12 jam.

Catatan tambahan :
Oral doksisiklin memiliki bioavailabilitas yang sama seperti bentuk IV dan menghindari
infus yang menyakitkan dan sklerosis vena yang terkait dengan yang terakhir. Dosis Gentamicin
setiap 24 jam. Sefalosporin generasi ketiga lainnya dapat diganti dengan cefoxitin dan
ceftriaxone.
Bagi individu yang alergi terhadap sefalosporin, spectinomycin direkomendasikan di Eropa
dan Kanada; Namun, agen ini saat ini tidak tersedia di Amerika Serikat. Dosis azitromisin 2-g
juga dapat digunakan pada pasien ini, namun tidak dianjurkan secara rutin, karena kekhawatiran
tentang perkembangan resistensi yang cepat terhadap antibiotik ini dan tentang intoleransi
potensial dari dosis ini. Untuk informasi lebih lanjut, lihat situs Web Gonorrhea Antibiotik-
Tangguh CDC dan Infeksi Gonococcal.
Pada bulan April 2007, CDC berhenti merekomendasikan antibiotik fluoroquinolone untuk
pengobatan gonore di Amerika Serikat. Perubahan ini didasarkan pada analisis data dari
Surveilans Surveilans Gonococcal Isolate Project (GISP), yang menunjukkan bahwa prevalensi
kasus gonore ganas fluoroquinolone pada laki-laki heteroseksual telah mencapai 6,7%,
peningkatan 11 kali lipat dari 0,6% pada Fluoroquinolones dapat menjadi pilihan pengobatan
untuk infeksi gonokokus diseminata jika kerentanan antimikroba dapat didokumentasikan.
Dengan fluoroquinolones tidak lagi dianjurkan, obat yang direkomendasikan untuk
pengobatan gonore terbatas pada sefalosporin. Namun, resistensi gonococcal terhadap
sefalosporin juga meningkat di Amerika Serikat. Data GISP menunjukkan bahwa dari tahun 2000
sampai 2010, persentase isolat dengan konsentrasi hambat minimum meningkat dari 0,2%
menjadi 1,4% untuk sefiksim dan dari 0,1% menjadi 0,3% untuk ceftriaxone.
Akibatnya, CDC tidak lagi merekomendasikan penggunaan sefalosporin oral untuk infeksi
gonokokus. Untuk pengobatan gonore urogenital, anorektal, dan gonore pharyngeal yang tidak
rumit, CDC merekomendasikan dosis tunggal ceftriaxone 250 mg bersamaan dengan satu dosis
oral azitromisin 1 g atau pemberian oral doksisiklin 100 mg selama sehari selama 7 hari.
Jika ceftriaxone tidak tersedia, sefiksim 400 mg dapat diberikan secara oral dalam kombinasi
dengan azitromisin atau doksisiklin; Jika ceftriaxone tidak dapat diberikan karena alergi berat,
azitromisin 2 g dapat diberikan secara oral dalam dosis tunggal. Namun, pasien yang diobati
dengan salah satu rejimen alternatif ini harus kembali 1 minggu setelah perawatan untuk tes
penyembuhan.

Diagnosis Banding
 Adnexal Tumors
 Appendicitis
 Ectopic Pregnancy
 Endometriosis
 Interstitial Cystitis
 Ovarian Cysts
 Ovarian Torsion
BAB III
KESIMPULAN

Penyakit Radang Panggul (PRP) adalah penyakit infeksi pada alat reproduksi wanita bagian atas
(endometrium, tuba fallopi, ovarium, atau peritoneum pelvis). Penyakit Radang Panggul (PRP)
merupakan infeksi genitalia wanita yang menggambarkan keadaan atau kondisi dimana organ
pelvis (uterus, tuba/ovarium) diserang oleh mikroorganisme patogen, biasanya bakteri yang
multiplikasi dan menghasilkan suatu reaksi peradangan. Sebagian besar kasus PID diperkirakan
terjadi dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah akuisisi infeksi vagina atau serviks dan tahap kedua
adalah penjalaran langsung mikroorganisme dari vagina atau leher rahim ke saluran genital atas.
PID dapat didiagnosa dari gejala klinis seperti nyeri tekan pada abdomen, dengan atau tanpa
rebound,nyeri bila servik uteri digerakkan, nyeri pada adneksa dikonfirmasi dengan pemeriksaan
penunjang seperti USG, laparotomy, MRI, biopsy endometrium. Tatalaksana PID meliputi
tatalaksana empiris dan pembedahan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono Prawirohardjo, Prof, dr, DSOG dan Hanifa Wiknjosastro, Prof, dr, DSOG; Ilmu

Kandungan, YBP-SP,Edisi ke dua, estacan ke tiga, FKUI, Yakarta; 1999, Hal 271 -27-2.
2. Robbins L., M.D; Buku Ajar Patologi II, Edisi ke empat, cetakan pertama. Penerbit Buku

Kedokteran EGC,Jakarta; 1995, Hal. 372-377.3.


3. Djuanda Adhi, Prof. DR. Hamzah Mochtar, Dr. Aisah Siti,DR ; Ilmu Penyakit Kulit dan

Kelamin, Edisi ke tiga,cetakan pertama, FKUI, Jakarta ; 1987, Hal. 103-106, 358-364.4.
4. Winkosastro Hanifa, Prof, dr, DSOG ; Ilmu Kebidanan YBP-SP, Edisi ketiga, cetakan ke

enam, FKUI,Jakarta ; 2002. Hal:406-410.5.


5. Cuningham, Macdonald Gant : William Obstetri, Edisi 18, EGC, Jakarta; 1995, Hal:

1051-1057.6.

6. Patton DL, Wolner-Hanssen P, Zeng W, Lampe M, Wong K, Stamm WE, et al. The role
of spermatozoa in the pathogenesis of Chlamydia trachomatis salpingitis in a primate
model. Sex Transm Dis. 1993 Jul-Aug. 20(4):214-9. [Medline].

7. Paavonen J. Chlamydia trachomatis infections of the female genital tract: state of the
art. Ann Med. 2012 Feb. 44(1):18-28. [Medline].

8. Taylor BD, Darville T, Ferrell RE, Kammerer CM, Ness RB, Haggerty CL. Variants in
toll-like receptor 1 and 4 genes are associated with Chlamydia trachomatis among women
with pelvic inflammatory disease. J Infect Dis. 2012 Feb 15. 205(4):603-
9. [Medline]. [Full Text].

9. den Hartog JE, Ouburg S, Land JA, et al. Do host genetic traits in the bacterial sensing
system play a role in the development of Chlamydia trachomatis-associated tubal
pathology in subfertile women?. BMC Infect Dis. Jul 21 2006. 6:122.

10. [Guideline] Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Management of


acute pelvic inflammatory disease. London (UK): Royal College of Obstetricians and
Gynaecologists (RCOG).; 2008 Nov. [Full Text].

11. Herzog SA, Althaus CL, Heijne JC, Oakeshott P, Kerry S, Hay P, et al. Timing of
progression from Chlamydia trachomatis infection to pelvic inflammatory disease: a
mathematical modelling study. BMC Infect Dis. 2012 Aug 11. 12:187. [Medline]. [Full
Text].
12. Hillis SD, Wasserheit JN. Screening for chlamydia--a key to the prevention of pelvic
inflammatory disease. N Engl J Med. 1996 May 23. 334(21):1399-401. [Medline].

13. Hook EW, Handsfield HH. Gonococcal infections in the adult. Holmes KK, Sparling PF,
Stamm WE, et al. eds. Sexually Transmitted Diseases. 4th edition. New York: McGraw
Hill, Inc; 2008. 627-645.

14. Mylonas I. Female genital Chlamydia trachomatis infection: where are we


heading?. Arch Gynecol Obstet. 2012 May. 285(5):1271-85. [Medline].

15. Ross JD. Is Mycoplasma genitalium a cause of pelvic inflammatory disease?. Infect Dis
Clin North Am. 2005 Jun. 19(2):407-13. [Medline].

16. Bjartling C, Osser S, Persson K. Mycoplasma genitalium in cervicitis and pelvic


inflammatory disease among women at a gynecologic outpatient service. Am J Obstet
Gynecol. 2012 Jun. 206(6):476.e1-8. [Medline].

17. Bravender T, Matson SC. Adolescents, IUDs, PID, and Enterococcus: a report of two
cases. J Pediatr Adolesc Gynecol. 2012 Jun. 25(3):e73-4. [Medline].

18. Avan BI, Fatmi Z, Rashid S. Comparison of clinical and laparascopic features of infertile
women suffering from genital tuberculosis (TB) or pelvic inflammatory disease (PID) or
endometriosis. J Pak Med Assoc. 2001 Nov. 51(11):393-9. [Medline].

19. Cherpes TL, Wiesenfeld HC, Melan MA, Kent JA, et al. The associations between pelvic
inflammatory disease, Trichomonas vaginalis infection, and positive herpes simplex virus
type 2 serology. Sex Transm Dis. 2006. 33:747-52.

20. Jarvis GA, Chang TL. Modulation of HIV transmission by Neisseria g