Anda di halaman 1dari 2

Bagaimana Temple Grandin menemukan invensinya?

Ketertarikan Grandin terhadap dunia hewan dimulai dari masa remajanya. Dahulu, Grandin
tinggal selama liburan musim panas di rumah bibinya yang memiliki peternakan sapi. Selama
berada di rumah bibinya, banyak kejadian yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan Grandin.
Autisme membuat Grandin menjadi seseorang yang sangat sensitif terhadap suara terutama
kebisingan. Di peternakan tersebut, Grandin menemukan sebuah alat yang digunakan peternak
untuk menenangkan sapi yang akan diimunisasi. Alat ini kemudian menarik perhatian Grandin
karena ia menganggap alat ini juga dapat membuatnya menjadi lebih tenang. Ia kemudian
membuat alat versinya sendiri di rumah. Alat buatan Grandin ini digunakan untuk terapi autisme
sampai sekarang.

Liburan musim panas di rumah bibinya juga memberikan inspirasi lain untuk Grandin.
Waktu demi waktu yang dilewatinya di perternakan bibi membuatnya menyimpulkan bahwa
hewan dan orang-orang dengan autisme memiliki keterkaitan. Menurut Grandin, hewan dan orang
dengan autisme memiliki sebuah kesamaan, yaitu mengandalkan penglihatan untuk berhubungan
dengan dunianya. Di saat ia menjadi editor untuk Arizona Farmer Ranchman, Grandin untuk
pertama kalinya menyaksikan pemotongan sapi secara langsung. Saat melihat proses ini, Grandin
menyadari bahwa ada kecemasan dan stres yang dialami oleh sapi ketika dihadapkan dengan hal-
hal visual tertentu. Grandin kemudian berusaha untuk mengurangi kecemasan dan stres yang
dilihatnya dengan mendesain sebuah alat. Sebuah perusahaan industri kemudian menawarkan
untuk membantunya mendesain alat tersebut.

Apa pesan moral dan inspirasi yang anda dapat petik dari film tersebut?
Temple Grandin mengajarkan untuk memahami diri sendiri. Dimana saat kita lihat bahwa
dia adalah orang yang tau bahwa dirinya menderita autism tapi dengan kemudian dia menciptakan
alat yang membuat dirinya tenang. Banyak penolakan yang dialami Temple tapi tidak pernah
menurunkan niat baiknya. Keadaan autisnya membuat dia menjadi lebih peka terutama dalam hal
pendengaran dan visual. Sehingga dia mempunyai sadar pada lingkungan lebih tinggi. Saat dia
berusaha untuk menyelesaikan studi masternya terkait untuk pembuatan gangway dan dipping
untuk peternakan sapi. Sebelumnya Temple sangat prihatin akan kejadian banyaknya sapi yang
diperlakukan tidak baik bahkan sampai mati. Temple juga mengajarkan untuk tidak cepat
menyerah dan selalu mencari celah untuk bisa mewujudkan mimpi. Karena dia selalu ditolak oleh
lingkungannya dari semasa sekolah dasar bahkan sampai pascasarjana Tidak lupa bahwa Temple
orang yang sangat mementingkan keluarga dan rekan yang telah mendukungnya selama ini. Mulai
dari guru sainsnya saat SMA, teman diasrama yang tunanetra dan yang paling penting ibunya.
Dipuncak kesuksesannya Temple Gradin mengundang untuk bertemu dengan teman lamanya
semasa kuliah sarjana seorang wanita tuna netra yang juga berperan memotivasi. saat itu Temple
Gradin menyampaikan bahwa ingin selalu dekat dengan Tuhan melalui hasil karyanya.