Anda di halaman 1dari 9

BAB 10 - Estimasi Akuntansi

A. Tinjauan umum
Tujuan audit estimasi adalah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat mengenai apakah:
a) Estimasi akuntansi, termasuk estimasi akuntansi dengan nilai wajar dalam laporan keuangan,
yang diakui atau yang diungkapkan, adalah wajar, dan
b) Disclosures (yang berkaitan dengan estimasi akuntansi) dalam laporan keuangan (sudah)
cukup, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
Pengukuran estimasi akuntansi bisa berbeda-beda tergantung ketentuan yang ditetapkan dalam
kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dan item dalam laporan keuangan. Tujuan
pengukuran dari suatu estimasi bisa untuk:
 Membuat perkiraan atau forecast mengenai outcome satu atau lebih transaksi, peristiwa, atau
kondisi yang menyebabkan estimasi akuntansi perlu dibuat; atau
 Menentukan nilai dari transaksi berjalan atau item laporan keuangan berdasarkan kondisi
yang ada pada tanggal pengukuran, seperti taksiran harga pasar (estimated market price) dari
suatu jenis aset atau kewajiban tertentu. Ini dapat meliputi pengukuran nilai wajar (fair value
measurements)
Risiko salah saji yang material karena estimasi sering kali didasarkan pada tingkat ketidakpastian
estimasi (estimation uncertainty) dalam membuat estimasi. Beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan:
Tingkat Ketidakpastian Estimasi
Tingkat ketidakpastian rendah (RMM rendah) Tingkat ketidakpastian tinggi (RMM
tinggi)
Aktivitas bisnis tidak kompleks Sangat tergantung pada judgement,
misalnya putusan majelis hakim dalam
perkara tuntutan atau timing dari arus
kas di kemudian hari, menyangkut
ketidakpastian mengenai peristiwa di
periode yang akan datang
Berhubungan dengan transaksi rutin Tidak dihitung dengan teknik
pengukuran yang diakui
Diambil dari data yang tersedia, seperti data Telaahan auditor terhadap estimasi
mengenai tingkat bunga yang dipublikasi atau serupa di tahun yang lalu menunjukkan
harga saham di bursa perbedaan yang besar antara estimasi
akuntansi dan hasil sebenarnya (not
publicly traded)
Metode pengukuran menurut kerangka pelaporan Estimasi nilai wajar (fair value
keuanganyang berlaku adalah sederhana dan mudah accounting estimates) untuk instrumen
diterapkan keuangan derivatif yang tidak
diperdagangkan secara umum (not
publicly traded)
Estimasi akuntansi nilai wajar yang menggunakan Estimasi akuntansi nilai wajar yang
model (untuk mengukur estimasi akuntansi) yang menggunakan model dari entitas yang
populer atau telah diterima umum, dimana asumsi berspesialisasi dalam bidang itu, atau
atau input untuk model itu dapat diamati dipasar yang menggunakan asumsi atau input
(misalnya di bursa saham) untuk model itu yang tidak dapat
diamati di pasar (misalnya di bursa
saham)
RMM = Risk of Material Misstatement (Risiko Salah Saji Material)

B. Penilaian Risiko
tabel berikut menyajikan area utama yang menjadi perhatian auditor dalam estimasi akuntansi
pada tahap pertama suatu proses audit, yakni tahao penilaian risiko
Perhatian auditor pada Penjelasan
Bagaimana mengidentifikasi Bisa berawal dari kerangka akuntansi yang digunakan atau
kebutuhan entitas melakukan dari transaksi, peristiwa, dan kondisi dimana entitas perlu
estimasi? membuat estimasi akuntansi yang kemudian diakui dan
diungkapkan dalam laporan keuangan.
Proses manajemen membuat Reviu dan evaluasi proses estimasi manajemen, ternasuk
estimasi penyusunan asumsi yang menjadi dasar estimasi, keandalan
data yang digunakan, dan proses persetujuan atau reviu
intern.
Hasil akhir/realisasi/outcome Reviu outcome dari estimasi yang dibuat tahun lalu. pahami
dari entitas yang dibuat tahun alasan mengenai selisih antara estimasi tahun lalu dengan
lalu realisasi (actual amount).
Seberapa luasnya Tentukan apakah estimasi akuntansi dengan ketidakpastian
ketidakpastian estimasi dalam estimasi yang tinggi juga merupakan risiko signifikan yang
proses estimasi ini ? harus diperhatikan auditor
Pentingnya estimasi Dalam menilai risiko salah saji material, pertimbangkan:
· hal-hal yang disajikan dalam tabel ini
· besarnya estimasi
· apakah estimasi itu merupakan risiko signifikan.

C. Tanggapan atas Risiko


dalam tahap ini, auditor memberi tanggapan atas risiko yang dinilai (assesed risk) pada tahap
sebelumnya.
tanggapan auditor-entitas yang lebih kecil
Perhatian auditor pada Penjelasan
Apakah estimasi dibuat · Uji bagaimana manajemen membuat estimasi akuntansi dan uji
dengan benar ? data yang digunakan.
· Uji efektifnya pengendalian mengenai bagaimana manajemen
membuat estimasi akuntansi, bersama dengan prosedur
substantif yang tepat.
· Kembangkan suatu point estimate suatu kisaran (range) untuk
mengevaluasi management’s point estimate.
Berapa andalnya bukti Laksanakan satu atau lebih hal dibawah, dengan
pendukung ? mempertimbangkan sifat estiamsi akuntansi, sifat bukti yang
diperoleh, dan risiko salah saji material yang dinilai:
· Reviu peristiwa yang terjadi sampai tanggal laporan auditor
· Khususnya dalam entitas kecil yang dikelola pemiliknyadimana
tidak ada prosedur pengendalian formal atas estimasi akuntansi
· Uji informasi, pengendalian, metode, dan asumsi yang
digunakan
· Berdasarkan bukti yang tersedia dan diskusi dengan
manajemen, kembangkan suatu point estimate atau suatu kisaran
(range) untuk mengevaluasi management’s point estimate
· Dalam hal periode antara tanggal neraca dan tanggal laporan
auditor, lebih panjang, reviu auditoratas peristiwa dalam periode
ini bisa memberikan tanggapanyang lebih efektif terhadap
estimasi akuntansi
Kemungkinan adanya Ini mungkin terlihat dari perubahan cara menghitung estimasi,
management bias ? atau pemilihan point estimate yang berindikasi pola (terlalu)
optimis atau pesimis.

D. Pelaporan
Langkah terakhir adalah menentukan apakah:
· Bukti audit yang cukup dan tepat sudah diperoleh.
· Estimasi akuntansi adalah wajar dalam konteks kerangka pelaporankeuangan yang berlaku, atau
disalahsajikan; dan
· Disclosures (pengungkapan) dalam laporan keuangan mengenai estimasi akuntansi:
 Sesuai dengan persyaratan dalam kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, dan
 Ketidakpastian estimasi diungkapkan dengan cukup, jika ketidakpastian estimasi itu berisiko
signifikan

E. Representasi Tertulis
auditor meminta (dan harus memperoleh) representasi tertulis (written representations) dari
manajemen mengenai kewajaran dari asumsi-asumsi signifikan yang digunakan.
BAB 11- PIHAK-PIHAK TERKAIT

Tinjauan Umum
Pihak terkait tidak independen satu dengan yang lain. Oleh karena itu,tidak terjadinya salah saji
material melalui transaksi hubungan istimewa umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan
transaksi diantara pihak-pihak yang bebas (unrelated parties). Manajemen bertanggung jawab
untuk mengidentifikasi dan mengungkap pihak-pihak terkait dan akuntansi atas hubungan
istimewa. Auditor harus senantiasa waspada terhadap informasi pihak-pihak terkait ketika
mereviu catatan atau dokumen selama sudit berlangsung.
ISA 550 memberikan petunjuk mengenai tanggung jawab auditor dan prosedur audit mengenai
pihak-pihak terkait dan transaksi antar pihak-pihak terkait. Ini akan dibahas sesuai urutan ketiga
tahap dalam proses audit.
Tahap 1—Penilaian Risiko
Untuk mengidentifikasi dan menilai risiko salah saji material berkenaan dengan hubungan dan
transaksi pihak-pihak terkait, auditor perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:
Ketahui hubungan dan Tanyakan:
dampak hubungan dan 1. Identitas pihak-pihak terkait, termasuk perubaha
transaksi pihak-pihak terkait sejak tahun lalu.
2. Sifat hubungan antara entitas dan pihak-pihak terkait.
3. Jenis dan tujuan dari setiap transaksi dengan pihak-
pihak terkait.
4. Pengendalian, jika ada, yang dibangun manajemen.
Lihat kemungkinan adanya 1. Diskusikan diantara anggota tim audit, kerentana
kecurangan laporan keuangan terhadap salah saji material karena
kecurangan atau kesalahan yang berasal dari
hubungan dan transaksi pihak-pihak terkait.
2. Perhatikan dominasi satu atau beberapa orang
terhadap manajemen, tanpa diimbangi pengendalian.
3. Pengaruh yang mendominasi sering terlihat dalam
kasus dimana pihak-pihak terkait sangat berperan
dalam berdirinya entitas dan melanjutkan peran
tersebut sebagai pengelola entitas.
4. Jika faktor risiko ditemukan, buatlah penilaian risiko
salah saji material.
Waspada selama Selama audit, auditor harus senantiasa waspada terhadap
menginspeksi catatan atau informasi yang belum diungkapkan tentang adanya hubungan
dokumen atau transaksi pihak-pihak terkait.
Identifikasi risiko yang Transaksi pihak-pihak terkait yang signifikan di jalur bisnis
signifikan yang normal dapat menimbulkan risiko yang signifikan.

Tahap 2—Menanggapi Risiko


Dalam menanggapi risiko salah saji material yang diidentifikasi berkenaan dengan hubungan dan
transaksi pihak-pihak terkait, auditor perlu mempertimbangkan beberapa hal, sebagai berikut:
Masalah Pertimbangkan untuk melakukan
Dugaan adanya kecurangan o Pastikan bahwa dugaan itu benar, lihat situasi yang
berkenaan dengan hubungan mendasari dugaan itu.
dan transaksi pihak terkait o Secepatnya komunikasikan informasi ini kepada
anggota tim audit.
o Minta manajemen mengidentifikasi semua transaksi
dengan pihak terkait.
o Jika transaksi dengan pihak terkait tidak teridentifikasi
sebelumnya, tanyakan mengapa ?.
o Pertimbangkan kembali kemungkinan adanya transaksi
pihak-pihak terkait lain atau yang signifikan yang masih
belum diidentifikasi atau diungkapkan oleh manajemen
kepada auditor.
o Laksanakan prosedur audit tambahan yang diperlukan
Transaksi pihak terkait yang o Inspeksi kontran atau perjanjian tentang transaksi pihak
signifikan diluar jalur bisnis terkait.
normal o Pastikan bahwa transaksi pihak terkait telah diotorisasi
dan disetujui
Asersi manajemen o Peroleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang asersi
tersebut, sifat, dan luasnya transaksi pihak terkait.
o Apakah konfirmasi pihak eksternal memberikan bukti
yang andal ?
o Apakah piutang transaksi pihak terkait dapat ditagih ?

Tahap 3—Pelaporan
Dalam tahap audit yang terakhir berkenaan dengan hubungan dan transaksi pihak-pihak terkait,
auditor perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut:
Masalah Pertimbangkan untuk melakukan
Dokumen dan laporan o Dokumentasikan nama-nam dari pihak-pihak terkait yang
diidentifikasi dan sifat hubungan pihak-pihak terkait
tersebut.
o Komunikasikan kepada tcwg hal-hal signifikan yang
timbul selama sudit berkenaan dengan pihak-pihak
terkait.
Representasi manajemen Peroleh representasi tertulis dari manajemen (dan tcwg)
Tentukan apakah laporan Modifikasi laporan auditor jika:
auditor harus diidentifikasi o Tidak mungkin mendapatkan bukti audit yang cukup dan
tepat mengenai pihak terkait dan transaksi pihak terkait;
atau
o Pengungkapan manajemen dalam laporan keuangan tidak
cukup.
BAB 12- PERISTIWA KEMUDIAN

A. Tinjauan Umum
Garis waktu (timelines) dalam gambar berikut menunjukkan tanggal-tanggal penting dalam
definisi ISA 560.5. Dalam gambar ini, tanggal-tanggal ini diberi kode sebagai berikut:
· A : tanggal laporan keuangan
· B : tanggal persetujuan atas laporan keuangan
· C : tanggal laporan auditor
· D : tanggal diterbitkannya laporan keuangan

Gambar diatas menunjukkan dua jenis peristiwa kemudian. Pertama, peristiwa-peristiwa antara
titik A sampai denga C di mana kewajiban auditor ialah mengumpulkan bukti audit yang dapat
menekan risikon salah saji yang mungkin ada dalam peristiwa kemudian. Kedua, fakta-fakta
sesudah/pasca titik C, dimana kewajiban auditor ialah memberikan tanggapan audit (audit
response) yang tepat terhadap fakta-fakta baru.

B. Peristiwa Kemudian Sampai Tanggal Laporan Auditor


Dibawah ini disajikan beberapa contoh peristiwa kemudian yang terjadi diantara tanggal laporan
keuangan dan tanggal laporan auditor:
· Komitmen baru/tambahan dalam bidang keuangan seperti peminjaman, penjaminan,
restrukturisasi
· Penjualan dan akusisi aset yang direncanakan atau telah terjadi
· Peningkatan modal atau penerbitan instrumen uang
· Perjanjian untuk penggabungan atau pembubaran usaha
· Penyitaan aset oleh lembaga keuangan, penegak hukum, atau hancur karena bencana
· Litigasi, tuntutan hukum lainnya, dan berbagai contigencies
· Jurnal penyesuaian yang luar biasa yang sudah direncanakan atau akan dibuat
· Setiap peristiwa yang sudah atau sangat mungkin akan terjadi yang menimbulkan
keraguanmengenai asumsi kesinambungan usaha (unusual accounting adjustments) atau
keraguan terhadap penggunaan kebijakan lainnya.
· Setiap peristiwa yang relevan untuk mengukur estimasi atau penyisihan (provisions) dalam
laporan keuangan.
· Setiap peristiwa yang relevan dengan recoverability of assets.

C. Pemberian Dua Tanggal (Dual Dating)


Peristiwa kemudian yang diketahui sesudah tanggal laporan auditor seringkali menyebabkan
pekerjaan audit tambahan yang diperlukan karena peristiwa kemudian itu berdampak pada saldo
akun, estimasi akuntansi, penyisihan, dan berbagai pengungkapan dalam laporan keuangan.
Dalam situasi seperti itu, laporan auditor yang baru akan diterbitkan. Laporan baru ini tidak
diberi tanggal lebih awal dari tanggal persetujuan laporan keuangan.
Namun, untuk peristiwa kemudian tertentu, pekerjaan audit tambahan dapat dibatasi hanya pada
perubahan laporan keuangan seperti dijelaskan dalam catatan atas laporana keuangan terkait.
Dalam situasi ini (jika ketentuan perundang-undangan memperbolehkannya), tanggal laporan
auditor semula. Akan tetapi, suatu tanggal baru ditambahkan,sehingga ada dua tanggal laporan
auditor. Pemberian dua tanggal (dual dating) menginformasikan kepada pembaca bahwa
prosedur audit sesudah laporan tanggal laporan auditor semula terbatas pada perubahan yang
dibuat kemudian.