Anda di halaman 1dari 8

MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN ‘ULAMA

Allah dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna memuliakan sebagian hamba-
Nya. Di antara sebab Allah l memuliakan hamba-Nya adalah ilmu, amal, kesabaran,
keikhlasan, dan keimanan. Oleh karena itulah, Allah l memuliakan para ulama, yaitu
orang-orang yang berilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat
g, serta mengamalkannya.

Di antara dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan keutamaan mereka
disebabkan ilmu, amal, kesabaran, keikhlasan, dan keimanan mereka, adalah sebagai berikut.
Allah l berfirman:

ْ‫ش ُزوا‬ ُ ‫ٱّللُ لَ ُك ۡۖۡم َو ِإذَا قِي َل ٱن‬


َّ ِ‫سح‬َ ‫س ُحواْ يَ ۡف‬ َّ َ‫َٰٓيَأَيُّ َها ٱلَّذِينَ َءا َمنُ َٰٓواْ ِإذَا قِي َل لَ ُك ۡم تَف‬
َ ‫س ُحواْ فِي ۡٱل َم َج ِل ِس فَ ۡٱف‬
‫ير‬ٞ ‫ٱّللُ ِب َما ت َعۡ َملُونَ َخ ِب‬ َّ ‫ٱّللُ ٱلَّذِينَ َءا َمنُواْ ِمن ُك ۡم َوٱلَّذِينَ أُوتُواْ ۡٱل ِع ۡل َم دَ َر َج ٖۚت َو‬ َّ ِ‫ش ُزواْ يَ ۡرفَع‬ ُ ‫فَٱن‬
١١
11. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan
apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11)

“(Apakah kamu, wahai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di
waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan
mengharapkan rahmat Rabbnya?

ِ َ‫ۗ قُ ۡل ه َۡل يَ ۡست َ ِوي ٱلَّذِينَ يَعۡ لَ ُمونَ َوٱلَّذِينَ ََل يَعۡ لَ ُمونَ ِإنَّ َما يَتَذَ َّك ُر أ ُ ْولُواْ ۡٱۡل َ ۡلب‬
٩‫ب‬
Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-
Zumar: 9)

ٌ ُ‫يز َغف‬
٢٨ ‫ور‬ ٌ ‫ع ِز‬ َّ ‫ٱّللَ ِم ۡن ِعبَا ِد ِه ۡٱلعُلَ ََٰٓم ُؤاْ إِ َّن‬
َ َ‫ٱّلل‬ َّ ‫ۗ إِنَّ َما يَ ۡخشَى‬
28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-
binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”


(Fathir: 28)

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah:
24)

Rasulullah n bersabda tentang keutamaan mereka:

ِ َ‫ِإ َّن ْالعُلَ َما َء َو َرثَةُ ْاۡل َ ْن ِبي‬


ً ‫اء ِإ َّن ْاۡل َ ْن ِبيَا َء لَ ْم يُ َو ِ ِّرثُوا دِين‬
‫ ِإنَّ َما‬،‫َارا َو ََل د ِْر َه ًما‬
‫ظ َوافِر‬ ِّ ‫ فَ َم ْن أ َ َخذَ بِ ِه أ َ َخذَ بِ َح‬،‫َو َّرثُوا ْال ِع ْل َم‬
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta).
Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya sungguh dia telah
mengambil bagian yang banyak (menguntungkan).” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud.
Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan sanadnya hasan dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib 1/139)

Ibnu Mas’ud z mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:

ِ ِّ ‫ط َعلَى َهلَ َكتِ ِه فِي ْال َح‬


،‫ق‬ ُ َ‫سدَ إِ ََّل فِي اثْنَتَي ِْن؛ َر ُج ٌل آتَاهُ هللاُ َم ًاَل ف‬
َ ِّ‫س ِل‬ َ ‫ََل َح‬
ِ ‫َو َر ُج ٌل آتَاهُ هللاُ ْال ِح ْك َمةَ فَ ُه َو يَ ْق‬
‫ضي ِب َها َويُعَ ِلِّ ُم َها‬
“Tidak boleh ada hasad (berkeinginan mendapatkan) kecuali terhadap dua golongan: orang
yang Allah l limpahkan harta kepadanya lalu dia belanjakan di jalan yang benar, serta orang
yang Allah l karuniakan hikmah (ilmu) lalu dia tunaikan (amalkan) dan ajarkan.” (Muttafaqun
‘alaih)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah n bersabda:


ِ ‫َم ْن يُ ِر ِد هللاُ ِب ِه َخي ًْرا يُفَ ِقِّ ْههُ ِفي ال ِد‬
‫ِّين‬

“Barang siapa yang Allah l kehendaki kebaikan untuknya, Dia jadikan orang tersebut paham
akan agama.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dari Mu’awiyah z)

Para ulama adalah orang-orang berilmu dan dimuliakan oleh Allah l, sehingga kita wajib
menghormati dan memuliakan mereka sebagai bukti kebenaran keimanan serta kecintaan kita
kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Allah l berfirman:
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah,
sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)
Rasulullah n bersada:

َّ ‫سولُهُ أ َ َح‬
‫ب ِإلَ ْي ِه‬ ُ ‫ان؛ أ َ ْن يَ ُكونَ هللاُ َو َر‬ ِ ‫اْلي َم‬ِ ْ َ ‫ث َم ْن ُك َّن ِفي ِه َو َجدَ َح ََل َوة‬ ٌ ‫ث َ ََل‬
ِ ِ ‫ب ْال َم ْر َء ََل يُ ِحبُّهُ ِإ ََّل‬
‫ َوأ َ ْن يَ ْك َرهَ أ َ ْن يَعُودَ فِي‬،‫ّلل‬ َّ ‫ َوأَ ْن يُ ِح‬،‫ِم َّما ِس َوا ُه َما‬
ِ َّ‫ف فِي الن‬
‫ار‬ َ َ‫ْال ُك ْف ِر بَ ْعدَ ِإ ْذ أ َ ْنقَذَهُ هللاُ ِم ْنهُ َك َما يَ ْك َرهُ أ َ ْن يُ ْقذ‬
“Ada 3 hal, yang apabila dimiliki seseorang tentu dia merasakan manisnya iman: (1) Allah l dan
Rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang selain keduanya, (2) dia tidaklah mencintai seseorang
melainkan karena Allah l, (3) dia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah l
menyelamatkannya dari kekafiran itu sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api.”
(Muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Malik z)

Kita dapat merealisasikan sikap menghormati dan memuliakan para ulama dengan beberapa
hal berikut.

1. Bersyukur (berterima kasih) kepada mereka karena Allah l


Karena keikhlasan dan kesabaran mereka dalam berdakwah, ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah
pun tersebar hingga sampai kepada kita. Kita bisa mengetahui akidah yang benar, manhaj
yang lurus, dan beribadah dengan tata cara yang bersih dari bid’ah. Oleh karena itu, sudah
semestinya kita berterima kasih kepada mereka karena Allah l saja.
Allah l berfirman:

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Ar-Rahman: 60)


Rasulullah n bersabda:

َ َّ‫ََل يَ ْش ُك ُر هللاَ َم ْن ََل يَ ْش ُك ُر الن‬


‫اس‬
“Tidak akan bersyukur kepada Allah l, orang yang tidak berterima kasih kepada orang lain.”
(HR. Abu Dawud no. 4177, lihat Ash-Shahihah no. 416)

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi t (wafat 258 H) berkata, “Para ulama lebih mengasihi dan
menyayangi umat Muhammad n daripada ayah dan ibu mereka.” Beliau ditanya, “Bagaimana
hal itu bisa terjadi?” Beliau n menjawab, “Bapak dan ibu mereka melindungi mereka dari api
dunia, sedangkan para ulama melindungi mereka dari api akhirat.” (Mukhtashar Nashihat Ahlil
Hadits hlm. 167)

2. Menaati mereka dalam hal yang baik


Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di
antara kalian.” (An-Nisa’: 59)
Asy-Syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah mengatakan, “Yang
dimaksud ulil amri adalah umara (para penguasa) dan ulama. Karena itu, ketaatan kepada
ulama itu mengikuti ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya, sedangkan ketaatan kepada para
penguasa mengikuti ketaatan kepada para ulama. Pintu ketidaktaatan terhadap para
penguasa dan pemimpin tergantung kepada para ulama, sehingga apabila hak-hak para ulama
ditelantarkan niscaya hak-hak para penguasa akan hilang pula. Bila hak-hak para ulama dan
umara hilang, umat manusia tidak akan menaati mereka, padahal hidup dan baiknya ulama
adalah penentu kehidupan dan kebaikan alam ini. Apabila hak-hak para ulama tidak
dipedulikan, akan hilang hak-hak para umara. Dan ketika hak-hak para ulama dan umara
hilang, hancurlah kehidupan alam semesta!” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 16—17)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t mengatakan, “Bila para ulama dihormati,
syariat pun akan dimuliakan, karena mereka adalah pembawa syariat tersebut. Namun, bila
para ulama direndahkan, syariat juga akan dihinakan, karena apabila kewibawaan para ulama
telah direndahkan dan dijatuhkan di mata umat, syariat yang mereka bawa akan dihinakan dan
tidak bernilai. Setiap orang akan meremehkan dan merendahkan mereka. Akibatnya, syariat
pun akan hilang.
Para penguasa pun demikian keadaannya: wajib dimuliakan, dihormati dan ditaati, sesuai
dengan ketentuan syariat-Nya. Apabila kewibawaan penguasa direndahkan, dihinakan, dan
dijatuhkan, hilanglah keamanan (ketenteraman) masyarakat. Negara menjadi kacau,
sementara penguasa tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan dan
menegakkan peraturan. Oleh karena itu, apabila kedua golongan ini, ulama dan umara,
direndahkan di mata umat, syariat akan rusak dan keamanan akan hilang. Segala urusan
menjadi kacau-balau.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 2/110)

3. Mengikuti bimbingan dan arahan mereka


Allah l berfirman menceritakan dialog Nabi Ibrahim q dengan ayahnya:
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak
datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang
lurus.” (Maryam: 42)
Ibnu Mas’ud z berkata:
Rasulullah n membuat sebuah garis yang lurus lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.”
Kemudian beliau n membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kiri garis lurus itu lalu
bersabda, “Ini adalah jalan-jalan yang bercabang (darinya). Pada setiap jalan ini ada setan yang
mengajak kepadanya.” Beliau n lalu membaca firman Allah l, “Dan bahwa (yang Kami
perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya….” (Al-
An’am: 153) [HR. Ahmad no. 3928]
Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah mengatakan, “Barang siapa yang mengikuti
para ulama berarti dia mengikuti jalan yang lurus. Adapun yang menyelisihi ulama dan tidak
memedulikan hak-hak mereka berarti dia telah keluar (dan mengikuti) jalan setan. Dia telah
memisahkan diri dari jalan yang lurus, yaitu jalan Rasul-Nya n dan yang ditempuh para sahabat
g.” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 18)
Al-Imam Al-Ajurri t berkata, “Apa pendapat kalian tentang sebuah jalan yang mengandung
banyak rintangan, sementara orang-orang harus melaluinya di malam yang gelap; apabila
tidak ada penerang maka mereka akan kebingungan? Kemudian Allah l mengaruniakan
penerang-penerang jalan mereka, sehingga mereka pun dapat melaluinya dengan selamat.
Lalu datanglah beberapa rombongan yang harus melewati jalan itu. Ketika berada di tengah
perjalanan, tiba-tiba penerang itu padam. Mereka pun tertinggal di tempat yang gelap
tersebut. Apa pendapat kalian tentang mereka ini?
Demikianlah kedudukan para ulama. Mayoritas umat manusia tidak mengetahui cara
menunaikan kewajiban, meninggalkan keharaman, dan beribadah kepada Allah l melainkan
dengan perantaraan para ulama. Dengan meninggalnya para ulama, umat akan bingung, ilmu
akan hilang, dan kebodohan pun semakin merebak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Alangkah
dahsyatnya musibah ini.” (Akhlaqul ‘Ulama, hlm. 28—29)

4. Mengembalikan urusan umat kepada mereka


Allah l berfirman:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui.” (An-Nahl: 43)
Allah l juga berfirman:
“Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka
lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara
mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat)
mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat
Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antara
kalian).” (An-Nisa: 83)
Asy-Syaikh As-Sa’di t berkata, “Ini adalah bimbingan adab dari Allah l kepada hamba-hamba-
Nya terkait sikap mereka yang tidak pantas ini. Selayaknya apabila ada sebuah urusan penting
dan menyangkut orang banyak—terkait keamanan dan kebahagiaan orang-orang beriman,
ataupun kekhawatiran akan sebuah musibah yang menimpa mereka— hendaknya mereka
menelitinya dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya. Bahkan, semestinya mereka
mengembalikannya kepada Rasulullah n (semasa hidup beliau n) dan kepada ulil amri, yaitu
orang-orang yang ahli dalam menentukan pendapat, berilmu, peduli, dan tenang. Mereka
adalah orang-orang yang memahami urusan dan kepentingan umat maupun hal-hal yang
sebaliknya.
Apabila mereka memandang ada kebaikan, kemaslahatan, kebahagiaan, dan sesuatu yang
membangkitkan kewaspadaan orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuhnya,
niscaya mereka akan menyebarkannya. Akan tetapi, bila mereka memandang tidak ada
kebaikan dan kemaslahatannya, atau ada kebaikan dan kemaslahatan tetapi dampak
negatifnya lebih besar, niscaya mereka tidak akan menyebarkannya….”
Beliau t melanjutkan, “Firman Allah l ini mengandung dalil yang membenarkan kaidah adab,
yaitu apabila terjadi pembahasan suatu urusan yang penting, sepantasnya yang terlibat adalah
orang-orang yang ahli dalam urusan tersebut. Urusan tersebut diserahkan kepada mereka,
sedangkan orang lain tidak boleh mendahului mereka, karena sikap ini lebih mendekati
kebenaran dan lebih selamat. Ayat ini juga mengandung larangan untuk tergesa-gesa
menyebarkan sebuah berita ketika mendapatkannya. Bahkan, seseorang diperintahkan untuk
meneliti dahulu sebelum menyampaikannya. (Tafsir As-Sa’di hlm. 190)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Para ulama ahlul hadits lebih mengetahui
maksud Rasulullah n daripada pengetahuan para pengikut imam-imam (mazhab) terhadap
maksud imam-imam mereka.” (Minhajus Sunnah)
Oleh karena itu, pendapat mereka lebih mendekati kebenaran dan nasihat mereka lebih
berhak didengarkan.

Ketika para ulama tidak dihormati dan urusan umat tidak dikembalikan kepada mereka, akan
timbul beberapa akibat buruk sebagai berikut.

1. Umat akan ditimpa kehinaan dan kerendahan


Ibnu Umar c mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
،َ‫الز ْرعِ َوت َ َر ْكت ُ ُم ْال ِج َهاد‬ ِ ‫َاب ْالبَقَ ِر َو َر‬
َّ ‫ضيت ُ ْم ِب‬ َ ‫ِإذَا تَبَايَ ْعت ُ ْم ِب ْال ِعينَ ِة َوأ َ َخ ْذت ُ ْم أ َ ْذن‬
‫عهُ َحتَّى ت َ ْر ِجعُوا ِإلَى دِينِ ُك ْم‬ ُ ‫ط هللاُ َعلَ ْي ُك ْم ذُ اَل ََل يَ ْن ِز‬ َ َّ‫سل‬َ
‘Apabila kalian berjual-beli dengan sistem ‘inah, telah mengambil ekor-ekor sapi, dan lebih
senang dengan pertanian kalian hingga kalian meninggalkan jihad (di jalan Allah), niscaya
Allah l akan menimpakan kehinaan terhadap kalian. Allah l tidak akan mencabutnya hingga
kalian kembali kepada agama kalian’.” (HR. Abu Dawud no. 3003)
Asy-Syaikh Muhammad Bazmul mengatakan, “Tidak ada jalan untuk kembali kepada agama
yang mulia ini melainkan dengan bimbingan ulama. Apabila umat tidak memedulikan hak-hak
ulama dan tidak merujuk kepada mereka, bahkan merasa tidak membutuhkan mereka,
mereka akan mengangkat orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin. Bagaimana mereka
akan kembali kepada agama mereka? Bagaimana pula mereka bisa keluar dari kehinaan dan
kerendahan tanpa bimbingan ulama?” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 26)

2. Menyelisihi perintah Allah l dan Rasul-Nya


Allah l dan Rasul-Nya n memerintahkan kita memuliakan para ulama, menjaga hak-hak
mereka, tidak menyakiti mereka, dan mengembalikan urusan umat kepada mereka. Ketika
kita tidak mengembalikan urusan umat kepada para ulama, berarti kita telah menyelisihi
perintah Allah l dan Rasul-Nya n. Allah l telah memberikan ancaman dalam firman-Nya:
“Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau
ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)
Salah satu musibah yang menimpa umat ini dan memilukan hati adalah terjadinya perselisihan
pendapat di antara para dai yang menyeret kepada perpecahan, karena mereka tidak
mengembalikan perbedaan pendapat yang terjadi kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan
bimbingan para ulama.
Perhatikanlah ucapan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i t, “Akan tetapi, beberapa penuntut
ilmu merasa cukup dengan sedikit ilmu yang mereka miliki, kemudian mereka siap
membantah setiap orang yang menyelisihi pendapatnya. Ini adalah salah satu sebab terjadinya
perselisihan dan perpecahan.” (At-Tarjamah, hlm. 201)
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah mengatakan, “Para ulama—orang-orang yang
mendalam ilmunya—telah menjelaskan berbagai celah dan sumber munculnya penyakit (yang
menimpa umat ini). Di antara yang mereka sebutkan adalah adanya orang-orang yang tidak
mapan dalam mempelajari ilmu syariat namun tidak mau mengikuti orang-orang yang sudah
mendalam ilmunya (para ulama). Bahkan, dia merasa puas dengan ilmunya. Kemudian ia
mendahului para ulama dalam menghadapi berbagai masalah, padahal jika masalah itu
dihadapkan kepada Umar bin al-Khaththab z, beliau tentu akan mengumpulkan ahli Badr (para
sahabat yang mengikuti perang Badr) untuk memusyawarahkannya.” (Bidayatul Inhiraf, hlm.
432)

3. Menyerupai ahlul bid’ah


Asy-Syaikh Muhammad Bazmul hafizhahullah mengatakan, “Menjatuhkan kedudukan para
ulama termasuk perilaku ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu. Perhatikanlah berbagai
kelompok sesat yang menyelisihi petunjuk Rasulullah n dan amalan para sahabat g, niscaya
Anda akan menemukan sikap ini….”
Beliau melanjutkan, “Demikianlah. Anda tidak akan menemukan satu pun golongan yang
menyimpang dari jalan yang lurus dan keluar dari jalan orang-orang beriman melainkan
mereka membicarakan (baca: menggunjing), mencela, menjatuhkan, dan tidak memedulikan
hak-hak para ulama. Bahkan, mereka mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin
mereka.” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 28)
Al-Imam Asy-Syathibi t mengatakan, “Dikisahkan bahwa ada seorang tokoh ahlul bid’ah yang
hendak mengutamakan ilmu kalam (filsafat) daripada ilmu fiqih. Dia mengatakan, ‘Ilmu Asy-
Sya’fi’i dan ilmu Abu Hanifah secara global tidak keluar dari pakaian bawah perempuan.’
Maknanya, ilmu kedua imam tersebut terbatas pada hukum-hukum haid dan nifas. Inilah
ucapan orang-orang yang menyimpang. Semoga Allah l memerangi mereka.” (Al-I’tisham,
2/239)
Sebagai penutup, kita memohon kepada Allah l saja agar membimbing kita dan seluruh kaum
muslimin untuk memuliakan, menghormati, dan memberikan hak-hak para ulama, serta
mengembalikan urusan umat kepada mereka, karena hal inilah yang diperintahkan oleh Allah l
dan Rasul-Nya n. Kita juga memohon kepada Allah l untuk memperbaiki keadaan dan
menyelesaikan berbagai masalah yang menimpa umat.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.