Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

EVALUASI BIOLOGIS KOMPONEN PANGAN


“Managemen dan Pengenalan Organ Hewan Coba (Tikus Putih)”

Dosen Matakuliah :
Dr. Ir. LAVLINESIA, M.Si.
ULYARTI, S.TP., MSc.
MURSYID, S.Gz., M.Si.

Asisten Dosen :
Sasdrom O Ari Susanto (J1A114031)
Fidia Yunita (J1A115060)
Ratnawaty Sinaga (J1A115105)

Oleh :
Nama : INDRA AGUNG PRATAMA
NIM : J1A116065
Kelas : THP R-002
Kelompok : 1 (Satu)
Shif : 2 (Dua)

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Seiring dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kesehatan, sebagai mahasiswa sudah seharusnya mengetahui hal-hal yang berkaitan
dengan obat baik dari segi farmasetik, farmakodinamik, farmakokinetik, dan juga dari
segi farmakologi dan toksikologinya. Farmakologi sebagai ilmu yang berbeda dari ilmu
lain secaraumum pada keterkaitan yang erat dengan ilmu dasar maupun ilmu klinik
sangat sulit mengerti farmakologi tanpa pengetahuan tentang fisiologi tubuh, biokimia,
dan ilmu kedokteran klinik. Jadi, farmakologi adalah ilmu yang mengintegrasikan ilmu
kedokteran dasar dan menjembatani ilmu praklinik dan klinik. Farmakologi
mempunyai keterkaitan khusus dengan farmasi, yaitucara membuat, memformulasi,
menyimpan, dan menyediakan obat (Sudjadi, 2007).
Selama menggunakan hewan coba perlu memperhatikan pengetahuan tentang
manajemen, penanganan, dan kesehatan hewan coba. Manajemen hewan coba meliputi
pemeliharaan, pakan dan kandang. Manajemen hewan coba sangat penting karena
dapat status gizi maupun kesehatan hewan coba. Pengukuran status gizi dapat
dilakukan dengan mengambil sampel dari hewan coba. Prosedur pengambilan sampel
sering dilakukan dengan pembiusan, pembedahan kemudian pengambilan sampel dari
hewan coba.
Pada percobaan kali ini digunakan tikus putih sebagai media coba. Tikus putih
dipilih karena mudah untuk didapatkan sebagai hewan coba serta memiliki ukuran yang
tidak terlalu besar atau kecil. Selain itu, sistem metabolisme dan organ dari tikus juga
mempunyai kesamaan dengan manusia serta penggunaan tikus putih sebagai hewan
coba sudah banyak digunakan dalam berbagai penelitian.

1.2. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara penanganan hewan coba yang
baik dan benar serta mengetahui dan mengenal organ dari hewan coba (Tikus Putih).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hewan Coba


Hewan percobaan atau hewan laboratorium adalah hewan yang sengaja
dipelihara dan diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model, dan juga untuk
mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian
atau pengamatan laboratorik. Animal model atau hewan model adalah objek hewan
sebagai imitasi (peniruan) manusia (atau spesies lain), yang digunakan untuk
menyelidiki fenomena biologis atau patobiologis (Hau dan Hoosier Jr., 2003). Hewan
percobaan yang biasanya digunakan antara lain tikus, mencit, kucing, kelinci, babi,
maupun kera.
Alasan mengapa hewan percobaan tetap diperlukan dalam penelitian khususnya
di bidang kesehatan, pangan dan gizi antara lain: 1) keragaman dari subjek penelitian
dapat diminimalisasi, 2) variabel penelitian lebih mudah dikontrol, 3) daur hiduprelatif
pendek sehingga dapat dilakukan penelitian yang bersifat multigenerasi, 4) pemilihan
jenis hewan dapat disesuaikan dengan kepekaan hewan terhadap materi penelitian yang
dilakukan, 5) biaya relatif murah, 6) dapat dilakukan pada penelitian yang berisiko
tinggi, 7) mendapatkan informasi lebih mendalam dari penelitian yang dilakukan
karena kita dapat membuat sediaan biologi dari organhewan yang digunakan, 8)
memperoleh data maksimum untuk keperluan penelitian simulasi, dan 9) dapat
digunakan untuk uji keamanan, diagnostik, dan toksisitas (Rustiawan,1990)
Penelitian yang memanfaatkan hewan coba harus menggunakan hewan
percobaan yang sehat dan berkualitas sesuai dengan materi penelitian. Hewan tersebut
dikembangbiakkan dan dipelihara secara khusus dalam lingkungan yangdiawasi dan
dikontrol dengan ketat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan defined laboratory
animal sehingga sifat genotipe, fenotipe (efek maternal), dan sifat dramatipe (efek
lingkungan terhadap fenotipe) menjadi konstan. Hal itu diperlukan agar penelitian
bersifat reproducible, yaitu memberikan hasil yang sama apabila diulangi pada waktu
lain bahkan oleh peneliti lain (Nomura, 1982).
2.2. Tikus Putih
Penggunaan hewan yang berkualitas dapat mencegah pemborosan waktu,
kesempatan, dan biaya (Festing, 2003). Berbagai hewan kecil memiliki karakteristik
tertentu yang relatif serupa dengan manusia, sementara hewan lainnya mempunyai
kesamaan dengan aspek fisiologis metabolis manusia. Tikus putih sering digunakan
dalam menilai mutu protein, toksisitas, karsinogenik, dan kandungan pestisida dari
suatu produk bahan pangan hasil pertanian (Herlinda, 1986).
Saat ini, beberapa strain tikus digunakan dalam penelitian di laboratorium
hewan coba di Indonesia antara lain: Wistar (asalnya dikembangkan di Institut Wistar)
yang turunannya dapat diperoleh di Pusat Teknologi Dasar Kesehatan dan Pusat
Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik Badan Litbangkes; dan
Sprague Dawley (tikus albino yang dihasilkan di tanah pertanian Sprague Dawley),
yang dapat diperoleh di laboratorium Badan Pengawasan Obat dan Makanan dan Pusat
Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes (Marice, 2010).
Pada pengujian ini menggunakan tikus sebagai hewan percobaannya. Tikus
putih merupakan hewan pengerat. Tikus putih (Rattus norvegicus) sering digunakan
sebagai hewan percobaan atau digunakan untuk penelitian, dikarenakan tikus
merupakan hewan yang mewakili dari kelas mamalia, yang mana manusia juga
merupakan dari golongan mamalia, sehingga kelengkapan organ, kebutuhan nutrisi,
metabolism bio-kimianya, sistem reproduksi, pernafasan, peredaran darah, serta
ekskresi menyerupai manusia. Beberapa hal yang dilakukan pada praktikum ini
diantaranya adalah :
2.2.1. Housing dan feeding
A. Sistem perkandangan
Perubahan perkandangan meskipun minor mungkin memiliki dampak yang
signifikan pada perilaku hewan, kepribadian dan tanggapan individu terhadap uji dan
timbulnya stres sepanjang hidup. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa lingkungan
sosial dan fisik prasapih pada tikus sangat mempengaruhi prilaku hewan dan
pandangannya sepanjang melalui pengaruh epigenetik. Hal ini diduga terjadi karena
perubahan pada pola metilasi DNA yang stabil, organisme histone, dan ekspresi
neuropeptida yang menghasilkan dan mengubah pola gen transkripsi (Zhang et al.,
2010).
B. Pakan dan minum
Pada umumnya semua makhluk hidup memerlukan air segar dan pakan untuk
pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang optimal. Diet dengan nutrisi yang memadai
harus disediakan untuk tikus. Pakan dan air minum harus disediakan secara ad libitum
kecuali izin khusus telah diperoleh dari Komisi Etik Hewan. Variasi jenis makanan
harus disediakan misalnya, pelet komersial, biji bunga matahari kering, jagung rebus,
sayuran segar. Pola makan nokturnal dari tikus harus diperhitungkan dalam desain
penelitian terutama bila diberikan obat dalam pakan.
2.2.2. Pembedahan dan pengenalan organ hewan coba
A. Cara memegang tikus
Cara memegang secara benar dan menahan tikus pada laboratorium dapat
mengurangi stress yang tidak diinginkan dan variasi. Tikus menjadi relatif lebih jinak
dan memiliki kecenderungan stress yang rendah. Ketika memegang tikus, tangan harus
dilindungi gloves untuk meminimalisir pemaparan terhadap agen berbahaya,
menghindari terjadinya gigitan, urin dan agen alergi lainnya (Suckow et al., 2006).
B. Pemberian anastesi
Anestesi merupakan kehilangan kesadaran yang didapat dengan penggunaan
anestitik pada formasi retikular. Pemilihan agen anestetik dan metode yang digunakan
memperhartikan adminitrasi, tujuan penelitian, akomodasi personal yang ada, peralatan
serta keuangan. Metode inhalasing sering digunakan karena karakteristiknya yang
cepat onset dan pemulihannya dari anestesia serta relatif sederhana penggunaan alatnya
(Suckow et al., 2006). Pemberian obat dapat dilakukan secara oral merupakan cara
pemberian obat yang umum dilakukan karena mudah, aman, dan murah. Selain
diberikan melalui oral dapat dilakukan dengan intravena dan intraperitoneal.
C. Pembedahan dan pengenalan organ hewan coba
Selain prosedur mematikan hewan secara manusiawi, perlu dipertimbangkan
lokasi dilakukan eutanasia untuk menghindari distress atau rasa takut namun hal ini
sebenarnya bukan stressor signifikan untuk hewan pengerat ( Sharp et al., 2002).
BAB III
METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum managemen hewan coba dan pemberian makanan serta minuman
dilakukan pada tanggal 13-23 November 2018 bertempat di Kandang Hewan Coba
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jambi. Sedangkan praktikum pembedahan
dan pengenalan organ hewan coba dilakukan pada hari Jum’at, tanggal 23 November
2018 pada pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai. Dilaboratorium Kimia Ruang
B102, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jambi.

3.2. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan adalah alat tulis, timbangan biasa, timbangan
analitik, sterofoam, alumunium foil, jarum, toples, cawan petri, tissue, kapas, saringan
dan klem (alat bedah). Sedangkan bahan yang digunakan adalah tikus putih, kloroform,
serbuk kayu, air bersih, alkohol, dan ransum tikus.

3.3. Prosedur Kerja


3.3.1. Managemen hewan coba
A. Housing and feeding
Langkah pertama pada housing adalah dengan menyiapkan kandang hewan
coba, dalam praktikum ini menggunakan kandang biasa dari wadah plastik dan
menggunakan tutup dari jaring besi. Selama 10 hari harus selalu dijaga dan dibersihkan
kandang dari kotoran dan sisa ransum agar hewan coba tidak terserang penyakit. Pada
kandang pula perlu ditambahkan serbuk kayu untuk tempat tidur atau buang air besar
dan mengais hewan coba tikus putih ini.
Dalam pemberian makan (feeding) pakan yang digunakan adalah ransum
kemudian dengan diberi air mineral AQUA dan diletakkan diatas tutup kandang
kemudian selang pada botol minum dimasukkan sedikit kedalam kandang. Pada pakan
hewan coba digunakan 30gr setiap harinya sisa pakan dari hari sebelumnya ditimbang
lalu dicatat berapa pakan yang sudah dikonsumsi oleh hewan coba. Pada hari ke 10
hewan coba dipuasakan.
B. Handling dan penimbangan berat badan hewan coba
Cara memegang hewan coba (handling) dilakukan dengan cara memegang
bagian badan dan dekat dengan leher tetapi tidak mencengkeram dengan kuat.
Memegang hewan coba tidak boleh dilakukan dengan cara berhadapan langsung dari
wajahnya.
Pada penimbangan berat badan hewan coba dilakukan dengan cara memegang
hewan coba tersebut kemudian memindahkannya kedalam timbangan lalu diamati
berat badan hewan coba tersebut apakah bertambah atau berkurang.

3.3.2. Pembedahan dan pengenalan organ hewan coba


A. Pemberian anastesia
Pada pemberian anastesia pada hewan coba dilakukan dengan cara menyiapkan
wadah tertutup kemudian dimasukkan kapas didalamnya dan diberikan 3-5 tetes
larutan kloroform kedalam wadah yang berisikan kapas. Lalu hewan coba dimasukkan
kedalam wadah dan ditutup. Ditunggu beberapa saat hingga hewan coba kehilangan
kesadarannya.
B. Pembedahan hewan coba serta pengamatan organ hewan coba
Setelah hewan coba pingsan, pembedahan dapat dilakukan dengan cara
menyayat atau menggunting melintang bagian bawah perut kemudian digunting dari
bagian bawah perut hingga bagian atas dekat dengan kerongkongan. Selanjutnya
diamati bagian-bagian organ yang ada pada hewan coba. Setelah itu dilakukan
pengambilan tiap organ hewan coba untuk diamati dan difoto untuk digunakan sebagai
dokumentasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1. Perkembangan berat badan tikus selama sepuluh hari.


Berat badan tikus (gram)
Kelompok
H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10 HA
1 250 250 250 250 250 275 275 275 260 280 260
2 275 250 275 275 300 300 300 300 300 310 290
3 250 250 275 275 275 275 275 275 285 290 275
4 225 225 225 250 250 250 250 250 320 325 250
5 225 225 225 250 210 250 250 250 225 230 200

Tabel 2. Sisa ransum dan total konsumsi tikus kelompok 1 dalam gram
Total ransum H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8 H9 H10
Ransum awal 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Sisa ransum - 6,28 16,10 10,90 10,15 10,86 6,80 6,84 14,16 12,84
Total konsumsi - 23,72 13,90 19,10 19,85 19,14 23,20 23,16 15,84 17,16
Grafik 1. Grafik Pertumbuhan Kelima Kelompok Tikus
340
330
320
310
300
290 Kelompok 1
280 280
275 275 275 Kelompok 2
270
260 260 260 Kelompok 3
250 250 250 250 250 250 Kelompok 4
240
Kelompok 5
230
220
210
200
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7 Hari 8 Hari 9 Hari Hari
10 11

Grafik 2. Grafik total konsumsi tikus kelompok 1

Total konsumsi tikus kelompok 1


26
24 23.72 23.2 23.16
22
20 19.85
19.1 19.14
18
17.16
16 15.84
14 13.9
12 Total konsumsi tikus
10 kelompok 1
8
6
4
2
0 0
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4 Hari 5 Hari 6 Hari 7 Hari 8 Hari 9 Hari
10
Gambar 1. Hasil Pengamatan Organ Tikus Putih

Paru-
Ginjal Paru

Pankreas

Usus

Lambung Jantung Otak


Testis
Hati

4.2. Pembahasan
Berdasarkan praktikum Managemen dan Pengenalan Organ Hewan Coba ini
menggunakan Tikus Putih (Rattus norvegicus). Pada penanganan (managemen) hewan
coba ini kandang yang digunakan adalah kandang biasa, setiap harinya kandang
haruslah dibersihkan dari kotoran hewan coba dan serbuk kayu diganti untuk setiap
harinya. Kemudian dengan menggunakan pakan yaitu ransum yang diamati setiap
harinya digunakan berat ransum sebanyak 30gram, diamati berapa banyak ransum yang
telah dikonsumsi untuk tiap harinya, kemudian dilakukan pengulangan selama 10 hari
dan dilakukan pengamatan perkembangan berat badan tikus selama sepuluh hari, serta
berapa sisa ransum dan total konsumsi tikus kelompok 1 dalam selama 10 hari tersebut.
Hewan percobaan atau hewan laboratorium adalah hewan yang sengaja
dipelihara dan diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model, dan juga untuk
mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian
atau pengamatan laboratorik. Animal model atau hewan model adalah objek hewan
sebagai imitasi (peniruan) manusia (atau spesies lain), yang digunakan untuk
menyelidiki fenomena biologis atau patobiologis (Hau dan Hoosier Jr., 2003). Hewan
percobaan yang biasanya digunakan antara lain tikus, mencit, kucing, kelinci, babi,
maupun kera.
Penggunaan hewan yang berkualitas dapat mencegah pemborosan waktu,
kesempatan, dan biaya (Festing, 2003). Berbagai hewan kecil memiliki karakteristik
tertentu yang relatif serupa dengan manusia, sementara hewan lainnya mempunyai
kesamaan dengan aspek fisiologis metabolis manusia. Tikus putih sering digunakan
dalam menilai mutu protein, toksisitas, karsinogenik, dan kandungan pestisida dari
suatu produk bahan pangan hasil pertanian (Herlinda, 1986).
Berdasarkan Tabel 1. Perkembangan berat badan tikus selama sepuluh hari.
Pada hari pertama hingga hari ke 5 berat badan tikus tetap yaitu 250 gram, kemudian
mengalami kenaikan pada hari ke 6 hingga hari ke 8 menjadi 275 gram. Dan pada hari
ke 9 mengalami penurunan menjadi 260 gram hal ini dapat disebabkan karena tikus
menjadi stress selama penanganan baik pada hari ke 7 ataupun hari ke 8. Sedangkan
pada hari ke 10 berat badan tikus meningkat kembali menjadi 280 gram. Dan setelah
dilakukan puasa selama 1 hari berat badan tikus menjadi menurun kembali menjadi
260 gram.
Dari data (Grafik 1.) Grafik Pertumbuhan Kelima Kelompok Tikus. Diketahui
bahwa tikus dari kelompok 1 mengalami 2 kali penurunan berat badan yaitu pada hari
ke 9 dan pada saat tikus dipuasakan selama 1 hari.
Berdasarkan data (Tabel 2.) Sisa ransum dan total konsumsi tikus kelompok 1
dalam gram Rata-rata total ransum yang dikonsumsi oleh hewan coba adalah sebanyak
19,45 gram. Tetapi konsumsi tiap harinya berbeda-beda, segingga berat badan hewan
coba pun terkadang naik dan terkadang turun mungkin dapat disebabkan karena stress
ketika penanganan pada hari sebelumnya. Pada (Grafik 2.) pun dapat diketahui tingkat
konsumsi tikus kelompok 1 mengalami kenaikan pada hari ke 2, pada hari ke 4, ke 5
hari ke 7 dan hari ke 10. Sedangkan penurunan total konsumsi terjadi pada hari ke 3,
ke 6 dan ke 9
Setelah hari ke 10 dan sebelum dilakukan pembedahan atau pengenalan organ
hewan coba terlebih dahulu dipuasakan selama 1 hari. Kemudain dilakukan
pembedahan, cara memegang tikus yang benar adalah tidak langsung menghadap ke
bagian wajah hewan coba, tetapi membelakangi dan menggenggam (tidak
mencengkeram) hewan coba. Kemudian dilakukan Anastesia yaitu dengan
menggunakan wadah yang diisi kapas lalu diteteskan 3-5 tetes larutan kloroform,
selanjutnya tikus dimasukkan kedalam wadah tersebut yang tujuannya adalah untuk
membius tikus agar lebih mudah selam proses pembedahan. Setelah tikus pingsan, hal
yang perlu dilakukan adalah menaruhnya diatas sterofoam yang sudah dilapisi
alumunium foil kemudian digunakan jarum pentul agar hewan coba berapa dapa tempat
seharusnya dan memudahkan selama proses pengangan hewan coba. Proses
pembedahan dilakukan dengan cara membedah kulit bagian bawah perut hingga ke
kerongkongan, lalu diamati apa-apa saja organ yang terdapat pada tikus baik organ
pernafasan, organ pencernaan, dan organ sekresi.
Dari hasil (Gambar 1) dapat diketahui organ-organ yang terdapat pada tikus
putih memiliki kesamaan dengan manusia baik organ pernafasan, organ pencernaan,
dan organ eksresi walaupun dalam bentuk yang relatif lebih kecil.
1. Hati
Hati berwarna coklat kemerahan dan terletak di bawah diafragma yaitu di dalam
rongga abdomen. Hati menerima makanan terlarut dalam darah apabila makanan ini
tercerna dan diserap di usus. Fungsi hati antara lain mengubah zat makanan yang
diabsorpsi dari usus dan yang disimpan di suatu tempat dalam tubuh, mengubah zat
buangan dan bahan racun untuk di ekskresi dalam empedu dan urin, memproduksi
garam empedu untuk pencernaan lemak, menghasilkan enzim glikogenik glukosa
menjadi glikogen (Wati, 2009).
2. Pankreas
Pankreas merupakan kelenjar datar yang ditemukan dalam jaringan antara lambung
dan usus kecil dengan warna kecoklatan. Pankreas memproduksi enzim-enzim
pencernaan yang dikirim ke usus kecil melalui saluran pancreas. Pankreas juga
menghasilkan hormon insulin yang berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam
darah (Wati, 2009).
3. Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kacang
keledai. Terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus, antrum. Makanan masuk ke dalam
lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter) yang bisa membuka
dan menutup, dalam keadaan normal sfinter menghalangi masuknya kembali isi
lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi menampung makanan,
menghancurkan dan menghaluskan makanan oleh peristaltic lambung dan getah
lambung (Wati, 2009).
4. Ginjal
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua
sisi vertebra thorakalis. Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula
fibrosa terdapat cortex renalis di bagian luar yang berwarna cokelat gelap dan medulla
renalis di bagian dalam yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan korteks.
Ginjal memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
mempertahankan suasana keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan kadar
asam dan basa dari cairan tubuh, mempertahankan keseimbangan garam-garam dan
zat-zat lain dalamtubuh (Wati, 2009).
5. Jantung
Jantung mempunyai empat ruang yang terbagai sempurna dan terletak di dalam
rongga dada serta terbungkus oleh pericardia. Perikardia terdiri dari dua lapisan, yakni
lamina parietalis (sebelah luar) dan lamina viseralis (menempel di dinding jantung).
Jantung terdiri dari empat ruang, yakni dua serambi (atrium) dan dua bilik (ventrikel).
Pada dasarnya, fungsi serambi adalah sebagai tempat lewatnya darah dari luar jantung
ke bilik. Akan tetapi, serambi juga dapat berfungsi sebagai pemompa yang lemah
sehingga membantu aliran darah dari serambi ke bilik. Bilik memberi tenaga yang
mendorong darah ke paru-paru dan sistem sirkulasi tubuh. Jadi, fungsi utama jantung
adalah memompa darah keseluruh tubuh sambil membawa oksigen dan zat gizi,
membawa serta memurnikan darah yang mengandung hasil metabolisme (Wati, 2009).
6. Paru-paru
Paru-paru terletak di dalam rongga di kanan dan kiri jantung. Paru-paru sebelah
kanan terdiri atas tiga kelompok alveolus dan merupakan dua belahan paru- paru (dua
lobus). Didalam paru-paru, bronkus sebelah kanan bercabang tiga, sedangkan bronkus
sebelah kiri bercabang dua, cabat itu disebut bronkiolus. Fungsi utama dari paru-paru
adalah menukar oksigen dari udara dengan karbondioksida dari darah (Wati, 2009).
7. Testis
Testis berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon androgen,
yaitu testoteron. Testoteron berfungsi menimbulkan dan memelihara kelangsungan
tanda-tanda kelamin sekunder seperti pertumbuhan bulu (Wati, 2009).
8. Usus halus
Usus halus berfungsi untuk menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk
diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfa, berfungsi menyerap
protein dalam bentuk asam amino, menyerap karbohidrat dalam bentuk monosakarida.
Di dalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang
menyempurnakan makanan (Wati, 2009).
9. Usus besar
Usus besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolondesendens
(kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Usus besar menghasilkan lendir
dan berfungsi menyerap air dan elektrolit dari tinja. Ketika mencapai usus besar, isi
usus berbentuk cairan, tetapi ketika mencapai rektum bentuknya menjadi padat.
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa
bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga
berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi
normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada
bakteri-bakteri di dalam ususbesar (Wati, 2009).
10. Otak
Otak tikus terletak dibagian atas tubuh tikus yaitu dibagian kepala dan berada
didalam tempurung kepala tikus dan berwarna putih kemerahan.
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa
penanganan hewan percobaan hendaklah dilakukan dengan penuh rasa kasih sayang
dan berperikemanusiaan. Setelah pembedahan tikus yang dilakukan organ-organ yang
ditemukan yaitu Otak, Jantung, Paru-paru, Pankreas, Hati, Lambung, Ginjal, Usus
halus, Usus besar, dan Testis.

5.2. Saran
Saran yang dapat disampaikan dari praktikum ini adalah diharapkan agar
seluruh praktikan dapat menangani dan memperlakukan tikus dengan baik dan benar
dan sesuai dengan prosedur yang disampaikan oleh dosen atau asisten dosen didalam
laboratorium, serta diharapkan agar praktikan lebih cekatan dalam melaksanakan
praktikum ini demi kepentingan praktikan ketika mengambil Penelitian seperti ini
dapat mengerti apa-apa saja yang perlu diperhatikan dan perlu dihindari agar hewan
coba dapat tetap hidup hingga hari ketika pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA

Festing, M. F. W. 2003. Principles: the need for better experimental design. Trends
Pharmacol Sci. 24 : 341-5.
Hau, J. & Hoosier, G. L. V., 2003. Handbook of Laboratory Animal Science 2th.
London. p. 300
Herlinda, Y. 1986. Hewan percobaan tikus albino strain wistar di unit penelitian gizi
Diponegoro. Majalah Kedokteran Indonesia. 36 (11).
Marice S, Raflizar. Status gizi dan fungsi hati mencit galur CBS (Swiss) dan tikus putih
galur wistar di laboratorium hewan percobaan puslitbang biomedis dan farmasi.
Media Litbang Kesehatan. 20 (1).
Nomura, T., Tajima Y. 1982. Defined laboratory animals, advances in pharmacology
and therapeutics II. Oxford Pergamon Press.
Rustiawan, A dan Vanda J. 1990. Pengujian mutu pangan secara biologis. Pusat Antar
Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor : Bogor
Sharp, P.E. dan Regina, M.P. 1998. The Laboratory Rat. CRC Press : Boca Raton. Hal.
1-17.
Suckow, M.A., Weisbroth, S.H., dan Franklin, C.L. 2006. The Laboratory Rats.
London: Elsevier Academic Press

Sudjadi, Bagad. 2007. Biologi kelas 2 SMA. Jakarta : Yudistira


Zhang, Y., Liu, D., Chen, X., Li, J., Li, L., Bian, Z., et al., 2010. Article Secreted
Monocytic miR-150 Enhances Targeted Endothelial Cell Migration. Mol Cell,
39: 133–144.