Anda di halaman 1dari 26

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hipertensi
1. Pengertian
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah suatu gangguan
pada pembuluh darah yang menyebabkan suplai oksigen dan nutrisi yang
dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang
membutuhkannya (Vitahealth, 2004).
Hipertensi yang diderita seseorang erat kaitannya dengan tekanan
darah sistolik dan diastolik atau keduanya secara terus menerus. Tekanan
darah sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan arteri saat jantung
berkontraksi, sedangkan tekanan darah diastolik berkaitan dengan tekanan
arteri saat jantung relaksasi diantara dua denyut jantung. Dari hasil
pengukuran tekanan sistolik memiliki nilai yang lebih besar dari tekanan
diastolik (J.Corwin, 2005).
Hipertensi adalah tekanan darah sistolik di atas 140 mmHg dan
tekanan darah diastolik di atas 90 mmHg (Adek Wibowo, 2011). Hipertensi
dapat diartikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan darahnya
diatas 140/90 mmHg. Pada lanjut usia hipertensi didefinisikan sebagai
tekanan sistoliknya 160 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 mmHg
(Smeltzer&Bare, 2002).
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi
gejala komplikasi berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul
kerusakan lebih berat yaitu stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada
kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan
pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi
pada otot jantung) (Erlyna Nur Syahrini, 2012).

9
10

2. Klasifikasi
Sampai saat ini penyebab hipertensi banyak yang belum diketahui tetapi
secara umum penyebab hipertensi dibedakan menjadi dua (Julianti, 2005).
a. Hipertensi Primer (esensial)
Hipertensi ini tidak diketahui penyebabnya atau idiopatik. Faktor yang
mempengaruhi hipertensi ini adalah keturunan (genetik), hiperaktivitas
susunan saraf simpatis, sistem rennin-angiotensin, defek dalam ekstraksi
natrium (Na), peningkatan Na dan kalsium (Ca) intraseluler, dan faktor
gaya hidup (kebiasaan makan, konsumsi alkohol dan rokok). Hipertensi
jenis ini lebih banyak prevalensinya.
b. Hipertensi Sekunder (renal)
Penyebab spesifik hipertensi ini diketahui. Diantaranya, yaitu penggunaan
estrogen, penyakit ginjal, kelebihan berat badan, kelebihan kolesterol, dan
hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.

Klasifikasi hipertensi berdasarkan hasil ukur tekanan darah menurut Joint


National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Preassure (JNC) dalam Smeltzer & Bare (2002) yaitu < 130 mmHg untuk
tekanan darah sistolik dan < 85 mmHg untuk tekanan darah diastolik.
Klasifikasi hipertensi menurut JNC terdapat pada tabel 2.1
11

Tabel 2.1
Klasifikasi tekanan darah orang dewasa berusia diatas 18 tahun tidak sedang memakai
obat antihipertensi dan tidak sedang sakit akut.
Kategori Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolik

Normal < 130 mmHg < 85 mmHg

Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg

Stadium 1 140-159 mmHg 90-99 mmHg


(hipertensi ringan)
Stadium 2 160-179 mmHg 100-109 mmHg
(hipertensi sedang)
Stadium 3 180-209 mmHg 110-119 mmHg
(hipertensi berat)
Stadium 4 210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih
(hipertensi maligna / sangat berat)

Menurut (Potter&Perry, 2005), hipertensi sistolik adalah tekanan sistolik


mencapai 140 mmHg atau lebih sedangkan tekanan diastolik mencapai 90
mmHg atau lebih. Oleh karena itu, hipertensi dapat dikategorikan
berdasarkan MAP (Mean Arterial Pressure). MAP adalah tekanan darah
antara sistolik dan diastolik, karena diastolik berlangsung lebih lama daripada
sistolik maka MAP setara dengan 40 % tekanan sistolik ditambah 60 %
tekanan diastolik (Woods, Froelicher, Motzer, & Bridges, 2009). Adapun
rumus MAP adalah tekanan darah sistolik ditambah dua kali tekanan darah
diastolik dibagi 3. Rentang normal MAP adalah 70 mmHg - 99 mmHg.
Kategori hipertensi berdasarkan nilai MAP terdapat pada tabel 2.2.
12

Tabel 2.2
Klasifikasi tekanan darah orang dewasa berusia diatas 18 tahun berdasarkan nilai
Mean Arterial Pressure.
Kategori Nilai MAP

Normal 70 - 99 mmHg

Normal tinggi 100 - 105 mmHg

Stadium 1 (hipertensi ringan) 106 - 119 mmHg

Stadium 2 (hipertensi sedang) 120 - 132 mmHg

Stadium 3 (hipertensi berat) 133 - 149 mmHg

Stadium 4 (hipertensi maligna / sangat berat) 150 mmHg atau lebih

3. Komplikasi
a. Stroke
Stroke dapat terjadi akibat perdarahan tekanan darah tinggi di otak,
atau akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang
terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat menjadi kronis apabila arteri yang
mengalirkan darah ke otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga
pemasukan darah ke otak berkurang. Arteri otak yang mengalami
aterosklerosis dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan
terbentuknya aneurisma (J.Corwin, 2008).
Serangan stroke berawal saat bagian tertentu di otak mengalami
kerusakan akibat jumlah pemasukan darah sangat kurang atau bahkan
tidak ada sama sekali. Kerusakan pembuluh darah tidak terjadi seketika,
melainkan sudah terbentuk sejak lama. Hipertensi menyebabkan
pemasukan darah yang membawa oksigen dan nutrisi secara terus
menerus terhambat, akibatnya terjadi penggumpalan darah pada saluran
arteri yang lama-kelamaan menghalangi aliran darah menuju ke otak
sehingga menimbulkan kematian jaringan (Utami P. , 2009). Area yang
13

mengalami nekrosis atau kematian jaringan disebut infark (Batticaca,


2008).
Gangguan peredaran darah otak akan menimbulkan gangguan pada
metabolisme sel – sel neuron, sel tersebut tidak mampu menyimpan
glikogen sehingga kebutuhan metabolisme tergantung dari glukosa dan
oksigen yang terdapat pada arteri-arteri yang menuju ke otak (Batticaca,
2008).
Nekrosis dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh
jaringan otak. Apabila tidak ditangani secara tepat, penyakit ini dapat
berakibat fatal dan berujung kematian. Meskipun dapat diselamatkan,
kadang-kadang penderita mengalami kelumpuhan pada anggota
badannya, menghilangkan sebagian ingatan, atau hilangnya kemampuan
berbicara. Bentuknya dapat berupa lumpuh sebelah (hemiplegia),
berkurangnya kekuatan sebelah anggota tubuh (hemiparesis), gangguan
bicara, serta gangguan rasa (sensasi) di kulit wajah, lengan dan tungkai
(Utami P. , 2009).
Stroke jenis perdarahan terjadi karena pecahnya pembuluh darah di
otak. Hal ini sangat terkait dengan fluktuasi tekanan darah. Umumnya,
stroke perdarahan terjadi pada saat tekanan darah seseorang tinggi.
Gesekan dari darah yang mengalir pada penderita hipertensi kronik bisa
menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah dalam sehingga
pembuluh darah melemah. Pada saat tekanan darah naik, pembuluh darah
tersebut menjadi pecah (Mahendra, 2004).

b. Infark Miokardium
Infark miokardium terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerosis
tidak dapat menyuplai darah yang cukup oksigen dan nutrisi ke
miokardium atau apabila terbentuk thrombus yang menghambat aliran
darah melalui arteri koroner. Hal ini menyebabkan kebutuhan oksigen
14

miokardium tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang
mengakibatkan infark. Hipertrofi ventrikel dapat menimbulkan
perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga
terjadi disritmia, hipoksia jantung dan peningkatan pembentukan
pembekuan darah (J. Corwin, 2000).

c. Gangguan dan Kerusakan Jantung


Akibat tekanan darah yang tinggi, jantung harus memompa darah dengan
tenaga ekstra keras. Otot jantung semakin menebal dan lemah sehingga
kehabisan energy untuk memompa lagi. Jika terjadi penyumbatan
pembuluh akibat aterosklerosis, gejalanya yaitu pembengkakan pada
pergelangan kaki (swollen ankles), peningkatan berat badan, dan napas
yang tersengal-sengal (Julianti, 2005).

d. Gagal Ginjal
Gagal ginjal adalah keadaan dimana ginjal tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya. Ada dua jenis kelainan pada ginjal akibat
hipertensi, yaitu nefrosklerosis benigna dan nefrosklerosis maligna.
Nefrosklerosis benigna terjadi pada hipertensi yang berlangsung lama
sehingga terjadi pengendapan fraksi-fraksi plasma pada pembuluh darah
akibat proses menua. Hal ini akan menyebabkan daya permeabilitas
dinding pembuluh darah berkurang. Sedangkan nefrosklerosis maligna
merupakan kelainan ginjal yang ditandai dengan naiknya tekanan diastole
di atas 130 mmHg yang disebabkan terganggunya fungsi ginjal (Setiawan
Dalimartha, 2008).

e. Ensefalopati
Ensefalopati dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna (hipertensi
yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini
15

dapat menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan


kedalam ruang interstitium di seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron
disekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian (J. Corwin, 2000).

B. Stroke
1. Pengertian
Stroke adalah kehilangan fungsi otak yang disebabkan oleh
terhentinya suplai darah kebagian otak (Smeltzer&Bare, 2001). Stroke
merupakan sebagian sel-sel otak mengalami kematian akibat gangguan aliran
darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Aliran darah
yang terhenti membuat suplai oksigen dan zat makanan ke otak juga terhenti,
sehingga sebagian otak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (Utami
P. , 2009).
Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan gejala hilangnya
fungsi sistem saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat (dalam
detik atau menit). Gejala-gejala ini berlangsung lebih dari 24 jam atau
menyebabkan kematian (Ginsberg, 2008).

2. Stroke Hemoragik
Merupakan perdarahan serebri dan mungkin perdarahan subarachnoid,
disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Biasanya kejadiannya saat
melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat.
Kesadaran klien umumnya menurun. Stroke hemoragik adalah disfungsi
neurologis fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi
otak yang terjadi secara spontan yaitu karena pecahnya pembuluh arteri,
vena, dan kapiler (Muttaqin, 2008). Stroke hemoragik terjadi apabila
pembuluh darah di otak pecah hingga menyebabkan iskemia (penurunan
aliran) dan hipoksia. Penyebab stroke hemoragik adalah hipertensi, pecahnya
pembuluh darah. Hemoragi dalam otak secara signifikan meningkatkan
16

tekanan intrakranial, yang memperburuk cedera otak yang dihasilkannya


(J.Corwin, 2009).

Stroke hemoragik dibagi dua berdasarkan lokasi serangan otak yaitu :


1) Stroke Hemoragik Intraserebral
Pada kasus ini, sebagian besar orang yang mengalaminya bisa
menderita lumpuh dan susah diobati. Stroke perdarahan ini terjadi di
dalam otak, biasanya mengenai basal ganglia, otak kecil, batang otak,
dan otak besar. Jika yang terkena di daerah thalamus, penderitanya sulit
dapat ditolong meskipun dilakukan tindakan operatif untuk
mengevakuasi perdarahannya (Sutrisno, 2007).

2) Stroke Hemoragik Subarakhnoid (PSA)


Perdarahan subarachnoid adalah salah satu kedaruratan neurologis yang
disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di ruang subarachnoid
(ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang
menutupi otak) (Utami, 2009). Penyebab paling sering perdarahan
subarachnoid adalah aneurisma serebral. Resiko pecahnya aneurisma
tergantung pada lokasi, ukuran, dan ketebalan dinding aneurisma
(Setyopranoto, 2012).

3. Faktor Resiko Stroke


Faktor resiko penyebab stroke dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor
resiko yang tidak dapat dikendalikan dan faktor resiko yang dapat
dikendalikan. Dengan mengenali faktor resiko, maka dapat mencegah
terjadinya stroke.
17

a. Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan


1) Usia
Resiko stroke meningkat seiring pertambahan usia. Setelah berusia 50
tahun, resiko stroke meningkat dua kali setiap kurun waktu sepuluh
tahun. Namun, bukan berarti stroke hanya terjadi pada orang lanjut
usia karena stroke dapat menyerang usia muda (Utami, 2009).

2) Jenis Kelamin
Pria lebih beresiko terkena stroke daripada perempuan, namun
penelitian menyimpulkan bahwa justru lebih banyak perempuan yang
meninggal karena stroke. Resiko stroke 20% lebih tinggi pada pria
daripada perempuan. Namun setelah seorang perempuan menginjak
usia 55 tahun saat kadar estrogen menurun karena menopause
resikonya lebih tinggi dibanding pria (Agromedia, 2009).

3) Garis keturunan atau riwayat keluarga


Faktor genetik di dalam keluarga juga merupakan faktor resiko stroke.
Beberapa penyakit seperti diabetes mellitus dan hipertensi diketahui
dapat diturunkan secara genetic dari seseorang kepada keturunannya.
Dua penyakit tersebut merupakan faktor resiko stropke yang masih
dapat dikontrol dengan pengobatan yang teratur dan menerapkan pola
hidup sehat (Wahyu, 2009).

b. Faktor resiko yang dapat dikendalikan


1) Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor resiko stroke. Hipertensi meningkatkan
resiko stroke 2-4 kali lipat tanpa tergantung pada faktor resiko
lainnya. Hipertensi kronis dan tidak terkendali akan memacu
kekakuan dinding pembuluh darah kecil yang dikenal dengan
18

mikroangiopati. Hipertensi juga akan memacu munculnya timbunan


plak (aterosklerosis) pada pembuluh darah besar. Timbunan plak akan
menyempitkan diameter pembuluh darah. Plak yang tidak stabil akan
mudah rupture/pecah dan terlepas. Plak yang terlepas mengakibatkan
tersumbatnya pembuluh darah otak yang lebih kecil sehingga aliran
darah tidak lancar. Bila ini terjadi timbulnya gejala stroke (Pinzon,
2010)

2) Konsumsi minuman beralkohol


Sekitar 5 – 20% kasus hipertensi disebabkan oleh alkohol. Penelitian
menyebutkan bahwa resiko hipertensi meningkat dua kali lipat jika
mengkonsumsi alkohol tiga gelas atau lebih (Sutomo, 2008).

3) Kurang gerak atau malas berolahraga


Jika seseorang kurang gerak, frekuensi denyut jantung menjadi lebih
tinggi sehingga memaksa jantung bekerja lebih keras setiap kontraksi.
Efeknya adalah meningkatkan resiko hipertensi, rendahnya kadar
HDL (kolesterol baik) dan diabetes. Berolahraga rutin 30-40 menit
per hari dapat mengurangi resiko tersebut (Sutomo, 2008).

C. Pelaksanaan Pencegahan Stroke atau Pengendalian Hipertensi


1. Pemenuhan Diit Hipertensi
a. Diit rendah natrium
Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan tubuh meretensi cairan
yang dapat meningkatkan volume darah. Asupan natrium yang berlebih
dapat mengecilkan diameter pembuluh darah arteri, menyebabkan jantung
harus memompa keras untuk mendorong volume darah melalui ruang
yang makin sempit, sehingga tekanan darah menjadi naik akibatnya
terjadi hipertensi (Rista Emiria Afrida Apriany, 2012). Karena itu
19

disarankan untuk mengurangi konsumsi natrium/sodium. Sumber


natrium/sodium yang utama adalah natrium klorida (garam dapur),
penyedap masakan monosodium glutamate (MSG), dan sodium karbonat
(soda kue), natrium benzoat untuk mengawetkan makanan, natrium
bosulfit untuk mengawetkan daging, natrium sitrat pada minuman.
Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak
lebih dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh (Anggraini,
Waren, Situmorang, Asputra, & Siahaan, 2009)
Macam diet dan indikasi pemberian (Almatsier, 2006):
1) Diit Garam Rendah I (200-400 mg Na), diberikan pada penderita
hipertensi berat dengan tekanan darah sistolik 180-209 mmHg dan
tekanan darah diastolik 110-119 mmHg (Smeltzer&Bare, 2002).
Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur.
Dihindari bahan makanan yang yang tinggi kadar natriumnya.
2) Diit Garam Rendah II (600-800 mg Na), diberikan pada penderita
hipertensi sedang dengan tekanan darah sistolik 160-179 mmHg dan
tekanan darah diastolik 100-109 mmHg (Smeltzer&Bare, 2002) .
Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan 1/2 sdt garam
dapur (2g). Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
3) Diit Garam Rendah III (1000-1200 mg Na), diberikan pada penderita
hipertensi ringan dengan tekanan darah sistolik 140-159 mmHg dan
tekanan darah diastolic 90-99 mmHg. Pada pengolahan makanannya
boleh menggunakan 1 sdt (4g) garam dapur.

Makanan yang mengandung natrium tinggi yaitu sebagai berikut :


1) Sumber karbohidrat dari roti, biskuit, serta kue-kue yang dimasak
dengan garam dapur dan /atau baking powder, dan soda.
2) Sumber protein hewani dari otak, ginjal, lidah, sarden, daging, ikan,
susu, dan telur yang diawetkan dengan garam dapur seperti daging
20

asap, abon, keju, ikan asin, ikan kaleng, dan telur asin. (Ramayulis,
2010)

b. Diit Rendah Kolesterol dan Lemak Terbatas


Kolesterol merupakan lemak seperti lilin dan berwarna kekuningan.
Kadar kolesterol dalam darah dipengaruhi oleh asupan makanan dan
sebagian besar hasil sistesa hati. Apabila jumlahnya normal, kolesterol
sebenarnya bermanfaat memperlancar metabolisme tubuh seperti bahan
pembentuk dinding sel, pembentukan hormon, pembungkus jaringan
saraf, garam empedu, membuat vitamin D, dan juga membantu
perkembangan otak pada anak-anak. Namun bila kadar kolesterol dalam
darah jumlahnya berlebihan, dapat membahayakan tubuh karena memicu
timbulnya penyakit (Sutomo, 2008).
Agar kolesterol tidak memicu timbulnya penyakit, kadarnya harus
dikendalikan yaitu dengan mengatur pola makan. Memperbanyak
konsumsi makanan rendah kolesterol, serta membatasi konsumsi lemak.
Caranya yaitu dengan meningkatkan asupan makanan nabati dan
mengganti lemak berbahaya dengan lemak sehat (Sutomo, 2008).
Ada dua jenis lemak dalam makanan, yaitu lemak jenuh dan lemak
tak jenuh. Lemak jenuh inilah yang menaikkan kadar kolesterol dan
trigliserida. Sebaliknya, lemak tak jenuh bermanfaat menurunkan kadar
kolesterol dalam darah. Sumber lemak jenuh banyak ditemukan pada
makanan hewani seperti daging sapi, kambing, babi, kerbau, keju, susu.
Lemak tak jenuh banyak terdapat pada makanan nabati seperti kacang-
kacangan dan biji-bijian. Tetapi beberapa bahan makanan nabati juga
mengandung lemak jenuh seperti kelapa dan hasil olahannya (Sutomo,
2008).
Pola makan rendah kolesterol dan lemak terbatas, dapat dilakukan
dengan meningkatkan asupan makanan nabati. Dengan demikian, asupan
21

protein nabati meningkat dapat menurunkan kadar kolesterol berlebihan.


Selain itu, apabila penderita hipertensi obesitas, kelebihan berat badannya
akan menurun. Penerapan diet rendah kolesterol dan lemak terbatas perlu
memperhatikan hal-hal berikut, menghindari mengkonsumsi bahan
makanan sumber lemak jenuh seperti kelapa dan produk olahannya
(minyak kelapa), lemak hewan, margarine, dan mentega, membatasi
konsumsi daging dan jerohan seperti hati, limpa, hati, ginjal, mengganti
susu penuh (full cream) dengan susu rendah lemak misalnya susu skim,
membatasi konsumsi kuning telur dalam seminggu konsumsi telur tidak
boleh lebih dari tiga kali, meningkatkan konsumsi tahu, tempe, dan jenis
kacang-kacangan lainnya, memperhatikan kombinasi makanan yang
dikonsumsi agar sesuai dengan kadar kolesterol darah (Sutomo, 2008).
Membatasi konsumsi lemak dilakukan agar kadar kolesterol dalam
darah tidak terlalu tinggi. Kadar kolesterol dalam darah yang tinggi dapat
mengakibatkan terjadinya endapan kolesterol pada dinding pembuluh
darah yang lama kelamaan akan menyumbat pembuluh nadi dan
mengganggu peredaran darah. Dengan demikian, akan memperberat kerja
jantung dan memperparah hipertensi (Ramayulis, 2010). Dianjurkan
untuk mengkonsumsi daging, ayam dan ikan maksimal 100 gram sehari
(Sutomo, 2008).

2. Aktivitas fisik cukup dan berolahraga secara teratur


Aktivitas fisik juga sangat berperan dalam menurunkan tekanan darah.
Aktivitas fisik (olahraga) dapat memperbaiki profil lemak darah, yaitu
menurunkan kadar total kolesterol, LDL dan trigliserida. Bahkan yang lebih
penting, olahraga dapat memperbaiki HDL. Takaran olahraga yang tepat
dapat menurunkan hipertensi, obesitas, serta diabetes mellitus. Hasil
penelitian dengan olahraga saja sama efektifnya dengan kombinasi antara
olahraga dan obat (Soeharto, 2004).
22

Orang yang banyak duduk dengan tekanan darah normal kemungkinan


untuk terkena tekanan darah tinggi 20-50% lebih besar dibandingkan dengan
orang yang beraktifitas fisik (Gowan, 2001). Kategori tingkat aktivitas fisik
berdasarkan pada jenis pekerjaan :
a. Tingkat aktifitas fisik ringan (sedentary lifestyle)
Orang-orang yang tidak banyak melakukan kegiatan fisik, tidak banyak
berjalan kaki dalam jarak jauh, menggunakan alat transportasi, tidak
berolahraga secara teratur dan lebih banyak menghabiskan aktifitas
kesehariannya dalam posisi duduk diam dan berdiri dengan sedikit
bergerak, misalnya staf dan karyawan kantor tanpa olahraga dan aktivitas
fisik yang tidak menguras tenaga.
b. Tingkat aktivitas fisik sedang
Orang yang tidak terlalu banyak menggunakan energi, tetapi lebih banyak
mengeluarkan energi bila dibandingkan dengan orang yang beraktivitas
ringan. Pada umumnya orang-orang tersebut melakukan suatu pekerjaan
berat namun dalam satu jangka waktu tertentu, misalnya kegiatan harian
yang dilakukan selama satu jam (langsung atau bertahap dalam hari yang
sama), bekerja harus naik turun tangga, olahraga ringan, dan pekerjaan
rumah tangga.
c. Tingkat aktivitas fisik berat
Bila orang tersebut dalam kesehariannya melakukan aktivitas yang
mengeluarkan banyak energi seperti menari, berenang, bekerja sebagai
buruh tani yang melakukan pekerjaan mencangkul, berjalan kaki dalam
jarak yang jauh dengan beban berat, pekerjaan lapangan dan pekerjaan
kuli bangunan. (FAO, 2001).
Olahraga teratur yang tidak terlalu berat, penderita hipertensi tidak
perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali. Selain
meningkatkan perasaan sehat dan kemampuan untuk mengatasi stress,
keuntungan latihan aerobik yang teratur adalah meningkatnya kadar HDL-C,
23

menurunnya kadar LDL-C, menurunnya tekanan darah, berkurangnya


obesitas, berkurangnya frekuensi denyut jantung saat istirahat dan
menurunnya resistensi insulin (Sylvia A. Price dan Wilson, 2005)
Menurut penelitian, olahraga secara teratur dapat mengurangi atau
menghilangkan endapan kolesterol pada pembuluh darah. Olahraga yang
dimaksud adalah latihan aerobik menggerakkan semua nadi dan otot tubuh
seperti gerak jalan/jalan kaki, senam, jogging, berenang, naik sepeda. Tidak
dianjurkan melakukan olahraga yang menegangkan (Bustan, 2007).
Latihan aerobic yang dilakukan agar dapat berpengaruh terhadap
efisiensi kerja jantung, sebaiknya latihan berada pada intensitas sedang atau
denyut jantung 150 – 170 per menit. Jenis olahraga yang efektif menurunkan
tekanan darah adalah olahraga aerobic dengan intensitas sedang. Salah satu
contohnya, jalan kaki cepat. Frekuensi latihan 3 – 5 kali seminggu, dengan
lama latihan 20 – 60 menit sekali latihan. Latihan olahraga bisa menurunkan
tekanan darah karena latihan itu dapat merilekskan pembuluh – pembuluh
darah, sehingga tekanan darah menurun. Sama halnya dengan melebarnya
pipa air akan menurunkan tekanan air. Latihan olahraga juga dapat
menyebabkan aktivitas saraf, resptor hormone, dan produksi hormon –
hormone tertentu menurun. Bagi penderita hipertensi latihan olahraga tetap
cukup aman. Catatan khusus untuk penderita tekanan darah tinggi berat,
misalnya dengan tekanan darah sistolik lebih tinggi dari 180mmHg dan atau
tekanan diastoliknya lebih tinggi dari 110 mmHg, sebaiknya tetap
menggunakan obat-obatan penurun tekanan darah dari dokter sebelum
memulai program penurunan tekanan darah dengan latihan olahraga (Sutomo,
2008).
Kondisi penderita hipertensi secara medis berbeda dengan orang sehat.
Untuk itu, perlu olahraga yang juga dilakukan secara khusus. Latihannya
harus bertahap dan tidak boleh memaksakan diri. Contoh latihan yang bisa
diterapkan setiap hari adalah sebagai berikut :
24

a. Pemanasan :
1) Tekuk kepala ke samping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang
sama dengan arah kepala. Tahan dengan hitungan 8-10 lalu bergantian
dengan sisi lain.
2) Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus ke atas kepala dengan
posisi kedua kaki dibuka selebar bahu. Tahan dengan 8-10 hitungan.
Rasakan tarikan bahu dan punggung.
b. Inti :
1) Lakukan gerakan seperti jalan ditempat dengan lambaian kedua tangan
searah dengan sisi kaki yang diangkat. Lakukan perlahan dan hindari
hentakan.
2) Buka kedua tangan dengan jemari mengepal dan kaki dibuka selebar
bahu. Kedua kepala tangan bertemu, dan ulangi gerakan semampunya
sambil mengatur napas.
3) Kedua tangan dibuka agar lebar lalu angkat tangan menyerong. Sisi
kaki yang searah dengan tangan sedikit ditekuk. Tangan diletakkan di
pinggang dan kepala searah dengan gerakan tangan. Tahan 8-10
hitungan laluganti dengan sisi yang lainnya.
4) Gerakan hampir sama dengan sebelumnya, tapi jari mengepal dan
jedua tangan diangkat ke atas. Lakukan secara perlahan dan
semampunya
5) Hampir sama dengan gerakan inti 1 tapi kaki dibuang ke samping.
Kedua tangan dengan tangan jemari mengepal kearah yang
berlawanan. Ulangi dengan sisi bergantian.
6) Kedua kaki dibuka lebih lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan
tangan yang searah lutut di pinggang. Tangan sisi yang lain lurus kea
rah lutut yang ditekuk. Ulangi gerakan kearah sebaliknya dan lakukan
semampunya
25

c. Pendinginan :
1) Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan
tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 8-10 dan lakukan pada sisi
lainnya.
2) Posisi tetap, tautkan kedua tangan lalu gerakkan ke samping dengan
gerakan setengan putaran. Tahan 8-10 kali hitungan lalu arahkan
tangan ke sisi lainnya dan tahan dengan hitungan sama.

Olahraga terdiri dari tiga prinsip yaitu pemanasan, latihan inti dan
pendinginan. Gerakan pemanasan bertujuan untuk menyiapkan otot agar
meregang secara perlahan sehingga mencegah terjadinya cedera. Gerakan
pemanasan dilakukan dengan cara jalan ditempat, gerakkan kepala, bahu,
siku, tangan, kaki, lutut, dan pinggul. Setelah latihan inti, harus dilakukan
pendinginan dan melakukan gerakan- gerakan menarik napas dan buang napas
secara teratur. Setiap sesi latihan terdiri dari latihan pemanasan selama 5
sampai dengan 10 menit, latihan inti selama 20 sampai 60 menit dan
pendinginan selama 5-10 menit (Santoso, 2009).

3. Istirahat Tidur
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana persepsi dan
reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau menghilang, dan dapat
dibangunkan kembalidengan indra atau rangsangan yang cukup (Asmadi,
2008). Tidur merupakan suatu proses perubahan kesadaran yang terjadi
berulang-ulang selama periode tertentu. Satu teori fungsi tidur adalah
berhubungan dengan penyembuhan. Teori lain tentang kegunaan tidur adalah
tubuh menyimpan energy selama tidur, otot skeletal berelaksasi secara
progresif, dan tidak adanya kontraksi otot menyimpan energy kimia untuk
proses selular. Penurunan laju metabolik basal lebih jauh menyimpan
persediaan energy tubuh (Potter&Perry, 2005).
26

Istirahat yang dilakukan seharusnya tidak berlebihan dan kekurangan.


Istirahat akan membuat tubuh kembali segar. Istirahat siang yang paling baik
dilakukan adalah selama 2 jam. Istirahat yang dilakukan secara berlebihan
tidak baik untuk kesehatan tubuh. Seseorang yang tidur kurang dari 5 jam
setiap malamnya memiliki resiko lebih tinggi 39% terkena penyakit jantung
dibandingkan dengan yang tidur 8 jam. Seseorang yang tidur kurang dari 6
jam memiliki resiko lebih tinggi 18% terkena sumbatan arteri dan orang yang
tidur 9 jam atau lebih diperkirakan memiliki resiko lebih tinggi 37% terkena
penyakit jantung (Novita Nining Widyaningsih, 2008).
Menurut (Anggraini, Waren, Situmorang, Asputra, & Siahaan, 2009),
klasifikasinya adalah :
a. Kurang < 6jam perhari
b. Sedang 6-8 jam perhari
c. Lebih > 8 jam perhari

Kebutuhan tidur pada dewasa awal (18 – 40 tahun) dalam sehari berkisar
antara 7 – 8 jam. Untuk dewasa tengah (40 – 60 tahun) selama 6 – 8 jam
perhari (Potter&Perry, 2005). Kebutuhan tidur pada usia lanjut/dewasa ahir
sangat penting. Sebagian besar lansia berisiko tinggi mengalami gangguan
tidur akibat beberapa faktor. Selama menua, terjadi perubahan fisik dan
mental yang diikuti dengan perubahan pola tidur yang berbeda dengan orang
yang lebih muda. Perubahan-perubahan itu mencakup kelatenan tidur,
terbangun pada dini hari, dan peningkatan jumlah tidur siang. Kurang tidur
berkepanjangan dan sering terjadi dapat mengganggu kesehatan fisik maupun
psikis. Kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda, usia lanjut membutuhkan
waktu tidur 6-7 jam per hari. Walaupun mereka menghabiskan lebih banyak
waktu di tempat tidur, tetapi usia lanjut sering mengeluh terbangun pada
malam hari, memiliki waktu tidur kurang total, mengambil lebih lama tidur,
dan mengambil tidur siang lebih banyak (Hidayat A. A., 2008).
27

4. Manajemen Stress
Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf
simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Stres atau
ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, bingung, cemas, berdebar-debar,
rasa marah, dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar
anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut
lebih cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat
(Mahendra, 2004). Penderita hipertensi yang mendapatkan penatalakasanaan
hipertensi ataupun tidak cenderung memiliki tekanan darah yang tinggi meski
ada kalanya tekanan darah mereka berada dalam batas normal. Kondisi ini
akan diperburuk dengan adanya peningkatan tekanan darah akibat stres, maka
tekanan darah akan menjadi semakin tinggi. Apabila kondisi ini berlangsung
terus menerus dalam kurun waktu yang lama tanpa ada penangganan yang
tepat maka tekanan darah yang tinggi tersebut akan sulit dikontrol. Tekanan
darah pada penderita hipertensi yang tidak terkontrol inilah, yang menjadi
penyebab utama terjadinya stroke (Hesty Titis Prasetyorini, 2012).
Stres dibagi menjadi tiga tingkatan. (Rasmun, 2004) :
a. Stres ringan
Stres yang tidak merusak aspek fisiologis dari seseorang. Stres ringan
umumnya dirasakan oleh setiap orang misalnya lupa, ketiduran, dikritik,
dan kemacetan. Stres ringan biasanya hanya terjadi dalam beberapa menit
atau beberapa jam. Situasi ini tidak akan menimbulkan penyakit kecuali
jika dihadapi terus menerus.
b. Stres sedang dan stres berat dapat memicu terjadinya penyakit. Stres
sedang terjadi lebih lama, dari beberapa jam hingga beberapa hari.
Contoh dari stresor yang dapat menimbulkan stres sedang adalah
kesepakatan yang belum selesai, beban kerja yang berlebihan,
mengharapkan pekerjaan baru, dan anggota keluarga yang pergi dalam
waktu yang lama.
28

c. Stres berat adalah stres kronis yang terjadi beberapa minggu sampai
beberapa tahun. Contoh dari stresor yang dapat menimbulkan stres berat
adalah hubungan suami istri yang tidak harmonis, kesulitan finansial, dan
penyakit fisik yang lama.
Mengelola stres membantu mengurangi tekanan darah. Namun,
langkah-langkah untuk mengatasi stres dapat berbeda untuk setiap orang.
Relaksasi dan manajemen stres diperlukan untuk penderita hipertensi agar
dapat mengendalikan tekanan darah seperti rileks/santai, berpikir positif,
rekreasi, istirahat yang cukup, tarik napas dalam secara teratur, bercerita
kepada orang lain akan masalah yang dialaminya (Gunarya, 2008). Selain itu
meditasi dengan mengontrol nafas dan visualisasi. Kombinasi tersebut
merupakan manajemen yang efektif untuk mengatasi stress (Marcella, 2012).
Mekanisme koping adaptif antara lain berbicara dengan orang lain,
memecahkan masalah dengan teknik relaksasi. Sedangkan mekaninme
koping maladaptive antara lain makan berlebihan atau bahkan tidak makan,
bekerja berlebihan (Smeltzer&Bare, 2002).
Relaksasi dan meditasi yaitu dimana peserta diminta untuk
merelaksasikan otot-otot, menggerakkan atau mengalirkan kesadaran ke
seluruh organ tubuh masing-masing dengan diiringi ingatan dan pujian
terhadap Tuhan. Sembari mendengarkan musik orkestra alami (Gunarya,
2008).

5. Pembatasan konsumsi rokok dan tidak mengkonsumsi alkohol.


Kebiasaan merokok juga harus dikurangi bahkan dihindari, karena
keadaan jantung dan paru-paru mereka yang merokok tidak akan dapat
bekerja secara efisien. Asap rokok mengandung nikotin yang memacu
pengeluaran zat-zat seperti adrenalin yang dapat merangsang denyutan
jantung dan tekanan darah. Merokok terus-menerus dalam jangka panjang
berpeluang besar untuk menimbulkan penyumbatan arteri dileher. Penelitian
29

Framingham Heart Study menemukan bahwa merokok menurunkan kadar


kolesterol baik (HDL). Penelitian lain menunjukkan mereka yang merokok
20 batang atau lebih per hari mengalami penurunan HDL sekitar 11% untuk
laki-laki dan 14% untuk perempuan dibandingkan mereka yang tidak
merokok (Soeharto, 2004).
Menurut (Bustan M. , 2000), merokok dimulai sejak umur < 10tahun
atau lebih dari 10 tahun. Semakin awal/berusia muda seseorang mulai
merokok, maka makin sulit untuk berhenti merokok. Rokok juga punya
doseresponse effect, artinya semakin muda usia merokok, akan semakin besar
pengaruhnya.
Merokok sebatang setiap hari akan meningkatkan tekanan sistolik 10-
25 mmHg dan menambah detak jantung 5-20 kali per menit. Semakin banyak
jumlah rokok yang dihisap semakin berpengaruh juga terhadap peningkatan
tekanan darah (Apriana Kurniati, 2012).
Seseorang dikatakan perokok dengan kategori :
a. Perokok ringan bila rokok yang dihisap kurang dari 10 batang/hari.
b. Perokok sedang bila rokok yang dihisap sebanyak 11-20 batang sehari
c. Perokok berat bila menghisap rokok lebih dari 21 batang/hari.
Untuk konsumsi rokok pecandu, mengurangi secara bertahap mulai
dari 5 batang rokok sampai memberhentikan total. Perokok pasif atau orang
yang tidak merokok tetapi berada di dekat orang yang merokok pun terkena
dampak negative dari asap rokok yang lebih bahaya dari perokon itu sendiri
(B.Cahyono, 2008).
Asap rokok bukan saja memberikan dampak buruk bagi perokok,
melainkan juga bagi orang lain yang menghisap asap rokok tersebut tanpa
dirinya sendiri merokok/terpapar asap rokok (perokok pasif). Demikian
keadaan yang terjadi pada orang yang terpaksa harus menghirup asap rokok
dari orang-orang sekelilingnya yang merokok. Menghirup asap rokok
walaupun bukan perokok dikenal dengan istilah perokok pasif. Menghirup
30

asap rokok orang lain lebih berbahaya dibandingkan menghisap rokok


sendiri. Bahkan bahaya yang harus ditanggung perokok pasif tiga kali lipat
dari bahaya perokok aktif. Para ilmuwan membuktikan bahwa zat-zat kimia
yang dikandung asap rokok dapat mempengaruhi kesehatan orang-orang
disekitar perokok yang tidak merokok. Dampak bahaya merokok tidak
langsung bisa dirasakan dalam jangka pendek tetapi terakumulasi beberapa
tahun kemudian, terasa setelah 10-20 tahun pasca digunakan. Dengan
demikian secara nyata dampak rokok berupa kejadian hipertensi akan muncul
kurang lebih setelah berusia lebih dari 40 tahun, sebab dipastikan setiap
perokok yang menginjak usia 40 tahun ke atas telah menghisap rokok lebih
dari 20 tahun. Jika merokok dimulai usia muda, berisiko mendapat serangan
jantung menjadi dua kali lebih sering dibanding tidak merokok. Serangan
sering terjadi sebelum usia 50 tahun (Depkes, 2008)
Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan kematian
kardiovaskular. Tujuh penelitian kematian pecandu alkohol menunjukkan
bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah besar diikuti dengan peningkatan
kematian penyakit jantung koroner. Penelitian pada lebih dari 700 pria yang
diotopsi dengan usia 30-69 tahun, terdapat aterosklerosis koroner yang luas
diantara sampel yang mengkonsumsi alkohol dalam 16 hari atau lebih setiap
bulannya daripada peminum sedang atau bukan peminum. (Sutomo, 2008).
Jika pada penderita hipertensi yang mempunyai riwayat candu alkohol
sebaiknya mengurangi minuman alkohol pada batas maksimal 1 gelas (pada
kadar 15% alcohol) sampai memberhentikannya mengkonsumsi (B.Cahyono,
2008)
Minuman beralkohol adalah semua jenis minuman beralkohol, tetapi
bukan obat, yang meliputi : minuman keras Golongan A, minuman keras
golongan B dan minuman keras golongan C.
a. Minuman beralkohol golongan A
Kadar ethanol dari 1% sampai 5%, antara lain :
31

1) Bintang baru bir isi 330 ml/botol


2) Champindo anggur buas isi 290 ml/botol
3) Green sand isi 296 ml/botol
4) San Miguel isi 1000 ml/botol
5) Jinro (Korean ginseng wine) isi 720 ml/botol
6) Tiger lager beer isi 64 ml/botol
7) Angker bir isi 330 ml/botol
8) Heineken bier isi 330 ml/botol
9) Wolf (giness foregn extra stout) isi 330 ml/botol
10) Baby breem isi 30 ml/botol
b. Minuman keras golongan B
Kadar ethanol lebih diri 5% sampai 20%, antara lain :
1) Anggur Malaga isi 350 cc/botol
2) Anggur koleson cap 39 isi 600/botol
3) Whisky (asoka pelican) isi 1000 cc/botol
4) Kucing anggur ketan isi 650 cc/botol
5) Lengkeng port intisari isi 750 cc/botol
6) 5 koleson (anggurvberas kencur) isi 650 cc/botol
7) Mahoni (anggur) isi 300 cc/botol
8) Malaga isi 650 cc/botol
9) Mc.Donald (arak kolesom) isi 650 ml/botol
10) Orang tua anggur 620 ml/botol
c. Minuman keras golongan C
Kadar ethanol 20% sampai 55%, antara lain :
1) Kuda mas (brendi) isi 620 cc/botol
2) Kuda pacu jenever isi 600 cc/botol
3) Mansion house (brandy) isi 650 ml/botol
4) Orang tua arak isi 620 ml/botol
5) Scoth brandy isi 620 cc/botol
32

6) Sea hors (brandy) isi 725 cc/botol


7) Steavenson (brandy) isi 600 ml/botol
8) T.K.W brandy isi 325 cc/botol
9) Wincarno anggur isi 640 cc/botol
33

D. Kerangka Teori

Faktor resiko yang Faktor resiko yang


tidak dapat diubah dapat diubah

1. Usia 1. Pola asupan natrium


2. Jenis yang berlebih
kelamin 2. Konsumsi lemak
3. Genetik berlebih
3. Aktifitas fisik atau
olahraga
4. Kebiasaan merokok

Hipertensi

Pengendalian tekanan darah

1. Pemenuhan diit hipertensi 1. Tidak mengontrol diit hipertensi


2. Olahraga secara teratur 2. Malas berolahraga
3. Pengaturan aktivitas fisik 3. Malas beraktivitas fisik
4. Pemenuhan istirahat tidur 4. Pemenuhan istirahat tidur kurang
5. Manajemen stress 5. Tidak melakukan penatalaksanaan
6. Pembatasan konsumsi stress
merokok dan alkohol 6. Mengkonsumsi rokok dan alkohol
yang berlebih

Terkendali Tidak terkendali

stroke

Skema 2.1

Kerangka Teori(Anggraini, Waren, Situmorang, Asputra, & Siahaan, 2009),


(Smeltzer & Bare, 2002), dan (Muttaqin, 2008)
34

E. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu pelaksanaan
pencegahan stroke pada penderita hipertensi.

F. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah gambaran pelaksanaan
pencegahan stroke pada penderita hipertensi di RW II Kelurahan Sambiroto
Semarang..