Anda di halaman 1dari 37

TUGAS MATA KULIAH

K3 DALAM KEPERAWATAN

“INSTALASI GAWAT DARURAT”


Disusun oleh:
Kelompok 2

1. Al Della Noviana Asgar


2. Bertolumeus Seda
3. Diah Setiani
4. H. Guntur Saputra Prayudi
5. Hana Yolanda
6. Neny Herdianti

Dosen Pembimbing:
Ns. Zainuddin, S. Kep., M. Kep.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga penulisan makalah dapat kami selesaikan.

Shalawat beriring salam semoga dilimpahkan kepada Baginda Rasulullah


saw, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang istiqamah di jalan-Nya hingga
akhir zaman.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata ajar K3
Keperawatan. Selain itu, agar pembaca dapat memperluas ilmu yang berkaitan
dengan judul laporan, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber dan hasil kegiatan yang telah dilakukan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait, terutama


kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengajaran
dalam penyelesaian makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Dan kami menyadari masih banyak kekurangan yang mendasar dalam
makalah ini. Oleh karena itu, kami memohon keterbukaan dalam pemberian saran
dan kritik agar lebih baik lagi untuk ke depannya.

Samarinda, Desember 2018

Kelompok 2

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii


DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 3
C. Tujuan ..................................................................................................................... 3
D. Manfaat .....................................................................Error! Bookmark not defined.
BAB II TELAAH PUSTAKA ............................................................................................ 5
A. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja ........................................................ 5
B. Bahaya Yang Dihadapi Dalam Rumah Sakit Atau Instansi Kesehatan .................. 6
C. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. ......................................................... 8
D. Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan ............................................................. 22
E. Penegakan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah sakit (K3RS) dan
Peran Dinas Kesehatan ................................................................................................. 26
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 31
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 31
B. Saran ..................................................................................................................... 31

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan Rumah Sakit sebagai industri jasa merupakan bentuk upaya
pelayanan kesehatan yang bersifat sosioekonomi, yaitu suatu usaha yang
walau bersifat sosial namun diusahakan agar bisa memperoleh surplus dengan
cara pengelolaan yang profesional. Rumah Sakit merupakan institusi yang
sifatnya kompleks dan sifat organisasinya majemuk, maka perlu pola
manajemen yang jelas dan modern untuk setiap unit kerja atau bidang kerja.
Salah satunya pada bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Potensi bahaya pada petugas Rumah Sakit lebih besar risikonya bila
dibandingkan dengan tenaga kerja pada umumnya. Tenaga kerja Rumah Sakit
lebih rentan terkena risiko bahaya, kemungkinan keseleo, cidera, infeksi dan
penyakit yang berasal dari parasit, dermatitis, hepatitis dan lain-lain. Melihat
perkembangan Rumah Sakit saat ini, fasilitas pendukung medis pun semakin
berkembang sehingga potensi bahaya dan permasalahannya pun semakin
kompleks sehingga perlu adanya proteksi bagi petugas kesehatan untuk
menjamin keselamatan dan kesehatan saat melakukan aktivitas pekerjaan.
Potensi bahaya yang timbul di Rumah Sakit selain penyakit- penyakit infeksi
juga ada potensi bahaya lainnya yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi
Rumah Sakit, yaitu kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang
berhubungan dengan instalasi listrik dan sumber-sumber cidera lainnya),
radiasi, bahan-bahan kimia berbahaya, gas-gas anestesi, gangguan
psikososial, dan ergonomi
Instalasi gawat darurat (IGD) adalah bagian dari unit pelayanan yang
paling vital dalam membantu menyelamatkan nyawa pasien yang mengalami
kegawatan medis ketika pertama kali masuk rumah sakit. Karena penanganan
gawat darurat harus mendapatkan response time yang cepat dan tindakan
yang tepat telah menyebabkan tenaga kesehatan di bagian ini sering terpapar
berbagai sumber bahaya yang dapat mengancam jiwa dan kesehatannya

1
(Depkes RI, 2006). Menurut Nurmansyah dkk (2014) permintaan jasa
pelayanan rumah sakit termasuk di IGD terus meningkat, hal ini disebabkan
peningkatan berbagai jenis penyakit infeksi, penyakit akut degeneratif,
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, bencana dan kejadian lainnya.
Keputusan Menteri Kesehatan No.432 Tahun 2007 tentang Pedoman
Manajemen K3 di Rumah Sakit menjelaskan bahwa Rumah Sakit mempunyai
banyak potensi bahaya yang mengancam jiwa dan kehidupan bagi para
karyawan di Rumah Sakit, para pasien maupun para pengunjung yang ada di
lingkungan Rumah Sakit. Sedangkan di dalam Undang-Undang No.36 tahun
2009 tentang Kesehatan, khususnya pasal 164, 165 dan 166 dijelaskan bahwa
pengelola tempat kerja/ pengusaha wajib menjamin keselamatan dan
kesehatan pekerjanya melalui upaya pencegahan, peningkatan, pengobatan
dan pemulihan serta wajib menanggung seluruh biaya pemeliharaan kesehatan
pekerja. Berdasarkan pasal diatas maka pengelola Rumah Sakit harus
menjamin Keselamatan dan Kesehatan baik terhadap pasien, penyedia
layanan atau pekerja maupun masyarakat sekitar dari berbagai potensi bahaya
di Rumah Sakit. Oleh karena itu, Rumah Sakit dituntut untuk melaksanakan
upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dilaksanakan secara
terintegrasi dan menyeluruh sehingga risiko terjadinya Penyakit Akibat Kerja
(PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) di Rumah Sakit dapat dihindari.
Laporan dari The National Safety Council (NSC) tahun 2015 mencatat
bahwa sektor pelayanan kesehatan memiliki risiko terjadinya kecelakaan
kerja lebih besar dari pada sektor industri lain. Pada tahun 2013 saja terdapat
666.300 kasus Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja pada petugas
pelayanan kesehatan, dengan rasio 4.4 kasus tiap 100 petugas kesehatan yang
menyebabkan hilangnya hari kerja, pengalihan pekerjaan atau larangan
bekerja. Sumber bahaya yang menyebabkan pekerja berisiko mengalami
kecelakaan kerja diantaranya berasal dari pelayanan kesehatan pasien,
permukaan lantai, gerakan atau posisi tubuh pekerja, peralatan kerja, bahan
kimia, mesin, dan sumber-sumber bahaya lainnya. Sedangkan kejadian
kecelakaan kerja yang dialami pekerja dari yang terbesar adalah, terjatuh,

2
tergelincir, benturan dengan benda atau peralatan, kelelahan pada bagian
tubuh tertentu karena posisi kerja yang salah dan gerakan yang berulang-
ulang, serta paparan zat-zat berbahaya.
Berdasarkan data dari International Labour Organization (ILO)
pada tahun 2012, 1 (satu) pekerja di dunia meninggal setiap 15 detik karena
kecelakaan kerja dan 153 pekerja mengalami sakit akibat kerja. Sedangkan
di Indonesia, hasil survei ILO menyebutkan bahwa Indonesia berada pada
peringkat dua terendah di dunia dalam penerapan K3, yaitu menempati
urutan ke 152 dari 153 negara. Dipaparkan bahwa dari 15.043 perusahaan
berskala besar, hanya sekitar 317 perusahaan (2,1%) yang menerapkan
SMK3 dan standar keselamatan kerja di Indonesia dan itu pun merupakan yang
paling buruk jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia
Tenggara. Kondisi lain yang terjadi di Indonesia yaitu terjadinya kecelakaan
kerja sebanyak 29 kasus yang mengakibatkan kematian dalam 100.000
pekerja Indonesia. ILO juga mencatat bahwa setiap tahunnya di Indonesia
terjadi 99.000 kecelakaan dengan 70% di antaranya menyebabkan kematian
dan cacat seumur hidup. Kecelakaan kerja Indonesia telah membuat Negara
Indonesia merugi hingga 280 triliun rupiah.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja faktor resiko, hazard, penyakit / cidera akibat kerja ?
2. Apa saja upaya / penanggualangan dengan manajemen resiko / hirarki
penegendalian resiko ?
3. Apa saja manajemen keselamatan pasien ?
4. Apa Yang Dimaksud dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di IGD ?
5. Apasajakah Upaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui factor resiko, hazard,penyakit/cidera akibat kerja

3
2. Untuk mengetahui upaya/penanggulangan dengan manajemen
resiko/hirarki pengendalian resiko
3. Untuk mengetahui manajemen keselamatan pasien di ruang IGD.
4. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan kesehatan dan keselamatan
kerja dirumah sakit
5. Untuk mengetahui upaya kesehatan dan keselamatan kerja di rumah
sakit.

4
BAB II
TELAAH PUSTAKA

A. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu
bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari
pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja
menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan
pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara
menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada
masyarakat luas.
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan
petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam
dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di
beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan
kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering
terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan
pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko
kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah
tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus
melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan
pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya.
Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan
hidupnya. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan
faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang
mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri,
keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir
Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan

5
mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja
dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari
pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Dalam Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2003 tentang Kesehatan, Pasal 23 dinyatakan bahwa upaya
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus diselenggarakan di semua
tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai risiko bahaya
kesehatan, mudah terjangkit penyakit atau mempunyai karyawan paling
sedikit 10 orang. Jika memperhatikan isi dari pasal di atas maka jelaslah
bahwa Rumah Sakit (RS) termasuk ke dalam kriteria tempat kerja dengan
berbagai ancaman bahaya yang dapat menimbulkan dampak kesehatan, tidak
hanya terhadap para pelaku langsung yang bekerja di RS, tapi juga terhadap
pasien maupun pengunjung RS. Sehingga sudah seharusnya pihak pengelola
RS menerapkan upaya-upaya K3 di RS.
Potensi bahaya di RS, selain penyakit-penyakit infeksi juga ada potensi
bahaya-bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di RS, yaitu
kecelakaan (peledakan, kebakaran, kecelakaan yang berhubungan dengan
instalasi listrik, dan sumber-sumber cidera lainnya), radiasi, bahan-bahan
kimia yang berbahaya, gas-gas anastesi, gangguan psikososial dan ergonomi.
Semua potensi bahaya tersebut di atas, jelas mengancam jiwa dan kehidupan
bagi para karyawan di RS, para pasien maupun para pengunjung yang ada di
lingkungan RS.

B. Bahaya Yang Dihadapi Dalam Rumah Sakit Atau Instansi Kesehatan


Dalam pekerjaan sehari-hari petugas keshatan selalu dihadapkan pada
bahaya-bahaya tertentu, misalnya bahaya infeksius, reagensia yang toksik ,
peralatan listrik maupun peralatan kesehatan. Secara garis besar bahaya yang
dihadapi dalam rumah sakit atau instansi kesehatan dapat digolongkan dalam
1) Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau
meledak (obat– obatan).
2) Bahan beracun, korosif dan kaustik .
3) Bahaya radiasi .

6
4) Luka bakar .
5) Syok akibat aliran listrik .
6) Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam .
7) Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit.
Pada umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan usaha-usaha
pengamanan, antara lain dengan penjelasan, peraturan serta penerapan
disiplin kerja. Pada kesempatan ini akan dikemukakan manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja di rumah sakit / instansi kesehatan.
Hasil laporan National Safety Council (NSC) tahun 2008 menunjukkan
bahwa terjadinya kecelakaan di RS 41% lebih besar dari pekerja di industri
lain. Kasus yang sering terjadi adalah tertusuk jarum, terkilir, sakit pinggang,
tergores/terpotong, luka bakar, dan penyakit infeksi dan lain-lain. Sejumlah
kasus dilaporkan mendapatkan kompensasi pada pekerja RS, yaitu sprains,
strains : 52%;contussion, crushing, bruising : 11%; cuts, laceration,
punctures: 10.8%; fractures: 5.6%; multiple injuries: 2.1%; thermal burns:
2%; scratches, abrasions: 1.9%; infections: 1.3%; dermatitis: 1.2%; dan lain-
lain: 12.4% (US Department of Laboratorium, Bureau of Laboratorium
Statistics, 1983).
Laporan lainnya yakni di Israel, angka prevalensi cedera punggung
tertinggi pada perawat (16.8%) dibandingkan pekerja sektor industri lain. Di
Australia, diantara 813 perawat, 87% pernah low back pain, prevalensi 42%
dan di AS, insiden cedera musculoskeletal 4.62/100 perawat per tahun.
Cedera punggung menghabiskan biaya kompensasi terbesar, yaitu lebih dari 1
milliar $ per tahun. Khusus di Indonesia, data penelitian sehubungan dengan
bahaya-bahaya di RS belum tergambar dengan jelas, namun diyakini bahwa
banyak keluhan-keluhan dari para petugas di RS, sehubungan dengan bahaya-
bahaya yang ada di RS.
Selain itu, tercatat bahwa terdapat beberapa kasus penyakit kronis yang
diderita petugas RS, yakni hipertensi, varises, anemia (kebanyakan wanita),
penyakit ginjal dan saluran kemih (69% wanita), dermatitis dan urtikaria

7
(57% wanita) serta nyeri tulang belakang dan pergeseran diskus
intervertebrae.
Ditambahkan juga bahwa terdapat beberapa kasus penyakit akut yang
diderita petugas RS lebih besar 1.5 kali dari petugas atau pekerja lain, yaitu
penyakit infeksi dan parasit, saluran pernafasan, saluran cerna dan keluhan
lain, seperti sakit telinga, sakit kepala, gangguan saluran kemih, masalah
kelahiran anak, gangguan pada saat kehamilan, penyakit kulit dan sistem otot
dan tulang rangka. Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya
untuk mengendalikan, meminimalisasi dan bila mungkin meniadakannya,
oleh karena itu K3 RS perlu dikelola dengan baik. Agar penyelenggaraan K3
RS lebih efektif, efisien dan terpadu, diperlukan sebuah pedoman manajemen
K3 di RS, baik bagi pengelola maupun karyawan RS.

C. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang


Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
1. Bahaya Lingkungan Fisik
Hasil pengukuran mengenai lingkungan fisik (kelembaban, temperatur,
pencahayaan dan kebisingan) menunjukkan bahwa keempat komponen
tersebut melebihi ambang batas yang ditentukan sesuai dengan keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
a. Tempratur
Usia bangunan dapat mencapai 50-100 tahun, karena itu penting sekali
dipikirkan mengenai pemakaian energi dalam tahap disain. Apabila
kita salah dalam mengambil keputusan dalam tahap disain, akibatnya
harus ditanggung selama gedung ini berdiri.
Misalnya kalau kita lebih banyak menggunakan AC, padahal bisa
dihemat dengan membuka jendela, lubang angin, tanaman, pelindung
(awning), beranda. Selain kerugian dalam bentuk materi (uang) juga
merusak lingkungan dan menghabiskan energi yang tidak perlu.
Thermal comfort Zone, Moore (1999) adalah kombinasi dari

8
temperature udara, kelembaban, radiant temperature, arus udara, dan
hal yang berpengaruh di dalam comfort zone adalah temperatur udara
dan kelembaban. Menurut American Society for Heating, refrigerating
and air conditioning engineers (ASHRAE Standard 55-56). Thermal
comfort-that conditioning of mind which expresses satisfaction with
the thermal environment. Comfort Zone tidak absolut tetapi
tergantung dari kultur, musim, kesehatan, lapisan lemak seseorang,
tebalnya baju pakaian, kegiatan fisik. Kalau banyak kegiatan fisik
maka comfort zone turun kearah bawah. Tata laksana penghawaan dan
pengaturan suhu udara menurut KEPMENKES RI No.
1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit :
1) Penghawaan atau ventilasi di UGD/IGD harus mendapat perhatian
yang khusus. Bila menggunakan sistem pendingin, hendaknya
dipelihara dan dioperasikan sesuai buku petunjuk. Sehingga dapat
menghasilkan suhu, aliran udara, dan kelembaban nyaman bagi
pasien dan karyawan. Untuk rumah sakit yang menggunakan
pengatur udara sentral harus diperhatikan cooling towernya agar
tidak menjadi perindukan bakteri legionella dan untuk AHU (Air
Handling Unit) filter udara harus dibersihkan dari debu dan bakteri
atau jamur.
2) Suplai udara dan Exhaust hendaknya digerakkan secara mekanis,
dan exhaust fan hendaknya diletakkan pada ujung sistem ventilasi.
3) Ruangan dengan volume 100 m3sekurang-kurangnya 1 (satu) fan
dengan diameter 50 cm dengan debit udara 0,5 m3/detik, dan
frekuensi pergantian udara per jam adalah 2 (dua) sampai dengan
12 kali .
4) Pengambilan suplai udara dari luar, kecuali unit ruang individual,
hendaknya diletakkan sejauh mungkin, minimal 7,50 Meter dari
exhauster atau perlengkapan pembakaran
5) Tinggi intake minimal 0,9 meter dari atap.

9
6) Sistem hendaknya dibuat keseimbangan tekanan.
7) Suplai udara untuk daerah sensitif : ruang operasi, perawatan bayi,
diambil dekat langit-langit dan exhaust dekat lantai, hendaknya
disediakan 2 (dua) buah exhaust fan dan diletakkan minimal 7,50
cm dari lantai.
8) Suplai udara di atas lantai
9) Suplai udara koridor atau buangan exhaust fan dari tiap ruang
hendaknya tidak digunakan sebagai suplai udara kecuali untuk
suplai udara ke WC, toilet, gudang.
10) Ventilasi ruang-ruang sensitif hendaknya dilengkapi saringan 2
beds. Saringan I pasang di bagian penerimaan udara dari luar
dengan efisiensi 30% dan saringan II (filter bakteri) dipasang 90%.
Untuk mempelajari sistem ventilasi sentral dalam gedung
hendaknya mempelajari khusus central air conditioning system.
11) Penghawaan alamiah, lubang ventilasi diupayakan sisitem silang
(cross ventilation) dan dijaga agar aliran udara tidak terhalang.
12) Penghawaan ruang operasi harus dijaga agar tekanannya lebih
tinggi dibandingkan ruang-ruang yang lain dan menggunakan cara
mekanis (air conditioner).
13) Penghawaan mekanis dengan menggunakan exhaust fan atau air
conditioner dipasang pada ketinggian minimum 2,00 meter di atas
lantai atau minimum 0,20 meter dari langit-langit.
14) Untuk mengurangi kadar kuman dalam udara ruang (indoor) 1
(satu) kali sebulan harus di disinfeksi dengan menggunakan
electron presipitator (resorcinol, trieylin glikol) atau disaring
dengan electron presipitator atau menggunakan penyinaran
ultraviolet.
15) Pemantauan kualitas udara ruang minimum 2 (dua) kali setahun
dilakukan pengambilan sampel dan pemeriksaan parameter kualitas
udara (kuman, debu, dan gas)

10
b. Bunyi
Bunyi mempunyai definisi:
1) Secara fisis, bunyi adalah penyimpangan tekanan, pergeseran
partikel dalam medium elastic seperti udara.Ini adalah bunyi
objektif.
2) Secara fisiologis, bunyi adalah sensasi pendengaran yang
disebabkan penyimpangan fisis yang digambarkan di atas. Ini
adalah bunyi subjektif. Menurut Doelle (1998) Bunyi dapat
dihasilkan : Di udara (airborne sound), misalnya suara manusia
barcakap atau bernyanyi.
3) Karena benturan/tumbukan (impact sound) atau bunyi struktur
(structure sound).
4) Karena getaran mesin.

Pelayanan UGD/IGD juga dilatih untuk berbicara dengan sopan dan


menghargai orang lain, seperti tidak berbicara atau tertawa keras-
keras.
1) Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada
bangunan Ruang Gawat Darurat, pengelola bangunan Ruang Gawat
Daruratharus mempertimbangkan jenis kegiatan, penggunaan
peralatan, dan/atau sumber bising lainnya baik yang berada
padabangunan Ruang Gawat Daruratmaupun di luar bangunan
Ruang Gawat Darurat.
2) Penjelasan lebihlanjut mengenai tingkat kenyamanan terhadap
kebisingan pada bangunan rumah sakit dapat mengacu pada
Keputusan Menteri Kesehatan No.
1204/MENKES/SK/X/2004tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit.

c. Pencahayaan

11
Pencahayaan menurut Simha (2001) bertujuan :
1) Untuk mendukung aktivitas dan kegiatan lain pengguna
bangunan.
2) Untuk mendukung fungsi keamanan.
3) Untuk menciptakan lingkungan yang sesuai dan menyenangkan
Cahaya sendiri dapat dibagi dua, yaitu cahaya alam (matahari)
dan cahaya buatan (lampu). Kenyamanan dari sebuah cahaya
menurut Moore (1999) ditentukan oleh : kondisi fisiologis mata,
latar belakang objek, bentuk/wujud objek yang dipandang,
mengontrol silau tingkat kekuatan penyinaran.
Menurut KEPMENKES RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit bahwa tatalaksana
pencahayaan adalah sebagai berikut :
1) Lingkungan rumah sakit baik dalam maupun luar ruangan harus
mendapat cahaya dengan intensitas cukup berdasarkan fungsinya.
2) Semua ruang yang digunakan baik untuk bekerja ataupun untuk
menyimpan barang /peralatan perlu diberi penerangan.
Sistem pencahayaan.
a) Bangunan Ruang Gawat Darurat harus mempunyai
pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk
pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya.
b) Pencahayaan alami harus optimal, disesuaikan dengan fungsi
bangunan dan fungsi masing-masing ruang di dalam
bangunan Ruang Gawat Darurat. Pedoman Teknis Bangunan
Rumah Sakit, Ruang Gawat Darurat 13Direktorat Bina
Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI
c) Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat
iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam
bangunan Ruang Gawat Daruratdengan mempertimbangkan

12
efisiensi, penghematan energi, dan penempatannya tidak
menimbulkan efek silau atau pantulan.
d) Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan
darurat harus dipasang pada bangunan Ruang Gawat
Daruratdengan fungsi tertentu, serta dapat bekerja secara
otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup
untuk evakuasi yang aman.
e) Semua sistem pecahayaan buatan, kecuali yang diperlukan
untuk pencahayaan darurat, harus dilengkapi dengan
pengendali manual, dan/atau otomatis, serta ditempatkan
pada tempat yang mudah dibaca dan dicapai, oleh pengguna
ruang.
f) Pencahayaan umum disediakan dengan lampu yang dipasang
di langit-langit.
g) Pencahayaan ruangan dapat menggunakan lampu fluorescent,
penggunaan lampu-lampu recesseddisarankan karena tidak
mengumpulkan debu.
Penggunaan lampu yang mempunyai efikasi lebih tinggi dan
menghindari pemakaian lampu dengan efikasi rendah. Disarankan
menggunakan lampu fluoresent dan lampu pelepas gas lainnya.
Pemilihan armature/fixture yang mempunyai karakteristik distribusi
pencahayaan sesuai dengan penggunaannya, mempunyai efisiensi
yang tinggi dan tidak mengakibatkan silau atau refleksi yang
mengganggu.(j) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
perencanaan, pemasangan, dan pemeliharaan sistem pencahayaan
pada bangunan Ruang Gawat Daruratmengikuti:
1) SNI 03 –2396 –2001, atau edisi terakhir, Tata cara perancangan
sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung.
2) SNI 03 –6575 –2001, atau edisi terakhir, Tata cara perancangan
sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung,

13
3) SNI 03 –6574 –2001, atau edisi terakhir, Tata cara perancangan
sistem pencahayaan darurat, tanda arah dan tanda peringatan,
4) atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku. Pedoman
Teknis Bangunan Rumah Sakit, Ruang Gawat Darurat 14Direktorat
Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI
d. Radiasi Pengion
Radiasi pengion ialah radiasi yang dapat menimbulkan ionisasi dan
eksitasi pada materi yang ditembusnya. Pada umumnya radiasi
pengion hanya disebut radiasi saja. Berbagai jenis radiasi pengion
dikelompokkan berdasarkan struktur atau sumbernya. Apabila radiasi
pengion menembus suatu materi, maka materi tersebut akan
mengalami ionisasi atau eksitasi dengan menyerap energi radiasi.
Radiasi elektromagnetik atau partikel yang mampu mengionisasi, baik
secara langsung maupun tidak langsung, dalam lintasannya menembus
materi disebut radiasi pengion
Ionisasi ialah proses terjadinya ion (ion positif dan elektron bebas)
dari suatu atom netral dalam materi yang dikenai energi. Radiasi
ionisasi langsung bisa berupa partikel bermuatan listrik (misalnya
sinar a, b, dan proton), yang dapat mengakibatkan ionisasi dengan
memberikan energinya kepada elektron orbital dalam suatu atom atau
molekul. Sedang gelombang elektromagnetik misalnya sinar-X, sinar
g, (yang juga bersifat partikel, yaitu foton), dan partikel tak
bermuatan listrik (misalnya neutron) menghasilkan partikel bermuatan
listrik pada saat berinteraksi dengan atom dalam materi. Misalnya,
foton mengeluarkan elektron, neutron mengeluarkan proton. Neutrino
(n) dikeluarkan pada saat partikel b dipancarkan dengan muatan
berlawanan dengan elektron. Partikel-partikel ini, karena massanya
kecil dan tidak bermuatan listrik, sulit berinteraksi dengan materi
tetapi karena dapat mengionisasi disebut radiasi pengion tak langsung.

14
Jenis dan mekanisme radiasi pengion
Radiasi a, b (elektron atau positron), g, dan neutron ialah radiasi
pengion yang dihasilkan dari inti atom yang mengalami transformasi
inti. Inti atom yang mengalami transformasi (peluruhan) ialah inti
atom yang bersifat tidak stabil, dan radiasi pengion yang
dipancarkannya disebut radiasi pengion nuklir. Setelah mengalami
peluruhan, inti atom yang tidak stabil akan menjadi inti atom yang
stabil. Inti atom yang mengalami transformasi inti disebut inti induk,
dan hasil transformasi inti disebut anak luruh atau inti hasil peluruhan.
Jenis sumber radiasi alam yang banyak dikenal antara lain U-238 dan
Th-232, masing-masing sebagai inti induk, sedang deret peluruhannya
dikenal sebagai deret uranium dan deret thorium.
Radiasi pengion yang dihasilkan oleh transisi elektron dalam kulit
atom akibat tumbukan elektron berkecepatan tinggi dengan atom
logam berat, misalnya Pb atau Cu, disebut sinar-X. Sinar-X ialah
radiasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang mempunyai
daya tembus tinggi.
Ion dari atom helium, hidrogen, deuterium, tritium, dan lain-lain,
yang dipercepat juga bersifat pengion. Radiasi pengion berenergi
tinggi yang berasal dari benda angkasa dan menembus ke dalam
atmosfer bumi disebut radiasi kosmik primer, dan radiasi kosmik yang
dihasilkan oleh interaksi radiasi kosmik primer dengan inti atom yang
ada di udara disebut radiasi kosmik sekunder. Radiasi kosmik primer
terdiri dari sekitar 90% proton, sisanya adalah inti helium (partikel a)
dan inti atom yang lebih berat. Radiasi kosmik masuk kedalam
atmosfer bumi berinteraksi dengan berbagai atom di udara dan
menghasilkan partikel misalnya elektron, positron, sinar g, partikel-
antara fion (p intermediate), m (muon), neutron, proton, n (neutrino),
dan lain lain. Intensitas radiasi kosmik sekunder di permukaan tanah
adalah 1 menit-1.cm-2.

15
Interaksi radiasi dengan materi
Pada saat menembus materi sebagian radiasi pengion diteruskan,
sebagian dihamburkan, sebagian diserap, dan apabila energi radiasi
cukup kuat akan terjadi reaksi ionisasi yaitu terlepasnya elektron dari
atom atau molekul. Apabila energi radiasi hanya cukup untuk
memindahkan elektron dari orbit dalam ke orbit yang lebih luar maka
tidak akan terjadi ionisasi, tetapi hanya terjadi eksitasi.
Setelah terjadi ionisasi atau eksitasi, atom atau molekul akan
mengalami disintegrasi menjadi ion dan menghasilkan radikal bebas.
Molekul ion yang terbentuk akan mengalami perubahan struktur bila
bereaksi dengan molekul lain yang tidak mengalami ionisasi atau
eksitasi. Reaksi kimia yang berlangsung pada proses reaksi kimia
berikutnya disebut reaksi tidak langsung. Interaksi antara radiasi
dengan materi sangat bergantung pada jenis dan energi radiasi.
Pada saat kembali pada kondisi stabil atom yang mengalami
eksitasi akan memancarkan foton (cahaya) karena terjadinya efek
fluoresensi. Radiasi mengakibatkan terjadinya proses penghitaman
film, mengakibatkan perubahan struktur polimer, seperti polietilen,
mengakibatkan terjadinya proses polimerisasi pada molekul monomer
dan lain-lain. Hal ini semua terjadi karena efek ionisasi dan atau
eksitasi. Demikian pula proses ionisasi dan eksitasi akan terjadi pada
makhluk hidup bila terkena radiasi (misalnya efek sterilisasi). Proses
meradiasi materi dengan radiasi pengion disebut iradiasi.

2. Bahaya Lingkungan Biologi


Bahaya lingkungan biologis dapat berupa Virus(misal : Hepatitis B,
Hepatitis C, Influenza, HIV), Bakteri (misal : S. Saphrophyticus, Bacillus
sp., Porionibacterium sp., H.Influenzae, S.Pneumoniae, N.Meningitidis,
B.Streptococcus, Pseudomonas), Jamur (misal : Candida) dan
Parasit(misal : S. Scabiei)

16
Berikut bahaya lingkungan biologis dalam ruang IGD/UGD :
STAFILOKOKUS
Stafilokokus merupakan sel gram positif berbentuk bulat biasanya
tersusun dalam bentuk kluster yang tidak teratur seperti anggur.
Stafilokokus tumbuh dengan cepat pada beberapa tipe media dan dengan
aktif melakukan metabolisme, melakukan fermentasi karbohidrat dan
menghasilkan bermacam-macam pigmen dari warna putih hingga kuning
gelap. Beberapa merupakan anggota flora normal pada kulit dan selaput
lendir manusia; yang lain ada yang menyebabkan supurasi dan bahkan
septikemia fatal. Stafilokokus yang patogen sering menghemolisis darah,
mengkoagulasi plasma dan menghasilkan berbagai enzim ekstraseluler
dan toksin. Bentuk keracunan makanan paling sering disebabkan oleh
enterotoksin stafilokokal yang stabil terhadap panas. Stafilokokus cepat
menjadi resisten terhadap beberapa antimikroba dan ini merupakan
masalah besar pada terapi.
Genus stafilokokus sedikitnya memiliki 30 spesies. Tiga tipe
stafilokokus yang berkaitan dengan media adalah Staphylococcus aureus,
Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus saprophyticus.
Staphylococcus aureus bersifat koagulase positif, yang membedakannya
dari spesies lain. Staphylococcus aureus adalah patogen utama pada
manuasia. Hampir setiap orang pernah mengalami berbagai infeksi S.
aureus selama hidupnya, dari keracunan makanan yang berat atau infeksi
kulit yang kecil, sampai infeksi yang tidak bisa disembuhkan.
Stafilokokus koagulase negatif merupakan flora normal manusia dan
kadang-kadang menyebabkan infeksi, seringkali hal ini berhubungan
dengan alat-alat yang ditanam, khususnya infeksi da pada pasien yang
muda, sangat tua dan yang mengalami penurunan daya tahan tubuh. Kira-
kira 75% infeksi disebabkan oleh stafilokokus koagulase negatif,
biasanya S. Epidermidis. Infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus
lugdenensis, Staphylococcus warneri, Staphylococcus hominis dan
spesien lain hanya sedikit dijumpai. Staphylococcus saprophyticus

17
umumnya menyebabkan infeksi saluran urin pada wanita muda. Spesies
lain penting dalam kedokteran veeteriner.
3. Bahaya Lingkungan Kimia
Etilen Oksida
Etilena oksida, juga dikenal oksirana adalah senyawa organik
dengan rumus molekul C2H4O. Senyawa ini berjenis eter siklik. Etilena
oksida berbentuk gas tak berwarna mudah terbakar pada suhu ruangan
dan berbau manis. Senyawa ini merupakan epoksida paling sederhana:
cincin tiga-anggota dengan 1 oksigen dan 2 karbon. Karena struktur
molekulnya ini, etilena oksida banyak dipakai pada reaksi adisi, seperti
polimerisasi. Etilena oksida berisomer dengan asetaldehida dan vinil
alkohol.
Etilen oksida pertama kali disintesis oleh Wurtz tahun 1859 dan
kemudian dikenal dengan proses klorohidrin. Produksi pertama etilen
oksida secara komersial dimulai tahun 1914 hingga sekarang. Tahun
1931, Lefort mengembangkan proses oksidasi langsung yang menggeser
keberadaan proses klorohidin hingga sekarang.
Bahaya Kesehatan Kerja Pemaparan dengan ethylene oxide bisa melalui :
INHALASI:
a. Sangat toxic
b. Menyebabkan iritasi berat pada hidung dan tenggorokan
c. Dapat merusak sistem syaraf
d. Gejala : sakit kepala, pusing, mengantuk, bingung.
Pemaparan yang berat bisa menyebabkan ketidak sadaran.
KULIT :
a. Bersifat korosif
Kontak dengan liquid gas bisa menyebabkan frostbite
MATA :
a. Bersifat korosif
Kontak dengan liquid bisa menyebabkan kebutaan

18
EFEK JANGKA PANJANG
a. Pada kulit bisa timbul dermatitis
b. Gangguan Sistem syaraf : lemah, kesemutan, bahkan kelumpuhan
c. Bisa menyebabkan alergi kulit
d. Bisa menyebabkan asma bronchiale

KANKER
a. Menurut IARC ethylene oxide tergolong grup 1 : carcinogenic to
human
b. Menurut ACGIH : A2 : suspected human carcinogen

TERATOGENICITY
Dapat membahayakan bayi dalam kandungan
Halotan
Halotan atau Fluothane adalah obat anestesiinhalasi berbentuk
cairan bening tak berwarna yang mudah menguap dan berbau harum.[2]
Dibuat pertama kali oleh C.W. Suckling di tahun 1951. [2] Pemberian
halotan sebaiknya bersama dengan oksigen atau nitrous okside 70%-
oksigen dan sebaiknya menggunakan vaporizer yang khusus dikalibrasi
untuk halotan agar konsentrasi uap yang dihasilkan itu akurat dan mudah
dikendalikan.[2] Halotan dapat menimbulkan terjadinya halotan hepatitis,
terutama bila obat ini diberikan dalam jangka waktu pendek (pemberian
berkali-kali dalam jangka waktu pendek).[3]Obat ini dimetabolisme di
hepar sebanyak 20-45%.[3] Hasil metabolismenya berupa Br-, F-, Cl-,
asam trifluoracetat, gas chlorodifluoroetilen serta chlorotrifluoroetilen.[3
Efek Samping Recovery dari anestesi dengan Halotan terjadi cukup
cepat.[3] Apabila terjadi rasa mual dan muntah pada masa pasca bedah /
anestesi kadang-kadang hebat, maka harus dilakukan pengawasan dan
perawatan yang seksama untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat
muntah, terutama pada pasien yang waktu puasa pra bedah kurang dari 8

19
jam (dewasa), seperti pada kasus bedah akut.[3] Sedangkan pada masa
setelah bedah, pasien akan menggigil.[3]
Eter Pada Anestetik Dokter Crawford Williamson Long, M.D., dari
Amerika adalah ahli bedah yang pertama kali menggunakan dietil eter
sebagai sebuah anestetik umum, pada 30 Maret 1842.[6]William Thomas
Green Morton memperagakan penggunaan eter sebagai anestesi
penghirupan yang pertama kalinya di hadapan publik pada tanggal 16
Oktober1846 di Ether Dome yang berada di Boston, Massachusets,
Amerika Serikat. Terkadang eter digunakan sebagai pengganti kloroform
sebab eter memiliki indeks terapeutik yang lebih tinggi, perbedaan yang
lebih besar antara dosis yang direkomendasikan dengan dosis berlebih
yang beracun. Eter masih menjadi anestesi yang disukai di sejumlah
negara berkembang karena indeks terapeutiknya yang tinggi (~1.5-2.2)
dan harganya yang murah. Karena diasosiasikan dengan Boston,
penggunaan eter mendapat julukan "Yankee Dodge." Saat ini, eter jarang
digunakan. Eter yang mudah terbakar tidak lagi dipakai semenjak
sejumlah agen anestesi yang tidak mudah terbakar seperti halotana mulai
tersedia. Lagipula eter memiliki efek-efek sampingan yang tak
diinginkan, seperti perasaan pening paska pembiusan dan muntah.
Beberapa agen anestesi modern, seperti metoksi propana (Neothyl) dan
metoksifluran (Penthrane) mengurangi efek-efek sampingan itu.
Dampak Terhadap Lingkungan. Apabila dilepaskan ke dalam
tanah, zat ini akan cepat menguap. Apabila dilepaskan ke dalam tanah,
zat ini akan memasuki air tanah. Apabila dilepaskan ke dalam tanah, zat
ini tidak akan biodegradasi. Apabila dilepaskan ke air, bahan ini akan
memiiliki waktu paruh kurang dari 1 hari, dan akan cepat menguap. Zat
ini tidak akan terakumulasi dalam sistem biologis secara signifikan.
Material ini memiliki koefisien partisi log octanol-air lebih rendah dari
3.0. Ketika dilepaskan ke udara, zat ini akan degradasi dengan reaksi
dengan radikal hidroksil yang diproduksi secara fotokimia. Apabila

20
dilepaskan ke udara, zat ini tidak akan rusak oleh fotolisis, dan memiliki
paruh waktu dari 1 sampai 10 hari.

Dampak Terhadap Tubuh


Keberadaan dietil eter ini selain berdampak pada lingkungan juga dapat
memberikan dampak pada tubuh dan mempengaruhi kesehatan.Adapun
kontaminasi senyawa ini dengan tubuh dapat melalui beberapa cara,yaitu
sebagai berikut:
1. Pernafasan
Pembiusan umum dari penghirupan dapat terjadi. Terekspos secara
terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan pernafasan atau
kematian. Gejala awal termasuk iritasi hidung dan tenggorokan,
muntah-muntah, nafas tak teratur, diikuti pusing-pusing, ngantuk dan
tidak sadar.
2. Makanan
Iritasi pada kulit dinding kerongkongan. Penelanan 1 atau 2 ons
dapat berakibat fatal. Karena zat ini tidak stabil, perut menjadi
mengembang, dan mungkin akan menyebabkan gas. Gejala lain
adalah muntah-muntah, tidak sadar dan koma.
3. Sentuhan dengan kulit
Iritasi pada kulit dan kulit-kulit kerongkongan karena mengering.
Dapat menyebabkan dermatitis apabila terekspos dalam jangka
waktu lama. Dapat diserap melalui kulit.
4. Bersentuhan dengan mata
Akan menyebabkan iritasi, mata merah dan kesakitan. Terekspos uap
dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada mata.
5. Terekspos Kronis
Terekspos secara berkali-kali dapat menyebabkan kebiasaan.
Terekspos dalam waktu yang lama dapat menyebabkan sakit kepala,
ngantuk , resah, dan gangguan psikis. Efek teratogenik mungkin
muncul.

21
6. Kondisi yang bertambah parah
Orang-orang yang sudah memiliki gangguan kulit, gangguan mata
atau ginjal, hati atau fungsi pernafasan yang tidak bekerja dengan
baik akan lebih mungkin terkena dampak zat ini. Konsumsi
minuman beralkohol dapat menyebabkan bertambahnya dampak zat
ini.

D. Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan


Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah ditentukan
sebelumnya, dengan mempergunakan bantuan orang lain. Hal tersebut
diharapkan dapat mengurangi dampak kelalaian atau kesalahan ( malprektek)
serta mengurangi penyebaran langsung dampak dari kesalahan kerja.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dimembagi kegiatan atau fungsi
manajemen tesebut menjadi :
/Planning /(perencanaan)
/Organizing/ (organisasi)
/Actuating /(pelaksanaan)
/Controlling /(pengawasan)
1. Planning/ (Perencanaan)
Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang
akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di
rumah sakit dan instansi kesehatan.perencanaan ini dilakukan untuk
memenuhi standarisasi kesehatan pacsa perawatan dan merawat (
hubungan timbal balik pasien – perawat / dokter, serta masyarakat umum
lainnya ). Dalam perencanaan tersebut, kegiatan yang ditentukan
meliputi:

a. Hal apa yang dikerjakan

b. Bagaiman cara mengerjakannya

c. Mengapa mengerjakan

22
d. Siapa yang mengerjakan

e. Kapan harus dikerjakan

f. Dimana kegiatan itu harus dikerjakan

g. hubungan timbal balik ( sebab akibat)

Kegiatan kesehatan ( rumah sakit / instansi kesehatan ) sekarang


tidak lagi hanya di bidang pelayanan, tetapi sudah mencakup kegiatan-
kegiatan di bidang pendidikan dan penelitian, juga metode-metode yang
dipakai makin banyak ragamnya. Semuanya menyebabkan risiko bahaya
yang dapat terjadi dalam ( rumah sakit / instansi kesehatan ) makin besar.
Oleh karena itu usaha-usaha pengamanan kerja di rumah sakit / instansi
kesehatan harus ditangani secara serius oleh organisasi keselamatan kerja
rumah sakit / instansi kesehatan.
2. Organizing/ (Organisasi)
Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi
kesehatan dapat dibentuk dalam beberapa jenjang, mulai dari tingkat
rumah sakit / instansi kesehatan daerah (wilayah) sampai ke tingkat pusat
atau nasional. Keterlibatan pemerintah dalam organisasi ini baik secara
langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. Pemerintah dapat
menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini di tingkat pusat
(nasional) dan tingkat daerah (wilayah), di samping memberlakukan
Undang-Undang Keselamatan Kerja. Di tingkat daerah (wilayah) dan
tingkat pusat (nasional) perlu dibentuk Komisi Keamanan Kerja rumah
sakit / instansi yang tugas dan wewenangnya dapat berupa :
a. Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja rumah sakit /
instansi kesehatan .
b. Memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan pelaksana- an
keamanan kerja rumah sakit / instansi kesehatan .
c. Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja rumah sakit /
instansi kesehatan .

23
d. Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin
rumah sakit / instansi kesehatan.
e. mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu
rumah sakit / instansi kesehatan.
f. Dan lain-lain.
Perlu juga dipikirkan kedudukan dan peran organisasi /Cermin
Dunia Kedokteran No. 154, 2007 5/ background image Manajemen
keselamatan kerja profesi (PDS-Patklin) ataupun organisasi seminat
(Patelki, HKKI) dalam kiprah organisasi keselamatan dan kesehatan
kerja rumah sakit / instansi kesehatan ini. Anggota organisasi profesi atau
seminat yang terkait dengan kegiatan rumah sakit / instansi kesehatan
dapat diangkat menjadi anggota komisi di tingkat daerah (wilayah)
maupun tingkat pusat (nasional). Selain itu organisasi-organisasi profesi
atau seminar tersebut dapat juga membentuk badan independen yang
berfungsi sebagai lembaga penasehat atau Panitia Pembina Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit / Instansi Kesehatan.
3. Actuating/ (Pelaksanaan)
Fungsi pelaksanaan atau penggerakan adalah kegiatan mendorong
semangat kerja, mengerahkan aktivitas, mengkoordinasikan berbagai
aktivitas yang akan menjadi aktivitas yang kompak (sinkron), sehingga
semua aktivitas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit /
instansi kesehatan sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat.
Untuk itu setiap individu yang bekerja maupun masyarakat dalam rumah
sakit / instansi kesehatan wajib mengetahui dan memahami semua hal
yang diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam
rumah sakit / instansi kesehatan, serta memiliki kemampuan dan
pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan
penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. Kemudian mematuhi berbagai
peraturan atau ketentuan dalam menangani berbagai spesimen reagensia
dan alat-alat. Jika dalam pelaksanaan fungsi penggerakan ini timbul

24
permasalahan, keragu-raguan atau pertentangan, maka menjadi tugas
semua untuk mengambil keputusan penyelesaiannya.
4. Controlling/ (Pengawasan)
Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar
pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan
atau hasil yang dikehendaki. Untuk dapat menjalankan pengawasan,
perlu diperhatikan 2 prinsip pokok, yaitu :
a. Adanya rencana
b. Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada
bawahan.
Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah
sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan demi
keselamatan kerja bersama di rumah sakit / instansi kesehatan. Sosialisasi
perlu dilakukan terus menerus, karena usaha pencegahan bahaya yang
bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. Dalam
rumah sakit / instansi kesehatan perlu dibentuk pengawasan rumah sakit /
instansi kesehatan yang tugasnya antara lain :
a. Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek- praktek rumah
sakit / instansi kesehatan yang baik, benar dan aman.
b. Memastikan semua petugas rumah sakit / instansi kesehatan
memahami cara- cara menghindari risiko bahaya dalam rumah sakit /
instansi kesehatan.
c. Melakukan penyelidikan / pengusutan segala peristiwa berbahaya
atau kecelakaan.
d. mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan
kerja rumah sakit / instansi kesehatan .
e. Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya
dan mencegah meluasnya bahaya tersebut.
f. Dan lain-lain.

25
E. Penegakan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah sakit
(K3RS) dan Peran Dinas Kesehatan
1. Peraturan Kesehatan Kerja
UU Kesehatan Nomor 23 tahun 2002 pasal 23 tentang kesehatan
kerja menyatakan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan
perlindungan atas keselamatan dan kesehatan. Peraturan Menteri Tenaga
Kerja No.05/Men. 2006 juga mengatur bahwa setiap perusahaan yang
mempekerjakan lebih dari 100 orang atau lebih dan atau yang
mengandung potensi bahaya wajib menerapkan sistem manajemen K3
(Bab III Pasal 3).
Rumahsakit tidak terlepas dari peraturan-peraturan ini karena
teknologi dan sarana kesehatan, kondisi fisik rumah sakit dapat
membahayakan pasien, keluarga, serta pekerja. Jika tidak dikelola,
rumahsakit tidak terhindar dari kebakaran, bencana, atau dampak buruk
pada kesehatan. Ringkasan studi tentang penerapan K3RS di bawah ini
bisa dijadikan kasus bagaimana lemahnya komitmen rumahsakit dalam
hal ini.
K3RS di Indonesia telah memiliki 22 peraturan. Di antara seluruh
peraturan itu, paling banyak adalah peraturan menteri (9 buah) dan belum
ada sama sekali peraturan daerah. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera
Barat sendiri tidak memiliki semua dokumen peraturan yang telah
dikeluarkan oleh pemerintah. Dinas kesehatan bahkan tidak memiliki
satu staf yang mengurusi bidang ini. Tidak ada tim khusus K3RS.
Penjabaran dari regulasi tersebut oleh pemerintah daerah dalam bentuk
peraturan daerah belum ada sama sekali. Padahal mengacu pada PP No.
25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan propinsi sebagai
otonom maka pemerintah daerah mempunyai legalitas dalam mengatur
regulasi K3RS. Kenyataan ini barang kali bisa mencerminkan keadaan
sebelum desentralisasi. Daerah melaksanakan apa yang menjadi
keputusan pusat dan barang kali karena keputusan pusat itu pula, regulasi
K3RS ini lemah.

26
2. Kesehatan dan Keselamatan Kerja sebagai Pilihan Rasional
Rumahsakit
Penelitian Bambang mengukur sembilan aspek yang bisa dijadikan
tolok ukur bahwa rumahsakit itu memberikan komitmen pelaksanaan
K3RS. Seluruh rumahsakit menyediakan sejumlah dana untuk keperluan
K3RS. Seperti terlihat dalam tabel di bawah ini, 6 dari 7 rumahsakit
belum memiliki sistem keamanan dan tenaga khusus bidang K3RS. Lima
rumahsakit belum memiliki sarana IPAL dan sistem pengawasan yang
memadai. Selain itu, observasi di lapangan, rumahsakit-rumahsakit ini
tidak memiliki sistem pelaporan tentang kecelakaan maupun penyakit
akibat kerja.
Tabel 1. Komitmen rumahsakit dengan kebijakan Regulasi K3RS
Jenis komitmen yang
No RS1 RS2 RS3 RS4 RS5 RS6 RS7 Jumlah %
ditunjukkan
1 Dana P P P P P P P 7 100.0
2 Kebijakan P P P . . . . 3 42.9
3 Pengawasan P P . . . . . 2 28.6
4 Penghargaan dan Sanksi P . . . . . . 1 14.3
5 Organisasi P P P . P . . 4 57.1
6 Ketenagaan P . . . . . . 1 14.3
7 Pengadaan APD P P P P P P P 7 100.0
8 Pengadan IPAL P P . . . . . 2 28.6
Membangun sistim
9 P . . . . . . 1 14.3
keamanan
. JUMLAH 9 6 4 2 3 2 2 . .
. PERSENTASE (%) 100 67 44 22 33 22 22 44,4 .

27
Tabel 2. Tahun Penerbitan, Isi Regulasi dan Bentuk Regulasi K3RS
TAHUN REGULASI Jenis
1970 Keselamatan Kerja Undang-
undang
1975 Keselamatan kerja terhadap radiasi Peraturan
Pemerintah
1975 Izin pemakaian zat radioaktif Peraturan
Pemerintah
1980 Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja Peraturan
dalam penyelenggaraan K3 Menteri
1980 Syarat-syarat pemasangan dan Peraturan
pemeliharaan alat pemadam api Menteri
ringan
1981 Kewajiban melapor penyakit akibat Peraturan
kerja Menteri
1983 Pelayanan kesehatan tenaga kerja Peraturan
Menteri
1989 Ketentuan KK terhadap radiasi Keputusan
Dirjen
1992 Kesehatan Undang-
undang
1992 Persyaratan Kesling RS Peraturan
Menteri
1993 Penyakit yang timbul karena Keputusan
hubungan kerja Presiden
1993 Komite K3 Keputusan
Menteri

28
1993  Persyaratan kesehatan Keputusan
lingkungan ruang & Dirjen
Bangunan serta fasilitas
sanitasi rumah sakit
 Persyaratan kesehatan
konstruksi ruang di rumah
sakit.
 Persyaratan & petunjuk teknis
tata cara penye hatan
lingkungan RS
1996 Sistem Manajemen K3 (SMK3) Peraturan
Menteri
1996 Pengamanan bahan berbahaya bagi Peraturan
Kesehatan Menteri
1997 Pelaksanaan Audit system Peraturan
manajemen K3 Menteri
1997 Penyelenggaraan pelayanan radiology Peraturan
Menteri
1997 Pembentukan Panitia K3 Rumah Surat Edaran
Sakit
1997 Inspeksi K3 Keputusan
Menteri
1998 Persyaratan kesling kerja Keputusan
Menteri
1999 Perubahan PP18 /1999 terhadap PP
pemgelolaan limbah B3
2003 Komite Kesehatan dan Keselamatan Keputusan
Kerja Menteri
Tekait dengan peran regulasi dinas kesehatan, standar K3RS bisa dijadikan
sebagai persyaratan pendirian atau operasi rumahsakit.

29
Pelaksanaan K3RS pada masa yang lalu ditekankan dengan pola
pembinaan dinas kesehatan. Kebijakan kita selama ini dalam bidang
kesehatan dan keselamatan kerja adalah berupa sosialisasi program,
pelatihan tentang K3RS, menyediakan tenaga khusus, dan membuat
pedoman pelaksanaan.
Cara-cara pembinaan seperti itu memperlihatkan hasil yang
minimal. Satu rumahsakit dalam penelitian ini, kebetulan swasta, bisa
menjadi contoh karena mereka telah secara sadar menerapkan standar
lebih internasional. Rumahsakit swasta yang berorientasi internasional
menganggap K3RS adalah strategis bagi pelanggan yang sudah makin
kritis. Sifat kesukarelaan seperti ini bagi rumahsakit pemerintah dan
swasta lokal bisa berakibat buruk. Pemerintah dalam hal ini dinas
kesehatan mau tidak mau perlu membuat tekanan dari luar agar
kesehatan dan keselamatan kerja betul-betul terjaga.
Pemerintah daerah hendaknya lebih peduli dengan K3RS, dengan
membuat peraturan daerah khusus yang diberlakukan di daerahnya.
Dinas kesehatan bisa mengawasi pelaksanaan K3RS, diikuti dengan
tindakan sanksi bagi yang tidak menerapkannya. Lebih tegas,
perlindungan publik dan pekerja seperti ini harus menjadi persyaratan
mutlak dalam pemberian izin pendirian suatu rumahsakit.

30
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja
dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi
dan produktivitas kerja
Bahaya yang dihadapi dalam rumah sakit ; Bahaya kebakaran dan ledakan
dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak (obat– obatan), Bahan
beracun, korosif dan kaustik , Bahaya radiasi , Luka bakar ,Syok akibat aliran
listrik ,Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam & Bahaya
infeksi dari kuman, virus atau parasit.
Bahaya lingkungan baik fisik, biologis, maupun kimia perlu diidentifikasi
secara lanjut, bahaya fisik dapat berupa suhu dan kelembaban, pencahayaan,
kebisingan, dan radiasi. Bahaya lingkungan biologis dapat berupa virus,
bakteri, jamur, dan parasit. Bahaya kimia dapat berupa etilen oksida, eter, dan
halotan.

B. Saran
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) khususnya di Indonesia
secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2008 Indonesia
menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina
dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing pelayanan
dan kualitas saranan kesehatan Indonesia di dunia internasional masih sangat
rendah. Indonesia akan sulit menghadapi persaingan global karena mengalami
ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah).
Padahal kemajuan pelayanan tersebut sangat ditentukan peranan mutu tenaga
kerjanya. Karena itu disamping perhatian instansi itu sendiri, pemerintah juga
perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan

31
dan Kesehatan Kerja. Nuansanya harus lebih bersifat manusiawi dan
bermartabat.
Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan
bisnis sejak lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat
terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja pelayanan
kesehatan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

32
DAFTAR PUSTAKA

Allen, carol Vestal, 1998, Memahami Proses keperawatan dengan pendekatan


latihan , alih bahasa Cristantie Effendy, Jakarta : EGC
Depkes RI, 1991, pedoman uraian tugas tenaga keperawatan dirumah sakit,
Jakarta.:Depkes RI
Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-journal), Volume 2, Nomor 1, Januari 2014.
Analisa Komitmen Manajemen Rumah Sakit terhadap Keselamatan dan
Kesehatan Kerja pada RS Prima Medika Pemalang. Azza Ivana, Baju
Widjasena, Siswi Jayanti. Mahasiswa Peminatan K3 Universitas Undip.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1087/menkes/sk/viii/2010. Tentang Standar Kesehatan dan Keselamatan
Kerja di Rumah Sakit.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


432/menkes/sk/iv/2007. Tentang Pedoman manajemen kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit.

Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996

33
34

Anda mungkin juga menyukai