Anda di halaman 1dari 19

MENGANALISIS ENZIM YANG TERDAPAT PADA

DETERGENT

Nama Kelompok :

Nyoman Ayu Amardini ( 1823071013)


I Gede Yokta Pradana (1823071008)

PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN IPA


JURUSAN PENDIDIKAN IPA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Menganalisis
Enzim Yang Terdapat Pada Detergent”
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. I Nyoman Tika, M.Si,yang telah memberikan tugas makalah sehingga penulis dapat
mengembangkan kemampuan diri dalam menulis makalah.
2. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan IPA yang telah banyak
memberikan masukan untuk penyempurnaan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna seperti apa yang diharapkan, untuk
itu mohon kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Tidak lupa penulis mohon maaf atas segala
kekurangan maupun kesalahan yang tidak disengaja pada tulisan ini.
Om Santhi, Santhi, Santhi Om

Denpasar, 7 Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................................. i
Daftar Isi ........................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan........................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................... 3
2.1 Apa yang dimaksud dengan detergent ......................................................................... 3
2.2 Apa saja jenis-jenis dari detergent ............................................................................... 4
2.3 Apa saja zat-zat yang terkandung dalam detergent ..................................................... 5
2.4 Bagaimanakah komposisi di dalam detergent ............................................................. 5
2.5 Bagamanakah cara menggolongkan detergen berdasarkan ionnya ............................. 7
2.6 Bagaimanakah proses pembuatan detergent ................................................................ 9
2.7 Apa saja enzim-enzim yang terkandung di dalam detergent ....................................... 11
BAB III PENUTUP ........................................................................................................... 15
3.1 Simpulan ....................................................................................................................... 15
3.2 Saran ............................................................................................................................. 15

Daftar Pustaka .................................................................................................................. 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sepanjang sejarah banyak usaha dilakukan untuk membantu kita mengerjakan pekerjaan
mencuci. Pencucian dengan air saja, bahkan dengan penggosokan atau putaran mesin sekeras
apapun, akan menghilangkan sebagian bercak saja, kotoran dan partikel-partikel tanah. Air saja
tidak dapat menghilangkan debu yang tak larut dalam air. Air juga tak mampu menahan debu
yang telah lepas dari kain agar tetap tersuspensi (tetap berada di air, jadi tidak kembali
menempel ke kain). Jadi diperlukan bahan yang dapat membantu mengangkat kotoran dari air
dan kemudian menahan agar kotoran yang telah terangkat tadi, tetap tersuspensi. Sejak ratusan
tahun lalu telah dikenal sabun, yakni persenyawaan antara minyak atau lemak dan basa.
Awalnya orang-orang Arab secara tak sengaja menemukan bahwa campuran abu dan lemak
hewan dapat membantu proses pencucian. Walaupun berbagai usaha perbaikan pada kualitas
dan proses pembuatan sabun telah dilakukan, semua sabun hingga kini mempunyai satu
kekurangan utama yakni akan bergabung dengan mineral-mineral yang terlarut dalam air
membentuk senyawa yang sering disebut lime soap (sabun-kapur), membentuk bercak
kekuningan di kain atau mesin pencuci.
Akibatnya kini orang mulai meninggalkan sabun untuk mencuci seiring dengan
meningkatnya popularitas detergent. Salah satu detergent yang pertama dibuat adalah garam
natrium dari lauril hidrogen sulfat. Tetapi pada saat ini, kebanyakan detergent adalah garam
dari asam sulfonat. Detergent dalam kerjanya dipengaruhi beberapa hal, yang terpenting adalah
jenis kotoran yang akan dihilangkan dan air yang digunakan. Detergent, khususnya
surfaktannya, memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran, baik yang larut
dalam air maupun yang tak larut dalam air. Salah satu ujung pada molekul surfaktan bersifat
lebih suka minyak atau tidak suka air, akibatnya bagian ini mempenetrasi kotoran yang
berminyak. Ujung molekul surfaktan satunya lebih suka air, bagian inilah yang berperan
mengendorkan kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran, sehingga tidak kembali
menempel ke kain. Akibatnya warna kain akan dapat dipertahankan.
Adapun kandungan-kadungan dari detergent adalah enzim. Enzim adalah salah satu
bahan yang bersifat alergent bagi sebagian kulit seseorang, sehingga penelitian tentang enzim
sebagai bahan aditif detergent menjadi salah satu bahan penelitian penting industri detergent.
Untuk itulah pengetahuan tentang penyusun detergent sangat penting. Salah satu adalah bahan
aditif dalam bentuk enzim. Enzim adalah bahan protein aktif, yang berfungsi sebagai katalis,
suatu bahan yang mempercepat terjadinya reaksi kimia, namun bahan itu tidak ikut bereaksi
dan terbentuk kembali diakhir reaksi. Enzim karena berasal dari mahkluk hidup, maka enzim

1
juga dikenal dengan sebutan biokatalisator. Enzim sengaja ditambahkan dalam detergent,
untuk meningkatkan fungsi detergent sebagai penghilang kotoran atau noda yang sulit lepas,
karena daya lengketnya yang sangat tinggi. Misalnya, darah yang mengenai pakaian, getah
pohon atau rumput, sehingga untuk melepaskan noda itu, enzim menjadi sangat penting dalam
suatu detergent. Berdasarkan pernyataan di atas, penulis menyusun makalah “Menganalisis
enzim yang terdapat pada detergen”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan detergent?
2. Apa saja jenis-jenis dari detergent?
3. Apa saja zat-zat yang terkandung dalam detergent?
4. Bagaimanakah komposisi di dalam detergent?
5. Bagamanakah cara menggolongkan detergen berdasarkan ionnya?
6. Bagaimanakah proses pembuatan detergent?
7. Apa saja enzim-enzim yang terkandung di dalam detergent?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mahasiswa dapat memahami pengertian dari detergent.
2. Mahasiswa dapat memahami jenis-jenis dari detergent.
3. Mahasiswa dapat memaparkan kandungan yang terdapat di dalam detergent.
4. Mahasiswa dapat memahami komposisi-komposisi dari detergent.
5. Mahasiswa dapat menggolongkan detergen berdasarkan ionnyat.
6. Mahasiswa dapat memahami proses pembuatan detergent.
7. Mahasiswa dapat memahami enzim-enzim yang terkandung di dalam detergent.
1.4 Manfaat Penelitian
Agar pembaca bisa memahami karakteristik detergen dan mampu menganalisis enzim-
enzim yang ada pada detergent.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Detergent


Detergent adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu
pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan sabun,
deterrgent mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak
terpengaruh oleh kesadahan air. Detergent merupakan garam Natrium dari asam sulfonat.

Gambar 2.1 Reaksi pembuatan detergent


Detergent sudah sangat akrab di kehidupan kita, terutama bagi ibu rumah tangga.
Detergent digunakan untuk mencuci pakaian. Untuk menyempurnakan kegunaannya, biasanya
pabrik menambahkan natrium perborat, pewangi, pelembut, naturium silikat, penstabil, enzim,
dan zat lainnya agar fungsinya semakin beragam. Tapi diantara zat-zat tersebut ada yang tak
bisa dihancurkan atau dilarutkan oleh mikroorganisme sehingga otomatis menyebabkan
pencemaran lingkungan. Apabila air yang mengandung detergent dibuang kedalam air,
tercemarlah air dan pertumbuhan alga yang sangat cepat. Hal ini akan menyebabkan
kandungan oksigen dalam air berkurangan dan otomatis ikan, tumbuhan laut,dan kehidupan air
lainnya mati. Selain itu limbah detergent juga menyebabkan pencemaran tanah yang
menurunkan kualitas kesuburan tanah yang mengakibatkan tanaman serta kehidupan tanah
termasuk cacing mati. Padahal cacing bisa menguraikan limbah organik, non organik dan
menyuburkan tanah
Bahan utama detergent adalah garam natrium yaitu asam organik yang dinamakan
asamsulfonik. Asam sulfonik yang digunakan dalam pembuatan detergent merupakan
molekul berantai panjang yang mengandung 12 hingga 18 atom karbon per molekul. Detergent pertama
disintesis pada tahun 1940-an, yaitu garam natrium dari alkylhydrogen sulfat. Alkohol berantai
panjang dibuat dengan cara penghidrogenan lemak dan minyak. Alkohol berantai panjang ini
direaksikan dengan asam sulfat menghasilkan alkilhydrogen sulfat yang kemudian dinetralkan
dengan basa. Natrium lauril sulfat adalah detergent yang baik. Karena garamnya berasal dari
asamkuat, larutannya hampir netral. Garam kalsium dan magnesiumnya tidak mengendap
dalamlarutannya, sehingga dapat dipakai dengan air lunak atau air sadah. Pada masa kini,

3
detergent yang umum digunakan adalah alkil benzenesulfonat berantai lurus. Pembuatannya
melalu itiga tahap. Alkena rantai lurus dengan jumlah karbon 14-14 direaksikan dengan
benzena dan katalis Friedel-Craft (AlCl3 atau HF) membentuk alkil benzena. Sulfonasi dan
penetralan dengan basa melengkapi proses ini. Rantai alkil sebaiknya tidak bercabang. Alkil
benzene sulfonat yang bercabang bersifat tidak dapat didegradasi oleh jasad renik
(biodegradable).

2.2 Jenis-jenis Detergent


2.4.1 Berdasarkan bentuk fisik
Berdasarkan bentuk fisiknya, detergent dibedakan atas:
 Detergent Cair
Secara umum, detergent cair hampir sama dengan detergent bubuk. Hal yang
membedakan hanyalah bentuknya: bubuk dan cair. Produk ini banyak digunakan
di laundry modern menggunakan mesin cuci kapasitas besar dengan teknologi
yang canggih.
 Detergent Krim
Detergent krim bentuknya hampir sama dengan sabun colek, tetapi kandungan
formula keduanya berbeda. Di luar negeri, produk biasanya tidak dijual dalam
kemasan kecil, tetapi dijual dalam kemasan besar (kemasan 25 kg).
 Detergent bubuk
Bila dicermati berbagai iklan detergent bubuk di televisi maka masing-masing
produk detergent mencoba menjelaskan kepada konsumen tentang keunggulan
produknya yang secara fisik berbeda dengan produk lainnya. Sebagai contoh ada
sebuah iklan detergent tertentu yang menjelaskan tentang kelebihan produk
detergent dengan kandungan butiran berbentuk padat (masif) bila dibandingkan
dengan detergent dengan butiran yang berongga. Namun, diyakini bahwa hanya
sedikit orang atau pemirsa yang dapat memahami esensi dari iklan tersebut.
2.4.2 Berdasarkan keadaan butirannya
Berdasarkan keadaan butirnya, detergent dibedakan atas:
 Detergent bubuk berongga
Detergent bubuk berongga mempunyai ciri butirannya mempunyai rongga. Butiran
detergent yang berongga dapat dianalogikan dengan bentuk bola sepak yang
didalamnya rongga. Ini berarti butiran detergent jenis ini mempunyai volume per
satuan berat yang besar karena adanya rongga tersebut. Butiran detergent jenis
berongga dihasilkan oleh proses spray drying. Untuk membuat detergent berongga
diperlukan investasi yang besar karena harga mesin yang digunakan (spray dryer)

4
sangat mahal, yaitu mencapai nilai miliaran rupiah. Dengan kondisi ini, pembuatan
detergent berongga tidak dapat diaplikasikan untuk skala dan home industry
(industri rumah tangga), baik skala kecil maupun menengah. Sebagian besar
detergent bubuk yang dipasarkan ke konsumen termasuk dalam golongan detergent
bubuk berongga.
 Detergent bubuk padat/ masif
Bentuk butiran detergent bubuk padat/masif dapat dianalogikan degan bola tolak
peluru, yaitu semua bagian butirannya terisi oleh padatan sehingga tidak berongga.
Butiran detergent yang padat merupakan hasil olahan proses pencampuran kering
(dry mixing). Kelebihan detergent bubuk padat, yaitu untuk membuatnya tidak
diperlukan modal besar karena alatnya termasuk sederhana dan berharga murah.
Kekurangannya adalah karena bentuknya padat maka volumenya tidak besar
sehingga jumlahnya terlihat sedikit.

2.3 Zat-zat yang terkadung dalam detergent


Adapun zat-zat yang terkandung dalam detergent yaitu:
1. Surfaktan, yaitu untuk mengikat lemak dan membasahi permukaan.
2. Abrasive untuk menggosok kotoran.
3. Substansi untuk mengubah pH yang mempengaruhi penampilan ataupun
stabilitas dari komponen lain.
4. Water softener untuk menghilangkan efek kesadahan.
5. Oxidants untuk memutihkan dan menghancurkan kotoran.
6. Material lain selain surfaktan untuk mengikat kotoran didalam suspensi.
7. Enzim untuk mengikat protein, lemak, ataupun karbohidrat didalam kotoran.

2.4 Komposisi di dalam Detergent


Detergent merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak
bumi. Dibanding dengan produk terdahulu yaitu sabun, detergent mempunyai keunggulan
antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.
Pada umumnya, detergent mengandung bahan-bahan yaitu, Surfaktan, Builder, Filler dan
Additives.
 Surfaktan
Komponen penting detergent adalah surfaktan. Fungsi surfaktan adalah untuk
meningkatkan daya pembasahan air sehingga kotoran yang berlemak dapat
dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dari kain dan mensuspensikan
kotoran yang telah terlepas. Senyawa-senyawa amonium kuarterner, berubah

5
menjadi partikel positif ketika terlarut dalam air, surfaktan ini biasanya digunakan
pada pelembut (softener).
 Bahan Aktif (Active Ingredient)
Bahan aktif merupakan bahan inti dari detergent sehingga bahan ini harus ada
dalam proses pembuatan detergent. Secara kimia bahan ini dapat berupa sodium
lauryl sulfonate (SLS). Beberapa nama dagang dari bahan aktif ini diantaranya
Luthensol, Emal, dan Neopelex (NP).
 Bahan Pengisi (Filler)
Filler adalah bahan tambahan detergent yang tidak mempunyai kemampuan
meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas, contoh : Sodium sulfate. Pada
umumnya, sebagai bahan pengisi detergent digunakan sodium sulfat. Bahan lain
yang sering digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate
dan sodium sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah
larut dalam air.
 Bahan Penunjang (Builder)
Salah satu contoh bahan penunjang adalah soda ash atau sering disebut soda abu
yang berbentuk bubuk putih. Bahan penunjang ini berfungsi meningkatkan daya
bersih. Keberadaan bahan ini dalam campuran tidak boleh terlalu banyak karena
menimbulkan efek samping, yaitu dapat mengakibatkan rasa panas di tangan pada
saat mencuci pakaian. Bahan penunjang lain adalah STTP (sodium tripoly
phosphate) yang mempunyai efek samping yang positif, yaitu dapat menyuburkan
tanaman. Dalam kenyataannya, ada beberapa konsumen yanhg menyiramkan air
bekas cucian produk detergent tertentu ke tanaman dan hasilnya lebih subur. Hal
ini disebabkan oleh kandungan fosfat yang merupakan salah satu unsur dalam jenis
pupuk tertentu.
Dalam pencucian dalam jumlah air yang sedikit, busa sangat penting karena dalam
pencucian dengan sedikit air, busa akan berperan untuk tetap "memegang" partikel
yang telah dilepas dari kain yang dicuci, dengan demikian mencegah
mengendapnya kembali kotoran tersebut. Revolusi terbesar dalam perkembangan
detergent adalah pemakaian enzim. Enzim sebagai bantuan untuk mencuci
bukanlah suatu hal yang baru lagi untuk dunia industri.
Cara kerja enzim relatif lambat dan harga produksinya tinggi, tetapi dengan metode
yang telah disempurnakan untuk produksi dan pemurnian, rantai enzim,
dikembangkan untuk bereaksi dengan cepat.

6
 Bahan Pewangi (Parfum)
Parfum termasuk dalam bahan tambahan. Keberadaan parfum memegang peranan
besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk detergent bubuk. Artinya,
walaupun secara kualitas detergent bubuk yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah
memberi parfum akan berakibat fatal dalam penjualannya. Parfum untuk detergent
berbentuk cairan berwarna kekuning-kuningan dengan berat jenis 0,9. Dalam
perhitungan, berat parfum dalam gram (g) dapat dikonversikan ke milliliter (ml).
Sebagai patokan 1 g parfum = 1,1 ml. Pada dasarnya, jenis parfum untuk detergent
dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu parfum umum dan parfum eksklusif. Parfum
umum mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di masyarakat, seperti aroma
mawar dan aroma kenanga. Pada umumnya, produsen detergent bubuk
menggunakan jenis parfum yang eksklusif. Artinya, aroma dari parfum tersebut
sangat khas dan tidak ada produsen lain yang menggunakannya. Kekhasan parfum
eksklusif ini diimbangi dengan harganya yang lebih mahal dari jenis parfum
umum. Beberapa nama parfum yang digunakan dalam pembuatan detergent bubuk
diantaranya bouquet, deep water, alpine, dan spring flower.
 Antifoam
Cairan antifoam digunakan khusus untuk pembuatan detergent bubuk untuk mesin
cuci. Bahan tersebut berfungsi untuk meredam timbulnya busa. Persentase
keberadaan senyawa ini dalam formula sangat sedikit, yaitu berkisar antara 0,04-
0,06%.

2.5 Cara Menggolongkan Detergent Berdasarkan Ionnya


Berdasarkan ion yang dikandungnya, detergent dibedakan atas :
 Cationic detergent
Detergent yang memiliki kutub positif disebut sebagai cationic detergent. Sebagai
tambahan, selain adalah bahan pencuci yang bersih, mereka juga mengandung sifat
antikuman yang membuat mereka banyak digunakan di rumah sakit. Kebanyakan
detergent jenis ini adalah turunan dari ammonia.

7
Gambar 2.2 Deterjen kationik

 Anionic detergent
Detergent jenis ini adalah merupakan detergent yang memiliki gugus ion negatif.
Pada jenis surfaktan ini terdapat group ion negatif sehingga dinamakan anionic
detergent. Umumnya, bagian head merupakan gugus yang bermuatan negativ.
Sifat detergent ditentukan oleh anion yang terdapat dalam rantainya. Apabila ingin
menghasilkan tingkat detergentcy optimum, maka anion dapat dinetralisasi dengan
alkali atau material yang bersifat basa.

Gambar 2.3 Detrjen anionic

 Neutral atau Non-Ionic Detergent


Nonionic detergent banyak digunakan untuk keperluan pencucian piring. Karena
detergent jenis ini tidak memiliki adanya gugus ion apapun, detergent jenis ini tidak
bereaksi dengan ion yang terdapat dalam air sadah. Nonionic detergent kurang
mengeluarkan busa dibandingkan dengan ionic detergent.

8
Gambar 2.4 Deterjen nonionic

2.6 Proses Pembuatan Detergent


Proses pembuatan detergent secara umum terdiri atas 3 bagian yaitu :
1. Spray-drying
2. Agglomerasi
3. Dry-mixing
 Spray-drying
Spray-drying merupakan proses modern dalam pembuatan detergent bubuk sintetik
dimana dalam spray-drying terjadi proses pengabutan dan dilanjutkan proses
pengeringan. Tahap-tahap dalam proses spray-drying dapat diperlihatkan pada
gambar berikut:
To atmosphere
To atmosphere

Dedusting
filter

Spray drying
tower

Air lift
Detergent slurry
Hoist
Exhaust gas
Dedusting filter
Detergent powder
Vibrating system
Gas turning
Power Cleaning ring Fan
generator Static
Air Mouisture perfumer
analyzer
Fines
Extraction perfume
screw pump
Density Traditional powder
Analyzer To packaging
controller To concentratied
Ejector Fan
Powder prosessing

Detergent powder Hopper

Burner Air lift


Feeding helt

Fuel
Air

Gambar 2.6 Diagram alir spray-drying

Gambaran proses pembuatannya adalah komponen-komponen cairan (diterima


dalam drum dan kemudian disimpan dalam storage tank) diukur kemudian
dicampurkan dengan kmponen padat (diterima dalam bags atau wadah khusus dan

9
kemudian disimpan dalam silos) untuk membentuk slurry yang homogen.
Beberapa slurry memiliki perbedaan viskositas dan konsentrasi berdasarkan
formula yang dipompakan pada tekanan tinggi (hingga 10 bar). Dan di spray
(disemprotkan) melalui alat penyemprot khusus (nozzles) ke dalam menara
berbentuk silinder (spray–drying tower) seperti yang ditunjukkan pada gambar di
atas, dimana aliran dari udara panas terbawa. Dalam beberapa kasus aliran udara
mengalir menuju produk untuk memastikan efisiensi termalnya tinggi dan proses
drying terkontrol.
Pilihan drying co-current pada dasarnya dibatasi oleh perbedaan proses drying
yang mana hasilnya lebih tetap dan tahan terhadap hollow beads yang berasal dari
ekspansi mula–mula dan drying permukaan ketika slurry menurun pada saat suhu
udara tinggi pada bagian atas menara (spray-drying tower). Dalam kasus ini ketika
meneruskan arus aliran turun,pengeringan produk diproses yang dihubungkan
dengan menurunkan suhu udara. Drying co-current menurunkan efisiensi kalor dan
sebagian besar digunakan untuk pengeringan produk yang sensitif terhadap suhu
tinggi dari bulk dengan densitas yang rendah.
Produk yang dikeringkan dalam bentuk hollow bead dikumpulkan pada bagian atas
menara spray drying dan didinginkan serta dikristalisasikan melalui sistim
pembawa airlift dengan aliran udara dingin.setelah pengankutan udara bubuk
dasar disaring dan diberikan pengharum dan akhirnya dicampur dengan
komponen-komponen yang sensitive terhadap suhu atau zat adiktif yang kemudian
di simpan dalam silos dan akhirnya di bawa ke mesin pengepak poduk.
 Aglomerasi
Proses aglomerasi merupakan proses pembuatan detergent bubuk sintesis yang
memiliki densitas yang tinggi dengan cara pencampuran material-material kering
dengan bahan-bahan cairan yang dibantu dengan adanya bahan pengikat cairan
yang kemudian bercampur yang menyebabkan bahan-bahan tadi bergabung satu
sama lain yang membentuk partikel-partikel berukuran besar.

Gambar 2.7 Proses Aglomerasi

10
Prose aglomerasi dapat di gambar kan seperti proses penimbunan atau
penumpukan dari komponen dari bubuk menjadi cairan dan menjadi butir atau
granula. Tahap-tahap pemprosesan non tower balestra untuk produksi detergent
bubuk berdasarkan pada proses aglomerasi. Diantara berbagai tahap proses
tersebut, aglomerasi memperlihatkan operasi yang sangat penting dan kritis, karena
proses tersebut dihubung kan ke struktur fisik dan pada saat yang sama,
dihubungkan ke komposisi kimia dari produk.
Proses aglomerasi juga merupakan proses spray-drying dengan dry mixing atau
blending. Konsentasi air proses yang digunakan anatara 35-40% dalam crutcher
slurry. Dalam aglomerasi cairan disemprotkan keatas secara continue. Komponen-
komponen atau bahan yang digunakan dalam aglomerasi meliputi slikat detergent
aktif dan air yang digunakan sebagai cairan dalam aglomerasi.
 Dry Mixing
Material kering (dry material) yang digunakan untuk membuat detergent bubuk
ditimbang dan selanjutnya dimasukkan kedalam mixer, pencampuran dilanjutkan
selama 1-2 menit dan ditambahkan slurry selama 3-4 menit.

Gambar 2.8 Proses dry mixing

Setelah semua slurry dimasukkan kedalam mixer, pencampuran dilanjutkan selama


1-2 menit agar menjadi homogen. Sebagian besar dari bubuk yang terbentuk dapat
dikemas dengan segera setelah selesai atau setelah 30 menit penyimpanan.

2.7 Enzim-enzim yang terkandung dalam detergent


Enzim adalah bahan protein aktif, yang berfungsi sebagai katalis, suatu bahan yang
mempercepat terjadinya reaksi kimia, namun bahan itu tidak ikut bereaksi dan terbentuk
kembali diakhir reaksi. Enzim berasal dari mahkluk hidup, oleh karena enzim juga dikenal

11
dengan sebutan biokatalisator. Enzim sengaja ditambahkan dalam detergen, untuk
meningkatkan fungsi detergen sebagai penghilang kotoran atau noda yang sulit lepas, karena
daya lengketnya yang sangat tinggi. Misalnya, darah yang mengenai pakaian, getah pohon atau
rumput, sehingga untuk melepaskan noda itu, enzim menjadi sangat penting dalam suatu
detergen.
Enzim memiliki sifat khusus dan spesifik untuk substrat tertentu, memiliki kondisi dan
suhu optimum tertentu, atau rentang suhu tertentu, yang diukur dengan satuan aktivitas, baik
aktivitas unit maupun aktivitas spesifik. Enzim yang di aplikasikan pada detergent harus
memiliki karakteristik yang mendukung seperti pH basa, stabilitas suhu yang baik, dan
ketahanan terhadap senyawa. Sebagian besar detergent yang diproduksi saat ini mengandung
enzim yang kompatibel dengan detergent untuk meningkatkan dan mempercepat kinerja
pencucian dengan menghilangkan noda yang sulit lepas dari pakaian. Sangat efektif bila
digunakan bersama air hangat (misalnya bersuhu 30-40°C).Produk tanpa enzim kurang efektif
dalam menangani jenis noda tertentu
Dua, tiga, atau lebih enzim yang kompatibel deterjen secara bersamaan diproduksi oleh
mikroorganisme dalam kondisi yang sama. Detergen yang mengandung enzim lebih ramah
lingkungan, karena dapat didegradasi dengan mudah di alam. Detergen yang ramah ingkungan
sangat dibutuhkan untuk mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah. Dalam detergent,
biasanya ada empat jenis enzim yang ditambahkan sebagai bahan aditif detergent yaitu
protease, amilase, lipase dan selulase. Masing-masing enzim ini memiliki fungsi yang berbeda-
beda.
2.7.1 Protease
Protease merupakan enzim penting pada industri makanan, misalnya proses susu jadi
keju dan bahan pada detergent. Enzim ini akan sangat mengkatalis reaksi-reaksi hidrolisis,
yaitu reaksi yang melibatkan unsur air pada ikatan spesifik substrant. Protease merupakan
enzim yang sangat kompleks, mempunyai sifat fisika kimia dan katalik yang sangat bervariasi.
Enzim ini dihasilkan secara ekstraseluler oleh mikroorganisme dan mempunyai peranan yang
sangat penting dalam metabolism sel dan keteraturan sel.
Protease adalah enzim yang berperan dalam reaksi pemecahan protein. Enzim protease
bekerja sebagai katalis dalam reaksi pemecahan molekul protein dengan cara hidrolisis. Oleh
sebab itu enzim protease digunakan untuk menghilangkan noda berbahan dasar protein seperti
darah, telur, susu, dan rumput. Pada tingkat yang paling dasar, struktur protein terdiri dari asam
amino dihubungkan bersama oleh ikatan kimia yang disebut ikatan peptida. Protein dapat berisi
sedikitnya satu ikatan peptida sampai sebanyak beberapa ribu. Protease mengkatalisis
proteolisis, proses ireversibel yang memecah protein menjadi asam amino komponennya.

12
Proteolisis memotong ikatan peptida antara asam amino dalam protein. Asam amino bebas dan
fragmen protein yang lebih kecil adalah produk dari aktivitas protease.
2.7.2 Amilase
Enzim amilase merupakan enzim yang mampu bertindak sebagai katalis dalam reaksi
hidrolisis pati oleh air membentuk gula. Oleh karena itu amilase dapat digunakan untuk
menghilangkan noda berbahan dasar kanji seperti kuah, kentang, pasta, nasi, dan cokelat. Jika
tidak dihilangkan, noda kanji dapat menyebabkan noda lain melekat sehingga menimbulkan
bercak warna atau noda pada kain.
Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud
bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh
tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis)
dalam jangka panjang. Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin,
dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras sedangkan amilopektin
menyebabkan sifat lengket. Dalam bentuk aslinya secara alami pati merupakan butiran-butiran
kecil yang sering disebut granula. Melalui enzim amilase ikatan cabang pada pati dapat
dihidrolisis sehingga dapat menguraikan glikogen dan amilopektin secara sempurna menjadi
glukosa. Enzim ini memutuskan ikatan kimia dengan penambahan air.
2.7.3 Lipase
Enzim ini diproduksi secara alami oleh strain dipilih dari jamur Humicola, tetapi jumlah
yang terlalu rendah untuk aplikasi komersial. Metode tradisional untuk meningkatkan hasil
terbukti tidak berhasil, sehingga gen penyandi lipase dikloning dan dimasukkan menjadi jamur
Aspergillus oryzae. Jamur ini sekarang memproduksi enzim dalam hasil komersial yang
relevan sehingga dapat digunakan dalam deterjen,
Bidang yang paling penting secara komersial dari aplikasi untuk lipase hidrolitik adalah
tambahan mereka terhadap detergent, yang digunakan terutama dalam rumah tangga dan
industri binatu dan dalam rumah tangga mesin pencuci piring. Kekuatan pembersihan detergent
tampaknya semakin meningkat, semua detergent mengandung bahan-bahan yang sama dan
didasarkan pada mekanisme detergensi serupa. Untuk meningkatkan detergensi, jenis detergent
bubuk biasanya mengandung satu atau lebih enzim, seperti protease, amilase, selulase dan
lipase. Enzim dapat mengurangi beban lingkungan terhadap produk detergent, karena mereka
menghemat energi dengan memungkinkan mencuci pada temperature rendah. Lipase efektif
untuk noda berminyak dan berlemak seperti mentega, minyak, santan, kosmetik, serta lipstick.
Lipase aktif menghidrolisis noda minyak pada kain. Enzim lipase menghidrolisis trigliserida
menjadi mono dan digliserida, gliserol dan asam lemak bebas, serta semua yang lebih larut
daripada lemak asli. Lipase yang sudah diserap oleh kain memfasilitasi penghapusan minyak

13
dari permukaan dan dapat mengubah kelembaban permukaan kain. Lipase dapat meningkatkan
stabilitas terhadap denaturasi oleh surfaktan dan melekat pada kain selama proses pencucian.
2.7.4 Selulase
Selulase berbeda dari ketiga enzim lainnya. Enzim ini tidak bekerja pada noda, namun
pada kain. Selulase aktif untuk serat selulosa (katun) dan mampu menghilangkan mikrofibril
serat katun pada kain. Dibandingkan dengan enzim hydrolase lainnya di dalam deterjen,
selulase tergolong unik. Jika enzim hydrolase lain seperti amilase dan lipase umumnya
menyerang substrat yang terdapat pada kotoran atau noda, enzim selulase menghidrolisis
selulosa pada kapas atau padanannya untuk memberi keuntungan dalam pencucian dan
perawatan bahan. Aplikasi komersial Enzim selulase dalam deterjen bermula pada tahun 1987,
ketika produk deterjen Kao, Attack menggunakan selulase Alkalin dari Bacillus sp. Sejak 1991,
sejumlah deterjen Eropa dan Amerika Utara juga melibatkan selulase. Selulase dalam deterjen
membantu menjaga bahan kapas dan paduannya terlihat baru lebih lama dengan
menghilangkan bulu halus yang terbentuk selama pemakaian. Dengan melepaskan fibril pada
permukaan bahan, kotoran juga akan terlepas, sehingga selulase di sisi lain dapat meberikan
efek pembersihan. Hasilnya, selulase bermanfaat untuk mencegah penumpukan noda,
mengembalikan warna, menghaluskan permukaan, dan menghilangkan noda tanah, sehingga
enzim selulase menjadi enzim primadona dalam komponen detergen. Gambar berikut
menunjukan perbedaan hasil pencucian dengan deterjen tanpa selulase dan mengandung
selulase.

14
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
1. Detergent adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan
dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.
2. Jenis-jenis detergent dapat digolongkan berdasarkan bentuk fisiknya detergen krim, cair, dan
bubuk dan berdasarkan bentuk butirannya detregen bubuk berongga dan bubuk padat/massif.
3. Zat-zat yang terkandung dalam detergen adalah Surfaktan, Abrasive, Substansi, Water
softener, Oxidants, dan Enzim.
4. Komposisi dalam detergen terdiri atas surfaktan, bahan aktif, bahan pengisi, bahan
penunjang, bahan pewangi, dan antifoam.
5. Penggolongan detergen berdasarkan ionnya yaitu cationic detergent, anionic
detergent, neutral atau non-ionic detergent.
6. Proses pembuatan detergent adalah spray-dryng, Agglomerasi, dan Dry mixing.
7. Enzim-enzim yang terkandung dalam detergent adalah protease, lipase, amilase, dan
selulase.

3.2 Saran
Detergen memiliki peranan penting dalam industri rumah tangga dan penambahan
kandungan enzim memberi manfaat yang sangat besar pada kualitas detergen. Perlu dilakukan
penelitian lebih jauh lagi untuk dapat mengidentifikasi kemungkinan enzim lain yang dapat
ditambahkan pada detergen.

15
DAFTAR PUSTAKA

Antony. 2012. Produksi enzim selulase. Makalah. Tersedia pada:


https://www.slideshare.net/antonyweng/produksi-enzim-selulase. Diakses pada: 10
Oktober 2018.

Tika, I N. 2018. Enzim untuk deterjen dan tantangan untuk Indonesia. Artikel. Tersedia pada:
https://www.kompasiana.com/inyoman3907/5b1a51c2caf7db40ca19dbb2/enzim-
untuk-detergen-dan-tantangan-indonesia?page=all. Diakses pada: 10 Oktober 2018

16