Anda di halaman 1dari 74

BAB V

ACUAN PERANCANGAN

A. Konsep Perancangan Makro


1. Penjabaran Skema Penyelesaian Rumusan Masalah
Berdasarkan tujuan perancangan yang diperoleh dari latar belakang dan
rumusan masalah pada BAB I, maka rumusan masalah yang ada dapat
dijabarkan sebagai berikut:
a. Bagaimana merencanakan kebutuhan dan pola hubungan ruang yang baik
dalam gelanggang futsal di Raha ?
b. Bagaimana penerapan arsitektur Analogi origami dalam proses
perancangan ?

Melalui penjabaran di atas, dapat disimpulkan beberapa pendekatan


acuan perancangan yang akan dianalisis untuk memperoleh skema acuan
perancangan yang diharapkan dapat menyelesaikan rumusan masalah yang ada,
di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Untuk meyelesaikan rumusan masalah point ‘a’ maka beberapa pendekatan
yang akan dianalisa adalah:
1) Pelaku dan Kegiatannya
2) Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang
3) Pengelompokan dan Pola Hubungan Ruang
4) Pengkondisian Ruang, Sistem Akustik, serta Utilitas dan Kelengkapan
Bangunan.
5) Pengolahan tapak terkait kebutuhan masyarakat dalam aktivitas
olahraga futsal di Raha.

b. Untuk menyelesaikan rumusan masalah point ‘b’ maka beberapa


pendekatan yang akan dianalisa adalah:
1) Pengolahan tapak yang baik untuk mendapatkan data dan tanggapan dari
sosial budaya, potensi lingkungan dan kebutuhan masyarakat pada
lokasi dan site terpilih.
2) Pengolahan bentuk dan tampilan bangunan yang didasari dari hasil
identifikasi exiting condition tapak yang dilakukan
3) Penentuan sistem struktur bangunan yang tidak hanya mampu membuat
bangunan berdiri kokoh namun juga akrab terhadap segala gejala-gejala
dlam yang terjadi pada lokasi dan site terpilih.

c. Untuk meyelesaikan rumusan masalah point ‘b’ maka babarapa hal yang
harus diperhatikan adalah dengan melakukan umpan balik dari proses
analisa pendekatan dengan prinsip-prinsip arsitektur analogi origami pada
pendekatan acauan perancangan dan tinjauan pustaka serta melakukan
pengolahan tapak yang baik untuk mendapatkan data-data site terpilih.

Hubungan acuan perancangan dengan rumusan masalah dapat dilihat


pada Gambar V.1 berikut:

Arsitektur Analogi Origami

BAB I Umpan Balik

Rumusan
Masalah
BAB III
Tinjauan BAB IV BAB V
Lokasi
Pendekatan
(DATA) Acuan
Acuan
Perancangan
Perancanga
BAB II n

Tinjauan
Pustaka

Gambar V.1 Bagan Hubungan Acuan Perancangan dengan Rumusan Masalah.


B. Konsep Perancangan Makro
1. Penentuan Lokasi

Gambar 5.1. Peta Rencana Penetapan Area Strategis Kabupaten Muna


Sumber: Dinas PU Kab. Muna Sub. Din. Tata Ruang dan Tata Bangunan
Faktor penentu dalam menentukan lokasi perencanaan gelanggang olahraga
seperti yang tersebut dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung, dan
merujuk pada Peratuaran Daerah Kab. Muna Nomor 2 tahun 2014 tentang Rencana
Tata Ruang Kab.Muna tahun 2014-2034, Oleh karena itu BWK Pusat Kota, dalam
hal ini di Kecamatan Katobu dinilai dapat dijadikan sebagai lokasi perencanaan
dengan alasan sebagai berikut :
1. Strategis serta memiliki sarana dan prasarana kota yang memadai
2. BWK Pusat Kota juga berpotensi sebagai pemusatan aktifitas masyarakat
Kabupaten Muna.
3. Masih banyak lahan yang belum terbangun untuk dijadikan sebagai lokasi
perencanaan bangunan ini.

Gambar Analisa Penentuan Lokasi Perencanaan.


(Sumber: Google Earth, 10 September 2018)

2. Pemilihan Site/Tapak
Setelah lokasi terpilih ditentukan, maka selanjutnya dapat dipilih tapak
yang akan dijadikan sebagai tapak Perencanaan gelanggang futsal dengan
analogi origami. Kriteria yang menjadi dasar penentuan tapak adalah sebagai
berikut:
1. Sesuai peruntukan lahan dengan menyesuaikan tapak lingkungan
sekitarnya.
2. Berada tidak cukup jauh dari pemukiman padat penduduk.
3. Tersedianya sarana utilitas yang menyediakan air bersih, jaringan listrik,
dan sarana-sarana pendukung.
4. Letak site yang strategis memberikan penampilan visual bagi bangunan.
5. Luas site dapat memadai untuk menampung segala aktifitas yang terjadi
pada gelanggang futsal.
6. Kemudahan dalam pencapaian/aksesbilitas.

Gambar 5.3. Analisa Pemilihan tapak


Sumber: Google Earth, 2018
Tabel 5.1 Pembobotan Lokasi Tapak

Bobot Alternatif I Alternatif II


Kriteria Tapak
(100%)
Nilai B x N Nilai BxN
Sesuai dengan peruntukan
lahan dalam Rencana Tata 25
Ruang Wilayah Kab.Muna
Adanya akses menuju lokasi 20
Luasan Lahan yang tersedia 20
Tersedianya jaringan utilitas
20
wilayah
Tidak menggangu
15
kenyamanan penduduk

Keadaan Topografi yang baik 10

Jumlah 100

Berdasarkan tabel pembobotan pemilihan site/tapak, maka Tapak yang


digunakan untuk perencanaan Gelanggang Futsal adalah pada site
alternative I, dengan nilai bobot ___, dimana site/tapak tersebut berada pada
Kwasan SOR LD. Pandu.

3. Konsep Pengolahan Tapak


a. Existing Condition
Lokasi perancangan yang dipilih berada Jl. SOR La Ode Pandu,
Pulau, Wamponiki, Katobu, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara,. Lokasi
perancangan berada di wilayah perencanaan Kabupaten Muna, yang mana
daerah tersebut dekenal dengan sebutan SOR. Secara umum kawasan
tersebut adalah kawasan olahraga yang dibuka secara umum semenjak
PORPROV 2007 saat Kab.Muna menjadi tuan rumah. Sekarang kawasan
SOR sering dgunakan sebagai kawasan rekreasi olahraga masyarakat raha
khususnya dan menjadi ikon kota raha.
1. Kondisi Fisik Tapak
a. Data mengenai Bentuk, Ukuran dan dimensi tapak sebagai berikut:
1) Luas tapak : ± 3 Ha
2) Batas – batas tapak
 Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Lasalepa
(Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu
Satu Pintu)
 Sebelah Timur : Berbatasan dengan Selat Buton (Jalan
By Pass Raha)
 Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Katobu
(Jalan Pahlawan)
 Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan
Watopute (Jalan M.H.Thamrin)

Gambar 5.4. Existing Condition luasan site


Sumber: Google Earth & Koleksi Pribadi, 2018
b. Data Fisik Lain tapak sebagai berikut:

Khusus Area Tapak merupakan Kawasan

timbunan, dengan kemiringan 0 - 3 %,

Gambar 5.4. Existing Condition Topografi Sekitaran site


Sumber: Dinas PU Kab. Muna Sub. Din. Tata Ruang dan Tata Bangunan,
Koleksi Pribadi,2018
Gambar 5.4. Existing Condition Potensi bencana Sekitaran site
Sumber: Dinas PU Kab. Muna Sub. Din. Tata Ruang dan Tata Bangunan,
Koleksi Pribadi,2018
c. Iklim dan Curah Hujan
Data dari BPS Kabupaten Muna, raha dalam angka 2017
mempunyai iklim tropis seperti sebagian besar daerah di Indonesia,
dengan suhu rata-rata sekitar 26–30ºC. Demikian juga dengan
musim, Kabupaten Muna mengalami dua musim, yaitu musim
hujan dan musim kemarau.

Pada umumnya musim hujan terjadi pada bulan Desember


sampai dengan Juni dimana angin yang mengandung banyak uap air
bertiup dari Benua Asia dan Samudra Pasifik sehingga.
menyebabkan hujan. Sedangkan musim kemarau terjadi antara Juli
sampai November, pada bulan ini angin bertiup dari Benua Australia
yang sifatnya kering dan sedikit mengandung uap air.

Secara rata-rata, banyaknya hari hujan tiap bulan pada


tahun 2016 adalah 16 hari dengan rata-rata curah hujan 172,00
mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari sebesar
432,50 mm dengan jumlah hari hujan sebesar 21 hari hujan.

Gambar 5.4. Existing Condition Keadaan Iklim Sekitaran site


Sumber: Google Earth, Koleksi Pribadi,2018

2. Kondisi Vegetasi Sekitaran Site


Gambar 5.4. Vegetasi Sekitaran site
Sumber: Google Earth & Koleksi Pribadi, 2018

3. Kondisi secara Cultural Sekitaran Tapak

Gambar 5.4. Utilitas Sekitaran site


Sumber: Google Earth & Koleksi Pribadi, 2018
Gambar 5.4. Area History Sekitaran site
Sumber: Google Earth & Koleksi Pribadi, 2018

Gambar 5.4. Existing Condition Sirkulasi Sekitaran site


Sumber: Google Earth & Koleksi Pribadi, 2018
Pergerakan kendaraan pada Jalan By Pass Raha dilalui oleh
kendaraan yang berasal dari trayek Pasar Laino, SOR Laode
Pandu, dan Pertamina menuju ke arah Pelabuhan Nusantara Raha
dan Monumen Jati. Di sebelah Timur site terdapat jalan 2 jalur
yang menghubungkan Jalan By Pass Raha dengan kawasan Pirla
Raha dan Masjid Raha. Kendaraan yang melintas adalah
kendaraan paribadi, umum, servis (truk, ambulance, bus,
pemadam kebakaran, dll). Titik kepadatan lalulintas ada pada
daerah simpang empat di depan bekas gedung BPD Kab.Muna
yang terjadi sekitaran pukul 08.00 WITA, 11.00 WITA, dan
16.00 WITA, namun sangat jarang menyebabkan kemacetan.

Sedangkan jalan 2 jalur pada bagian timur site merupakan


alternatif penghubung dari Jalan By Pass Raha dengan Jalan
Jl.Sor Ld. Pandu. Kendaraan yang melintas adalah kendaraan
pribadi (mobil dan motor)

Pada kedua jalan di atas tidak ditemukan adanya trotoar bagi


pejalan kaki serta halte dan shelter sebagai tempat View

View baik dari arah Utara, Timur dan Selatan ke dalam site
memiliki banyak potensi kerana area-area tersebut merupaka area
rekreasi bagi warga Kota Raha pada pagi dan sore hari terutama
bagi pengunjung Kota Raha yang ingin menikmati pemandangan
Secara umum kebisingan yang terjadi disebabkan oleh
ramainya kendaraan yang melintas di Jalan By Pass Raha dan
Jalan SOR LD. Pandu yang padat kendaraan pada sekitaran pukul
08.00 WITA, 11.00 WITA, dan 16.00 WITA.
Gambar 5.4. View dan potensi Kebisingan Sekitaran site
Sumber: Google Earth & Koleksi Pribadi, 2018
1) Perilaku Manusia
Pola aktivitas masyarakat di sekitar site sendiri lebih mengarah
kepada kegiatan rekreasi dan hiburan serta olahraga dengan
perputaran ekonomi dari penyedia sarana dan pengunjung.
a) Di sebelah Timur site terdapat kawasan pinggiran laut kota raha
yang menjadi tepat rekreasi warga.
b) Di sebelah Selatan site terdapat kawasan Mesjid terapung Raha.
c) Di sebelah Barat site terdapat kawasan Pertamina, dan kawasan
cagar budaya.
d) Di sebelah Utara terdapat kawasan Pasar rayat Laino raha
e) Sedikit jauh di sebelah selatan, Barat site terdapat Alun-Alun
Kota Raha yang menjadi tempat penyelenggaraan evemt-event
tertentu.Di sekitaran Jalan By Pass Raha sendiri terdapat
beberapa cafeteria yang menyediakan fasilitas untuk karaokean.
b. Tanggapan Terhadap Existing
1) Orientasi Matahari
Hal-hal yang menjadi perhatian dalam tapan ini adalah sifat
panas dan silau dari sinar matahari. Beberapa point yang cukup
penting untuk diperhatikan adalah sebagai berikut:
a) Pemaksimalan pencahayaan alami pada bangunan
b) Penanggulangan panas dan silau dari sinar matahari
c) Perencanaan ruang pertunjukkan outdoor yang baik.
Berdasarkan eksisting site maka analisi untuk tanggapan
terhadap orientasi matahari terhadap site adalah sebagai barikut:
a) Orientasi bangunan dan arah bukaan sebisa mungkin dihadapkan
pada sisi utara dan selatan untuk menantisipasi panas dan silau
dari sinar matahari.

Gambar V.17 Orientasi Bangunan dan Arah Hadap Bukaan

b) Rekomendasi elemen façade sebagai peredam dan pemberi efek


viw dari luar kedalam bangunan
c) Penggunaan dan penataan vegetasi sebagai penanggulangan
terhadap panas dan silau sinar matahari.
Gambar V.18 Vegetasi Sebagai penanggulangan terhadap panas
dan silau sinar matahari.

2) Angin
Bangunan ini direncanakan sebagai bangunan dengan bentangan
lebar, maka hal-hal terkait perlaluan terhadap angin lebih dititik
beratkan pada antisipasi dari kekuatan angin yang dapat
menyebabkan kerusakan pada penutup (atap) bangunan.
Arah datang angin juga merupakan factor penting dalam
perletakkan dan orientasi bangunan dalan site, ditambah lagi
pengolahan terhadap bukaan pada bangunan serta usaha untuk
memaksimalkan penghawaan alami pada bangunan.
Angin yang melewati tapak juga dapat membawa dan merubah
arah jatuhnya hujan sehingga perlu adanya perlakuan khusus
terhadap material dan bukaan yang diperkirakan akan menjadi
sasaran jatuhnya air hujan. Hal ini terutama terjadi pada angin dari
arah Utara ( angin musim hujan dari Dataran Asia dan Samudera
Pasifik).
3) Hujan
Gambar V.19 Tanggapan Terhadap Eksisting Hujan Pada Site

Curah hujan di Raha dan Kabupeten Muna lumayan tinggi


namun masyarakat terkadang masih saja mengalami kekurangan air
bersih saat musim kemarau datang. Oleh karena itu pada perancangan
ini akan dicoba untuk mengupayakan bagaimana agar air hujan yang
melimpah dapat semaksimal mungkin ditampung lalu kemudian
diolah untuk mencukupi penggunaan air pada bangunan.

Penguunaan bidang-bidang miring sejajar arah jatuhnya hujan


serta jenis material yang digunakan pada bangunan akan dianalisis
pada tahapan selanjutnya
c. Tanggapan Terhadap Lingkungan Buatan Manusia
1) Tanggapan Terhadap Semapadan Jalan, Luas Site dan Luas
Bangunan

Sempadan
Jalan

Area
Terbangun

Area Free

Gambar V.20 Tanggapan Semapadan dan Luas Site

Luas bangunan yang diperbolehkan menurut peraturan


setempat adalah 40 % dari luas tapak sehingga dari ±3 Ha diperoleh
luas lantai dasar bangunan sekitar 1.2 Ha. Untuk semapadan dari
Jalan Sor Ld.Pandu didapatkan jarak yang boleh terbangun adalah 10
meter dari bibir jalan. Dengan demikian daerah dalam garis
semapadan dapat dimanfaatkan sebagai ruang terbukan hijau bagi
bangunan ini. Hal ini juga dilakukan untuk mengantisipasi
kemungkinan terjadinya pelebarab jalan kedepannya.

2) Sirkulasi Dan Pencapaian


Berdasarkan eksisting pola pergerakan kendaraan pada jalan
yang berbatasan langsung dengan site maka dapat dilakukan analisis
penentuan letak main dan side entrance pada site sebagai berikut:
Sebagai jalur Perlu Side
masuk/keluar adanya area entrence di
alternative bagi pejalan kaki area bebas
para pengelola atau trotoar memberi
arena futsal ini serta shelter keluasan
Sebagai jalur
angkutan pengendara
masuk/keluar alternative
umum bagi dalam
bagi para pelaku aktivitas proses
para
terkusus pemakai jasa pengujung keluar
laangan futsal Penempatan bundaran
yang tidak pada area main
kawasan
entrence sebagai focal point dan
memiliki
merepresentasikan
kendaraan fungsi bangunan

Gambar V.21 Sirkulasi Dan Pencapaian Pada Site


d. Tanggapan Terhadap Keistimewaan Fisik
Karena keadaan dan kondisi tanah pada site adalah kawasan
timbunan, makan keadaan relative datar dan tidak perlu banyak
perlakuan kembali terhadap kondisi lahan
Vegetasi di dalam site yang kebanyakan merupakan semak dan
rerumputan sedangkan pepohonan yang membatasi site dan peneduh
pada jalan Sor Ld. Pandu dipertahankan.

Gambar V.22 Tanggapan Keistimewaan Fisik

Gambar V.23 Potongan Site


Tanggapan terhadap kontur site adalah dengan memanfaatkan
secara maksimal dari pola-pola kontur yang ada, sedangkan beberapa
vegetasi yang dinilai baik akan dipertahankan. Perlakuan cut an fill akan
dilakukan jika memungkinkan demi terwujudnya bentuk bangunan yang
baik.

e. Tanggapan Terhadap Utilitas

Gambar V.24 Tanggapan Terhadap Eksisting Utilitas Pada Site

Jaringan listrik dan PDAM sebagian diambil dari jaringan yang


berada di Jalan By Pass dan sebagian lagi diambil dari jaringan di Jalan
MH.Thamrin yang akan digunakan pada bagian-bagian dengan fungsi
tertentu pada site, namun secara detil jaringan PDAM yang utama akan
diambil dari Jalan MH.Thamrin. air PDAM yang diambil akan ditampung
dulu sebelum digunakan karena air PDAM tidak tiap hari mengalir, utuk
mengantisipasi maka memungkinkan untuk mengadakan sumur bor
sebagai alterlatif sumber air bersih bagi bangunan

Saluran drainase sebagai tempat mengalirnya limbah air kotor dan


air hujan dibuat di sekeliling site yang kemudian berakhir disekitaran
timbunan laut. Perlu dibuat juga jaringan persampahan, agar sampah
kawasan tidak langsung dibuang ke laut tetapi dibawa ke jaringan saluran
persampahan kota Jalan MH.Thamrin. Untuk jaringan telepon akan
diambil dari jaringan yang berada di Jalan MH.Thamrin.

f. Tanggapan Terhadap View

Gambar V.25 Tanggapan Eksisting View

Pemandangan paling luas ke arah site adalah dari area pinggiran


laut kota raha yang berada di sebelah Timur site, begitu juga
sebaliknya dari dalam site kearah pinggiran laut Kota Raha. potensi
ini dimanfaatkan dengan mengupayakan tampilan bangunan yang
menarik kearah tersebut dan juga mengupayakan bukaan-bukaan
pada bangunan dan site ke arah pantai.
Pemandangan yang perlu dihalangi terletak pada sisi Utara dan
Barat site. Penghalang yang digunakan dapat berupa vegetasi atau
dengan meniadakan bukaan-bukaan pada bangunan ke arah tersebut.
Dari arah Selatan yang merupakan masjid terapung akan
diusahakan memberikan pemandangan yang berfungsi sebagai
pengarah bagi pengunjung yang melintasi jalan Sor Ld Pandu.
Pemandangan ke arah tersebut juga dapat dimanfaatkan dengan
membuat bukaan pada site dan bangunan mengingat aktifitas dan
fungsi bangunan di arah tersebut merupakan kegiatan hiburan dan
rekreasi.

g. Kebisingan / Noise

Gambar V.26 Tanggapan Eksisting Kebisingan

Kebisingan terutama berasal dari kendaraan yang melintas di


Jalan By Pass perlu ditanggapi, namun yang patut diperhitungkan adalah
kebisingan yang diakibatkan oleh fungsi bangunan sendiri yang mengarah
ke Masjid dan lahan bekas terminal yang akan dibangun rumah sakit.
Perletakan area pertunjukan outdor sebisa mungkin ditempatkan
pada area yang tidak memancarkan bunyi secara langsung ke arah Masjid
dan bangunan rumah sakit yang akan dibangun.

h. Vegetasi Tapak

Gambar V.27 Tanggapan Eksisting Kebisingan

i. Aktivitas Sekitar Site


Bangunan yang dirancang diupayakan memberikan nilai posotif
dan dapat bersinergi dengan aktifitas sekitar, oleh karena itu berdasarkan
data eksisting yang ada maka dapat diperoleh beberapa rekomendasi
sebagai berikut:
1) Commercial space yang ada sebisa mungkin memanfaatkan potensi
para penjual yang berada di sekitar site
2) Perlu adanya ruang terbuka, taman dan fasilitas tertentu yang dapat
diakses oleh umum sebagai sarana hiburan masyarakat.
3) Untuk menghidupkan suasanya jika tidak ada event pada hari-hari
tertentu maka perijinan penggunaan fasilitas terutama lapangan
lapangan harus lebih praktis.

1. Zoning/Pendaerahan

JALUR ARTENATIF

JALUR SERVICE

SIDE ENTRENCE

Zona Public MAIN ENTRENCE


Zona Semi Public
Zona service

Gambar V.28 Penzoningan Pada Tapak

a. Zona publik
Area yang dapat dikunjungi oleh semua orang. Daerah ini berfungsi
sebagai sarana penunjang dan pelayanan olahraga dan rekreasi serta
sebagai area parkir.
b. Zona semi publik
Merupakan area yang dapat dikunjungi oleh orang-orang tertentu
saja. Dipergunakan baik oleh penghuni, pengunjung atau tamu maupun
pengelola.
c. Zona service
Merupakan tempat pelayanan yang berhubungan dengan
pengelolaan bangunan dan persiapan penyelenggaraan kegiatan olahraga
futsal.

2. Konsep Perancangan Ruang Luar


Perancangan ruang luar tentunya tidak terlepas dari elemen-elemen
pembentuk ruang yang secara konsisten memberikan batasan-batasan
pemisah antara ruang yang satu dengan yang lain. Pada tahapan sebelumnya
telah diketahui garis besar jenis aktivitas yang akan dilakukan di dalam site
melalui pengolahan tapak dan pendaerahan. Oleh karena itu tahapan yang
akan dilakukan dalam analisis perancangan ruang luar pada perencanaan ini
adalah sebagai berikut:
a. Analisis jenis aktivitas dan fasilitas yang mewadahinya,
b. Analisis perletakkan masing-masing fasilitas, dan
c. Analisis elemen ruang pada masing-masing fasilitas.
Tahapan-lahapan tersebut dianalisis berdasarkan hasil dari penzoningan
yang telah dilakukan sebagai berikut:
a. Jenis Aktivitas dan Fasilitas
Aktivitas yang terjadi dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Aktivitas sirkulasi dan pencapaian di dalam tapak.
2) Aktivitas olahraga dan rekreasi futsal
3) aktivitas Komersil olahraga rekreasi
Sehingga macam fasilitas yang ada antar lain adalah:
1) Jalur sirkulasi kendaraan dan pederstrian
a) Jalur sirkulasi kendaraan masuk dan keluar site
b) Sirkulasi kendaraan parkir
c) Sirkulasi kendaraan pengelola
d) Sirkulasi pejalan kaki dari parkiran menuju bangunan
e) Sirkulasi pejalan kaki dari angkutan umum menuju bangunan
f) Sirkulasi dari kawasan olahraga outdoor ke bangunan.
g) Sirkulasi dalam taman
h) Sirkulasi dalam fasilitas lainnya di luar bangunan
2) Taman dan ruang terbuka hijau
3) Lain-lain

b. Perletakan Masing-Masing Fasilitas

JALUR ALTERNATIF

JALUR SERVICE
SIDE ENTRENCE

MAIN ENTRENCE

Gambar V.29 Perletakkan Fasilitas Ruang Luar

c. Elemen Pembentuk Ruang


1) Jalur Sirkulasi Kendaraan
Pada jalur sirkulasi kendaraan dibuat perkerasan dari material
aspal sebagai tempat melintasnya kendaraan, vegetasi jenis semak
digunakan sebagai pembatas dan pengarah sedangkan vegetasi jenis
pohon digunakan sebagai peneduh.
2) Jalur Sirkulasi Pejalan Kaki dan Penyandang Cacat
Pada jalur sirkulasi pejalan kaki dan penyandang cacat dibuat
perkerasan dari material paving block, pada bagian-bagian tertentu
yang mempunyai perbedaan elevasi akan digunakan bidang miring
berupa ramp. vegetasi jenis semak digunakan sebagai pembatas dan
pengarah
3) Taman
Pada taman elemen pembentuk ruang yang digunakan lebih
dititikberatkan pada fungsi estetika. Vegetasi jenis rerumputan akan
digunakan sebagai gerouncover sedangkan vegetasi jenis semak dan
bunga-bungaan akan digunakan sebagai pengarah dan sekaligus juga
memperindah taman. Beberpa bagian taman akan ditanami pohon
sebagai peneduh dari panas matahari dan rintik hujan.

Penataan ruang luar harus memberikan daya dukung terhadap


perencanaan gelanggang futsal, antara lain dengan melalui hal-hal berikut :
a. Memberikan kesan menarik, unik, dan ikonik dan suasana santai yang
mampu memberikan semangat kesegaran.
b. Memberikan kesan keterbukaan dan natural dengan memanfaatkan
pohon-pohon yang ada sebagai unsur taman yang berfungsi sebagai
pengarah, pembatas, penyaring polusi dan juga sebagai filter dari
kebisingan yang terjadi di sekitar bangunan.
c. Memanfaatkan material-material, baik hard material lmaupun soft
material dalam penataan ruang luar. ;nlb
Perencanaan pola tata ruang luar menggunakan tiga unsur utama, yaitu
penataan vegetasi dan landscape yang terdiri dari soft material dan hard
material sebagai elemen penbentuk ruangnya.

a. Vegetasi dan Landscape


Vegetasi dan landscape yang digunakan pada perencanaan pusat
pagelaran seni budaya di Raha berupa pohon palm raja setinggi 10-15
meter sebagai pengarah dan di letakkan di tepi jalan. Konsep vegetasi dan
lansekap dikaji dari aspek arsitektural dan aspek fungsional dari tanaman
itu sendiri. Aspek arsitektural mengarahkan tanaman sebagai control
pengarah sirkulasi, pembentuk ruang-ruang luar. Sedangkan dari aspek
fungsional perancangan dan perencanaan vegetasi sebagai pembentuk
iklim mikro, pengurang polusi dan filter kebisingan, debu, dan bau.
b. Soft Material
1) Pohon
Tabel V.1 Jenis-Jenis Pohon Yang Direkomendasikan
No Nama dan Gambar Pohon Fungsi
Pohon Trembesi ditempatkan sebagai pembatas
pada bagian Utara dan Barat site, selain sebagai
peneduh, pohon ini juga difungsikan sebagai
1
penahan silau matahari sore dan penyaring
kebisingan. Angin kencanga dari arah Utara site
Pohon Trembesi juga diharapkan dapat diredam oleh pohon ini.

Pohon Bambu Kuning diletakan pada beberapa


bagian sisi site dan bangunan sebagai pembatas
2
ruang yang satu dengan yang lainya dan pembatas
pandangan.
Pohon Bambu Kuning

Pohon Palem Botol ditempatkan pada beberapa


3
bagian jalur sirkulasi sebagai pengarah
Pohon Palem Botol

Pohon Cemara Kipas ditempatkan pada beberapa


4 bagian jalur sirkulasi dan taman sebagai elemen
estetika

Pohon Cemara Kipas

Pohon ini berfungsi sebagai peneduh dan


5 ditempatkan pada beberapa bagian taman serta
ruang pameran dan pertunjukkan outdoor

Pohon Kiara Payung

Pohon ini ditempatkan pada area taman dan ditata


6
bersama elemen lainya untuk mempercantik taman
Pohon Cemara Udang
(Sumber: Analisis Penulis 2016)
2) Semak dan Perdu
Tabel V.2 Jenis-Jenis Perdu Yang Digunakan
No Nama dan Gambar Fungsi

Bunga Lavender ditempatkan pada jalur-


1 jalur sirkulasi pejalan kaki sebagai
pembatas dan pengarah.

Bunga Lavender

Bunga Kamboja ditempatkan pada area


2
taman dan ditata sebagai elemen estetika.

Bunga Kamboja

Tanaman Kembang Sepatu ditempatkan


3 pada area-area pinngir site dan bangunan
sebagai pembatas
Bunga Kembang Sepatu

Tanaman Puring diletakkan pada bagian-


4 bagian tepi bangunan, taman, dan site
sebagai pembatas area.
Bunga Puring

Bunga Sedap Malam ditempatkan pada area


5
taman sebagai elemen pembatas ruang
Bunga Sedap Malam

Tanaman Anggrek ditempatkan pada


6
bagian-bagian pagar.
Anggrek

Kaktus Batang ditempatkan pada area


7 taman dan pameran outdoor sebagai elemen
estetika
Kaktus Batang

Tanaman Bougenville diletakkan pada jalur


8 sirkulasi kendaraan sebagai pembatas dan
pengarah

Bougenville
Tanaman Teratai diletakkan di beberapa
9 bagian kolam dalam taman sebagai elemen
penunjang estetika.
Teratai
(Sumber: Analisis Penulis 2018)

3) Rerumputan
Tabel V.3 Jenis-Jenis Rumput Yang Digunakan
No Nama dan Gambar Fungsi

Digunakan pada area ruang luar yang


1 berfungsi sebagai tempat dilaksanakannya
pameran utdoor.
Rumpur Jepang

Rumput Gajah Mini ditempatkan pada area


2
taman dan RTH sebagai groundcover

Rumput Gajah Mini

Rumput Gajah juga ditempatkan pada area


3
taman dan RTH sebagai groundcover

Rumput Gajah
(Sumber: Analisis Pribadi,21018)

c. Hard Material
1) Perkerasan
Tabel V.4 Jenis-Jenis Perkerasan Yang Digunakan
No Nama dan Gambar Fungsi

Aspal dan kongkret digunakan pada jalur


1
sirkulasi kendaraan dan area parkir.

Aspal dan Kongkret

Paving block digunakan pada jalur


2
pedestrian dan beberapa bagian taman
Paving Block
Kerikil digunakan pada jalur pedestrian dan
3
beberapa bagian taman
Kerikil

Batu alam digunakan pada jalur pedestrian


4
dan beberapa bagian taman
Batu Alam

Batu Bata Merah digunakan pada sebagian


5
pagar/pembatas site
Batu Bata

Beton dan polywood digunakan pada


6
sebagian pagar/pembatas site
Beton dan polywood

Kayu jati digunakan pada jalur pedestrian


7
dan beberapa bagian taman
Kayu Jati

Besi dan aluminium digunakan pada


8
beberapa bagian pembatas area pada site

Besi dan Aluminium


(Sumber: Analisis Penulis 2018)

2) Furniture
Tabel V.5 Jenis-Jenis Furniture Yang Digunakan
No Nama dan Gambar Fungsi

Bangku taman ditempatkan pada area-area


1 teduh sepanjang jalur sirkulasi pejalan kaki,
taman, dan area pameran outdoor.
Bangku Taman

Gazebo ditempatkan pada area-area teduh


2 sepanjang jalur sirkulasi pejalan kaki,
taman, dan area pameran outdoor.
Gazebo
Shelter bus sebagai tempat bagi pengguna
3 angkutan umum menunggu kendaraan
umum yang lewat

Shelter Bus

Stand pameran otudor yang dirancang


4 portable dan dapat digunakan sewaktu-
waktu.

Stand Pameran Outdoor

Area bagi aktivitas komersial yang dapat


5 Comercial Space
digunakan oleh masyarakat sekitar

(Sumber: Analisis Penulis 2018)

3. Konsep Sistem Sirkulasi


Berdasarkan fungsi bangunan dan keadaan eksisting lokasi dan pengguna
maka system sirkulasi yang direncanakan adalah sebagai berikut:
a. Sirkulasi Bagi Aktivitas Utama
Aktivitas utama dalam hal ini adalah kegiatan pertunjukan, pameran,
dan promosi seni budaya. Pelaku aktivitas utama adalah pengunjung dan
seniman yang menampilkan dan memamerkan karya seni.
1) Sirkulasi di Luar bangunan
a) Pencapaian ke Bangunan
Pencapaian ke bangunan adalah tersamar, pengguna yang
masuk ke dalam site harus melewati beberapa area terlebih
dahulu sebelum mencapai ruang peralihan menuju pintu masuk
ke bangunan.
b) Konfigurasi Alur Gerak
Beberapa fasilitas di luar bangunan yang mempengaruhi
pola pergerakan pengguna seperti adanya lapangan futsal
outdoor, taman, parkiran, dan area-area lain menyebabkan bentuk
jaringan sebagai konfigurasi alur gerak sirkulasi di luar bangunan
yang terdiri dari beberapa jalan yang menghubungkan titik-titik
tertentu dalam ruang. Berdasarkan hal-hal tersebut maka alur
gerak yang diterapkan adalah pola network.
c) Bentuk Ruang Sirkulasi
Bentuk ruang-ruang sirkulasi di luar bangunan adalah
terbuka pada kedua sisinya untuk mendapatkan keleluasaan
kontinuitas visual ruang-ruang yang ditembusnya atau
dihubungkannya.
2) Sirkulasi di Dalam Bangunan
a) Pintu Masuk Gedung
Pintu masuk diletakkan di segelala arah, untuk
mengantisipasi kemacetan sirkulasi pergerakan manusia. Pintu
masuk juga dibuat lebih lebar dari yang seharusnya agar selain
dapat menampung banyak pengguna, juga bisa menciptakan
kesan megah.
b) Konfigurasi Alur Gerak
Pola pergerakan pelaku dalam ruang yang adalah dari pintu
masuk menuju ke hall/lobby, lalu ke ruang tunggu dan ruang
komunal yang terhubung ke lapangan, ruang informasi dan
penjualan, ruang trimbun dan ruang pendukung seperti cafeteria.
Pola-pola tersebut adalah gabungan dari pola linear dan radial.
c) Bentuk Ruang Sirkulasi
Beberapa ruang sirkulasi yang bersifat privat akan dibuat
terbuka pada salah satu sisinya seperti pada ruang sirkulasi
menuju area lapangan indor , sedangkan ruang sirkulasi yang
bersifat semi public akan dibuat terbuka pada kedua sisinya untuk
menimbulkan keleluasaan pandangan bagi pelaku yang akan
menuju ke suatu ruang.
b. Sirkulasi Bagi Aktivitas Pendukung
Aktivitas pendukung dalam hal ini adalah kegiatan pengelolaan
gedung seperti administrasi, , commercial space, dan kegiatan service
lainya.
1) Sirkulasi di Luar Bangunan
a) Pencapaian ke Bangunan
Pencapaian ke bangunan adalah tersamar, pelaku yang
masuk kedalam site akan melewati beberapa area seperti ruang
parkir sebelum memasuki bangunan.
b) Konfigurasi Alur Gerak
Kegiatan pengelolaan dan service pada bangunan
memerlukan keteraturan dan efisiensi waktu yang tinggi, oleh
karena itu alur gerak yang lebih dominan dalam bangunan ini
adalah bentuk network.
c) Bentuk Ruang Sirkulasi
Untuk dapat bekerja maksimal, para pelaku kegiatan
pengelolaan harus dapat saling berkomunikasi dengan baik. Oleh
karena itu dibutuhkan ruang-ruang sirkulasi yang terbuka pada
kedua sisinya agar menjadi perluasan fisik bagi ruang-ruang yang
ditembusnya.
2) Sirkulasi di Dalam Bangunan
a) Pintu Masuk ke Bangunan
Pintu masuk ke bangunan akan diletakkan di bagian
belakang gedung dan dibuat menjorok ke dalam bangunan untuk
memberikan pernaungan dan menerima sebagian ruang luar
menjadi bagian dari bangunan.
b) Konfigurasi Alur Gerak
Alur gerak yang terjadi di dalam bangunan memerlukan
tingkat efisiensi waktu yang tinggi namun tetap menjaga privasi
masing-masing ruang, oleh karena itu pola yang dirasa paling
cocok diterapkan untuk konfigurasi alur gerak dalam bangunan
adalah pola-pola grid.
c) Bentuk Ruang Sirkulasi
Bentuk ruang yang direkomendasikan adalah tertutup
membentuk koridor yang berkaitan dengan ruang-ruang yang
dihubungkan melalui pintu-pintu masuk pada bidang dinding.
4. Konsep Fasilitas Parkir
Berdasarkan pendekatan yang telah dilakukan maka secara garis besar
fasilitas parkir diperuntukan untuk beberapa jenis pelaku dengan
aktivitasnya masing-masing sebagai berikut :
a. Fasilitas Parkir Untuk Pengunjung
Fasilitas parkir pengunjung diperkirakan memerlukan ruang yang
paling luas dari area parkir yang lain, lama waktu parkir sendiri tidak
menentu namun terkadang waktu parkir pengunjung dapat disesuaikann
dengan lama waktu pertunjukkan seni berlangsung. Jenis kendaraan yang
diperkirakan akan diwadahi adalah sepeda motor, mobil, dan bus.
b. Fasilitas Parkir Untuk Seniman
Parkir untuk seniman dapat disatukan dengan parkiran pengunjung
atau penyelenggara, namun ada beberapa kondisi dimana seniman yang
datang memerlukan privasi yang tinggi sehingga diperlukan adanya area
yang dikhususkan untuk kepentingan menurunkan dan menaikan seniman
dari kendaraan. Area parkir untuk seniman ini direncanakan tidak terlalu
luas, kendaraan yang diwadahi adalah motor, mobil, dan bus.
c. Fasilitas Parkir Untuk Penyelenggara
Aktifitas penyelenggara yang dirasa paling sibuk adalah menaikan
dan menurunkan barang-barang dan perlengkapan pertunjukan dan
pameran seni, sehingga lokasi parkiran untuk pengelola haruslah
mendukung kemudahan aktivitas tersebut. Lama waktu parkir dan tingkat
kebisingan yang dihasilkan juga lebih tinggi dari parkiran yang lain,
kendaraan yang diwadahi adalah motor, mobil, bus, dan kendaraan
pengangkut barang lainnya.
d. Fasilitas Parkir Untuk Pengelola dan Service
Fasilitas parkir untuk pengelola diletakkan di antara area parkir
pengunjung dan area parkir penyelenggara. Kendaraan yang diwadahi
adalah motor dan mobil.
C

Gambar V.30 Perletakkan Fasilitas Parkir

Gambar di atas menjelaskan tentang perletakkan fasilitas parkir masing-


masing pelaku berdasarkan penzoningan, pengolahan tapak, dan analisis
sirkulasi yang telah dilakukan dengan keterangan sebagai berikut:
a. Area parkir Utama Penonton
b. Area parkir Pengunjung
c. Area parkir alternatif
d. Area parkir pengelola dan kegiatan service

Bentuk parkiran yang digunakan pada masing-masing area parkir adalah seperti
pada table berikut :
Tabel V.6 Jenis Fasilitas Parkir dan Perletakkannya

GAMBAR KETERANGAN
Area parkir jenis ini ditempatkan pada
parkiran pengunjung. Ini dimaksudkan
agar meminimalisir lebar area yang
dibutuhkan dan agar sirkulasi keluar dan
masuk kendaraan menjadi lebih mudah.
Kendaraan yang diwadahi adalah jenis
sepeda motor dan mobil. Sesuai dengan
jenisnya, untuk menerapkan parkiran
jenis ini maka alur sirkulasi kendaraan
dibuat menjadi satu arah
Area parkir jenis ini diperuntukan untuk
parkiran pengunjung, seniman, dan
penyelenggara, kendaraan yang
diwadahi adalah mobil ukuran besar dan
bus, diharapkan dengan menerapkan
parkir jenis 600 ini, sirkulasi kendaraan
yang akan parkir dan akan
meninggalkan parkir menjadi lebih
leluasa. Sesuai dengan jenisnya, untuk
menerapkan parkiran jenis ini maka alur
sirkulasi kendaraan dibuat menjadi satu
arah
Area parkir jenis ini diperuntukkan bagi
kegiatan bongkar muat kendaraan
pengelola dan penyelenggara.
Dibutuhkan area yang luas untuk
menerapkan system parkiran ini. Alur
sirkulasi yang direkomendasikan adalah
dua arah agar kendaraan yang
melakukan kegiatan bongkar muat lebih
leulasa untuk keluar masuk area.
Pada area pengunjug dan seniman perlu
adanya fasilitas parkir untuk
menurunkan dan menaikkan pengguna
yang mempunyai keterbatasan khusus
dan memerlukan alat-alat tertentu
sebagai penbantu sirkulasi. Fasilitas
parkir untuk penyandang cacat ini juga
harus terkoneksi dengan jalur sirkulasi
yang mewadahinya juga.

(Sumber: Analisis Penulis 2018)


A. Acuan Perancangan Mikro
1. Konsep Pelaku dan Jenis Kegiatan
a. Pelaku
1) Pemain
Dikategorikan
- Pemain atlet
- Pemain umum/dewasa
- Pemain umum/anak-anak
2) Pengunjung
Dikategorikan
- Penonton
3) Pengelola
Dikategorikan
- Adminitrasi gedung
- Service
- Mechanical&engineering
- Keamanan
b. Jenis Kegiatan
1) Pemain

2) Pengunjung
3) Pengelola

2. Konsep Kebutuhan Ruang


Dari pendekatan-pendekatan jenis pelaku dan aktivitasnya yang telah
dilakukan, serta dengan memperhatikan studi banding bangunan dengan
standart-standart yang berlaku maka didapatkan ruang-ruang yang
dibutuhkan Gelanggang futsal, yaitu sebagai berikut:
a. Ruang Bagi Pemain/Official Pertandingan
1) Parkiran untuk kendaraan pemain
2) Ruang peralihan
3) Ruang ganti pemain
4) Arena
5) Ruang Ganti Pelatih
6) Ruang ganti wasit
7) Ruang Message dan fisioterapi
8) Ruang Medis
9) Ruang tes doping
10) Ruang Pemanasan
11) Ruang Rehat Pemai
b. Ruang Penonton/Pengunjung
1) Parkiran untuk kendaraan
2) Lobby
3) Ruang Penonton
4) Ruang VIP
5) Lounge pennton
c. Ruang Bagi Aktivitas Pengelola
1) Parkiran pengelola sesuai bagian bagiannya secara umum
2) Lobby
3) Ruang pengelola
4) Ruang Media
5) Ruang Kontol
6) Ruang Mecanikal
7) Ruang Pemeliharaan
8) Ruang Pos keamanan
9) Raung Fasum
d. Ruang Bagi Aktivitas Penunjang
1) Ruang Fungsional
e. Ruang Bagi Aktifitas Pelengkap Fungsi Gedung
1) Musolah
2) Taman terbuka
3) Kantin
4) Ruang untuk keperluan transaksi keuangan
5) Halte dan shelter
f. Ruang-Ruang Penunjang Fungsi Bangunan
1) Ruang tempat penampungan air bersih
2) Ruang penunjang utilitas dan kelengkapan bangunan

3. Konsep Pola Hubungan Ruang dan Organisasi Ruang


Setelah melakukan rentetan analisis aktivitas masing-masing pelaku,
dan kebutuhan ruang yang dibutuhkan, tahapan selanjutnya adalah analisis
hubungan antar ruang dan analisis organisasi ruang. Analisis hubungan antar
ruang yaitu analisis guna memposisikan ruang dan fasilitas yang saling
terkait berdekatan dan yang tidak saling terkait dapat diposisikan lebih jauh.
Analisis yang kedua yaitu analisis organisasi ruang untuk
menstrukturkan pola aktivitas yang terjadi di suatu wilayah studi. Ruang-
ruang yang terbentuk berasal dari hubungan-hubungan yang terjalin pada
kelompok-kelompok aktivitas yang ada. Sehingga akan tercipta fungsi-
fungsi aktivitas yang dapat membawa dan menempatkan suatu
wilayah/ruang sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Ketentuan-ketentuan yang digunakan dalam analisis pola hubungan
ruang dan organisasi ruang adalah seperti pada gambar berikut:

Gambar V.42 Bagan Pola Hubungan Ruang.

a. Ruang Bagi Pemain/Official pertandingan


1) Hubungan Antar Ruang
Tabel V.43 pola hubungan ruang.
2) Pola Hubungan Ruang

Gambar V.44 Bagan Hubungan Ruang

b. Ruang Bagi Pemain/Official pertandingan


1) Hubungan Antar Ruang
Tabel V.43 pola hubungan ruang.

2) Bagan Hubungan Ruang

Gambar V.44 Bagan Hubungan Ruang


c. Ruang Bagi Pemain/Official pertandingan
1) Hubungan Antar Ruang
Tabel V.43 pola hubungan ruang.

2) Bagan Hubungan Ruang

Gambar V.44 Bagan Hubungan Ruang


d. Ruang Bagi Pemain/Official pertandingan
1) Hubungan Antar Ruang
Tabel V.43 pola hubungan ruang.

2) Bagan Hubungan Ruang

Gambar V.44 Bagan Hubungan Ruang

3) Konsep Besaran Ruang


Dengan demikian dari analisa jenis kegiatan pelaku serta penjabaran
kebutuhan ruang di atas, maka dapat ditentukan besaran ruang yang
dibutuhkan oleh bangunan pusat pagelaran seni budaya di Kota Raha dengan
pertimbangan sebagai berikut:
a. Berdasarkan Data
Dari hasil perhitungan pada BAB III, diketahui perkiraan jumlah
pengunjung pada 10 tahun mendatang adalah ±3000 orang dan rata-rata
jumlah pengunjung 3 tahun terakhir adalah ±1000 orang. Berdasarkan
Standar-Standar yang Berlaku
Sesuai dengan pendekatan pada BAB IV, pada perhitungan besaran
ruang, akan digunakan standarr-standar mengenai besaran ruang yang
bersumber dari:
1) Data Arsitek (AD)
2) Peraturan Sekertaris Mentri pemuda dan Olahraga (PS)
3) Time Saver Standars for Buindings Types (TS)
4) Dimensi Manusia dan Ruang Interior (DM)
5) Detail Akustik (DA)

b. Berdasarkan Studi Banding (SB)


Ruang-ruang yang ada serta luasannya pada studi banding, juga dapat
menjadi acuan dalam penentuan luasan yang dibutuhkan gedung ini.
c. Tabel Perhitungan Perkiraan Besaran Ruang
Table perhitungan perkiraan besaran ruang yang dibutuhkan dibuat
berdasarkan analisa kebutuhan ruang dan diklasifikasikan berdasarkan
jenis pelaku yang diwadahi, dengan perkalian dan penjumlahan dari
jumlah pelaku yang diwadahi dan standar-standar yang berlaku.

Tabel V.8: Perhitungan Besaran Ruang

Kapasitas /
No. Nama Ruang Kwantitas / Standart Luasan Sumber
Unit
1 2 3 4 5
1 Tempat Parkir 3.000 PM
Fasilits Untuk Pemain
2 Arena 50 40 2.000 PM
3 Ruang Ganti Pemain
a. Toilet Penonton 2 3 6 PM
b. Km/wc 4 3 12 PM
c. Ruang Shower 4 3 12 PM
d. R.Penyimpanan 2 12 24 PM
e. Diffable Service 2 9 18 PM
4 Ruang Ganti Pelatih
a Toilet 1 3 3 PM
b Km/wc 1 3 3 PM
c R.Shower 1 3 3 PM
d R.Penyimpanan 1 9 9 PM
5 Ruang Ganti Wasit
a Toilet 1 3 3 PM
b Km/wc 1 3 3 PM
c R.Shower 1 3 3 PM
d R.Penyimpanan 1 9 9 PM
6 Ruang Massage dan fisioterapi
a R.Massage 2 6 12 PM
b Toilet 1 3 3 PM
c Km/wc 1 3 3 PM
7 Ruang Medis
a R.Pemeriksaan 2 7 14 PM
b Toilet 1 3 3 PM
c Km/wc 1 3 3 PM
8 Ruang Test Doping
a R.Pemeriksaan 1 9 9 PM
b Toilet 1 3 3 PM
c Km/wc 1 9 9 PM
d R.Tunggu 1 9 9 PM
9 Ruang Pemanasan
a R.Pemanasan 1 80 80 PM
10 Ruang Latihan Beban
a R.Latihan Beban 1 160 160 PM
11 Ruang Rehat Pemain
a Player's Lounge 1 60 60 PM
Fasilitas Pengelola
12 Ruang Pengelola Kegiatan
a R.Manajer 1 9 9 PM
b R.Sekretariat 1 18 18 PM
c R.Pengawas
1 18 18 PM
Pertandingan
d R.Wasit 1 18 18 PM
e R.Serbaguna/ Rapat 1 50 50 PM
f G.Perlengkapan 1 120 120 PM
13 Ruang Media
a R.Kerja Media 1 25 25 PM
b R.Konferensi Pers 1 50 50 PM
c Toalet 2 3 6 PM
d Km/wc 2 3 6 PM
e Lounge 1 40 40 PM
14 Ruang Control
a R. Sound System 1 6 6 PM
b R. Lighting System 1 6 6 PM
c R. Scoringboard 1 6 6 PM
d R.CCTV 1 6 6 PM
15 Ruang Mekanikal Elektrikal
a R.Panel dan trafo 1 6 6 PM
b R.Pompa dan Genzet 1 9 9 PM
16 Ruang Pemeliharaan
a R.Pemeliharaan 1 9 9 PM
b Gudang Pemeliharaan 1 9 9 PM
17 Ruang Fungsional
a R.Internet 1 9 9 PM
b R.Sport Shop 4 9 36 PM
18 Ruang Pos Keamanan
a Pos Jaga 1 9 9 PM
19 Ruang VIP
a Lobby VIP 1 12 12 PM
b Toilet 2 4 8 PM
c Km/wc 2 4 8 PM
d Lounge 1 12 12 PM
e Pantry 1 4 4 PM
f R.Tunggu 1 20 20 PM
g R.Ibadah 1 9 9 PM
Fasilitas Penonton/Pengunjung
20 Ruang Penonton
a Tribun VIP 0,54 50 27 PM
b Selasar Tribun VIP 27 0,3 8,1 PM
c Tribun Umum 0,4 3000 1200 PM
d Selasar Tribun Umum 1200 0,3 360 PM
e Toilet Penonton 15 3 45 PM
f R.Ibadah 1 50 50 PM
21 Ruang Fasum Lainnya
a R.Penjualan Tiket 10 3 30 PM
b R.Penjualan Makanan+Minum 10 6 60 PM
c R.Service Diffable 2 9 18 PM
Fungsi pendukung
Ruang fungsional 60 0,8 48 AD
Tempat Gym - AD
Ruang Tunggu Publik 120 1,5 180 AD
Ruang Comercial Space 6 1,5 9 SB
Resto & Cafetaria 90 1,5 135 SB
Rg.Penitipan Barang 2 6 12 SB
Tempat bermain anak 12 2 24
ATM centre 30 0,8 24 TS
Lapangan Outdoor 600 0,8 480 AD

(Sumber: Analisis Penulis, 2016)

Berdasarkan hasil perhitungan besaran ruang maka dapat diketahui


luasan lantai gedung pagelaran yang dibutuhkan dan perbandingannya
dengan luasan site terpilih sebagai berikut:

a. Luasan gedung adalah 10000 m2


b. Luasan site adalah 29000 m2
c. Perbandingan luasan lahan yang direncanakan terbangun pada site adalah
40 : 60 (40% terbangun dan 60% tidak terbangun).
d. Jadi, 40% dari luas site 23000 m2 adalah 10000 m2

B. Acuan Perancangan Fisik Bangunan


1. Konsep Bentuk Dasar Bangunan
a. Analisis Pergerakan Pelaku Aktivitas Utama Terhadap Ruang
dan Bentuk Dasar

Bentuk dasar lingkaran hanya baik jika


pola pergerakan dan sirkulasi yang ada
berbentuk melingkar, Juga Bentuk
lingkaran dengan diameter yang sama
hampir memberikan luasan yang
maksimal,

Untuk pola sirkulasi linear, bentuk


dasar segitiga dapat dikatakan kurang
maksimal, serta Bentuk segitiga
dengan diameter yang sama belum
mempu memberikan luasan yang
maksimal

Untuk pola sirkulasi linear,


bentuk dasar kotak dapat
dikatakan maksimal , dan
Bentuk persegi dengan diameter
yang sama mampu memberikan
luasan yang maksimal

(Sumber: Analisis Penulis, 2016)


b. Analisis Pemeksimalan Fungsi Utama Bangunan

Arena

Arena

Arena

Gambar Analisis Perletakan Arena terhadap optimalisasi penonton, arah


Pandang, sirkulasi, dan luasan Panggung terhadap bentuk dasar
(Sumber: Analisis Penulis, 2016)

Dengan demikian bentuk dasar yang dinilai paling baik untuk bangunan
ini adalah:
1) Bentuk Dasar Persegi
Bentuk dasar persegi dinilai paling baik karena memiliki hasil yang
paling baik dari semua proses analisa di atas
2) Bentuk Dasar Lingkaran
Bentuk dasar lingkaran akan sangat mendukung fungsi utama
bangunan sebagai pusat pagelaran seni budaya jika ditinjau dari
analisa arah pandang sehingga penyampaian maksud dan tujuan
pagelaran lebih maksimal
c. Bentuk secara filosofis
Menjadi bintang dalam sebuah laga adalah impian setiap pemain, tidak
terkecuali dalam futsal. Setiap pemain adalah bintang, dan dari semua
bintang pastilah ada yang paling bersinar.Dengan alasan tersebut
bintang akan dianalogikan kedalam bentuk bangunan.

Dengan alasan awal bahwa


seperti gemerlap bintang
dilangit, maka di analogikan
pula kedalam bentuk dasar
yang memberikan kesan
bahwa arena utama dalah
bentuk terbesar dalam
kawasan gelanggang

Bentuk bintang
2 dimensi

Bnetuk dasar yang


Penggabungan
lebih dinamis terkait
Analogi bintang dan rotasi
fungsi bangunan
dilangit yang bentuk
bertaburan

Gambar V.60 Bentuk Dasar Terpilih.


2. Konsep Bentuk Denah Bangunan

Gambar berikut adalah hasil dari tanggapan terhadap existing site


terhadap orientasi dan perletakkan ruang sesuai dengan fungsi dan
aktifitasnya :

Gambar V.64 Orientasi dan Perletakkan Ruang Sesuai Fungsi dan Aktivitas
Yang Terjadi.

Hasil-hasil dari tahapan di atas kemudian akan disimpulkan untuk mendapatkan


rencana bentuk denah bangunan. Rencana bentuk denah ini kemudian akan
dianalisis guna mendapatkan perletakkan ruang-ruang pada tiap-tiap lantai yang
ada.
a. Rencana Perletakan masa Banguan

Bangunan yang
melayani pendukung
Bangunan yang fungsi utama kawasan Bangunan utama
melayani fungsi kawasan, sebagai
service arena futsal

Basement adalah alternative


perluasan lahan untuk fungsi RTH,
kawasan agar olahraga rekreasi bias
terpenuhi.

Gambar V.69 Rencana perletakan masa bangunan

3. Konsep Tampilan Bangunan


Sesuai dengan pendekatan yang ada pada BAB IV, maka pengolahan
tampilan bangunan dilakukan dengan melalkukan beberapa tahapan sebagai
berikut :
a. Melakukan perlakuan terhadap bentuk denah bangunan dengan
menyusun bentuk denah sesuai dengan urutannya.
b. Denah yang telah disusun lalu diberi selubung sebagai dinding luar
bangunan, dengan berorientasi kepada tema analogi.
c. Melakukan transformasi terhadap bentuk selubung bangunan yang
diadaptasi dari bentuk-bentuk arsitektur analogi lipatan.
Dengan kombinasi bentuk
modular, lipatan meberikan
ruang yang efektif untuk
bentangan panjang

Konsistensi terhadap
analogi bintang dalam
penerapan tampilan adalah
wujud pengexpresian
fungsi bangunan terhadap Transformasi bentuk dngan seni lipatan memungkinkan
kawasan olahraga, dimana memperoleh tampilan dengan kesan monumental yang tidak
nilai-nilai semangat terkesan kaku dan efektif terhadap fungsi arena futsal, serta
emnjadi bintang trterapkan menciptakan suasana tak jemuh dngan keunikan tampilan
, sehingga pesan bangunan
bisa langsung terasa

Gambar V.71 Analisis Bentuk Tampilan Bangunan

Mengadaptasi analogi bentuk bintang dngan kombinasi lipatan


dilakukan dalam wujud ciri-ciri fisik, makna filosofi, adaptasi terhadap
iklim, potensi alam sebagai sumber eksplorasi untuk dikembangkan. Fungsi
pernaungan pada bangunan diwujudkan dengan membuat penutup bangunan
yang membentang selebar mungkin dari atas sampai ke bagian bawah
bangunan dan merupakan transformasi bentuk tampilan atap modern dngan
seni lipat.
Bentuk denah dan tampilan yang selaras, diambi dari penganalogian
bintang sebagai salah satu nilai seni dlam olahraga bangunan yang
melengkung merupakan tanggapan terhadap kondisi site yang dikenal
sebagai kawasan olahraga hingga menciptakan kesan semangat dan bagagia.

Kearifan lain yang terdapat pada bangunan adalah orientasi dan arah
arah bukaan yang diadaptasi dari nilai-nilai dalam olahraga yang menyeluruh
tanpa ada batasan.

4. Konsep Sistem Struktur dan Konstruksi Bangunan


a. Sistem Modul dan Dilatasi
1) Modul
a) Bentuk Modul
Berdasarkan analisis bentuk dasar dan analisis rencana
bentuk denah bangunan maka bentuk modul yang
direkomendasikan adalah bentuk modul radial dan grid 900

Gambar Modul Grid dan Radial


Sumber : Ching, 2000

Gambar V.73 Modul Terpusat dan Grid 900


b) Modul Dasar
Modul dasar pada perancangan ini didapatkan dari luasan
yang dibutuhkan oleh pelaku yang beraktifitas di dalam
bangunan.

Modul dasar yang diterapkan dalam perancangan ini adalah


120 cm X 120 cm.

c) Modul Perancangan
Mudul perancangan yang diterapkan dalam perancangan ini
didasarkan dari unit terkecil yaitu 30 cm X 30 cm, unit ruang
pertunjukkan 60cm X 60cm yang berasal dari luasan kursi
penonton, dan modul dasar yaitu 120cm X 120 cm sehingga
didapatkan besaran modul fungsi yaitu tiga kali modul dasar dan
enam kali modul unit ruang pertunjukkan dengan ukuran yang
ditentukan adalah 4,8 meter X 4,8 meter.
4,8 m

Modul ruang pertunjukkan

Modul ruang penonton


4,8 m

Gambar V.76 Modul Perancangan


d) Modul Struktur
Modul struktur yang diterapkan pada perancangan ini adalah
kelipatan dari modul dasar, modul fungsi, dan modul
perancangan yang kemudian ditetapkan sebagai bentangan
maksimun yang dapat dicapai oleh satu modul struktur.
6m

Modul Dasar Ruang


Pertunjukkan
Modul Dasar penonton
Modul Fungsi
6m Modul Perancangan

Gambar V.77 Modul Struktur

2) Dilatasi
Dilatasi pada bangunan dibagi menjadi 4 bagian berdasarkan
Orientasi dan Perletakkan Ruang Sesuai Fungsi dan Aktivitas dengan
lebar bentangan kurang lebih 30 meter saja.

Gambar V.78 Dilatasi Pada Rencana Bentuk Denah Bangunan


b. Sistem Struktural Bangunan
1) Beban
Sesuai dengan teori yang ada pada BAB IV, maka yang menjadi
perhatian pada analisis beban mati dan beban hidup pada bangunan
adalah sebagai berikut :
a) Beban dari kondisi fisik bangunan diantaranya, struktur, material
bangunan, dan benda-benda yang ditempatkan secara permanen
pada bangunan.
b) Selain dari pada itu, yang perlu diperhatikan adalah beban hidup
yang terjadi pada bagian bangunan yang berfungsi sebagai ruang
penonton, diantaranya adalah trimbun dan lapangan.
2) Arah Gaya
Arah gaya yang dapat terjadi pada bangunan diantaranya adalah
sebagai berikut :
a) Arah gaya akibat kondisi fisik bangunan

Gaya yang terjadi secara


Vertikal dan horizontal akibat
bentuk bangunan

Gaya yang terjadi pada keseluruhan bangunan


kemudian diteruskan ketanah sebagai
ketumpuan utama

Gambar V.79 Arah Gaya Akibat Kondisi Fisik Bangunan


b) Arah gaya akibat tingkah laku alam

Gambar V.80 Arah Gaya Akibat Kondisi Fisik Bangunan


c. Pembagian Sistem Struktur Pada Bangunan
1) Upper Struktur

Karena gaya yang bekerja pada


penutup bangunan adalah kaya Tarik
dan tekan, makan ragka batang
menjadi pilihan sebagai penyebar
beban yang lebih efisien Sistem
Struktur
Untuk Rangka
Ruang
mengantisipasi gaya
putar, maka batang
batang akan saling
mengikat satu sama
lain dengan
rangkaian kotak

Rangka ruang yang berfungsi ganda, sebagai


Upper dan Super Stuktur bangunan

Untuk mengantisipasi deformasi


rangka penutup, maka upper struktur
akan diikat dngan super struktur
Struktur bangunan menjadi satu dan
Space Frame diteruskan ke sub truktur

Gambar V.81 Sistem Upper Struktur Bangunan


2) Supper Struktur
Berdasarkan pengolahan tampilan bangunan yang mengadopsi
analogi maka dapat dianalisis prinsip-prinsip penyaluran gaya yang
terjadi pada bangunan sebagai berikut :

Gambar V.83 Analisis Sistem Supper Struktur Bangunan


3) Sub Struktur
Berdasarkan data-data mengenai daya dukung tanah dan
kejadian-kejadian alam yang dapat terjadi diwilayah site, maka jenis
pondasi yang direkomendasikan untuk diterapkan pada perancangan
ini adalah pondasi dangkal. Jenis pondasi dangkal yang dapat
diterapkan pada bangunan diantaranya adalah pondasi menerus dan
pondasi setempat, namun beberapa masalah yang diperkirakan akan
terjadi adalah bencana alam gempa bumi yang dapat membuat
kestabilan bangunan menjadi kacau karena gaya horizontal gempa.
Oleh karena itu diperlukan kombinasi antara system pondasi menerus
dan setempat dengan plat beton pipih, dengan demikian jika terjadi
ketidakstabilan struktur yang mengakibatkan penurunan pondasi,
yang menurun bukan sebagian, tetapi seluruhnya.
Berdasarkan analisis diatas, maka jenis pondasi dangkal yang
akan diterapkan pada bangunan adalah pondasi dengan konstruksi
sarang laba-laba. Filosofi konstruksi sarang laba-laba merupakan
konstruksi pondasi dangkal yang kaku, kokoh, menyeluruh tetapi
ekonomis dan ramah gempa. Konsruksi ini dirancang untuk mampu
mengikuti arah gempa baik horizontal maupun vertical karena
menggunakan media tanah sebagai bagian dari sruktur pondasi.
Sehingga disetiap ada gerakan genpa, maka bangunan akan
mengikuti lajunya tanah atau bisa kita analogikan sebagai “perahu
yang bergoyang diatas laut”.

Gambar V.85 Pondasi Dengan Konstruksi Sarang Laba-Laba


(Sumber: https://blogpenemu.blogspot.co.id,6 November2016).
Penerapan system struktur pondasi dengan konstruksi sarang
laba-laba pada perancangan ini adalah sebagai berikut:

Gambar V.86 Analisis Sistem Sub Struktur Bangunan

Pondasi konstruksi sarang laba-laba merupakan perpaduan


kombinasi plat beton pipih menerus yang dibawahnya dikakukan
oleh rib-rib yang tegak pipih tinggi dan system perbaikan tanah
diantara rib-rib. Kombinasi ini menghasilkan kerjasama timbale balik
yang saling menguntungkan sehingga membentuk sebuah pondasi
yang memiliki kekakuan yang jauh lebih tinggi dari system pondasi
dangkal lainnya.
5. Konsep Pengkondisian Ruang
a. Sistim Pencahayaan
1) Pencahayaaan Alami
Pencahayaan alami dimanfaatkan semaksimal mungkin masuk
ke dalam ruang mealaui kaca-kaca pada dinding bangunan dan
dengan menbuat bukaan yang cukup lebar pada sisi Utara dan Selatan
bangunan

Gambar V.88 Analisis Pencahayaan Alami Pada Bangunan

2) Pencahayaan Buatan
Pencahayaan buatan pada perancangan ini secara umum
menggunakan lampu dengan daya dari arus listrik. Jenis lampu yang
akan digunakan dalam perancangan ini antara lain :
a) Spotlight/accent light
Digunakan untuk menyinari benda-benda dinding
berhubungan dengan olagraga.
b) Downlight
Digunakan pada tiap ruangan dengan mempertimbangkan
standar-standar pencahayaan dan tata lampu.

Gambar V.90 Downlight (Sumber:


Analisis Pribadi,2016).
c) Lampu Sorot
d) Indirect light
Digunakan pada tiap ruangan dengan lampu tersembunyi yang
memanfaatkan bias cahayanya saja.
Keunggulan lampu indirect light ini adalah dapat menghasilkan
cahaya yang merata tanpa membuat mata silau dan dapat
memberikan suasana yang hangat.

Gambar V.92 Penggunaan Indirect Light Pada Ruang


(Sumber: Analisis Pribadi,2016).

b. Sistim Penghawaan
1) Penghawaan Alami
a) Mengoptimalisasi bukkaan dengan jendela dan ventilasi
b) Penempatan vegetasi pada area bukaan sebagai penyaring udara
yang hendak masuk ke dalam ruangan.

Gambar V.93 Analisis Sistem Penghawaan Alami Bangunan


Penghawaan alami dalam bangunan juga diwujudkan dengan
penerapan analogi rumah panggung. Prinsipnya adalah udara yang
masuk melalui celah-celah atau kolong bangunan akan secara
langsung disalurkan menuju lantai-lantai di atasnya melalui void-
void yang ada.

2) Penghawaan Buatan
a) AC Unit (AC Split) diletakan pada ruang-ruang yang
mempunyai kebutuhan dan fungsi khusus, dalam hal ini
misalnya pada ruang yang berfungsi sebagai tempat
penyimpanan benda-benda karya seni budaya untuk membuat
suasana dan kelembapan udara tetap stabil

Gambar V.96 AC Unit (AC Spilt)


(Sumber: Analisis Pribadi,2016).

b) Penggunaan Exhaus Fan pada ruang toilet

Gambar V.97 Exauh Fan


(Sumber: Analisis Pribadi,2016).
6. Konsep Utilitas dan Kelengkapan Bangunan
a. Instalasi Listrik
Pasokan kebutuhan listrik terhadap bangunan diperoleh dari dua
sumber yaitu listrik yang berasal dari PLN (Perusahaan Listrik
Negara)dan memanfaatkan tenaga Genset yang bekerja secara otomatis
jika sambungan listrik dari PLN terputus.
PLN BANGUNAN

GENSET

Gambar V.98 Instalasi Listrik

b. Sistem Plumbing
1) Sistem Jaringan Air Bersih
Penyediaan air bersih pada bangunan ini diperoleh dari PDAM dan
hasil dari olahan air hujan yang ditampung pada area site. Dengan
demikian system jaringan air bersih pada bangunan dapat dilihat pada
gambar berikut:

Gambar V.99 Sistem Jaringan Air Bersih


2) Sistem Jaringan Air Kotor
Pembuangan air kotor yang berasal dari disposal padat disalurkan ke
Septiktank dan diteruskan ke bak peresapan, sedang hasil dari buangan
disposal cair diteruskan ke bak kontrol dan diteruskan ke got besar yang
selanjutnya diteruskan ke riol kota. Pembuangan air hujan dialirkan ke
got besar yang kemudian di teruskan ke saluran pembuangan kota .

Air kotor
Septic tank peresapan
padat

pantry

wc
Bak kontrol

wastafel Got Besar

Air Hujan

Roil Kota

Gambar V.101 Sistem Jaringan Air Kotor


c. Sistem Pembuangan Sampah
Pengumpulan dan pembuangan sampah dapat dilakukan dengan cara :
1) Penyediaan tempat sampah atau keranjang sampah pada tempat-tempat
umum yang mudah diangkut dan dibersihkan. Kemudian sampah
diangkut dengan lori sampai ke bak penampungan sampah induk.
2) Selanjutnya dari tempat penampungan sampah induk diangkut ke luar
bangunan dengan mobil kendaraan ke Tempat Pembuangan Akhir.

Unit Ruang Shaf


Bak
Penampungan TPA
Sementara
Tong Cleaning
Sampah Service

Gambar V.102 Sistem Pembuangan Sampah

d. Sistem Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran


1) Pencegahan Pasif
Alat Bantu evakuasi merupakan sarana penunjang dalam upaya
penyelamatan pelaku kegiatan, sehingga mempermudah evakuasi
serta meningkatkan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Sarana
penunjang tersebut terdiri dari :

a) Tangga darurat
Pada ruang tangga darurat diberikan penerangan, cerobong
penghisap udara (Exhaust Fan) serta kedap terhadap asap dan
pada topfloor diberikan bukaan berupa pintu. Jarak pencapaian
antara tangga maksimal 25 m dengan lebar tangga minimal
1,2 m.
b) Pintu Kebakaran
Pintu ini harus dapat menutup secara otomatis dan dapat dibuka
dengan kekuatan 10 kg, serta tahan api selama + 1-3 jam.
Bukaan pintu ke arah tangga pada setiap lantai, kecuali pada
lantai dasar pintu harus membuka kearah luar menuju lobby atau
ke luar bangunan.

c) Koridor
Lebar koridor minimal 120 meter

d) Sumber daya listrik darurat


Sumber listrik ini dipergunakan untuk mengaktifkan semua
peralatan bantu evakuasi.

2) Pencegahan Aktif
a) Pencegahan kebakaran di luar bangunan:
Pencegahan bahaya kebakaran yang terjadi di luar bangunan
menggunakan Pilar Hydrant yang diletakkan pada halaman

Gambar V.103 Pencegahan Kebakaran Diluar Bangunan


b) Pencegahan kebakaran di dalam bangunan:
- Fire Alarm system
Penggunaan alat ini untuk memberitahukan apabila terjadi
kebakaran

Gambar V.104 Fire Alaram System


(Sumber: Analisis Pribadi,2016).

- Splinker
Yaitu alat untuk memadamkan api secara otomatis apabila
tabung gelas pada alat tersebut terkena panas, maka akan
pecah dan kemudian keluar air.

Gambar V.105 Alat Sprinkler


(Sumber: Analisis Pribadi,2016).
- Fire Hidrant System
Yaitu sebuah kotak yang berisi selang dengan jarak
maksimal35 m satu dengan yang lainnya, dengan panjang
selang 30 m dan jarak semprotan air 5m.

Gambar V.106 Hydrant


(Sumber: Analisis Pribadi,2016).

- Thermo detector
Yaitu alat untuk mendeteksi panas yang ditimbulkan oleh
api, dimana bekerja secara otomatis. Alat ini terdiri dari 2
jenis yaitu:
- Fix temperature detector
Akan bekerja secara otomatis apabila suhu udara di
sekitarnya 700C atau lebih.
- Rate of rise temperature detector
Alat ini akan bekerja apabila ada kenaikan suhu dengan
cepat, walau belum mencapai suhu 70 0C.

- Smoke detector
Alat ini untuk mendeteksi asap yang ditimbulkan oleh
kebakaran, dimana akan bekerja secara otomatis apabila
ada asap yang terdeteksi dengan toleransi tertentu.

Gambar V.107 Smoke Detector


(Sumber: Analisis Pribadi,2016).

- Alat pemadam kebakaran ringan


Alat ini berupa tabung-tabung gas zat arang atau serbuk anti
api dan dilengkapi dengan alat penyemprot. Untuk setiap
area seluas 100 m2 disediakan satu alat tersebut.

e. Sistem Komunikasi
1) jaringan komunikasi internal
a) Komunikasi antar ruang yang terjadi di dalam bangunan
menggunakan jaringan intercom dan loudspeaker atau pengeras
suara.
b) Komunikasi antar pengelola dan pengunjung ataupun antar
pengunjung, dalam bentuk pengumuman dan panggilan melalui
loudspeaker atau pengeras suara.

2) Jaringan komunikasi eksternal


Stadion fasilitas faksimile, telpon, dan internet berupa LAN dan
wireless atau jaringan internet tanpa kabel yang dapat diakses di semua
tempat dalam kawasan rumah buah.
f. Sistem Keamanan
Sistem kemanan yang digunakan pada bangunan yaitu CCTV guna
mengontrol sirkulasi kendaraan yang masuk keluar serta sirkulasi manusia
yang masuk ke luar dalam bangunan. Selain itu CCTV juga digunakan
untuk mengontrol segala aktivitas yang terjadi di dalam bangunan.
1) Alarm, untuk mengantisipasi pencurian yang mungkin saja terjadi.
2) Satuan pengamanan (Satpam) yang bertugas 24 jam.
3) CCTV guna mengontrol sirkulasi kendaraan yang masuk keluar serta
sirkulasimanusia yang masuk ke luar dalam bangunan. Selain itu CCTV
juga digunakan untuk mengontrol segala aktivitas yang terjadi di dalam
bangunan.

g. Sistem Penangkal Petir


Untuk sistem penangkal petir pada bangunan menggunakan sistem
tongkat franklin. Sistem ini dipilih dengan pertimbangan bahwa bangunan
berupa bangunan bertingkat.
Syarat-syarat penggunaannya adalah:
1) Sudut perlindungan bangunan 450
2) Jarak antene maksimum 603cm.