Anda di halaman 1dari 2

Fakta Pangan: murah bukan berarti tak bernilai tambah

Siapa yang tidak kenal dengan “gethuk”? bahan baku makanan tradisional masyarakat Indonesia
yang satu ini pasti semua orang sudah tahu, yaitu Singkong atau Ketela pohon. Singkong atau ketela
merupakan tanaman pangan pengganti padi dan jagung yang murah, nikmat, dan mudah
penanganannya. Cukup tancapkan bogol/batang ukuran 20 cm ke dalam tanah maka kurang
lebih 2 minggu batang tersebut sudah tumbuh dahany. Komoditas ini sangat potensial
sebagai sumber pangan, pakan, bahan baku industri tapioka dan bio-etanol namun sangat
rendah dibandingkan dengan kebutuhan.
Di Indonesia, singkong telah dapat diolah lebih lanjut menjadi gaplek, sawut, tepung
tapioka, tepung singkong dan yang terbaru adalah tepung mocaf. Beberapa produk yang
telah disebutkan seperti gaplek, sawut, tepung tapioca dan tepung singkong sudah tidak asing
lagi di telinga namun bagaimana dengan tepung mocaf ? Tepung apakah ini?

Tepung Mocaf dikenal sebagai tepung singkong alternatif pengganti terigu. Kata MOCAF
sendiri merupakan singkatan dari Modified Cassava Flour yang berarti tepung singkong yang
dimodifikasi. Tepung MOCAF memiliki karakter yang berbeda dengan tepung ubi kayu biasa
dan tapioka, terutama dalam hal derajat viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi dan
kemudahan melarut yang lebih baik.

Secara umum bahan baku singkong yang digunakan bisa dari varietas apa saja namun lebih
baik gunakan yang berkadar asam sianida rendah. Disebutkan pula bahwa bahan
baku singkong yang didapat dari daerah dataran tinggi akan menghasilkan randemen yang
bagus dibandingkan singkong dari dataran rendah.

Prospek pengembangan tepung mocaf cukup bagus, pertama dilihat dari ketersediaan
singkong sebagai bahan baku yang berlimpah sehingga kemungkinan kelangkaan produk
dapat dihindari karena tidak tergantung dari impor seperti gandum; kedua yaitu harga
tepung mocaf relatif lebih murah dibanding dengan harga tepung terigu maupun tepung
beras, sehingga biaya pembuatan produk dapat lebih rendah. Harga MOCAF Rp. 5.500/kg,
sedangkan terigu Rp. 7.000/kg; dan yang ketiga adalah pasar lokalnya sangat prospektif
karena begitu banyak industri makanan yang menggunakan bahan baku tepung.

Dari beberapa alasan diatas dapat disimpulkan bahwa lahirnya teknologi produksi tepung
singkong modifikasi (MOCAF) membuka peluang bisnis besar. Keberadaan tepung mocaf
sebagai alternatif dari tepung terigu akan bermanfaat bagi industri pengolahan makanan
nasional. Jenis dan karakteristik yang hampir sama dengan terigu, namun dengan harga yang
jauh lebih murah membuat tepung mocaf menjadi pilihan yang sangat menarik ditambah lagi
hasil uji coba menunjukkan bahwa MOCAF dapat digunakan sebagai bahan baku, baik
substitusi maupun seluruhnya, dari berbagai jenis produk bakery seperti kue kering (cookies,
nastar, dan kaastengel dll), kue basah (cake, kue lapis, brownies, spongy), dan roti tawar.
Selain itu tepung MOCAF juga dapat digunakan dalam pembuatan bihun, dan campuran
produk lain berbahan baku gandum atau tepung beras. Hasil produk berbahan mocaf ini tidak
jauh berbeda dengan produk yang menggunakan bahan tepung terigu maupun tepung beras.

Disamping itu, telah juga dilakukan uji coba substitusi tepung terigu dengan MOCAF dalam
skala pabrik yang menunjukkan bahwa untuk menghasilkan mie mutu baik dapat digunakan
tepung MOCAF hingga 15% untuk mensubstitusi tepung terigu, sedangkan untuk
menghasilkan mie kualitas rendah, tepung terigu dapat disubstitusi dengan tepung MOCAF
hingga kadar 25%.

Potensi pengembangan produk lain di luar mocaf dari bahan dasar singkong dapat dilakukan.
Ubi kayu dapat dimanfaatkan baik dari umbi, batang, maupun daunnya. Mocaf sendiri
merupakan produk yang dikembangkan dari bagian umbi, khususnya pati yang telah
difermentasikan. Beberapa produk lainnya yang dapat dikembangkan adalah pakan ternak,
papan partikel, briquet, etanol, tepung tape, roti casabe, asam sitrat, glukosa, dan maltosa
sirup.
Sumber:

kinciakincia.com

www.komoditastanitretep.com

www.academia.edu